Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta adalah pasar yang
besar untuk produk daging. Konsumsi daging setiap tahunnya meningkat sebesar
4,2% per kapitas. Kebutuhan ini semakin tinggi dengan adanya permintaan daging
kurban pada hari Raya Idul Adha. Peningkatan konsumsi daging tersebut belum dapat
diimbangi oleh peningkatan produksi. Apalagi, konstribusi daging ruminansia kecil
pada konsumsi daging nasional hanya sebesar 6%.

Ternak hewan ruminansia berukuran besar seperti sapi bali memiliki potensi
besar untuk dikembangkan sebagai sumber pedaging. Beberapa keuntungan beternak
sapi bali, di antaranya hewan ini mudah beradaptasi dengan lingkungan . Untuk
memenuhi kebutuhan daging sapi bali pada masa yang akan datang, salah satu
alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan ternak sapi secara
konsepsional.

Sapi Bali merupakan keturunan Banteng liar (Bos bibos atau Bos sondaicus)
yang telah mengalami proses domestikasi selama berabad-abad. Domestikasi sapi
Bali diduga terjadi di Asia Tenggara dan terpusat di Indonesia. Daerah penyebaran
sapi Bali meliputi hampir seluruh propinsi di Indonesia. Pedet jantan maupun betina
sejak lahir hingga berumur 1,5 tahun memiliki warna bulu sawo matang kemerahan.
Namun setelah berumur 1,5 tahun keatas warna bulu pedet jantan berubah menjadi
hitam hingga dewasa. Sedangkan sapi betina tetap berwarna merah. Warna hitam
dapat berubah menjadi merah bata jika dikastrasi, karena pengaruh hormon
testosteron. Sedangkan warna bulu sapi betina tidak akan berubah.Pada punggung
sapi bali akan selalu ditemukan garis belut, yaitu bulu hitam yang membentuk garis
memanjang dari gumba hingga pangkal ekor, dan ini akan ditemukan pada sapi jantan
maupun betina. Selain itu bulu pada kaki yang berada di bawah persendian karpal dan
tarsal berwarna putih.Warna bulu putih juga terdapat pada bibir bagian atas dan
bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Terkadang juga akan dijumpai diantara bulu
badan yang berwarna coklat, berupa bintik putih, namun ini merupakan
penyimpangan genetik yang hanya berkisar 1% dari populasi. Kulit berwarna putih
juga akan dijumpai pada bagian pantat dan paha bagian dalam berbentuk oval (white
mirror).Sapi bali mempunyai ciri badan berukuran sedang dan bentuk badan yang
memanjang, kepala agak pendeh dengan dahi datar, badan padat dengan dada yang
dalam, tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir.Sapi bali berkaki ramping, agak
pendek menyerupai kaki kerbau. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya
berwarna hitam. Tanduk pada sapi bali jantan tumbuh agak keluar kepala, sebaliknya
untuk betina tumbuh condong ke dalam.

1.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana cara pemberian pakan sapi bali di Maiwa breeding Center
(MBC)?
2. Pakan apa saja yang di berikan pada sapi bali di Maiwa breeding Center
(MBC)?
3. Berapa pertambahan Bobot Badan yang di capai perhari?
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui waktu pemberian pakan sapi bali di Maiwa breeding


