Anda di halaman 1dari 20

BAB PENGANTAR

1 VIDEO PRODUCTION

TUJUAN :
Peserta dapat mengerti dan memahami pengertian dan perkembangan
sinematografi dan film, fungsi film, serta unsur pembentuk film, genre
film sampai format film dan video

1.1 SINEMATOGRAFI
Sinematografi merupakan serapan dari bahasa inggris “Cinematography” yang
berasal dari bahasa Yunani: kinema - κίνημα "gerakan" dan graphein - γράφειν
"merekam") adalah ilmu serapan sebagai bidang ilmu yang membahas tentang
teknik menangkap dan merekam gambar dan menggabungkan gambar-gambar
tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi merupakan pengembangan dari fotografi, yang menangkap


gambar dengan cahaya. Awalnya fotografi hanya menghasilkan gambar tunggal
tidak bergerak (still photography), lalu berkembang menjadi movie/ cinema
photography, yang menghasilkan gambar bergerak dari rangkaian beberapa
gambar yang dipadukan. Still Photography dan Cinema Photography masing-
masing berjalan seiring perkembangan teknologi.

1.2 SEKILAS SEJARAH SINEMATOGRAFI


Tanda-tanda penemuan fotografi telah dilakukan sebelumnya, sampai pada
akhirnya, tahun 1824, seorang seniman lithography dari Perancis, Joseph-
Nicephore Niepce (1765-1833), setelah delapan jam memasukan cahaya
(exposed) pemandangan dari jendela kamarnya, dengan proses Heliogravure
(proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil
menciptakan sebuah gambar yang agak kabur, namun mampu mempertahankan
gambar secara permanen. Joseph-Nicephore Niepce terus melakukan
percobaannya hingga tahun 1826, yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi.

Pengembangan fotografi terus dilakukan hingga percobaan-percobaan


pembuatan gambar hidup. Thomas Alva Edison, ilmuan Amerika Serikat yang
dikenal sebagai penemu lampu listrik dan fonograf (phonograph) atau piringan

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 1


hitam, pada tahun 1887 merancang alat untuk merekam dan memproduksi
gambar yang dinamakan Kinetoskop (kinetoscope). Akan tetapi alat tersebut
belum dapat merekam atau membuat gambar karena belum ditemukan bahan
dasar untuk membuat gambar. Kemudian masalah terpecahkan saat George
Eastmen pendiri perusahaan kodak dan menawarkan gulungan pita seluloid yang
ditemukannya, memiliki plastik tembus pandang yang mudah digulung sebagai
temuan Eastman berupa film seluloid.

Auguste dan Louis Lumiere dari Perancis mencoba mengembangkan dan


memodifikasi Kinetoskop alat ciptaan Thomas Alfa Edison. Lumiere bersaudara
membuat kerja kinetoskop menjadi kamera yang dapat merekam serta berfungsi
juga sebagai proyektor berbahan dasar pita seluloid yang disebut
”Cinematographe”. Lumiere bersaudara memulai percobaannya merekam
kegiatan disekitar pabrik foto tempat mereka berkerja dengan menggunakan alat
ciptaannya. Sampai pada suatu peristiwa terjadi ketika Auguste dan Louis lumiere
untuk pertama kalinya tanggal 28 Desember 1895, menyewa ruang biliard tua
bawah tanah di Boulevard de Capucines Paris yaitu Grand Café yang kemudian
menjadi bioskop pertama di dunia, pada saat itu penonton berbondong-bondong
membeli karcis untuk melihat film bisu pertama kali ”Worker Leaving the Lumiere
Factory” diputar, film yang hanya diputar beberapa menit memperlihatkan
rombongan pekerja meninggalkan pabrik foto tempat Lumiere bekerja. Tontonan
tersebut membuat kagum penonton, masyarakat Perancis takjub dengan
tontonan baru itu, yang selanjutnya diperkenalkan sebagai tonggak perfilman
dunia.

Lumiere bersaudara hanya merekam realitas semata (dokumenter) tanpa


memberikan suatu kisah atau cerita. Lain halnya dengan George Millies dengan
film ”Voyage to The Moon” yang dibuat pada tahun 1902 mencoba keluar dari
realitas dengan memberikan penekanan cerita fantasi yang menarik. Di Amerika,
pada saat yang besamaan, Edwin S. porter menghasilkan dua film, The Life f an
American Fireman dan The Great Train Robbery (1903). Porter memperkaya
bidang sinematografinya dengan menemukan sistem editing sejajar (paralel
editing) yang terkenal dalam sejarah film dunia. Selanjutnya D.W Grifith dalam
karyanya Birth of the Nation (1913) dan Intolerance (1916) melengkapi estetika
film dengan pengambilan gambar meliputi close up, tracking, dan panning
camera. Kemudian pada tahun 1927 muncul film bersuara pertama The Jazz
Singer dengan Sutradara Alan Crosland yang mengubah citra film kedalam suatu
fenomena yang unik dan lebih kompleks. Gambar dan suara telah menyatu,

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 2


dialog dan nyanyian sudah dapat disinkronkan dengan gerak mulut para
pemeran. Film cerita panjang berwarna pertama di dunia pada 1926 ”Black
Pirate” dibuat dengan sistem Technicolor dengan sutradara Albert Parker, namun
belum bersuara. Technicolor kemudian berkembang menjadi merk dagang yang
digunakan sebagian besar film berwarna sesudahnya. Dalam tahun 1920-1930
film bicara belum tentu berwarna dan sebaliknya.

