Anda di halaman 1dari 13

BAB l

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Otak manusia mempunyai berat 2% dari berat badan orang dewasa (3 pon), menerima

20 % curah jantung dan memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400

kilokalori energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai

energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi

glukosa. Jaringan otak sangat rentan terhadap perubahan oksigen dan glukosa darah, aliran

darah berhenti 10 detik saja sudah dapat menghilangkan kesadaran manusia. Berhenti dalam

beberapa menit, merusak permanen otak. Hipoglikemia yang berlangsung berkepanjangan

juga merusak jaringan otak (Price,Wilson, 2012)

Ketika lahir seorang bayi telah mempunyai 100 miliar sel otak yang aktif dan 900 miliar

sel otak pendukung, setiap neuron mempunyai cabang hinggá 10.000 cabang dendrit yang

dapat membangun sejumlah satu kuadrilion koneksi. komunikasi.perkembangan otak pada

minggu-minggu pertama lahir diproduksi 250.000 neuroblast (sel saraf yang Belum matang),

kecerdasan mulai berkembang dengan terjadinya koneksi antar sel otak, tempat sel saraf

bertemu disebut synapse, makin banyak percabangan yang muncul, makin berkembanglah

kecerdasan anak tersebut, dan kecerdasan ini harus dilatih dan di stimulasi, tampa stimulasi

yang baik, potensi ini akan tersia-siakan.

Otak manusia mengatur dan mengkordinir, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh,

homeostasis seperti tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan cairan,

keseimbangan hormonal, mengatur emosi, ingatan, aktivitas motorik dan lain-lain. Otak

1
terbentuk dari dua jenis sel: yaitu glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan

melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang

di kenal sebagai potensial aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan

keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut

neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagai sinapsis.

Neurotransmiter paling mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku seseorang yang ada antara

lain Asetil kolin, dopamin, serotonin, epinefrin, norepinefrin. Masing masing

neurotransmitter memiliki fungsi dan efek yang berbeda jika terjadi gangguan. Untuk itu di

buatlah berbagai jenis obat yang bekerja mempengaruhi Susunan Syaraf Pusat.

Obat Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang serebrum

medulla dan sumsum tulang belakang. Stimulasi daerah korteks otak depan oleh

senyawa stimulant Susunan Syaraf Pusat (SSP) akan meningkatkan

kewaspadaan pengurangan kelelahan pikiran dan s e m a n g a t bertambah

contoh senyawa stimulan Susunan Syaraf Pusat yaitu kafein dan amfetamin.

Obat Stimulan Sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang mempercepat proses fisik dan

mental. Mayoritas stimulan Susunan Syaraf Pusat secara kimiawi serupa dengan

neurohormone norepinefrin, dan simulasi tradisional "melawan atau lari" sindrom yang

terkait dengan rangsangan sistem saraf simpatik. Kafein adalah lebih erat terkait dengan

xanthines, seperti teofilin.

Obat Sistem saraf pusat (SSP) adalah obat perangsang yang meningkatkan aktivitas di

daerah-daerah tertentu dari otak. Perangsang SSP juga digunakan untuk mengobati pasien

yang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).Obat ini juga digunakan

2
untuk mengobati gejala-gejala perilaku yang berhubungan dengan attention deficit

hyperactivity disorder.

1.2 Tujuan

Memahami farmakologi obat yang mempengaruhi neurotransmitter pada Susunan Syaraf

Pusat

1.3 Manfaat

1. Mengetahui macam neurotransmitter Susunan Syaraf Pusat dan cara kerjanya

2. Mengetahui penyakit yang dipengaruhi oleh gangguan neurotransmitter Sususnan Syaraf

Pusat

3. Mengetahui farmakologi obat yang bekerja pada neurotransmitter Susunan Syaraf Pusat

sehingga bisa diterapkan pada penyakit yang dipengaruhi oleh kelainan neurotransmitter

Susunan Syaraf Pusat.

3
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Sistem Saraf Pusat

2.1.1 Anatomi

Menurut Hansen (2010), otak dan medula spinalis dikelilingi oleh

tiga lapisan jaringan ikat membranosa yang disebut meninges, yang meliputi:

1. Dura mater, yaitu lapisan terluar yang kaya akan serabut saraf sensoris.

Dura mater terutama disarafi oleh cabang-cabang sensoris meningeal dari

nervus trigeminus, nervus vagus, dan saraf-saraf servikal atas. Dura mater

juga membentuk lipatan atau lapisan jaringan ikat tebal yang memisahkan

berbagai regio otak seperti falks serebri, falks serebeli, tentorium serebeli, dan

diafragma sella.

