Anda di halaman 1dari 24

BLOK 20

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012


MODUL 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter.
Luka bakar berat menyebabkan mordibitas dan derajat cacat yang relative
tinggi dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain.
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan akibat
terpapar dengan sumber panas seperti api, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka
bakar merupakan salah satu jenis trauma yang memiliki angka morbiditas dan
mortalitas yang tinggi sehingga memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal
sampai fase lanjut. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang
ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Beratnya luka bergantung pada dalam,
luas, dan letak luka. Selain beratnya luka bakar, umur dan keadaan kesehatan
penderita sebelumnya merupakan faktir yang sangat mempengaruhi prognosis.
Pada kasus luka bakar ini perlu dipertimbangkan berbagai aspek karena
pada kasus luka bakar memerlukan biaya pengobatan yang relatif sangat besar,
perlu perawatan yang lama, perlu operasi berulang kali, bahkan meskipun
sembuh akan meninggalkan kecacatan permanen. Sehingga, luka bakar harus
ditangani oleh tim trauma yang ahli di bidangnya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mempelajari mengenai
luka bakar, mulai dari definisi hingga penatalaksanaan yang tepat.

1.2 TUJUAN DAN MANFAAT


Pada makalah ini akan dibahas mengenai luka bakar mulai dari definisi,
etiologi, klasifikasi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan
dan komplikasi.

BAB II

ISI

LUKA BAKAR 1
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

2.1 SKENARIO

Jangan Merokok Di Sembarang Tempat

John Smoke, 35 tahun adalah seorang penjual bensin eceran. Karena lalai, Jhon
Smoke membuang puntung rokok di dekat botol bensin yang dijualnya. Akibatnya
bisa diduga, puntung rokok yang masih menyala dan jatuh di sisa ceceran bensin
langsung menimbulkan kebakaran dan apinya menyambar bagian punggung, pantat,
dan kedua paha Jhon Smoke, sehingga Jhon Smoke berteriak-teriak sambil lari
kesana kemari. Warga disekitar telah berusaha membantu dengan ara meemanggil
ambulan. Beberapa warga yang lain ada yang membawa kecap, minyak goreng atau
ember berisi air sumur untuk disiramkan ke tubuh korban. Waaaah, satu lagi korban
combustio bulan ini.

2.2 STEP 1 IDENTIFIKASI ISTILAH SULIT


1. Combustio : disebut juga luka bakar yang merupakan luka pada daerah tubuh
akibat konduksi langsung dengan panas, bahan kimia, listrik, atau radiasi.

2.3 STEP 2 IDENTIFIKASI MASALAH


1. Kemungkinan apakah yang dapat terjadi pada pak Jhon Smoke?
2. Derajat berapakah luka bakar yang diderita pak Jhon Smoke?
3. Mengapa warga memberikan kecap, minyak goreng, dan air sumur pada luka
pak Jhon Smoke, bolehkah hal ini dilakukan dan apa akibatnya ?
4. Bagaimana penanganan awal yang seharusnya dilakukan ?
Apa komplikasi yang dapat terjadi pada pak Jhon Smoke ? perlukah Pak Jhon
Smoke segera di rujuk?

2.4 STEP 3 CURAH PENDAPAT


1. luka bakar merupakan luka yang terkena di bagian superfisial kulit yang
disebabkan oleh kontak langsung dengan panas, radiasi, bahan kimia, dll. Hal
ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
 Fungsi kulit menjadi terganggu atau hilang

LUKA BAKAR 2
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

 Mencederai bagian tubuh (kulit, dan struktur didalamnya)


 Luka bakar yang mengeni ppembuluh darah akan menyebabkan pembuluh
darah menjadi berdilatasi sehinnga meningkatkan permeabilitas kapiler dan
mendorong protein ke superfisial sehingga dapat menyebabkan syok
hipovolemik.
 Hipotermia
 Inflamasi (tergantung dari derajat luka bakarnya)

2. luas luka bakar : 36%

Derajat 1 : masih mengenai epidermis saja. Bersifat nyeri dan timbul benkak atau
kemerahan contohnya seperti sun burn.

Derajat 2 : telah mengenai bagian epidermis dan dermis. Dapat dilihat adanya
bulla dan berwarna kemerahan (derajat 2a) dan lebih berwarna putih
apabila sudah menembus jaringan lemak (derajat 2b)

Derajat 3 : menembus seluruh kedalaman kulit dan tidak terasa nyeri lagi.
Biasanya akan berwarna kehitaman.

