Anda di halaman 1dari 10

SINTESIS ZEOLIT SODALIT DARI EKSTRAK SILIKA SEKAM PADI DAN STUDI

KESTABILANNYA
ANGGIANA RISKI WAHYUNI, DEDE SUHENDAR DAN SONI SETIADJI.
Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. A.H. Nasution No. 105
Cipadung, Bandung 40614
∗email korespondensi: anggiana.kiki@gmail.com
Abstrak
Kandungan silika pada limbah sekam padi yang cukup besar yaitu 18-25% berpotensi untuk diolah
menjadi bahan lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu pemanfaatan dari sekam padi dapat
digunakan sebagai sumber silika untuk proses sintesis zeolit. Pada penelitian ini, dilakukan tiga tahap yaitu
ekstraksi silika, sintesis zeolit serta uji kestabilannya terhadap pengaruh suhu dan penambahan NaOH
beserta karakterisasinya. Proses silika dari sekam padi dilakukan dengan metode ekstraksi, proses sintesis
zeolit sodalit dilakukan pada suhu 90 ºC selama 16 jam, untuk proses kestabilan zeolit dengan adanya
pengaruh suhu dan penambahan NaOH dilakukan pada suhu 100 ºC selama 3 jam. Karakterisasi produk
sintesis dilakukan dengan menggunakan XRD, FTIR dan SEM. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa
dengan menggunakan sumber silika hasil ekstraksi dari sekam padi, dapat terbentuk zeolit sodalit dan
untuk uji kestabilan tidak terjadi transformasi menjadi zeolit lain, dikarenakan zeolit sodalit lebih stabil
dengan adanya pengaruh suhu dan penambahan NaOH.
Kata-kata kunci : silika sekam padi; sintesis zeolit; zeolit sodalit; kuboktahedron; kestabilan.

1. Latar Belakang
Produk samping atau limbah dari biji padi yaitu berupa sekam padi, sekam padi diperoleh dari sisa
penggilingan padi biasanya sebesar 20-25% [1], Selama ini, pemanfaatan limbah sekam padi di Indonesia
sangat terbatas dalam penggunaannya yaitu pemanfaatan sebagai produk-produk yang tidak bernilai ekonomi
tinggi [2]. Terkadang limbah sekam ini hanya dibuang atau dibakar begitu saja, padahal semua tumbuhan atau
tanaman yang diciptakan Allah SWT tidak ada satupun yang sia-sia, melainkan mempunyai sesuatu nilai
manfaat bagi manusia itu sendiri dan makhluk lainnya di muka bumi ini seperti yan dijelaskan dalam firman
Allah SWT yang berbunyi :
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara kedunya tanpa hikmah. Yang
demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan
masuk neraka” (Q.S. As-Shadd 38:27).
padahal sekam mempunyai kandungan spesifik terutama tingginya kandungan silika, lignin dan
selulosa. Sekitar 18-25% silika dalam sekam padi mempunyai keuntungan karena jumlah elemen lain
(pengotor) yang tidak diinginkan adalah sangat sedikit dibandingkan jumlah silikanya. Silika sekam padi dapat
diperoleh dengan cara ekstraksi dengan menggunakan pelarut alkali tanpa harus melalui proses pembakaran
[1]. Salah satu pemanfaatan dari sekam padi yaitu sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber silika
untuk proses sintesis zeolit. Salah satu jenis zeolit yang menarik dalam sintesis maupun aplikasinya tersebut
adalah sodalit.
Zeolit sodalit merupakan unit sodalit (β-cage) terdiri dari cincin 6 dan cincin 4 yang bergabung
bersama membentuk kuboktahedron [4], zeolit sodalit yang terdiri dari cincin 6 ini memiliki pori-pori kecil
sehingga kapasitas penyerapannya sangat terbatas [5]. Sebelumnya beberapa sintesis zeolit sodalit dilakukan
dengan mengekstraksi silika dari berbagai sumber di antaranya yaitu yang berasal dari abu sekam padi, abu
ketel dan abu geothermal yang dilakukan oleh (Widiawati [4] dan Duyeh Setiawan [3]), dengan perlakuan
pembakaran, juga memerlukan suhu yang tinggi untuk memperoleh silikanya
Akan tetapi sintesis material dengan metode yang ramah lingkungan saat ini sudah menjadi alternatif
untuk beberapa penelitian terutama dalam pemanfaatan sekam padi sebagai sumber silika. Oleh karena itu
sintesis dengan metode yang ramah lingungan menjadi salah satu solusi dalam penelitian ini, yaitu dengan
mengekstraksi sekam padi sebagai sumber silika dalam sintesis zeolit sodalit tanpa menggunakan pembakaran.
Selain itu juga dilakukan uji kestabilan untuk mengetahui apakah dapat terjadi transformasi terhadap
zeolit yang dihasilkan dalam hal ini ialah zeolit sodalit dengan pengaruh suhu dan penambahan suatu perekasi
basa dalam hal ini ialah NaOH.

