Anda di halaman 1dari 31

Contoh Proposal Karya Tulis Ilmiah

DESAIN ALAT PERAMAL CUACA DAN MEDIA PEMBELAJARAN TENTANG


CUACA MENGGUNAKAN LINTAH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cuaca adalah keadaan atmosfer di suatu wilayah yang tidak terlalu luas yang terjadi
dalam waktu singkat (6 jam sampai 1 tahun). Cuaca dipengaruhi oleh iklim.
Sedangkan pengertian dari iklim adalah keadaan atmosfer di suatu wilayah yang luas
dan terjadi dalam waktu lama (lebih dari 10 tahun).

Di Indonesia cuaca selalu diumumkan untuk jangka waktu sekitar 24 jam melalui
prakiraan cuaca hasil analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Namun
untuk negara maju, cuaca sudah diumumkan setiap jam dan sangat akurat.

Secara umum, Indonesia terletak pada zona iklim tropis karena posisi lintangnya
terletak antara 6⁰ LU – 11⁰LS. Tetapi karena adanya beberapa faktor geografis, pola
iklim di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Maka dari itu, perubahan cuaca
di Indonesia tidak selalu menentu, tergantung pada faktor-faktor yang
mempengaruhinya.

Karena itulah tidak jarang masyarakat yang mengeluh tentang cuaca perubahan
cuaca yang secara tiba-tiba. Ada beberapa cara untuk mengenali dan mengetahui
tanda-tanda cuaca. Salah satunya adalah dengan menggunakan hewan lintah. Lintah
adalah hewan parasit penghisap darah yang biasa hidup di sawah, danau, sungai,
rawa, dan tempat-tempat yang berair lainnya. Lintah berbentuk seperti cacing,
namun ukurannya lebih besar dan lebih pendek. Seringkali lintah menempel pada
tubuh hewan lain atau manusia dan kemudian menghisap darahnya. Setelah
menghisap darah, tubuh lintah menjadi lebih besar dari sebelumnya, dan sesudah
merasa kenyang lintah akan melepaskan diri dari inangnya tersebut.

Selain sebagai hewan parasit, tetapi di sisi lain lintah memiliki beberapa manfaat.
Salah satunya adalah untuk memprediksi cuaca atau sebagai barometer cuaca. Kita
dapat memperkirakan cuaca yang akan terjadi dengan cara menempatkan lintah
pada gelas atau tabung yang berisi air. Jika lintah tetap berada pada dasar gelas atau
tabung, maka pertanda cuaca akan buruk. Apabila lintah merambat naik ke
permukaan, maka pertanda cuaca akan baik. Dan jika lintah melekat erat-erat pada
gelas dan menggerak-gerakkan ekornya dengan keras, maka pertanda akan terjadi
badai topan. Cara tersebut telah dilakukan oleh para peramal zaman dahulu sekitar
abad kesebelas. Maka dari itu, diadakan suatu penelitian untuk mengetahui cara
lintah meramalkan cuaca.

B. Identifikasi Masalah

1. Cuaca yang sering berubah secara tak menentu.

2. Ramalan tenatang cuaca di Indonesia kurang akurat.

3. Teori mengenai lintah yang peka terhadap perubahan cuaca.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas adalah:

1. Bagaimana pengaruh cuaca terhadap perilaku lintah?

2. Bagaimana desain alat untuk memprediksi cuaca dengan menggunakan


lintah?

3. Bagaimana desain alat pembelajaran tentang perubahan cuaca menggunakan


lintah?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui pengaruh cuaca terhadap perilaku lintah.

2. Membuat desain alat untuk memprediksi cuaca dengan menggunakan lintah.

3. Membuat desain alat pembelajaran tentang perubahan lingkungan dengan


menggunakan lintah.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Masyarakat dapat mengetahui pemanfaatan lintah untuk memprediksi cuaca


yang akan terjadi.

2. Menambah alat peraga pembelajaran tentang pembelajaran cuaca.

F. Batasan Istilah
1. Curah Hujan

Banyaknya air hujan yang turun di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu
(KBBI).

2. Tekanan udara

Berat udara di atas titik pengukuran. Massa udara dipengaruhi tekanan atmosfer
umum di dalam massa tersebut, yang menciptakan daerah dengan tekanan tinggi
(Wikipedia).

3. Curah hujan

Jumlah air yang jatuh ke permukaan datar dalam periode tertentu (KBBI).

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam karya tulis ilmiah dengan judul “Lintah Sebagai
Peramal Cuaca” adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN mencakup Latar Belakang, Identifikasi Masalah,


Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Batasan Istilah, dan
Sistematika Penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI mencakup Kerangka Teori, Kerangka Berpikir dan


Hipotesis.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN mencangkup Waktu dan Tempat


Penelitian, Populasi dan Sampel, Variabel Penelitian, Alat dan Bahan Penelitian,
Prosedur Kerja, dan Analisa Data.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

Karakteristik Cuaca di Indonesia

Cuaca adalah suatu keadaan udara pada suatu saat di suatu tempat, yaitu keadaan
berdasarkan gejala suhu, tekanan udara, kelembaban, angin, dan curah hujan. Di
Indonesia yang beriklim tropis memiliki dua musim yaitu kemarau dan penghujan.
Di dalam kedua musim tersebut terdapat beberapa cuaca yang sering muncul di
wilayah Indonesia, yaitu cerah, berawan, mendung, dan hujan. Dari beberapa cuaca
tersebut, dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi cuaca seperti temperatur udara, tekanan udara, angin, kelembaban
udara, dan awan (Wardiyatmoko, 2013).

Curah hujan

Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode
tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila
tidak terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi (Wikipedia).

Tekanan udara

Tekanan pada titik manapun di atmosfer bumi. Umumnya, tekanan atmosfer hampir
sama dengan tekanan hidrostatik yang disebabkan oleh berat udara di atas titik
pengukuran. Massa udara dipengaruhi tekanan atmosfer umum di dalam massa
tersebut, yang menciptakan daerah dengan tekanan tinggi (antisiklon) dan tekanan
rendah (depresi). Daerah bertekanan rendah memiliki massa atmosfer yang lebih
sedikit di atas lokasinya, di mana sebaliknya, daerah bertekanan tinggi memiliki
massa atmosfer lebih besar di atas lokasinya (Wikipedia).

Lintah (Herudo medicinalis)

Klasifikasi lintah

Kedudukan klasifikasi lintah adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Annelida

Class : Clitellata

Subclass : Hirudinea

Ordo : Arhychobdellea

Family : Hirudinidae

Genus : Hirudo

Species : Hirudo medicinalis


(Sumber: Pechenik, 2005)

Anatomi Lintah

Secara umum, lintah berbadan leper, mempunyai 34 gelang dan penghisap pada
ujungnya.Ukuran biasa adalah 50 mm dan bahkan mencapai 30 cm.Seekor lintah
mungkin mengambil waktu antara 15 hingga 30 menit untuk menyedot darah dari
badan manusia. Dalam tempo waktu tersebut ia dapat menghisap kira-kira 2.5
sehingga 5.5 gm darah. Kuantiti darah tersebut sudah cukup bagi lintah untuk
bertahan selama 6 bulan. Pada air liur lintah terdapat sekurang-kurangnya 15 jenis
zat aktif. Di antaranya ialah sejenis zat yang sama seperti yang terkandung di dalam
putih telur. Zat aktif yang terdapat dalam air liur lintah diantaranya Hirudin,
Hyaluronidase, Pseudohirudin, Destabilase, Apyrase, Bdellines, Eglines, Kininases,
Histamine, Collagenase, Prostanoids, lintah, Proteases, Lipolytic enzymes. Lintah
menyedot oksigen melalui kulitnya yang lembap. Jika keadaan air kurang oksigen,
lintah akan muncul ke permukaan.
Saraf dan Indera pada Lintah:

 Ruas 5 dan 6 terdapat lingkar saraf ganglia: otak

 Alat indera: mata dan papilla

 Mata: fotoreseptor

 Papilla & sensila: tonjolan kecil pada epidermis. Fungsinya sebagai alat
peraba dan perasa.

