Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH SUMBER DAYA MINERAL DAN ENERGI

GENESA BAHAN GALIAN

DISUSUN OLEH

ABRAHAM A.L. WAYOI (03021981722130)

ALEDIEN MANDALA AJI (03021181722020)

FAWWAZ SAIFANI MUHAMMAD (03021281722034)

MOHAMMAD ALFAYED (03021181722012)

DOSEN PEMBIMBING

Ir. Mukiat, M.S.

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan
kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan yang luar biasa ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan
tugas penulisan makalah tentang “Genesa Bahan Galian.”

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi gung kita, yaitu Nabi
Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan
sebuah pentunjuk yang paling benar yakni Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-
satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.

Sekaligus pula kami menyampaikan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk Bapak Ir.
Mukiat M.S. selaku dosen mata kuliah Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya yang telah
menyerahkan kepercayaannya kepada kami guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kami
juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta bermanfaat dalam
meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait materi Genesa Bahan Galian

Selain itu kami juga sadar bahwa pada makalah kami ini dapat ditemukan banyak sekali
kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami benar-benar menanti kritik dan saran
untuk kemudian dapat kami revisi dan kami tulis di masa yang selanjutnya, sebab sekali kali lagi kami
menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa disertai saran yang konstruktif.

Di akhir kami berharap makalah sederhana kami ini dapat dimengerti oleh setiap pihak yang
membaca. Kami pun memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah kami terdapat
perkataan yang tidak berkenan di hati.

Indralaya, 27 Januari 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan penulisan 1
D. Manfaat Penulisan 1

BAB II : PEMBAHASAN

A. Pengertian 2
B. Penggolongan Genesa Mineral 2
C. Proses Pembentukan Endapan Mineral 7

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan 13
B. Penutup 13

DAFTAR PUSTAKA 14

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara umum genesa bahan galian adalah lingkungan yang merupakan tempat dimana
suatu mineral terbentuk, yang mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses pembentukan,
komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor pengendali
pengendapan bahan galian (geologic controls). Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan
bahan galian adalah sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru,
mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan
(penyusunan) model eksplorasi yang akan diterapkan, serta membantu dalam penentuan metoda
penambangan dan pengolahan bahan galian tersebut.

Sumber daya minerals merupakan bagian dari sumber daya alam atau biasa disebut juga
“bahan galian”, proses pembentukannya berlangsung dalam jangka waktu lama (jutaan tahun).
Keberadaannya jika dibandingkan dengan masa hidup di alam seperti manusia maka bahan galian
digolongkan kepada sumber daya alam yang tidak terbarukan. Keberadan mineral yang berbentuk
bahan galian di alam dijumpai dalam dua bentuk yaitu yang pertama dalam bentuk aslinya atau
native element, serta bahan galian tersebut dapat langsung diambil serta digunakan untuk
keperluan manusia, sedangkan bentuk kedua berbentuk senyawa dengan unsur lain, serta untuk
mendapatkan mineral yang diinginkan bahan galian tersebut harus diolah lebih dahulu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari mineral dan genesa mineral ?
2. Apa saja macam dari genesa mineral ?
3. Jelaskan macam-macam genesa mineral tersebut !

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui jawaban dari rumusan masalah yang telah dibuat dan agar dapat
menjadi rujukan dan referensi untuk pembelajaran kedepannya.

D. Manfaat Penulisan

Agar dapat menambah wawasan pembaca tentang genesa batuan baik itu pengertian,
klasifikasinya, serta pengaplikasiannya dalam kehidupan

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Penejelasan mineral bukan hanya ada satu makna didunia ini, melainkan ada begitu
banyak referensi yang menjelaskan tentang apa itu mineral. Mineral yang dimaksud adalah
mineral industri pertambangan, adapun beberapa penjelasan tentang mineral dari sekian
banyaknya penjelasan yang ada, yaitu :

1. Menurut UU No 4 Tahun 2009

Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan
kimia. tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungailnya yang membentuk batuan, baik
dalam bentuk lepas atau padu.

2. Pengertian mineral vesi klasik dan kompilasi

a. Klasik
Mineral adalah suatu benda padat anorganik yang terbentuk secara alami, bersifat homogen yang
mempunyai bentuk Kristal dan rumus kimia yang tetap.

b. Kompilasi
Mineral adalah suatu zat yang terdapat dialam dengan komposisi kimia yang khas, bersifat
homogen memiliki sifat – sifat fisik dan umumnya berbentuk krsitalin yang mempunyai bentuk
geometri tertentu.

