Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

PROGRAM PEMERINTAH DALAM PEMENUHAN GIZI PADA ANAK INDONESIA

Untuk Memenuhi Tugas dari : Bapak Supardi, SE.,M.Kes

Di susun oleh :

Ella Wahyu Nafillatul Ilaela

NIM : 1820161031

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS


SK MENDIKNAS RI No:127/D/O/2009
Website : http://www.stikesmuhkudus.ac.id Email : sekretariat@stikesmuhkudus.ac.id

Alamat : Jl. Ganesha I Purwosari Telp./Faks. (0291) 442993 / 437218 Kudus 59316

TAHUN AJARAN 2017 -2018


KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah “Perean Pemerintah dalam Pemenuhan
gizi anak Indonesia”, dengan tepat pada waktunya. Banyak rintangan dan hambatan yang kami
hadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman
serta bimbingan dari dosen pembimbing, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat
menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan doa. Tidak lupa pula
kami mengharap kritik dan saran untuk memperbaiki makalah kami ini, di karenakan banyak
kekurangan dalam mengerjakan makalah ini.
Kudus, 17 Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... iv
1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisah ...................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN 2 .........................................................................................
2.1 Apakah gizi buruk itu............................................................................................
2.2 Apa yang menjadi faktor penyebab gizi buruk ....................................................
2.3 Apakah jenis dari gizi buruk .................................................................................
2.4 Apakah yang menjadi faktor pencegahan dari gizi buruk ....................................
2.5 Bagaimana Cara Penanggulangan Gizi Buruk .....................................................
2.6 Program pemerintah dalam mengatasi gizi buruk ...............................................
BAB III PENUTUP ....................................................................................................
3.1 Kesimpilan ............................................................................................................
3.2 Saran .....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Seperti yang kita ketahui bersama beberapa bulan terakhir media massa di tanah air
dipenuhi berita-berita tentang busung lapar. Meskipun busung lapar bukanlah hal baru di
Indonesia tetapi tetap saja membuat hati miris bila mendengarnya. Busung lapar yang terjadi
sekarang merupakan efek dari krisis ekonomi di negara kita yang berkepanjangan yang
menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk membeli bahan makanan yang baik dari segi
jumlah dan mutu. Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan yang bergizi
merupakan penyebab lain timbulnya busung lapar. Paling banyak yang terkena busung lapar
adalah anak-anak.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah gizi buruk itu
2. Apa yang menjadi faktor penyebab gizi buruk
3. Apakah jenis dari gizi buruk
4. Apakah yang menjadi usaha pencegahan dari gizi buruk
5. Bagaimana Cara Penanggulangan Gizi Buruk
6. Program pemerintah dalam mengatasi gizi buruk
1.3. Tujuan Pembahasan
1. Menjelaskan tentang gizi buruk
2. Menjelaskan faktor penyebab dari gizi buruk
3. Menjelaskan tentang jenis-jenis gizi buruk
4. Menjelaskan tentang usaha pencegahan gizi buruk
5. menjelaskan tentang cara penanggulangan gizi buruk
6. program pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi pada anak Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Gizi Buruk
Apasih busung lapar atau bahasa kerennya gizi buruk itu?. Busung Lapar atau gizi buruk
adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam
asupan makanan sehari-hari hingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Ada beberapa cara untuk mengetahui seorang anak terkena busung lapar (gizi buruk) yaitu
Pertama, dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan . Bila perbandingan
berat badan dengan umurnya dibawah 60% standar WHO-NCHS, maka dapat dikatakan anak
tersebut terkena busung lapar (Gizi Buruk).
Kedua, dengan mengukur tinggi badan dan LIngkar Lengan Atas (LILA) bila tidak sesuai
dengan standar anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan
ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa
berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah
salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa
kondisi badan yang tampak kurus.
Gizi buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang buruk. Hal ini bisa
diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis makanan yang tidak tepat ataupun
karena sebab lain seperti adanya penyakit infeksi yang menyebabkan kurang terserapnya nutrisi
dari makanan. Secara klinis gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan nutrisi mikro
seperti vitamin yang tidak mencukupi ataupun berlebih sehingga menyebabkan terjadinya
gangguan kesehatan. Malnutrisi dapat terjadi oleh karena kekurangan gizi (undernutrisi) maupun
karena kelebihan gizi (overnutrisi). Keduanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara
kebutuhan tubuh dan asupan zat gizi esensial.

