Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih
aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil. (Permenkes RI, 2017) Menurut Joint Commission Internasional ada
enam indikator keselamatan pasien di rumah sakit dan salah satunya adalah
risiko jatuh pasien (Joint Commission Internasional, 2015).

Risiko jatuh pasien adalah peningkatan kerentanan terhadap jatuh yang dapat
menyebabkan bahaya fisik (Wilkinson, 2011). Pasien jatuh di rumah sakit
merupakan masalah yang serius karena dapat menyebabkan cedera ringan
sampai dengan kematian, serta juga dapat memperpanjang lama hari rawat
(Length of Stay/LOS) di rumah sakit dan akan menambah biaya perawatan di
rumah sakit (Joint Commission Internasional, 2015).

Keselamatan telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit, ada lima
isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit yaitu: keselamatan
pasien, keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan
peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak pada pasien dan petugas,
keselamatan lingkungan yang kelangsungan hidup rumah sakit. Keselamatan
pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait
dengan isu mutu dan citra rumah sakit. Dengan semakin berkembangnya ilmu
dan teknologi pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit, sehingga membuat
semakin kompleks prosedur pelayanan kesehatannya dan berpotensi terjadinya
KTD (kejadian tidak diharapkan).(Depkes,2008)

1
Jatuh merupakan suatu kejadian yang menyebabkan subyek yang sadar menjadi
berada di permukaan tanah tanpa disengaja. Dan tidak termasuk jatuh akibat
pukulan keras, kehilangan kesadaran, atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah
dari penyebab spesifik yang jenis dan konsekuensinya berbeda dari mereka yang
dalam keadaan sadar mengalami jatuh (Stanley, 2006)

Laporan Clinical Excelence Commission tahun 2013, di New South Wales, telah
terjadi 64.225 kejadian tidak diharapkan (KTD) di seluruh fasilitas kesehatan
yang ada. Kejadian tidak diharapkan yang paling sering terjadi antara lain pasien
jatuh 12.670 kasus. Angka insiden pasien jatuh setiap tahun di seluruh rumah
sakit yang terdapat di Amerika Serikat diperkirakan 700 sampai 1000 pasien,
diantaranya ada yang menyebabkan patah tulang dan perdarahan internal (Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cedera Amerika Serikat, 2008)

Menurut JCI dalam Sentinel Alert Event tahun 2015 di United States pasien jatuh
dirumah sakit menyebabkan cedera 30-50%, peningkatan hari rawat rata-rata 6,3
hari. Dampak lainnya yang ditimbulkan dari insiden jatuh Kondisi Potensial
Cedera (KPC), Kejadian Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Cedera (KTC),
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) seperti luka robek, fraktur, cedera kepala,
perdarahan sampai kematian, menimbulkan trauma psikologis, meningkatkan
biaya perawatan pasien akibat penambahan tindakan pemeriksaan diagnostik
yang seharusnya tidak perlu dilakukan seperti CT Scan, rontgen atau
pemeriksaan diagnostik lainnya. Dampak bagi rumah sakit sendiri adalah
menimbulkan risiko tuntutan hukum karenadianggap lalai dalam perawatan
pasien (Miake-Lye, 2013dalamNursalam, 2014). Oleh karena itu penulis
membahas tentang “Pengurangan risiko Jatuh”.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini diharapkan penulis mahasiswa dan sebagai
perawat mampu:
1. Mampu memahami konsep dasar risiko jatuh.
2. Mampu memahami faktor risiko terjadinya jatuh.
3. Mampu melakukan pencegahan risiko jatuh.
4. Mengidentifikasi kesenjangan antara teori dan pelaksanaan pengurangan
risiko jatuh di Rumah Sakit

2
5. Mengidentifikasi kejadian insiden di Rumah Sakit.
6. Mampu memahami dan melakukan penatalaksanaan pada pasien jatuh.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih
aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil. (Permenkes RI, 2017)

Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang
melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk
dilantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau
luka (Darmojo, 2006). Penyebab jatuh dapat meliputi faktor fisiologis (pingsan)
atau lingkungan (lantai yang licin). Risiko jatuh adalah pasien yang berisiko
untuk jatuh yang umumnya disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor
fisiologis yang dapat berakibat cidera.

Jatuh adalah suatu peristiwa di mana seseorang mengalami jatuh dengan atau
tanpa disaksikan oleh orang lain, tidak disengaja/tidak direncanakan, dengan
arah jatuh ke lantai, dengan atau tanpa mencederai dirinya (Stanley, 2006)

Berdasarkan dari pengertian tersebut maka risiko jatuh adalah kejadian yang
kurang menyenangkan atau merugikan atau membahayakan yang
mengakibatkan pasien menjadi turun atau meluncur ketempat yang lebih rendah
yang disebabkanolehfaktor ekstrinsik (lingkungan) dan faktor intrinsik
(fisiologi) sehingga dapat menyebabkan bahaya fisik ataucedera dan gangguan
kesadaran

4
B. Faktor-faktor Risiko Jatuh
Faktor-faktor risiko jatuh dibagi menjadi dua yaitu faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik. Faktor intrinsik atau faktor fisiologis terdiri dari riwayat jatuh,
fungsi kognitif, usia atau jenis kelamin, mobilitas atau pergerakan, eliminasi,
dan obat-obatan. Faktor ekstrinsik atau faktor lingkungan terdiri dari staffing,
lantai yang licin, pencahayaan yang redup, penghalang tempat tidur, dan
pengaturan ruangan (National Database of Nursing Quality Indicators, 2011).
1. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari diri individu itu sendri
(host). Faktor intrinsik yang dapat mengakibatkan risiko jatuh seperti usia
diatas 65 tahun dan usia dibawah 2 tahun, keadaan fisiologi (anemia,
artritis, penurunan kekuatan ekstremitas bawah, diare, masalah pada kaki,
gangguan pada sikap tubuh, gangguan pendengaran, gangguan
keseimbangan, hambatan mobilitas fisik, neoplasma, neuropati, hipotensi
ortostatik, kondisi pascabedah, perubahan gula darah postprandial,
penyakit akut, defisit propriosepsi, gangguan tidur, urgensi atau
inkontinensia, penyakit vaskular, dan gangguan penglihatan), kognitif
(perubahan status mental misalnya: konfusi, delirium, demensia dan
gangguan realitas), medikasi (agens antiansietas, antihipertensi, diuretik,
hipnotik dan antidepresan) (Wilkinson, 2011).
2. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik merupakan faktor lingkungan dan memiliki risiko
terhadap kejadian jatuh sebesar 31% (Shobha 2005, dalam Maryam,
2009). Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
keseimbangan dan berkontraksi pada risiko jatuh, kejadian jatuh didalam
ruangan lebih sering terjadi dikamar tidur dan toilet. Lingkungan yang
tidak aman dapat dilihat pada lingkungan luar rumah, ruang tamu, kamar
tidur, toilet, dan tangga atau lorong (Oliver 2004, dalam Budiono 2013).

