Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tumor payudara merupakan benjolan di payudara. Timbulnya benjolan pada payudara
dapat merupakan indikasi adanya jenis tumor atau kanker payudara. Namun, untuk
memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 1 Tumor secara umum ialah
kondisi dimana pertumbuhan sel tidak normal sehingga membentuk suatu lesi atau dalam
banyak kasus, benjolan di tubuh. Tumor terbagi menjadi dua, yaitu tumor jinak dan tumor
ganas. Tumor jinak memiliki ciri-ciri, yaitu tumbuh secara terbatas, memiliki selubung,
tidak menybar dan bila dioperasi dapat dikeluarkan secara utuh sehingga dapat sembuh
sempurna, sedangkan tumor ganas memiliki ciri-ciri, yaitu dapat menyusup ke jaringan
sekitarnya, dan sel kanker dapat ditemukan pada pertumbuhan tumor tersebut. (infdatin)
Meskipun kebanyakan dari tumor payudara merupakan tumor jinak, perlu diwaspadai
apabila kemungkinan terjadinya tumor ganas. Berdasarkan data GLOBOCAN,
International Agency for Research Cancer, terdapat lebih dari 14 juta kasus baru kanker
dan terdapat lebih dari 8 juta kematian akibat kanker di seluruh dunia. Kanker payudara
merupakan jenis kanker dengan presentasi tertinggi yaitu sebesar 43,3%. Di Indonesia
insidens kanker payudara menempati ngka 134 dari 100.000 penduduk dengan insidens
tertinggi pada perempuan adalah kanker payudara sebesar 40 per 100.000 penduduk.
(Infodatin)

Perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosa dini, pengobatan kuratif


maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada penderita kanker
payudara dapat dilakukan secara optimal. Salah satu caranya ialah dengan pemeriksaan
Breast Imaging and Reporting Data System (BIRADS) untuk memprediksi adanya
keganasan pada payudara serta meningkatkan akurasi diagnosis radiologi pada kelainan
payudara.(ncbi)
2.1 Definisi
Tumor payudara merupakan pertumbuhan benjolan yang tidak normal akibat
perrkembangan sel yang terjadi secara terus menerus. Sedangkan dalam praktik klinis tumor
merupakan kondisi dimana pertumbuhan sel tidak normal sehingga membentuk suatu lesi
atau dalam banyak kasus, benjolan di tubuh.

2.2 Histologi Kelenjar Mammae


Kelenjar mammae mempunyai karakteristik yaitu memiliki banyak jaringan ikat dan
sedikit kelenjar. Beberapa perubahan siklik mungkin dapat terlihat saat siklus menstruasi.
Kelenjar lobulus terdiri dari tubulus kecil atau duktus intralobularis.yang dilapisi oleh epitel
kuboid atau kolumnar rendah. Di dasar epitel adalah sel mioepitel kontraktil. Duktus
interlobulalris yang lebih besar mengelilingi lobules dan ductus intralobularis. Duktus
intralobularis dikelilingi oleh jarignan ikat longgar intralobularis yang mengadung fibroblast,
limfosit, sel plasma dan eosinophil. Lobules dikelilingi oleh jaringan ikat padat interlobularis
yang mengndung pembuluh darah, venula dan arteriol.Fiore

Gambar . Histologi Kelenjar MammaeFiore


2.8 Komplikasi
Komplikasi dari tumor mammae yaitu ialah proses metastase pada tumor mammae yang
ganas. Metastase yang dapat terjadi yaitu proses metastase tulang, liver, intrathorakal, otak,
dan abdomen.
a. Metastase tulang
Proses metastase tulang dapat terjadi kurang lebih sekitar 69% dari pasien yang
mengalami kanker payudara stadium lanjut maupun rekuren, tulang merupakan
metastasis kanker payudara yang paling sering. Modalitas penictraan sering
diindikasikan untuk mendeteksi dan tatalaksana dari metastase tulang seperti foto-polos,
scintigraphy skeletal, CT, MRI, PET dan single-proton emission radiography dan
kombinasi seperti PET/CT, dual modality single- photon emission CT , dan MRI seluruh
tubuh. Pada pasien yang baru didiagnosa kanker payudara tanpa gejala pada tulang,
scintigraphy skeletal merupakan pilihan untuk menskrining proses metstastase. Bila
dengan gejala foto polos pada daerah yang mengalami gejala akan membantu melihat
apakah ada kelainan pada anatomi tulang daerah tersebut. Bila masih mencurigakan
dapat digunakan CT-SCAN untuk mengevaluasi korteks dan kalsifikasi dari jaringan
lunak. MRI digunakan ketika mengevaluasi tulang sumsum ataupun jaringan lunak.
b. Metastase hepar
Metastase ke hepar pada kanker payudara lebih sedikit dibandingkan metastase ke
tulang. Presentasi klinis dari metastase hepar meliputi hepatomegaly dan peningkatan
fungsi hati. Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan yang murah dan
memiliki sensitivitas yang tinggi yaitu sekitar 94% dalam mendeteksi lesi dari hepar.
Metastase hepar biasanya menggambarkan “target” appearance dengan lesi echogenic di
bagian tengahnya dan dikelilingi lesi hypoechoic “halo” , sedangkan pemeriksaan CT-
SCAN dapat mendeteksi subsentimeter lesi pada liver.

Gambar. USG Metastase hepar “ Target appearance”


c. Metastase intrathoracal
Paru, mediastinum dan pleura merupakan organ yang paling umum terjadi pada
metastase intrathorakal. Metastase pulmonar dapat muncul sebagai massa tunggal pada
paru, nodul multiple, atau “air space pattern” metastasi, mestastase limphangitik atau
endobronkial metastase. Massa pada paru dapat merupakan lesi ireguler ataupun
srkumskripta yang berada di perifer paru. Pada metastase mediastinal dapat meluas ke
dinding brnkial, yang menyebabkan metastase endobronkial. Metastase pulmonar jarang
berupa kavitas ataupun daerah konsolidasi atau “air space pattern” menyerupai
pneumonia. Sel kanker payudara dapat menyebar ke system lymphatic dengan tampak
penebalan nodul di septa interlobular atau garis “Kerley B”.

Gambar . Metastase intrathorakal “ massa multiple bilateral “


d. Metastase Otak
Sel kanker payudara menyebar ke otak melalui peredaran darah yaitu aliran darah
intracranial, dengan lokasi tersering yaitu hemisphere cerebri. Metastase dapat
melibatkan meningen, tulang dan duramater. Metastase tulang mungkin muncul sebagai
lesi solid atau oligometastase. Pada MRI metastase lebih mengarah ke hypointense
sampai isointense pada parenkim otak menyerupai gambaran lesi seperti cincin.
e. Metastase Abdomen
Selain hepar, organ lain yang dapat terkena dari penyebaran kanker payudara meliputi
lien, kelenjar adrenal, dan peritonium. Metastase lien pada CT tampak mirip pada
metastase hepar dengan gambaran irregular, dan lesi hypodense, ataupun splenomegali
pada penyakit diffuse.
Gambar . Metastase peritoneal dan ascites
DAFTAR PUSTAKA
1. Marice jurnal
2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459169/
3. infodatin
4. Di fiore
5. Clincal key ( Gynecolofic and womens imaging)