-1-
2. Metode Penelitian

Ekstraksi Silika dari Sekam Padi


Alat yang digunakan pada ekstraksi silika dari sekam padi adalah gelas kimia 500, 1000 mL, gelas ukur
100, 1000 mL, spatula, batang pengaduk, pipet tetes, pH meter, cawan, neraca, corong pisah, mortal dan alu,
oven, dan heater.
Bahan yang digunakan pada ekstraksi silika dari sekam padi adalah NaOH 1,5 %, HNO3 10% .
Sekam padi yang akan diekstrak dicuci hingga bersih dengan air dan jemur di bawah sinar matahari
hingga kering. Sekam padi yang telah kering rendam dengan larutan NaOH 1,5% sambil panaskan di atas
heater hingga mendidih. Sekam padi didiamkan selama 24 jam dan kemudian saring sehingga diperoleh filtrat
kecoklatan. Ke dalam filtrat tersebut ditambahkan tetes demi tetes larutan HNO3 10% hingga terbentuk gel
(pH = 7). Gel coklat yang terbentuk didiamkan selama 24 jam untuk proses aging. Gel coklat kemudian cuci
dengan akuades panas hingga gel coklat berubah menjadi gel putih. Gel putih kemudian saring dan keringkan
di oven pada temperatur 100 oC selama 12 jam. Padatan yang telah kering kemudian gerus hingga halus dan
digunakan sebagai bahan sumber silika pada sintesis zeolit sodalit [1].

Sintesis Zeolit Sodalit dan kestabilan


Sintesis zeolit sodalit, alat yang digunakan adalah gelas kimia 100 mL, gelas ukur 10 mL, spatula, pipet
tetes, batang pengaduk, botol polipropilena, corong, labu Erlenmeyer 250 mL, kertas saring, oven, pH meter,
lumpang dan alu,.
Bahan yang dibutuhkan dalam sintesis zeolit sodalit adalah silika (ekstraksi silika sekam padi) , alumina
(aluminium foil), NaOH, dan akuades .
Sintesis zeolit sodalit menggunakan bahan silika, alumina, NaOH, dan akuades. Sumber silikanya dari
ekstrak sekam padi sedangkan sumber alumina dari aluminium foil. Komposisi rasio mol dalam sintesis zeolit
sodalit yaitu 3,09 Na2O : 1,08 SiO2 : Al2O3 : 45,5 H2O. NaOH sebanyak 14,6323 gram masukkan dalam 40
gram akuades kemudian dibagi dua. Berikutnya masukkan 3,1361 gram aluminium foil dan 4,8983 gram silika
ke dalam botol polipropilena pertama dan kedua. Tambahkan larutan NaOH sebanyak 20 gram ke dalam kedua
botol polipropilena tersebut. Larutan pada botol polipropilena disatukan dan tambahkan sisa akuades sebanyak
7,5988 gram. Botol polipropilena ditutup dan di aduk selama 2 jam lalu inkubasi pada suhu 90 ˚C selama 16
jam, dinginkan 5 menit, dekantasi lalu dibilas dengan akuades dan disentrifugasi sebanyak 3 kali pengulangan.
Keringkan pada suhu 90 ˚C selama 24 jam terbentuk zeolit sodalit. Transformasi dengan rasio mol zeolit LTA
yaitu 3,165 Na2O : 1,926 SiO2 : Al2O3 : 128 H2O. Timbang NaOH 6,4183 gram dan 5,1778 gram zeolit sodalit,
kemudian larutkan dengan akuades aduk sampai larut selama 10 menit. Inkubasi pada suhu 100 ˚C selama 3
jam, dinginkan, dekantasi dan bilas dengan akuades hingga pH filtrat di bawah 9 keringkan semalaman pada
suhu 110 ˚C.
Karakterisasi
Pada karakterisasi zeolit sodalit, kristalinitas zeolit dilakukan dengan analisis Difraksi Sinar-X
(Philips PW 1835 X-ray Diffractometer) dengan puncak khasnya pada 2 theta (2θ). Ikatan dalam struktur zeolit
dianalisis dengan menggunakan spektroskopi inframerah (FT-IR) dengan posisi puncak, tinggi, dan lebar yang
berbeda pada masing-masing panjang gelombang yang didapatkan. Morfologi zeolit dianalisis dengan
scanning electron microscope (SEM) dengan pencitraan morfologi kristal zeolit.