Dalam kurun waktu yang berbeda, lahir gerakan-gerakan film seni secara
Internasional, seperti di Jerman, Perancis, Rusia, Swedia, dan Italia. Pengakuan
film sebagai karya seni, melahirkan seniman-seniman film dari berbagai negara,
seperti Akira Kurosawa dari Jepang, Satyajit Ray dari India, Federico Fellini dari
Italia, John Ford dari Amerika Serikat, Ingmar Bergman dari Swedia, dan Usman
Ismail dari Indonesia (Sumarno, 1996:3).

1.3 SEJARAH SINEMA INDONESIA


Pada tahun 1926 L. Heuveldorp orang Belanda dan G.Kruger orang Jerman
mendirikan perusahaan film, Java Film Coy di Bandung dan pada tahun yang
sama mereka memproduksi film pertamanya berjudul Loetoeng Kasaroeng, yang
diangkat dari cerita legenda Sunda. Film ini tercatat sebagai film pertama yang
diproduksi di Indonesia dan ini dianggap sebagai tonggak sejarah awal perfilman
Indonesia. Film ini diputar perdana pada 31 Desember 1926. Film berikutnya
yang diproduksi adalah Eulis Atjih (1927).

Dalam perkembangan berikutnya banyak bermunculan studio film yang


dinominasi oleh orang-orang Cina. Pada tahun 1928 Wong Brothers dari Cina
(Nelson Wong, Joshua Wong, dan Othniel Wong) mendirikan perusahaan film
bernama Halimun Film dan memproduksi film pertamanya Lily Van Java (1928).
Film ini berkisah tentang seorang gadis Cina yang dipaksa untuk menikah dengan
laki-laki pilihan orangtuanya, padahal ia telah memiliki kekasih. Film ini sendiri
kurang disukai oleh penonton pada masa itu. Wong Brothers akhirnya mendirikan
perusahaan film baru bernama Batavia Film. Selain Wong Brothers, ada pula Tan’s
Film, Nansing Film dan perusahaan milik Tan Boen Swan. Nansing Film dan
perusahaan Tan Boen Swan memproduksi Resia Borobudur (1928) dan Setangan
Berloemoer Darah (1928).

Setelah L.Heuveldorp menarik diri, G.Kruger mendirikan perusahaan film sendiri


bernama Kruger Filmbedrif, yang memproduksi, Karnadi Anemer Bangkong
(1930) dan Atma De Visher (1931). Selain itu orang Belanda lainnya yaitu F.Carli

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 3


yang mendirikan perusahaan film bernama Cosmos Film Corp atau Kinowerk Carli
yang memproduksi De Stem des Bloed (Nyai Siti, 1930) yang berkisah mengenai
orang Indo, lalu juga Karina’s Zelfopofering (1932). Sedangkan Tan’s Film dan
Batavia Film pada tahun 1930 memproduksi Nyai Dasima (1930), Si Tjonat
(1930), Sedangkan Halimun film memproduksi Lari Ke Arab (1930).

Masuk era film bicara, tercatat dua film tercatat sebagai film bicara Indonesia
pertama adalah Nyai Dasima (1931) yang di-remake oleh Tan’s Film serta Zuster
Theresia (1931) produksi Halimun Film. Masa ini juga muncul The Teng Chun yang
mendirikan perusahaan The Teng Chun ”Cino Motion Pict” dan
memproduksi Boenga Roos dari Tjikembang (1931) danSam Pek Eng Tai (1931).
Sasarannya adalah orang-orang Cina dan kisahnya pun masih berbau budaya
Cina. Sementara Wong Brothers juga memproduksi Tjo Speelt Voor de
Film (1931). Sedangkan Kruger dan Tans’s berkolaborasi memproduksi Terpaksa
Menikah (1932). Di penghujung tahun 1932 beredar rumor kuat akan didirikan
perusahaan film asal Amerika. Semua produser menjadi takut karena tak akan
bisa menyaingi dan akhirnya Carli, Kruger dan Tan’s Film berhenti untuk
memproduksi film. Studio yang masih bertahan adalah Cino Motion Picture.

Beberapa tahun setelahnya muncul seorang wartawan Albert Balink yang


mendirikan perusahaan Java Pasific Film dan bersama Wong Brothers
memproduksi Pareh (1935). Film ini dipuji pengamat namun tidak sukses
komersil. Balink dan Wong akhirnya sama-sama bangkrut. Pada tahun 1937,
Balink mendirikan studio film modern di daerah Polonia Batavia yang bernama
ANIF (Algemeene Nederland Indie Film Syndicaat) dan memproduksi Terang
Boelan/ Het Eilan der Droomen (1937). Film ini berkisah tentang lika-liku dua
orang kekasih di sebuah tempat bernama Sawoba. Sawoba adalah sebuah
tempat khayalan yang merupakan singkatan dari SA(eroen), Wo(ng), BA(link)
yang tak lain adalah nama-nama penulis naskah, penata kamera, editor, dan
sutradaranya sendiri. Walau meniru gaya film Hollywood The Jungle
Princess (1936) yang diperankan Dorothy Lamoure namun film ini memasukkan
unsur lokal seperti musik keroncong serta lelucon yang diadaptasi dari seni
panggung. Film ini sukses secara komersil dan distribusinya bahkan sampai ke
Singapura. Pemeran utama wanitanya, Rockiah setelah bermain di film ini
menjadi bintang film paling terkenal pada masa itu. Kala itu Terang Boelan (1937)
adalah film yang begitu populer sehingga banyak perusahaan yang menggunakan
resep cerita yang sama.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 4


Pada tahun 1939 banyak bermunculan studio-studio baru seperti, Oriental Film,
Mayestic Film, Populer Film, Union Film, dan Standard Film. Film-film populer
yang muncul antara lain Alang-alang (1939) dan Rentjong Atjeh (1940). Pada
masa ini pula kaum pribumi mulai diberi kesempatan untuk menjadi sutradara
yang perannya hanya sebagai pelatih akting dan dialog. Justru yang paling
berkuasa pada masa itu adalah penata kamera yang didominasi orang Cina. Pada
era ini pula muncul kritik dari kalangan intelek untuk membuat film yang lebih
berkualitas yang dijawab melalui film, Djantoeng Hati (1941) dan Asmara
Moerni (1941). Para pemain dari kedua film ini didominasi kaum terpelajar
namun karena dirasa terlalu berat, para produsen film akhirnya kembali ke tren
awal melalui film-film ringan seperti Serigala Item (1941), Tengkorak Hidup
(1941).

