Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS JURNAL

Efektivitas Mirror Therapy terhadap Kekuatan Otot


Pasien Stroke

OLEH

NAMA : DWI RAHAYU PUTRI ALINTI


NIM : 841718050

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stroke adalah kumpulan gejala klinis berupa gangguan dalam sirkulasi darah ke
bagian otak yang menyebabkan gangguan fungsi baik lokal atau global yang terjadi
secara mendadak, progresif dan cepat (Black dan Hawks, 2009).
Pada pasien stroke, 70-80% mengalami hemiparesis (kelemahan otot pada salah satu
sisi bagian tubuh) dengan 20 % dapat mengalami peningkatan fungsi motorik dan sekitar
50% mengalami gejala sisa berupa gangguan fungsi motorik / kelemahan otot pada
anggota ekstrimitas bila tidak mendapatkan pilihan terapi yang baik dalam intervensi
keperawatan maupun rehabilitasi pasca stroke. Hemiparesis yang tidak mendapatkan
penatalaksanaan yang optimal 30 - 60% pasien akan mengalami kehilangan penuh pada
fungsi ekstremitas dalam waktu 6 bulan pasca stroke (Stoykov dan Corcos, 2009).
Sebesar 80% pasien stroke mengalami kelemahan pada salah satu sisi
tubuh/hemiparese. Kelemahan tangan maupun kaki pada pasien stroke akan
mempengaruhi kontraksi otot. Berkurangnya kontraksi otot disebabkan karena
berkurangnya suplai darah ke otak belakang dan otak tengah, sehingga dapat menghambat
hantaran jaras-jaras utama antara otak dan medula spinalis. Kelainan neurologis dapat
bertambah karena pada stroke terjadi pembengkakan otak (oedema serebri) sehingga
tekanan didalam rongga otak meningkat hal ini menyebabkan kerusakan jaringan otak
bertambah banyak. Oedema serebri berbahaya sehingga harus diatasi dalam 6 jam
pertama = Golden Periode (Gorman, 2012).
Intervensi untuk penyembuhan yang bisa dilakukan pada pasien stroke selain terapi
medikasi atau obat-obatan yaitu dilakukan fisioterapi/latihan seperti; latihan beban,
latihan keseimbangan, latihan resistansi, hydroteraphy, dan latihan rentang gerak/Range
Of Motion (ROM). Latihan ROM merupakan latihan yang sering dilakukan pada pasien
stroke dalam proses rehabilitasi yang dilakukan baik aktif maupun pasif dan
memungkinkan dilakukan di Rumah Sakit. Selain terapi rehabilitasi ROM yang
sering dilakukan baik unilateral maupun bilateral, terdapat alternatif terapi lainnya yang
bisa diterapkan dan dikombinasikan serta diaplikasikan pada pasien stroke untuk
meningkatkan status fungsional sensori motorik dan merupakan intervensi yang bersifat
non invasif, ekonomis yang langsung berhubungan dengan sistem motorik dengan
melatih/menstimulus ipsilateral atau korteks sensori motorik kontralateral yang
mengalami lesi yaitu yaitu terapi latihan rentang gerak dengan menggunakan media
2
cermin (mirror therapy) (Rizzolatti, 2004).
Latihan mirror therapy adalah bentuk rehabilitasi / latihan yang mengandalkan dan
melatih pembayangan / imajinasi motorik pasien, dimana cermin akan memberikan
stimulasi visual kepada otak ( saraf motorik serebral yaitu ipsilateral atau kontralateral
untuk pergerakan anggota tubuh yang hemiparesis) melalui observasi dari pergerakan
tubuh yang akan cenderung ditiru seperti cermin oleh bagian tubuh yang mengalami
gangguan (Wang, 2013).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan analisis jurnal
tentang “Efektivitas Mirror Therapy terhadap Kekuatan Otot Pasien Stroke”.
1.2 Tujuan
Mendeskripsikan efektivitas mirror therapy terhadap kekuatan otot pasien stroke.
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Teoritis
Bagi Program Studi Profesi Ners, diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan
sebagai perkembangan teori yang dapat diterapkan dalam teori tambahan dan aplikasi
dalam asuhan keperawatan medikal bedah.
1.3.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Program Studi Profesi Ners
Diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan tambahan teori dan bahan bacaan
tentang keperawatan medikal bedah.
b. Bagi Perawat
Diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi
perawat dalam asuhan keperawatan medikal bedah.
c. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan analisis jurnal ini dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit dalam
melaksanakan penatalaksanaan asuhan keperawatan medikal bedah khususnya di
ruang Neuro.

