Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Osteomielitis adalah suatu infeksi/peradangan tulang. Pada orang dewasa, paling umum karena
pencemaran lansung di tempat selama trauma, seperti fraktur terbuka. Bakteri yang
menyebabkan infeksi/peradangan ditempat lain didalam tubuh dapat juga masuk ke aliran darah
dan tersimpan didalam tulang, mengawali lokasi infesi/peradangan sekunder disana. Ini lebih
umum pada anak-anak dan remaja. Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan
mempengaruhi kualitas hidup sesorang atau mengakibatkan orang yang menderitanya
kehilangan ekstremitas. ( DiGiulio, Mary)

Osteomielits merupakan infeksi tulang yang ditandai khas oleh kerusakan progresif akibat
inflamasi sesudah pembentukan tulang yang baru. Osteomielits dapat bersifat akut dan kronis.
Umumnya penyakit infeksi tulang ini terjadi karena gabungan trauma lokal-dan infeksi akut yang
timbul dibagian tubuh yang lain. Meskipun osteomielitis kerap kali terbatas disatu tempat,
namun infeksi ini dapat menyebar keseluruh tulang dengan menyerang sumsum tulang, korteks,
dan periosteum. Biasanya osteomielitis akut ditularkan melalui darah dan yang paling sering
mengenai anak-anak yang sedang tumbuh dengan cepat. Osteomielitis yang jarang dijumpai
ditandai oleh saluran sinus yang mengalirkan sekret dan lesi yang meyebar luas. ( Kowalak,
Jennifer. P )

Osteomielitis tulang kaki merupakan suatu kondisi inflamasi pada tulang dsn medula tulang yang
disebabkan oleh infeksi dari invasi kuman atau bakteri yang dapat bersifat piogenik atau non
piogenik. (Muttaqin, Arif)

B. Rumusan Masalah

Bagaimana tinjauan teoritis asuhan keperawatan yang dapat dilakukan pada klien dengan
Osteomielitis ?

C. Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

Mengetahui asuhan keperawatan secara teoritis yang dapat dilakukan pada klien dengan
Osteomielitis.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Osteomielitis adalah suatu infeksi/peradangan tulang. Pada orang dewasa, paling umum
karena pencemaran lansung di tempat selama trauma, seperti fraktur terbuka. Bakteri yang
menyebabkan infeksi/peradangan ditempat lain didalam tubuh dappat juga masuk ke aliran
darah dan tersimpan didalam tulang, mengawali lokasi infesi/peradangan sekunder disana.
Ini lebih umum pada anak-anak dan remaja. Sebagian dari pasien diberi antibiotik
sebelumnya untuk infeksi/peradangan awal. (DiGiulio, Mary)

Osteomielitis adalah infeksi Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan iyalah
antara lain Staphylococus Auteorus dan kadang-kadang Haemophylus Influenza dapat masuk
ke tulang melalui lubang terbuka. Fraktur atau luka pembedahan. Selain itu dapat pula
melalui aliran pembuluah darah akibat dari bagian tubuh lain yang terenfeksi misal infeksi
saluran nafas atas,tonsilitis,abses gigi, lesi kuli atau pielonefritis.( Nursing, Education)

B. Pengkajian

1. Identitas

biasanya berisi nama, diagnosa, No MR, tanggal masuk, penanggung jawab

2. Riwayat kesehatan

a. Keluhan utama

Berupa keluhan utama yang di alami pasien seperti nyeri, demam dan lain
sebagainya

b. Riwayat kesehatan dahulu

Klien biasanya perrnah mengalami penyakit yang hampir sama dengan sekarang,
atau penyakit lain yang berhubungan tulang, seperti trauma tulang, infeksi tulang,
fraktur terbuka, atau pembedahan tulang, dll.

c. Riwayat kesehan sekarang

Biasanya klien datang kerumah sakit dengan keluhan awitan gejala akut (misalnya :
nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari
sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang, sampai hambatan mobilitas
fisik.

d. Riwayat kesehatan keluarga


Kaji apakah keluarga klien memiliki penyakit keturunan, namun biasanya tidak ada
penyakit Osteomielitis yang diturunkan.

3. Pola kebutuhan dasar manusia

a. Nutrisi

1) Makanan

Sehat: biasanya 3x1 sehari(porsi makanan selalu di habiskan)

Sakit:biasanya 3x1 sehari(porsi ¼ di habiskan)

2) Minuman

Sehat:biasanya 1-2 liter sehari

Sakit:biasanya lebih kurang 1 liter sehari

b. Istirahat dan tidur

Sehat: biasanya 8-9 jam sehari

Sakit:biasanya 5-6 jam sehari (gelisah,nyeri dan saat malam sering terbangun)

c. Aktifitas sehari hari dan perawatan diri

Sehat : biasanya mandi 2 x sehari,kebersihan oral baik.