Pada akhir tahun 1941, Jepang menguasai Indonesia. Semua studio film ditutup
dan dijadikan media propaganda perang oleh Jepang. Jepang mendirikan studio
film yang bernama Nippon Eiga Sha. Studio ini banyak memproduksi film
dokumenter untuk propaganda perang. Sementara film cerita yang diproduksi
antara lain Berdjoang (1943) yang disutradarai oleh seorang pribumi, Rd. Arifin
namun didampingi oleh sutradara Jepang, Bunjin Kurata. Pasca kemerdekaan RI
pada tahun 1945, studio film milik Jepang yang sudah menjadi kementerian RI
direbut oleh Belanda dan berganti nama Multi Film. Film-film yang diproduksi
antara lain Djauh Dimata (1948) dan Gadis Desa (1948) yang diarahkan oleh
Andjar Asmara. Di era ini pula muncul nama Usmar Ismail yang kelak akan
menjadi pelopor gerakan film nasional. Pada tahun ini pula, 1949, para produser
Cina lama mulai berani mendirikan studio lagi. The Theng Chun dan Fred Young
mendirikan Bintang Surabaja. Tan Koen Youw bersama Wong mendirikan Tan &
Wong Bros. Salah satu film produksi Tan & Wong Bros yang populer adalah Air
Mata Mengalir Di Tjitarum (1948).

Tahun 1952 menandai awal produksi film berwarna pertama Indonesia ”Rodrigo
De Villa” (sutradara: Gregorio Fenandez, Rempo Urip). Seluruhnya dikerjakan di
studio LVN Manila Filipina. Mulai tahun 1968 muncul ’Musim Warna’ dalam
produksi film Indonesia, semua film mulai di produksi dengan full Colour

1.4 FILM PRODUK SINEMATOGRAFI


Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi
dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam
bidang fotografi, film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 5


menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya
fotografi bergeser pada penggunaan media digital elektronik sebagai penyimpan
gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media penyimpan ini telah
mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan
selluloid (film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori
chip). Bertolak dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya
sinematografi yang memanfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.

Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi,


maka pengertian film telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film
yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap
pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat
disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat
disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital. Perkembangan teknologi
media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang mengacu
pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya seniaudio-visual.
Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang
menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.

Film merupakan wujud yang memadukan berbagai unsur seni lainnya seperti;
seni sastra, seni teater, seni rupa, seni suara, seni musik dan seni arsitektur yang
telah hadir sebelumnya. Seni film selalu mengikuti perkembangan teknologi,
dalam bahan baku produksi maupun dalam hal penyajiannya kehadapan
penonton. Film mejadikan seni ke tujuh setelah seni sebelumnya, yang terus
berkembang hingga saat ini.

1.4.1 Pengertian Film


Film adalah sebuah teks, setiap elemen yang terkandung dalam film merupakan
rangkain tanda-tanda yang disusun sehingga membentuk sebuah makna.
Pencapaian pembentukan makna dalam film sebuah proses dengan kerangka
pengalaman dan berfikir pembuat film menciptakan pemikiran yang tersurat
maupun tersirat. Menurut M.Boggs (Asrul Sani, 1986:3) "Jika sebuah film
memberikan kesan tidak lebih dari produk sebuah proses mekanik, maka yang
menjadi sebab adalah karena kekuatan pengendali yang berada dibelakang film".
Sutrada memiliki peranan terhadap pandangan artistik, dalam menafsirkan
sebuah cerita menjadi sebuah visual. Daya kreatif, kepekaan dan penglihatan

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 6


artisitik sebagai alat untuk mengeluarkan kemampuan dalam menyampaikan
hakekat penglihatan yang dapat dituangkan.

Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang
merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan
asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video,
dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis,
dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya,
dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan
dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya.

Perkembangan teknologi media yang mampu menghadirkan gambar hidup


bergerak (motion picture) memberikan perubahan dan penambahan fungsi
dalam berkomunikasi. Film sebagai bentuk hiburan yang mengandung banyak
pesan di dalamnya memiliki nilai estetika yang dikembangkan hasil dari
kemampuan manusia dalam mencipta bentuk dan seni berkomunikasinya. Pesan
dalam film merupakan bentuk komunikasi antara pembuat dan penonton dapat
berhubungan langsung dengan masyarakat atau massa, dengan menghadirkan
realitas yang berkembang dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikannya
ke atas layar. Pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam film bertujuan untuk
memproduksi makna. Kekuatan komunikasi sebuah film dapat menjangkau
tingkatan sosial sehingga kerap mempengaruhi dan membentuk pola pikir dan
prilaku masyarakat berdasarkan muatan pesan yang diterimanya. Film
menghadirkan gambaran kehidupan sosial sebuah realitas yang mewakili
kelompok masyarakat tertentu, baik realitas rekaan ataupun realitas
sesungguhnya, sehingga dapat memberikan pengaruh secara emosional dan
mengangkat popularitas tertentu di masyarakat.