(Abidin, 2013)

Cara Memelihara dan Mengembangbiakkan Lintah

Lintah ditempatkan di dalam kolam tembok yang ketinggian airnya berkisar 30 cm


dan bersuhu sekitar 18⁰C sampai 30⁰C. Kolam tembok dianjurkan karena suhunya
yang tidak mudah berubah sehingga memudahkan pengaturan suhu yang
dibutuhkan. Dalam kolam, letakkan juga beberapa benda seperti genteng bekas yang
menjadi sara untuk menempel lintah. Kolam juga harus ditutup dengan
menggunakan kawat kasa. Hal ini dilakukan untuk mencegah lintah yang ada di
dalam kolam untuk melarikan diri dan mengganggu lingkungan sekitar.

Alat peramal cuaca

Adalah penemuan abad ke-19 oleh George Merryweather di mana lintahdigunakan


dalam barometer. Kedua belas lintah disimpan dalam botol kecil di dalam perangkat;
ketika mereka menjadi gelisah oleh badai mereka berusaha untuk keluar dari botol
dan memicu palu kecil yang menyerang lonceng. Kemungkinan badai ditunjukkan
dengan jumlah kali bel dipukul (Wikipedia).
B. Kerangka Berpikir

Curah hujan di Indonesia tidak menentu, sedangkan peramalan cuaca belum akurat
dan di negara maju peramalan cuaca sudah akurat dan detail. Di Inggris, pada abad
ke 19 lintah digunakan untuk membuat alat peramal badai. Maka di Indonesia lintah
dimungkinkan dapat digunakan untuk membuat alat prediksi curah hujan. Selain
sebagai prediksi curah hujan, lintah juga digunakan sebagai media pembelajaran
tentang perubahan cuaca.

C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, cuaca dapat mempengaruhi perilaku lintah,
dengan demikian lintah dapat digunakan sebagai peramal cuaca dan media
pembelajaran tentang cuaca.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dimulai pada bulan Mei 2016 hingga bulan Agustus 2016. Selama
rentan waktu tersebut penelitian dilakukan di Desa Pundensari, Kecamatan
Purwodadi, Kabupaten Purworejo yang terletak pada ketinggian 15 Mdpl, dan
bercurah hujan sedang. Penelitian dilakukan di tempat tersebut karena cuaca di
tempat tersebut cenderung mendukung penelitian ini.

2. Populasi dan Sampel

Beberapa ekor lintah di sawah alamat sebagai populasi, dan beberapa lintah untuk
melakukan penelitian sebagai sampel.

3. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi fokus di dalam suatu
penelitian. Menurut F.N. Kerlinger variabel sebagai sebuah konsep. Variabel
merupakan konsep yang mempunyai nilai yang bermacam-macam. Suatu konsep
dapat diubah menjadi suatu variabel dengan cara memusatkan pada aspek tertentu
dari variabel itu sendiri (Wikipedia).

1. Variabel Bebas adalah variabel / faktor yang dibuat bebas atau bervariasi:
cuaca

2. Variabel Terikat: perilaku lintah

4. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian:

1. Botol/toples bening

2. Kamera

3. Barometer
4. Akuarium kaca

5. Sensor deteksi

6. Baterai / adaptor

Bahan yang digunakan dalam penelitian:

1. Lintah

2. Air

5. Prosedur Kerja

Pada penelitian ini prosedur kerja yang dilakukan adalah:

1. Tahap pengamatan perilaku lintah terhadap cuaca

1. Siapkan sepuluh buah toples atau gelas bening dan isi masing-masing
toples atau gelas bening tersebut dengan air yang volumenya sama.

2. Masukkan masing-masing satu ekor lintah ke dalam toples-toples


tersebut.

3. Amati perilaku dan pergerakan tiap-tiap lintah tersebut.

4. Catat waktu dimulai sampai berakhir pengamatan.

5. Catat perubahan suhu, tekanan udara, dan cuaca dari awal pengamatan
hingga akhir pengamatan sambil memperhatikan perilaku dan pergerakan lintah
pada tiap-tiap proses perubahannya.

6. Ulangi pengamatan tersebut beberapa kali hingga didapat data yang


dapat dipercaya.

2. Tahap pembuatan alat peramal cuaca menggunakan lintah

1. Siapkan akuarium berukuran kecil.

2. Pasang bagian bawah atau dasar akuarium dengan alat deteksi (terdiri
dari otak IC mikrokontroller yang bertugas mengolah data input dari 12 sensor
infrared ketika nilai batas kepekaan terpenuhi, setelah timer terpenuhi maka
buzzer akan berbunyi).

3. Masukkan sepuluh ekor lintah yang telah dipakai untuk pengamatan ke


dalam akuarium yang telah dipasang alat deteksi.

6. Analisa Data
Pada penelitian ini, penulis mengambil data dalam bentuk tabel pengamatan dan
deskripsi data, sehingga diperoleh hasil penelitian yang dapat menjawab rumusan
masalah dan juga dapat ditarik kesimpulan, serta dapat diberikan saran dalam
penelitian ini.

TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN

Ada beberapa bagian penting dalam penyusunan proposal penelitian


atau proposal skripsi, diantaranya akan dijabarkan dibawah ini:

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN

A. HALAMAN JUDUL

Halaman judul memuat : judul, jenis laporan, lambang Perguruan Tinggi,


nama dan NIM, nama jurusan, nama program studi, nama perguruan
tinggi dan tahun pengajuan.

1. Judul Usulan Penelitian : Judul hendaknya dibuat singkat dan jelas,


menggambarkan konsep dan topik dari penelitian dan menggambarkan adanya
keterkaitan antara variable, lokasi penelitian dan tahun penelitian. Diketik
dengan menggunakan huruf kapital, tidak boleh disingkat dan format ketikan
dalam bentuk piramida terbalik ( V ).

2. Jenis Laporan : Jenis laporan adalah usulan penelitian.

3. Lambang Institusi Perguruan Tinggi

4. Nama mahasiswa dan NIM

5. Nama Jurusan

6. Nama Program Studi

7. Nama Perguruan Tinggi

8. Tahun Pengajuan : Tahun pengajuan adalah tahun dimana usulan


penelitian tersebut diajukan

B. HALAMAN PERSETUJUAN

Halaman persetujuan memuat : judul usulan penelitian, persetujuan


dosen pembimbing beserta tanda tangan dan waktu persetujuan
C. DAFTAR ISI

Daftar Isi merupakan daftar yang menunjukkan isi bagian-bagian dalam


skripsi maupun sub-sub bagiannya beserta nomor halamannya.

D. ISI

Dibagian isi terdiri dari beberapa bab dan dari beberapa bab tersebut
masih terdapat beberapa sub bab.

