Anda di halaman 1dari 93

NEUROANATOMI

Pembimbing: dr. Budi Riyanto,


Sp.S
SISTEM SENSORIK
• Perasaan : suatu intrepetasi dari apa yang
dirasakan dari apa yang diraskan aibat
suatu perangsangan  subjektif
• Jenis :
• Protopatik / eksteropatik: nyeri, suhu, raba
• Propioseptif: gerak, getar, sikap.
• Visero/ interoseptif
Komponen Perifer Somatosensorik

• Organ organ reseptor


– organ reseptor transduksiimpuls
elektrik system saraf.
– Reseptor di kulit  Eksteroreseptor
• Ujung saraf Bebas
• Protopatik (suhu, nyeri)
• Ujung organ berkapsul
– Epikritik (raba halus, diskriminasi, getar, tekanan)
– Organ Reseptor khusus
• Ujung saraf peritrikial
• Korpuskel taktil meissner
• Korpuskel Vater-Pacini berlapis
• Ujung Bulbus Krause
• Korpuskel Ruffini
– Ujung saraf bebas
• Diskus Taktil Merkel
– Reseptor di bagian tubuh dalam
• Spindel otot
• Organ tendon golgi
• Reseptor jenis lain ; Korpuskel Golgi Mazzoni
Persarafan somatosensorik oleh
radiks dan saraf perifer
Jaras sensorik

First order Second order Third order


neuron neuron neuron

• Reseptor - • Batang otak / • Thalamus –


batang otak / Medula korteks
medula spinalis - somatosenso
spinalis thalamus ris
Somatosensory cortex : somatotopy
Traktus asendens utama

Traktus Traktus
Kolumna
spinothalami spinoserebel
posterior
kus ar
• Fasciculus • Lateral • Posterior
gracilis • Anterior • Anterior
• Fasciculus
cuneatus
Traktus spinothalamikus
Kolumna posterior
Spinocerebellar tracts
Jaras aferen lainnya
• Traktus Spinoreticular
• Traktus Spinotectal
• Traktus spino-olivary
• Traktus Spinovestibular
Persarafan somatosensorik perifer
• Pola pokok vag perifer sususan somatosensoris
mrupakan ola pokok bag perifer susunan
somatosensorik motork
• Saraf spinal : berkas yang merupakan gabungan
serabut aferen dan eferen
• Jalinan yang dibentuk oleh saraf spinal disebut
plexus
– Di tk servikotorakal : pl brakialis (lengan)
– Di tk lumbosakralis : pl lumbosakralis (tungkai)
Kelainan system sensoris
• Gejala sensoris 5 golongan
- Anestesia : hilang perasaan bila dirangsnag
- Hiperesteesia : peraaan terasa berlebihan
- Paretesia : timbuh spontan tnapa perangsnsangn
- Nyeri
- Gerakan canggung dan simpang siur

Gangguan sensoris tergantung pada keudukan lesi


: di syaraf perifer, di radiks posterior, atau lintasan
sentralnya.
Defisit Sensorik
• Lesi Radikular
• Lesi saraf tepi.
– Saraf perifer tumpang tidih << -> defisit
lebih mudah terlihat
• Lintasan sentral.
Posterior columns lesions

Loss of the
sense of
position and
movement Astereognosis Agraphesthesia
(kinesthetic
sense)