1.4.2 Unsur Pembentuk Film


Bahasa film merupakan rangkaian suara dan gambar yang disusun berdasarkan
alur cerita. Para pembuat film menawarkan berbagai solusi dengan gaya
komunikasi yang dikembangkan yang ditawarkan kepada penonton. Diterima
atau tidaknya atau jika diukur dari baik atau buruknya sebuah film tergantung
dari pengalaman dan pola pikir pembuat film. Penonton punya peranan untuk
memahami film secara utuh, pemahaman terhadap aspek naratif dan aspek
sinematik sebuah film. Pengalaman pembuat film dan pengalaman penonton
akan sejalan untuk menuju pemahaman secara utuh sebuah film.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 7


Alat berkualitas serta teknik tinggi yang digunakan para sineas belum tentu dapat
menghasilkan film yang berkualitas, tergantung bagaimana mengolahnya.
Penuturan cerita yang baik harus sejalan pula dengan penuturan sinematik yang
baik. Tidak ada tolak ukur pasti dalam pencapaian film yang memadai, akan
tetapi tergantung dari bagaimana penafsiran itu mampu dipahami. Menurut
Pratista (2008:3), "Sineas dapat memilih alternatif bentuk teknik apapun sejauh
sesuai dengan konteks naratifnya".

Pemahaman terhadap sebuah film tergantung dari pengelolaan tema, cerita


adegan, efek visual, suara, seting, akting, teknik pengambilan gambar, atau
lainnya. Untuk memahami sebuah film memerlukan pemahaman terhadap
unsur-unsur pembentuk film. Unsur naratif dan unsur sinematik merupakan dua
aspek yang saling berhubungan, berinteraksi, dan saling berkesinambungan satu
sama lain membentuk film.

Unsur naratif merupakan aspek penceritaan, alur cerita serta plot-plot cerita yang
dibangun. Sedangkan unsur sinematik merupakan gaya sinematik penuturan
secara visual dengan aspek teknis pembentuk film, yang di dalamnya terdiri dari
empat elemen yaitu; mise-en-scene, sinematografi, editing, dan suara, dimana
masing-masing elemen tersebut saling berintreaksi dan berkesinambungan untuk
membentuk gaya sinematik secara utuh.

FILM

UNSUR NARATIF UNSUR SINEMATIK

Mise-en-scene
Sinematografi
Editing
Suara
Diagram I.1 Diagram interaksi dan kesinambungan unsur pembentuk film (Pratista, 2008:2)

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 8


1.4.2.1 Unsur Naratif
Setiap cerita yang dibangun tentunya memliki unsur naratif, baik itu cerita yang
ditulis, dituturkan, atau digambarkan mengandung unsur naratif yang
ditimbulkan dari sebuah hubungan sebab akibat (kausalitas). Menurut Pratista
(2008:33), "Naratif adalah suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu
sama lain dan terikat oleh logika sebab akibat (kausalitas) yang terjadi dalam
suatu ruang dan waktu". Setiap kejadian memiliki alasan yang jelas, karena
sesuatu terjadi karena ada sebab dan akibat yang saling terikat. Naratif hadir
karena aksi pelaku cerita yang memunculkan tuntutan dan keinginannya,
sehingga segala aksi dan tindakan pelaku akan memotivasi terjadinya peristiwa
selajutnya dan seterusnya.

Cerita yang dikembangkan untuk film, baik itu cerita asli ataupun cerita adaptasi,
dalam penuturannya akan mengalami pembagian jalur cerita dengan
menentukan plot cerita. Plot itu sendiri merupakan rangkaian peristiwa yang
disajikan secara visual maupun audio dalam film (pratista, 2008:34). Memilih
bagian-bagian cerita yang perlu dan tidak perlu untuk disajikan, tergantung dari
jalur cerita yang dipilih dari inti ceritanya. Menurut M. Boggs (Asrul Sani, 1986),
"Sebuah plot atau jalur cerita yang dipersatukan memusatkan diri pada suatu
urutan laku yang berkesinambungan, dimana satu kejadian membawa kita
kekejadian lain secara wajar dan logis".

1.4.2.1.1 Hubungan Naratif


Alasan sebuah peristiwa yang dituturkan sebagai dasar naratif terikat dalam
ruang dan waktu. Hubungan naratif dengan ruang dan waktu menandakan
tempat dan waktu kejadian berlangsung ketika cerita dituturkan dari setiap
adegan dan sekuen yang dibangun.

- Hubungan naratif dengan ruang


Film dibuat dengan kejadian pada suatu tempat atau lokasi yang memiliki
dimensi, ruang yang jelas, wilayah yang tegas. Lokasi bisa yang sesungguhnya
atau lokasi fiktif (rekaan). Menunjukan nama wilayah sesungguhnya dalam
film dengan lokasi yang digunakan tanpa rekayasa, atau menggunakan
tempat atau lokasi yang fiktif, dengan nama wilayah yang tidak ada di bumi
ini hanya dalam dunia khayalan atau imajinatif.
- Hubungan naratif dengan waktu
Waktu dalam sebuah peristiwa merupakan bagian dalam hubungan sebab
akibat yang timbul. Sebuah cerita dapat dipastikan memiliki unsur waktu,