3
BAB II
METODE DAN TINJAUAN TEORITIS
2.1 Metode Pencarian
Analissi jurnal ini menggunakan 1 (satu) media atau metode pencarian jurnal, yaitu
menggunakan database dari Google scholar sebagai berikut :
Kata Kunci Hasil Pencarian
Mirror Therapy 594.000
S1 AND stroke 83.600
S2 AND muscle strength 30.000
S3 AND patient 33.200
S4 AND systematic review 24.300
S4 (membatasi tahun publikasi 2013 - 17.700
2018)
S5 AND Randomised Controlled Trial 13.500

Kata Kunci Hasil Pencarian


Terapi Cermin 3.800
S1 AND stroke 528
S2 AND kekuatan otot 235
S3 AND pasien 230
S4 AND jurnal 224
S4 (membatasi tahun publikasi 2013 - 139
2018)
S5 AND Quasy eksperimental 11

2.2 Konsep Tentang Tinjauan Teoritis


2.2.1 Stroke
Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak
tiba-tiba terganggu, karena sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan
aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. Kurangnya aliran
darah didalam jaringan otak menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat
merusak atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak juga dapat
menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Aliran darah yang
berhenti juga dapat membuat suplai oksigen dan zat makanan ke otak juga berhenti.
Stroke merupakan penyakit neurogenik yang menyebabkan gangguan fungsi otak baik
fokal maupun global dan penyebab kecacatan paling banyak (Arya, 2011). Sistem
klasifikasi utama stroke biasanya membagi stroke menjadi dua kategori berdasarkan
penyebab terjadinya stroke, yaitu stroke iskemik dan hemoragik :

4
1. Stroke Iskemik
Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat adanya bekuan atau
sumbatan pada pembuluh darah otak yang dapat disebabkan oleh tumpukan
thrombus pada pembuluh darah otak, sehingga aliran darah ke otak menjadi
terhenti. Stroke iskemik merupakan sebagai kematian jaringan otak karena
pasokan darah yang tidak kuat dan bukan disebabkan oleh perdarahan. Stroke
iskemik biasanya disebabkan oleh tertutupnya pembuluh darah otak akibat
adanya penumpukan penimbunan lemak (plak) dalam pembuluh darah besar
(arteri karotis), pembuluh darah sedang (arteri serebri), atau pembuluh darah
kecil
2. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah otak, sehingga
menimbulkan perdarahan di otak dan merusaknya. Stroke hemoragik
biasanya terjadi akibat kecelakaan yang mengalami benturan keras di kepala
dan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak. Stroke hemoragik juga
bisa terjadi karena tekanan darah yang terlalu tinggi. Pecahnya pembuluh
darah ini menyebabkan darah menggenangi jaringan otak di sekitar pembuluh
darah yang menjadikan suplai darah terganggu, maka fungsi dari otak juga
menurun. Penyebab lain dari stroke hemoragik yaitu adanya penyumbatan
pada dinding pembuluh darah yang rapuh (aneurisme), mudah
menggelembung, dan rawan pecah, yang umumnya terjadi pada usia lanjut
atau karena faktor keturunan.
Menurut Soeharto (2007), menyebutkan bahwa tanda dan gejala dari stroke adalah
hilangnya kekuatan salah satu bagian tubuh, terutama di satu sisi, termasuk wajah,
lengan atau tungkai, hilangnya sensasi disuatu bagian tubuh, terutama disatu sisi,
hilangnya penglihatan total, tidak mampu berbicara dengan benar, hilangnya
keseimbangan, serangan sementara jenis lain, seperti vertigo, pusing, kesulitan menelan,
kebingungan, gangguan daya ingat, nyeri kepala yang terlalu parah dan perubahan
kesadaran yang tidak dapat dijelaskan atau kejang.
2.2.2 Mirror Therapy
Mirror therapy adalah bentuk rehabilitasi/latihan yang mengandalkan dan melatih
pembayangan/imajinasi motorik pasien, dimana cermin akan memberikan stimulasi
visual (saraf motorik serebral yaitu ipsilateral atau kontralateral untuk pergerakan
5
anggota tubuh yang hemipharesis). Mekanisme mirror therapy bergantung pada sistem
neuron cermin yang terdiri dari bentuk neuron visuomotor yang terletak di korteks
premotor, korteks somatosensori primer dan korteks parietal inferior. Sistem diaktifkan
oleh observasi pasif atau imajinasi. Telah diketahui bahwa stimulasi dari sistem neuron-
cermin memfasilitasi korteks motorik primer, yang mengontrol tindakan ketika
melakukan tugas (Wang et al, 2013).
Mirror Therapy dapat dilakukan dengan 3 strategi. Strategi pertama, subjek melihat
gerakan yang sehat di cermin dan mencoba menirukan gerakan ini dengan bagian yang
sakit. Cara kedua, subjek membayangkan bagian yang sakit bergerak sebagaimana yang
diinginkan (motor imagery). Cara ketiga, terapis membantu gerakan bagian yang sakit
sehingga sikron dengan pantulan gerakan pada bagian yang sehat yang terlihat di cermin.
Demikian terapi ini diulang-ulang selama 10 menit dalam satu kali latihan. Mirror
therapy memberikan input visual dari gerakan normal pada tangan yang sakit pada
pasien pasca strok, yang dapat mengkompensasi penurunan atau tidak adanya input
proprioseptif. Observasi terhadap suatu gerakan tidak hanya memodulasi eksitabilitas di
korteks motorik, namun juga representasi korteks somatosensori. Melihat stimulasi pada
cermin dapat menyebabkan penjalaran sensasi terhadap tangan yang lain (Hardiyanti,
2013).

