Anda di halaman 1dari 2

1.

Dislokasi misalnya luksasi terjadi bila kapsul dan ligamen temporomandibula mengalami gangguan
sehingga memungkinkan processus condylaris untuk bergerak lebih kedepan dari eminentia articularis
dan ke superior pada saat membuka mulut. Kontriksi otot dan spasme yang terjadi selanjutnya akan
mengunci processus condylaris dalam posisi ini, sehingga mengakibatkan gerakan menutup. Dislokasi
dapat terjadi satu sisi atau dua sisi, dan kadang terjadi secara sepontan bila mulut dubuka lebar,
misalnya pada saat makan atau mengunyah. Dislokasi dapat juga ditimbulkan oleh trauma saat
penahanan mandibula waktu dilakukan anestesi umum atau akibat pukulan. Dislokasi dapat bersifat
kronis dan kambuh, dimana pasien akan mengalami serangkaian serangan yang menyebabkan
kelemahan abnormal kapsul pendukung dan ligamen(subluksasi kronis) (Pedersen, 1996).
2. Kelainan internal ini jika perlekatan meniscus pada kutub processus condylaris lateral mengendur atau
terputus, atau jika zona bilaminar mengalami kerusakan atau degenerasi akibat trauma atau penyakit
sendi ataupun keduanya, maka stabilitas sendi akan terganggu. Akibatnya akan terjadi pergeseran
discus kearah anteromedial akibat tidak adanya penahanan terhadap pergerakan musculus pterygoideus
laterralis superior. Berkurangnya pergeseran kearah anterior yang spontan dari discus ini akan
menimbulkan ”kliking” yang khas, yang akan terjadi bila jarak antara insisal meningkat. Sumber
”kliking”sendi ini berhubungan dengan pergeseran prosescus condylaris melewati pita posterior meniscus
yang tebal. Dengan memendeknya pergeseran anterior dari meniscus, terjadi ”kliking” berikutnya. Pada
tahap inilah discus akan bersifat fibrokartilagenus, yang mendorong terbentuknya konfirgurasi cembung-
cembung (Pedersen, 1996).
Closed lock merupakan akibat dari pergeseran discus ke anterior yang terus bertahan.
Bila pita posterior dari discus yang mengalami deformasi tertahan di anterior processus condylaris, akan
terbentuk barier mekanis untuk pergeseran processus condylaris yang normal. Jarak antar insisial jarang
melebihi 25 mm, tidak terjadi translasi, dan fenomena “clicking” hilang. Closed lock dapat terjadi
sebentar-sebentar dengan disela oleh “clicking” dan “locking”, atau bisa juga bersifat permanen. Pada
kondisi parsisten, jarak antar insisal secara bertahap akan meningkat akibat peregangan dari perlekatan
posterior discus, dan bukannya oleh karena pengurangan pergeseran yang terjadi. Keadaan ini dapat
berkembang ke arah perforasi discus yang disertai dengan osteoarthritis pada processus condylaris dan
eminentia articularis(Pedersen, 1996).
3. Closed lock akut Keadaan closed lock yang akut biasanya diakibatkan oleh trauma yang menyebabkan
processus condylaris terdorong ke posterior dan akibat terjadi cedera pada perlekatan posterior. Rasa
sakit atau tidak enak yang ditimbulkan dapat sangat parah, dan keadaan ini kadang disebut sebagai
discitis. Discitis ini lebih menggambarkan keradangan pada perlekatan discus daripada keadaan discus
yang avaskular/aneural (Pedersen, 1996).
4. Artritis. Keradanga sendi temporomandibula yang disebabkan oleh trauma, atritis tertentu, dan infeksi
disebut sebagai artritis. Trauma, baik akut atau pun kronis, menyebabkan suatu keadaan progresif yang
ditandai dengan pembekaan, rasa sakit yang timbul hilang dan keterbatasan luas pergerakan sendi yang
terlibat (Pedersen, 1996).
5. Spasme otot. Miospasme atau kekejangan otot, yaitu kontraksi tak sadar dari satu atau kelompok otot
yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya nyeri dan sering kali dapat menimbulkan gangguan fungsi.
Devisiasi mandibula saat membuka mulut dan berbagai macam gangguan/keterbatasan pergerakan
merupakan tanda obyektif dari miospasme. Bila musculus maseter dan temporalis mengalami
kekejangan satu sisi, maka pergerakan membuka dari mandibula akan tertahan, dan akan terjadi deviasi
mandibula ke arah sisi yang kejang. Pada saat membuka mulut mengunyah dan menutupkan gerakan
akan timbul rasa nyeri ekstraartikular. Bil;a musculus pterygoideus lateralis inferior mengalami spasme
akan terjadi maloklusi akut, yang ditunjukkan dengan tidak beroklusinya gigi-gigi posterior pada sisi yang
sama dengan musculus tersebut, dan terjadi kontak prematur gigi-gigi anterior pada sisi yang
berlawanan. Nyeri akibat spasme pterygoideus lateralis kadang terasa pada sendi itu sendiri. Bila terjadi
kekejangan pada musculus masseter, temporalis, dan musculus pterygoideus lateralis inferior terjadi
secara berurutan, baik unilateral ataupun bilateral, maka dapat timbul maloklusi akut (Pedersen, 1996).
6. Oklusi. Pemeriksan gigi secara menyeluruh dengan memperhatikan khususnya faktor oklusi, merupakan
awal yamg tepat. Gangguan oklusi secara umum bisa langsung diperiksa, yaitu misalnya gigitan silang,
gigitan dalam, gigi supraerupsi dan daerah tak bergigi yang tidak direstorasi. Abrasi ekstrem dan aus
karena pemakain seringakali merupakan tanda khas penderita bruxism, yang bisa langsung dikenali.
Protesa yang digunakan diperiksa stabilitas, fungsi dan abrasi/aus pada oklusal (Pedersen, 1996).
7. Sters. Walaupu sters dikatakan memiliki peranan etiologis yang penting dalam dialami penderita atau
reaksi penderita dalam menghadapinya. Beberapa penderita akan mengalami kualitas tidurnya menjadi
rendah dengan mulai timbulnya bruxism dengan keadaan sters (Pedersen, 1996).