3. Pengertian mineral secara umum

Mineral didefinisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara alamiah, terdiri dari
unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom didalamnya tersusun
mengikuti suatu pola yang sistematis

Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses


pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor
pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah sebagai pegangan
dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru, mengungkapkan sifat-sifat fisik dan
kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang
akan diterapkan, serta membantu dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan
galian tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya disebut dengan
endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah terubah melalui pelapukan atau
proses-proses luar (superficial processes) disebut dengan endapan sekunder (supergen).

B. Penggolongan Genesa Mineral

Berdasarkan tempat atau lingkungan dimana suatu mineral terbentuk, genesa mineral
terbagi menjadi 3 macam yakni :

5
A. Lingkungan Magmatik

Lingkungan ini mempunyai karakter yang sangat khas, yaitu memiliki tekanan dan
temperatur yang sangat tinggi, dan tentunya sangat berhubungan dengan aktivitas magma.
Berdasarkan keterjadiannya, lingkungan magmatik ini dibagi menjadi empat tipe, yaitu Batuan
beku, Pegmatit, Urat hidrotermal, dan Deposit mata air panas.

1. Batuan Beku

Tersusun atas mineral-mineral yang sederhana. Terdapat 7 kelompok mineral yang


terdapat pada batuan beku, yaitu : kelompok kuarsa, feldspar, feldspatoid, piroksen, hornblende,
biotit, dan olivin. Kisaran jumlah dari mineral-mineral penting yang terdapat dalam batuan beku
sangat lebar. Ada juga batuan beku yang mengandung hampir 100% mineral yang sama,
contohnya seperti Dunityang hampir seluruhnya tersusun atas mineral olivine.

Berdasarkan warnanya, mineral batuan beku dibagi menjadi 3 kelompok,


yaitu Leucocratic (terang),Mesocratic (sedang), dan Melanocratic (gelap).Pengelompokkan ini
didasarkan pada kandungan dari mineral fero-magnesium. Semakin banyak kandungan mineral
tersebut, maka warna nya akan semakin gelap.

Lingkungan geologi tertentu akan memberikan pengaruh tertentu yang tercermin


terhadap ukuran butir mineralnya. Selain itu tekstur pada batuan beku juga mencerminkan kondisi
pembekuannya, urutan kristalisasi, komposisi, viskositas magma, kecepatan pembekuan, dan
pertumbuhan kristalnya.

Pembekuan kristal yang cepat akan menghasilkan kristal yang kecil. Hal ini disebabkan
karena tidak tersedia waktu yang cukup untuk membentuk kristal yang sempurna. Biasanya
terjadi di permukaan saat kontak langsung dengan air ataupun udara saat magma keluar. Tekstur
yang dihasilkan adalah afanitik (halus). Sedangkan, pembekuan yang lambat akan menghasilkan
membentuk kristal yang besar, karena masih memiliki waktu yang cukup untuk membentuk itu.
Pembekuan yang lambat ini terjadi di dalam perut bumi, dan menghasilkan batuan beku dengan
tekstur faneritik(kasar).

Berdasarkan kandungan SiO2 nya, batuan beku dibedakan menjadi 4 jenis.


a. Batuan beku asam yang mengandung lebih dari 65% silika, ex: Granit.

b. Batuan beku menengah (intermediate) yang mengandung silika antara 53%-65%, ex: Diorit,
Syenit.

c. Batuan beku basa dengan kandungan silika antara 45%-53%, ex: Gabbro.

d. Batuan beku ultrabasa yang mengandung silika <45%, ex: Dunit, Peridotit.

2. Pegmatit dan Urat-Urat Hidrotermal

Pegmatit ini terbentuk dari cairan silikat sisa proses kristalisasi fraksional yang kaya akan
kandungan alkali, alumunium, mengandung air, dan zat volatil. Cairannya tidak selalu berbentuk
cair disebabkan karena konsentrasi volatil. Apabila mencukupi, tekanan volatil akan menginjeksi
cairan di sepanjang permukaan lemah pada batuan yang merupakan bagian dari batuan beku
intrusi yang sama, ataupun batuan lain yang sudah terbentuk lebih awal.