Lingkungan yang tidak aman pada area luar seperti kondisi lantai yang
retak, jalan depan rumah sempit, pencahayaan yang kurang, kondisi teras
atau halaman, bahaya lingkungan pada area ruang tamu adalah kurangnya
pencahayaan, area yang sempit untuk berjalan, kaki kursi yang miring dan
tinggi kursi yang tidak sesuai dengan tinggi kaki dan sandaran lengan
pada kursi tidak kuat. Kamar tidur berbahaya dapat dilihat dari kondisi
lantai, tinggi tempat tidur, seprai yang tergerai dilantai, penempatan

5
barang dan perabotan yang mudah dijangkau, pencahayaan yang redup,
dan luas area kamar untuk berjalan. Kamar mandi dapat menyebabkan
gangguan keseimbangan atau risiko jatuh diantaranya pencahayaan
kurang, kondisi lantai licin, posisi bak dan toilet tidak aman, dan
peletakkan alat mandi yang tidak mudah dijangkau oleh lansia.
Lingkungan area tangga dan lorong dapat dilihat dari kondisi lantai,
pencahayaan, peganggan, lis tangga, dan lebar tangga (Barnet, 2008).

C. Pencegahan Risiko Jatuh


Pelaksanaan pencegahan risiko jatuh adalah serangkaian tindakan yang
merupakan acuan dalam penerapan langkah-langkah untuk mempertahankan
keselamatan pasien yang berisiko jatuh (Wilkinson, 2011). Manajemen risiko
jatuh pasien jatuh dapat dilaksanakan sejak pasien mendaftar di rumah sakit
hingga pasien pulang (Budiono,2013).

Dalam Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2011, Standar


Akreditasi Rumah Sakit edisi satu, ada pun sasaran risiko jatuh adalah sebagai
berikut:
1. Standar rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk mengurangi
risiko membahayakan pasien akibat dari cedera jatuh;
2. Tujuan menilai dan menilai kembali risiko secara berkala setiap pasien
untuk jatuh, termasuk potensi risiko yang terkait dengan pengobatan
pasien, dan mengambil tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan
risiko yang teridentifikasi;
3. Elemen yang dapat diukur :
a. Rumah sakit menerapkan suatu proses untuk penilaian awal pasien
untuk risiko jatuh dan penilaian ulang pasien ketika ditunjukkan oleh
perubahan dalam kondisi atau pengobatan atau yang lain;
b. Langkah-langkah diterapkan mengurangi risiko jatuh bagi mereka
yang pada pengkajian dianggap berisiko jatuh;
c. Langkah tersebut dipantau untuk melihat hasil tindakan,baik
kesuksesan pengurangan cedera jatuh dan apapun yang terkait
konsekuensiyang tidak diinginkan;
d. Kebijakan dan atau prosedur terus mendukung pengurangan risiko
membahayakan pasien akibat jatuh di organisasi (WHO Patient
safety, 2007 dalam Komite Keselamatan Pasien (RSPERSI/KKPRS
PERSI 2013).
6
Menurut Sutoto dalam KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 2013) contoh
langkah pencegahan pasien jatuh adalah:
1. Anjurkan pasien untuk meminta bantuan yang diperlukan
2. Anjurkan pasien untuk memakai alas kaki yang anti slip,
3. Pastikan bahwa jalur ke toilet bebas dari hambatan dan terang
4. Pastikan lorong bebas hambatan
5. Tempatkan alat bantu seperti tongkat/walker dalam jangkauan pasien
6. Pasang penghalang tempat tidur, evaluasi tinggi tempat tidur.
7. Amati lingkungan yang dianggap berpotensi tidak aman dan segera
laporkan, jangan biarkan pasien yang berisiko jatuh tanpa pengawasan, saat
pasien dibawa menggunakan brandcard/tempat tidur posisi bedside dalam
keadaan terpasang
8. Informasikan dan didik pasien serta keluarga mengenai perawatan untuk
mencegah terjadinya risiko jatuh. Intervensi yang tepat sangat dibutuhkan
dalam pencegahan pasien jatuh dirumah sakit (Setiowati, 2008).

Joint Commision Internasional (JCI) dalam Sentinel Even Alert, Preventing


falls and fall-related injuries in health care facilities tahun 2015 menyarankan
pencegahan risiko jatuh sebagai berikut:
1. Memimpin upaya untuk meningkatkan kesadaran akan perlu nya
pencegahan risiko jatuh yang mengakibatkan cedera.
2. Menetapkan cedera jatuh interdisiplin
3. Gunakan standar alat yang sudah divaliditas untuk mengidentifikasi
faktor risiko jatuh
4. Mengembangkan rencana individual perawatan pada pasien risiko jatuh
dan risiko cedera.
5. Menetapkan intervensi khusus untuk pasien, standarisasi dan menerapkan
praktik dan intervensi yang terbukti efektif, melakukan manajemen jatuh.

Menurut Institute for Clinical System Improvement (ICSI) tahun 2008 adapun
intervensi pencegahan risiko jatuh di rawat inap adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan dukungan organisasi untuk program pencegahan risiko
jatuh
2. Menetapkan proses untuk evaluasi pasien rawat di pendaftaran awal
masuk untuk risiko jatuh
3. Lakukan penilaian identifikasi faktor Risiko,

7
4. Komunikasikan faktor risiko,
5. Lakukan intervensi factor risiko dan pemantauan terus menerus dan
pengkajian ulang.
6. Pencegahan pasien jatuh yaitu dengan penilaian awal risiko jatuh,
penilaian berkala setiap ada perubahan kondisi pasien, serta
melaksanakan langkah-langkah pencegahan pada pasien berisiko jatuh.
7. Implementasi di rawat inap berupa proses identifikasi dan penilaian
pasien dengan risiko jatuh serta memberikan tanda identitas khusus
kepada pasien tersebut, misalnya gelang kuning, penanda risiko, serta
informasi tertulis kepada pasien atau keluarga pasien (KARS, 2013).