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 9


sebuah kejadian dengan waktu masa lalu, saat ini ataupun masa yang akan
datang. Menurut Pratista (2008:36), "Terdapat beberapa aspek waktu yang
berhubungan dengan naratif sebuah film, yakni urutan waktu, durasi waktu,
dan frekuensi waktu".
 Urutan waktu
Urutan waktu menunjuk pada pola berjalannya waktu cerita sebuah
film, dengan pola linier dan nonlinier. Pola linier dituturkan berdasarkan
plot film dengan menggunakan waktu berjalan sesuai dengan urutan
aksi peristiwa tanpa adanya jeda waktu yang signifikan. Penuturan cerita
secara linier memudahkan untuk melihat hubungan sebab akibat jalinan
satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Jikan cerita film berlangsung
dalam satu hari, dituturkan secara berurut dari pagi, siang, sore, hingga
malam. Pendek atau panjangnya rentang waktu cerita jika tidak ada jeda
waktu yang signifikan, walau menggunakan multi plot (tiga cerita atau
lebih) tetap dikatakann pola linier. Sedangkan pola nonlinier
menggunakan pola urutan waktu yang tidak berurutan, dengan
memanipulasi urutan waktu kejadian. Urutan itu dapat berlangsung
siang, malam, padi, dan sore. Biasanya pola seperti ini sering
menyulitkan penonton untuk memahami film.
 Durasi waktu
Berdasarkan tuntutan naratif, seorang pembuat film harus mampu
memanipulasi durasi waktu cerita film. Durasi untuk film layar lebar
biasa berkisar antara 90 hingga 120 menit. Durasi waktu dalam film
dapat disamakan dengan durasi waktu sesungguhnya atau akan
dipersempit, dan dipanjangkan. Durasi yang bercerita dalam satu hari
dari pagi sampai sore hanya akan dibuat dalam durasi waktu antara 90
sampai 120 menit, bahkan sebuah cerita memliki rentan waktu puluhan
tahun dalam kisahnya.
 Frekuensi waktu
Kemunculan adegan dalam penuturan sepanjang cerita, umumnya
setiap adegan muncul sekali, namun ada juga yang muncul beberapa kali
dengan kasus kilas balik atau kilas depan, dan adegan yang sama muncul
kembali bahkan berkali-kali.

1.4.2.1.2 Elemen dan Pola Struktur Naratif


Elemen Naratif
Elemen Naratif ada pada setiap cerita film dan memiliki bentuk naratif yang
berbeda-beda, terkadang memiliki kemiripan antara satu cerita dengan cerita

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 10


lain, akan tetapi dengan penuturan cerita, pelaku, lokasi, permasalahan, konflik,
dan penyelesaiannya dapat membedakan satu sama lainnya. Elemen naratif itu
antara lain adanya karakter yang dibangun, permasalahan yang menimbulkan
konflik, serta tujuan penyelesaian permasalahannya. Hadirnya motivasi dalam
penceritaan dimana pelaku dengan aksi dari peristiwa yang terjadi selalu
memiliki tujuan untuk penyelesaiannya. Tiga elemen naratif yang secara umum
dikembangkan dalam pembuatan cerita film antara lain (pratista, 2008:43-44):
 Pelaku Cerita
Setiap film cerita secara umum memiliki karakter pelaku utama dan
pendukung. Karakter utama sebagai motivator utama yang menjalankan alur
naratif dari awal hingga akhir cerita. Sedangkan pelaku pendukung dapat
bertindak sebagai pemicu konflik atau membantu pelaku utama
menyelesaikan permasalahan.
 Permasalahan dan konflik
Permasalahan sebagai penyebab yang dihadapi pelaku utama untuk
mencapai tujuannya. Permasalahan hadir karena sebuah pertentangan,
perlawanan, atau hal lainnya demi tujuan yang ingin dicapai. Permasalahan
akan memicu konflik baik secara fisik ataupun batin dari para pelaku.
 Tujuan
Akhir dari permasalahan akan memunculkan tujuan dan harapan. Cerita yang
dibangun akan membawa pada akhir cerita yang berbeda-beda, umumnya
cerita diakhiri dengan membahagiakan (happy ending), namun tidak sedikit
diakhiri dengan hal yang menyedihkan (sad ending), atau bahkan membuka
pikiran untuk akhir yang tidak jelas kemana arahnya (open ending) yang
membuka pemikiran dan interpretasi penonton selanjutnya. Tujuan cerita
yang dibangun dapat berupa fisik (materi) yang sifatnya jelas atau nyata, atau
berupa nonfisik (non materi) yang sifatnya tidak nyata (abstrak). Tujuan
secara fisik dapat dilihat dari beberapa kasus film dengan pelaku utama
berhasil menumpas kejahatan mengalahkan musuh-musuhnya. Secara
nonfisik biasanya tujuan akhir dengan mendaoatkan kebahagiaan, kepuasan
batin, atau lainnya.

Pola Struktur Naratif


Pengembangan plot cerita film memilki pola struktur naratif yang secara umum
dibagi dalam tiga tahap yakni; permulaan, pertengahan, dan penutupan. Tiga
tahapan plot yang dikembangkan ini mulai dari karakter, masalah, tujuan, serta
aspek ruang dan waktu ditetapkan dan dikembangkan menjadi alur cerita secara
utuh.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 11


Permulaan Pertengahan Penutupan

Aspek Ruang dan Konflik Konfrontasi akhir


Waktu para Pelaku Konfrontasi Resolusi
Masalah Pengembangan masalah Tujuan

Gambar II.1 Pola struktur naratif (Pratista, 2008:45)

 Tahap Permulaan
Tahapan awal merupakan titik paling penting sebuah cerita film, karena
ditahap ini memperkenalkan tokoh pelaku yang berperan dan awal
permasalahan yang akan terjadi. Dalam tahapan ini biasanya menghadirkan
prolog atau cuplikan kejadian pendahulu untuk mengungkap cerita
selanjutnya.
 Tahap Pertengahan
Pada tahap ini munculnya konflik antar para pelaku dalam cerita, sehingga
menimbulkan konfrontasi (fisik). Masalah mulai berkembang pertentangan
terus berlangsung dengan segala kejutan-kejutan yang dimunculkan untuk
mempersulit permasalahan dengan tempo cerita yang semakin meningkat
menuju pada klimaknya.
 Tahap Penutupan
Klimaknya cerita biasanya diakhiri dengan konfrontasi akhir baik itu untuk
menentukna siapa yang menang atau yang berkuasa dengan segala tujuan
dan harapan yang ingin dicapai dari konfrontasi yang telah terjadi.