Kebanyakan pegmatit yang dijumpai berasosiasi dengan batuan plutonik, umumnya


granit. Pegmatit granit terutama tersusun oleh kuarsa dan feldspar alkali, serta sejumlah muskovit

6
dan biotit. Dengan demikian, komposisinya mirip dengan granit, namun berbeda dalam tekstur.
Pegmatit bertekstur khusus, yaitu berbutir sangat kasar, dan berbentuk tabular.

3. Deposit Hidrotermal

Merupakan pengembangan dari pegmatit. Ciri-cirinya adalah urat-urat yang mengandung


sulfida, yang mengisi rekahan pada batuan semula. Namun juga dapat berupa suatu massa tak
teratur, yang mengganti seluruh atau sebagian batuan. Proses hidrotermal ini merupakan suatu
proses yang penting dalam pembentukan mineral-mineral bijih. Berdasarkan tingkat kedalaman
dan suhunya, deposit hidrotermal dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

 Deposit hidrotermal : suhu antara 300-500 derajat C, dan terbentuk di kedalaman yang sangat
dalam. Dicirikan oleh mineral Molibdenit[MoS2], Kasiterit [SnO2], Skhelit [CaWO4].

 Deposit mesotermal : suhu antara 200-300 derajat C, dengan kedalaman yang menengah. Mineral
yang mecirikannya adalah mineral-mineral sulfida seperti Pirit [FeS2], Galena[PbS]. Urat kuarsa
mengandung emas yang merupakan suatu deposit penting, mungkin adalah deposit mesotermal.

 Deposit epitemal : terbentuk pada temperatur rendah, antara 50-200 derajat C. Mineral
pencirinya adalah Perak native [Ag], Emas native [Au], Silvanit [(Au,Ag)Te2].

4. Deposit Air Panas dan Fumarol

Deposit air panas merupakan hidrotermal yang sampai ke permukaan. Mineral yang
dijumpai adalah silika opal, sejumlah kecil sulfur, dan sulfida. Sedangkan, deposit
fumarol terdapat pada gunungapi yang masih aktif. Gas-gas panasnya mengendapkan mineral-
mineral seperti sulfur, dan khlorida, terutama Khlorida Amonium [NH3Cl]. Selain itu, mungkin
juga terdapat Magnetit [Fe3O4], Hematite[Fe2O3], dan Realgar [AsS].

B. Lingkungan Sedimen

Proses sedimentasi merupakan perpaduan dari interaksi atmosfer dan hidrosfer terhadap
lapisan kerak bumi. Dalam proses sedimentasi terdapat fase pelapukan, yang dapat menyebabkan
mineral berubah menjadi mineral-mineral baru yang bersifat lebih stabil daripada sebelumnya.

Pada kebanyakan lingkungan pengendapan, proses yang berlangsung adalah oksidasi


karena terkena pengaruh dari atmosfer. Namun, di beberapa tempat ada yang tidak terkena kontak
atmosfer, sehingga proses yang berlangsung adalah reduksi.

Berdasarkan stabilitas mineralnya, lingkungan sedimen dibagi menjadi 6 klasifikasi:

1. Resistat

Merupakan endapan yang tersusun atas mineral yang tahan terhadap pelapukan, sehingga
tidak mengalami perubahan. Salah satu mineral yang dikenal paling tahan terhadap pelapukan
adalah Kuarsa [SiO2]. Kadar silika dalam sedimen-sedimen resistat dapat mencapai 90%,
sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber dalam perindustrian.

Mineral-mineral lainnya yang tahan terhadap pelapukan adalah Zirkon [ZrSiO4],


Andalusit [Al2SiO5], Topaz [Al2SiO4(OH,F)2]. Endapan resistat disebut juga sebagai “placer
deposit” karena bernilai ekonomi.

7
2. Hidrolisat

Terbentuk dari mineral-mineral silikat yang mengalami proses dekomposisi kimia.


Mineral yang paling umum terdapat di endapan ini adalah mineral lempung, berupa
aluminosilikat hidrat yang bertekstur filosilikat dengan ukuran butir yang sangat halus.