3. Hasil dan Pembahasan

Hasil Ekstraksi dan Karakterisasi Silika dari Sekam Padi


Langkah pertama dalam ekstraksi silika dari sekam padi yaitu merendam sekam padi ke dalam suatu
larutan alkali dalam penelitian ini yaitu NaOH 1,5% yang sebelumnya sekam padi telah dicuci terlebih dahulu
dan dikeringkan selama 3 hari. Perendaman sekam padi ke dalam suatu larutan alkali dalam hal ini NaOH
bertujuan untuk melarutan silika yang terkandung dalam sekam padi, rekasi yang terjadi antara kandungan
silika yang terdapat dalam sekam padi dengan larutan NaOH sebagai berikut:

SiO2 + 2NaOH  Na2SiO3 + H2O (3.1)

-2-
Produk silika yang terbentuk berupa natrium silikat, natrium silikat yang terbentuk kemudian
direaksikan dengan larutan HNO3 10% yang digunakan untuk mengikat natrium pada natrium silikat sehingga
dihasilkan SiO2, reaksi yang terjadi sebagai berikut.

Na2SiO3 + 2HNO3  SiO2 + 2NaNO3 + H2O (3.2) [1]

Menggunakan asam nitrat dikarenakan bersifat asam, silika akan larut apabila dilarutkan oleh suatu
basa setelah silika larut dan kemudian digunakan larutan asam agar supaya silika yang telah larut mengendap
kembali. Dilakukan pembilasan dengan akuades panas, kadar air yang mempengaruhi kelembaban produk
dapat dihilangkan dengan cara pengeringan di dalam oven.
Sekam padi yang telah diekstraksi menghasilkan serbuk silika berwarna putih, karakterisasi silika yang
pertama kali dilakukan ialah untuk mengetahui komposisi kimia serbuk silika dari sekam padi yang diketahui
dari analisis menggunakan fluorosensi sinar-X (XRF). Kadar silika yang diperoleh ialah sebesar 77,080% dan
sisanya ialah beberapa kadar oksida logam dapat di lihat pada Tabel III.1

Tabel III.1 Komposisi Kimia Sekam Padi Hasil Ekstraksi

OKSIDA JUMLAH (%) UNSUR JUMLAH (%)


SiO2 77,08 Si 36,04
TiO2 0,002 Ti 0,001
Al2O3 0,154 Al 0,082
Fe2O3 0,024 Fe 0,017
MnO 0,005 Mn 0,004
CaO 0,043 Ca 0,031
MgO 0,067 Mg 0,040
Na2O 0,509 Na 0,377
K2O 0,032 K 0,026
P 0,011 P 0,011
SO3 0,043 S 0,017
LOI 22,27 - -

Hasil karakterisasi dengan menggunakan XRD menunjukkan tidak ada puncak atau terjadi pelebaran
puncak yang terbentuk hal ini menandakan bahwa silika sekam padi yang diperoleh dengan cara ekstraksi
memiliki fasa amorf. Hasil kristalinitas ekstrak silika dari sekam padi dapat terlihat pada Gambar III.1

700

600

500
Itensitas

400

300

200

100

0
0 20 40 60 80 100
2 theta

Gambar III.1. Difraktogram Silika Sekam Padi Hasil Ekstraksi

-3-
Karakterisasi dengan FT-IR digunakan untuk menganalisa beberapa daerah-daerah vibrasi dari
masing-masing ikatan yang terdapat dalam sampel silika hasil ekstraksi dari sekam padi. Analisis FT-IR
dilakukan dari bilangan gelombang 2000-399 cm-1, hasil analisis spektrum FT-IR silika dapat dilihat pada
Gambar III.2