Loss of two-
Loss of Positive
point
vibration sense Romberg sign
discrimination.
Refleks Monosinaptik
• Refleks yang melibatkan 2 neuron
(sensorik aferen, motorik eferen) dan
1 sinaps
• Regulasi panjang otot; proprioseptif
• Lengkung saraf : otot rangka ->
medula spinalis -> kembali lagi
• Stimulasi otot spindel menyebabkan
kontraksi otot efektor atau agonis
Refleks Fleksor Polisinaptik
• Refleks yang melibatkan akson sensorik,
interneuron, neuron motorik dan beberapa sinaps
• Fungsi protektif dan hindar
Refleks Monosinaptik vs Polisinaptik
SISTEM MOTORIK
AREA KORTEKS MOTORIK
• Impuls motorik yang utama untuk
gerakan volunter  girus pre sentral
lobus frontal (area 4 Broadman)
• Girus pre central  terutama traktus
kortikospinal dan kortikonuklear 
batang otak  anterior horn medula
spinalis dimana terdapat kontak
sinaps dengan motor neuron yang
kedua.
AREA KORTEKS MOTORIK
• Serabut-serabut saraf muncul dari area 4
dan area korteks yang berdekatan,
bersama-sama menyusun traktus
piramidalis yang merupakan koneksi
langsung dan tercepat antara area motorik
primer dengan motor neuron anterior horn.
• Sebagai tambahan, area kortes lain
(terutama korteks premotor dan area 6),
nukleus subkortikal (basal ganglia)
membantu kontrol pergerakan.
SISTEM MOTORIK PUSAT UNTUK
GERAKAN SPONTAN
• korteks motorik primer (area 4)
• area korteks yang bersebelahan
(korteks premotor, area 6)
• traktus kortikobulbar
• traktus kortikospinal
HOMUNCULUS
JARAS SISTEM MOTORIK
• Piramidalis :
- Kortikospinal
- Kortikobulbar
• Ekstrapiramidal :
- Tektospinalis
- Rubrospinalis
- Retikulospinalis
- Vestibulospinalis
1. KORTIKOSPINALIS
(PIRAMIDALIS)
• Serat saraf dari korteks motorik 
korona radiata (cerebral white
matter) kapsula interna  crus
cerebri pons
• 80-85%  menyeberang
kontralateral  traktus
kortikospinalis lateral
• Sisanya  tidak menyilang  traktus
kortikospinalis anterior
2. KORTIKOBULBAR
• Traktus piramidalis  midbrain 
lebih ke arah dorsal menuju nukleus
nervus cranial
• Input dari traktus piramidal 
pergerakan volunter melalui nervus
V, VII, IX, X, XI, dan XII
• Termasuk traktus
Kortikomesencephalic (input dari
area 8)  pergerakan bola mata (N.
III, IV, dan VI)
NEURON PERIFER
• Bagian servikalis :
- kornu anterior lateral : mempersarafi
tangan
dan lengan
- kornu anterior medial : otot-otot leher
dan dada
• Bagian lumbalis :
- kornu anterior lateral : kaki dan tungkai
- kornu anterior medial : tubuh
NEURON PERIFER
• Neurit atau akson sel kornu anterior
 serat radikular  radiks anterior
atau ventralis  bergabung radiks
posterior  ganglion spinalis  saraf
perifer spinalis
• Akson sel motorik alfa besar (alfa-1)
 otot-otot ekstrafusal
• Akson sel motorik gama  otot-otot
intrafusal
TRAKTUS DESENDEN MEDULA
SPINALIS
• Impuls saraf dari medulla spinalis, pons,
mesencephalon, dan korteks cerebri → berkas-
berkas saraf (traktus-traktus desendens) =>
Upper Motor Neuron
• Neuron-neuron motorik yang terletak di medulla
spinalis mengirim akson untuk mempersarafi
otot skelet melalui radices anteriores nervi =>
Lower Motor Neuron
UMN VS LMN

Perbedaan UMN LMN


Jenis Spastis Flaccid
Tonus Hipertonus Hipotonus
Reflek Fisiologis Hipereflek Hiporeflek / Areflek
Reflek Patologis + -
TRAKTUS
RUBROSPINALIS

Berasal dari nucleus rubra pada otak bagian


tengah.

Fungsi:
• Menyalurkan perintah motorik volunter.
• Mengatur gerak motorik kasar + halus.
• Terutama memfasilitasi fleksi ekstremitas atas.
Traktus
Rubrospina
lis
TRAKTUS RETIKULOSPINALIS

Fungsi Asal Tujuan


• Menghambat/mem • Area formatio • Neuron motorik
fasilitasi gerakan retikularis, pons alfa dan gamma
volunter dan medulla.
• Mengatur tonus
otot
• Memediasi fungsi
otonom
• Modulasi impuls
nyeri
Traktus
Retikulospinali
s
TRAKTUS OLIVOSPINALIS

Berasal dari nucleus olivarius inferior


(di medulla oblongata).

Turun di dalam columna alba


lateralis medulla spinalis.