4
2. Araknoid mater, yaitu lapisan di bawah dura mater yang avaskular. Ruang

di antara araknoid mater dan pia mater disebut spatium subarachnoideum dan

mengandung cairan serebrospinalis.

3. Pia mater, yaitu lapisan jaringan ikat yang langsung membungkus otak dan

medula spinalis. Araknoid mater dan pia mater tidak memiliki serabut saraf

sensoris. Bagian yang paling menonjol dari otak manusia adalah hemisfer

serebri. Beberapa regio korteks serebri yang berhubungan dengan fungsi-

fungsi spesifik dibagi atas lobus-lobus. Lobus-lobus tersebut dan fungsinya

masing-masing antara lain:

1. Lobus frontal memengaruhi kontrol motorik, kemampuan berbicara

ekspresif, kepribadian, dan hawa nafsu

2. Lobus parietal memengaruhi input sensoris, representasi dan integrasi,

serta kemampuan berbicara reseptif

3. Lobus oksipital memengaruhi input dan pemrosesan penglihatan

4. Lobus temporal memengaruhi input pendengaran dan integrasi ingatan

5. Lobus insula memengaruhi emosi dan fungsi limbik

6. Lobus limbik memengaruhi emosi dan fungsi otonom (Hansen, 2010)

5
Komponen-komponen otak lainnya antara lain:

1. Talamus merupakan pusat relai di antara area kortikal dan subkortikal.

2. Serebelum mengkoordinasikan aktivitas motorik halus dan memproses

posisi otot.

3. Batang otak (otak tengah, pons, dan medula oblongata) menyampaikan

informasi sensoris dan motorik dari somatik dan otonom serta informasi

motorik dari pusat yang lebih tinggi ke target-target perifer (Hansen, 2010).

Otak mengandung empat ventrikel, yaitu dua ventrikel lateral serta ventrikel

ketiga dan keempat yang terletak di sentral. Cairan serebrospinalis dihasilkan

oleh pleksus koroideus, beredar melalui ventrikel-ventrikel, dan kemudian

memasuki ruang subaraknoid melalui foramen Luschka atau foramen

Magendie di ventrikel keempat. Otak terutama diperdarahi oleh arteri

vertebral yang berasal dari arteri subklavia, naik melalui foramen transversum

dari vertebra C1-C6, dan memasuki foramen magnum tengkorak; dan arteri

karotid internal yang berasal dari arteri karotis komunis di leher, naik di leher,

dan memasuki kanalis karotis dan melintasi foramen laserum sehingga

berakhir sebagai arteri serebral anterior dan medial yang beranastomosis

dengan sirkulus Willisi (Hansen, 2010).

2.2. Obat stimulans SSP

Obat yang termasuk golongan ini pada umumnya ada dua mekanisme yaitu:

Memblokade system penghambatan dan meninggikan perangsangan synopsis.

6
Obat stimulansia ini bekerja pada system saraf dengan meningkatkan transmisi

yang menuju atau meninggalkan otak. Stimulan tersebut dapat menyebabkan orang

merasa tidak dapat tidur, selalu siaga dan penuh percaya diri. Stimulan dapat

meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh dan tekanan darah. Pengaruh fisik

lainnya adalah menurunkan nafsu makan, pupil dilatasi, banyak bicara, agitasi dan

gangguan tidur. Bila pemberian stimulant berlebihan dapat menyebabkan

kegelisahan, panik, sakit kepala, kejang perut, agresif dan paranoid. Bila pemberian

berlanjut dan dalam waktu lama dapat terjadi gejala tersebut diatas dalam waktu

lama pula. Hal tersebut dapat menghabat kerja obat depresan seperti alkohol,

sehingga sangat menyulitkan penggunaan obat tersebut.

A.Obat yang bersifat stimulansia sedang adalah:

a) Cafein dalam kopi, teh dan minuman kokakola

b) Ephedrin yang digunakan untuk pengobatan bronchitis dan asthma

c) Nikotin dalam tembakau, selain bagi perokok berat yang digunakan untuk

relaks/istirahat

B.Obat yang bersifat stimulansia kuat:

a) Amphetamine

b) Kokaine atau coke atau crack

c) Ekstasy

d) Tablet diet seperti Duromine dsb.

7
Obat-obat tersebut yang termasuk dalam kelompok B adalah obat yang termasuk

golongan obat terlarang karena mengakibatkan pengguna menjadi orang yang

bersifat dan berkelakuan melawan hukum dan ketagihan

C. Obat halusinogenik

Obat halusinogenik berpengaruh terhadap persepsi bagi penggunanya. Orang yang

mengkonsumsi obat tersebut akan menjadi orang yang sering berhalusinasi,

misalnya mereka mendengar atau merasakan sesuatu yang ternyata tidak ada.