1,2

1,0
1.853,26
% Transmitan

0,8

0,6 1.635,34

939,16
1.270,86

671,11
786,82
1.052,94

435,83
1.174,44

557,33
0,4

499,47
530,33
0,2

0,0
1999 1799 1599 1399 1199 999 799 599 399

Bilangan Gelombang cm-1

Gambar III.1 Spektrum FT-IR Silika Sekam Padi Hasil Ekstraksi

Pada hasil spektrum FT-IR silika hasil ekstraksi menunjukkan beberapa puncak diantaranya terdapat
beberapa interpretasi pada silika dan juga interpretasi dari senyawa organik yaitu : Puncak yang disebabkan
oleh vibrasi ulur C-O terjadi didaerah 1200-1050 cm-1, vibrasi ulur dari –C=C- dan C=N terletak pada daerah
1690-1600 cm-1, setiap puncak yang muncul pada derah serapan 1800 cm-1 hampir selalu disebabkan karena
adanya vibrasi dari ikatan C=O atau gugus karbonil. Kemudian untuk puncak yang disebabkan oleh silika
adalah vibrasi tekuk Si-O terjadi pada daerah 500-420 cm-1, vibrasi asimetrik dari ikatan Si-O-Si terjadi pada
daerah 900-1250 cm-1 dan vibrasi simterik dari Si-O-Al pada daerah 850-650 cm-1.

Tabel III.1 Interpretasi Spektrum FT-IR Silika

Bilangan Gelombang cm -1
Interpretasi
Standar Silika
Vibrasi Tekukan Si-O 500-420 435,83
Vibrasi Simetris Si-O-Al 750-650 671,11
Vibrasi Asimetris Si-O-Si 1250-950 1174,44
Vibrasi Ulur C-O 1050-1200 1052,94
Virasi Ulur C=C dan C=N 1690-1600 1635,34
Vibrasi ulur C=O 1800 1853,26

Tabel III.2 menunjukkan pada daerah bilangan gelombang 435,83 cm-1 adanya vibrasi tekukan Si-O,
kemudian pada daerah bilangan gelombang 1174.44 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi ulur asimetrik
dari ikatan Si-O-Si dan pada daerah bilangan gelombang 671 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi ulur simetrik
Si-O-Al. Pada tabel menunjukkan terdapat beberapa puncak dari senyawa organik yaitu pada bilangan
gelombang 1052,94 cm-1 untuk vibrasi C-O, pada 1635,34 cm -1 vibrasi ulur C=C dan C=N dan 1853,26 cm-1
untuk vibrasi C=O, hal ini menunjukkan senyawa organik yang terdapat pada sekam padi belum sepenuhnya
hilang yang ditandai munculnya beberapa puncak senyawa organik.

-4-
Hasil Sintesis Zeolit Sodalit
Salah satu tujuan penelitian ini yaitu melakukan sintesis zeolit sodalit menggunakan prekursor silika
alam dari sekam padi (SiO2), sumber alumina yang berasal dari (aluminium foil), sumber mineral (NaOH) dan
sumber air (H2O).
Kebasaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap pembentukan zeolit, kebasaan
diindikasikan dengan banyaknya ion OH- dalam larutan. Banyaknya ion OH- akan berpengaruh pada jenis
zeolit yang terbentuk. Dalam sistem sintesis ion OH- berfungsi untuk mempercepat proses pelarutan reaktan
yaitu Si dan Al dalam botol polipropilen. Penggunaan botol polipropilen disebabkan karena selain memiliki
titik leleh yang cukup tinggi yaitu 160 ºC, polipropilen merupakan polimer adisi dari propilena monomer yang
memiliki sifat resistan yang baik terhadap kebanyakan pelarut kimia, basa dan asam [1]. Campuran diaduk
selama 2 jam, hal ini bertujuan agar terbentuk gel, gel yang terbentuk memperlihatkan adanya interaksi antara
silikat dan aluminat pada pembentukan inti dan pertumbuhan kristal zeolit, pembentukan inti kristal dimulai
pada saat proses terbentuknya gel. gel yang telah dipersiapkan disimpan pada temperatur yang telah ditentukan
selama beberapa waktu. Kebanyakan zeolit disintesis melalui sintesis hydrothermal karena zeolit sodalit
termasuk dalam zeolit dengan silika rendah, produk seringkali dapat dikristalkan pada temperatur 70–100 oC
oleh karena itu dalam penelitian ini sintesis zeolit sodalit dilakukan pada suhu 90 oC selama 16 jam [18].