2.2 faktor Penyebab Gizi Buruk


- Penyebab tak langsung
Kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, menderita penyakit infeksi,
cacat bawaan, dan menderita penyakit kanker.
- Penyebab langsung
Ketersediaan pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan kesehatan.Sedangkan faktor-faktor
lain selain faktor kesehatan, tetapi juga merupakan Masalah Utama Gizi buruk adalah
Kemiskinan, Pendidikan rendah, Ketersediaan pangan dan kesempatan kerja. Oleh karena itu,
untuk mengastasi gizi buruk dibutuhkan kerjasama lintas sektor. Factor lainnya yang juga
berpengaruh adalah rendahnya anggaran kesehatan oleh pemerintah kita.

2.3 Jenis Gizi Buruk


- MARASMUS
Marasmus berasal dari kata marasmos (bahasa jerman) yang berarti sekarat. Mal nutrisi
jenis ini biasanya biasanya berupa kelambatan pertumbuhan, hilangnya lemak di bawah kulit,
mengecilnya otot, menurunnya selera makan dan keterbelakangan mental.Marasmus adalah salah
satu bentuk kekurangan gizi yang buruk paling sering ditemui pada balita penyebabnya antara
lain karena masukan makanan yang sangat kurang, infeksi, pembawaan lahir, prematuritas,
penyakit pada masa neonatus serta kesehatan lingkungan.
Marasmus sering dijumpai pada anak berusia 0 - 2 tahun dengan gambaran sbb: berat
badan kurang dari 60% berat badan sesuai dengan usianya, suhu tubuh bisa rendah karena
lapisan penahan panas hilang, dinding perut hipotonus dan kulitnya melonggar hingga hanya
tampak bagai tulang terbungkus kulit, tulang rusuk tampak lebih jelas atau tulang rusuk terlihat
menonjol, anak menjadi berwajah lonjong dan tampak lebih tua (old man face)), Otot-otot
melemah, atropi, bentuk kulit berkeriput bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan, perut
cekung sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air kecil.
Marasmus adalah salah satu bentuk gizi buruk yang sering ditemui pada
Balita.Penyebabnya multifaktorial antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit
dan faktor lingkungan serta ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi dan keadaan
ekonomi yang tidak menguntungkan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis; untuk
menentukan penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit lain.Pencegahan terhadap
marasmus ditujukan kepada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan dan penyuluhan
yang baik. Pengobatan marasmus ialah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein dan
penatalaksanaan di rumah sakit yang dibagi atas: tahap awal, tahap penyesuaian dan rehabilitasi.

PENYEBAB MARASMUS
Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan
hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi.Selain faktor
lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga
berpengaruh terhadap terjadinya marasmust.
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:

1. Masukan makanan yang kurang


Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit,pemberian makanan yang tidak sesuai
dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak; misalnya pemakaian secara
luas susu kaleng yang terlalu encer.2. Infeksi
Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus,terutama infeksi enteral misalnya
infantil gastroenteritis,bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital.
3. Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung,deformitas palatum,
palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia,hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas.
4. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus
Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang
kuat.
5. Pemberian ASI
Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
6. Gangguan metabolik
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance.
7. Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain telah disingkirkan
8. Penyapihan
Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan
menimbulkan marasmus.
9. Urbanisasi
Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus;
meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian
diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu
membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi berulang, terutama gastro enteritis akan
menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.
Ciri-ciri / tanda marasmus :
• Tampak sangat kurus
• Cengeng, rewel
• Perut cekung
• Biasanya diderita bayi berumur kurang dari 1 tahun, bila ditimbang berat badannya kurang dari
60% dari berat badan standar usia tersebut.
• Kulit keriput dan lapisan lemak dibawah kulit sangat tipis sehingga kulit mudah diangkat
• Wajah seperti orang tua
• Otot daging sangat menyusut dan lembek yang dapat diliat dipaha dan lengan atas yang
seharusnya tebal dan kencang.
• Iga gambang (terlihat jelas seperti alat musik gambang)
• Sering disertai dengan penyakit kronisberulang seperti diare kronis atau sembelit