BAB I. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH


Latar belakang memuat: gambaran tema permasalahan di lokasi
penelitian yang akan dibahas dan berkaitan dengan penelitian yang akan
dijalankan, diuraikan dari masalah yang luas ke arah masalah yang
khusus. Oleh karena itu diperlukan data studi awal di lokasi tempat
penelitian.

ADA 4 KRITERIA LATAR BELAKANG YANG BAIK:


1. Adanya “seriousness of problem”,

2. Adanya “sense of urgency” ( masalah yang harus segera ditangani

3. Adanya “political will” (kebijaksanaan dari organisasi atau politis

4. Adanya “manage – ability” ( direkomendasikan oleh pihak manajemen ).

Latar belakang ini juga harus mampu menjawab pertanyaan “mengapa


memilih topik tersebut”

2. PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya yang
tegas dan jelas, serta menggambarkan arah hubungan antar dua variabel
atau lebih. Misalnya adakah, apakah, bagaimanakah, dan lainnya.

3. BATASAN MASALAH
Batasan masalah adalah pembatasan ruang lingkup yang dilakukan
dalam penelitian, dimana pembatasan tersebut meliputi: tema/topik, area
atau wilayah yang diteliti, sumber informasi, lokasi penelitian serta waktu
penelitian
4. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian meliputi :

a. Tujuan Umum ; Meliputi tujuan yang akan dicapai secara menyeluruh


yang dapat menjawab tema / judul penelitian

b. Tujuan Khusus ; Meliputi jabaran atau rincian dari tujuan umum


secara operasional sesuai dengan perumusan dan pembatasan masalah.
Tujuan khusus akan menggambarkan hasil dan pembahasan yang akan
diperoleh dari penelitian ini.

5. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian meliputi: 1) manfaat bagi pengguna (user), 2)
pengembangan keilmuan dan 3) bagi peneliti, sehingga scara khusus hasil
penelitian memberikan masukan bagi si peneliti, masyarakat, instansi
terkait dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
diharapkan dapat dijadikan pertimbangan sebuah kebijakan

6. KEASLIAN PENELITIAN
Keaslian penelitian mencerminkan kemampuan mahasiswa untuk
menelusuri dan mengidentifikasi penelitian terdahulu yang relevan
dengan topik penelitian yang dilakukannya.Setiap penelitian dilakukan
dalam konteks lingkungan yang berbeda dengan penelitian-penelitian
sebelumnya, sekalipun penelitian tersebut merupakan replikasi penelitian
sebelumnya. Pernyataan tentang keaslian penelitian meliputi identifikasi
persamaan penelitian sebelumnya yang sangat relevan dan
perbedaannya dengan penelitian yang akan dilakukannya.

Perbedaan dan persamaan penelitian dengan penelitian


terdahulu dapat meliputi : kerangka teori, penerapan teori dalam situasi
spesifik atau populasi khusus atau generalisasi teori pada populasi yamg
lebih luas, kerangka konsep, rancangan penelitian, instrument penelitian,
dan teknik analisis atau pemodelan data. Penyajiannya dapat dalam
bentuk matriks persamaan dan perbedaan penelitian sebelunya.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka merupakan penelusuran kepustakaan untuk


mengidentifikasi makalah dan buku yang bermanfaat dan ada
hubungannya dengan penelitian yang dilakukan serta merujuk pada
semua hasil penelitian terdahulu pada bidang tersebut. Tinjauan pustaka
disusun berdasarkan tujuan penelitian, pertanyaan penelitian dan
masalah yang akan dipecahkan. Sumber yang dipakai dalam tinjauan
pustaka harus disebutkan dengan mencantumkan nama penulis dan
tahun terbit dengan model Vancouver. Format penyajiannya dimulai
tinjuan teori untuk variabel independen, variabel dependen dan
keterkaitan antar variabel yang diteliti dengan mengacu pada penelitian
sebelumnya.

A. LANDASAN TEORI
Landasan teori menguraikan kerangka teori yang merujuk pada
referensi berbagai ahli tertentu maupun berbagai teori-teori yang ada
yang nantinya akan mendasari hasil dan pembahasan secara detail, dapat
berupa definisi-definisi atau model matematis yang langsung berkaitan
dengan tema atau masalah yang diteliti. Teori-teori yang dirujuk harus
mengacu pada variabel-variabel yang diteliti. Dimulai dari penjelasan
tema, variabel independen dan variabel dependennya atau faktor-faktor
yang diteliti serta dijelaskan teori-teori tersebut untuk mendukung
hipotesis yang akan diajukan.

Baca juga : ABSTRAK :: Contoh Abstrak Penelitian

B. KERANGKA TEORI
Kerangka teori terdiri dari teori-teori atau isu-isu dimana penelitian kita
terlibat di dalamnya dan memberikan panduan pada saat peneliti
membaca pustaka.Kerangka teori tidak dapat dikembangkan kalau
peneliti belum mempelajari pustaka dan sebaliknya kalau peneliti belum
mempunyai kerangka teori maka peneliti tidak akan dapat membaca
pustaka dengan efektif.

C. KERANGKA KONSEP PENELITIAN


Kerangka konsep penelitian merupakan operasionalisasi keterkaitan
antar variabel-variabel yang berasal dari kerangka teori dan biasanya
berkonsentrasi pada satu bagian dari kerangka teori. Kerangka konsep
menggambarkan aspek-aspek yang telah dipilih dari kerangka teori untuk
dijadikan dasar masalah penelitiannya. Jadi kerangka konsep timbul dari
kerangka teori dan berhubungan dengan masalah penelitian yang spesifik.

D. HIPOTESIS
Hipotesis memuat : pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan
teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara terhadap
masalah yang dihadapi. Hipotesis tidak selalu harus ada tergantung pada
jenis dan tujuan penelitian. Oleh karena itu hipotesis harus diuji
kebenarannya dan pengujiaannya harus mendasarkan pada kaidah-kaidah
keilmuan (scientific methods) yang dapat dipertanggungjawabkan.

CIRI-CIRI HIPOTESIS YAITU :


1. Dinyatakan dalam bentuk pernyataan (statement) bukan kalimat tanya

2. Hipotesis hendaknya berkaitan dengan bidang ilmu yang akan diteliti

3. Hipotesis harus dapat diuji yaitu terdiri dari variable yang dapat diukur
dan dapat dibanding-bandingkan sehingga diperoleh hasil yang obyektif

4. Hipotesis hendaknya sederhana dan terbatas ( tidak


menimbulkan perbedaan pengertian dan tidak terlalu luas sifatnya )

BAB III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian memuat : jenis penelitian, populasi dan sample


penelitian, lokasi dan waktu penelitian, hubungan variable dan definisi
operasional, instrumen penelitian, pengumpulan dan pengolahan data,
metode analisis data dan keterbatasan

a. Jenis Penelitian

Lihat juga
 Contoh Judul Skripsi Tesis Pendidikan
 Contoh Proposal Skripsi dan Tesis
 Metode Pengumpulan Data
 Contoh Proposal Kegiatan
Berisi langkah-langkah yang akan diambil untuk membuktikan kebenaran
hipotesis.

b. Populasi dan Sample

Berisi cara pengambilan sample, besar sample, cara pengumpulan


sample, teknik penarikan sample.
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian atau wilayah generalisasi
yang terdiri dari subyek maupun obyek yang mempunyai kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
ditarik kesimpulan. Populasi bukan hanya orang, tetapi semua benda yang
memiliki sifat atau cirri yang bisa diteliti.