Hasil Karakterisasi Zeolit Sodalit

Hasil dari sintesis zeolit sodalit yang diperoleh kemudian dikarakterisasi dengan XRD, FTIR dan SEM.

Karakterisasi dengan XRD


Setiap spesies mineral memiliki susunan atom yang spesifik berupa atom penciri yang dapat
mendifraksi Sinar-X dan menghasilkan pola-pola yang khas. Pola difraksi ini digunakan sebagai sidik jari
dalam identifikasi spesies mineral, aplikasi Sinar-X pada zeolit dapat ditentukan dengan membandingkan pada
pola difraksi standar untuk mengetahui kristalinitas dan hasil zeolit sodalit dan hasil zeolit transformasi
ditunjukkan pada Gambar III.3.

2500

2000

1500 Transformasi
Intensitas

1000

500
Sodalit
0
0 10 20 30 40 50 60 70
2 tetha

Gambar III.2 Difraktogram Zeolit Sodalit dan Transformasi

-5-
Berdasarkan hasil analisa difraksi sinar-X menunjukkan bahwa difraktogram zeolit sodalit memiliki
kesesuaian dengan pola difraksi zeolit sodalit standar. Pada struktur zeolit sodalit akan memberikan puncak
khas pada 2θ 14,16º, 20,07º, 22,47º, 24,65º, 28,53º, 31,99º, 35,13º, 36,62º, 38,05º, 40,79º, 42,11º, 43,39º,
45,86º, 47,06º. [15]. Kesesuaian tersebut ditunjukkan pada puncak 2θ 14,08º, 24,37º, 28,24º, 34,68º dan 37,52º
dengan puncak tajam dengan intesitas tinggi pada puncak 2θ = 24,37º yang merupakan puncak khas
karakteristik dari sodalit. Hasil karakterisasi menggunakan XRD menunjukkan Padatan hasil sintesis pada
sampel mengindikasikan terbentuknya struktur zeolit, yaitu zeolit sodalit karena adanya kesesuian pola dari
difraktogram. Berdasarkan hasil analisa menggunakan difraksi sinar-x untuk hasil transformasi ke zeolit LTA
yang terlihat pada Gambar III.3 bahwa ada perubahan sedikit pada puncak-puncak yang hasil transformasi
dengan zeolit sodalit. Pada difraktogram hasil transformasi terdapat beberapa puncak yang intensitasnya
sedikit meningkat seperti pada sudut 2θ 19,87º, 21,96º dan 28,53º yang dipengaruhi adanya peningkatan suhu
pada saat proses pemanasan dan terdapat puncak pada sudut 2θ 25,98º, 32,60º, menunjukkan puncak silika
berupa fasa kristobalit.
Adanya perubahan sedikit pada puncak difraktogram hasil transformasi tetap tidak menunjukkan
terjadinya transformasi pada zeolit sodalit yang dihasilkan, dikarenakan beberapa perubahan puncak buakanlah
puncak khas dari zeolit LTA dan sebagian besar puncak difraktogram antara zeolit sodalit dan hasil
transformasi secara keseluruhan memiliki kesamaan.

Karakterisasi dengan FTIR


Analisis gugus fungsional dengan FT-IR dimaksudkan untuk mengetahui terbentuknya stuktur
kerangka aluminosilikat zeolit. Analisis FTIR dilakukan dari bilangan 4000-399 cm-1, pada rentang bilangan
gelombang tersebut terdapat gugus gugus fungsi serta spektrum sidik jari yang dimiliki oleh zeolit, hasil
analisis spektrum FT-IR terdapat pada Gambar III.4.