- KWASHIORKOR
Kwashiorkor merupakan suatu istilah untuk menyebutkan gangguan gizi akibat kekurangan
protein. Kwashiorkor berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan
kasih sayang ibu". Tanda yang khas adalah adanya edema (bengkak) pada seluruh tubuh
sehingga tampak gemuk, wajah anak membulat dan sembab (moon face) terutama pada bagian
wajah, bengkak terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti
lubang, otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran Lingkar Lengan Atas
LILA-nya kurang dari 14 cm, timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah
warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas, tidak bernafsu makan atau kurang, rambutnya
menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa
sakit, sering disertai infeksi, anemia dan diare, anak menjadi rewel dan apatis perut yang
membesar juga sering ditemukan akibat dari timbunan cairan pada rongga perut salah salah
gejala kemungkinan menderita "busung lapar".
Kwashiorkor atau busung lapar adalah suatu sindrom yang diakibatkan defisiensi protein
yang berat. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Cecily Williams bagi kondisi tersebut yang
diderita oleh bayi dan anak balita. Nama ini berasal dari daerah di Pantai Emas, Afrika yang
berarti anak terlantar.Defisiensi ini sangat parah, meskipun konsumsi energi atau kalori tubuh
mencukupi kebutuhan. Biasanya, Kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada
usia enam bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah dua tahun.
Pada usia itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau makanan sapihan. Pada
umumnya, kandungan karbohidrat makanan tersebut tinggi, tapi mutu dan kandungan proteinnya
sangat rendah.
Ciri-ciri anak menderita kwashiorkor adalah hambatan pertumbuhan, perubahan pada
pigmen rambut dan kulit, edema, dan perubahan patologi pada hati. Hal ini terutama terlihat pada
infiltrasi lemak, nekrosis, dan fibrosis. Temuan lain adalah apati, cengeng, atrofi pankreas,
gangguan saluran cerna, anemia, kadar albumin serum yang rendah, dan dermatosis.Kulit
penderita terlihat menjadi gelap.
Pada ekstremitas dan punggung, timbul bercak-bercak menebal yang dapat mengelupas.
Kulit di bawahnya berwarna merah muda yang hampir seperti pelagra.Soal terjadinya edema,
biasanya diawali akibat turunnya kadar albumin serum. Ini mengakibatkan turunnya tekanan
osmotik daerah. Cairan daerah akan menerobos pembuluh darah dan masuk ke dalam cairan
tubuh.Anak-anak yang mengalami hal ini biasanya kehilangan nafsu makan, rewel, diare, dan
sikap apatis. Biasanya pula, mereka menderita infeksi lambung dan perubahan psikomotor.
Wajahnya bengkak. Pada orang dewasa, keadaan ini bisa terjadi, dan yang terparah adalah
busung lapar.
Kwashiorkor dianggap ada hubungannya dengan marasmus marasmick. Ini adalah satu
kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Cirinya adalah dengan penyusutan
jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan juga ditambah dehidrasi.

Ciri-ciri / tanda kwashiorkor :


• Biasanya diderita anak umur 1-3 tahun
• Otot dagingnya menyusut dan lembek, tetapi masih ada lapisan lemak dibawah kulit
• Terjadi pembengkakan (Oedem) terutama dikaki bagian bawah
• Bentuk muka seperti bulan (moon face) dan pandangan mata sayu.
• Wajah tampak murung, rewel dan apatis
• Warna kulit pucat karena menderita anemia. Selain itu, bisa terjadi kelainan kulit, yaitu bercak-
bercak merah muda yang terus meluasdan berubah warna menjadi cokelat kehitaman dan mudah
mengelupas
• Rambut berubah. Jika normalnya berwarna hitam bisa berubah menjadi cokelat, coklat
kemerahan (pirang) seperti rambut jagung, atau abu-abu dan sangat mudah dicabut tanpa rasa
sakit. Selain itu, rambut yang keriting bisa menjadi lurus.
• Terjadi pembesaran hati
• Tidak mempunyai nafsu makan sehingga sulit diberi makan
• Sering disertai penyakit infeksi, anemia, diare

- Marasmic – Kwashiorkor
Gabungan dari marasmus dan kwashiorkor ini sangat berbahaya dan mengakibatkan
kematian. Sementara itu, di Indonesia hanya ada satu istilah untuk marasmus, kwashiorkor dan
gabungan keduanya, yaitu busung lapar.Anak-anak yang menderita KKP ini menahan beberapa
cairan dan memiliki lebih banyak lemak tubuh dibandingkan dengan penderita marasmus.
Biasanya dijumpai tanda-tanda gabungan dari marasmus dan kwashiorkor.