3. Pemberian kecap, minyak goreng dan air sumur diduga dapat menutup pori-
pori kulit dan menghalangi penguapan pada kulit yang terbakar, namun hal ini
dapat dihindari karena akan beresiko menimbulkan infeksi. Selain itu
pemberian air lebih baik menggunakan air yang mengalir tujuannya untuk
memberikan sensasi dingin namun tidak menutup pori-pori kulit. Namun
pemberian air ini hanya untuk luka bakar yang kurang dari 20% luas lukanya
karena ditakutkna akan timbul hipotermia. Atau pemberiannya dapat
digunakan air yang sudah disesuaikan dengan suhu tubuh korban.
4. Penangan di TKP
 Telepon ambulan
 Dijauhkan dari sumber panas
 Penangan ABDE hingga stabil dan dilanjutkan dengan secondary survey
apabila tersedia
 Diberikan selimut yang kering
 Evakuasi ke RS terdekat

LUKA BAKAR 3
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Penanganan di UGD

 ABCDE
 Resusitasi untuk penanganan syok dan luka bakarnya
 Dilakukan 6c (clotihng, cooling, cleaning, chemoprophylaksis, covering,
comforting)
 Dibarikan oksigen untuk mencegah syok
5. komplikasi yang dapat terjadi
 Syok hipovolemik
 Kontraktur akibat luka bakar yang mengenai ekstremitas

2.5 STEP 4 STRUKTURISASI KONSEP

LUKA BAKAR 4
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

2.6 STEP 5 MERUMUSKAN SASARAN PEMBELAJARAN


1. Mahasiwa dan memahami dan menjelaskan tentang luka bakar meliputi
definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, gejala klinis dan komplikasi.
2. Mahasiwa dan memahami dan menjelaskan tentang penatalaksanaan
kegawadaruratan luka bakar.
3. Mahasiwa dan memahami dan menjelaskan tentang indikasi rawat inap dan
rujukan luka bakar.

2.7 STEP 6 BELAJAR MANDIRI


Belajar mandiri dilaksanakan dari hari Selasa tanggal 10 November 2015
sampai dengan hari Kamis tanggal 13 November 2015.

2.8 STEP 7 SINTESIS


1. LUKA BAKAR
Definisi

LUKA BAKAR 5
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia,
listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma yang
mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga
memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase
lanjut. Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit dan juga
menimbulkan efek sistemik yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya
dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar.
Beratnya luka bakar bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Selain
beratnya luka bakar, umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya
merupakan faktor yang sangat mempengaruhi prognosis. (Sjamsuhidajat,
2010)

Epidemiologi

Di Amerika Serikat, kurang lebih 250.000 orang mengalami luka bakar


setiap tahunnya. Dari angka tersebut, 112.000 penderita luka bakar
membutuhkan tindakan emergensi, dan sekitar 210 penderita luka bakar
meninggal dunia. Di Indonesia, belum ada angka pasti mengenai luka bakar,
tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta industri, angka luka bakar
tersebut semakin meningkat. (sjamsuhidajat, 2010)

Insiden puncak luka bakar pada orang dewasa muda terdapat pada umur
20-29 tahun, diikuti oelh anak umur 9 tahun atau lebih muda. Luka bakar jarang
terjadi pada umur 80 tahun ke atas. Sekitar 80% luka bakar terjadi di rumah.
Pada umur 3-14 tahun, penyebab paling sering adalah nyala api yang membakar
baju. Dari umur ini sampai 60 tahun, luka bakar paling sering disebabkan oleh
kecelakaan industri. Setelah umur ini, luka bakar biasanya terjadi karena
kebakaran di rumah akibat rokok yang membakar tempat tidur atau
berhubungan dengan lupa mental. (Sabiston, 1995)

LUKA BAKAR 6
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Angka mortalitas luka bakar sudah banyak berkurang bersama dengan


kemajuan dalam perawatan luka bakar. Perbaikan ini berhubungan dengan
perkembangan pada perawatan sypok luka bakar, infeksi, trauma inhalasi,
nutrisi operasi, dan penutupan luka. Penentuan angka kematian karena luka
bakar dimuat menurut LA50 atau bahwa persentase luas permukaan tubuh dari
luka bakar derajat 2 dan 3 yang dapat menimbulkan kematian pada 50% pasien
yangmengalaminya. (Sabiston, 1995)

Etiologi

Penyebab luka bakar yang tersering adalah terbakar api langsung yang
dapat dipicu atau diperparah dengan adanya cairan yang mudah terbakar seperti
bensin, gas kompor rumah tangga, cairan dari tabung pemantik api, yang akan
menyebabkan luka bakar pada seluruh atau sebagian tebal kulit. Pada anak,
kurang lebih 60% luka bakar disebabkan oleh air panas yang terjadi pada
kecelakaan rumah tangga, dan umumnya merupakan luka bakar superfisial,
tetapi dapat juga mengenai seluruh ketebalan kulit (derajat tiga) (sjamsuhidajat,
2010).

Penyebab luka bakar lainnya adalah pajanan suhu tinggi dari matahari,
listrik, maupun bahan kimia. Bahan kimia ini berupa asam atau basa kuat. Asam
kuat menyebabkan nekrosis koagulasi, denaturasi protein, dan rasa nyeri yang
hebat. Asam hidroflourida mampu menembus jaringan sampai ke dalam dan
menyebabkan toksisitas sistemik yang fatal, bahkan pada luka yang kecil
sekalipun. Alkali atau basa kuat yang banyak terdapat dalam rumah tangga
antara lain cairan pemutih rumah pakaian, berbagai cairan pemutih, dll. Luka
bakar yang disebabkan oleh basa kuat akan menyebabkan jaringan mengalami
nekrosis yang mencair (liquefactive necrossis). Kemampuan alkali menembus
jaringan lebih dalam lebih kuat daripada asam, kerusakan jaringan lebih berat
karena sel mengalami dehidrasi dan terjadi denaturasi protein dan kolagen. Rasa

LUKA BAKAR 7
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

sakit baru timbul belakangan sehingga penderita sering terlambat datang untuk
berobat dan kerusakan jaringan sudah meluas (sjamsuhidajat, 2010).