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut

c. Lokasi dan Waktu Penelitian

Berisi mengenai tempat / lokasi penelitian beserta waktu yang


dipergunakan melakukan penelitian

d. Variabel

Berisi keterangan tentang variable atau factor yang diamati atau diteliti
dalam suatu penelitian

e. Definisi Operasional

Menjelaskan bagaimana suatu variable akan diukur serta alat ukur apa
yang digunakan untuk mengukurnya. Definisi ini mempunyai implikasi
praktis dalam proses pengumpulan data. Definisi operasional
mendiskripsikan variable sehingga bersifat spesifik (tidak berintegrasi
ganda), terukur, menunjukkan sifat atau macam variable sesuai dengan
tingkat pengukurannya dan menunjukkan kedudukan variable dalam
kerangka teoritis.

f. Teknik Pengumpulan Data

Berisi cara pengumpulan data yang dapat berupa data primer maupun
data sekunder. Berdasarkan caranya pengumpulan data dapat berupa
observasi, wawancara langsung, angket, pengukuran / pemeriksanaan

g. Instrument Penelitian

Instrument ( alat ukur ) penelitian dapat berupa kuesioner, cek list yang
digunakan sebagai pedoman observasi dan wawancara atau angket

h. Teknik Pengolahan Data

Berisi cara pengolahan data yang akan dilakukan peneliti sehingga data
hasil penelitian dapat menjadi informasi yang dapat digunakan untuk
mengambil kesimpulan penelitian
i. Metode Analisis Data

Metode analisa data menjelaskan bagaimana seorang peneliti mengubah


data hasil penelitian menjadi informasi yang dapat digunakan untuk
mengambil kesimpulan penelitian. Kegiatan analisa data ini meliputi :
persiapan, tabulasi dan aplikasi data. Pada tahap analisa data inidapat
menggunakan uji statistik jika memang data dlam penelitian tersebut
harus diuji dengan uji statistik

j. Keterbatasan

Dalam setiap penelitian pasti mempunyai kelemahan-kelemahan dimana


kelemahan tersebut ditulis dalam keterbatasan. Dalam bab ini disajikan
keterbatasan peneliti secara teknis yang mungkin mempunyai dampak
secara metodologis maupun substantif, seperti : keterbatasan
pengambilan sampel, keterbatasan jumlah sampel, keterbatasan
instrumen penelitian, keterbatasan waktu dan sebagainya

E. DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka merupakan keterangan tentang bacaan yang dijadikan


sebagai bahan rujukan dari penulisan skripsi. Dalam daftar pustaka dapat
dimasukkan tentang pustaka dari buku teks, jurnal, artikel, internet atau
kumpulan karangan lain.

F. LAMPIRAN

Lampiran memuat : keterangan atau informasi yang diperlukan pada


pelaksanaan penelitian seperti : peta, surat penelitian, kuesioner, atau
data lain yang sifatnya melengkapi usulan atau proposal penelitian.

NAH DEMIKIANLAH TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL


DAN CONTOH PROPOSAL PENELITIAN, SEMOGA
BERMANFAAT


 +62 31 593 6977

 View Daily Practice

 About

 Holistic Center

 News & Events

 Dental Treatments

 Contact Us

Holistic Center

WHAT IS HOLISTIC?
 Holistic Center

 What is Holistic?

DID YOU KNOW

 Tangan kesemutan apa bisa dari kelainan gigi dan rongga mulut?

 What is Holistic Dentistry?

 Pengaruh Plak Gigi terhadap Pilek, Sinusitis dan Asma

 Pemutihan Gigi (Bleaching)

 Mouth Breathing and hypertension, Daniel's Treatment Method

 Pengaruh bakteri gusi terhadap alergi

 Perawatan Ortodontik Pencegahan (Preventif)


Teknik dan Cara Memutihkan Gigi

Bleaching (pemutihan gigi) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu


1. bleaching secara eksternal yang dilakukan pada gigi vital yang mengalami perubahan
warna
2. bleaching secara internal yang dilakukan pada gigi non vital yang telah dirawat
saluran akar dengan baik (Walton dan Torabinejad, 1996).

1. Teknik Bleaching secara eksternal


Bleaching secara eksternal dilakukan pada gigi yang masih vital dan dapat dilakukan
menggunakan
bleaching tray (Schmidseder, 2000).
Pewarnaan gigi vital biasanya disebabkan oleh karena pewarnaan tetrasiklin dan faktor
ekstrinsik, misalnya karena fluorosis atau defek superfisial. Jenis-jenisnya antara lain :
a. Teknik Bleaching pada gigi vital yang berubah warna karena tetrasiklin
b. Bleaching teknik Mouthguard
c. Teknik Bleaching pada gigi vital yang berubah warna karena fluorosis

2. Teknik Bleaching secara internal (intrakoronal)


Pemutihan gigi secara intrakoronal dilakukan pada gigi yang telah dirawat endodontik
dengan baik. Metode bleaching yang dapat dilakukan untuk gigi
ini: teknik walking bleach, termokatalitik,kombinasi,modified home
bleaching technique atau biasa disebut inside/outside bleaching technique, foto oksidasi
ultraviolet dan CP irradiation method.

Bleaching secara internal tidak boleh dilakukan atau diulangi lebih dari 4 kali karena
struktur gigi bagian dalam dapat melemah dan resiko fraktur makhota semakin meningkat
(Schmidseder, 2000).