2,5

2,0
% Transmitan

1,5

1,0
1.454,06
1.646,91
3.139,54

719,32
653,75
952,66

468,62

0,5

0,0
3899 3399 2899 2399 1899 1399 899 399
Bilangan Gelombang cm -1

Gambar III.3 Spektrum FT-IR Zeolit Sodalit

Untuk mengetahui hasil FT-IR dalam sampel zeolit sodalit dilakukan dengan menganalisis gugus
fungsional kerangka sesuai interpretasi spektrum FT-IR produk zeolit sodalit yang dapat di lihat pada Tabel
III.3
Pada Tabel III.3 menunjukkan terbentuknya kerangka zeolit pada sampel zeolit sodalit ditandai
dengan puncak-puncak pada bilangan gelombang 468,62 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi tekukan Si-
O atau Al-O, pada puncak spektrum FT-IR pada daerah bilangan gelombang 550 cm-1 tidak muncul karena
pada daerah ini menunjukkan adanya vibrasi eksternal dari cincin ganda D4R atau D6R, karena pada
pembentukan kerangka zeolit sodalit tidak terbentuk dari cincin ganda akan tetapi zeolit sodalit tersusun dari
cincin 4 tunggal (4R) dan cincin 6 tunggal (6R) [18].

-6-
Tabel III.2 Interpretasi Spektrum FT-IR Zeolit Sodalit
Bilangan Gelombang cm -1
Interpretasi
Standar Zeolit Sodalit
Vibrasi Tekukan Si-O/Al-O 500-420 468,62
Vibrasi Simetris Si-O-Si atau Al-O-Al 750-650 653,75
Vibrasi Asimetris Si-O-Si atau Al-O-Al 1250-950 952,66
Vibrasi Tekuk Dari Molekul Air Sekitar 1600 1646,91
Ikatan Hidrogen OH dari gugus Si-OH atau
3100-3600 3139,54
Al-OH

Puncak spektrum pada bilangan gelombang 653,75 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi simetris O-Si-
O atau O-Al-O, puncak spektra pada bilangan gelombang 952,6 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi asimetris
O-Si-O atau O-Al-O. Vibrasi tekuk molekul air pada sampel zeolit sodalit yang ditandai dengan adanya O-H
berikatan hidrogen (H2O) pada puncak bilangan gelombang 1646,91 cm-1, serta adanya ulur O-H dari gugus
Si-OH dan Al-OH yaitu pada bilangan gelombang 3139,54 cm-1. Jadi hasil FTIR ini semakin memperkuat hasil
XRD yang menunjukan terbentuknya zeolit sodalit.

Karakterisasi dengan SEM


Karakterisasi dengan menggunakan SEM dilakukan untuk mengetahui morfologi kristal pada sampel
zeolit sodalit yang terbentuk. Berdasarkan hasil yang dilakukan sampai perbesaran 10000x pada 1 µm dengan
tegangan 10 kV yang dapat dilihat pada Gambar III.5. Pencitraan dengan menggunakan SEM pada zeolit
memperlihatkan bentuk kristal yang menyerupai bola-bola kecil hanya saja kristal yang satu dengan kristal
yang lainnya saling bertumpuk sehingga terlihat seperti berbentuk gumpalan.

Gambar III.4 Morfologi Zeolit Sodalit

Pencitraan pada zeolit sodalit yang diperoleh hampir sama dengan hasil SEM pada penelitian yang
dilakukan Sheida Khajavi, dkk sebelumnya [22], morfologi kristal zeolit yang diperoleh dilakukan sampai
perbesaran 195x pada 10 µm bahwa pencitraan kristal zeolit sodalit membentuk bola aglomerat yang
bertumpuk.

-7-
Kestabilan Pengaruh Suhu dan Penambahan NaOH

Tahap ini dilakukan transformasi zeolit sodalit ke zeolit LTA dengan pertimbangan diantara semua
kelompok material zeolit, sodalit diperoleh sebagai kristal tunggal. SBU dari penyusun struktur zeolit sodalit
ialah dari cincin 4 tunggal (4R) dan cincin 6 tunggal (6R). Kerangka sodalit merupakan kerangka penyusun
dari beberapa jenis zeolit sintesis, dengan keberadaan kerangka sodalit merupakan suatu indikasi terbentuknya
zeolit LTA [5] dan juga jenis zeolit lainnya, ditunjukkan pada Gambar III.6 Akan tetapi dari penelitian yang
telah dilakukan tidak terjadi transformasi menjadi zeolit LTA yang dapat dilihat pada Gambar III.3

Gambar Error! No text of specified style in document.I.5 Beberapa struktur zeolit yang
dihubungkan dari cages sodalit [5].