Klasifikasi

1. Luas Luka Bakar

Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada
orang dewasa digunakan “rule of nine”, yaitu luas kepala dan leher, dada,
punggung, perut, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas
kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, tungkai dan kaki kiri masing-
masing 9%, sisanya 1 % adalah daerah genitalis. Rumus ini membantu untuk
menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa
(sjamsuhidajat, 2010).

Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan
kepala anak lebih besar. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak
kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak
(sjamsuhidajat, 2010).

Untuk anak, kepala dan leher 15%, badan depan dan belakang masing-
masing 20%, ekstremitas kanan dan kiri masing-masing 10%, ekstremitas bawah
kanan dan kiri masing-masing 15% (sjamsuhidajat, 2010).

LUKA BAKAR 8
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

2. Derajat Luka Bakar

Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan
suhu tinggi. Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar
juga memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat
dari bulu domba (wol). Bahan sintetis, seperti nilon dan dakron, selain mudah
terbakar juga mudah lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga
memperberat kedalaman luka bakar (sjamsuhidajat, 2010).

LUKA BAKAR 9
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh
dalam 5-7 hari, misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema
dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat (sjamsuhidajat, 2010).

Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis, tetapi masih ada
elemen epitel sehat yang tersisa. Elemen epitel tersebut, misalnya sel epitel basal,
kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut. Dengan adanya sisa
epitel ini, luka dapat sembuh sendiri dalam dua sampai tiga minggu. Gejala yang
timbul adalah nyeri, gelembung, atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari
pembuluh karena permeabilitas dindingnya meningkat (sjamsuhidajat, 2010).

Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin
subkutis, atau organ yang lebih dalam. Tidak ada lagi elemen epitel hidup tersisa
yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka biasanya diikuti dengan
pembentukan skar yang merupakan jaringan nekrosis akibat denaturasi protein
jaringan kulit. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan
skin grafting. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam, dengan permukaan
lebih rendah dari jaringan sekeliling yang masih sehat. Tidak ada bula dan tidak
terasa nyeri (sjamsuhidajat, 2010).

3. Beratnya Luka Bakar

Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh


kedalaman luka bakar. Walaupun demikian, beratnya luka bergantung pada
dalam, luas, dan letak luka. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya
akan sangat mempengaruhi prognosis (sjamsuhidajat, 2010).

Selain dalam dan luasnya luka bakar, prognosis dan penanganan ditentukan
oleh letak luka, usia dan keadaan kesehatan penderita. Perawatan daerah
perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit, antara lain karena mudah mengalami

LUKA BAKAR 10
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

kontraktur. Bayi dan orang usia lanjut daya kompensasinya lebih rendah, maka
bila terbakar digolongkan ke dalam golongan berat (sjamsuhidajat, 2010).

Patofisiologi
Sel dapat menahan temperatur sampai suhu 440C tanpa kerusakan
bermakna. Antara 440C sampai 510C kecepatan kerusakan jaringan berlipat
ganda untuk tiap derajat kenaikan temperatur dan waktu paparan yang terbatas
untuk ditoleransi. Diatas 51 0C protein terdenaturasi dan kecepatan kerusakan
jaringan sangat hebat. Temperature di atas 700C menyebabkan kerusakan selular
yang sangat cepat dan hanya paparan yang sangat singkat yang dapat ditahan.

Zona luka bakar yaitu:


1. Zona koagulasi
Daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat
pengaruh panas. Pada zona pertama ini terjadi kematian seluler, koagulasi
pembuluh darah yang ireversibel dan tidak adanya aliran darah. Kedalaman
tergantung pada temperatur dan lamanya terpapar.
2. Zona Statis
Pada zona ini terjadi perubahan suplai darah, inflamasi, dan cedera jaringan.
Daerah yang berada di luar zona koagulasi ini mengalami kerusakan
endotel pembuluh darah, trombosit, leukosit, dan gangguan perfusi
jaringan, serta perubahan permeabilitas kapiler.
3. Zona Hiperemi
Zona di daerah di luar zona statis dimana terjadi vasodilatasi pembuluh
darah.