Mempengaruhi aktivitas neuron


motorik di dalam columna grisea
anterior.
TRACTUS OLIVOSPINALIS
TRAKTUS
VESTIBULOSPINALIS
• Berasal dari 2 dari 4 nucleus
vestibularis.
Berasal dari Berasal dari
Tractus Vestibulospinalis

Tractus Vestibulospinalis
Lateral

Medial
nucleus nucleus
vestibularis vestibularis
lateral. medial.
Melewati batang Langsung
otak dan melalui bercabang dan
bagian anterior berjalan secara
medulla spinalis. bilateral.
Berjalan secara Berakhir diatas
ipsilateral. atau pada
Berakhir di vertebra T6.
semua level
medulla spinalis.
TRAKTUS
VESTIBULOSPINALIS

Tempat Menyilang
Fungsi

Tujuan
Asal
• Penyesuaian • Nucleus • Tidak • Neuron
postural dan vestibula menyilan motorik
pergerakan
kepala ris. g. alfa dan
(keseimbanga gamma.
n tubuh).
• Transmisi
perintah
volunter otot.
• Lateral:
Mengeksitasi
gerakan otot
melawan
gravitasi.
• Medial: Otot
leher untuk
menstabilisas
i posisi kepala
pada saat
bergerak,
serta
koordinasi
kepala
dengan
gerakan
mata.
TRAKTUS
TEKTOSPINALIS

Fungsi Asal Tempat Tujuan


• Refleks • Colliculus menyilang • Neuron
gerakan superior • Segera motorik alfa
postural setelah dan gamma
berkaitan tempat • Mayoritas
dengan asalnya keluar di
penglihatan servikal
Traktus
Tektospinalis
LENGKUNG REFLEKS
Definisi

• Suatu respon involunter terhadap sebuah stimulus.

Struktur Anatomi

• Organ reseptor
• Neuron aferen Lengkung
• Neuron efektor refleks
monosinaptik
• Organ efektor

Fungsi

• Mempertahankan tonus otot.


LENGKUNG REFLEKS
SISTEM SARAF OTONOM
• Otonom  involunter
• Mengatur fungsi – fungsi vital untuk
mempertahankan lingkungan internal
(homeostasis)
Metabolism
Respirasi Sirkulasi Sekresi
e

Keseimbang Fungsi
Suhu tubuh Pencernaan
an cairan Reproduktif
• Hipotalamus merupakan pusat
regulasi utama untuk sistem otonom
perifer
• Lengan eferen sistem saraf otonom
terdiri dari dua : sistem saraf
simpatis dan sistem saraf
parasimpatis
Sistem Saraf Simpatis
• Preganglionik = T1 – L2  Sistem
Torakolumbal
• Postgaglionik = dalam rantai ganglia
prevertebral dan paravertebral