Di daerah tropis, tempat dimana perbedaan basah dan kering sangat kontras, proses
pelapukan akan terjadi lebih baik, dan dapat menghasilkan endapan aluminosilikat yang sangat
bagus. Yaitu, dengan hilangnya kandungan silika, dan meninggalkan residu berupa oksida
alumunium hidrat, seperti Gibsit [Al(OH)3]. Residu ini dikenal dengan “endapan bauksit”,
merupakan endapan komersial yang menghasilkan bijih alumunium.

3. Oksidat

Merupakan endapan hidroksida feri, yang merupakan hasil oksidasi senyawa besi dalam
suatu larutan, dan mengendap. Contohnya adalah Gutit [HFeO2] yang memberikan warna coklat,
dan Hematit [Fe2O3] yang memberikan warna merah. Bila kedua mineral ini terdapat dalam
jumlah yang besar, maka dapat menjadi sangat bernilai karena bijih besinya.

Mineral lainnya yang terdapat pada endapan oksidat adalah mangan. Contohnya
adalah Manganit [MnO(OH)], dan Psilomelane [(Ba,H2O)2Mn5O10], yang sebagian besar
tersusun atas MnO2.

4. Reduzat

Terbentuk karena proses reduksi, dikarenakan tempat terbentuknya yang terisolir dari
atmosfer, sehingga kekurangan oksigen. Endapan jenis ini jarang sekali dijumpai.

Di laut, biasanya endapan ini terdapat pada daerah palung. Dengan kondisi yang tenang,
pengendapan material-material organik, akan menyebabkan berkurangnya oksigen, dan terbentuk
H2S. Contoh mineral yang terbentuk adalah Pirit (pada keadaan asam), dan Markasit (pada
keadaan yang lebih asam).

Di darat, pengendapan dari bahan rombakan tumbuhan-tumbuhan akhirnya akan berubah


menjadi lapisan-lapisan batubara. Dengan keadaan reduksi yang tinggi, memungkinkan terjadinya
pengendapan karbonat fero berupa Siderit, yang dapat digunakan menjadi deposit bijih besi.

Mineral lain yang terbentuk dalam suasana reduksi adalah Sulfur [Cu], yang biasanya
dijumpai berasosiasi dengan kubah garam dan minyak bumi.

5. Presipitat

Endapan ini berhubungan dengan berbagai aktivitas organisme yang mensekresi


gamping, maka dari itu tempat yang paling baik bagi pengendapan jenis ini (karbonatan) adalah
di bawah laut.

Bentuk kalsium karbonat yang paling stabil adalahKalsit, namun dapat juga
terbentuk Aragonit. Araganit dapat berubah menjadi kalsit, ataupun tetap menjadi aragonit, hal itu
dapat terjadi apabila strukturnya berubah menjadi lebih stabil, karena kandungan ion-ion asing.
Selain itu, kalsit dan aragonit dapat diendapkan di lingkungan terestrial, seperti di dalam gua
batugamping, yang di sekelilingnya terdapat mata air yang jenuh akan kandungan CaCO3.

Salah satu presipitat laut yang jarang ditemukan, namun sangat bernilai dari segi ekonomi
adalah Fosforit yang digunakan sebagai sumber pupuk fosfat.Seperti yang kita ketahui, air laut di

8
bagian dasar samudera sangat jenuh oleh fosfat kalsium, dan karena terjadi perubahan pada
kondisi fisik-kimianya, walaupun hanya sedikit akan menyebabkan fosforit terpresipitasi. Bila
sedimentasi dari bahan-bahan lainnya lebih sedikit, maka akan terbentuk lapisan fosforit yang
lebih murni.

6. Evaporit

Proses penting dalam pembentukan sedimen evaporit adalah penguapan. Endapan ini
mempunyai fungsi khusus, yaitu untuk menginterpretasi sejarah geologi daerah itu, sebagai
indikator untuk keadaan yang kering. Berdasarkan asal mula pengendapannya, sedimen evaporit
dibagi menjadi 2, yaitu:

Endapan evaporit marin terbentuk di laut yang disebabkan oleh air laut yang menguap.
Apabila air laut menguap pada keadaan yang alami, maka yang pertama kali akan mengendap
adalah kalsium karbonat, diikuti oleh dolomit. Dengan berlanjutnya evaporasi, terendapkanlah
kalsium sulfat, yang dapat berupa gipsum, yang bergantung kepada temperatur dan salinitas air
laut, dan pada giliran berikutnya akan terbentuk halit. Kebanyakan endapan evaporit terdiri atas
kalsium karbonat, namun pada keadaan tertentu dapat juga terendapkan garam kalsium dan
magnesium.