Jaringan nekrosis yang ada melepas toksin (burn toxin, suatu lipid protein
kompleks) yang dapat menimbulkan SIRS bahkan sepsis yang menyebabkan
disfungsi dan kegagalan fungsi organ seperti paru dan hepar yang berakhir
dengan kematian. Reaksi inflamasi yang berkepanjangan menyebabkan
LUKA BAKAR 11
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

kerapuhan jaringan dan struktur fungsional. Kondisi ini menyebabkan parut yang
tidak beraturan, kontraktur dan deformitas sendi.
Secara keseluruhan, seorang penderita luka bakar akan datang ke dokter
dalam berbagai kondisi. Kondisi penderita dalam perjalanan penyakitnya
dibedakan menjadi:
1. Fase awal, fase akut, fase syok
Pada fase ini problem yang berkisar pada gangguan saluran nafas karena
adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini juga terjadi
gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit, akibat cedera termis yang
bersifat sistemik.

2. Fase setelah syok berakhir / dilatasi / fase subakut


Fase ini berlangsung setelah syok berakhir / dapat diatasi. Luka terbuka
akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan dibawahnya) dapat menimbulkan
masalah, yaitu :
a. Proses inflamasi
Proses inflamasi yang terjadi pada luka bakar berbeda dengan luka sayat
elektif; proses inflamasi di sini terjadi lebih hebat disertai eksudasi dan kebocoran
protein.
Pada saat ini terjadi reaksi inflamasi lokal yang kemudian berkembang
menjadi reaksi sistemik dengan dilepaskannya zat-zat yang berhubungan dengan
proses immunologik, yaitu kompleks lipoprotein (lipid protein complex, burn-
toxin) yang menginduksi respon inflamasi sistemik (SIRS = Systemic
Inflammation Response syndrome).
b. Infeksi yang dapat menimbulkan sepsis.
c. Proses penguapan cairan tubuh disertai panas / energi (evaporative heat
loss) yang menyebabkan perubahan dan gangguan proses metabolisme.

3. Fase lanjut
LUKA BAKAR 12
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi


maturasi. Masalah pada fase ini adalah timbul penyulit dari luka bakar berupa
parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan
jaringan atau organ-organ stuktural, misalnya bouttoniérre deformity.

Patofisiologi dapat disebabkan karena luka bakar yang besar, perubahan


tersebut meliputi adanya : periode shock luka bakar termasuk didalamnya adalah
perubahan hypoperfusi jaringan dan hypofungsi organ sekunderr sehingga terjadi
penurunan cardiac output yang diikuti dengan fase hyperdinami dan
hypermetabolik.
Kejadian secara sistemik setelah adanya luka yang luas adalah ketidakstabilan
hemodinamik, ketidakstabilan ini disebabkan kerena kehilangan interitas kapiler
dan perpindahan cairan, natrium, dan protein dari ruang intravaskular ke ruang
interstisil. Ketidakstabilan hemodinamik karena respon dari sistem
kardiovaskuler, cairan dan elektrolit, volume darah, paru, dan mekanisme
lainnya.

Reaksi inflamasi yang berkepanjangan menyebabkan kerapuhan jaringan dan


struktur fungsional. Kondisi ini menyebabkan parut yang tidak beraturan,
kontraktur dan deformitas sendi.

a. Respon lokal jaringan

LUKA BAKAR 13
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Pembengkakan setempat karena panas biasa terjadi hebat. Sebelumnya sudah


dijelaskan bahwa luka bakar kurang dari 25% dari luas permukaan tubuh total,
menyebabkan kehilangan integritas kapiler dan perpindahan cairan yang akan
terlokalisasi pada daerah luka bakar itu sendiri. Kejadian ini menyebabkan adanya
blister dan edema. Edema maksimal biasa terjadi setelah 24 jam, dan mulai
kembali 1- 2 hari setelah adanya luka bakar dan kembali pada keadaan semula
pada hari ke 7 & 10 setelah cedera. Edema pada luka bakar dapat dikurangi
dengan menghindari kehilangan cairan selama periode awal setelah terbakar.
Kelebihan resusitasi dapat menyebabkan peningkatan pembentukan edema pada
bagian yang terbakar dan bagian yang tidak terbakar.

Akibat dari adanya peningkatan edema pada daerah cedera, tekanan pada
pembuluh darah dan saraf bagian distal ektremitas dapat menyebabkan sumbatan
aliran darah dan sebagai konsekuensinya terjadi iskemia. Komplikasi ini
dinamakan sebagai kompartemen syndrom. Untuk menanggulanginya perlu
dilakuakn escharotomy, sebuah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk
membuang efek kontriksi dari jaringan yang terbakar.

b. Respon sistemik jaringan


a) Respon kardiovaskular
Hypovolemia yang disebabkan karena kehilangan cairn menyebabkan
penurunan perfusi jaringan dan pengangkutan oksigen. Cardiac ouput akan
mengalami perubahan jika ada perubahan volume darah secara signifikan.
Sebagai akibat kehilangan cairan yang terus menerus dan penurunan volume
vaskular, cardiac output terus mengalami penurunan dan tekanan darah menjadi
rendah (drop). Ini adalah shock luka bakar. Respon terhadap kejadian ini adalah
pengeluaran katekolamin yang membantu meningkatkan tahanan perifer yang
menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan denyut jantung. Vasokontriksi
dibagian perifer selanjutnya akan menyebabkan penurunan cardiac output.
Kontraksi otot jantung juga mengalami penekanan karena keluarnya cytokine.
Pemberian cairan resusitasi untuk mempertahankan tekanan darah dan
cardiac output. Pemberian cairan yang adequate dapat mencegah terjadinya
LUKA BAKAR 14
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

