Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATANMEDIKAL BEDAH

DEMENSIA

KELOMPOK 6

CINDY PERMATA SARI

RAHMA YUNITA

STIKES MERCUBAKTIJAYA PADANG

DIII KEPERAWATAN

TA 2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT. yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami ucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
“Asuhan keperawatan medikal bedah DEMENSIA”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Padang , 25 oktober 2018

Kelompok 6
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Demensia adalah sebuah sindrome karna penyakit otak, bersifat kronis atau progresif
dimana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi termasuk : memori, berfikir,
orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar, kemampuan dan penilaian kesadaran tidak
terganggu.

Gangguan fungsi kognitif yg biasa di tandai, kadang kadang di dahului oleh


penurunan dalam pengendalian emosi, perilaku social atau motivasasi. Sindrom terjadi pada
penyakit Alzheimer di penyakit serebrovaskuler dan dalam kondisi lain terutama atau
sekunder yang mempengaruhi otak. (Durand dan barlow 2006)

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian diperoleh data bahwa demensia seringkali


terjadi pada usia lanjut yg telah berumur kurang lebih 60 tahun demensia tersebut dapat di
bagi menjadi 2 bagian yaitu: Demensia senilis dan Demensia pra senilis sekitar 56,8% lansia
mengalami demensia dalam bentuk demensia Alzheimer (4% dialami lansia yg telah berusia
75 tahun, 16% pada usia 85 tahun, dan 32% pada usia 90 tahun). Sampai saat ini diperkirakan
30 juta penduduk dunia mengalami demensia dengan berbagai sebab.

Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi tetapi bisa
saja bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan
kepribadian lainya. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara, penderita menggunakan
kata kata yg lebih sederhana menggunakan kata kata yang tidak tepat atau tidak mampu
menemukan kata kata tepat, ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkan
kesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan
fungsi social.

1.2 Tujuan Khusus

Mengetahui tentang teori dan asuhan keperawatan pada pasien dengan demensia (kepikunan)

 Tujuan Umum

Mengetahui pengertian demensia


Mengetahui epidemologi demensia

Mengetahui etiologi demensia

Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan demensia?


BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Definisi Demensia

Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi vegetatif atau
keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan
interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009)

Demensia adalah penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan hilangnya


independensi sosial. (William F. Ganong, 2010)

Demensia adalah kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi
tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku. (Grayson, 2004)

Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan
memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari – hari.
Demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya
pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari – hari. (Nugroho, 2008)

Demensia adalah suatu sidrom yang dikarakteristikkan dengan adanya kehilangan


kapasitas intelektual melibatkan tidak hanya ingatan (memori), namun juga kognitif, bahasa,
kemampuan visuospasial, dan kepribadian. (Josep J.Gallo,2008)

Demensia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual
dan ingatan/memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari
(Brocklehurst and Allen, 2005).

2.2 Etiologi

Penyebab utama dari penyakit demensia adalah penyakit alzaimer, yang penyebabnya
sendiri belum diketahui secara pasti. Penyakit Alzaimer disebabkan karena adanya kelainan
faktor genetik atau adanya kelainan gen tertentu. Bagian otak mengalami kemunduran
sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon terhadap bahan kimia yang
menyalurkan sinyal di dalam otak. Jaringan abnormal ditemukan di dalam otak (disebut plak
senilitis dan serabut saraf yang tidak teratur) dan protein abnormal.
Serangan stroke yang berturut-turut. Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan
kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara
bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan
akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut dengan infark. Demensia yang disebabkan oleh
stroke kecil disebut juga demensia multi-infark. Sebagian penderitanya memiliki tekanan
darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di
otak.

Menurut Nugroho (2008), penyebab demensia dapat digolongkan menjadi 3 :

Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak dikenal kelainan yaitu :
terdapat pada tingkat subseluler atau secara biokimiawi pada sistem enzim, atau pada
metabolisme.

Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar
yaitu :

 Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak dikenal kelainan
yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau secara biokimiawi pada system enzim,
atau pada metabolism
 Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat diobati,
penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :Penyakit degenerasi spino –
serebelar Subakut leuko-esefalitis sklerotik fan bogaert Khorea Hungtington
 Sindrome demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati, dalam golongan ini
diantranya : Penyakit cerrebro kardiovaskuler penyakit

2.3 Klasifikasi

Klasifikasi demensia antara lain :

1. Demensia karena kerusakan struktur otak Demensia ini ditandai dengan gejala :
- Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,
- Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia, gangguan fungsi
eksekutif.
- Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
- Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
- Kehilangan inisiatif.
2. Demensia Vascular

Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak dan setiap
penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia. Depresi bisa
disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi
dapat diduga sebagai demensia vascular.