6
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Author Tahun Judul Metode Hasil Source
Meidian.A.C, 2014 Pelatihan Mirror Quasi- terjadinya Google
Sutjana. D.P., Neuron System eksperimenta peningkatan schola
Irfan. M. Sama dengan l kemampuan r
Pelatihan fungsional
Constraint anggota gerak
Induced atas sebesar
Movement 21,7% pada
Therapy dalam kelompok
Meningkatkan pelatihan
Kemampuan mirror neuron
Fungsional system dan
Anggota Gerak 17,1% pada
Atas Pasien Stroke kelompok
pelatihan
constraint
induced
movement
therapy
Hendri 2015 Perbedaan Quasi- Sebelum Google
Heriyanto, Kekuatan Otot eksperimenta intervensi schola
Anastasia Anna Sebelum dan l rerata r
Sesudah kekuatan otot
Dilakukan Latihan ekstremitas
(Mirror Therapy) bagian atas
pada Pasien adalah 2,12
Stroke Iskemik (0,45) dan
dengan bagian bawah
Hemiparesis adalah 2,12
Di RSUP Dr. Hasan (0,45). Setelah
Sadikin Bandung intervensi
rerata
kekuatan otot
ekstremitas
bagian atas
menjadi 3,83
(0,56) dan
bagian bawah
menjadi
4,00 (0,66).
Ipek Yeldan, 2015 The Effects of Very Quasi- Ada Google
Burcu Ersoz Early Mirror eksperimenta peningkatan schola
Huseyinsinoglu Therapy on l dalam r
, Buket Akinci, Functional Penilaian
Msc, Ela Improvement of Fugl-Meyer
Tarakci, the Upper dan Indeks
Extremity in Acute

7
Sevim Baybas, Stroke Patients Barthel pada
Arzu Razak terapi cermin
Ozdincler
Suharti 2016 Efektivitas Quasi- Terdapat Google
Penggunaan eksperimenta efektivitas schola
Cermin Terhadap l penggunaan r
Kemampuan cermin
Bicara terhadap
Pada Pasien kemampuan
Stroke Dengan bicara pada
Afasia Motorik Di pasien stroke
SMC RS Telogorejo dengan afasia
motorik
Fery Agusman 2017 Pengaruh Mirror Quasi- Kekuatan Google
M, Evy Therapy Terhadap eksperimenta otot sebelum schola
Kusgiarti Kekuatan Otot l dilakukan r
Pasien Stroke Non latihan
Hemoragik Mirror
Di RSUD Kota Therapy
Semarang pasien Stroke
Non
Hemoragik
ratarata
1.600.
Sedangkan
sesudah
dilakukan
latihan
Mirror
Therapy rata-
rata 2.600.