shock. Secara umum, kehilangan cairan terjadi pada 24 jam sampai dengan 36
jam pertama setelah terjadi luka bakar, dengan waktu puncak 6 sampai 8 jam.
Pada saat capiler mulai baik shock mulai teratasi cairan kembali ke ruang
vaskuler. Cairan di reabsorpsi dari jaringan interstisial ke ruang vaskuler, volume
darah meningkat. Diuresis dapat terjadi beberapa hari sampai dengan 2 minggu.
b) Respon cairan, elektrolit dan volume darah
Volume darah yang bersirkulasi menurun secara dramatis pada saat terjadinya
shock karena luka bakar. Selanjutnya kehilangan cairan karena evaporasi bisa
mencapai 3 sampai dengan 5 liter atau lebih dalam 24 jam sampai dengan
permukaan luka bakar ditutupi.
Selama shock level serum sodium bervariasi tergantung respon tubuh
terhadap cairan resusitasi. Hyponatremia juga biasa terjadi pada minggu pertama
fase akut, selain itu juga terjadi perpindahan cairan dari ruang interstisial ke
ruang vaskuler. Segera setelah terjadi luka bakar, hyperkalemia terjadi karena
kerusakan sel. Hypokalemia dapat terjadi kemudian dengan adanya perpindahan
cairan dan tidak adekuatnya pemberian kalium.
Pada saat terjadinya luka bakar, beberapa sel darah merah mengalami
kehancuran dan yang lainnya rusak, kejadian ini menyebabkan adanya anemia.
Ini ditandai dengan meningkatnya hematokrit, peningkatan ini juga disebabkan
karena kehilangan plasma. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan,
perawatan luka, dan pemeriksaan diagnostik dan hemolisis berkontribusi untuk
terjadinya anemia. Tranfusi darah diperlukan untuk mempertahankan kadar
hemoglobin. Pembekuan darah abnormal terjadi karena penurunan platelet
(trombositopenia) dan waktu pembekuan darah dan protombin time memanjang.

Rumus : (25+persentase luka TBSA)xluas seluruh permukaan tubuh dlm


m2=ml kehilangan air per jam.

c) Respon pulmoner
Satu per tiga pasien luka bakar mengalami masalah pernapasan. Walaupun
tidak ada cedera paru akan tetapi hypoksia bisa saja terjadi. Pada awal terjadinya
LUKA BAKAR 15
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

luka bakar katecholamine dikeluarkan sebagai respon terhadap stres karena


perubahan aliran darah, ini menyebabkan penurunan oksigen di perifer.
Kemudian, hypermetabolism dan pengeluaran katekolamin yang terus menerus
menyebabkan peningkatan kosumsi oksigen di jaringan, sehingga menyebabkan
terjadinya hypoxia. Untuk memastikan oksigen di jaringan, maka pemberian
oksigen sangat diperlukan. Bronkokonstriksi terjadi karea pengeluaran histamin,
serotonin, dan thromboxane, disamping karena dada berkontriksi karena luka
bakar.
Cedera pada pernapasan dapat terjadi dalam beberapa kelompok yaitu: cedera
jalan napas bagian atas, cedera inhalasi di glotis bagian bawah, termasuk
keracunan carbon monoksida. Napas bagian atas dapat terjadi karena adanya
panas langsung atau karena edema sehingga dapat terjadi sumbatan jalan napas.
Tindakan yang perlu dipertimbangkan adalah pemasangan nasotracheal atau
endotracheal intubation. Cedera inhalasi pada glotis bagian bawah berasal dari
menghisap gas berbahaya atau kebakar yang tidak langsung. Gas beracun dapat
berupa carbon monoxide, sulfur oxides, nitrogen oxides, aldehydes, cyanide,
ammonia, chlorine, phosgene, benzene, dan halogens. Cedera ini menyebabkan
kehilangan silia, hypersekresi, edema mukosa berat, dan kemungkinan
bronchospasme. Surfaktan paru menurun juga dapat menebabkan atelektaksis
(alveoli kolap). Obstruksi jalan napas dapat terjadi secara cepat atau dalam
beberapa jam. Penurunan kemampuan paru, penurunan kadar oksigen dalam
arteri, dan asidosis respiratorik dapat terjadi dalam 5 hari pertama setelah luka
bakar terjadi. Indikator kerusakan paru diantaranya:
1. Riwayat kebakar
2. Luka bakar pada wajah atau leher
3. Hilang rambut di hidung
4. Hilang suara (serak), suara berubah, batuk kering, stridor
5. Darah dalam sputum
6. Tachipnea atau tanda lain penurunan kadar oksigen
7. Eritema dan blister pada mukosa mulut atau pharingeal
d) Respon ginjal
Fungsi ginjal juga berubah akibat dari penurunan volume darah, kerusakan sel
darah merah. Pada luka bakar karena listrik, myoglobin keluar dari sel otot dan

