Anda di halaman 1dari 3

6) Ankylosis spondylitis (Marie-Strumpell Disease)

Merupakan penyakit inflammatory kronis melibatkan artikulasi spine dan jaringan lunak yang melekat
 Gejala klinis :
- Postur kepala tidak sempurna karena lesi vertebral
- Keluhan yang sering ialah sakit, kaku, keterbatasan gerak, kadang terdapat ankylosis
- Extraarticular manifestasion seperti iritis, uveitis, gejala penyakit jantung
 Radiograf :
- Erosi kondil dan fossa, osteophyte formation, subchondral sclerosis. Pada penyakit lebih lanjut dapat
terjadi penyempitan ruang sendi
 Perawatan :
- Mengurangi beban dengan splint acrylic
- Obat-obatan dengan efisiensi yang telah terbukti seperti sulphasalazine
- Intervensi bedah terbatas pada pasien dengan crippling yang parah
1) Rheumatoid Arthritis (RA)
Rheumatoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun yang lebih dominan menyerang sendi
diarthrodial. RA dapat menyerang berbagai usia. Juvenile RA (Still’s Disease) memiliki keparahan yag
beragam.

 Etiologi :
- Kerentanan genetik
- Respon autoimmune
- Naiknya antigem HLA-DR4, berkorelasi dengan naiknya level faktor rheumatoid
 Patofisiologi :
- Proliferasi membran synovial dan pertumbuhan yang berlebihan menyebabkan erosi pada articular
cartilage dan tulang subkondral. Setelah cidera mikrovaskular, sel synovial berproliferasi, bengkak, dan
terinfiltrasi oleh sel mononuklear dan T-limfosit. Produksi mediator inflamasi yang distimulasi oleh sel RA
menyebabkan produksi proteinase dan prostaglandin. Kolagenase bertanggung jawab atas erosi typical
yang terlihat pada permukaan sendi.
 Gejala klinis :
- Sakit yang intermitten, bengkak, keterbatasa gerak yang progresif
- Sendi tangan dan kaki yang pertama kali terkena
- Preauricular joint pain saat mengunyah dan bergerak
- Menurunnya cakupan gerak dan kekakuan
- Gaya kunyah menurun, otot menjadi lunak
- Clicking, crepitus, lunaknya sendi saat dipalpasi
- Keterbatasa gerak terjadi saat tulang hancur dan ruang sendi terisi oleh jaringan scar sehingga
menyebabkan fibrous ankylosis
- Oklusi Class II progresif berkembang, menyebabkan penampakan bird-face jika penyakit terjadi pada
anak-anak
 Radiograf :
- Jika level kerusakan terjadi pada jaringan lunak maka tidak terlihat pada radiograf. Kerusakan akan
terlihat saat proses telah berkelanjutan. RA yang lebih lanjut akan memperlihatkan pemendekkan ramus
posterior, kontak oklusal posterior yang prematur, dan antegonial notching
 Perawatan :
- Metode konservatif berupa terapi obat-obatan :
 Obat-obatan antiinflamasi (salisilat, NSAID, kortikosteroid), soft diet, menghindari pergerakan rahang yang
berlebihan
 Jika NSAID kurang efektif maka penyakit dimodifikasi dengan obat-obatan anti rematik seperti
hydroxychloroquine, gold, penicillamine, atau agen cytotoxic seperti methotrexate atau
cyclophosphamide
 Drug of choice pada juvenile RA adalah methotrexate
 Intra-articular steroid merupakan kontraindikasi pada fase akut
 Bedah disiapkan untuk intractable pain dan koreksi komplikasi mencakup ankylosis dan micrognathia
- Metode bedah :
 High condylectomy merupakan pilihan prosedur untuk intractable pain
 Arthroplasty untuk rekonstruksi total sendi menggunakan alloplast
 Synovectomy
2) Psoriatic Arthritis
Menyerupai RA tetapi berasosiasi dengan psoriasis, suatu penyakit kulit. Eksaserbasi kulit dan remission
of joint disturbance dengan lesi kulit membedakannya dengan RA. Tes serologis untuk rheumatoid fever
ialah negatif. Insiden tinggi pada wanita.
 Etiologi :
- Komponen genetik
- Kehadiran antigen HLA-B27
 Gejala klinis :
- Keterlibatan TMJ dideskripsikan sebagai episodic, tiba-tiba, dan biasanya unilateral
- Keterbatasan gerak
- Kaku saat pagi, krepitus, kehilangan interincisal opening
- Pada penyakit lanjut dapat terjadi ankylosis
 Diagnosis :
- Diagnosis ditegakkan saat ada arthrosis pada pasien dengan psoriatic atau lesi kulit
- Assymetric joint involvement
- Test negatif untuk rheumatoid fever
- Absence of nodules rheumatoid
- Hyperuricaemia pada 20% kasus
 Radiograf :
- Keterlibatan TMJ pada early psoriatic arthritis tampak di radiograf sebagai erosi, flattening kepala kondil,
osteoporosis, dan joint space narrowing
 Laboratory findings :
- Hypoproliferatif anemia
- Elevated ESR
 Treatment :
- Treatment sistemis
- Mengurangi beban pada sendi
- Pada kasus yag parah, immunosupressive agent seperti methotrexate dapat digunakan
 Fraktur kondil :
- Fraktur dislokasi kepala kondil dapat menyebabkan gangguan mekanis dan gerakan rahang yang
terbatas