Teknik bleaching pada gigi non vital


a.Teknik Walking Bleach
Teknik ini memakai campuran superoxol dan Na-perborat untuk memutihkan gigi (Walton
danTorabinejad,1996). Teknik Walking Bleach menurut Walton dan Torabinejad (2003)
adalah sebagai berikut:
1) Pasien harus diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai penyebab perubahan
warna, prosedur yang akan dilakukan, hasil yang diharapkan, dan kemungkinan perubahan
warna timbul kembali (regresi) untuk mecegah kekecewaan dan salah pengertian. Oleh
karena itu, komunikasi yang efektif sebelum, selama, dan sesudah perawatan mutlak
diperlukan.
2) Radiograf dibuat untuk melihat keadaan jaringan periapeks dan kualitas perawatan
saluran akar. Perawatan yang gagal atau pengisian saluran akar yang meragukan harus
dirawat ulang sebelum pemutihan dilakukan.
3) Pemeriksaan kualitas dan warna setiap tumpatan yang ada harus dilakukan terlebih
dahulu. Bila tumpatan rusak maka harus diganti. Perubahan warna gigi sering disebabkan
oleh kebocoran dan perubahan warna tumpatan. Selain itu, pasien harus diberi tahu bahwa
prosedur pemutihan dapat mempengaruhi warna tumpatan untuk sementara (atau
permanen) sehingga restorasi harus diganti.
4) Evaluasi warna gigi dilakukan dengan contoh warna dan membuat foto pada saat awal
kedatangan pasien dan selama prosedur dilakukan. Foto ini sebagai acuan untuk
pembanding.
5) Gigi diisolasi dengan isolator karet. Isolasi yang lebih baik dapat diperoleh dengan
memakai baji (wedge) interproksimal. Jika menggunakan Superoxol, krim (misalnya vaselin,
orabase, atau cocoa butter) dipakai sebelum isolator karet dipasang untuk melindungi
jaringan gingiva. Prosedur ini tidak perlu dilakukan jika menggunakan Na-perborat.
6) Pembongkaran tumpatan pada kavitas. Penghalusan akses dan pengangkatan semua
bahan pengisi lama dari kamar pulpa merupakan tahap yang paling penting dalam proses
pemutihan. Dokter gigi harus memeriksa secara teliti bahwa tanduk pulpa atau daerah lain
yang tidak terbuka. Bahan tumpatan harus dibuang agar bahan pemutih dapat berkontak
dan masuk ke dalam dentin. Pembuangan bahan tumpatan harus dilakukan dengan hati-
hati untuk menghindari terpotongnya dentin yang sehat.
7)(Opsional) Tahap ini diperlukan jika perubahan warna diakibatkan oleh logam,atau jika
pada kunjungan kedua atau ketiga hasil pemutihan tidak memuaskan.Selapis tipis dentin
yang berubah warna di daerah labial kamar pulpa dibuangsecara hati-hati dengan bur bulat
putaran rendah. Tindakan ini dapat membuang bagian yang berubah warna (yang terpusat
di daerah permukaan pulpa) lebih banyak, juga dapat membuka tubulus dentin agar
masuknya bahan pemutih lebih baik.
8) Semua bahan harus diangkat sampai sedikit di bawah margin gingiva. Untuk melarutkan
sisa-sisa semen saluran akar, digunakan pelarut yang sesuai (seperti pelarut oranye,
kloroform, atau xylol dalam butiran kapas).
9)Jika yang digunakan adalah Superoxol, lapisan semen protektif seperti
semen polikarboksilat, Zn-fosfat, ionomer kaca, IRM, atau cavit, diletakkan di atasmaterial
obturasi setebal 2 mm. Hal ini penting untuk mencegah bocornya material.Barrier semen
ini harus melindungi tubulus dentin dan sesuaidengan perlekatan epitel eksternal. Tinggi
lapisan ini tidak boleh meluas melebihimargin gingiva. Pengetsaan dentin sebelah dalam
dengan asam fosfat (atau pengetsa lain) untuk menghilangkan smear layer dan membuka
tubulus dentin
ternyata tidak efektif. Tidak dianjurkan menggunakan zat kimia yang kaustik didalam
kamar pulpa sebab dapat mengiritasi ligamen periodonsium danmenyebabkan resorpsi
eksternal dari akar.
10) Pasta walking bleach disiapkan dengan mencampurkan Na-perborat dengancairan yang
inert seperti air, salin, atau cairan anestesi sehingga membentuk konsistensi seperti pasir
basah (kira-kira 2 g/ml). Meskipun Na-perborat yangdicampur dengan H2O2 30% akan lebih
cepat memutihkan, dalam banyak kasus hasil jangka panjangnya sama dengan yang
menggunakan Na-perborat dicampur dengan air. Selanjutnya, kamar pulpa dipenuhi dengan
pasta menggunakan plastisinstrumen. Kelebihan cairan ditekan dengan butiran kapas. Hal
ini akan mendorong dan memampatkan ke dalam ceruk-ceruk kamar pulpa
11)Kelebihan pasta oksidator dibuang dari daerah undercut di dalam tanduk pulpadan
daerah gingiva dengan eksplorer. Di atas pasta dan ke dalam undercut campuran padat
OSE atau cavit diaplikasikan tetapi bukan dengan cotton pellet .Tumpatan sementara
dimampatkan dengan hati-hati paling sedikit setebal 3 mmagar kerapatannya baik.
12)Isolator karet dibuka. Pasien diberi tahu bahwa bahan pemutih bekerjanyalambat dan
pemutihannya kemungkinan belum akan terjadi dalam waktu 2 atau 3minggu. Hasil yang
lebih baik akan terjadi pada minggu berikutnya atau sesudah pemutihan ulang.
13)Pasien diminta datang kembali sesudah 2-6 minggu dan prosedur diulang.
Keterangan:- Jika warna yang dikehendaki telah dicapai, buat restorasi permanen.- Metode
yang dianjurkan adalah menambal kamar pulpa dengan penambal sementara yang putih
(TS) atau dengan polikarboksilat atauZn-fosfat berwarna muda.- Komposit (C) etsa asam
merestorasi akses lingual dan meluas ketanduk pulpa untuk retensi dan mendukung
insisal.

b.Teknik Termokatalitik
Teknik termokatalitik adalah teknik pemutihan dengan meletakkan materialoksidator di
dalam kamar pulpa dan kemudian memanaskannya. Panas ini diperolehdari lampu, alat
yang dipanaskan, atau alat pemanas listrik yang dibuat khusus untuk memutihkan gigi
(Torabinejad dan Walton, 2009). Teknik termokatalitik menggunakan sepotong kapas kecil
yang telah dibasahi dengan bahan pemutih yangditempatkan dalam kamar pulpa, kemudian
dilakukan pemanasan selama dua menit. bila perlu dapat juga pemanasan dilakukan pada
sepotong kapas yang dibasahilarutan pemutih dan ditempatkan dibagian labial gigi.
Sumber panas yang dapatdigunakan adalah lampu pemanas, alat pemanas listrik, atau
instrumen kecil yangujungnya dipanaskan (Andang dan Hidayat, 2002).Pada teknik
termokatalitik dengan menggabungkan pemanasan dan konsentrasi hidrogen peroksida
yang tinggi menyebabkan resorpsi dibagian servikal.Teknik termokatalitik ini tidak sering
digunakan lagi pada saat ini (Greenwall,2001). Teknik ini mengunakan panas untuk
mempercepat proses oksidasi. Sumber panas yang dapat digunakan adalah rheostat
controlled photoflood, lihgt activited atau instrumen Woodson. Prosedur teknik
termokatalitik menurut Torabinejad danWalton (2009) adalah sebagai berikut:
1)Isolasi gigi yang akan dirawat dengan karet isolator. Lindungi jaringan lunak dengan
menggunakan
petrolium jelly atau cocoabutter
2)Dentin dibagian labial kamar pulpa dibuang dengan bur bulat kecepatan rendah.
3)Membuang bahan pengisi dari kamar pulpa 2-3 mm ke apikal dibawah gusi.
4)Membersihkan kamar pulpa dengan kloroform atau xylene, kemudian keringkandengan
hembusan udara.
5)Jaringan lunak dan gigi tetangga dilindungi dari panas yang berasal dari sumber panas
dengan meletakkan kasa yang telah dibasahi air di bawah karet isolator untuk menutup
bibir dan jaringan lunak.
6)Kapas diletakkan dalam kamar pulpa yang dibasahi hidrogen peroksida 30-35%,lalu tutup
permukaan labial gigi dengan kapas yang telah dibasahi bahan pemutih.Arahkan sumber
panas pada gigi yang telah disiapkan.
7)Kapas dibasahi kembali dengan hidrogen peroksida segar. Ulangi langkah ini 4-5kali.
8)Evaluasi efek pemutihan, bila belum berhasil pertemuan berikutnya dilakukanseminggu
kemudian setelah kavitas ditutup tumpatan sementara.9)Apabila hasilnya sudah
memuaskan, bersihkan kamar pulpa dengan kloroformxylene atau alkohol, kemudian lapisi
dengan semen yang berwarna putih sebelumdilakukan tumpatan permanen dengan resin
komposit.