Endapan evaporit non marin relatif jarang ditemui, atau sangat terbatas, baik dalam
penyebarannya maupun besarnya, tetapi sangat penting dalam arti ekonomi, karena endapan ini
menghasilkan senyawa Boron [B] dan Yodium[I]. Endapan ini terbentuk di darat karena
menguapnya suatu danau garam. Disamping kedua senyawa tadi, terkandung pula nitrat-nitrat,
sejumlah garam kalsium, bromida, dan gipsum.

C. Lingkungan Metamorfik

Lingkungan ini berada jauh di bawah permukaan bumi dengan suhu dan tekanan ekstrem
yang menyebabkan re-kristalisasi pada material batuan, namun tetap terjadi pada fase padat.
Faktor lain yang sangat penting dalam metamorfisme adalah aksi dari cairan kemikalia aktif,
karena cairan tersebut dapat merangsang terjadinya reaksi melalui larutan dan pengendapan
kembali. Jika terjadi perubahan material batuan yang disebabkan oleh cairan ini, maka prosesnya
disebut dengan metasomatisme.

1. Tipe-Tipe Metamorfisme & Batuan Metamorf

Terdapat 2 tipe metamorfisme, yaitu metamorfisme termal, dan regional. Metamorfisme


termal adalah tipe metamorfisme adalah tipe yang berkembang di sekitar tubuh batuan plutonik.
Pada tipe ini, temperatur metamorfisme ditentukan oleh jauh dekatnya dengan intrusi magma.
Batuan khas dari metamorfisme ini adalah batutanduk (hornfels). Batu ini mempunyai butir yang
halus, dan terkadang mengandung mineral yang mempunyai kristal yang besar. Berdasarkan
komposisi mineralnya, batutanduk terbagi menjadi batutanduk biotit, piroksen, dan silikat
gamping.

Metamorfisme regional adalah jenis metamorfisme yang berkembang pada suatu daerah
yang sangat luas, sekitar 1.500 km persegi. Batuan khas dari metamorfisme ini adalah Gneiss,
yang merupakan batuan yang berfoliasi kasar, yang berupa suaru lapisan yang kontras dengan
tebal 1-10mm, dan biasanya berseling di antara mineral terang dan gelap. Sedangkan Sekis adalah
batuan foliasi halus dengan laminasi yang berkembang baik, sehingga, jika batuan itu pecah,
maka akan terpecah pada bidang laminasi tersebut.

9
2. Mineralogi Batuan Metamorf

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, faktor utama yang mengontrol derajat
metamorfisme adalah temperatur. Namun, batas antara temperatur setiap derajat metamorfisme
tidak dapat diketahui secara pasti.

Dalam prakteknya, derajat metamorfisme dapat diketahui dengan mineraloginya. Yaitu


dengan melihat mineral yang hilang dan muncul secara bersamaan. Contohnya, Biotit adalah
mineral yang paling umum di batuan metamorf, namun tidak ditemukan di metamorf yang
berderajat rendah, dan digantikan dengan Muskovit dan Khlorit.

Dalam batuan metamorf berderajat rendah, mineral plagioklas muncul sebagai albit, yang
akan bertambah kandungan kalsiumnya seiring dengan meningkatnya derajat metamorfisme.
Mineral lain seperi kuarsa dapat ditemukan hampir di semua derajat metamorfisme, sehingga
tidak bisa dijadikan indikator dari derajat metamorfisme.

C. Proses Pembentukan Endapan Mineral

Terdapat dua macam proses pembentukan endapan minerqal, yakni proses pengendapan
mineral primer dan proses pengendapan mineral sedimenter. Endapan-endapan mineral yang
muncul sesuai dengan bentuk asalnya disebut dengan endapan primer (hypogen). Jika mineral-
mineral primer telah terubah melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes)
disebut dengan endapan sekunder (supergen).

