Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

SOSIAL BUDAYA TENAGA ELEKTROMEDIK DALAM BERPRESTASI

Dosen Pembimbing :
Dra. Liliek Soetjiatie, M.Si
NIP. 19660513 199803 2 001

Oleh :
I Dewa Made Wirayuda
NIM P27838016013

PROGRAM STUDI DIPLOMA III


JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
SURABAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sosial budaya terdiri dari dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial mengandung arti
segala sesuatu yang mengenai masyarakay atau kemasyarakatan atau dapat diartikan suka
memperhatikan hal-hal kepentingan umum.sedangkan budaya memiliki arti dibuat oleh
manusia yang didasari atas pemikiran dan akal budinya yang mengandung cipta, rasa, dan
karsa. Dimana budaya ini banyak jenisnya dapat berupa kesenian, pengetahuan, moral,
hukum, kepercayaan, adat istiadat maupun suatu ilmu (W.J.S Poerwadarminta, 1976).

Menurut Andreas Eppink, sosial budaya atau kebudayaan adalah segala sesuatu atau
tata nilai yang berlaku dalam sebuah masyarakat yang menjadi ciri khas dari masyarakat
tersebut. Sedangkan menurut Burnett, kebudayaan adalah keseluruhan berupa kesenian moral,
adat istiadat, hukum, pengetahuan, kepercayaanm dan kemampuan mengolah pikiran dalam
bentuk lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat dan keseluruhan bersifat
kompleks. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa sosial budaya adalah segala hal yang
diciptakan oleh manusia dengan pemikiran dan budi nuraninya untuk dan atau dalam
kehidupan bermasyarakat.

Prestasi berasal dari bahasa belanda yang artinya hasil dari usaha, prestasi diperoleh
dari usaha yang telah dikerjakan. Dari pengertian prestasi tersebut, maka dapat diartikan
bahwa prestasi diri adalah hasil atas usaha yang dilakukan seseorang (Wikipedia, 2018).

Teknik elektromedis adalah teknik klinik yang merupakan kekhususan dari cakupan
rumpun (body of knowledge) teknik biomedika. Teknik biomedika merupakan bidang
multidisiplin, yang merupakan berbagai metoda engineering, science& technology guna
dimanfaatkan dalam peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Teknik elektromedik juga
dapat diartikan suatu displin ilmu teknik yang menerapkan konsep, pengetahuan, dan seluruh
displin teknik untuk menyelesaikan masalah dalam bidang biologi dan medis untuk
perancangan dan pengembangan fasilitas sistem alat dalam mendukung prosedur diagnosa
klinis (Keputusan Mentri Kesehatan, 2007)

Pada makalah ini akan membahas tentang Sosial Budaya Teknik Elektromedis dalam
Berprestasi dan disini penulis mengangkat tentang Karya Teknisi Elektromedis dalam
Memudahkan Pelayanan Kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana Sosial Budaya Teknisi Elektromedis di RS?

1.2.2 Bagaimana kinerja Teknisi Elektromedis di RS?

1.2.3 Bagaimana Prestasi Teknisi Elektromedis di RS?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui Sosial Budaya Teknisi Elektromedis di RS.

1.3.2 Untuk mengetahui kinerja Teknisi Elektromedis di RS.

1.3.3 Untuk mengetahui Prestasi Teknisi Elektromedis di RS.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sosial Budaya
Sosial budaya terdiri dari dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial mengandung arti
segala sesuatu yang mengenai masyarakay atau kemasyarakatan atau dapat diartikan suka
memperhatikan hal-hal kepentingan umum. Sedangkan budaya memiliki arti dibuat oleh
manusia yang didasari atas pemikiran dan akal budinya yang mengandung cipta, rasa, dan
karsa. Dimana budaya ini banyak jenisnya dapat berupa kesenian, pengetahuan, moral,
hukum, kepercayaan, adat istiadat maupun suatu ilmu (W.J.S Poerwadarminta, 1976).