LUKA BAKAR 16
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

dikeluarkan melalui ginjal. Pemberian cairan yang adequat memperbaiki aliran


darah ginjal, peningkatan filtrasi glomerolus dan volume urine. Jika aliran darah
yang melalui ginjal tidak aduquat, hemoglobin dan myoglobin dapat berkumpul
di ginjal yang menyebabkan nekrosis tubular akut dan gagal ginjal. Imun Sistem
kekebalan juga berubah karena luka bakar. Luka bakar hebat dapat
menghilangkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Akibatnya sepsis merupakan
penyebab kematian pada pasien.
e) Respon kulit
Kehilangan integritas kulit juga menyebabkan ketidak mampuan mengatur
suhu tubuh, sehingga pasien dengan luka bakar mengalami penurunan suhu
tubuh yang terjadi pada beberapa jam setelah cedera. Kemudian,
hypermetabolisme mengembalikan suhu, sehingga pada pasien luka bakar
mengalami hypertermia walaupun tidak terjadi infeksi.
Kehilangan integritas kulit menyebabkan pengeluaran faktor inflamasi,
peruabahan kadar imunoglobulin dan serum, kegagalan fungsi netropil, dan
penurunan lyphosit. Penelitian menunjukan bahwa luka bakar menyebabkan
tubuh kehilangan T-helper. Terjadi kegagalan produksi dan pengeluaran
granulosit dan makrofag dari sumsum tulang karena cedera luka bakar.
Kegagalan tersebut menyebabkan immunosupresi dan resiko tinggi terjadinya
sepsis.
f) Respon Gastrointestinal
Ada dua kemungkinan komplikasi yang terjadi pada saluran pencenaan yaitu
ileus paralitik, dan ulkus curling. Penurunann peristaltik dan bising usus
merupakan tanda ileus yang disebabkan karena luka bakar. Distensi lambung dan
mual sapai dengan muntah dapat terjadi. Perdarahan lambung dapat terjadi yang
ditandai dengan adanya darah dalam pemeriksaan feses.

Jaringan nekrosis yang ada melepas toksin (burn toxin, suatu lipid protein
kompleks) yang dapat menimbulkan SIRS bahkan sepsis yang menyebabkan
disfungsi dan kegagalan fungsi organ seperti paru dan hepar yang berakhir
dengan kematian.

LUKA BAKAR 17
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

Komplikasi
1. Gagal jantung kongestif dan edema pulmonal
2. Sindrom kompartemen
Sindrom kompartemen merupakan proses terjadinya pemulihan integritas
kapiler, syok luka bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali ke
dalam kompartemen vaskuler, volume darah akan meningkat. Karena
edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar. Tekanan
terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal
menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia.
3. Adult Respiratory Distress Syndrome
Akibat kegagalan respirasi terjadi jika derajat gangguan ventilasi dan
pertukaran gas sudah mengancam jiwa pasien.
4. Ileus Paralitik dan Ulkus Curling
Berkurangnya peristaltic usus dan bising usus merupakan tanda-tanda ileus
paralitik akibat luka bakar. Distensi lambung dan nausea dapat
mengakibatnause. Perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat stress
fisiologik yang massif (hipersekresi asam lambung) dapat ditandai oleh
darah okulta dalam feces, regurgitasi muntahan atau vomitus yang berdarha,
ini merupakan tanda-tanda ulkus curling.
5. Syok sirkulasi terjadi akibat kelebihan muatan cairan atau bahkan
hipovolemik yang terjadi sekunder akibat resusitasi cairan yang adekuat.
Tandanya biasanya pasien menunjukkan mental berubah, perubahan status
respirasi, penurunan haluaran urine, perubahan pada tekanan darah, curah
janutng, tekanan cena sentral dan peningkatan frekuensi denyut nadi.
6. Gagal ginjal akut
Haluran urine yang tidak memadai dapat menunjukkan resusiratsi
cairan yang tidak adekuat khususnya hemoglobin atau mioglobin
terdektis dalam urine.

2. PENANGANAN LUKA BAKAR


a. Tindakan penyelamatan segera pada luka bakar di tempat kejadian
a) Matikan api dengan menutup tubuh penderita dengan selimut,
handuk, seprai, karung.
LUKA BAKAR 18
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

b) Perhatikan Keadaan Umum penderita


c) Luka bakar kecil  Pendinginan:
1. Buka pakaian penderita
2. Rendam dalam air atau air mengalir 20 – 30 menit, derah wajah
dikompres air
3. Yang disebabkan zat kimia: selain air dapat dapat digunakan
NaCI (untuk zat korosif) atau gliserin (untuk fenol)
d) Mencegah infeksi:
1. Luka ditutup dengan perban/ kain kering bersih yang tidak dapat
melekat pada luka
2. Penderita ditutup kain bersih
3. Jangan beri zat yang tidak larut dalam air seperti: mentega,
menyak, kecap, pasta gigi,telor karena bisa ada kemungkinan
dapat memperparah keadaannya, biasanya luka bakar jadi sukar
dibersihkan, rentan terhadap infeksisyok sepsis,
memperlambat dari penyembuhan luka

