Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Gorontalo, 25 Februari 2018

Penyusun
Kelompok 4

1|Page
DAFTAR ISI
Kata pengantar........................................................................................................ 1
Daftar isi............................................................................................................ 2

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang....................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 3
C. Tujuan.................................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Keracunan........................................................................................... 4
B. Cara Seseorang Mengalami Keracunan.............................................................. 4
C. Efek Keracunan Pada Manusia………………………………………………. 5
D. Tata cara mencegah atau menghentikan penyerapan racun………………… 5
E. Asuhan Keperawatan Pasien Keracunan……………………………………. 15

BAB III PENUTUP


A.Kesimpulan……………………………………………………………………… 17
B.Saran…………………………………………………………………………….. 17

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………................ 18

2|Page
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Pertolongan terhadap keracunan yang ditimbulkan oleh zat apapun haruslah
dipersiapkan dengan sebaik-baikanya. Pertolongan yang keliru atau secara berlebihan
justru mendatangkan bahaya baru. Identifikasi racun merupakan usaha untuk mengetahui
bahan, zat, atau obat yang diduga sebagai penyebab terjadi keracunan, sehingga tindakan
penganggulangannya dapat dilakukan dengan tepat, cepat dan akurat. Dalam menghadapi
peristiwa keracunan, kita berhadapan dengan keadaan darurat yang dapat terjadi dimana
dan kapan saja serta memerlukan kecepatan untuk bertindak dengan segera dan juga
mengamati efek dan gejala keracunan yang timbul.
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara
yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan
atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang
dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada
beberapa tumbuhan dan hewan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari keracunan
2. Bagaimana cara seseorang mengalami keracunan
3. Apa efek keracunan pada manusia
4. Bagaimana Tata cara mencegah atau menghentikan penyerapan racun
5. Bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien keracunan
C. Tujuan
1. Dapat menjelaskan pengertian dari keracunan
2. Dapat menjelaskan cara seseorang mengalami keracunan
3. Dapat menjelaskan efek keracunan pada manusia
4. Dapat menjelaskan tata cara mencegah atau menghentikan penyerapan racun
5. Dapat menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien keracunan

3|Page
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorbsi, menempel pada kulit,
atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil menyebabkan cedera dari
tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi
toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya yang
mengganggu kesehatan bahkan dapat menimbulkan kematian. Sekitar 7% dari semua
pengunjung departemen kedaruratan datang karena masalah toksik.
Keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan oleh obat,
serum, alkohol, bahan serta senyawa kimia toksik, dan lain-lain. Keracunan dapat
diakibatkan oleh kecelakaan atau tindakan tidak disengaja, tindakan yang disengaja
seperti usaha bunuh diri atau dengan maksud tertentu yang merupakan tindakan kriminal.
Keracunan yang tidak disengaja dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, baik
lingkungan rumah tangga maupun lingkungan kerja.
Sifat racun terbagi atas :
 Korosif : asam/basa kuat (misalnya HCl, 2NaOH, bensin minyak
tanah)
 Non Korosif : misalnya makanan , obat-obatan
Bentuk zat racun :
 Cair : alkohol, bensin, minyak tanah
 Gas : CO
 Padat : obat , makanan

B. Cara Seseorang Mengalami Keracunan


Cara masuk ke tubuh dari jenis racun menentukan gejala yang timbul dan cara
penanggulangannya :
 Tertelan melalui mulut : makanan , minuman
 Terhisap melalui hidung : gas CO2
 Terserap melalui kulit/mata : zat kimia