Pada tahap transformasi sudah dilakukan perubahan suhu dan penambahan NaOH kembali yang menjadi
pertimbangan dapat terjadinya transformasi pada sintesis zeolit sodalit. Semakin besar konsentrasi NaOH yang
digunakan maka akan semakin banyak ion Na+ yang bereaksi dengan SiO2 membentuk natrium silikat [23],
oleh karena itu dengan adanya penambahan NaOH menyebabkan peningkatan pH dalam proses sintesis zeolit
yang akan berpengaruh pada jenis zeolit yang diperoleh.
Suhu dapat mempengaruhi jenis produk yang mengkristal, berpengaruh pada saat proses pemanasan,
pada saat proses pemanasan pori-pori pada zeolit akan diisi oleh kation. Kompleksitas struktur zeolit terjadi
karena kelompok tetrahedra dihubungkan oleh ion oksigen, kation ini menimbulkan keanekaragaman yang
sangat luas pada zeolit sintesis. Sehingga dengan demikian terdapat beberapa kriteria sederhana yang
digunakan untuk menetapkan kerangka zeolit, salah satu yang paling penting adalah framework density, yang
berarti jumlah T-atom per 1000 Å3.
Senigga dapat disimpulkan tidak terjadi transformasi pada zeolit sodalit hal ini dikarenakan kerapatan
yang dimiliki zeolit sodalit jauh lebih besar dibandingkan kerapatan pada zeolit LTA yaitu zeolit sodalit
memiliki kerapatan tetrahedral/T atau framework density sebesar 17.2 T/1000Å3 sedangkan pada zeolit A 12.9
T/1000Å3, sehingga zeolit sodalit jauh lebih stabil dibandingkan zeolit LTA [24], dikarenakan semakin besar
kerapatan maka semakin sulit dipecahkan sehingga kestabilannya akan lebih baik.

4. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Silika dari sekam padi berhasil diekstraksi menggunakan pelarut alkali, dengan komposisi SiO2 sebanyak
77,080 % yang memiliki fasa amorf, dan Zeolit sodalit berhasil disintesis dengan menggunakan silika hasil
ekstraksi dari sekam padi,

-8-
2. hasil karakterisasi dengan XRD dan FT-IR menunjukkan zeolit sodalit berhasil disintesis, karakterisasi
dengan SEM morfologi kristal zeolit sodalit menyerupai bola-bola kecil yang bertumpuk dan terlihat seperti
gumpalan, dan
3. Zeolit sodalit memeiliki kestabilan yang baik terhadap pengaruh suhu dan penambahan NaOH, yang
ditunjukkan tidak terjadi transformasi menjadi zeolit LTA.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis memberikan saran / merekomendasikan
sebagai berikut:

1. Dalam proses sintesis zeolit sodalit diharapkan tidak hanya pada proses sintesisnya saja yang
dikembangkan tetapi perlu juga untuk dipelajari/diketahui tentang aplikasi pada zeolit sodalit, karena zeolit
sodalit termasuk dalam zeolit dengan kadar silika rendah yang pada umumnya efektif dalam teknik
pemisahan atau pemurnian, dan
2. Sebaiknya pada pengujian karakterisasi pada zeolit sodalit dengan menggunakan SEM ditampilkan
beberapa gambar dengan perbesaran yang berbeda-beda.

Referensi
[1] Fabiani, Verry Andre;, "Pengurangan Agen Pengarah Struktur Sintesis Zeolit ZSM-5 Menggunakan
Prekursor Silika Alam," Bandung, Tesis 2014.

[2] Fuadi, A. M.; Musthofa, Malik; Harismah, Kun; Haryanto; Hidayati, Nur;, "Pembuatan Zeolit Sintesis
Dari Abu Sekam Padi," pp. 55-62, 2012.

[3] Setiawan, Duyeh; Supriyatna, Dadang;, "Sintesis Zeolit Dari Abu Sekam Padi Menggunakan Metode
Proses Hidrogel," no. Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah, pp. 5-10, 1999.

[4] Widiawati, "Sintesis Zeolit dari abu ketel asal Pg. Tasik Madu Ragam Zeolit Pada Berbagai Ragam
Natrium Aluminat," Surakarta, 2005.

[5] Xu, Ruren; Pang, Wenqin; Yu, Jihong; Huo, Qisheng; Chen, Jiesheng;, Chemistry of Zeolites and
Related Porous Materials: Synthesis and Structure. Singapore: Wiley, 2007.

[6] Yao, Jianfeng; Zhang, Lixiong; Wang, Huanting;, "Synthesis of nanocrystalline sodalite with organic
additives," Materials Letters, pp. 4028-4030, 2008.