2.4 Pencegahan Gizi Buruk


Status gizi seseorang dapat ditentukan melalui beberapa cara, yaitu:
1. Mengukur tinggi badan dan berat badan, lalu membandingkannya dengan tabel standar.
2. Menghitung indeks massa tubuh (BMI, Body Mass Index), yaitu berat badan (dalam kilogram)
dibagi dengan tinggi badan (dalam meter). Indeks massa tubuh antara 20-50 dianggap normal
untuk pria dan wanita.
3. Mengukur ketebalan lipatan kulit
Lipatan kulit di lengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga
lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dengan menggunakan jangka lengkung
(kaliper).
Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh.
Lipatan lemak normal adalah sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
4. Status gizi juga bisa diperoleh dengan mengukur lingkar lengan atas untuk memperkirakan
jumlah otot rangka dalam tubuh (Lean Body Mass, massa tubuh yang tidak berlemak).
Usaha pencegahan gizi buruk
 Lingkungan harus disehatkan misalnya dengan mengupayakan pekarangan rumah
menjadi taman gizi.
 Perilaku harus diubah sehingga menjadi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS).
PHBS Bidang Gizi yang harus diperhatikan adalah:
• Makan dengan Gizi seimbang
• Minum tablet besi selama hamil
• Memberi bayi ASI eksklusif
• Mengkonsumsi garam beryodium
• Memberi bayi dan balita kapsul vitamin A.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ) dapat merupakan titik pangkal bagi terciptanya
lingkungan sehat dan hilangnya pengganggu kesehatan. Hal ini dikarenakan dalam
praktiknya kedua hal tersebut diupayakan melalui perilaku manusia. Lingkungan akan
menjadi sehat, jika manusia mau berperilaku hidup bersih dan sehat. Pengganggu
kesehatan juga akan dihilangkan jika manusia mau berperilaku untuk mengupayakannya.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penyebab utama timbulnya masalah-masalah Gizi
dalam bidang kesehatan adalah masalah perilaku. Misalnya untuk mencegah terjadinya
kekurangan Protein pada balita, maka perilaku ibu dalam memberi makan balitanya harus
diubah, sehingga menjadi pola makan dengan gizi seimbang. Perilaku keluarga dalam
memanfaatkan pekarangan juga harus diubah, sehingga pekarangan menjadi taman gizi.

Strategi Departemen Kesehatan untuk penanganan Gizi Buruk:


• Menggerakan dan memberdayakan Masyarakat untuk hidup Sehat
• Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
• Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
• Meningkatkan pembiayaan kesehatan
Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan
kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat
mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk
mencegah terjadinya gizi buruk pada anak:
1. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak
mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan
tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
2. Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total
kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3. Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.
Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera
konsultasikan hal itu ke dokter.
4. Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas
pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
5. Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang
tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa
diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi
anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering
kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan
dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan
meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah
intelegensia di kemudian hari. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5
tahun, jenis kelamin tidak dibedakan.

2.5 Penanggulangan Gizi Buruk


Upaya Kesehatan Mengatasi Masalah Gizi atara lain :
Upaya Kesehatan Kuratif dan Rehabilitatif
1. Penemuan aktif dan rujukan kasus gizi buruk.
2. Perawatan balita gizi buruk
3. Pendampingan balita gizi buruk pasca perawatan
Upaya Kesehatan Promotif dan Preventif
1. Pendidikan (penyuluhan) gizi melalui promosi kadarzi
2. Revitalisasi posyandu.
3. Pemberian suplementasi gizi.
4. Pemberian MP – ASI bagi balita gakin
Kerangka Kerja Pencegahan Dan Penanggulangan Gizi Buruk
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
Komponen SKPG:
1. Keluarga
2. Masyarakat dan Lintas Sektor
3. Pelayanan Kesehatan

Peran Keluarga:
1. Penyuluhan/Konseling Gizi: a. ASI eksklusif dan MP-ASI; b. Gizi seimbang;
2. Pola asuh ibu dan anak
3. Pemantauan pertumbuhan anak
4. Penggunaan garam beryodium
5. Pemanfaatan pekarangan
6. Peningkatan daya beli keluarga miskin
7. Bantuan pangan darurat: a. PMT balita, ibu hamil, b. Raskin