4|Page
 Suntikan : gigitan binatang/ alat suntik
C. Efek Keracunan Pada Manusia
Efek dan gejala keracunan pada manusia dapat timbul setempat (lokal) atau
sistemik setelah racun diabsorpsi dan masuk ke dalam sistem peredaran darah atau
keduanya.
a. Lokal
Racun yang bersifat korosif akan merusak atau mengakibatkan luka pada
selaput lendir atau jaringan yang terkena. Beberapa racun lain secara lokal
mempunyai efek pada sistem saraf pusat dan organ tubuh lain, seperti jantung,
hati, paru, dan ginjal tanpa sifat korosif dan iritan.
b. Sistemik
Setelah memberikan efek secara lkal, biasanya racun diabsorpsi dan
masuk ke dalam sistem peredaran darah dan akan mempengaruhi organ-organ
tubuh yang penting. Faktor-faktor yang mempengaruhi efek dan gejala keracunan
antara lain; bentuk dan cara masuk, usia, makanan, kebiasaan, kondisi kesehatan,
idiosinkrasi, dan jumlah racun. Efek dan gejala yang ditimbulkan akibat
keracunan terjadi antara lain pada sistem pernapasan, pencernaan, kardiovaskuler,
urogenital, darah dan hemopoitika, serta sistem saraf pusat (SSP).
D. Tata cara mencegah atau menghentikan penyerapan racun
1. Racun Yang Masuk ke dalam Sistem Saluran Cerna (Racun melalui mulut
baik ditelan/tertelan)
Keracunan terjadi ketika mengonsumsi makanan yang terkontaminasi
organisme menular, seperti bakteri, virus, atau parasit. Keracunan makanan akan
muncul beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, gejala
yang sering dirasakan adalah nyeri perut yang sangat parah, kehilangan nafsu
makan, diare, merasa mual dan muntah, demam, dan tubuh terasa dalam kondisi
kelelahan yang luar biasa. Racun yang masuk melalui mulut dapat dicegah atau
dihentikan penyerapan racunnya yaitu dengan :
a. Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu, telor mentah atau
norit)
b. Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara:

5|Page
1) Dimuntahkan
 Bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan reflek muntah di
tenggorokan), atau pemberian air garam atau sirup ipekak.
 Kontraindikasi: cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat
korosif (asam/basa kuat, minyak tanah, bensin), kesadaran menurun
dan penderita kejang.
2) Bilas lambung :
Bilas lambung adalah proses pembersihan dan pengeluaran isi dari
dalam lambung. Bilas lambung sudah digunakan lebih dari 200 tahun
untuk mengeliminasi racun yang masuk kedalam lambung. Pada
umumnya digunakan untuk orang yang terkena racun maupun over dosis
obat-obatan. Bilas lambung juga digunakan biasanya sebelum proses
pembedahan untuk membersihkan saluran cerna.
Bilas lambung digunakan untuk menghilangkan racun dari seseorang
yang bersifat kecelakaan atau dengan sengaja menelan racun.
- Indikasi :
 Depresi status mental
 Tidak ada reflek muntah
 Gagal dengan terapi emesis
 Pasien dalam keadaan sadar
Setiap orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja menelan racun
atau over dosis obat-obatan adalah indikasi utama lavase lambung.
Bilas lambung digunakan jika pasien tidak mampu melakukan
reflek muntah. Bilaslambung dapat pula digunakan untuk
mengambil sample cairan dan bahan-bahan yang ada dalam
lambung untuk menentukan diagnosa medis. Prosedur ini efektif
dilaksanakan antara 1 sampai 4 jam setelah menelan racun.
- Kontraindikasi :
 Dicurigai adanya ruptur esofagus
 Resiko cedera jalan nafa
 Pendarahan gastrointestital

6|Page
 Kejang yang tidak terkontrol
 Keracunan bahan korosif.
 Keracunan minyak tanah.
 Keracunan bahan konvulsan.
 Adanya gangguan elektrolit.
- Peralatan :
 Selang ewalt dengan lubang besar (32F) atau selang salem
sump ukuran 18F
 Botol besar (kantong) untuk aliran masuk 2-3 liter
 Selang dengan lubang besar untuk aliran masuk dan aliran
keluar
 Konektor Y
 Botol untuk aliran keluar
 Semprit toomey 50ml
 Pelumas
 Hemostat (untuk mengklem selang)
 Gown
 Sarung tangan
 Bantalan kasa ukuran 4x4 inci
 Pelindung wajah
- Teknik:
 Jelaskan perihal tindakan tersebut kepada pasien dan minta
ijin bila keadaan memungkinkan
 Cuci tangan
 Pakailah sarung tangan dan gown
 Lakukan pelumasan selang ewald
 Pastikan bahwa klien dalam keadaan sadar dengan refleks
gag yang masih lengka. Jika pasien tidak sadar, maka
trakhea harus diintubasi dengan selang endotrakhea yang
bermanset, sebelum memulai bilas lambung