Sakit : biasanya 1 x sehari (kesulitan berjalan dan beraktifitas)

4. Pemeriksaan fisik

a. Rambut : Biasanya kulit kepala bersih, tidak berbau

b. Wajah : Biasanya tidak terdapat odema

c. Mata : Biasanya simetris kiri dan kanan

d. Hidung : Biasanya tidak ada lendir, tdak menggunakan alat bantu nafas

e. Telinga : Biasanya simetris kiri dan kanan

f. Mulut : biasanya tidak berbau, tidak ada caries

g. Lidah : Biasanya bersih

h. Leher: : Biasanya tidak ada terjadi peradangan pada tonsil , dan tidak terjadi kaku
kuduk
i. Thorak

I :Biasanya dada simetris kiri dan kanan

P: Biasanya fremitus simetris kiri dan kanan

P: Biasanya terdapat bunyi sonor

A: Biasanya tidak didapatkan suara tambahan

j. Jantung

I : Biasanya ictus cordis terlihat

P : Biasanya ictus terabatera

P : Biasanya terdapat bunyi pekak

A: Bisanya BJ1 dan BJ2 teratur, tidak ada murmur/tidak ada bunyi tambahan

k. Abdomen

I : Biasanya abdomen klien simetris kiri dan kanan, tidak ada ancietas

A : Biasanya bising usus normal

P : Biasanya tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas

P : Biasanya bunyi tymani

l. Genita urinaria : Biasanya tidak terdapat gangguan eliminasi dan tidak terpasang
khateter

m. Ekstremitas bawah : biasanya terjadi hambatan mobilisasi fisik, terjadi infeksi/merah


pada tulang kaki, terjadi pembengkakan, dan juga mengeluarkan pus beserta bau
yang khas, adanya keluhan nyeri tekan, dan terjadi gangguan pergerakan sendi kaki.

n. Neorologis : Biasanya kesadaran klien baik dan peka terhadap ransangan

5. Pemeriksaan penunjang

a. 1.Tes Laboratorium

a.Darah : Pemeriksaan darah memperlihatkan peningkatan leukosit dan peningkatan laju endapan darah.

b.Kultur darah dan kultur abses diperlukan untuk menentukan jenis antibiotika yang sesuai.

2.Pemeriksaan Radiologik
a.Sinar-X : Pada fase akut, pemeriksaan sinar-X awal hanya menunjukkan pembengkakan jaringan lunak.
Sedangkan pada fase lesonik terlihat pembengkakan lebih besar, kavitas iregular, peningkatan
periosteum, sequaestra (pembentukan tulang padat).

b.MRI (Magnetic Resonance Imaging) dapat membantu diagnosis definitif awal.

C. Diagnosa

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi saraf, kerusakan


neuromuskoloskeletal

2. Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan terbentuknya kloaka, drainasi


pus dari medula tulang

3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi
yang kurang, kebutuhan nutrisi meningkat sekunder akibat peningkatan metabolisme
umum

D. Intervensi

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi saraf, kerusakan


neuromuskoloskeletal

a. Tujuan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x 24 jam diharapkan nyeri berkurang


dengan kriteria hasil :

a. mampu mengontrol nyeri, ( tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik


non farmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

b. melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

c. mampu mengenali nyeri ( skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri )

d. menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

b. Rencana

lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,


frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi

b. observasi reaksi non verbal dari ketidak nyamanan

c. gunakan teknik komunikasi teraupetik untuk mengetahui pengalaman nyeri


pasien
d. kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

e. evaluasi pengalaman nyeri pada masa lampau

f. bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

g. kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.

h. Kurangi faktor presipitasi nyeri

i. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan


interpersonal)

j. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

k. Ajarkan tentang teknik non farmakologi.

l. Tingkatkan istirahat

m. Kolaborasi dengan dokter jika nyeri berlanjut

2. Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan terbentuknya kloaka, drainasi


pus dari medula tulang

a. Tujuan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama kerusakan integritas jaringan pasien


teratasi dengan kriteria hasil :

Tidak ada tanda tanda infeksi

Ketebalan dan tekstur jaringan normal

Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya


cidera berulang

Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

b. Rencana

Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

Jaga kulit agar tetap bersih dan kering

Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien ) setiap dua jam sekali.

Monitor kulit akan adanya kemerahan

Oleskan lotion atau minyak baby oil pada daerah yang tertekan.
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

Monitor status nutrisi pasien

Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka, karakteristik, warna cairan,


granulasi, jaringan nekrotik, tanda tanda infeksi lokal, formasi fraktus.

Cegah kontaminasi feces dan urine

Lakukan teknik perawatan luka dengan steril

3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi
yang kurang, kebutuhan nutrisi meningkat sekunder akibat peningkatan metabolisme
umum

a. Tujuan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan kebutuha nutrisi pasien
dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :

a. adanya peningkatan berat badan

b. berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

c. mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

d. tidak ada tanda tanda malnutrisi

e. menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan

b. Rencana

kaji adanya nyeri makanan

b. kolaborasi dengan ahli gizi

c. anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe

d. anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

e. diet tinggi serat untuk mencegah kontipasi

f. ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian

g. monitor jumlah nutrisi dan kandungan jumlah kalori

h. berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

nutrition monitoring
a. BB pasien dalam batas normal

b. Monitor adanya penurunan berat badan

c. Monitor tipe dan jumlah aktifitas

d. Monitor lingkungan selama makan

e. Monitor kulit kering

f. Monitor mual dan muntah

g. Monitor pertumbuhan dan perkembangan

h. Monitor pucat kemerahan dan kekeringan jaringan konjungtiva

E. Implementasi

Sasaran pasien meliputi peredaran nyeri, perubahan atau perbaikan integritas jaringan dan
kembalinya pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien

F. Evaluasi

Setelah dilakukan tindakan diharapkan :

1. Nyeri berkurang

2. Kerusakan integritas jaringan teratasi

3. Kembalinya nafsu makan atau pemenuhan nutrisi dapat terpenuhi


DAFTAR PUSTAKA

DiGiulio, Mary. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Ed. I. Yogyakarta: Rapha publishing

Kowalak, Jennifer. P . 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC

Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: EGC

Nursing, Education. 1995. Penerapan Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskoletal. Jakarta: Dapertemen Kesehatan

http://bulanrahmatika19.blogspot.com/2015/04/askep-teoritis-osteomielitis.html?m=1