• Preganglionik  Post ganglionik


Sistem
Asetilkolin Norepinefrin Adrenerg
ik
• Stimulasi hipotalamus bagian kaudal
menimbulkan peningkatan aktivitas
simpatis (ergotropik)
• Serabut preganglionik berasal dari neuron di
kornu laterale medulla spinalis  bergabung
dengan akson neuron motorik somatik 
keluar melalui radiks anterior
• Beberapa serabut preganglion berakhir pada
jaras neuron kedua pada level segmental yang
sama
• Ada serabut lain yang melewati rantai simpatis
tanpa membentuk kontak sinaps dan berakhir
pada neuron kedua di ganglion prevertebralis
Persarafan simpatis
kepala dan leher
• berasal dari kolum sel
intermediolateral
segmen T4 atau T5
• serabut postganglionik
dari segmen ini
berakhir di tiga
ganglion :
• Ganglion
servikale
superiur
• Ganglion
servikale
medium
• Ganglion
servikotorasikum
(stelatum)
• Persarafan simpatis jantung dan paru
– Serabut postganglion dari ganglion
servikalis dan 4 atau 5 ganglioa torasika
teratas  nervus kardiakus ke pleksus
kardiakus  jantung
– Nervus pulmonalis  bronki dan paru
• Persarafan simpatis organ abdomen
dan pelvis
– Serabut preganglion dari T5 – T12  melalui
n. splankhnikus mayor dan minor  ganglion
prevertebral  serabut splankhnik membuat
sinaps dengan neuron simpatis kedua
– Ganglion prevertebral :
• Ganglion seliakum
• Ganglion mesenterikum superius
• Ganglion mesenterikum inferius
• Medula adrenal
– Dipersaraf langsung oleh serabut
preganglionik
– Membentuk sinaps dengan neuron
kedua  sekresi epinefrin dan
norepinefrin ke aliran darag  efek
simpatis di perifer
Lesi Simpatis
• Sindrom Horner
– Lesi pada rantai simpatis servikal (ganglion
servikotorasikum) atau pleksus otonomik di
sepanjang pembuluh darah kepala dan leher
– Trias klinis :
• Miosis
• Ptosis
• Enoftalmus
Gejala lain : anhidrosis dan vasodilatasi pada
separuh wajah ipsilateral  wajah kering dan
memerah
Penyebab :
• Karsinoma bronkial apeks paru
• Diseksi arteri karotis interna
Sistem Saraf Parasimpatis
• Preganglionik : nukleus nervi
kranialis III, VII, IX dan X dan
kornu lateral segmen sakral medula
spinalis S2 – S4  sistem
kraniosakral
• Postganglionik : di dinding organ
yang dipersarafi (ganglia intramural)
Sistem
• Preganglionik
Asetilkolin 
Asetilkolin Kolinerg
Post ganglionik
ik
• Stimulasi hipotalamus bagian rostral
menimbulkan peningkatan aktivitas
parasimpatis (trofotropik)
Bagian Kranial Sistem Saraf
Parasimpatis
Persarafan parasimpatis kepala
• Serabut preganglionik berjalan ke
ganglia yang sangat dekat dengan
organ target
– Ganglion siliare
– ganglion pterigopalatinum
– Ganglion submandibulare
– Ganglion otikum
Persarafan parasimpatis organ toraks
dan abdomen
• Parasimpatis nervus vagus dari nukleus
dorsalis nervi vagi  serabut preganglionik
untuk mempersarafi jantung, paru, viseral
abdomen hingga sepertiga distal kolon
transversum
• Postganglionik : di pleksus autonomikus di
dekat organ target atau di dalam dinding
usus
Bagian Sakral Sistem Saraf
Parasimpatis
Persarafan parasimpatis organ
pelvis dan genitalia
• Membawa impuls di nervi spankhnici
pelvici dan pleksus hipogastrikus
inferior dan superior  dinding otot
kolon (1/3 distal kolon transversum
ke bawah), rektum, kandung kemih,
genitalis
Persarafan Kandung Kemih
• Persarafan parasimpatis
– Persarafan motorik kandung kemih
– Nervus splankhnici pelvici dari S2 – S4
 ganglion parasimpatis di dinding
kandung kemih dan ke otot polos
sfingter uretrae internus
– Stimulasi = induksi kontraksi otot polos
detrusor dinding kandung kemih dan
relaksasi sfingter uretrae internus 
miksi
• Perasarafan simpatis
– Dari segmen T12, L1 – L2  serabut
berjalan melalui bagian kaudal rantai
simpatis dan nervus splankhnikus
inferior  ganglion mesenterikum
inferius
– Serabut postganglionik simpatis 
melalui pleksus hipogastrikus inferior 
dinding kandung kemih dan otot polos
sfingter uretrae internus
Disfungsi kandung kemih
neurogenik
• Instabilitas dan hiperrefleksia detrusor
– Kontraksi detrusor prematur dan gangguan
pengosongan kandung kemih
– Lesi di atas medula spinalis sakral dan
mengganggu fungsi inhibisi ke otot detrusor
– Gejala : urinary urgency yang sangat
mendesak dengan inkontinensia dan
rendahnya volume residu
– Penyebab : sklerosis multipel, gangguan
serebrovaskular, trauma medula spinalis, dll.
• Dissinergia detrusorsfingter
– Kontraksi detrusor involunter tanpa
relaksasi sfingter uretrae eksternus
– Lesi di antara medula spinalis sakral dan
pusat miksi pons
– Gejala : urinary urgency yang sangat
mendesak dengan pengosonfan kandung
kemih yang tidak total
– Penyebab : sklerosis multipel, mielopati
servikal, tumor medula spinalis, trauma
• Arefleksia detrusor
– Defisiensi persarafan aferen atau eferen otot
detrusor
– Lesi di medula spinalis sakral atau saraf perifer
yang masuk dan keluar dari struktur tersebut
– Gejala : penurunan keinginan berkemih,
ketidakmampuan memulai mikturisi dan
inkontinensia overflow dengan peningkatan volume
kandung kemih hingga 2000 ml
– Penyebab : tumor konus medularis atau kauda
ekuina, stenosis medula spinalis lumbal dan
herniasi diskus