1.4.3 Struktur Film


Secara struktur, film dapat dipecah menjadi beberapa unsur, yakni; shot, adegan
(scene), dan sekuen (sequence), menurut Pratista (2008:29), "Pemahaman
tentang shot, adegan, dan sekuen nantinya banyak berguna untuk membagi urut-
urutan (segmentasi) plot sebuah film secara sistematik".
 Shot merupakan serangkaian gambar hasil rekaman kamera. Tiap shot
adalah take, apabila terjadi pengambilan gambar beberapa kali atau
beberapa take dalam satu shot dalam satu set up yang sama dinamakan
re-take. Apabila set up nya berubah atau kamera berpindah itu
dinamakan shot baru bukan re-take. Misalnya shot ketika adegan
seseorang bangun tidur, melihat jam wekernya lalu bangun dan keluar
kamar untuk mandi.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 12


 Scene, merupakan tempat adegan atau setting yang dilakukan dimana
kejadian berlangsung. Satu scene bisa terdiri dari satu shot atau beberapa
shot yang menggambarkan peristiwa atau kejadian yang
berkesinambungan. Misalnya shot satu ketika adegan seseorang bangun
tidur, melihat jam wekernya lalu bangun dan keluar kamar untuk mandi.
Shot dua diruang keluarga ketika dia baru keluar dari kamar mandi. Shot
ketiga diruang makan ketika dia sedang sarapan pagi.
 Sequence, terdiri dari beberapa scene atau adegan yang utuh. Satu
sequence bisa berlangsung pada satu setting atau beberapa setting.
Sequence dalam sebuah film biasanya memperlihatkan kejadian yang
berlangsung tiap babak yang dipisahkan dalam alur cerita yang dibangun,
memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh. Sekuen dapat
diibaratkan dalam buku sebagai sebuah bab atau sekumpulan bab.
Misalnya sebuah sequence dimulai dari aktifitas seseorang waktu pagi di
dalam rumah dengan kegiatan menjelang pergi kuliah. Pergi ke kampus
dan kegiatan dikampus sampai sore hari. Akhirnya pulang menjelang
magrib sampai hari sudah gelap. Pembagian sekuen bisa dikategorikan
berdasarkan karakter tokoh dari anak-anak sampai dewasa, lokasi cerita,
dan atau berdasarkan alur cerita.

Sebuah film dapat dibangun dengan satu atau lebih sekuen, yang tersusun dari
satu atau beberapa adegan. Contoh pembagian sekuen dari film petualanagn
yang berjudul Raider of The Lost Ark karya steven Spielberg. Filmnya
mengisahkan petualangan tokoh heroik, Indiana Jones untuk mencari sebuah
artefak bernilai tinggi yang memiliki kekuatan maha dahsyat, yang berdurasi 115
menit terbagi atas 10 buah sekuen (Pratista, 2008:31). Pembagian sekuen
menggunakan beberapa lokasi diberbagai wilayah dan negara. Setiap sekuennya
dibagi berdarkan adegan yang berlangsung.

Tabel II.1 Pembagian sekuen film Raider of The Lost Ark


No Sekuen Lokasi Cerita
1 The Golden Idol Amerika Selatan
2 Tugas Khusus Amerika Serikat
3 Petualangan di Nepal Nepal
4 Petualangan di Kairo Mesir
5 Penggalian Tanis Mesir
6 The well of Souls Mesir
7 Merebut The Ark Mesir

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 13


8 Kapal Mr. Katanga Kapal Laut
9 Upacara Suci Pulau Rahasia
10 Washington D.C Amerika Serikat

Pembagian adegan dengan contoh yang diambil dari sekuen The Golden Idol,
yang berdurasi 12:44 menit dan dibagi menjadi empat buah adegan (Pratista,
2008:31)

Tabel II.2 Pembagian adegan dari sekuen The Golden Idol


No Adegan
1 Hutan di Amerika Selatan
a. Penemuan Patung Asing
b. Panah beracun di suku Hovitos
c. Aksi cemety Indy
2 Gua Lokasi Artefak
a. Indy menemukan lokasi gua
b. Tarantula
c. Jebakan Panah
3 Artefak The Golden Idol
a. Ruang artefak
b. indy mengambil artefak
c. Adios sen'or!
d. Bola Raksasa
4 Belloq dan suku Hovitos
a. Belloq merebut artefak
b. Aksi pengejaran
c. Jack! The Engines!

1.5 Jenis-jenis Film dan Perkembangannya


Jenis film dibagi dalam dua kategori fiksi atau drama dan non fiksi atau non
drama. Dari sisi penonton film dibagi menjadi film anak, remaja, dewasa dan
semua umur. Dari segi pemerannya, film dibedakan menjadi film animasi dan non
animasi. Sedangkan menurut durasinya, film dibedakan menjadi film pendek dan
film panjang. Film Pendek (Short Films), biasanya durasi dibawah 60 menit.
Dibeberapa negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika, film cerita
pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang
atau kelompok orang untuk kemudian memproduksi flm panjang. Sekalipun

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 14


demikian ada juga yang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek,
umumnya hasil produksi dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.

Film Panjang ( Feature-Length Films), film dengan durasi lebih dari 60 menit
lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar dibioskop umumnya
termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film bahkan berdurasi lebih dari 120
menit seperti film-film kolosal. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga
180 menit.