Peran Masyarakat dan Lintas Sektor


1. Mengaktifkan Posyandu: SKDN
2. Semua balita mempunyai KMS,
3. Penimbangan balita (D),
4. Konseling,
5. Suplementasi gizi,
6. Pelayanan kesehatan dasar
7. Berat badan naik (N) sehat dikembalikan ke peran keluarga
8. BB Tidak naik (T1), Gizi kurang diberikan PMT Penyuluhan dan Konseling
9. Berat badan Tidak naik (T2), BGM, Gizi buruk, sakit, dirujuk ke RS atau Puskesmas
Peran Pelayanan Kesehatan
1. Mengatasi masalah medis yang mempengaruhi gizi buruk
2. Balita yang sembuh dan perlu PMT, perlu dikembalikan ke Pusat Pemulihan Gizi untuk
diberikan PMT
3. Balita yang sembuh, dan tidak perlu PMT, dikembalikan kepada masyarakatprogram
pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi pada anak Indonesia.

2.6 Program pemerintah dalam mengatasi gizi buruk

Kemitraan yang luas antara pemerintah Indonesia, UNICEF, dan Uni Eropa dalam mengatasi
masalah gizi di kalangan anak-anak bangsa menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang penting.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada seminar dan pameran pangan
nasional Jakarta Food Security Summit: Feed Indonesia Feed The World 2012 yang digelar di
Jakarta Convention Center, mengatakan pemerintah terus bekerja untuk mengatasi kekurangan
gizi dan kesuliatan untuk mendapatkan pangan dengan program-program pro rakyat.
Program-program pro rakyat yang dimaksud seperti program beras miskin (raskin) dengan harga
murah, menggratiskan pelayanan kesehatan dan pemberian bea siswa untuk siswa miskin.

Tahun 2011, sebanyak hampir 500 petugas kesehatan, bidan, ahli gizi, dan relawan
masyarakat telah mendapatkan manfaat dari pelatihan khusus yang memungkinkan mereka untuk
lebih memahami penyebab terhambatnya pertumbuhan tinggi badan juga penyebab kekurangan
gizi, dan langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk membantu para keluarga dalam
merawat anak-anak mereka secara lebih efektif.

Aksi-aksi masyarakat pun telah didukung dengan adanya pengalokasian anggaran tambahan,
seperti yang terjadi di desa-desa wilayah propinsi Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur,
dimana di dalamnya termasuk pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan sarana kebersihan,
mempromosikan pemberian ASI yang lebih baik, termasuk pemberian makanan pendamping
ASI, dan juga memantau status gizi anak-anak, sebagai bagian dari rencana pembangungan lokal
di wilayah mereka.

Pendidikan gizi tengah dipadukan ke dalam program pemerintah yang disebut dengan
Program Keluarga Harapan (PKH), yang membantu penyediaan bantuan berupa uang tunai
kepada para keluarga miskin sebagai imbalan atas partisipasi mereka dalam memprakarsai
kesehatan dan pendidikan. Karya yang cukup besar telah dilaksanakan untuk menambah
pedoman, standar, dan materi pelatihan dalam pengelolaan kondisi gizi buruk yang parah,
memfasilitasi ASI dan makanan pendamping ASI, dan juga meningkatkan program-program zat
gizi mikro.

“Kita tahu bahwa perbaikan gizi dapat menjadi kenyataan jika semua orang-orang di dalam
masyarakat menyadari bagaimana berperilaku gizi yang baik dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Inilah hal utama yang paling penting, namun seringkali diabaikan, oleh
keluarga-keluarga yang paling rentan terkena masalah gizi buruk”, perwakilan UNICEF untuk
Indonesia, Angela Kearney, menyebutkan. “Menangani masalah terhambatnya pertumbuhan
tinggi badan, pada khususnya, memiliki konsekuensi penting bagi prospek ekonomi dan
pembangunan jangka panjang di Indonesia, karena dengan penanganan yang baik, anak-anak
akan menunjukkan perilaku yang lebih baik di sekolah, tumbuh lebih sehat, dan dengan
demikian, dapat berperan sebagai orang yang lebih berguna di dalam lingkungan masyarakat
mereka ketika mereka dewasa nantinya.