Center (MBC)
2. Untuk mengetahui jenis pakan yang di berikan untuk sapi bali di di Maiwa
breeding Center (MBC).
3. untuk mengethui pertambahan bobot badan yang di capai perhari di di
Maiwa breeding Center (MBC).
1.4 Manfaat
Untuk menambah pengalaman, pengetahuan tentang manajemen pakan sapi
bali.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistem Pemeliharaan
Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi dan mempercepat penyebaran
ternak besar oleh peternak adalah dengan cara pemeliharaan ternak tersebut.
Pemeliharaan ternak yang baik sangat mempengaruhi perkembangbiakan serta
terjaminnya kesehatan ternak (Anonima,2010).
Cara pemeliharaan dapat dibedakan atas pemeliharaan secara ekstensif, intensif
dan semi intensif. Pemeliharaan secara ekstensif biasanya terdapat di daerah-daerah
yang mempunyai padang rumput luas, seperti Nusa Tenggara, Sulawesi Seatan, dan
Aceh. Sepanjang hari sapi digembalakan di padang pengembalaan, sedangkan pada
malam hari sapi hanya dikumpulkan di tempat-tempat tertentu yang diberi pagar
disebut kandang terbuka. Pemeliharaan secara intensif yaitu ternak dipelihara secara
terus-menerus di dalam kandang sampai saat dipanen sehingga kandang mutlak harus
ada. Seluruh kebutuhan sapi disuplay oleh peternak, termasuk pakan dan minum.
Pemeliharaan semi intensif merupakan perpaduan antara kedua cara pemeliharaan
secara intensif dan secara ekstensif. Jadi, pada pemeliharaan sapi secara semi intensif
ini harus ada kandang dan tempat pengembalaan di mana sapi di gembalakan pada
siang hari dan dikandangkan pada malam hari (Palabiran, 2012).
Manajemen pemeliharaan sapi potong perlu dilakukan.Untuk itu ada beberapa
metode yang harus dilakukan. Metode pemeliharaan sapi potong berdasarkan tujuan
pemeliharaan yaitu (Anonim, 2010):
a. Pemeliharaan sapi potong pembibitan
- Sapi induk, Selain pemberian pakan yang baik pemeliharaan kesehatan dalam
pemeliharaan sapi induk perlu juga diperhatikan sistim perkawinannya, sehingga
induk dapat melahirkan setiap 1 – 18 bulan sekali.
- Induk bunting, Sapi yang mengalami proses produksi harus mendapat perlakuan
dan pakan yang baik. Pakan harus cukup baik, berikan pakan penguat sebanyak 2-3
kg/ek/hr ditambahkan mineral. Tempatkan sapi dikandang tersendiri agar merasa
tenang. Jagalah kebersihan kandang, alasi lantainya dengan jerami/rumput kering.
- Pemelihraan anak sapi, Setelah anak sapi lahir segera bersihkanlender yang
menempel pada tubuhnya, terutama bagian hidung dan mulut. Potong tali pusar dan
olesi dengan yodium. Biarkan anak sapi menyusui pada induknya sampai 4 bulan.
Mulai diperkenalkan dengan konsentrat pada umur 3 minggu.
b. Pemeliharaan sapi potong kereman
Ada 4 patokan dalam memilih sapi untuk dierem, diantaranya :
- Sapi yang berumur kurang dari satu tahun yang akan diperlukan masa kereman
selama 8-12 bulan.
- Sapi berumur 1-2 tahun dengan masa kerem selama 6-8 bulan.
- Sapi yang berumur 2-3 tahun dengan masa kereman selama 4-6 bulan.
- Sapi yang berumur 3 tahun keatas dengan masa kereman maksimal selama 4 bulan
Tatalaksana pemeliharaan dapat dibagi 3 sesuai tujuan pemeliharaan (Anonim,
2010) :
a. Tujuan untuk menghasilkan anak. Induk dan anak dipelihara bersama sampai anak
disapih umur 6 - 8 bulan dan kemudian anak dijual.
b. Tujuan untuk menambah dan memperbaiki kualitas daging. penggemukan dapat
dilakukan di kandang atau padang rumput. Lama penggemukan tergantung umur sapi.
Bila umur 1 – 2 tahun dibutuhkan waktu 6 bulan. Bila umur sapi dewasa 2 - 3 tahun
dibutuhkan waktu 4 bulan.
c. Tujuan untuk bibit. Dipelihara sapi-sapi jantan dan betina dari jenis unggul.