3.2 Pembahasan
Stroke merupakan penyebab utama disabilitas jangka panjang pada dewasa. Pada
individu dengan hemiparesis seringkali didapatkan spastisitas, kelemahan otot, dan
gangguan menetap pada koordinasi gerakan. Inkoordinasi ini dikarenakan jaringan saraf
yang bertanggung jawab untuk merefleksikan gerakan secara tepat, mengalami
kerusakan dikarenakan cedera otak, maupun sebab sekunder karena disuse (Yavuzer et
al, 2008).
Mirror therapy merupakan intervensi terapi yang difokuskan pada gerakan tangan
atau kaki yang paresis. Teknik ini relatif baru, sederhana, murah, dan mampu
memperbaiki fungsi anggota gerak atas. Prosedur ini dilakukan dengan menempatkan
cermin pada bidang midsagital pasien, sehingga pasien dapat melihat bayangan tangan

8
yang sehat, dan memberikan suatu umpan balik visual yang dapat memperbaiki tangan
sisi paresis (Dohle et al, 2009).
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mirror therapy sangat efektif
dalam mengatasi masalah kekuatan otot pada pasien stroke diantaranya penelitian
yang dilakukan oleh Meidian, Sutjana, dan Irfan (2014) bahwa pada kelompok 1 selisih
rerata peningkatan kemampuan fungsional AGA (Anggota Gerak Atas) sebelum dan
sesudah perlakuan pelatihan MNS (Mirror Neuron System) adalah 9,4% dengan dosis
pelatihan diberikan dengan frekuensi latihan 1-3 kali kunjungan dalam seminggu,
intensitas latihan 5-10 kali pengulangan gerakan, selama durasi latihan 30-60 menit.
Sehingga pelatihan Mirror Neuron System dapat meningkatkan kemampuan fungsional
anggota gerak atas pasien stroke.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Heriyanto dan
Anna (2015) bahwa rerata kekuatan otot bagian atas sebelum dilakukan latihan mirror
therapy adalah 2,12 (0,45) dan rerata kekuatan otot bagian bawah sebelum dilakukan
latihan mirror therapy adalah 2,12 (0,45). Sementara, sesudah dilakukan mirror therapy
didapatkan rerata kekuatan otot bagian atas adalah 3,83 (0,56) dan rerata
kekuatan otot bagian bawah adalah 4,00 (0,66). Intervensi mirror therapy pada pasien
stroke iskemik dilakukan selama 5 kali sehari dalam waktu 7 hari.
Hal serupa diungkapkan oleh Yeldan (2015) menyatakan bahwa mirror therapy
mampu meningkatkan kemampuan mandiri pasien. Seperti penelitian yang dilakukan
oleh Agusman dan Kusgiarti (2017) bahwa dengan terapi dan latihan yang baik dan
sesuai dengan kebutuhan pasien stroke maka kendala keterbatasan gerak dapat diatasi
dengan baik seperti hasil penelitian pada pasien stroke non hemoragik sebelum diberikan
mirror therapy mempunyai skor rata-rata 1.600 dengan Std. Deviation 0.516 dan skor
terendah tonus otot 1 tertinggi 2. Setelah dilakukan mirror therapy didapatkan skor rata-
rata 2.600 dengan Std. Deviation 1.074 dan skor terendah tonus otot 1 tertinggi 4.
Intervensi mirror therapy ini dilakukan secara berulang selama 10 menit dalam satu kali
latihan.
Analisa berdasarkan lamanya durasi mirror therapy, pada tahun 2014 frekuensi
terapi cermin ini diberikan 1-3 kali kunjungan dalam seminggu dengan intensitas latihan
5-10 kali pengulangan gerakan, dengan durasi latihan selama 30-60 menit, sedangkan
pada tahun 2015 latihan/terapi ini dilakukan selama 5 kali sehari dalam waktu 7 hari dan
pada tahun 2017 dengan dilakukan secara berulang selama 1 menit dalam satu kali