b. Primary survey dan resusitasi penderita luka bakar


a) Airway
Adanya riwayat terkurung api atau terdapat tanda-tanda trauma jalan
nafas, memerlukan pemeriksaan jalan nafas dan tindakan pemasangan
jalan nafas definitive. Trauma bakar faring menyebabkan edema nafas
bagian atas, karenanya memerlukan pembebasan jalan nafas segera.
Manifestasi klinis trauma inhalasi perlahan-lahan dan mungkin belum
nampak pada 24 jam pertama. Bila dokter menunggu hasil pemeriksaan
radiologis atau hasil analisa gas darah, edema jalan nafas yang akan
terjadi menyebabkan intubasi sulit dilakukan dan diperlukan tindakan
krikotirodotomi untuk pemasangan pipa endotrakeal.
b) Breathing
Penanganan awalnya didasarkan oleh tanda dan gejala yang ada,
yang timbul akibat trauma, sebagai berikut:

LUKA BAKAR 19
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

1. Trauma bakar langsung yang menyebabkan edema dan obstruksi


jalan nafas atas.
2. Inhalasi hasil pembakaran dan asap beracun yang menyebabkan
trakeobronkitis kimiawi, edema dan pneumonia.
3. Keracunan karbon monoksida (CO)
Diagnosis keracunan CO ditegakkan bila seseorang berada
dilingkungan yang mengandung CO, sehingga penderita yang
mengalami luka bakar pada ruangan tertutup selalu dianggap
mengalami keracunan CO. Penderita dengan kadar CO < 20%
biasanya belum menunjukkan gejala. Kadar CO yang lebih tinggi
dapat menimbulkan :
1) Sakit kepala dan mual (20%-30%)
2) Kebingungan (30% - 40%)
3) Koma, letargi (40% - 60%)
4) Kematian (> 60%)
Akibat tingginya afinitas CO terhadap hemoglobin (240 kali
dibanding oksigen), CO akan menggantikan tempat oksigen pada
molekul hemoglobin dan membentuk karboksihemoglobin.
Pelepasan CO sangat lambat, sehingga diperlukan oksigen
konsentrasi tinggi melalui sungkup muka yang memiliki katup
(nonrebreathing mask).

Penaganan awal trauma inhalasi sering memerlukan intubasi


endotrakeal dan ventilasi mekanik. Sebelum intubasi, penderita
diberikan oksigen dengan pelembap. Intubasi dilakukan lebih awal
pada penerita dengan kemungkinan trauma jalan nafas.

Apabila keadaan hemodinamik penderita memungkinkan dan


trauma spinal dapat isingkirkan, menaikkan kepala dan dada 20 o - 30
o
dapat mengurangi edema leher dan dada. Luka bakar derajat III
yang mengenai dinding daa anterior dan lateral dapat menyebabkan
terbatasnya pergerakan dinding dada, karenanya meskipun tidak

LUKA BAKAR 20
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

meliputi keseluruhan dinding dada bila hal ini terjadi dapat


dilakukan eskarotomi.

c) Sirkulasi
Pada luka bakarberat / mayor terjadi perubahan permeabilitaskapiler
yang akan diikuti dengan ekstrapasi cairan (plasma protein dan
elektrolit) dari intravaskuler ke jaringan interfisial mengakibatkan
terjadinya hipovolemic intra vaskuler dan edema interstisial.
Keseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik tergangu sehingga
sirkulasi kebagian distal terhambat, menyebabkan gangguan perfusi / sel
/ jaringan /organ.
Pada luka bakar yang berat dengan perubahan permeabilitas kapiler
yang hamper menyeluruh, terjadi penimbunan cairan massif di jaringan
interstisial menyebabkan kondisi hipovolemik. Volume cairan
intravaskuler mengalami deficit, timbul ketidakmampuan
menyelenggaraan proses transportasi oksigen ke jaringan. Keadaan ini
dikenal dengan sebutan syok. Syok yang timbul harus diatasi dalam
waktu singkat, untuk mencegah kerusakan sel dan organ bertambah
parah, sebab syok secara nyata bermakna memiliki korelasi dengan
angka kematian. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
penatalaksanaan syok dengan metode resusutasi cairan konvensional
(menggunakan regimen cairan yang ada) dengan penatalaksanaan syok
dalam waktu singkat, menunjukkna perbaikkan prognosis, derajat
kerusakan jaringan diperkecil (pemantauan kadar asam laktat),
hipotermi dipersingkat dan koagulatif diperkecil kemungkinannya,
ketiganya diketahui memiliki nilai prognostic terhadap angka mortalitas.
Penilaian volume sirkulasi sering tidak mudah pada penderita luka
bakar berat. Tekanan darah kadang sulit diukur dan hasilnya kurang
dapat dipercaya. Pengukuran pruduksi urin tiap jam merupakan alat
monitor yang baik untuk menilai sirkulasi darah.
Pada 24 jam pertama penderita luka bakar derajat II dan III
memerlukan cairan Ringer Laktat 2- 4 mL/KgBB tiap persen luka bakar
LUKA BAKAR 21
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

untuk mempertahankan volume darah sirkulasi dan fungsi ginjal.