Jenis Film secara umum dibagi sebagai berikut:


 Film Dokumenter (Documentary film)
Berisi kisah non-fiksi atau non drama. Biasanya jenis ini menampilkan sebuah
kisah nyata dan dibuat ditempat aslinya. Dokumenter menyajikan realita
melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan baik itu
dalam penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau
kelompok tertentu. Intinya, Film Dokumenter berpijak pada hal-hal yang
senyata mungkin.

Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari dokumenter


misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama terjadi reduksi realita
demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik.
Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat
dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Realita tetap menjadi pakem
pegangan.

Kini Dokumenter menjadi trend tersendiri dalam perfilman dunia. Banyak


film dokumenter yang kita saksikan dalam saluran televisi seperti National
Geographic dan animal planet, bahkan saluran televisi Discovery Channel
menyatakan sebagai saluran televisi yang hanya menayangkan dokumenter
tentang keragaman alam dan budaya.

Di Indonesia film Dokumenter untuk televisi dipelopori oleh TVRI. Beragam


film dokumenter tentang kebudayaan, flora dan fauna Indonesia. Sampai
sekarang sudah begitu banyak bermunculan film dokumenter melalui
televisi-televisi swasta yang ada. Salah satu gaya film dokumenter yang cukup
menarik adalah Anak Seribu Pulau (Miles Production). Dokudrama ini
ternyata disukai banyak kalangan. Dokudrama mengilhami para pembuat

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 15


film Hollywood, beberapa film terkenal juga mengambil gaya dokudrama
seperti JFK, Malcom X dan Schindler’s List.

Film Cerita dapat dikelompokan dalam beberapa jenis:


 DRAMA
Cerita drama adalah cerita fiksi bercerita tentang kehidupan dan perilaku
manusia sehari-hari. Tema ini mengangkat tema human interest sehingga
yang disasar adalah perasaan penonton untuk meresapi kejadian yang
menimpa tokohnya berkaitan dengan latar belakang kejadiannya
(melodrama).
 TRAGEDI
Tema film ini menitikberatkan pada nasib manusia. Sebuah kejadian yang
menceritakan tentang duka lara, kematian, kesedihan, kekecewaan
ataupun kejadian yang akhirnya membuat tokohnya selamat dan bahagia.
Contoh Film: Romeo & Juliet, Titanic, Ghost, dll.
 KOMEDI
– Komedi Situasi, cerita lucu yang muncul dari situasi yang dibentuk
dalam alur ceriranya.
– Komedi Slapstic, adalah komedi yang memperagakan adegan konyol
seperti dilempar kue, terpeleset kulit pisang,dan lainnya.
– Komedi Satire, cerita lucu yang penuh sindiran tajam dari suatu
kejadian atau fenomena yang sedang terjadi.
– Komedi farce, cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan
kelucuan-kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.
 MISTERI
– Kriminal, Misteri yang sangat terasa unsur ketegangannya/ suspense,
dan biasanya menceritakan seputar kasus pembunuhanatau
pemerkosaan. Si pelaku biasanya akan menjadi semacam misteri
karena diperkuat alibinya dalam cerita tersebut. Sering kali dalam
cerita jenis ini, beberapa tokoh bayangan dimasukan untuk mengecoh
penonton.
– Horor, Misteri yang bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan
roh halus atau mahluk yang menakutkan, semacam setan. Film ini
membrikan suasana yang menakutkan dan menyeramkan. Suasana
horor dalam sebuah film dapat dibuat dengan cara animasi atau special
effect, atau dengan tokoh langsung
– Mistik, Misteri yang bercerita tentang unsur gaib, seperti dunia lain,
legend misteri, ekspedisi alam gaib, dll.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 16


 LAGA/ ACTION
Cerita yang menampilkan adegan perkelahian, tembak-tembakan, kebut-
kebutan sehingga tem ini bisa dikatakan sebagai film yang berisi
pertarungan atau pertempuran secara fisik.
 PARODI
Tema parodi merupakan duplikasi dari film-film tertentu, tetapi
dipelesetkan (disindirkan). Parodi mengulang film yang sudah ada
(biasanya yang cukup terkenal yang pendekatannya secara komedi.
Contohnya film Scary movie.

Dari berbagai jenis film cerita yang ada dapat digabungkan dari beberapa
cerita diantaranya menjadi: Komedi-Misteri, Misteri-Laga, Tragedi-Komedi,
Komedi-laga, Dokumenter-Drama atau lainnya.

Film Jenis Lainnya


 Profil Perusahaan (Corporate Profile)
Film ini diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan
kegiatan perushaan yang dilakukan.
 Program Televisi (TV Program)
Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum,
program televisi dibagi dalam dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis
cerita terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok
non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (tv series), film televisi
(FTV) dan film cerita pendek. Kelompok non fiksi menggarap aneka
program pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh. Sedangkan
program non cerita menggarap variety show, TV quiz, talk show, reality
show dan liputan/ berita.
 Video Klip (Music Video)
Vidoe klip adalah sarana untuk memasarkan produknya lewat televisi.
Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV tahun 1981. Di
Indonesia sendiri Video klip pertama kali dipopulerkan TVRI pada awal
tahun 1980 dalam acara “Selekta Pop” dan “Chandra Kirana” dengan
teknik Chroma Key yaitu teknik penumpukan gambar dan cropping yang
pada waktu itu masyarakat Indonesia tidak begitu mengetahui bahwa itu
adalah video klip. Di Indonesia Video klip kemudian berkembang sebagai
bisnis yang menggiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta.
Akhirnya Video klip tumbuh sebagai aliran dan industri tersendiri.
 Iklan Televisi (TV Comercial)

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 17


Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi , baik tentang
produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan
masyarakat atau Public Service Announcement/PSA). Iklan produk
biasanya menampilkan produk yang diiklankan secara ‘eksplisit’, artinya
ada stimulus audio-visual yang jelas tentang produk tersebut. Sedangkan
iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen atau
suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan
tersebut.