9
latihan/terapi. Dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke dibutuhkan
frekuensi atau durasi yang cukup untuk melakukan terapi ini agar hasilnya lebih efektif.
Mirror therapy tidak hanya digunakan untuk latihan kekuatan otot, tetapi dapat
digunakan untuk melatih kemampuan bicara pada pasien stroke dengan afasia motorik
seperti penelitian yang dilakukan oleh Suharti (2016) bahwa responden dengan nilai
kemampuan bicara sebelum terapi wicara dengan menggunakan cermin paling banyak
dengan skor 12 dan untuk responden dengan nilai kemampuan bicara paling sedikit
dengan skor 5 sedangkan setelah 7 hari terapi wicara dengan menggunakan cermin
paling banyak dengan skor 35 atau 100% dari 35 skor tes wicara dan untuk responden
dengan nilai kemampuan bicara paling sedikit dengan skor 27 atau 76% dari 35 skor tes
wicara. Ilusi cermin mempunyai pengaruh dalam kemampuan pengukuran pada aktivitas
otak. Penderita stroke sering mengalami gangguan bicara dan komunikasi. Salah satunya
dapat ditangani dengan cara latihan di depan cermin untuk latihan gerakan lidah, bibir,
dan mengucapkan kata-kata.
Terapi cermin merupakan intervensi terapi yang berfokus pada bergerak anggota
tubuh utuh. Ini adalah bentuk citra yang digunakan untuk menyampaikan rangsangan
visual ke otak melalui observasi dari bagian tubuh yang tidak mengalami gangguan
untuk melakukan serangkaian gerakan. Latihan gerak yang diberikan harus distimulasi
untuk membuat gerak dan respon gerak sebaik dan senormal mungkin. Latihan
pergerakan bagi penderita stroke non hemoragik merupakan prasyarat bagi tercapainya
kemandirian pasien, karena latihan akan membantu secara berangsur-angsur fungsi
tungkai dan lengan kembali atau mendekati normal, dan memberi kekuatan pada pasien
tersebut untuk mengontrol kehidupannya. Latihan disesuaikan dengan kondisi pasien dan
sasaran utama adalah kesadaran untuk melakukan gerakan yang dapat dikontrol dengan
baik, bukan pada besarnya gerakan.

10
3.3 Implikasi Keperawatan
Stroke diantaranya adalah kehilangan fungsi motorik, kehilangan komunikasi,
gangguan persepsi, kerusakan fungsi kognitif. Pasien stroke mengalami pemulihan
keterampilan motorik anggota gerak setelah intervensi rehabilitasi. Tindakan mandiri
yang dapat dilakukan untuk proses rehabilitasi pasien stroke dengan kelemahan
anggota gerak ataupun penurunan kekuatan otot dapat dilakukan mirror therapy.
Peran perawat sebagai rehabilitator untuk mengembalikan keadaan klien atau paling
tidak seoptimal mungkin untuk mendekati keaadaan seperti sebelum ia sakit dengan
berbagai asuhan keperawatan seperti latihan ROM dan mirror therapy.

11
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Mirror therapy sangat efektif dalam mengatasi penurunan kekuatan otot dan
kemampuan bicara pada pasien dengan stroke. Terapi ini tidak memerlukan biaya yang
mahal dan praktis di lakukan d rumah maupun di RS sebagai terapi komplementer
pasien.
4.2 Saran
4.2.1 Bagi Program Studi Profesi Ners
Diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan tambahan teori dan bahan bacaan
tentang keperawatan medikal bedah.
4.2.2 Bagi Perawat
Diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi perawat
dalam tindakan mandiri keperawatan yaitu mirror therapy dalam mengatasi
masalah kekuatan otot.
4.2.3 Bagi Rumah Sakit
Diharapkan analisis jurnal ini dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit dalam
penggunaan terapi komplementer khususnya mirror therapy dapat dipertimbangkan
untuk menjadi salah satu tindakan pada pasien yang mengalami stroke dalam upaya
peningkatan pelayanan di Fasilitas Kesehatan.

12
DAFTAR PUSTAKA
Agusman F. dan Kusgiarti, E. 2017. Jurnal Kesehatan. Pengaruh Mirror Therapy Terhadap
Kekuatan Otot Pasien Stroke Non Hemoragik di RSUD Kota Semarang. 4(1) : 1-8

Arya, W.W. 2011. Strategi Mengatasi dan Bangkit dari Stroke. Yogyakarta : Pustaka Belajar

Black, J.M., dan Hawk, J.H. 2009. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for
Positive Outcomes. 8th edition. St.louis Missouri : Elseiver saunders

Dohle C, Pullen J, Nakaten A, Kust J, Rietz C, Karbe H. Mirror Therapy promotes recovery
from severe hemiparesis: a randomized controlled trial. Neurohabilitation and neural
repair 2009.