B. Sistem Perkandangan
Kandang merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal
ternak atas sebagian atau sepanjang hidupnya.Suatu peternakan yang dikelola dengan
tata laksana pemeliharaan yang baik memerlukan sarana fisik sebagai penunjang atau
kelengkapannya, selain bangunan kandang.Kompleks kandang dan bangunan-
bangunan pendukung tersebut disebut sebagai perkandangan. Dengan demikian,
perkandangan adalah segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana
maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu
peternakan (Basit Wello, 2011)
Dalam sistem penggemukan sapi dikenal beberapa bentuk kandang antara lain
tipe kandang tunggal (individual) dan tipe kandang ganda (Balai pengkajian teknologi
pertanian Jambi, 2007):
1. Tipe Tunggal : terdiri dari satu baris sapi dengan posisi kepala satu arah yang cocok
digunakan untuk menggemukan sapi sebanyak 1 – 5 ekor.
2. Tipe Ganda : terdiri dari dua baris sapi yang saling berhadapan atau bertolak
belakang, diantara kedua barisan sapi dibatasi atau dibuat gang sebagai jalan untuk
memberi makanan/air minum dan membersihkan kandang.
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada
kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m.
Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam
mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang
diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang
karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode
penggemukan ditempatkan dalam satu kandang.Satu ekor sapi memerlukan tempat
yang lebih luas daripada kandang individu.Kelemahan yaitu terjadi kompetisi dalam
mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada
yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan (Anonima, 2010).
Dalam pembangunan kandang atau perkandangan diperlukan perencanaan yang
seksama. Perencanaan tersebut perlu dipertimbangkan persyaratan-persyaratan yang
harus dipenuhi dari sebuah bangunan perkandangan (Purbowati & Rianto, 2009) :
1. Letak kandang terpisah dari rumah dengan jarak lebih dari 10 meter.
2. Kandang harus berada di lokasi yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, untuk
menghindari genangan air pada saat musim penghujan.
3. Dibelakang kandang dibuatkan lobang untuk menampung kotoran ternak.
4. Ventilasi kandang cukup baik.
5. Usahakan lokasi kandang dekat dengan sumber air.
6. Bahan bangunan kandang terbuat dari kayu, bambu atau bahan lain yang kuat.

C. Sistem Pemberian Pakan


Tujuan pemberian pakan dalam suatu usaha penggemukan sapi potong adalah
untuk memperoleh pertambahan bobot badan secara maksimal.Dengan demikian
diperlukan pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak baik dari segi
kuantítas maupun kualitasnya.Pemberian pakannya dapat dilakukan dengan
pemotongan rumput tersebut, kemudian diberikan pada ternak sapi yang ada di dalam
kandang. Pemberian pakan seperti ini disebut cut and carry. Selain itu, rumput juga
dapat dikonsumsi langsung oleh sapi di areal padang penggembalaan berdasarkan
pada stocking rate (daya tampung) padang penggembalaan tersebut untuk mencukupi
kebutuhan penggembalaan setiap UT (Unit Ternak) (Santosa, 2005).
Ketersediaan pakan harus mencukupi kebutuhan ternak, baik yang berasal dari
hijauan/rumput, maupun pakan konsentrat yang dibuat sendiri atau berasal dari
pabrik.Pakan yang diberikan pada ternak sapi penggemukan diarahkan untuk
mencapai pertambahan bobot badan yang setinggi-tingginya dalam waktu relatif
singkat.Untuk itu pemberian pakan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan ternak
baik dari segi kuantitas maupun nilai gizinya.Bahan pakan utama ternak sapi
penggemukan adalah dalam bentuk hijauan yaitu berasal dari rumput unggul, rumput
lokal dan leguminosa dan biasanya ditambahkan dengan konsentrat.Pakan hijauan
diberikan pada sapi sebanyak 10 – 12 % dan pakan konsentrat 1 – 2 % dari bobot
badan ternak (Anonim,2010).
Ketersediaan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting
diperhatikan.Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20 – 40 liter/ekor/hari, namun
sebaiknya diberikan secara adlibitum (tidak terbatas) (Anonim,2010).