Dr. Minarto, Direktur Gizi untuk Kementrian Kesehatan Indonesia, juga menggarisbawahi
pentingnya pergeseran kebijakan yang coba diusung oleh kemitraan ini. “Indonesia adalah
pemain terkemuka dalam mengakselerasi perbaikan gizi (SUN) global, dan melalui kolaborasi
ini kita telah mendirikan jaringan kunci di antara departemen-departemen pemerintah, badan-
badan PBB, lembaga bantuan internasional, organisasi-organisasi non-pemerintah, dan juga
sektor swasta,yang akan membantu lebih baik lagi dalam mengawasi penargetan sumber-sumber
daya, tanggapan program yang lebih baik, dan yang terpenting, reformasi kebijakan untuk
meningkatkan gizi bagi anak-anak kita,” kata Dr. Minarto.

Berbicara untuk Uni Eropa, yang telah menyumbangkan sebesar €20 juta (US$245 juta)
kepada UNICEF untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di seluruh wilayah Asia dan Pasifik,
Mr. Erik Habers, Kepala Operasi Utusan Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan
ASEAN, menggarisbawahi bahwa mengurangi gizi buruk adalah prioritas utama, dimana beliau
juga menegaskan bahwa Uni Eropa memiliki keterlibatan yang besar dalam perang global
melawan gizi buruk dan mekanisme koordinasi untuk mengakselerasi perbaikan gizi (SUN). Mr.
Habers juga memperhatikan bahwa Uni Eropa pun telah meningkatkan pendanaan langsung
untuk menangani kekurangan gizi di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, dimana sejak tahun 2008
Uni Eropa telah memberikan sumbangan lebih dari €650 juta dalam campur tangannya seputar
masalah gizi.

Di Indonesia, perhatian kemitraan ini difokuskan pada propinsi Nusa Tenggara Timur, Jawa
Tengah, dan Papua, dan melalui program-program perbaikan gizi dan pengetahuan yang lebih
baik tentang praktek makan yang sehat, kemitraan ini bertujuan untuk meraih 3,8 juta anak-anak
dan 800.000 wanita hamil dan menyusui. Terhambatnya pertumbuhan tinggi badan diidap oleh
lebih dari 1 anak dari 3 anak-anak di bawah usia lima tahun di Indonesia, sementara sedikitnya 1
anak dari 5 anak-anak dalam kelompok usia ini pun kekurangan berat badan.

Meningkatkan ketrampilan para tenaga kesehatan, penargetan sumber daya yang lebih
baik, dan memperkuat pengetahuan dasar tentang berperilaku sederhana seperti pemberian ASI
eksklusif selama enam bulan pertama setelah bayi baru lahir, dan menerapkan pemberian
makanan tambahan setelah enam bulan tersebut, diketahui dapat mengurangi resiko gizi buruk
juga membantu mengurangi angka kematian anak.

Angka kematian bayi dan balita di Indonesia adalah seperempatnya sejak tahun 1990, namun
laporan terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 134.000 anak-anak di bawah usia lima tahun
meninggal dunia setiap tahunnya, dimana hal tersebut terutama disebabkan oleh masih adanya
permasalahan kesehatan dan gizi.

 Pemerintah Siapkan Taburia

Direktur Bina Gizi, Ditjen Gizi dan Kesehatan Ibu & Anak (KIA) Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) dr Minarto mengatakan, anggarannya meningkat karena cakupan pemberian bubuk
makanan balita tersebut diperluas dari tiga provinsi di sembilan kabupaten pada 2010 menjadi
enam provinsi di 24 kabupaten pada tahun ini.

“Suplementasi lewat Taburia adalah solusi jangka pendek untuk mengatasi kekurangan nut-
risi. Idealnya, tetap melalui perubahan pola makan menjadi lebih seimbang dan beragam,” kata
dr Minarto. Suplemen Taburia mengandung vitamin dan mineral. Cara pakainya relatif lebih
gampang, tinggal ditaburkan ke atas makanan. Taburia berupa serbuk tabur mengandung 12
vitamin dan empat mineral penting, yakni yodium, selenium, seng dan zat besi. Seluruhnya
merupakan nutrisi pokok yang dibutuhkan dalam masa tumbuh kembang anak yang berusia
antara 6-24 bulan. Selain harus segera disantap sampai habis, Taburia sebaiknya tidak dicampur
dengan makanan panas karena lemak yang menyelubungi zat besi bisa rusak sehingga memicu
rasa tidak enak.