Format Film dan Video


Dalam menetapkan produksi film, penting menetapkan format mana yang akan
digunakan. Format film atau format video, masing-masing memiliki dan
membutuhkan perlakuan yang berbeda dan akan menyangkut terhadap budget
serta hasil akhir kualitas film itu sendiri.

Ada dua format yang biasa dipakai untuk memproduksi film, format film dan
format video. Hingga periode 1980-an, perbedaan format memunculkan dua
kelompok, kelompok film dan kelompok video yang tak saling berurusan satu
sama lain. Kelompom film pengguna pita seluloid nyaris tak pernah menyentuh
video, begitu juga sebaliknya.

 Format Film.
Film dibuat dengan bahan dasar seluloid yang awalnya sangat mudah
terbakar, bahkan oleh percikan abu rokok sekalipun. Namun pita seluloid ini
terus disempurnakan sehingga lebih aman dan lebih mudah diproduksi. Saat
ini ada tiga macam ukuran film yang diproduksi secara masal yaitu 35 mm, 16
mm, 8 mm. Angka tersebut menunjukan lebar pita seluloid. Semakin lebar
pita semakin baik pula kualitas gambar yang dihasilkan. Untuk keperluan
khusus film 65 mm dan 70 mm bisa dipergunakan. Namun semakin lebar pita
semakin jarang alat perekam dan alat proyeksi yang tersedia dan pastinya
akan sangat mahal.

Untuk format Film, dalam proses editingnya terlebih dahulu harus


memproses film yang dipakai untuk merekam gambar (exposed Film)
tersebut di laboratorium untuk dibuat positifnya (rush Copy) agar bisa
ditonton dengan ruang proyeksi. Namun perkembangan teknologi terkini
memberi kemudahan dengan tidak lagi membuat rush copy untuk bisa
melihat hasil shooting. Setelah melalui proses negative development,

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 18


exposes film tersebut bisa ditransfer ke format video (telecine), seperti
betacam SP, Digital Betacam atau VHS untuk bisa ditonton lewat pesawat
televisi.

 Format Video
Format berbahan dasar pita magnetik ini mulai dikenal luas di seluruh dunia
pada paruh kedua periode 1970-an, baik untuk keperluan profesional seperti
statiun TV maupun keperluan pribadi. Pita magnetik ini dapat merekam
gambar dan suara dengan baik, sementara film hanya dapat merekam
gambar. Kelemahan sistem analognya membuat pemakaian video untuk
keperluan profesional terhambat. Di periode 1960-1980, nyaris semua
statiun TV di dunia (termasuk TVRI yang mulai beroperasi tahun 1962
menggunakan kamera 16 mm untuk merekam acaranya, termasuk proses
editingnya.

Pada awalnya video menggunakan teknologi editing dengan sistem analog


yaitu tape to tape (dari pita kaset ke pita kaset). Sistem ini mempunyai
kelemahan dengan menurunnya kualitas gambar saat dilakukan pemindahan
dari satu kaset ke kaset lain. Ketika sistem digital bisa dipakai untuk
memindahakan data dari pita kaset ke komputer yang populer lewat mesin
AVID sejak 1989, penurunan kualitas gambar tidak terjadi lagi.

Video mempunyai berbagai jenis untuk berbagai keperluan yaitu U matic,


Betacam SP, Digital Betacam, Betamax, VHS, S-VHS, Mini DV, DV, DVCAM dan
DVC Pro. U Matic merupakan jenis video profesional untuk keperluan televisi
sampai era 1980-an. Begitu format Betacam SP yang kualitasnya jauh lebih
baik masuk ke Indonesia dikurun waktu 1990-an, U Matic pun ditinggalkan
orang. Menjamurnya jenis Betacam SP juga didukung oleh perkembangan
alat editing yang memakai teknologi digital. Digital Betacam muncul
menyempurnakan format Betacam SP dengan teknologi digital, umumnya
digunakan untuk keperluan iklan televisi.

Seiring perjalanan waktu, kemudahan pengoperasian kamera menjadi salah


satu faktor penting dalam memilih format video, khususnya untuk pasar non
profesional. Sejak tahun 1995, pasar dunia mulai dibanjiri dengan teknologi
DV (digital Video). Salah satu ciri utama teknologi ini adalah digunakannya
CCD atau Chrage Couple Device adalah Chip elektronik yang peka cahaya.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 19


Tugasnya mengubah cahaya yang masuk menjadi sinyal digital untuk
kemudian disimpan kedalam pita bentuk sinyal video.

SHOOTING/
EDITING PENAYANGAN
BAHAN DASAR
Film Film Film
Film Video Film
Film Video Video
Video Video Film
Video Video Video
Gambar I. 1 Tabel Shooting Format

Shooting Ratio adalah perbandingan antara durasi bahan baku yang


dibutuhkan dengan durasi film (hasilnya). Shooting Ratio 1:3 misalnya, yaitu
untuk menghasilkan durasi film 1 menit, maka membutuhkan bahan baku
berdurasi 3 menit. Contoh, kita membuat film dengan durasi 30 menit,
dengan menggunakan Betacam SP yang satu kasetnya berdurasi 30 menit.
Dengan shooting ratio 1:3 maka kita membutuhkan 3 kaset video betacam
SP. Apabila shooting yang akan dilakukan lebih rumit, buat shooting rationya
1:5. Perbandingan ini sudah mengantisipasi kemungkinan terjadi
pengulangan shot.

PENGANTAR VIDEO PRODUCTION Page 20