D. Pencampuran Pakan
Pencampuran pakan dapat dilakukan mnggunakan mesin pencampur.
Pencampuran pakan menggunaka mesin pencampur akan memberikan efesiensi yang
lebih baik. Namun, Proses pencaampuran pakan biasanya masih banyak diakukan
secara manual (Kusharjanta dkk, 2004).
Mesin pencampur pakan yang biasa digunakan disebut Mesin Pakan Ternak /
Mixer Pakan Ternak. Menurut Anonim (2007), Mesin Pakan Ternak/Mixer Pakan
Ternak biasa digunakan untuk mencampur aneka ragam komposisi pakan ternak
seperti jagung, bekatul, dan konsentrat dengan cara yang cepat dan efisien. Alat
mesin ini dirancang khusus untuk mencampur aneka jenis bahan berbentuk butiran
atau tepung sekaligus
Kualitas pakan yang pencampurannya menggunakan mesin mixer tentu lebih
bagus dibandingkan yang pencampuran secara manual. Pencampuran menggunkan
mesin ini kita lihat lebih capat dan hasil pakan yang di campur juga homogen merata
partikel partikel pakan menyatu dengan pakan yang lainnya hingga pencampuran
antara bahan satu dan bahan lainnya sudah tidak terlihat, bahwasannya pakan bekatul
konsentrat sudah tidak terlihat lagi, hal ini karna kerja mesin sangat bagus sekali
dalam sistem pencampurannya. Dan waktu yang kita butuhkan juga sangat singkat
sekali untuk mencampur hingga homogeny, kemudian tenaga kerja tidak
membutuhkan benyak (Anonim, 2010)
Metode pencampuran pakan secara manual pada umumnya dilakukan mengikuti
prosedur menyiapkan alat dan bahan.Bahan-bahan pakan kemudian ditimbang
berdasarkan hasil perhitungan penyusunan ransum.Selanjutnya masing-masing bahan
pakan ditumpuk dengan jalan pakan yang memiliki jumlah terbanyak ditempatkan
paling bawah menyusul pakan dengan jumlah sedikit. Langkah selanjutnya ialah
menghomogenkan pakan menggunakan skop dengan cara membolak-balikkan sampai
homogen (Anonim, 2010).

E. Sistem Penggembalaan
Padang Penggembalaan merupakan tempat menggembalakan ternak untuk
memenuhi kebutuhan pakan dimana lokasi ini telah ditanami rumput unggul dan
legume dengan jenis hijauan yang tahan injakan ternak.Sistem penggembalaan
secaara umum dengan melepas ternak secara bebas di padang penggembalaan.
Biasanya sistem tamping padang penggembalaan adalah 1-2 ekor per hektar
.belakangan ini, ketersediaan padang penggembalaan semakin kurang akibat
banyaknya desakan pembangunan prasarana jalan, perumahan, industry dan
sebagainya (Mahardi, 2009).
Metode penggembalaan secara umum sama dengan sistem pemeliharaan dimana
sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif yang memerlukan adanya padang
penggembalaan.
Menurut Hendro (2011), pemeliharaan sapi, baik sebagai sapi potong ataupun
perah yang digembalakan di lapangan, akan lebih murah daripada pemberian
makanan penguat, karena :