Program suplemen Taburia ini sudah mulai sejak tahun 2009. Orangtua tak mampu yang me-
miliki anak usia 6-24 bulan bisa mendapat Taburia setiap bulan. Serbuk multivitamin tersebut
diberikan untuk membantu balita tumbuh secara optimal, meningkatkan daya tahan tubuh, me-
ningkatkan nafsu makan, mencegah anemia dan mencegah kekurangan zat gizi. Sama seperti
penambahan vitamin A dalam minyak goreng, pemberian Taburia ke dalam makanan juga
termasuk salah satu bentuk fortifikasi atau penambahan zat gizi. Perbedaannya adalah fortifikasi
minyak goreng dilakukan dalam skala industri. Sementara penambahan Taburia dilakukan di
level rumah tangga.

Persoalan gizi buruk seharusnya ditangani menyeluruh karena gizi buruk ini dipengaruhi
berbagai faktor, seperti tingkat pendidikan, kemiskinan, ketersediaan pangan, transportasi adat
istiadat dan sebagainya.

 Program “Positive Deviance

Positive Deviance (PD) atau penyimpangan positive adalah sebuah program baru di dalam dunia
kesehatan, yang bertujuan untuk menangani kasus gizi buruk atau gizi kurang bagi anak-anak
Balita yang ada di seluruh Indonesia. Disebut dengan penyimpangan positive karena anak-anak
penderita gizi buruk yang berada di satu lingkungan bisa mencontoh perilaku hidup sehat anak-
anak yang tidak menderita gizi buruk.Program PD ini lebih mengembangkan konsep
pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat secara penuh untuk mengatasi masalah gizi buruk,
sangat jauh berbeda dengan program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang dikembangkan
oleh pemerintah. Program PMT sangat tidak efektif karena masyarakat tidak dilibatkan secara
penuh dalam program tersebut, bahkan cenderung membuat masyarakat manja dan memiliki
ketergantungan sangat tinggi terutama bagi keluarga penderita gizi buruk. Di samping itu juga,
program PMT sangat mubazir dalam hal pembiayaan, karena semua keluarga penderita gizi
buruk selalu berharap untuk mendapat bantuan. Itu sebabnya program PD perlu mendapat
perhatian pemerintah (Depkes) untuk diadopsi dalam rangka mengatasi gizi buruk di masyarakat.

Sebagaimana dimaklumi, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Depkes RI, kasus gizi
buruk yang paling tinggi berada di NTB yaitu di Kabupaten Lombok Utara (KLU). KLU
merupakan kabupaten termuda di NTB yang mana sebelumnya masuk wilayah kabupaten
Lombok Barat. Penyebab dari tingginya kasus gizi buruk di KLU disebabkan oleh beberapa
kasus di antaranya: pola hidup sehat masih sangat rendah, dan faktor kemiskinan.

Sebagai lembaga sosial yang peduli terhadap permasalahan umat, DASI NTB (Dompet
Amal Sejahtera Ibnu Abbas) bekerja sama dengan LKC-Dompet Dhuafa membantu pemerintah
mengatasi permasalahan gizi buruk ini dengan pendekatan Positive Deviance. Selain sebagai
lembaga sosial DASI NTB merupakan Lembaga Amil Zakat (LAZ) lokal yang berdiri sejak
tahun 2002. Pada tahun 2011 lalu DASI NTB menghimpun dana umat dari zakat, infaq dan
sedekah sebesar 2,3 Milyar. Untuk tahun 2012 ini kita menargetkan penghimpunan dana umat
sebesar 7,5 Milyar, tutur direktur DASI NTB Bapak Muhammad Firad S.T. disela-sela acara
pembukaan “Pelatihan Kader dan Pendamping Pos Gizi, Rabu, 29 Februari 2012 silam di Aula
Serba Guna KLU yang berlokasi di Desa Gondang, Kecamatan Gangga, KLU. Acara pelatihan
tersebut diikuti 30 orang kader dan pendamping. Nantinya DASI NTB akan mendirikan 6 Pos
Gizi di 5 Desa se kecamatan Gangga dengan jumlah penerima manfaat sekitar 150 0rang lebih.
Program PD di KLU ini akan berlangsung hingga 26 Maret 2012. Menurut Mas Nursalim, salah
seorang trainer dan tim PD dari LKC-Dompet Dhuafa, program-program di 6 pos gizi yang
dibentuk oleh DASI NTB nantinya akan dijalani oleh para kader dan pendamping yang sudah
dilatih selama 3 hari berturut-turut. Sedangkan tim dari LKC akan mengawasi kegiatan tersebut
hingga berakhir pada tanggal 26 Maret 2012.