1. Proses Pembentukan Endapan Mineral Primer


Pembentukan Mineral primer secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis
endapan, yaitu :
a. Fase Magmatik Cair
b. Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal
e. Fase Vulkanik

Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat endapan yang
berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan :

1. Kristalisasi magmanya
2. Jarak endapan mineral dengan asal magma
a. intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku
b. peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku
c. crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
d. apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
e. tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku
3. Bagaimana cara pengendapan terjadi
a. terbentuk karena kristalisasi magma atau di dalam magma
b. terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
c. metosomatisme (replacement) yaitu :reaksi kimia antara batuan yang telah ada dengan
larutan pembawa bijih
4. Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan
5.Waktu terbentuknya endapan
a. syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan

10
b. epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan pembentukan
batuan.

a. Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)

Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana mineral terbentuk
langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara gravitational settling).
Mineral yang banyak terbentuk dengan cara ini adalah kromit, titamagnetit, dan petlandit Fase
magmatik cair ini dapat dibagi atas :
1. Komponen batuan, mineral yang terbentuk akan tersebar merata diseluruh masa batuan.
Contoh intan dan platina.
2. Segregasi, mineral yang terbentuk tidak tersebar merata, tetapi hanya kurang terkonsentrasi di
dalam batuan.

Injeksi, mineral yang terbentuk tidak lagi terletak di dalam magma (batuan beku), tetapi
telah terdorong keluar dari magma.

b. Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)

Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat
kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang
mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan temperatur
antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga pembekuan berjalan dengan lambat.
Mineral-mineral pegmatit antara lain : logam-logam ringan (Li-silikat, Be-silikat (BeAl-silikat),
Al-rich silikat), logam-logam berat (Sn, Au, W, dan Mo), unsur-unsur jarang (Niobium, Iodium
(Y), Ce, Zr, La, Tantalum, Th, U, Ti), batuan mulia (ruby, sapphire, beryl, topaz, turmalin rose,
rose quartz, smoky quartz, rock crystal).

c. Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)

Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam
lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontak-metamorfisme,
karena adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua dengan magma yang lebih muda.
Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan temperatur tinggi dari magma kontak
dengan batuan dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak yang terbentuk antara lain :
wolastonit (CaSiO3), amphibol, kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit,
turmalin, diopsit, dan skarn.
Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi batuan beku
intrusi dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu: baking (pemanggangan) dan hardening
(pengerasan).
Igneous metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang berhubungan dengan
penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh masa batuan pada umumnya akan ter-
rekristalisasi, terubah (altered), dan tergantikan (replaced). Perubahan ini disebabkan oleh panas
dan fluida-fluida yang memencar atau diaktifkan oleh terobosan tadi. Oleh karena itu endapan ini
tergolong pada metamorfisme kontak.
Proses pneomatolitis ini lebih menekankan peranan temperatur dari aktivitas uap air.
Pirometamorfisme menekankan hanya pada pengaruh temperatur sedangkan pirometasomatisme
pada reaksi penggantian (replacement), dan metamorfisme kontak pada sekitar kontak. Letak
terjadinya proses umumnya di kedalaman bumi, pada lingkungan tekanan dan temperatur tinggi.

11
Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida sederhana dan oksida
misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bornit, dan beberapa molibdenit. Sedikit endapan jenis ini
yang betul-betul tanpa adanya besi, pada umumnya akan banyak sekali berisi pirit atau bahkan
magnetit dan hematit. Scheelit juga terdapat dalam endapan jenis ini (Singkep-Indonesia).

d. Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)

Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi
magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan merupakan sumber
terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara pembentukan endapan,
dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu :
1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam batuan.
2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru
dari larutan hidrothermal.

Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan hidrothermal,


antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T 1500C-3500C), dan Hipothermal (T
3000C-5000C). Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral yang
tertentu (spesifik), berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi
minera-mineral seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir
selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au), magnetit
(Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit (FeS), galena (PbS),
pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida
(MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs), spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara
lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa, tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat
Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn, Cu)
sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3),
tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan
mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.
Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu),
argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2), cinabar (HgS),
realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan mineral-mineral ganguenya :
kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat).

e. Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)

Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan bijih secara
primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas

Ekshalasi dibagi menjadi : fumarol (terutama terdiri dari uap air H2O), solfatar
(berbentuk gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), saffroni (berbentuk baron). Bentuk
(komposisi kimia) dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat, air karbonat, air silikat, air
nitrat, dan air fosfat.
Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari phase vulkanik adalah :
belerang (kristal belerang dan lumpur belerang), oksida besi (misalnya hematit, Fe2O3). Sulfida
masif volkanogenik berhubungan dengan vulkanisme bawah laut, sebagai contoh endapan
tembaga-timbal-seng Kuroko di Jepang, dan sebagian besar endapan logam dasar di Kanada.