Tanda-tanda neurologis fokal seperti :

 Peningkatan reflek tendon dalam


 Kelainan gaya berjalan
 Kelemahan anggota gerak
3. Demensia menurut umur:
 Demensia senilis ( usia > 65 tahun)
 Demensia prasenilis (usia < 65 tahun)
4. Demensia menurut perjalanan penyakit :
 Reversibel (mengalami perbaikan)
 Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit.B, Defisiensi,
Hipotiroidisma, intoxikasi Pb) Pada demensia tipe ini terdapat pembesaran vertrikel
dengan meningkatnya cairan serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :
- Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret).
- Inkontinensia urin
- Demensia.
5. Menurut menurut sifat klinis:
 Demensia proprius
 Pseudo-demensia

2.4 Patofisiologi

Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia. Penuaan


menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan biokimiawi di susunan saraf pusat yaitu
berat otak akan menurun sebanyak sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30 sampai 70
tahun. Berbagai faktor etiologi yang telah disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi yang
dapat mempengaruhi sel-sel neuron korteks serebri.Penyakit degeneratif pada otak, gangguan
vaskular dan penyakit lainnya, serta gangguan nutrisi, metabolik dan toksisitas secara
langsung maupun tak langsung dapat menyebabkan sel neuron mengalami kerusakan melalui
mekanisme iskemia, infark, inflamasi, deposisi protein abnormal sehingga jumlah neuron
menurun dan mengganggu fungsi dari area kortikal ataupun subkortikal.

Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang diperlukan untuk proses konduksi
saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan gangguan fungsi kognitif (daya ingat,
daya pikir dan belajar), gangguan sensorium (perhatian, kesadaran), persepsi, isi pikir, emosi
dan mood. Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area yang terkena (kortikal
atau subkortikal) atau penyebabnya, karena manifestasinya dapat berbeda. Keadaan patologis
dari hal tersebut akan memicu keadaan konfusio akut demensia (Boedhi-Darmojo, 2009).

2.5 Menifestasi Klinik

Gejala klinis demensia berlangsung lama dan bertahap sehingga pasien dengan
keluarga tidak menyadari secara pasti kapan timbulnya penyakit. Gejala klinik dari dEmensia
Nugroho (2009) menyatakan jika dilihat secara umum tanda dan gejala demensia adalah :

- Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, lupa menjadi
bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
- Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun,
tempat penderita demensia berada.
- Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,
menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita
yang sama berkali-kali.
- Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama
televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan
gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa
perasaan-perasaan tersebut muncul.
- Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.

2.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien dengan demensia antara lain sebagai berikut :

 Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
- Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan antikoliesterase
seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine , Memantine
- Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet seperti Aspirin ,
Ticlopidine , Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga
memperbaiki gangguan kognitif.
- Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati
tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.
- Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi
seperti Sertraline dan Citalopram.
- Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa
menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-psikotik
(misalnya Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone)
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN

a. Identitas pasien meliputi : nama, tempt tanggal lahir , jenis kelamin , umur , pekerjaan
, pendidikan , alamat , agama ,suku bangsa , tanggal masuk rumah sakit , no register /
mr serta penanggung jawab
b. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang

subyektif :

1. Pasien mengatakan mudah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi.

2. Pasien mengatakan tidak mampu mengenali orang, tempat dan

waktu

Data obyektif :

1. Pasien kehilangan kemampuannya untuk mengenali wajah, tempat


dan objek yang sudah dikenalnya dan kehilangan suasana
kekeluargaannya.

2. Pasien sering mengulang-ngulang cerita yang sama karena lupa


telah menceritakannya.

3. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara; penderita


menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-
kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang
tepat.
 Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya disebabkan karena adanya kelainan faktor genetik atau adanya
kelainan gen tertentu.
 Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya dalam keluarga klien ada yang mengalami penyakit yang sama atau
penyakit menurun lainya
c. Pemeriksaan fisik
 Kepala
Biasanya saat mengamati bentuk warna rambut hitam , tidak berbau , bersih,
tidak kotor tidak ada ketombe tidak ada lesi , tidak ada benjolan pada kepala
 Mata (kiri/ kanan)
Biasanya posisi mata simetris kiri dan kanan , terdapat lingkaran hitam pada
kelopak mata karena kurang tidur akibat nyeri , respon cahaya baik
,konjungtiva anemis
 Hidung
Biasanya pernapasan tidak cupping hidung , tidak ada radang , hidung simetris
tidak terdapat polip
 Telinga
Biasanya Tidak ditemukan adanya gangguan pendengaran
 Leher
Biasanya Tidak ada pembengkakan vena jugularis , tidak ada pembesaran
kelenjer getah bening
 Dada ( thorak )
Inspeksi : biasanya pergerakan dada simetris kiri dan kanan
Palpasi : biasanya tidak ada nyeri tekan pada dada
 Jantung
Inspeksi : biasanya ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : biasanya ictus cordis tidak teraba
Perkusi : biasaya bunyi redup
Auskultasi : biasanya irama jantung teratur
 Perut / abdomen
Inspeksi : biasanya perut datar
Palpasi : biasanya tidak ada benjolan
Perkusi : biasanya tidak ada nyeri tekan
Auskultasi : biasanya bising usus normal