Di tempat terpisah, Abdul Hanan selaku panitia program PD dari DASI NTB
mengharapkan agar kegiatan ini benar-benar berhasil dan sukses. Tolak ukurnya adalah adanya
perubahan perilaku untuk selalu hidup sehat di kalangan warga masyarakat khususnya yang saat
ini anak-anak balita mereka masih menderita gizi buruk dan gizi kurang. Akhirnya semoga
kegiatan PD yang dilaksanakan oleh DASI NTB ini bisa membawa kemaslahatan bagi warga
KLU khususnya yang berdomisili di wilayah kecamatan Gangga. DASI NTB-Mitra Umat Dalam
Berbagi.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Gizi buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang buruk. Hal ini bisa
diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis makanan yang tidak tepat ataupun
karena sebab lain seperti adanya penyakit infeksi yang menyebabkan kurang terserapnya nutrisi
dari makanan. Secara klinis gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan nutrisi mikro
seperti vitamin yang tidak mencukupi ataupun berlebih sehingga menyebabkan terjadinya
gangguan kesehatan.

3.2. Saran
Gizi buruk saat ini sudah menjadi madalah nasional yang harus segera ditindaklanjuti dan
menyadarkan berbagai pihak agar tak lepas yangan dengan masalah ini. Para orang tua dan
pemerintah hendaknya menyadari betapa berbahayanya gizi buruk ini.
Untuk itu para orang tua hendaknya melakukan hal-hal dibawah untuk
meminimalisirnya,antara lain :
1. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai
dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan
umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
2. Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin
dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang
dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3. Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.
4. Makan dengan Gizi seimbang
5. Minum tablet besi selama hamil
6. Mengkonsumsi garam beryodium
7. Memberi bayi dan balita kapsul vitamin A
Selain orang tua,pemerintahpun juga harus jeli dengan melakukan hal-hal serupa seperti :
1. Menggerakan dan memberdayakan Masyarakat untuk hidup Sehat
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
3. Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
4. Meningkatkan pembiayaan kesehatan
5. Meningkatkan anggaran kesehatan sesuai standar minimal dari WHO.
Dengan adanya masalah ini diharapkan perhatian Pemerintah Kabupaten/Kota untuk
menindaklanjuti masalah-masalah Gizi buruk dilapangan. Dan juga diharapkan adanya
kerjasama Lintas Sektor terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Sosial , Perindustrian, dan Dinas
Pendidikan, BAPPEDA, serta sektor-sektor lain yang berkaitan dengan masalah Gizi dalam
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Vtha. 2009. Pembanguanan kesehatan dan masyarakat papua diambil dari:
https://vitha0311.wordpress.com/2009/05/26/pembangunan-kesehatan-dan-pendidikan-
masyarakat-papua/ (16 mei 2017)
Muhsakir. 2012. Gizi buruk dan pencegahanya. Diambil dari:
http://muhsakirmsg.blogspot.co.id/2012/01/gizi-buruk-dan-pencegahannya.html (16 mei 2017)
Dita,Refika. 2012. Program penanggulangan gizi buruk di ambil dari
http://sehatceriaavail.blogspot.co.id/2012/01/program-penanggulangan-gizi-buruk-dari.html (16
mei 2017)
Andrio,Glend. 2013. Program program pemerintah. Di ambil dari:
http://glen4life.blogspot.co.id/2013/02/program-program-pemerintah-dalam_6.html (16 mei
2017)
septyani, annisa. 2014. Permasalahan gizi di Indonesia. Diambil dari:
https://annisaaseptyani.wordpress.com/2014/03/17/permasalahan-gizi-di-indonesia-dan-upaya-
pemerintah-dalam-menanggulanginya/ (16 mei 2017)