Pengaruh obat halusinogenik ini sangat bervariasi, sehingga sulit diramalkan

bagaimana atau kapan mereka mulai berhalusinasi.

Pengaruh lain dari obat halusinogenik ini ialah pupil dilatasi, aktifitas meningkat,

banyak bicara atau tertawa, emosionil, psykologik euphoria, berkeringat, panik,

paranoid, kehilangan kesadaran terhadap realitas, iraional, kejang lambung dan rasa

mual.

Yang termasuk obat halusinogenik ialah:

- Datura

- Ketamine atau”K”

- LSD (“Lysergik acid diethylamide”)

- Muscakine (peyote cactus)

- PCP(Phencyclidine)

Canabis dan ecstasy juga termasuk golongan halusinogenik

8
2.2.1 Metilxantin

Metilxantin yang terbentuk secara alami adalah kafein,teofilin, dan teobromin.

Efek stimulant SSP dari metilxantin salah satunya dipengaruhi oleh kemampuannya

dalam menghambat enzim fosfodiesterase.

Indikasi : untuk narkolepsi, gangguan penurunan perhatian

Efek samping : Euforia dan kesiagaan, tidak dapat tidur, gelisah, tremor, iritabilitas

dan beberapa masalah kardiovaskuler (Takicardia, palpitasi, aritmia,dll)

Farmakokinetik : waktu paruh 4-30 jam, diekskresikan lebih cepat pada urin asam

dari pada urin basa Reaksi yang merugikan : menimbulkan efek- efek yang buruk

pada sistem saraf pusat, kardiovaskuler, gastroinstestinal, dan endokrin.

dosis Dewasa:5-20mg Anak>6th:2,5-5mg/hari

2.2.2.Nikotin

Nikotin merupakan senyawa golongan alkaloid yang dihasilkan oleh tembakau

(Gambar 1). Nikotin sangat larut lipid sehingga mudah diabsorbsi pada mukosa

mulut, paru, mukosa pencernaan dan kulit. Nikotin dapat melewati plasenta dan

diekskresikan melalui air susu bagi ibu yang menyusui. Rokok umumnya

mengandung 68 mg nikotin. Dosis letal akut nikotin adalah 60 mg. Lebih dari 90

% nikotin nikotin diisap dari asap yang diabsorbsi. Klirens nikotin berasal dari paru

dan hepar (Mycek et al., 2001). Dalam hepar, nikotin di oksidasi menjadi metabolit

utamanya, yaitu kotinin dengan t 19 jam (Tjay and Rahardja, 2002) 1/2 dan

diekskresikan paling banyak melalui urin. Toleransi terhadap efek toksik nikotin

terjadi cepat dan sering terjadi setelah penggunaan dimulai (Mycek et al., 2001).

9
Efek perifer nikotin cukup kompleks. Stimulasi ganglion simpatik dan medula

adrenal meningkatkan tekanan darah dan nadi. Penggunaan tembakau berbahaya

pada pasien hipertensi. Pasien dengan penyakit vaskular perifer mengalami

eksaserbasi gejala setelah merokok. Vasokonstriksi akibat nikotin dapat

menurunkan aliran darah, mempengaruhi pasien angina. Stimulasi ganglia

parasimpatik juga meningkatkan aktivitas motorik pencernaan. Pada dosis tinggi,

tekanan darah turun dan aktivitas saluran pencernaan dan otot kandung kemih

berhenti akibat penghambatan nikotin pada ganglia parasimpatik (Mycek et al.,

2001). Nikotin dapat menyebabkan iritasi dan tremor tangan pada susunan saraf

pusat, kenaikan kadar berbagai hormon dan neurohormon dopamin dalam plasma.

Nikotin juga dapat menyebabkan mual dan muntah, meningkatkan daya ingat,

perhatian dan kewaspadaan, mengurangi sifat mudah tersinggung dan menurunkan

berat badan (Tjay and Rahardja, 2002). Ketergantungan suatu obat dapat

didefinisikan sebagai keadaan dimana obat dapat mengontrol perilaku. Ciri-ciri

utama ketergantungan obat antara lain penggunaan obat yang menimbulkan efek

psikoaktif dan adanya sistem rewards pathway yang mempengaruhi perilaku

pengguna (Kotlyar and Hatsukami, 2002). Pada saat pemaparan nikotin, dopamin

dalam otak meningkat sehingga memperkuat stimulasi otak dan mengaktifkan

rewards pathway. Rewards system inilah yang menimbulkan keinginan untuk

menggunakan nikotin kembali dan memicu ketergantungan fisik terhadap nikotin

terjadi cepat dan hebat. Apabila rewards pathway dalam otak telah aktif maka

penghentian obat menimbulkan gejala iritabel, kejang, gelisah, sulit konsentrasi,

sakit kepala dan tidak bisa tidur (Mycek et al., 2001). Inilah yang menyebabkan

penghentian merokok masih sulit untuk dilakukan.