1. Tenaga kerja yang diperlukan untuk mengurusi perawatan ternak lebih sedikit,
sebab hewan langsung merumput di padang penggembalaan sendiri.
2. Rumput adalah paling miurah diantara hijauan-hijauan lain.
3. Menhurangi penggunaan feed-suplement protein yang harganya sangat mahal
4. Hewan-hewan yang digembalakan sekaligus akan memupuk tanaman tersebut
dengan kotoran mereka.
Karena padang penggembalaan kegunaannya sangat efesien, maka padang
penggembalaan tersebut harus dikelola atau dipiara sebaik mungkin, sehingga
hasilnya bisa menyediakan makanan secara optimal sepanjang waktu. Beberapa cara
pengelolaan yang perlu diperhatikan, khususnya mengenai pengaturan pemotongan
rumput, agar bisa diperoleh suatu produksi yang kontinu. Dengan demikian, baiklah
apabila cara melakukan defoliasi itu diatur dengan memperhatikan pada :
1. Pemotongan tahun-tahun pertama
Pemotongan pada tahun pertama harus hati-hati, cukup dilakukan secara ringan
atua tidak dipotong sama sekali. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan awal rumput
penggembalaan bisa terjamin.
Apabila rumput ini hendak dipotong, haruslah dilakukan dengan cara
meninggalkan pangkal batang ± 7,5 cm dari tanah, dimana hasil potongan tersebut
bisa dipergunakan sebagai bahan silage atau hay.
2. Pemotongan bergilir (alternate grazing) atau sistem rotasi
Sistem ini biasanya dilakukan dengan cara membagi-bagi areal pangonan
menjadi petak-petak yang lebih sempit (paddock) sesuai dengan maksud peternak,
sehubungan dengan jumlah ternak yang digembalakan, pertumbuhan hijauan serta
kelebatannya. Pada umumnya padang pangonan itu dibagi menjadi dua atau empat
areal.
3. Penggembalaan berat (over-grazing) harus dihindarkan
Pelaksanaan penggembalaan berat yang tidak terkontrol akan merugikan, akibat
daya tampung pada penggembalaan yang tak sesuai. Hal ini akan membawa akibat
produksi berikutnya rendah, pertumbuhan kembali lemah, yang akhirnya banyak
tumbuh rumput liar (weed), bahkan bisa menimbulkan erosi tanah.
4. Defoliasi yang terlalu ringan (under-grazing) pun harus dihindarkan
Praktek-praktek defoliasi semacam ini pun juga akan merugikan, maka hal
tersebut harus dihindarkan. Sebab hijauan menjadi terlalu tua, serat kasar tinggi dan
kurang palatable dan nilai gizinyaa sanagt rendah
BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat


A. Waktu
Kegiatan PKL Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Negri
Gorontalo Dilaksanakan Mulai Tanggal 1juli 2018 Sampai Dengan 30 juli 2018.
B. Tempat
Di pusat penggemukan sapi bali maiwa breeding center fakultas peternakan
universitas hasanudin. Makasar sulawesi selatan, indonesia

3.2 Alat dan Bahan


A. Alat
1. Parang
2. argo
3. mesin coper
4. Jhon deere

B. Bahan

1. Rumput gaja
2. Air
3. kosentrat

3.3 Metode Pelaksanaan

Adapun kegiatan PKL di pusat penggemukan sapi bali maiwa breeding center
fakultas peternakan universitas hasanudin. akan dilakukan dengan cara sebagai
berikut.

1. Observasi ( Pengamatan Langsung ) Dan Praktek Kerja


Semua kegiatan yang ada di perusahaan diikuti oleh mahasiswa, dengan
begitu mahasiswa akan mengetahui dan memahami semua kegiatan yang ada di pusat
penggemukan sapi bali maiwa breeding center fakultas peternakan universitas
hasanudin. Observasi dan praktek kerja ini juga bertujuan untuk membandingkan
pengetahuan teoritis yang didapat selama kuliah dengan praktek kerja di lapangan.
Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa di pusat penggemukan sapi bali maiwa
breeding center fakultas peternakan universitas hasanudin., proses pengambilan
pakan, penggilingan pakan, dan pemberian pakan, serta kegiatan lainnya yang
bermanfaat bagi perusahaan dan mahasiswa sebagai peserta PKL. Semua kegiatan ini
akan menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa.
2. Diskusi Dan Wawancara
Untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk laporan magang kerja serta
menambah wawasan, maka mahasiswa melakukan wawancara dan berdiskusi dengan
para pekerja profesional di pusat penggemukan sapi bali maiwa breeding center
fakultas peternakan universitas hasanudin.Kegiatan wawancara dan diskusi ini akan
menambah wawasan dan data yang diperlukan oleh mahasiswa.
3. Dokumentasi
Kegiatan dokumentasi merupakan kegiatan pengumpulan data dengan cara
mendokumentasikan data - data yang telah diperoleh baik data yang diperoleh secara
langsung maupun data yang sudah ada pada perusahaan yang terkait dengan
penelitian. Dokumentasi dilakukan untuk mengabadikan dan menjadi bukti otentik
seluruh kegiatan dalam magang kerja. Hasil dokumentasi dapat menjadi data primer
untuk pelaporan magang kerja. Dokumentasi akan menambah kelengkapan data dan
menunjukkan kebenaran serta keaslian data.