c.Teknik Kombinasi
Teknik kombinasi merupakan teknik bleaching gabungan antara teknik walking bleach dan
teknik termokatalitik. Keuntungan dari teknik kombinasi ialahhasil lebih cepat dan
memuaskan karena kedua teknik tersebut dilakukan dengan bergantian. Prosedur awal
teknik kombinasi ialah menggunakan teknik termokatalitik dengan memanaskan gigi yang
akan dilakukan pemutihan. Setelahdipanaskan, kapas yang mengandung hidrogen
peroksida dikeluarkan dari kamar pulpa dan gigi dikeringkan. Kemudian dilakukan
teknik walking bleach yaitumeletakkan pasta campuran superoksol dan Na-perborat di
dalam kamar pulpa.Prosedur selanjutnya mengikuti teknik walking bleach hingga selesai
(Walton danTorabinejab, 1996).

d. Modified Home Bleaching Technique( Inside/Outside Bleaching Technique)


Teknik inside/outside bleaching didasarkan pada aplikasi karbamid peroksida pada gigi dan
menjaga gigi yang telah dipreparasi selama tahap pemutihan.Pemutihan terjadi di bagian
dalam dan luar gigi secara bersamaan. Teknik ini idea luntuk pasien yang memiliki
keinginan untuk memutihkan gigi, tidak hanya untuk memutihkan warna gigi non vital yang
telah dirawat endodontik tetapi juga dapatmemutihkan gigi vital yang berada di
sebelahnya. Cara kerja teknik ini cepat karena pasien dapat mengaplikasikan gel segar
karbamid peroksida setiap hari (Deliperi,2008).

d. Home bleaching
dilakukan pasien dengan pengarahan dan pemantauan olehdokter gigi, akan tetapi
terdapat beberapa efek samping yang mungkin terjadi yaituiritasi gingiva, hipersensitif
sementara pada gigi bagian servikal, mual jangka pendek, dan nyeri pada regio TMJ.

e.Teknik Foto Oksidasi Ultraviolet


Teknik ini kurang efektif dibandingkan dengan teknik walking bleach, selainitu
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai warna gigi yangdiinginkan. Prosedur
teknik ini ialah dengan meletakkan kapas yang dibasahi dengancairan hidrogen peroksida
30-35% ke dalam kamar pulpa. Kemudian gigi tersebutakan disinari dari sisi labial gigi oleh
lampu ultraviolet selama 2 menit. Penyinarandengan lampu ultraviolet akan melepaskan
oksigen seperti pemutihan menggunakanteknik termokatalitik (Walton dan Torabinejab,
1996).

f. Light-Activated Bleaching of Non Vital Teeth(CP irradiation method )


Teknik light-activated bleaching of nonvital teethmenggunakan metode CP irradiation atau
metode Hisamitsu. Prosedur teknik ini ialah dengan menempatkan 10% gelkarbamid
peroksida pada permukaan labialdan masuk ke rongga akses masuk gigi nonvital.
Kemudian cahaya diaktifkan dari sisi bukal dan lingual (Kwon dkk, 2009)Keuntungan dari
teknik ini adalah bahwa perubahan warna pada gigi nonvital meningkat sejak hari
dimulainya perawatan. Mekanisme perbaikan melaluiaktivasi sinar tidak jelas, namun
dikemukakan bahwa peningkatan suhu akibatiradiasi mengkatalis pemecahan menjadi
hidrogen peroksida dan merembes kedentin (Kwon dkk, 2009 ).

Makanan yang dianjurkan usai melakukan pemutihan gigi adalah:


1. Produk buah-buahan dan sayuran seperti apel, buncis, kembang kol, wortel dan seledri
membantu menggosok gigi saat dikunyah. Makanan seperti ini juga membantu
meningkatkan aliran air liur yang menetralisir asam dan melindungi gigi.
2. Produk susu yang kaya kalsium dan keju juga membantu menjaga gigi tetap putih. Asam
laktat dalam produk ini membantu mencegah kerusakan. Keju yang keras juga membantu
menghilangkan partikel makanan yang tersisa di gigi.

Makanan yang harus dipantang atau dibatasi usai melakukan pemutihan gigi adalah:
1. Tembakau
2. Kecap
3. Minuman ringan, kopi, teh
4. Anggur merah dan putih
5. Blueberry.
Makanan ini harus dibatasi sangat mudah meninggalkan berwarna pada gigi yang telah
diputihkan.
SITEMAP

COPYRIGHT DR. DANIEL © 2014 DESIGNED BY TRIO DESIGN



o

http://drgdaniel.com/education/education?id=pemutihan-gigi-%28bleaching%29-3

Bleaching Gigi – Mekanisme, Biaya, Bahaya dan Ketentuan


By

Erlita

April 8, 2017

3825

Akibat makanan dan minuman yang dikonsumsi gigi bisa mengalami


perubahan warna. Gigi bisa berubah menjadi kuning sehingga menjadi agak
gelap. Bagi sebagian orang, perubahan warna ini menjadi suatu masalah
tersendiri. Gigi yang tidak nampak putih dapat mengurangi rasa percaya diri
di hadapan orang lain. Oleh sebab itu, banyak orang yang giginya nampak
berwarna kuning kemudian melakukan bleaching gigi.

Bleaching gigi ini, merupakan salah satu alternatif yang


dilakukan sebagai cara memutihkan gigi serta membersihkannya dan
membuat warnanya kembali menjadi putih dan cerah. Meskipun dapat
membuat warna gigi menjadi putih dan cerah, penggunaan bleaching gigi
bukan tanpa resiko dan efek samping. Selain itu harga perawatan yang
cukup mahal harus dipertimbangkan juga sebelum memilih bleaching gigi
sebagai cara untuh memutihkan gigi. Untuk itu simak beberapa informasi
terkait dengan bleaching gigi berikut ini :
(Baca juga: erosi gigi)

Pengertian

Bleaching adalah semacam teknik untuk melakukan pemutihan. Bila


bleaching dilakukan pada gigi atau disebut bleaching gigi, maka artinya
adalah proses atau teknik untuk melakukan pemutihan pada gigi. Proses
bleaching dilakukan dengan menggunakan bahan tertentu agar warna gigi
menjadi lebih putih dan cerah. Pemutihan ini dilakukan pada bagian email
gigi dan dilakukan dengan memberi hidrogen peroksida sebagai bahan kimia
untuk memutihkan email gigi.

Proses bleaching biasanya membutuhkan waktu tidak hanya sekali.


Melainkan bisa beberapa kali kunjungan ke dokter gigi kecantikan. Hal ini
untuk memastikan agar proses bleaching benar-benar dapat menghasilkan
warna putih sesuai yang diinginkan. Selain itu untuk mengcontrol efek
samping yang sering menyertai proses pem-bleaching-an gigi.

Faktor yang Menyebabkan Warna Gigi Berubah


Pada dasarnya manusia memiliki warna gigi putih, namun seiring dengan
penggunaan dan pola hidup khususnya pola makan, maka warna gigi bisa
mengalami perubahan. Perubahan warna yang paling sering adalah menjadi
kuning. Namun, pada sebagian orang ada juga yang menghitam atau malah
menjadi belang. Sebenarnya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
warna gigi bisa mengalami perubahan.

 Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman terbukti mampu membuat warna gigi
mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi akibat zat yang terkandung
pada makanan dan minuman mampu mempengaruhi senyawa pada email
gigi. Bahan kimia tertentu seperti pewarna pada makanan atau minuman
juga dapat membuat gigi berubah warna. Zat-zat tersebut bisa menempel
pada gigi.
Jenis minuman yang mengandung tanin seperti kopi dan teh, mampu
merubah lapisan enamel yang ada pada bagian luar gigi. Minum teh dan kopi
tanpa diimbangi dengan pembersihan gigi yang rutin akan dapat
menyebabkan gigi menguning. Selain itu, minuman lain yang mengandung
kadar asam tinggi seperti pada anggur, wine, alkohol, soda atau minuman
berenergi juga bisa mengganggu warna gigi.

 Rokok

Asap rokok yang mengandung tar dapat merubah warna gigi menjadi agak
gelap. Kandungan tar yang ada pada asap rokok bisa menumpuk pada
lapisan luar gigi. Bila tumpukan ini sudah banyak, maka warna gigi akan
menjadi gelap dan mulai menghitam. Oleh sebab itu, menghentikan
kebiasaan merokok dapat mencegah warna gigi menghitam.

 Plak pada gigi

Plak pada gigi bisa mengandung bakteri atau jamur dan inilah yang
menjadi penyebab gigi kuning. Dalam jumlah akumulasi tertentu, plak pada
gigi akan merubah warna gigi menjadi kehijauan atau sedikit orange. Plak
gigi terjadi bisa diakibatkan oleh endapan sisa makanan yang menempel
pada gigi. Bila jarang melakukan sikat gigi, maka endapan makanan ini akan
menumpuk dan membentuk plak yang bisa menutupi warna asli gigi.

 Riwayat penggunaan antibiotik

Beberapa antibiotik tertentu seperti penggunaan tetrasiklin bisa membuat


warna gigi menjadi kuning kecoklatan atau biru keabuan. Hal ini hanya
terjadi bila konsumsi antibiotik tersebut dilakukan pada masa pertumbuhan
gigi, sehingga dapat mempengaruhi pembentukan warna asli gigi.

 Fluorosis

Yakni timbulnya bercak-bercak putih pada gigi yang diakibatkan oleh proses
metabolisme fluoride yang berlebih. Bila terjadi dalam waktu yang lama akan
dapat mengganggu proses pembentukan enamel gigi. Selanjutnya, warna
gigi akan menjadi memiliki bercak-bercak putih atau belang-belang.

(Baca juga : penyebab gusi hitam)

Mekanisme Bleaching Gigi


Terdapat 2 jenis metode atau prosedur untuk melakukan bleaching pada gigi.
Metode atau jenis yang dipilih disesuaikan dengan jenis gigi yang akan di
bleaching. Masing-masing metode memiliki ukuran waktu bleaching yang
berbeda.

 Bleaching intra korona ( bleaching yang dilakukan pada gigi


non vital)

Bleaching jenis ini dilakukan pada gigi yang berubah warna namun tidak
pada keseluruhan gigi yang bersifat global. Perubahan warna karena
kerusakan gigi seperti gigi yang mati akibat patah, proses karies gigi,
kematian jaringan pulpa, diselesaikan dengan metode ini. Untuk melakukan
bleaching jenis ini, pertama-tama gigi yang sudah rusak dilakukan perawatan
terlebih dahulu. Khususnya perawatan pada saluran akar (perawatan
endodontik). Selanjutnya bahan bleaching yakni superoksol (hidrogen
peroksida 30-35%) dan sodium perborat akan dimasukkan ke dalam
mahkota gigi. Kemudian mahkota akan ditambal sementara. Dibutuhkan
beberapa kali perawatan untuk mendapatkan warna gigi putih kembali.

(Baca juga : Jenis-jenis penyakit gigi dan mulut)

 Bleaching pada gigi vital (gigi yang masih hidup)

Ini merupakan jenis bleaching yang biasa dilakukan pada gigi normal. Untuk
bleaching pada gigi vital ini masih terbagi lagi menjadi 2 bentuk.

1. At Home Bleaching
Metode at home bleaching dilakukan sendiri di rumah. Umumnya
menggunakan tray, point-on atau strip. Namun yang paling memberikan
hasil sesuai keinginan adalah yang menggunakan tray. Sehingga tray lebih
banyak dipilih untuk metode jenis ini.

Untuk melakukannya pertama-tama dilakukan pencetakan tray untuk


menyesuaikan dengan bentuk gigi dan rahang pasien. Warna gigi pasien
akan dicatat untuk mengcontrol perubahan warna nantinya selama proses
bleaching berlangsung. Penggunaan tray dimaksudkan agar bahan bleaching
bisa terfokus hanya mengenai gigi saja tanpa mengenai jaringan lunak
seperti gusi dan sekitarnya).

Apabila tray sudah tercetak maka penggunaan dan perawatannya tinggal


memasang bahan bleaching pada tray, kemudian tray ini tinggal dipasang di
gigi. Waktu perawatan sekitar 2-8 jam per hari tergantung dari bahan
bleaching yang digunakan. Keseluruhan waktu total yang dibutuhkan untuk
mendapatkan hasil gigi putih biasanya bervariasi. Namun rata-rata bisa
mencapi sekitar 2 minggu. Pasien hanya harus rutin mengganti bahan
bleaching pada tray setiap harinya, dan mengcontrol proses perubahan
warna giginya tiap hari.

2. In Office Bleaching

In office bleaching untuk perawatannya ditangani langsung oleh dokter.


Metode ini paling cocok bila menginginkan hasil yang cepat. Namun secara
biaya lebih mahal. Untuk melakukannya digunakan bahan hidrogen peroksida
35% yang biasa dibantu dengan penyinaran atau dengan bantuan sinar
laser.

Jenis hidrogen peroksida ini lebih aktif dan efektif daripada bahan karbamid
peroksida yang biasa digunakan untuk jenis in home bleaching. Namun
penggunaannya harus ditangani langsung oleh dokter gigi karena
sensitifitasnya bisa menimbulkan iritasi pada jaringan lunak di sekitar gigi.

Adanya bantuan penyinaran atau laser membuat proses oksidasi menjadi


lebih cepat. Oleh sebab itu proses penyelesaian bleaching dengan cara ini
hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam dalam perawatannya. Sehingga
hasil bleaching gigi bisa dirasakan secara langsung.

Biaya Perawatan

Harga perawatan untuk bleaching gigi variatif tergantung jenis metode yang
digunakan serta hasil seperti apa yang diinginkan. Untuk harga perawatan
paling murah sekitar 300 – 400 ribu. Pada in office bleaching, harga
perawatan regular sekitar Rp 2.500.000 – Rp 3.000.000. Namun bila
membutuhkan penyinaran atau penggunaan laser, biaya akan bertambah
hingga mencapai Rp 4.000.000 dalam satu kali perawatan.

Bila hasil bleaching masih dirasa tidak maksimal, pasien bisa mencoba
melakukan veener. Untuk metode veener gigi, pasien bisa meminta hasil
sesuai yang dia inginkan. Namun, harganya sangat mahal. Untuk veener
pada satu gigi saja bisa menghabiskan budget hingga Rp 5 juta.

(Baca juga: tambal gigi berlubang)

Resiko dan Efek Samping


Beberapa resiko serta efek samping selalu muncul dalam bentuk variatif
pada pasien yang melakukan bleaching gigi. Secara kuantitas dan kualitas
juga berbeda-beda pada masing-masing kasus.