Rumah sakit wajib melakukan penanganan pasien dengan risiko jatuh yang
dimulai dari pengkajian awal saat pasien masuk dan pengkajian lanjutan
lainnya saat pasien dirawat di rumah sakit. Faktor-faktor yang sangat
berkaitan dengan risiko jatuh di rumah sakit adalah:
1. Pengkajian yang tidak adekuat
2. Kegagalan komunikasi
3. Kurangnya kepatuhan terhadap protocol dan praktek keselamatan pasien.
4. Orientasi staf yang tidak memadai.
5. Supervisi dan keterampilan serta kepemimpinan yang kurange fektif (The
Joint Commision, 2015).

Menurut Nursing Care Centre National Patient safety Goals (The Joint
Commission, 2015) pada NPSG 09.0.01 tindakan yang dilakukan perawat
dalam pencegahan jatuh adalah:
1. Kaji risiko jatuh pasien.
Pengkajian awal dan harian individu untuk risiko jatuh sangat penting
untuk identifikasi klien yang berisiko jatuh (Potter&Perry, 2013). Faktor
risiko yang harus dikaji untuk mengetahui pasien berisiko jatuh atau tidak
adalah : faktor risiko intrinsik (karakteristik pasien dan fungsi fisik
umum, diagnosis dan perubahan fisik, medisasi dan interaksi obat) dan
faktor ekstinsik atau faktor lingkungan (tingkat pencahayaan, permukaan
lantai furnitur, ketinggian tempat tidur, call bel, penggunaan alat bantu
dan lama hari rawat (Nursalam, 2015).

Pengkajian risiko pasien jatuh merupakan metode pengukuran risiko


pasien untuk jatuh yang dilakukan oleh petugas kesehatan pada semua
pasien yang menjalani rawat inap, bertujuan memberikan perhatian
khusus pada pasien yang berisiko untuk jatuh dibandingkan dengan yang

8
tidak memiliki risiko untuk jatuh dan meminimalkan atau mencegah
jumlah kejadian pasien jatuh dan cedera (Nursalam, 2014). Pengkajian
terhadap pasien risiko jatuh diharapkan dapat meningkatkan
kewaspadaaan terhadap pasien berisiko jatuh (Budiono, 2013).

Pengkajian risiko jatuh Morse atau Morse Fall Scale (MFS) merupakan
salah satu metode yang paling sering digunakan oleh perawat, 82,9%
perawat menilai skala ini cepat dan mudah digunakan, dan 54%
meperkirakan bahwa dibutuhkan kurang dari tiga menit untuk menilai
seorang pasien (Nursalam, 2014). Item yang dikaji dalam pengkajian ini
adalah riwayat jatuh, diagnosa, penggunaan alat bantu jalan, terapi
intravena dan tingkat kesadaran. Dari hasil pengkajian maka didapatkan
kategori risiko jatuh ringan (0-24), risiko jatuh sedang (25-44) dan risiko
jatuh tinggi (≥45).

Pengkajian Geriatrik merupakan pengkajian yang dilakukan untuk


mengkaji pasien risiko jatuh pada lansia, adapun item yang dinilai adalah
riwayat jatuh, status mental, penglihatan, kebiasaan berkemih,
perpindahan dan mobilitas (KARS, 2013). Pengkajian risikojatuh
geriatric. Risiko jatuh memiliki tiga kategori risiko jatuh yaitu risiko
jatuh ringan (0-5), risiko jatuh sedang (6-16) dan risiko jatuh tinggi (16-
30).
2. Intervensi risiko jatuh
Lakukan intervensi risiko jatuh berdasarkan faktor risiko yang sudah
dikaji. Intervensi umum yang dilakukan oleh setiap staf tim kesehatan
seperti biasakan pasien dengan lingkungan yang baru dirumah sakit,
pastikan bel dapat dijangkau pasien, memiliki pegangan yang kokoh
dikamar mandi, ruang dan lorong, tempat tidur dalam posisi rendah,
pastikan tempat tidur dalam posisi terkunci, pastikan cahaya tidak redup,
pastikan lantai tidak licin, komunikasikan risiko jatuh pasien pada
anggota keluarga (Joint Commission Internasional, 2014). Berikut
merupakan intervensi pencegahan risiko jatuh berdasarkan tingkatan
risiko jatuh :

a. Intervensi Risiko Jatuh Ringan

9
1) Mengorientasikan pasien dengan lingkungan sekitar , termasuk
lokasikamar mandi, penggunaan alarm panggilan
2) Menjaga tempat tidur dalam posisi terendah selama penggunaan
kecuali tidak praktis (ketika melakukan prosedur pada pasien)
3) Memasang dua sisi pengaman tempat tidur pasien
4) Kunci roda tempat tidur, tandu, & kursi roda.
5) Menghindari hambatan akses menuju ke toilet
6) Tempatkan alarm panggilan dan benda yang sering dibutuhkan
pasien ke tempat yg dapat di jangkau pasien.
7) Respon segera jika terdengar alarm panggilan.
8) Ajarkan pasien atau keluarga untuk meminta bantuan yang
diperlukan.
9) Gunakan alas kaki non slip.

b. Intervensi risiko jatuh sedang


Intervensi yang dilakukan untuk menjaga lingkungan unit aman:
1) Membuang kelebihan peralatan atau perlengkapan atau furniture
dari kamar dan lorong.
2) Menjauhkan dan mengamankan kelebihan kabel listrik dan
telepon atau kabel.
3) Membersihkan semua tumpahan di kamar pasien atau di lorong
segera.
4) Tempatkan tanda untuk menunjukkan bahaya lantai
basah.Sistem penandaan Institute
5) Pasang gelang atau stiker risiko jatuh pasien.
6) Pasang stiker segitiga risiko jatuh berwarna kuning pada pintu
atau tempat tidur pasien.

10
Ikuti intervensi risiko jatuh rendah ditambah:
1) Pantau & membantu pasien dalam mengikuti jadwal harian.
2) Mengawasi atau mendampingi di samping tempat tidur pasien,
kebersihan pribadi dan ke toilet yang sesuai untuk pasien.
3) Reorientasi pasien bingung diperlukan.
4) Menetapkan jadwal eliminasi dan penggunaan samping tempat
tidur jika dibutuhkan.

c. Intervensi risiko jatuh tinggi.


Menjaga lingkungan unit aman:
1) Membuang kelebihan peralatan atau perlengkapan atau furniture
dari kamar dan lorong.
2) Menjauhkan dan mengamankan kelebihan kabel listrik dan telepon.
3) Membersihkan semua tumpahan di kamar pasien atau di lorong
segera.Sistem penandaan Institute.
4) pasang gelang dan stiker risiko jatuh pasien.