[7] Supriyadi, Andi;, "Modifikasi Zeolit Clinoptilolit Dengan Poly(Allylamine Hydrochloride) dan
Poly(Stirene Sulfonate) Sebagai Adsorben Surfaktan," Departemen Kimia Universitas Indonesia,
Depok, 2008.

[8] Silvya Yusri, "Sintesis dan Karakterisasi Zeolit ZSM-5 Mesopori Dengan Secondary Template dan
Studi Awal Katalisis Oksidasi Metana," Univeristas Indonesia, Depok, 2012.

[9] Sitorus, Tanti Kartika;, "Pengaruh Penambahan Silika Amorf Dari Sekam Padi Terhadap Sikap
Mekanis Dan Sifat Fisis Mortar," Medan, 2009.

[10] Irawan, Anton;, "Pengaruh Jenis Binder Terhadap Komposisi dan Kandungan Energi Biobriket Sekam
Padi," pp. 1-6, 2011.

[11] Tarsito, Teguh; Sutanto, Heri; Marhaendrajaya, Indras;, "Pengaruh Variasi Komposisi Briket Organik
Terhadap Temperatur Dan Waktu Pembakaran," pp. 21-26, 2013.

-9-
[12] Armaina, Retnani; Malino, Mariana Bara’allo; Arman, Yudha;, "Penentuan Celah Energi (Energy Gap)
Silikon Hasil Reaksi Metalotermis Aluminium Dan Silika Dari Abu Sekam Padi," pp. VOL. I 56-60,
2013.

[13] Rahayu, Ahadiyat Yugi; Harjoso, Tri;, "Aplikasi Abu Sekam pada Padi Gogo (Oryza sativa L.) terhadap
Kandungan Silikat dan Prolin Daun serta Amilosa dan Protein Biji," pp. VOL. 16 48-55, 2011.

[14] K, Jamaluddin, "XRD (X-Ray Diffractions)," Pendidikan Fisika Universitas Haluoleo, Kendari, 2010.

[15] Treacy, M.M.J; Higgins, J.B.;, Collection of Simulated XRD Powder Patterns for Zeolites, Fifth
Revised ed.: Elsevier, 2007.

[16] Chatwall, G, "Spectroscopy Atomic and Molecule," Dalam jurnal Hanifuddin, M; Fibria,Milda;
Hastuningtyas, Sari, pp. VOL. 45 71-78, 1985.

[17] Tahid;, Spektroskopi Inframerah Transformasi Fourier No II Th VIII. Bandung: Warta Kimia Analitis,
1994.

[18] Huang, Yi; Yao, Jianfeng; Zhang, Xueyi; Kong, Charlie; Chen, Huiyong; Liu, Dongxia; Tsapatsis,
Michael; Hill, Matthew R.; Hill, Anita J; Wang, Huanting;, "Role of Ethanol in Sodalite Crystallization
in an Ethanol-Na2O-Al2O3-SiO2-H2O System," pp. 4-5, 2011.

[19] Cejka, Jiri; Corma, Avelino; Zones, stacey;, Zeolites and Catalysis. Germany: WILEY-VCH Verlag
GmbH & Co.KGaA, Weinheim, 2010.

[20] Nizar, "Studi Penagruh Tekanan Kompaksi dan Waktu kalsinasi Terhadap Pellet Zeolit Alam Sebagai
Dessicant.," Universitas Indonesia, Depok, 2012.

[21] Himnil Khusna, "Analisis Kandungan Kimia dan Pemanfaatan Sludge Industri Kertas sebagai Bahan
Pembuatan Batako," 2012.

[22] Khajavi, Sheida; Kaptejin, Freek; Jansen, Jacobus C, "Synthesis of thin defect-free hydroxy sodalite
membranes: New candidate for activated water permeation," SienceDirect, p. 70, 2007.

[23] Fitriyana, Deni Fajar; Sulardjaka;, "Sintesis Zeolit A Berbahan Dasar Limbah Geotermal," Simposium
Nasional RAPI XI FT UMS, p. 46, 2012.

[24] Baerlocher, Christian; McCusker, Lynne B; Olson, David H;, Atlas Of Zeolite Framework Types, Sixth
revised edition ed. Netherlands: Elsevier B.V, 2007.

- 10 -