 Alergi (baca : ciri-ciri alergi)

Penggunaan bahan dan reaksi kimia yang terjadi pada proses bleaching bisa
menimbulkan alergi pada sejumlah orang. Bentuk alergi yang muncul
biasanya berupa rasa gatal atau panas di mulut. Selain itu bisa juga hingga
timbul bengkak dan kemerahan pada mulut.

 Muncul rasa nyeri


Rasa nyeri muncul akibat bahan bleaching menyentuh bagian pulpa gigi yang
penuh dengan saraf. Rasa nyeri ini muncul sekitar 24-48 jam setelah
prosedur bleaching dilakukan. Biasanya terjadi pada metode in office
bleaching. Lama waktu munculnya rasa nyeri biasanya variatif tergantung
pada lama penyinaran atau pemanasan dengan laser yang dilakukan ketika
perawatan.

 Sensitifitas gigi

Pasca bleaching tingkat sensitifitas gigi bisa naik. Khususnya ketika gigi
menghadapi rasa dingin, akan bisa timbul rasa ngilu. Hal ini terjadi karena
zat kimia peroksida yang digunakan pada proses bleaching mengenai
jaringan gigi yang lain. Bagi pasien yang memiliki riwayat gigi sensitif maka
rasa ngilu akan bisa berlebih dan bisa jadi sangat mengganggu. (baca
juga : penyebab gigi ngilu; cara mengatasi gigi sensitif)

 Kerusakan struktur jaringan keras

Zat kimia yang digunakan ketika proses bleaching bisa memiliki dampak
pada kerusakan struktur email gigi. Hal ini disebabkan oleh proses oksidasi
yang terjadi selama proses perawatan. Kerusakan struktur email ini bisa
menyebabkan jaringan gigi menjadi lebih mudah rusak. Salah satu bentuk
kerusakan adalah munculnya lubang gigi. (baca : penyebab gigi
berlubang; bahaya gigi berlubang)

 Kerusakan saraf dan pembuluh darah pada gigi

Prosedur perawatan bleaching yang tidak hati-hati dapat menyebabkan


bahan kimia mengenai pulpa gigi yang berisi penuh dengan saraf dan
pembuluh darah yang menyuplai gigi. Selain itu, bila prosedur dilakukan
pada gigi pasien yang berlubang kerusakan saraf ini sangat potensial untuk
terjadi. Oleh sebab itu pasien dengan gigi berlubang selalu diawali dengan
proses penambalan gigi terlebih dahulu. (baca juga : bahaya mematikan
saraf gigi)

 Kerusakan jaringan lunak yang terjadi pada rongga mulut


Kerusakan ini terjadi bila bahan bleaching mengalami kontak langsung
dengan mukosa rongga mulut. Bahan kimia bleaching memang tergolong
bahan aktif yang seharusnya tidak boleh terjadi kontak langsung dengan
jaringan lunak. Bentuk kerusakan akibat kontak ini akan bisa timbul luka
atau sariawan pada rongga mulut.

 Gigi kembali menguning dalam beberapa waktu

Metode bleaching bukanlah metode yang bersifat permanen untuk merubah


warna gigi menjadi putih dan cerah. Oleh sebab itu, dalam beberapa waktu
akibat pola makan juga, gigi yang sudah di bleaching bisa kembali menjadi
menguning. Oleh sebab itu untuk menjaga keawetan bleaching, sejumlah
perawatan gigi mungkin butuh dilakukan pasca proses bleaching dilakukan.

(Baca juga : bahaya hidrogen peroksida pada tubuh)

Kondisi yang Tidak Disarankan untuk Bleaching


Gigi
Beberapa kondisi sangat tidak disarankan pada pasien untuk melakukan
bleaching. Hal ini karena kondisi yang tidak disarankan tersebut dapat
memberikan potensi resiko yang sangat besar bila tetap dilakukan. Terdapat
beberapa kondisi dimana pasien sangat tidak disarankan untuk melakukan
bleaching, diantaranya :

 Pasien dengan usia muda (anak-anak/remaja)

Pasien dengan usia muda sangat tidak dianjurkan untuk bleaching gigi. Hal
ini karena pada usia muda, kondisi ruang pulpa yang berisi saraf dan
pembuluh darah masih sangat besar. Sehingga sangat rawan resiko
kerusakan pulpa dan pembuluh darah.

 Pasien dengan kasus fluorosis yang berat atau pada kasus


hipoplasia email dan amelogenesis imperfekta
Pasien dengan kasus seperti ini mengalami pengikisan email gigi yang sangat
berat. Bila email gigi ini terkikis dalam kondisi yang berat maka bila
dilakukan bleaching akan berpotensi besar membawa resiko kerusakan
jaringan keras maupun jaringan lunak. (baca juga : erosi gigi)

 Pasien dengan gigi yang banyak memiliki riwayat tambalan


atau restorasi

Pasien dengan riwayat tambalan gigi seperti ini sangat rawan terhadap
potensi kerusakan jaringan keras maupun jaringan lunak dimana bahan
bleaching bisa masuk melalui tambalan gigi.

(baca : bahaya gigi berlubang)

 Pasien dengan riwayat alergi terhadap peroksida

Bahan utama bleaching adalah peroksida aktif. Bila pasien memiliki riwayat
alergi terhadap peroksida, maka sangat tidak disarankan melakukan
bleaching karena resiko terkena alergi yang sangat berat bisa saja terjadi.

Cara Bleaching Gigi secara Alami

Selain melakukan bleaching gigi dengan menggunakan bahan kimia.


Ternyata, sejumlah buah-buahan memiliki bahan aktif yang bisa digunakan
untuk bleaching gigi secara alami. Meskipun hasilnya tidak seinstan
bleaching dengan menggunakan bahan kimia, namun cara ini bisa jadi
mengandung resiko yang lebih sedikit dan untuk biayanya bisa jauh lebih
murah. Beberapa buah yang bisa digunakan untuk memutihkan gigi antara
lain :

1. Pisang

2. Stroberi

3. Lemon

4. Apel
5. Pinang

Buah-buahan diatas memiliki unsur asam yang cocok dan bisa digunakan
untuk membuat gigi menjadi putih. Selain itu kandungan buah yang dimiliki
juga bisa menjadikan gigi lebih kuat. Cara menggunakannya cukup buah
tersebut dikunyah dengan menggunakan gigi secara merata atau ditumbuk
dan dioleskan pada gigi setiap hari.

Selain itu, terdapat beberapa cara lain yang bisa ditempuh untuk
memutihkan gigi dan masih tergolong sebagai cara yang aman dan murah.

1. Rajin menyikat gigi secara rutin 30 menit setelah makan dan minum
yang mengandung zat yang bisa merubah warna gigi.

2. Mengoleskan arang kayu pada gigi

3. Mengoleskan minyak kelapa pada gigi

4. Mengoleskan cuka apel. Cuka apel ini bisa handal dalam mengatasi
noda pada gigi khususnya noda kopi dan rokok.

(Baca juga: cara menghilangkan karang gigi)

Itulah sedikit informasi mengenai bleaching gigi yang bisa Anda perhatikan.
Anda bisa mempertimbangkan segala faktor risikonya sebelum memutuskan
untuk menempuh bleaching gigi.

https://halosehat.com/tips-kesehatan/gigi/bleaching-gigi