11
5) pasang stiker segitiga risiko jatuh berwarna merah pada pintu atau
tempat tidur pasien.
6) Ikuti intervensi risiko jatuh rendah dan sedang ditambah:
a) Tetap dengan pasien saat pasienke toilet.
b) Mengamati pasien 60 menit
c) Ketika pasien membutuhkan mobilisasi harus dengan bantuan
dari staf atau pemberi perawatan terlatih.
d) Pertimbangkan prosedur samping tempat tidur.
7) Lakukan evaluasi dan jika diperlukan lakukan tindakan
pencegahan ketat berikut:
a) Memindahkan pasien ke kamar dengan akses visual terbaik
ke ruang perawat.
b) Aktifkan alarm tempat tidur atau kursi.
c) Pemantauan dengan perbandingan perawat 1:1
d) Lakukan restrain fisik jika dibutuhkan.

3. Edukasi staf dalam program pengurangan risiko jatuh yang telah


ditetapkan organisasi.
Dukungan organisasi dalam membuat pencegahan risiko jatuh sangat
diutamakan dan diperlukan untuk mencapai hasil yang terbaik dalam
pencegahan jatuh (JCI, 2015). Organisasi harus memiliki kelompok
interdisiplin untuk mengawasi pencegahan risiko jatuh. Pencegahan
risiko jatuh juga harus ditinjau dan diperbaharui secara berkala setiap
tahunnya, setiap rumah sakit harus memiliki kebijakan program
pencegahan risiko jatuh dan merancang intervensi berdasarkan populasi
dan unit tertentu. Setiap staf dididik untuk memahami indikator
pencegahan jatuh dan harus mengerti indikator lingkungan yang dapat
menjadi potensi bahaya terhadap keselamatan pasien berisiko jatuh.

Komunikasi pencegahan jatuh juga dilakukan antar staf tim kesehatan,


tujuan komunikasi ini adalah pertukaran informasi antar staf tim
kesehatan lainnya. Komunikasi visual yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi pasien yang berisiko jatuh adalah seperti beri tanda
segitiga risiko jatuh di kamar atau dikamar mandi, pasangkan gelang
risiko berwarna kuning sebagai tanda gelang risiko jatuh, pemasangan
stiker atau poster logo risiko jatuh. Setiap anggota tim kesehatan harus
dididik dan mengenali simbol tersebut

12
4. Edukasi pasien atau keluarga
Edukasi pasien atau keluarga jika dibutuhkan pada setiap tindakan
pencegahan risiko jatuh. Pelaksanaan manajemen risiko jatuh pasien juga
melibatkan keluarga atau pendamping pasien, mengajak keluarga untuk
terlibat dan berperan aktif dalam pelaksanaan manajemen risiko jatuh
pasien. Perawat juga dapat memberitahu risiko jatuh pada saat masuk
rumah sakit, jelaskan program pencegahan dan didik keluarga dalam
mengenal dan memahami komunikasi visual risiko jatuh, komukasikan
bagaimana pasien dan anggota keluarga dapat membantu dalam
mencegah risiko jatuh (Budiono, 2013).

Pasien dan keluarga juga sebaiknya di informasikan mengenai


komunikasi visual yang ada di kamar pasien serta gelang berwarna
kuning yang digunakan pasien. Semua keluarga juga pengunjung harus
dididik dalam mengenali dan memahami simbol tersebut serta cara
mendapatkan bantuan dari staf jika membutuhkan (Joint commission
Internasionl, 2013)

5. Evaluasi keefektifan dari semua aktivitas pengurangan risiko jatuh,


termasuk pengkajian, intervensi, dan edukasi.
Semua pasien yang dirawat perlu dipantau dan dinilai secara rutin dan
berkala. Pengkajian ulang oleh perawat merupakan salah satu strategi
yang dapat menentukan kebutuhan lanjutan (Oliver, 2004 dalam Budiono,
2013). Pasien harus tetap selalu dipantau untuk mengetahui perubahan,
pemantauan ini tidak hanya dilakukan pada pasien risiko jatuh tinggi
namun kepada semua pasien risiko jatuh. Pengkajian ulang untuk
mengetahui perubahan status klinis pasien yang mempengaruhi risiko
jatuh pasien. Jika faktor risiko telah berubah dari pengkajian sebelumnya
maka intervensi harus diubah mengikuti faktor-faktor risiko baru.

D. Tim keselamatan Pasien Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun


2017 Dalam rangka meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di fasilitas
pelayanan kesehatan, Menteri membentuk Komite Nasional Keselamatan

13
Pasien untuk meningkatkan keselamatan pasien di fasilitas pelayanan
kesehatan. Komite Nasional Keselamatan Pasien menyelenggarakan fungsi:
1. Penyusunan standar dan pedoman Keselamatan Pasien
2. Penyusunan dan pelaksanaan program Keselamatan Pasien
3. Pengembangan dan pengelolaan sistem pelaporan Insiden, analisis, dan
penyusunan rekomendasi Keselamatan Pasien
4. Kerja sama dengan berbagai institusi terkait baik dalam maupun luar negeri
5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program Keselamatan Pasien

E. Standar Keselamatan Pasien


Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus menyelenggarakan Keselamatan
Pasien yang dilakukan melalui pembentukan sistem pelayanan agar menjamin
pelaksanaan:

1. Asuhan pasien lebih aman, melalui upaya yang meliputi asesmen risiko,
identifikasi dan pengelolaan risiko pasien
2. Pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, dan tindak
lanjutnya
3. Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Penyelenggaraan Keselamatan Pasien dilakukan melalui pembentukan sistem


pelayanan yaitu:
1. Standar Keselamatan Pasien
a. Hak pasien
b. Pendidikan bagi pasien dan keluarga
c. Keselamatan Pasien dalam kesinambungan pelayanan
d. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
peningkatan Keselamatan Pasien
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan Keselamatan Pasien
f. Pendidikan bagi staf tentang Keselamatan Pasien
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai Keselamatan
Pasien.
2. Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal:

14
a. Mengidentifikasi pasien dengan benar
b. Meningkatkan komunikasi yang efektif
c. Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai
d. Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar,
pembedahan pada pasienyang benar
e. Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan
f. Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh.
3. Tujuh langkah menuju Keselamatan Pasien terdiri atas:
a. Membangun kesadaran akan nilai Keselamatan Pasien;
b. Memimpin dan mendukung staf
c. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko
d. Mengembangkan sistem pelaporan
e. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan Pasien
g. Mencegah cedera melalui implementasi sistem Keselamatan Pasien.