Separuh cairan diberikan pada8 jam pertama setelah kejadian trauma,
separuh sisanya diberikan dalam waktu 16 jam setelahnya. Luka baakr
derajat III dan adanya komplikasi pada paru-paru memerlukan resusitasi
cairan cepat dan dalam jumlah banyak, sehingga sebaiknya resusitasi
dimulai dengan 4mL/KgBB sambil dinilai respon penderita sesering
mungkin.
1) Hari pertama
a. Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka
bakar per 24 jam
b. Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan
faali. Kebutuhan faali :
 < 1 Tahun : berat badan x 100 cc
 1 – 3 Tahun : berat badan x 75 cc
 3 – 5 Tahun : berat badan x 50 cc
½ jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. ½
diberikan 16 jam berikutnya.

2) Hari kedua
a. Dewasa : ½ hari I
b. Anak : diberi sesuai kebutuhan faal

3. INDIKASI RAWAT INAP DAN RUJUKAN


Menurut American Burn Association dalam Advanced Trauma Life Support
(ATLS) oleh American College of Surgeon (2008), luka bakar yang perlu
dirujuk ke pusat luka bakar adalah sebagai berikut:
1. Luka bakar derajat II dan III lebih dari 10% luas permukaan tubuh pada
pasien yang berumur kurang dari 10 tahun atau lebih dari 50 tahun.
2. Luka bakar derajat II dan III lebih dari 20% di luar usia tersebut di atas.
3. Luka bakar derajat II dan III yang mengenai wajah, mata, telinga,
tangan, kaki, genitalia, atau perineum atau yang mengenai kulit sendi-
sendi utama.

LUKA BAKAR 22
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

4. Luka bakar derajat III lebih dari 5% luas permukaan tubuh pada semua
umur.
5. Luka bakar listrik, termasuk tersambar petir (kerusakan jaringan bawah
kulit hebat dan menyebabkan gagal ginjal akut serta komplikasi lain).
6. Luka bakar kimia.
7. Trauma inhalasi.
8. Luka bakar pada pasien yang karena penyakit yang sedang dideritanya
dapat mempersulit penanganan, memperpanjang pemulihan, atau dapat
mengakibatkan kematian.
9. Luka bakar dengan cedera penyerta yang menambah risiko morbiditas
dan mortalitas, ditangani lebih dahulu di UGD sampai stabil, baru
dirujuk ke pusat luka bakar.
10. Anak-anak dengan luka bakar yang dirawat di rumah sakit tanpa
petugas dan peralatan yang memadai, dirujuk ke pusat luka bakar.
11. Pasien luka bakar yang memerlukan penanganan khusus seperti
masalah sosial, emosional atau yang rehabilitasinya lama, termasuk
adanya tindakan kekerasan pada anak atau anak yang ditelantarkan.
Sedangkan menurut Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan)
No. 5 tahun 2014, kriteria rujukan dari pusat pelayanan kesehatan
primer ke rumah sakit adalah pada kasus luka bakar sedang dan berat.

PROSEDUR MELAKUKAN RUJUKAN


Sebelum merujuk, koordinasikan sebaik-baiknya dengan dokter di
pusat luka bakar. Harus disertakan data pasien termasuk hasil pemeriksaan,
suhu, nadi, pemberian cairan, dan produksi urin yang ditulis dalam catatan
pasien. Keterangan lain yang dianggap penting oleh dokter pengirim
maupun penerima rujukan juga dilampirkan bersama pasien. (ACS, 2008)

LUKA BAKAR 23
BLOK 20
LAPORAN DISKUSI KELOMPOK KECIL – KELOMPOK 7 – ANGKATAN 2012
MODUL 5

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Luka bakar (combustion) adalah luka yang disebabkan oleh kontak
dengn suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi, juga
oleh sebab kontak dengan suhu rendah.
Luka bakar selain dapat menyebabkan kematian juga dapat
menimbulkan akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi maupun
estetik. Prognosis dan penanganan luka bakar tidak hanya tergantung pada
kedalaman dan luas luka bakar, letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan
kesehatan penderita, tetapi juga ditentukan oleh penanganan sejak awal
penyembuhan. Pada fase awal dapat terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi
cairan dan elektrolit yang dapat berlanjut menjadi syok beserta
akibat0akibatnya. Pada fase lanjut dapat muncul masalah kontraktur, jaringan
parut dan deformitas jaringan / organ. Oleh karena itu, diperlukan adanya
penatalaksanaan yang tepat untuk menurunkan tingkat mordisbitas dan
mortalitas akibat luka bakar.

B. Saran
Mengingat masih banyaknya kekurangan dari kelompok kami, baik dari segi
diskusi kelompok, penulisan tugas tertulis dan sebagainya, untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari dosen-dosen yang mengajar baik sebagai
tutor maupun dosen yang memberikan materi kuliah, dari rekan-rekan angkatan
2012, dan dari berbagai pihak demi kesempurnaan laporan ini.

LUKA BAKAR 24