10
2. 2.3 Amfetamin

Amfetamin merupakan campuran dari isomer d-amfetamin dan lamfetamin (Usdin,

1979). D-amfetamin bekerja dengan cara membebaskan dopamin ke celah sinaptik

sedangkan isomer l-amfetamin bekerja dengan cara membebaskan norepinefrin.

Oleh karena itu, Amfetamin dikatakan sebagai obat simpatomimetik yang bekerja

secara tidak langsung dengan menekankan pada pembebasan neurotransmitter

simpatetik daripada bekerja secara aktif pada reseptor α- maupun β- adrenergik

(Katzung, 2009).

Amfetamin dan Metamfetamin dilegalkan untuk beberapa kondisi medis

antara lain :

1. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) ADHD adalah suatu kelainan

neurobehaviour yang terjadi sekitar 5% pada anak-anak. Tiga bentuk dasar ADHD

menurut Diagnostic and Statistical Manual IV (DSM-IV) of the American

Psychiatric Association (APA) adalah mereka yang : 1. Tidak memberikan

perhatian 2. Hiperaktif atau impulsive 3. Kombinasi dari (1) dan (2), yang dimana

paling banyak ditemukan. Pengobatan yang paling umum untuk mengobati ADHD

adalah dengan menggunakan obat stimulan. Meskipun penggunaan obat stimulan

untuk mengobati ADHD terlihat tidak biasa, tetapi sebenarnya obat stimulan juga

memiliki efek penenang pada anak yang menderita ADHD (Brenner, 2010).

Beberapa opsi pengobatan pada ADHD antara lain adalah campuran Amfetamin,

Metamfetamin, Dextroamfetamin, Metilfedinat, Lisdexamfetamin, atau

Atomoxetin (The MTA Coorperative Group dalam Jansen,2001).

11
BAB 3

KESIMPULAN

1. Obat stimulansia ini bekerja pada system saraf dengan meningkatkan transmisi

yang menuju atau meninggalkan otak

2. Obat yang bersifat stimulansia sedang adalah: kafein, teh, kokakola, efedrin,

Nikotin, dan tembakau

3. Obat yang bersifat stimulansia kuat adalah: amphetamine, kokain, Ektasy, tablet

diet seperti Duromine

4. Obat yang bersifat Halusigonik adalah : Datura , Ketamine atau”K”, LSD

(“Lysergik acid diethylamide”), Muscakine (peyote cactus), PCP(Phencyclidine)

12
DAFTAR PUSTAKA

Hansen, DJ. Kathryn R.W, Ming Li. 2010. The Traumatic Rtress Response in Child
Maltreatment and Resultant Neuropsychological Effects. Faculty Publications,
Department of Psychology Publisher. Di unduh 11-12-2018. 11 :10
Hirsch, L dan Brenner, R. 2010. Atlas of EEG in critical care. Wiley Blackwell, Oxford.
doi:10.1002/9780470746707. Di unggah 11:12:2018 pukul 10.12
Jensen P et all. 2001. ADHD Comorbidity Findings From the MTA Study: Comparing
Comorbid Subgroups dalam J. AM. ACAD. CHILD ADOLESC. PSYCHIATRY,
40:2, FEBRUARY 2001 Hal. 147-58
Katzung BG, Trevor AJ, Masters SB. 2008. Pharmacology Examination and Board
Review. 8th ed. New York: McGraw-Hill Education. Hal. 301.
Kotlyar, M and Hatsukami, DK. 2002. Managing Nicotine Addiction, Journal of Dental
Education, Ed. 66 (9). Hal. 1061-1073
Linner L, Lotta A. 1999. Locus Coeruleus Neuronal Activity and Noradrenaline
Availability in the Frontal Cortex of Rats Chronically Treated with Imipramine:
Effect of α2-Adrenoceptor Blockade. Society of Biological Psychiatry. Ed.46
Hal.766–74
Mycek MJ, Harvey RA, Champe PC. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta:
Widya Medika. Hal. 407-415.
Price SA, Wilson LM.2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
EGC. Hal.1024

Svensson TH, Usdin T.1978. Feedback Inhibition of Brain Noradrenaline Neurons by


Tricyclic Anti Depressants Alpha Receptor Mediation. Science 202:1089–1091

Tjay, Rahardja. 2002. Obat-obat Penting, Khasiat, Pengunaaan dan Efek


Sampingnya, Edisi V. PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta

13