Menurut Andreas Eppink, sosial budaya atau kebudayaan adalah segala sesuatu atau
tata nilai yang berlaku dalam sebuah masyarakat yang menjadi ciri khas dari masyarakat
tersebut. Sedangkan menurut Burnett, kebudayaan adalah keseluruhan berupa kesenian moral,
adat istiadat, hukum, pengetahuan, kepercayaanm dan kemampuan mengolah pikiran dalam
bentuk lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat dan keseluruhan bersifat
kompleks. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa sosial budaya adalah segala hal yang
diciptakan oleh manusia dengan pemikiran dan budi nuraninya untuk dan atau dalam
kehidupan bermasyarakat.

2.2 Teknisi Elektromedis

Teknik elektromedis adalah teknik klinik yang merupakan kekhususan dari cakupan
rumpun (body of knowledge) teknik biomedika. Teknik biomedika merupakan bidang
multidisiplin, yang merupakan berbagai metoda engineering, science& technology guna
dimanfaatkan dalam peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Teknik elektromedik juga
dapat diartikan suatu displin ilmu teknik yang menerapkan konsep, pengetahuan, dan seluruh
displin teknik untuk menyelesaikan masalah dalam bidang biologi dan medis untuk
perancangan dan pengembangan fasilitas sistem alat dalam mendukung prosedur diagnosa
klinis (Keputusan Mentri Kesehatan, 2007).

Ruang lingkup teknisi elektromedis secara umum adalah menjamin terselenggaranya


pelayanan kesehatan khususnya kelayakan siap pakai peralatan kesehatan dengan tingkat
keakurasian dan keamanan serta mutu yang standar.
2.3 Sosial Budaya Teknisi Elektromedis

Dari pengertian sosial budaya dan teknisi elektromedis diatas dapat diketahui bahwa
sosial budaya teknisi elektromedis adalah suatu atau segala hal yang diciptakan oleh orang-
orang khususnya teknisi elektromedis itu sendiri dengan pemikiran dan pengetahuan yang
dimilikinya guna dapat membantu atau demi kepentingan masyarakat pada umumnya
khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan. Sosial budaya teknisi elektromedis contohnya
seperti dalam mejalankan pelayanan kesehatan misalnya perbaiaikan suatu alat kesehatan
yang rusak, teknisi elektromedis memiliki SOP yang telah ditetapkan dan wajib ditaati agar
pelayanan kesehatan maksimal dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

2.4 Pelayanan Kesehatan di RS

Kegiatan pelayanan dalam suatu organisasi mempunyai peranan yang sangat strategis,
terutama pada organisasi yang aktivitas pokoknya adalah pemberian jasa

Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara, meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga,
kelompok, dan ataupun masyarakat (Azwar, 1998). Pelayanan oleh Moenir (1995)
dirumuskan setiap kegiatan yang dilakukan oleh pihak lain yang ditujukan untuk memenuhi
kepentingan orang banyak.

Pengertian pelayanan kesehatan lainnya, dikemukakan oleh Gani (1995) bahwa


pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat berupa tindakan penyembuhan,
pencegahan, pengobatan, dan pemulihan fungsi organ tubuh seperti sedia kala.

Berdasarkan rumusan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa bentuk dan jenis
pelayanan kesehatan tergantung dari beberapa faktor yakni:

1. Pengorganisasian pelayanan; pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan secara sendiri


atau bersama-sama sebagai anggota dalam suatu organisasi.
2. Tujuan atau ruang lingkup kegiatan; pencegahan penyakit, memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan, penyembuhan/ pengobatan dan pemulihan kesehatan.
3. Sasaran pelayanan; perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

Pelayanan rumah sakit merupakan salah satu bentuk upaya yang diselenggarakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelayanan rumah sakit berfungsi untuk memberikan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu yang dilakukan dalam upaya
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan
kesehatan yang bermutu dan terjangkau dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. (Suparto, 1994)

Rumah sakit sebagai salah satu bentuk fasilitas pelayanan kesehatan harus
memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas. Manajemen rumah sakit harus berupaya
memuaskan pasiennya, dalam hal ini masyarakat dengan berbagai tingkat kebutuhannya.