7|Page
 Pasien ditempatkan dalam posisi tiduran di atas brancard
dengan sisi kiri pasien berada di atas (miring ke kanan) dan
kedua kaki lebih tinggi dari pada kepala (sehingga mulut
lebih rendah dari pada laring) untuk memperkecil
kemungkinan aspirasi)
 Kepala pasien di fleksikan
 Anda berdiri di sisi anterior pasien dan menghadap ke
pasien
 Masukkan selang ewald melalui mulut dan majukan selang
ke dalam perut dengan menggunakan tekanan ringan.
Tindakan tersebut dapat dipermudah dengan memegang
lidah memakai bantalan kasa ukuran 4 x 4 inci dan
kemudian menariknya keluar
 Penempatan selang bisa dipastikan benar yaitu dengan
mengalirnya isi gaster dan atau lakukan auskultasi di atas
lambung untuk mengetahui udara yang di injeksikan
 Kirimkan sampel isi gaster ke laboratorium toksikologi
pada kasus-kasus penelanan racun atau toksin
 Alirkan semua isi gaster
 Buatlah suatu rangkaian sistem lavase

8|Page
 Isilah botol untuk aliran masuk dengan larutan garam
fisiologis yang dingin atau larutan garam fisiologis reguler
sedangkan selang aliran masuk di klem dulu
 Lakukan klem selang aliran keluar, lalu bukalah selang
aliran masuk dan pada permulaan lakukan infus dengan
larutan garam fisiologis 250ml. Volume dari tiap-tiap infus
dapat dinaikkan sampai 500ml asalkan dapat diterima oleh
pasien
 Lakukan klem selang aliran masuk dan bukalah selang
aliran keluar dengan membiarkan cairan lavase mengalir
akibat gaya gravitasi menuju ke sebuah tempat
penampungan di atas lantai atau bangku kaki yang rendah.
Apabila sebagian besar dari cairan lavase telah mengalir
ulangilah proses tersebut
 Lakukan infus dan alirkan larutan sampai cairan yang
mengalir kembali menjadi bersih
- Komplikasi
 Perforasi
 Aspirasi pulmonal
 Ketidakseimbangan elektrolit
 Hipotermia pada anak-anak bila menggunakan lavage yang
dingin
 Laringospame
 Hipoksia
 Bradikardi
 Epistaksis
- Catatan penting
Perkirakan penempatan selang sebelum memulai lavase karena selang
dapat membelit di dalam orofaring atau esofagus atau juga bisa
masuk ke paru-paru

9|Page
- Home care
Pasien tidak diperbolehkan kembali ke rumah sebelum melewati
masa kritisnya. Setelah prosedur bilas lambung pasien biasanya
mengalami sore throat selama 1-2 hari. Setelah prosedur ini, keluarga
pasien harus menghindarkan pasien dari hal-hal sebagai berikut:
Bahan-bahan kimia, bahan pembersih, obat-obatan, rokok, dan
bahan-bahan beracun
2. Racun melalui melalui mata
Tindakan Irigasi Mata
a. Pengertian
Irigasi mata adalah suatu cara untuk membersihkan dan atau
mengeluarkan benda asing dari mata. Irigasi mata diberikan untuk mengaluarkan
sekret atau kotoran dan benda asing dan zat kimia dari mata. Larutan garam
fisiologis atau RL biasa dipergunakan karena merupakan larutan isotonik yang
tidak merubah komposisi elektrolit yang diperlukan mata. Bila hanya
memerlukan sedikit cairan, kapas steril dapat dipergunakan untuk meneteskan
cairan kedalam mata.
b. Tujuan :
Untuk membersihkan dan atau mengeluarkan benda asing dari dalam mata
c. Indikasi :
- Cedera kimiawi pada mata
- Benda asing dalam mata
- Inflamasi mata
d. Kontraindikasi :
Luka karena tusukan pada mata
e. Kemungkinan komplikasi :
- Kemungkinan terjadi cedera perforasi pada mata bila irigasi dilakukan
dengan tidak hati-hati dan lembut
- Kontaminasi silag pada mata yang sehat bila terdapat infeksi
- Aberasi kornea atau konjungtiva