Adapun data yang dikumpulkan dalam kegiatan magang kerja antara lain berupa:
a. Data primer
Data primer diperoleh dengan cara observasi dan praktek kerja, diskusi dan
wawancara serta dokumentasi. Data primer berupa hasil observasi dan praktek kerja
yang dilakukan mahasiswa di lapang, hasil diskusi dan wawancara para pekerja
profesiona di pusat penggemukan sapi bali maiwa breeding center fakultas
peternakan universitas hasanudin. serta dokumentasi kegiatan.
b. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan dan studi literatur yang
dilakukan oleh penulis. Data sekunder digunakan untuk mendukung kevalidan data
primer, yakni dengan cara membandingkan kenyataan yang ada di lapang dengan
dokumentasi perusahaan dan literatur/studi pustaka yang diperoleh oleh mahasiswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN4.1 Deskripsi Wilayah Tempat PKL

4.1.1 Keadaan Umum Perusahaan

Maiwa Breeding Center (MBC) Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin


merupakan pusat pengembangan sapi potong yang dikelola oleh Fakultas
Peternanakan Universitas Hasanuddin. Sejauh ini Maiwa Breeding Center merupakan
salah satu pusat pengembangan dan pembibitan sapi local yang dikembangkan
bersama dengan kelompok tani/ternak, Maiwa Breeding Center sendiri memiliki
lahan dengan luas 240 hektar dan memiliki 695 ekor ternak sapi yang berbeda umur.
Maiwa Breeding Center memiliki kebun rumput dengan luas 5 hektar dimana rumput
yang diproduksi adalah jenis rumput gajah.

4.1.2 Struktur Organisasi

Struktur organisasi Maiwa Breeding Center Universitas Hasanuddin dapat


dilihat pada gambar sebagai berikut.

PENANGGUG JAWAB
Prof. Dr. Ir. Sudirman Baco, M,sc.

PENGELOLA
Dr. Syahdar Baba, S.Pt. M. Si
MANAGER
Ilham Syarif , S. Pt

KOORDINATOR KOORDINATOR
Syarifuddin, S.Pt M. Nur Mustakim
Hamzah,S.Pt

Hafid Syafrudin Lasakka Hendra Mahmud Dg, buang


TR Hadu

4.1.3 Tujuan Progam Peternakan


1. kemandirian masyarakat baik dalam bidang sumber daya manusia maupun
bidang keuangan
2. mengurangi tinggkat pengangguran
3. meningkatkan kualitas hidup dan kesejahtraan dalam bidang pendidikan,
budaya, kesehatan khususnya dalam dunia usaha peternakan

4.1.4 Sarana dan Prasarana Peternakan

Kandang terbagi atas dua jenis kandang, yakni kandang individu dengan lebar
8 meter dan apanjang 15 meter sedangkan kandang kelompok dengan lebar 16 meter
dan panjang 15 meter. Lahan yang telah ditanami rumput gajah seluas 6 Ha dan lahan
yang telah ditanami legum seluas 1 Ha. Tempat pakan dan tempat minum untuk
masing-masing space, yaitu berukuran 50x30 cm. dalam kandang terdapat
penampung pakan obat obatan dan minum menggunakan tong penampung air 5 buah.
Membersihkan ada selang karet sepanjang 100 meter, 5 sikat, 5 sapu lidi, 2 sapu ijuk,
2 sekop, dan copper 2 buah unruk memotong rumput gajah kecil-kecil agar ternak
mudah memakannya.