Sebuah rumah sakit didirikan dan dijalankan dengan tujuan untuk memberikan
pelayanan kesehatan dalam bentuk perawatan, pemeriksaan, pengobatan, tindakan medis atau
non medis, dan tindakan diagnosis lainnya yang dibutuhkan oleh masing-masing pasien dalam
batas-batas kemampuan teknologi dan sarana yang disediakan di rumah sakit (Wijono, 1999).

Disamping itu rumah sakit harus dapat memberikan pelayanan kesehatan yang cepat,
akurat, dan sesuai dengan kemajuan teknologi kedokteran sehingga dapat berfungsi sebagai
rujukan rumah sakit sesuai dengan tingkat rumah sakitnya.

Pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah kegiatan pelayanan berupa pelayanan


rawat jalan, pelayanan rawat inap, pelayanan administrasi, pelayanan gawat darurat yang
mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. (Datastudi, 2018)

2.5 Kategori Alat Kesehatan

Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di RS tentunya memerlukan peralatan-


peralatan penunjang dalam kegiatan pelayanan kesehatan tersebut. Berikut kategori alat
kesehatan yang ada di RS.

1. Peralatan Kimia Klinik dan Toksikologi Klinik


2. Peralatan Hematologi dan Patologi
3. Perlatan Imunologi dan Mikrobiologi
4. Peralatan Anestesi
5. Peralatan Kardiologi
6. Peralatan Gigi
7. Peralatan Teling, Hidung, dan Tenggorokan (THT)
8. Peralatan Gastroentrerologi-Urologi (GU)
9. Peralatan Neurologi
10. Perlatan Obstetrik dan Ginekologi
11. Peralatan Mata
12. Peralatan Ortopedi
13. Peralatan Kesehatan Fisik
14. Peralatan Radiologi
15. Peralatan Bedah Umum dan Bedah Plastik (Ditha, 2015)
2.6 Pemeliharaan Alat Kesehatan

Pemeliharaan merupakan suatu kegiatan rutin yang diulang ulang untuk menjamin
agar alat selalu dalam kondisi baik sehingga alat selalu siap dan laik pakai. Pemeliharaan
sendiri dapat dibagi menjadi pemeliharaan terencana dan pemeliharaan tidak terencana.
Pemeliharaan terencana ini merupakan pemeliharaan yang telah diorganisir, dilakukan dengan
perencanaan, serta pelaksanaanya sesuai jadwal serta dilakukan pengawasan dan pencatatan.
Sedangkan pemeliharaan tidak terencana merupakan jenis pemeliharaan yang bersifat
perbaikan terhadap kerusakan yang belum diperkirakan sebelumnya.

BAB III
ANALISA
3.1 Pemeliharaan Alat Kesehatan
Pada pelaksanaanya pemeliharaan alat kesehatan di RS tidak selalu berjalan sesuai
yang diharapkan. Meskipun pemeliharaan telah disiapkan dengan perencanaan yang sangat
baik tetap saja dalam pelaksanaanya timbul berbagai masalah, salah satu contohnya yaitu
tidak sebandingnya tenaga teknisi elektromedis dengan inventaris alat di RS dimana
menyebabkan beban kerja tenaga teknisi elektromedis melebihi batasnya.

Selain hal tersebut didalam pelaksanaan pemeliharaan alat kesehatan dituntut


melakukan pencatatan atau dokumentasi dari pelaksanaanya. Hal ini juga membuat waktu
produktif teknisi berkurang karena selain memiliki beban untuk memperbaiki alat juga
memiliki beban untuk mencatat atau dokumentasi hasil pekerjaanya. Seperti yang penulis
alami pada saat melaksanakan praktek kerja lapangan, bahwa kebanyakan teknisi
elektromedis tidak suka melakukan dokumentasi karena dianggap menyulitkan pekerjaanya.
Selain itu seorang teknisi juga merasa keberatan jika harus membawa sebuah kertas catatan
untuk mendokumentasikan hasil pekerjaanya.