10 | P a g e
f. Peralatan :
- Anestesi topikal
- Cairan irigasi steril dengan kanula
- Plester katun
- Retraktor desmares (bila ada)
- Kasa
- Basin
- Handuk atau laken untuk menutupi pakaian pasien
g. Prosedur :
1) Kumpulkan peralatan
2) Identifikasi pasien
3) Jelaskan prosedur tindakan pada pasien
4) Cuci tangan
5) Tutupi pasien dengan handuk atau laken
6) Masukan anestesi topikal, gunakan retraktor desmares untuk membuka
kelopak mata. Jika tidak ada, kelopak mata harus ditahan agar tetap
terbuka, gunakan kasa
7) Untuk menahan kelopak mata agar tetap terbuka, berikan tekanan pada
tulang prominem pada alis dan pipi, tidak pada bola mata.
8) Arahkan jatuhya aliran irigasi langsung pada di atas bagian yang bulat serta
bagian atas dan bawah fornikes, dari dalam kantus ke arah luar kantus
9) Biasanya digunakan 1lt cairan dengan cepat untuk cedera mata karena asam
10) Biasanya digunakan 2lt cairan untuk cedera karena alkali pada mata
11) Keringkan bagian luar dari mata dan daerah sekitarnya setelah melakukan
irigasi
h. Tindak lanjut :
- Periksa efektifitas irigasi, ukur pH fornikus konjungtiva dengan indikator
pH
- pH normal mata adalah 7,4 dan bila normal lanjutkan irigasi
- Bila pH hasil pengukuran menunjukkan angka yang normal, periksa
kembali setelah 20 menit untuk memastikan bahwa hal ini normal

11 | P a g e
- Kaji rasa nyaman pasien
3. Racun melalui saluran nafas
a. Racun melalui inhalasi
1) Pindahkan penderita ke tempat aman dengan udara yang segar.
2) Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang
terhisap, jangan menggunakan metode mouth to mouth.
b. Keracunan oksigen
- Indikasi :
Untuk orang yang menghirup gas beracun
- Tanda dan gejala :
Pada awalnya korban menampilkan gejala influenza, lethargi (lemah, mual
dan merasa tidak enak badan, seringkali juga diawali dengan penurunan
kesadaran yang cepat
- Penanganan
Tindakan yang pertama dari kasus keracunan gas adalah menjauhkan
korban dari sumber gas, memberikan napas buatan jika diperlukan,
penolongan juga perlu mengobservasi warna kulit korban, nadi dan laju
pernapasan sesame perjalanan bila ada tabung oksigen harus segera
dilakukan.
- Faktor penyebab keracunan oksigen :
- Lamanya paparan terhadap oksigen
Seseorang yang biasanya terkena paparan terhadap oksigen terlalu
lama akan mengkonsumsi oksigen secara berlebih. Sehingga hal
ini menyebabkan seseorang yang terkena paparan terhadap oksigen
terlalu lama mengalami keracunan oksigen karena mengkonsumsi
oksigen secara berlebihan.
- Daya serap oksigen pada setiap orang
Setiap orang memiliki daya serap terhadap oksigen berbeda-beda.
Bagi mereka yang memiliki daya serap terhadap oksigen terlalu
tinggi dapat menyebabkan seseorang mengalami keracunan
oksigen.