KELAINAN TMJ FUNGSIONAL


1) Myofacial Pain Dysfunction Syndrome (MPDS)
Disebut juga facial arthromyalgia, MPDS, TMJ dyarthrosis, mandibular pain dysfunction syndrome, dan
TMJ arthrosis.
 Perubahan patologis :
- TMJ :
Pada lesi awal, ada kehilangan zona permukaan yang lembut dan perkembangan permukaan yang tidak
diinginkan. Pada lesi lanjut, ada kehilangan total lapisan amorphous dan massa kolagen bagian
superficial, haya terdiri dari fibril berdiameter kecil. Disorganisasi articular surface terjadi pada kasus yang
lebih parah dan kelainan yang lebih lanjut
- Otot :
Tidak terlalu terdeteksi, increased blood flow, naiknya tekanan intramuscular sehingga menyebabkan
udem, sel mast yang berdegranulasi (terlihat pada pemeriksaan histologis otot yang sakit), tidak ada bukti
naiknya level creatine kinase.
 Symtoms :
- Pain : terlokalisir pada sendi atau menyebar ke kepala, leher, atau bahu. Sakit tumpul merupakan hal
yang sering dialami.
- Limitasi gerak mandibula : Pembukaan mulut yang terbatas, bisa konstan atau intermitten, terjadi pada
awal/akhir hari
- Muscle hyperactivity : Insiden kontak antara gigi atas da bawah selama tidur lebih besar pada pasien
yang tidak mengetahui masalah bruxismnya
- Aktivitas otot yang abnormal : Unilateral chewing setelah dental ailment, seperti perikoronitis atau karena
dentisi yang kasar.
- Clicking : umum dan biasanya bilateral
- Locking
- Emotional factors : karena sekresi katekolamin
 Sign :
- Joint tenderness
- Muscle tenderness terutama pada masseter, anterior temporalis, lateral pterygoid
- Abnormalities of mandibular movement
 Radiography :
- Ketika tidak ada penyakit degeneratif, proyeksi menggunakan standard lateral transcranial views untuk
melihat ada tidaknya fitur patologis
- Jika ada penyakit degeneratif maka proyeksi menggunakan transpharyngeal
- Tomography untuk area yang tetap seperti glenoid fossa
- Fungsi dari sendi dapat dinilai dengan arthrography (injeksi cairan radiopak) atau dengan mempelajari
gambar selama pergerakan
 Treatment :
(1) Menggunakan metode konservatif seperti :
- Placebo : menggunakan splint dan mock adjustment occlusion
- Reassurance
- Koreksi oklusal
- Soft diet
- Splints
- Drugs
- Intermaxillary fixation
- Thermal agents
- Cold
- Iontophoresis
- TENS (Transcutaneous Electric Nerves Stimulation)
- Home exercise programme for hypomobility
- Pressure-point techniques
- Muscle Injection : menggunakan anesthesia injection
- Intraarticular injection : menggunaka steroid injection
(2) Menggunakan metode bedah seperti :
- Arthrocentesis dan lavage
- Arthroscopy
- Disc repositioning
- Disc removal
- Disc removal dan autologous graft disc deplacement
- Disc removal dan alloplastic disc replacement
- Condylotomy
- Condylectomy