Masalah seperti sangat sering ditemui bahkan mayoritas di RS lainpun juga


mengalami hal yang sama. Meskipun dokumentasi terlihat menyulitkan atau terkesan tidak
sederhana tetapi dokumentasi atau pencatatan ini sangat penting dilakukan oleh teknisi
elektromedis karena hasil dokumentasi ini dapat dijadikan pedoman jika dikemudian hari
terjadi kerusakan pada alat yang sama dengan masalah yang sama, selain itu dapat dijadikan
pedoman untuk mengetahui rekam jejak sebuah alat dengan merk tertentu apakah bagus atau
tidaknya sehingga dapat dipertimbangkan jika akan mengadakan pembelian alat baru.

3.2 Karya Teknisi Elektromedis

Dari beberapa masalah yang telah dijelaskan, seorang teknisi elektromedis di salah
satu RS tempat penulis melaksanakan praktek kerja lapangan memiliki sebuah ide untuk
mempermudah proses pemeliharaan tersebut dengan menciptakan sebuah terobosan di bidang
teknologi. Teknisi tersebut menciptakan sebuah aplikasi dengan sistem inventaris dan
pemeliharaan yang bisa digunakan atau dioperasikan menggunakan smartphone. Seperti yang
kita ketahui semua teknisi elektromedis pasti menggunakan smartphone sehingga aplikasi
sangatlah cocok untuk digunakan. Aplikasi ini dapat menunjang kegiatan pemeliharaan
sehingga teknisi elektromedis tidak harus membawa kertas atau melakukan pencatatan
manual yang menyulitkan. Melainkan teknisi hanya perlu menscan barcode yang telah
tertempel di alat yang diperbaikinya atau sedang dilakukan pemeliharaan. Setelah itu teknisi
mengisi apa saja kerusakan dan tindakan yang telah dilakukan dan juga dapat memberi
keterangan apakah alat siap dan laik pakai atau memerlukan penggantian spare part.

Aplikasi yang diciptakan ini sangatlah bermanfaat dalam menunjang kegiatan


pelayanan kesehatan sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara maksimal, aplikasi ini
juga masih dalam proses pengembangan sehingga diharapkan nantinya aplikasi ini bisa
dipergunakan tidak hanya di RS tersebut melainkan dapat digunakan di RS yang berada di
Indonesia.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Di dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan khususnya dalam alat kesehatan dimana
teknisi elektromedis masih banyak memiliki kekurangan atau masalah, tetapi seiring
berjalanya waktu, banyak teknisi elektromedis yang memiliki potensi mengembangkan
sebuah sistem yang nantinya dapat membantu atau bermanfaat bagi pelaksaan pelayanan
kesehatan di RS. Tentunya dengan potensi-potensi ini seharusnya pemerintah jeli melihat hal
ini sehingga teknisi teknisi elektromedis yang berprestasi seperti tersebut dapat disekolahkan
lagi untuk semakin memperdalam ilmu yang dimilikinya khususnya dalam bidang teknik
elektromedik.

4.2 Saran

1. Kepada Pemerintah Indonesia diharapkan dapat memberikan penghargaan pada teknisi-


teknisi elektromedis yang berprestasi sehingga mereka lebih termotivasi untuk memajukan
pelayanan kesehatan.

2. Untuk pembaca untuk lebih menggali dan mencari informasi lagi tentang karya-karya yang
telah diciptakan oleh teknisi-teknisi elektromedis yang bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA
Datastudi (2018) Efektivitas Pelayanan Kesehatan pada Rumah Sakit Umum.

Ditha, L. (2015) Daftar Kebutuhan Alat Kesehatan Rumah Sakit. Available at:
https://www.scribd.com/document/277693637/Daftar-Kebutuhan-Alat-Kesehatan-Rumah-
Sakit-docx.

Kesehatan, K. M. (2007) ‘Standar Profesi Elektromedis’, in.

W.J.S Poerwadarminta (1976) PRESTASI.

Wikipedia (2018) Prestasi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Available at:
https://id.wikipedia.org/wiki/Prestasi.