A. Keadaan Khusus Ternak Potong


Berdasarkan pada hasil pengamatan dalam praktikum, teramati bebarapa
keadaan dan kondisi ternak yaitu ternak berada pada kondisi sehat dengan manajemen
yang cukup baik. Ternak yang terdapat pada laboratorium ternak potong berjumlah
40 ekor. Secara umum digunakan sistem pemeliharaan semi intensif yaitu dengan
pemeliharaan dalam kandang dan penggembalaan padang. Pemberian pakan pada
pagi hari dan sore hari berupa hijauan dan konsentrat.

B. Pemeliharaan dan Perkandangan


Pemeliharaan Sapi yang terdapat pada laboratorium ternak potong ialah
dengan pemeliharaan Semi Intensi.Ternak dikandangkan pada sore hingg malam,
kemudian dilepas di Padang Penggembalaan pada pagi hingga sore hari. Hal ini
Sesuai dengan pendapat Palabiran (2012) bahwa pemeliharaan sapi secara semi
intensif ini harus ada kandang dan tempat pengembalaan di mana sapi di gembalakan
pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari.
Perkandangan pada laboratorium ternak potong ialah menggunakan kandang
ganda, dimana terdapat 2 baris kandang yang saling berhadapan.Diantara kedua baris
kandang tersebut terdapat lorong yang digunakan sebagai tempat untuk memberi
pakan dan membersihkan kandang.Hal ini sesuai Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Jambi (2007), tentang tipe perkandangan yang terbagi atas tipe tunggal dan
tipe ganda. Kandang tipe Ganda terdiri dari dua baris sapi yang saling berhadapan
atau bertolak belakang, diantara kedua barisan sapi dibatasi atau dibuat gang sebagai
jalan untuk memberi makanan/air minum dan membersihkan kandang.

C. Pencampuran dan Pemberian Pakan


Pada praktikum ini dilakukan pencampuran pakan dengan 2 jenis cara
pencampuran pakan yaitu pencampuran pakan yang dilakukang setiap hari dan yang
dilakukan setiap seminggu sekali. Pencampuran pakan yang dilakukan setiap hari
yaitu dengan cara mencampurkan dedak dengan air yang telah dicampur dengan
garam dan molasses. Sedangkan pencampuran pakan yang dilakukan seminggu sekali
yaitu dengan mencampurkan 3 karung dedak, 3 kg mineral, 9 kg bungkil kelapa.
Cara pemberian pakan yaitu dengan memberikan pakan dedak yang dicampur
dengan air yang telah dicampur molasses dan garam pada pukul 07.00 dan 16.00.
sedangkan pada pukul 09.00 dilakukan pemberian pakan hijauan.
D. Penggembalaan
Penggembalaan dilakukan pada hari minggu, dari pagi hingga sore keudian
diamati hal-hal berikut:
1. Jumlah Populasi
Jumlah Populasi sapi yaitu sebanyak 40 ekor.
2. Dinamika Populasi
Secara umum terjadi perubahan populasi dari tahun sebelumnya. Hal ini terbukti
dengan jumlah pedet yang menandakan bahwa telah terjadi kelahiran, sehingga
terjadi penambahan poplasi. Selain kelahiran yang terjadi terdapat juga kematian
pedet. Selain itu, jumlah ternak yang digembalakan bukan keseluruhan jumlah
populasi melainkan hanya sebagian.
3. Grazing
Grazing diartikan sebagai proses merumput. Proses merumput pada ternak yang
diamati ialah pada saat pagi dan sore. Proses merumput pada sapi dilakukan pada
tempat tertentu dimana tersedia hijauan ataupun leguminosa yang cukup atau biasa
disebur padang penggembalaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendro (2011) yang
menyatakan, Padang penggembalaan merupakan sumber penyediaan hijauan yang
lebih ekonomi dari murah. Padang penggembalaan merupakan tanaman hijauan
secara langsung dan bisa dimakan oleh hewan. Padang penggembalaan tersebut bisa
terdiri dari rumput seluruhnya atau leguminose saja, ataupun campuran. Tetapi suatu
padang rumput yang baik dan ekonomis ialah yang terdiri atas campuran rumput dan
leguminose. Sedangkan pada saat siang hari ternak beristirahat dan mencari naungan
kemudian tidak terjadi proses grazing melainkan Ruminansi.
4. Ruminansi
Proses ruminansi dilakukan secara bergantian dengan proses grazing. Ruminansi
dilakukan oleh ternak yang diamati pada saat istirahat ssambil bernaung pada pohon
yang terdapat pada padang penggembalaan. Rumansi dilakukan oleh ternak pada
keadaan berdiri dan duduk. Pada proses ini pakan yang tadinya masih kasar akan
dikunyah kembali. Hal ini sesuai dengan pendapat Nadia (2011) yang menyatakan
bahwa Sapi mengunyah makanan hampir tanpa dipilih. Setelah mengunyah beberapa
saat,ketika air liur bertambah,maka makanan ditelan dalam bentuk bolus.Ketika sapi
memamah biak, makanan tadi kembali kemulut dan dikunyah kembali. Selama proses
ruminasi inilah penggilingan yang utama dilakukan. Proses penggilingan makanan
akan memperbesar permukaan dari makananan tersebut.Permukaan makanan yang
lebih besar tersebut akan membantu mikro-organisme yang ada pada rumen dan
cairan pencernaan dalam menghancurkan makanan.
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka daapat disimpulkan
bahwa:
o Ternak potong harus memperoleh manajemen pemeliharaan yang baik agar dapat
mencapai produksi yang diinginkan. Pemeliharaan sapi potong dapat dilakukan
melalui pemeliharaan intensif dan semi intensif.
o Sanitasi perkandangan dilakukan minimal 2 kali dalam sehari. Pembersihan dalam hal
ini dilakukan dengan cara membersihkan sisa pakan, dan membuang kotoran
o Pemberian pakan dan air minum dilakukan tiap hari setelah sanitasi perkandangan.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat
o Pencampuran pakan ditujukan untuk memenuhi jumlah kebutuhan nutrisi bagi ternak.
o Penggembalaan dilakukan untuk memberikan kesempatan agar ternak dapat grazing
atau merumput.