F. Cara untuk Mengurangi Risiko Cedera Akibat Jatuh

Dalam buku "Preventing Falls in Hospitals: A Toolkit for Improving Quality of


Care" disebutkan upaya upaya untuk mengurangi terjadinya kejadian pasien
terjatuh di rumah sakit, yaitu:

1. Membiasakan pasien dengan lingkungan sekitarnya.

2. Menunjukkan pada pasien alat bantu panggilan darurat.

3. Posisikan alat bantu panggil darurat dalam jangkauan.

4. Posisikan barang-barang pribadi dalam jangkauan pasien.

5. Menyediakan pegangan tangan yang kokoh di kamar mandi, kamar dan


lorong.

15
6. Posisikan sandaran tempat tidur rumah sakit di posisi rendah ketika pasien
sedang beristirahat, dan posisikan sandaran tempat tidur yang nyaman
ketika pasien tidak tidur.

7. Posisikan rem tempat tidur terkunci pada saat berada di bangsal rumah sakit.

8. Menjaga roda kursi roda di posisi terkunci ketika stasioner.

9. Gunakan alas kaki yang nyaman, baik, dan tepat pada pasien.

10. Gunakan lampu malam hari atau pencahayaan tambahan.

11. Kondisikan permukaan lantai bersih dan kering. Bersihkan semua


tumpahan.

12. Kondisikan daerah perawatan pasien rapi.

13. Ikuti praktek yang aman ketika membantu pasien pada saat akan ke tempat
tidur dan meninggalkan tempat tidur.

G. Komplikasi
Menurut Kane (1996), yang dikutip oleh Darmojo (2006), komplikasi-
komplikasi jatuh adalah :
1. Perlukaan (injury)
Perlukaan (injury) mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang terasa
sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya
arteri/vena, patah tulang atau fraktur misalnya fraktur pelvis, femur,
humerus, lengan bawah, tungkai atas.
2. Disabilitas
Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan dengan
perlukaan fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu kehilangan
kepercayaan diri dan pembatasan gerak.
3. Kematian.

H. Insiden di fasilitas pelayanan kesehatan

16
Insiden Keselamatan Pasien yang selanjutnya disebut Insiden, adalah setiap
kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien. (Permenkes RI, 2017)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun


2017 ada beberapa insiden antara lain:
1. Kondisi Potensial Cedera (KPC) merupakan kondisi yang sangat berpotensi
untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.
2. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) merupakan terjadinya insiden yang belum
sampai terpapar ke pasien.
3. Kejadian Tidak Cedera (KTC) merupakan insiden yang sudah terpapar ke
pasien, tetapi tidak timbul cedera.
4. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan Insiden yang mengakibatkan
cedera pada pasien
5. Sentinel merupakan kejadian tidak diharpakan yang mengakibatkan
kematian, cedera permanen, atau cedera berat yang temporer dan
membutuhkan intervensi untuk mempetahankan kehidupan, baik fisik
maupun psikis, yang tidak terkait dengan perjalanan penyakit.

I. Penatalaksanaan Pasien Bila Terjadi Jatuh


Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus melakukan penanganan Insiden.
Penanganan Insiden ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
dan Keselamatan Pasien yang dilakukan melalui pembentukan tim Keselamatan
Pasien yang ditetapkan oleh pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai
pelaksana kegiatan penanganan Insiden. Ada pun kegiatan berupa pelaporan,
verifikasi, investigasi, dan analisis penyebab Insiden tanpa menyalahkan,
menghukum, dan mempermalukan seseorang.

1. Setiap Insiden harus dilaporkan secara internal kepada tim Keselamatan


Pasien dalam waktu paling lambat 2x24 (dua kali dua puluh empat) jam
dengan menggunakan format laporan dan diverifikasi oleh tim Keselamatan
Pasien untuk memastikan kebenaran adanya Insiden.
2. Setelah melakukan verifikasi laporan tim Keselamatan Pasien melakukan
investigasi dalam bentuk wawancara dan pemeriksaan dokumen.

17
3. Tim Keselamatan Pasien menentukan derajat insiden (grading) dan
melakukan Root Cause Analysis (RCA) dengan metode baku untuk
menemukan akar masalah Tim keselamatan pasien harus memberikan
rekomendasi keselamatan pasien kepada pimpinan fasilitas pelayanan
kesehatan berdasarkan hasil Root Cause Analysis (RCA)

J. Implementasikan Solusi-Solusi Untuk Mencegah Cidera


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
2017. Ketidakmampuan dalam mengenali bahwa penyebab kegagalan yang
terjadi di satu Fasilitas pelayanan Kesehatan bisa menjadi cara untuk mencegah
risiko terjadinya kegagalan di Fasilitas pelayanan Kesehatan yang lain.

Pembelajaran lewat perubahan-perubahan didalam praktek, proses atau sistem.


Untuk sistem yang sangat komplek seperti Fasilitas pelayanan Kesehatan untuk
mencapai hal-hal diatas dibutuhkan perubahan budaya dan komitmen yang
tinggi bagi seluruh staf dalam waktu yang cukup lama.

Solusi-solusi untuk mencegah cidera

1. Gunakan informasi yang berasal dari sistem pelaporan insiden, asesmen


risiko, investigasi insiden, audit dan analisa untuk menetapkan solusi di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Hal ini mencakup redesigning system dan
proses, penyelarasan pelatihan staf dan praktek klinik.
2. Lakukan asesmen tentang risiko-risiko untuk setiap perubahan yang
direncanakan.
3. Monitor dampak dari perubahan-perubahan tersebut
4. Implementasikan solusi-solusi yang sudah dikembangkan eksternal. Hal ini
termasuk solusi yang dikembangkan oleh KNKP atau Best Practice yang
sudah dikembangkan oleh Fasilitas Klesehatan lain
5. Libatkan tim anda dalam pengembangan cara-cara agar asuhan pasien lebih
baik dan lebih aman.
6. Kaji ulang perubahan-perubahan yang sudah dibuat dengan tim anda untuk
memastikan keberlanjutannya

18
7. Pastikan tim anda menerima feedback pada setiap followup dalam pelaporan
insiden.

K. Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien


Sangat penting bagi staf fasilitas pelayanan kesehatan untuk dapat menilai
kemajuan yang telah dicapai dalam memberikan asuhan yang lebih aman.
Dengan tujuh langkah menuju keselamatan pasien Fasilitas pelayanan Kesehatan
dapat memperbaiki keselamatan pasien, melalui perencanaan kegiatan dan
pengukuran kinerjanya. Melaksanakan tujuh langkah ini akan membantu
memastikan bahwa asuhan yang diberikan seaman mungkin, dan jika terjadi
sesuatu hal yang tidak benar bisa segera diambil tindakan yang tepat. Tujuh
langkah ini juga bisa membantu Fasilitas pelayanan Kesehatan mencapai
sasaran-sasarannya untuk Tata Kelola Klinik, Manajemen Risiko, dan
Pengendalian Mutu. (Permenkes RI, 2017)

Tujuh langkah menuju keselamatan pasien terdiri dari :


1. Membangun kesadaran akan nilai Keselamatan Pasien. Ciptakan budaya adil
dan terbuka
2. Memimpin dan mendukung staf. Tegakkan fokus yang kuat dan jelas tentang
keselamatan pasien diseluruh Fasilitas pelayanan Kesehatan anda.
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Bangun sistem dan proses
untuk mengelola risiko dan mengindentifikasi kemungkinan terjadinya
kesalahan
4. Mengembangkan sistem pelaporan. Pastikan staf anda mudah untuk
melaporkan insiden secara internal (lokal ) maupun eksternal (nasional).
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Kembangkan cara-cara
berkomunikasi cara terbuka dan mendengarkan pasien.
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan Pasien. Dorong staf
untuk menggunakan analisa akar masalah guna pembelajaran tentang
bagaimana dan mengapa terjadi insiden.
7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem Keselamatan Pasien
Pembelajaran lewat perubahan-perubahan didalam praktek, proses atau
sistem. Untuk sistem yang sangat komplek seperti Fasilitas pelayanan

19
Kesehatan untuk mencapai hal-hal diatas dibutuhkan perubahan budaya dan
komitmen yang tinggi bagi seluruh staf dalam waktu yang cukup lama.

20
BAB III
ANALISA SITUASI

A. Profil Rumah Sakit


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
514/MENKES/SK/III/2011, RSUP Persahabatan Merupakan Rumah Sakit
puncak rujukan dalam kesehatan respirasi yang telah memiliki persyaratan dan
kemampuan pelayanan sebagai Rumah Sakit Umum Kelas A. RSUP
Persahabatan memiliki tanggung jawab kepada masyarakat untuk senantiasa
dapat meningkatkan pelayanan kesehatan tertinggi dalam skala kelas rumah sakit
rujukan di Indonesia. Sesuai dengan Misi Rumah Sakit yaitu Melaksanakan
pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien,
melaksanakan pendidikan, penelitian dan pelatihan kedokteran dan tenaga
kesehatan lain. Mengembangkan pelayanan yang terintegrasi dengan penelitian
dan pendidikan dalam bidang kesehatan respirasi. Dan melaksanakan tata kelola
rumah sakit dan tata kelola klinis yan berstandar internasional.

Berdasarkan Laporan Instalasi Rawat Inap B RSUP Persahabatan tahun 2018


selama bulan januari sampai September untuk kejadian pasien tidak jatuh ialah
100%. Upaya untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya pasien jatuh
dengan atau tanpanya cidera sudah sangat optimal dilakukan oleh RSUP
Persahabatan. RSUP Persahabatan selalu berupaya memberikan pelayanan
professional bermutu tinggi yang berfokus pada keselamatan (safety) dan
kepuasaan dapat terlaksana sesuai Permenkes RI tahun 2017.

21
DATA KEJADIAN PASIEN JATUH DI INSTALASI RAWAT INAP B RSUP
PERSAHABATAN TAHUN 2018 (JANUARI-SEPTEMBER)
No Bulan (2018) Jumlah Pasien Berisiko Jatuh Jumlah Persentase Pasien
Dewasa Anak Pasien Jatuh Tidak Jatuh
1 Januari 479 189 0 100 %
2 Februari 437 166 0 100 %
3 Maret 453 188 0 100 %
4 April 474 190 0 100 %
5 Mei 404 165 0 100 %
6 Juni 341 124 0 100 %
7 Juli 493 149 0 100 %
8 Agustus 470 149 0 100 %
9 September 411 161 0 100 %
*Instalasi Rawat Inap B Terdiri dari 5 Ruang rawat inap dewasa dan 2 Ruang rawat
inap anak

KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT RSUP


PERSAHABATAN
NOMOR HK. 02.03/IX.1/14.5/2018

22
TENTANG
KEBIJAKAN MENGURANGI RISIKO CEDERA PASIEN AKIBAT JATUH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PERSAHABATAN

Menimbang:
a. bahwa untuk melaksanakan tugas pelayanan kesehatan yang
bermutu dan professional khususnya pencegahan dan
mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh di RSUP
Persahabatan perlu dilakukan secara benar dan sesuai standar
yang berlaku;
b. Bahwa upaya pencegahan dan mengurangi risiko cedera
pasien akibat jatuh dikarenakan dalam masa perawatan pasien
perlu dilakukan tindakan dan langkah-langkah penanganan
secara tepat, komprehensif dan berkelanjutan;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Keputusan
Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan
tentang Kebijakan Mengurangi Risiko Cidera Pasien Akibat
Jatuh;
Mengingat :

1. Undang - Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktk


Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431);
2. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5063);
3. Undang – Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Rumah Sakit (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 153,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5072);

23
4. Undang–Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5494);
5. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 298, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5607);
6. Undang – Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang
Keperawatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 307, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5612);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran
Negara Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4502) sebagaimana telah di ubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 (Lembaran Negara Tahun
2012 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5340);
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1679/MENKES/PER/XII/2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/MENKES/PER
IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran ( Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 464);
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1475);
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang
Keselamatan Pasien ( Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2017 Nomor 308);
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1234/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Penetapan 13 (tiga
belas) Eks Rumah Sakit Perusahaan Jawatan (Perjan)
Menjadi Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Departemen

24
Kesehatan dengan Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum;
13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
KP.03.01/Menkes/504/2014 tentang Pengangkatan,
Pemindahan Dan Pemberhentian Dalam Dan Dari Jabatan
Struktural Di Lingkungan Kementerian Kesehatan;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT UMUM


PUSAT PERSAHABATAN TENTANG KEBIJAKAN
MENGURANGI RISIKO CEDERA PASIEN AKIBAT JATUH

KESATU : Memberlakukan Kebijakan Mengurangi Risiko Cedera Pasien


Akibat Jatuh di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan

KEDUA : Kebijakan Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat Jatuh


sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU tercantum
dalam Lampiran Keputusan Ini

KETIGA : Kebijakan Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat Jatuh


sebagai acuan petugas kesehatandalam upaya mencegah dan
mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh yang dapat timbul
sebagai akibat perawatan pasiem di RSUP Persahabatan.

KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal di tetapkan dengan


ketentuan akan dilakukan perbaikan apabila ada perubahan

B. KEBIJAKAN MENGURANGI RISIKO CEDERA PASIEN AKIBAT


JATUH DI RSUP PERSAHABATAN
1. Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Menetapkan Kebijakan
Untuk Mengurangi Risiko Cedera Akibat Jatuh Pasien Rawat Inap

25
b. Semua pasien masuk ke rawat inap dilakukan pengkajian awal risiko
jatuh bersamaan dengan pelaksanaan assesmen awal pasien rawat inap
di formulir asessmen awal pasien rawat inap.
c. Assesmen ulang atau assesmen lanjutan dilakukan bila terjadi
perubahan kondisi atau memang sudah mempunyai risiko jatuh
berdasarkan hasil pengkajian, seperti :
A. Setelah pasien jatuh (Post Falls) dengan kode : PF

B. Terjadi perubahan kondisi (Change of Condition) dengan kode :CC


Yang dimaksud perubahan kondisi ialah :
a) Pasien pasca operasi
b) Pasien pasca sedasi
c) Pasien pasca tindakan invasive risiko tinggi
d) Penambahan obat-obat sedative (kecuali pasien ICU yang
menggunakan sedasi dan paralisis), hipnotik, barbiturate,
fenotiazin, antidepresan, laksans/diuretika dan narkotika
e) Obat-obatan berisiko tinggi (diuretik, narkotik,
sedative,antipsikotik, laksatif, vasodilator, aritmia,
antihipertensi, obat hipoglikemik, antidepresan, neuroleptic,
NSAID,hipnotik, barbiturate,fenotiazin
f) Penurunan kesadaran
g) Menerima pasien pindahan dari ruangan lain (On Ward
Transfer) dengan kode : WT
h) Setiap hari dipagi hari (Every day in the morning ) dengan
kode : EM
i) Saat pasien pulang (Discharge) dengan kode : DC
d. Memberlakukan formulir bantu pengkajian risiko jatuh pasien rawat
inap yang terdiri dari :
1) Assesmen risiko jatuh untuk dewasa dan geriatric menggunakan
skala morse. Bila dari hasil assesmen pasien di identifikasi
mempunyai risiko jatuh maka dilakukan intervensi sesuai tingkat
risiko sebagai berikut :
a) Tidak berisiko atau risiko rendah dengan skor ≤24 dilakukan
intervensi dengan melakukan satu atau lebih intervensi dan
monitoring standar pencegahan risiko jatuh dewasa/geriatri dan
dikaji ulang setiap hari dipagi hari (setiap 24 jam).
b) Risiko sedang : 25-44, lakukan satu atau lebih intervensi dan
monitoring risiko jatuh dewasa/geriatri dan dikaji ulang setiap
hari dipagi hari (setiap 24 jam)
26
c) Risiko tinggi dengan skor ≥45 lakukan intervensi dengan
melakukan satu atau lebih intervensi dan monitoring standar
pencegahan risiko jatuh dewasa/geriatri dan dikaji ulang setiap
8 jam atau setiap shift.
d) Assesmen risiko jatuh anak menggunakan skala Humpty
Dumpty. Skala Humpty Dumpty digunakan bagi anak usia ≥12
tahun sampai 18 tahun. Bila dari hasil assesmen pasiem
diidentifikasi mempunyai risiko jatuh maka diberlakukan
intervensi sesuai tingkat sebagai berikut :
(1) Tidak berisiko dan risiko rendah (Skor 7-11) dilakukan
satu atau lebih intervensi/monitoring standar pencegahan
risiko jatuh anak dan dikaji ulang setiap hari di pagi hari
(2) Risiko tinggi skor ≥12, dilakukan satu atau lebih
intervensi/monitoring standar dan intervensi pencegahan
risiko jatuh anak sesuai kebutuhan dan dijaki setiap 8 jam
atau setiap shift.
e. Semua pasien anak berumur ≤12 tahun, dinilai risiko tinggi jatuh.
Pasien anak ≤12 tahun dilakukan intervensi dan monitoring pencegahan
risiko jatuh.
f. Semua pasien intersive care dinilai risiko jatuh tinggi, dilakukan
intervensi dan monitoring pencegahan risiko jatuh
g. Pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dilakukan pengkajian risiko
jatuh pada saat assesmen awal gawat darurat

2. Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Menetapkan Kebijakan


Untuk Mengurangi Risiko Cedera Akibat Jatuh Pasien Rawat Jalan
a. Skrining awal pasien rawat jalan dilaksanakan oleh satpam yang sudah
dilatih atau oleh perawat piket di loby pendaftaran melalui observasi
visual mengacu pada butir penilaian atau pengkajian yang terdapat pada
formulir assesmen risiko jatuh pasien rawat jalan. Butir penilaian atau
pengkajian tersebut terdiri dari dua penyataan sebagai berikut :
1) Cara berjalan pasien (salah satu atau lebih) : Tidak
seimbang/sempoyongan/limbung, jalan dengan menggunakan alat
bantu (kruk,tripot, kursi roda, dibantu orang lain), pasien datang
dengan ambulan