12 | P a g e
- Tekanan Oksigen yang tidak sesuai
Memberikan tekanan Oksigen yang tidak sesuai juga dapat
menjadi salah satu faktor penyebab seseorang mengalami
keracunan oksigen. Untuk itu jangan sekali-sekali memberikan
tekanan oksigen kepada seseorang tanpa pengawasan dari dokter
4. Racun melalui kulit
a. Indikasi :
Untuk pasien yang terkena agen korosif yang dapat melukai kulit
b. Penanganan :
- Pakaian yang terkena racun dilepas
- Cuci / bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun atau zat penetralisir
(asam cuka / bicnat encer).
- Hati-hati: penolong jangan sampai terkontaminasi.
5. Racun melalui gigitan ular berbisa
Ada tiga famili ular yang berbisa, yaitu Elapidae, Hydrophidae, dan
Viperidae. Bisa ular dapat menyebabkan perubahan lokal, seperti edema dan
perdarahan. Banyak bisa yang menimbulkan perubahan lokal, tetapi tetap di lokasi
pada anggota badan yang tergigit. Beberapa bisa Elapidae tidak terdapat lagi
dilokasi gigitan dalam waktu 8 jam. Untuk sementara akan terakumulasi dengan
kadar yang tinggi dalam kelenjar getah bening, jika tidak dilakukan tindakan
pertolongan pertama, dalam waktu 2 jam setelah gigitan akan terdeteksi dalam
plasma atau urin dengan kadar tinggi. Balutan yang kuat dapat dilakukan beberapa
jam tanpa membahayakan peredaran darah keseluruhan anggota tubuh. Balutan yang
kuat membatasi perubahan lokal di daerah gigitan dan juga untuk meningkatkan
reaksi terhadap antibisa.
Bisa ular mengandung toksin dan enzim yang berasal dari air liur, sifat bisa
tersebut adalah:
- Neurotoksin yang berakibat pada saraf perifer atau sentral.
- Haemotoksin, berakibat haemolitik dengan zat antara fosfolipase dan
enzim lainnya yang mengaktifkan protombin.

13 | P a g e
- Myotoksin, menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat
kerusakan sel-sel otot.
- Kardiotoksin, merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan
kerusakan otot jantung.
- Cytotoksin, dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktif lainnya
yang berakibat terganggunya kardiovaskuler.
- Cytolitik, zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrosis di
jaringan tempat patukan.
- Enzim-enzim, termasuk hyalurondase sebagai zat aktif pada
penyebaran bisa.
a. Tindakan penanggulangan
Dalam mengatasi gigitan ular berbisa, pemberian serum
antibisa yang cukup dan pengaturan ventilasi yang memadai
merupakan tindakan yang utama. Sedangkan tindakan yang bersifat
supportif merupakan tindakan sekunder dan dilakukan sesuai dengan
kondisi penderita.
1) Premedikasi
Sebelum diberi serum antibisaa, sebaiknya dilakukan premedikasi
dengan adrenalin 0,25 mg (untuk dosis anak dikurangi) secara SC
atau obat golongan antihistaminika dengan efek sedatif minimal
secara parenteral.
2) Pemberian serum antibisa
Pada waktu pemberian serum antibisa harus tersedia oksigen, arus
udara mencukupi, dan alat penghisap yang siap pakai. Serum
antibisa diencerkan dengan larutan hartmann (larutan ringer laktat)
dengan perbandingan 1:10 dan diberikan perlahan-lahan, terutama
pda permulaan. Pemberian antibisaharus segera diberhentikan jika
timbul gejala yang tidak dikehendaki dan ulangi pemberian obat
seperti pada premedikasi, sebelum pemberian infus antibisa
diteruskan.
Beberapa tindakan lain yang perlu dilakukan antara lain:

14 | P a g e
1) Luka akibat gigitan, potesial mudah terkena infeksi bakteri.
Selain diperlukan obat golongan antibiotika, juga perlu
dilakukan tindakan pencegahan tetanus dengan
memperhatikan tingkat imunisasinya.
2) Pemberian cairan infus
3) Jika terjadi nekrosis jaringan, perlu dilakukan pembedahan
4) Perdarahan, termasuk gangguan koagulasi, koagulasi
intravaskuler dan afibrinogenemia perlu diatasi, tetapi tidak
dilakukan sebelum netralisasi bisa mencukupi.
5) Pemberian morfin merupakan kontraindikasi. Diazepam
dengan dosis sedang akan memberikan hasil yang
memuaskan.
6) Jika antibisa tidak dapat mengatasi syok, diperlukan
plasma volume ekspander atau mungkin obat golongan
vasopresor.
7) Pada penderita gagal ginjal, perlu dilakukan hemodialisa
atau dialisa peritoneal.
E. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Keracunan
1. Pengkajian
Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan
sirkulasi yang mengancam jiwa, adanya gangguan asam basa, keadaan status
jantung, status kesadaran.
Riwayat kesadaran: riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama
diketahui setelah keracunan, ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan
sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya.
2. Intervensi
Pertolongan pertama yang dilakukan meliputi tindakan umum yang bertujuan untuk
keselamatan hidup, mencegah penyerapan dan penawar racun ( antidotum ) yang
meliputi sirkulasi:
a. Airway, breathing, circulating, eliminasi untuk menghambat absorbsi
melalui pencernaan dengan cara kumbah lambung, emesis, atau katarsis.

15 | P a g e
b. Berikan anti dotum sesuai anjuran dokter minimal 2 x 24 jam.
Perawatan suportif meliputi:
1) Mempertahankan agar pasien tidak sampai demam atau
mengigil,monitor perubahan-perubahan fisik seperti perubahan nadi
yang cepat,distress pernafasan, sianosis, diaphoresis, dan tanda-
tanda lain kolaps pembuluh darah dan kemungkinan fatal atau
kematian.
2) Monitor vital sign setiap 15 menit untuk beberapa jam dan laporkan
perubahan segera kepada dokter.
3) Catat tanda-tanda seperti muntah, mual, dan nyeri abdomen serta
monitor semua muntah akan adanya darah. Observasi feses dan
urine serta pertahankan cairan intravenous sesuai anjuran dokter.
4) Jika pernafasan depresi, berikan oksigen dan lakukan suction.
Ventilator mungkin bisa diperlukan.
5) Jika keracunan sebagai usaha untuk membunuh diri maka lakukan
safety precautions. Konsultasi psikiatri atau perawat psikiatri klinis.
Pertimbangkan juga masalah kelainan kepribadian, reaksi depresi,
psikosis neurosis, mental retardasi dan lain-lain.

16 | P a g e
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorbsi, menempel pada kulit,
atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil menyebabkan cedera dari
tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi
toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya yang
mengganggu kesehatan bahkan dapat menimbulkan kematian. Tujuan tindakan
kedaruratan adalah menghilangkan atau meng-inaktifkan racun sebelum diabsorbsi, untuk
memberikan perawatan pendukung, untuk memelihara sistem organ vital, menggunakan
antidotum spesifik untuk menetralkan racun, dan memberikan tindakan untuk
mempercepat eliminasi racun terabsorbsi.
Gejala dan tanda keracunan yang khas biasanya sesuai dengan jalur masuk racun
ke dalam tubuh. Bila masuk melalui saluran pencernaan, maka gangguan utama akan
terjadi pada saluran pencernaan. Bila masuk melalui jalan nafas maka yang terganggu
adalah pernafasannya dan bila melalui kulit akan terjadi reaksi setempat lebih dahulu.
Zat yang dapat menyebabkan keracunan dapat berbentuk :
 Cair : alkohol, bensin, minyak tanah
 Gas : CO
 Padat : obat , makanan
B. Saran
Untuk perbaikan penyusunan makalah berikutnya, kami selaku penyusun mengharapkan
kritik dan masukan yang membangun dari para pembaca.

17 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Krisanty, dkk. (2011). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans Info Media.

Sartono. (2001). Racun dan Keracunan. Jakarta: Widya Medika.

Agus Purwadianto, Budi Sampurna. (2000).Kedaruratan Medik Edisi Revisi. Jakarta : Binarupa
Aksara

Adi D. Tilong. (2014). Pertolongan Pertama Pada Beragam Penyakit. Jogjakarta : FlashBooks

18 | P a g e