Saran
Laboratorium sebaiknya melengkapi peralatan yang dibutuhkan agar
praktikum dapat berjalan dengan baik.
Asisten sebaiknya, senantiasa mendampingi praktikan dalam melaksanakan
praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Pemeliharaan Sapi Potong. Http://Suarakomunitas.net. Diakses tanggal 22
Maret 2013

Anonima.2010. Sistem Perkandangan Ternak Sapi Potong.


Http://infopeternakan.woordpress.com. Diakses tanggal23 Maret 2013

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi. 2007. Manajemen Pengelolaan Penggemuka Sapi
Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi: Jambi

Hendro. 2011. Padang Penggembalaan (Pasture). http://akanghendro.wordpress .com. Diakses


tanggal 29 April 2013

Kusharjanta, B., Diharjo K, dan Haryanto. 2004. Rekayasa Mesin Pencampur Makanan Ternak
(Komboran Kering) Sapi dengan Pemanfaatan Tong Bekas untuk Kalangan Peternak
Menengan Kebawah. Dirjen Pendidikan Tinggi: Jakarta

Mahardi. 2009. Peremajaan Padang Penggembalaan. Http://mahardinutrisi06 .blogspot.com.


Diakses tanggal 22 Maret 2013

Nadia, Nunakhsan. 2012. Knowledge of Feeding & Nutrition for Dairy Cattle.http

://akhsanunnadia.wordpress. Diakses tanggal 29 April 2013

Palabiran. 2012. Sistem pemeliharaan Sapi Potong. Http://infopeternakan. wordpress.com.


Diakses tanggal 23 Maret 2013

Purbowanti, E. dan Rianto, E. 2009. Sapi Potong. Penebar Swadaya: Jakarta


Santosa. 2005. Cara Pemberian Pakan Pada Sapi Potong. Http://www.pojok-vet.com. Diakses
tanggal 23 Maret 2013

Wello, basit. 2011. Manajemen ternak Sapi Potong. Masagena Presss. Makassar