27
2) Menopang saat akan duduk : tampak memegang pinggiran kursi
atau meja/benda lain sebagai penopang saat akan duduk
3) Pasien yang dari hasil skrining diidentifikasi mempunyai risiko
jatuh dilakukan intervensi sebagai berikut :
a) Bila hanya 1 penyataan “ya” pasien di kategorikan risiko
rendah jatuh dan dilakukan edukasi sesuai dengan edukasi
risiko rendah jatuh pasien rawat jalan, antara lain:
(1) Menggunakan alas kaki yang nyaman dan tepat (tidak
licin, tidak tinggi)
(2) Berpegangan pada saat dikamar mandi, bila akan duduk
maupun berdiri
(3) Selalu memastikan roda kursi roda dalam keadaan
terkunci bila berdiri (bila pasien menggunakan kursi roda)
b) Bila 2 pernyataan “ya” pasiien dikategorikan risiko tinggi jatuh
dan dilakukan tindakan pencegahan dan edukasi sebagai
berikut :
(1) Tindakan pencegahan jatuh :
(a) Naikkan pasien ke kursi roda atau brankar
(b) Pasang stiker kuning risiko jatuh pada baju depan
pasien
(c) Bila menggunakan brankar, pasang dengan posisi
paling rendah
(2) Edukasi pasien dan keluarga agar :
(a) Selama berobat tidak boleh berjalan kaki namun harus
menggunakan kursi roda atau brankar
(b) Pengaman tempat tidur/brankar harus selalu dalam
keadaan terpasang
(c) Roda kursi roda atau brankar harus dalam posisi
terkunci pada saat berhenti
4) Pasien yang dilakukan skrining oleh satpam atau petugas lain yang
terlatih adalah :
a) semua pasien rujukan yang datang dengan menggunkan
ambulan
b) pasien dengan gangguan berjalan atau gangguan keseimbangan
c) pasien dengan gangguan penglihatan
d) pasien dengan menggunakan kursi roda dan alat bantu berjalan
lainnya.
e) Pasien dengan alat kesehatan yang masih terpasang seperti
kateter, WSD, drainase pasca operasi dan lain-lain.
5) Skrining di setiap klinik dilakukan oleh perawat pada saat
melakukan assessmen awal pasien rawat jalan.

28
6) Intervensi risiko jatuh rawat jalan ditulis oleh perawat dalam
pengkajian rekam medik pasien pada lembar CPPT bagi pasien
baru dan pada formulir pengkajian dan intervensi risiko jatuh
pasien rawat jalan pada kunjungan berikutnya bagi pasien yang
diidentifikasi mempunyai risiko jatuh.
7) Semua pasien anak di klinik anak dikategorikan berisiko jatuh
sehingga tidak perlu dilakukan skrining namun lansung diberikan
edukasi pencegahan jatuh, antara lain:
a) Orang tua harus selalu mendampingi anak selama berobat.
b) Orang tua pasien di ingatkan untuk memastikan gendongan
dalam keadaan aman
c) Bagi pasien anak yang menggunakan kursi roda/brankar
pastikan roda dalam keadaan terkunci bila dalam posisi
berhenti atau bila pasien berpindah dari kursi roda/brankar.
8) Intervensi untuk mengurangi risiko jatuh di unit atau instalasi
penunjang rawat jalan sebagai berikut;
b. Skrining dilakukan oleh petugas yang sudah dilatih di masingmasing
instalasi pemeriksaan penunjang terseebut dengan skrining observasi
visual (by watch) untuk mengidentifikasi risiko jatuh. Bila ada pasien
yang menggunakan kursi roda, atau alat bantu lainnya atau jalan
sempoyongan makan langsung diarahkan ketempat yang aman dan
menjadi perhatian petugas yang ada diarea tersebut. Pasien mendapat
prioritas pelayanan.
c. Pasien pasa dilakuka tindakan penunjang dan tindakan invasive dan
tindakan invasive dilakukan skrining risik jatuh denan menanyakan
keluhan pasien. Bila diindentifikasi mempunyai risiko jatuh makan
digunakan alat bantu yaitu formulir pengkajian dan intervensi risiki
jatuh pasien rawat jalan. Pasien yang dimaksud antara lain:
1) Pasien pasca dilakukan tindakan pemeriksaan radiologi dengn
menggunakan kontras atau obat lainnya.
2) Pasien pasca tindakan di ruang rehabilitasi medic
3) Pasien yang menjalani radioterapi
4) Pasien yang menjalani pengobatan TB MDR di klinik TB MDR.
5) Pasien yang dilakukan plebotomi untuk pemeriksaan laboratorium
6) Seluruh pasien yang menjalani hemodialisa
7) Seluruh pasien yang menjalani kemoterapi.

29
C. Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Menetapkan Langkah-Langkah
Pengurangan Risiko Cedera Akibat Jatuh Berkaitan dengan Kondisi dan
Lingkungan
1. Pemasangan karet anti slip pada ram atau tanjakan
2. Pemasangan strip kuning anti sklip pada lantai yang tidak rata atau lantai
yan berbeda ketinggian.
3. Pemberian tanda silang dengan lakban warna kuning pada lantai yang
pecah.
4. Memasang handrail pada kamar mandi dan tangga
5. Pemasangan signed risiko jatuh di tangga.
6. Pemasangan bel pasien di kamar mandi

7. Petugas yang akan menggunakan alat transportasi pasien harus melakkan


checist pada alat transportasi tersebut, antaralain: kursi roda, brankar, tempat
tidur.

D. Penatalaksanaan Pasien Bila Terjadi Jatuh


1. Pasien rawat inap yang telah mempunyai dokter penaggung jawab pasien
(DPJP) maka assesmen menyeluruh dilakukan oleh DPJP atau dokter jaga
kemudian melaporkan ke DPJP untuk penatalaksaan selanjutnya.
2. Pasien rawat jalan assessment secara menyeluruh dilakukan oleh dokter
terdekat dengan lokasi jatuh dan dilakukan intervensi sesuai keputusan
dokter
3. Pelaporan kejadian jatuh dilakukan dengan menggunakan formulir insiden
Keselamatan Pasien (IKP) dan ditindak lanjuti sesuai dengan prosedur
pelaporan IKP.

i. Alur Pelaporan Insiden

PETUGAS/KARYAWAN YANG
MENGALAMI ATAU MENGETAHUI
KRONOLOGIS KEJADIAN

ATASAN LANGSUNG

TIM KRS-KP

POKJA RCA TIM KRS-KP

30
KETUA TIM
KOMISI KRS-KP
MUTU DAN DIREKTUR MEDIK DAN
KESELAMATAN KEPERAWATAN
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang
melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk
dilantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau
luka. Bila risiko pasien cedera karna jatuh ini bisa dikurangi, maka proses
penyembuhan klien akan lebih cepat dan meningkatnya mutu pelayanan rumah
sakit. Memberikan keselamatan kepada pasien merupakan hal yang sangat
penting. Dan untuk mencapai keselamatan pasien diperlukan sasaran-sasaran
keselamatan pasien, salah satunya adalah mengurangi risiko pasien cedera
karena jatuh. Adapun fasilitas pelayanan kesehatan harus menyelenggarakan
Keselamatan Pasien yang dilakukan melalui pembentukan sistem pelayanan agar
menjamin pelaksanaan seperti: Asuhan pasien lebih aman, melalui upaya yang
meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, dan tindak lanjutnya,
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini penulis berharap, mahasiswa dan sebagai perawat
diharap dapat memahami cara mengurangi mengurangi risiko pasien cedera
karena jatuh.

31