Gorman, Sharon L. 2012. Journal of Training and Intruction Manual. Function In Sitting Test
(FIST).

Hardiyanti, L. 2013. Pengaruh Mirror Therapy Dibandingkan Sham Therapy terhadap


Perbaikan Fungsi Tangan. Tesis. Universitas Indonesia Jakarta

Heriyanto, H. dan Anna, A. 2015. Jurnal Keperawatan Respati. Perbedaan Kekuatan Otot
Sebelum dan Sesudah Dilakukan Latihan (Mirror Therapy) pada Pasien Stroke Iskemik
dengan Hemiparesis di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. 2(1):1-11

Meidian, Sutjana, dan Irfan. 2014. Sport and Fitness Journal. Pelatihan Mirror Neuron
System Sama dengan Pelatihan Constraint Induced Movement Therapy dalam
Meningkatkan Kemampuan Fungsional Anggota Gerak Atas Pasien Stroke. 2(1) : 1-24

Rizzolatti. 2004. Annual Review of Neuroscience. The Mirror–Neuron System. 27:169-192

Stoykov, M.E., dan Corcos, D.M. 2009. Occupational Therapy International. A Review Of
Bilateral Training for Upper Extremity Hemiparese in Stroke. 16 (3-4)
Soeharto, I. 2007. Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit Jantun Koroner dan Stroke.
Yogyakarta : Dianloka Pustaka Populer

Suharti. 2016. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. Efektivitas Penggunaan Cermin
terhadap Kemampuan Bicara pada Pasien Stroke dengan Afasia Motorik di SMC RS
Telogorejo. 1(2) : 1-8

Yavuzer G, Selles R, Sezer N, Sutbeyaz S, Bussmann JB, Kaseoglu F et al. Mirror Therapy
Improves Hand.

Yeldan dkk. 2015. Journal Phys. Ther. Sci. The Effects of Very Early Mirror Therapy on
Functional Improvement of the Upper Extremity in Acute Stroke Patients. 27(11) : 1-6

13
Wang. 2013. Journal Rehabil Med. A Comparison of Neural Mechanism in Mirror Therapy
and Movement Observation Therapy. 45: 410-413

14
Lampiran 1
SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)
MIRROR THERAPY (TERAPI CERMIN)

Bentuk rehabilitasi atau latihan yang mengandalkan dan melatih


Pengertian pembayaran atau imajinasi motorik pasien dimana cermin akan
memberikan stimulasi visual ke otak
Tujuan Melatih gerakan ekstermitas
Indikasi Terapi cermin ini diberikan kepada seluruh penderita stroke
Kontraindikasi Tidak dianjurkan untuk yang tidak menderita stroke
1. Cermin
Peralatan
2. Tempat duduk
1. Tahap Pre Interaksi
a. Cuci tangan
b. Persiapan alat dan bahan
2. Tahap Orientasi
a. Memberi salam sebagai pendekatan terapeutik.
b. Memberi penjelasan tentang hal-hal dan tujuan tindakan yang akan
dilakukan serta informed consent.
c. Menyampaikan kesiapan klien sebelum dilakukan tindakan.
d. Jaga privasi klien
3. Tahap Kerja
a. Posisi klien dengan setengah duduk pada tempat tidur
b. Lihatlah pantulan ekstermitas yang sehat anda di cermin,
bayangkan seolah-olah itu adalah ekstermitas yang gangguan anda.
Anda tidak diperbolehkan melihat ekstermitas yang gangguan di
Prosedur kerja balik cermin
c. Lakukan gerakan secara bersamaan (simultan) pada kedua anggota
gerak, gerakan diulang sesuai instruksi dengan kecepatan konstan
±1 detik/gerakan
d. Jika anda tidak bisa menggerakkan ekstermitas yang sakit,
berkonsentrasilah dan bayangkan seolah-olah anda mampu
menggerakkannya sambil tetap melihat bayangan di cermin.
4. Tahap Terminasi
a. Melakukan evaluasi tindakan
b. Kontrak waktu yang akan datang
c. Merapikan klien
d. Merapikan alat
e. Mendokumentasi tindakan
f. Cuci tangan
Sumber : Pratiwi, 2017.

15