12
2. Proses Pembentukan Endapan Sedimenter

Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan batuan sedimen,
dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama sedimentasi, atau pelapukan maupun
dibentuk oleh proses hidrotermal. Mineral bijih sedimenter umumnya mengikuti lapisan
(stratiform) atau berbatasan dengan litologi tertentu (stratabound). Endapan sedimenter yang
cukup terkenal karena proses mekanik seperti endapan timah letakan di daerah Bangka-Belitung
dan endapan emas placer di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Endapan sedimenter
karena pelapukan kimiawi seperti endapan bauksit di Pulau Bintan dan laterit nikel di
Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/ Selatan.
Y. B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter berdasarkan sumber
metal dan berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan sumber metal dibagi dua yaitu endapan
supergen endapan yang metalnya berasal dari hasil rombakan batuan atau bijih primer), serta
endapan hipogen (endapan yang metalnya berasal dari aktivitas magma/epithermal). Sedangkan
berdasarkan host-rock (dengan pengendapan batuan sedimen) dibagi dua, yaitu endapan
singenetik (endapan yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan) serta endapan
epigenetik (endapan mineral terbentuk setelah batuan ada).
Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat faktor yaitu : sumber dari
mineral, metal atau metaloid, supergene atau hypogene (primer atau sekunder), erosi dari daerah
mineralisasi yang kemudian diendapkan dalam cekungan (supergene), dari biokimia akibat
bakteri, organisme seperti endapan diatomae, batubara, dan minyak bumi, serta dari magma
dalam kerak bumi atau vulkanisme (hypogene).

a. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil
Pelapukan Permukaan dan Transportasi

Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan
mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan material lain.
Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan geokimia yang baru
dinamakan dispersi geokimia. Berbeda dengan dispersi mekanis, dispersi kimia mencoba
mengenal secara kimia penyebab suatu dispersi.
Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia sekunder. Dispersi
geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi di dalam kerak bumi, meliputi proses
penempatan unsur-unsur selama pembentukan endapan bijih, tanpa memperhatikan bagaimana
tubuh bijih terbentuk. Dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang terjadi di
permukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer oleh proses yang
biasanya terjadi di permukaan, antara lain proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan.
Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan akhirnya diendapkan
pada suatu tempat. Mobilitas unsur sangat mempengaruhi dispersi. Unsur dengan mobilitas yang
rendah cenderung berada dekat dengan tubuh bijihnya, sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas
tinggi cenderung relatif jauh dari tubuh bijihnya. Selain itu juga tergantung dari sifat kimianya Eh
dan Ph suatu lingkungan seperti Cu dalam kondisi asam akan mempunyai mobilitas tinggi
sedangkan dalam kondisi basa akan mempunyai mobilitas rendah.
Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada endapan lateritik.
Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber oksigen dari udara atau air permukaan.
Oksidasi berjalan ke arah bawah sampai batas air tanah. Akibat proses oksidasi ini, beberapa
mineral tertentu akan larut dan terbawa meresap ke bawah permukaan tanah, kemudian
terendapkan (pada zona reduksi). Bagian permukaan yang tidak larut, akan jadi berongga,
berwarna kuning kemerahan, dan sering disebut dengan gossan. Contoh endapan ini adalah
endapan nikel laterit.

13
b. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik

Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan dari
residu. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar butir dan
berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt, Au, kasiterit,
magnetit, monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet, tantalum, rutil, dsb.

Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan dapat dibagi menjadi
sebagai berikut ini :
1. Endapan plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih primer. Mereka
terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan), material mengalami pelapukan setelah
pencucian. Sebagai contoh endapan platina di Urals.
2. Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting. Terbentuk di sungai bergerak
kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral bijih yang berat akan bergerak ke
bawah sungai. Intensitas pengayaan akan didapat kalau kecepatan aliran menurun, seperti di
sebelah dalam meander, di kuala sungai dsb. Contoh endapan tipe ini adalah Sn di Bangka dan
Belitung. Au-plaser di California.
3. Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang memukul pantai dan
mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Mineral yang umum di sini adalah ilmenit, magnetit,
monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari batuan terabrasi.
4. Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami pembatuan dan kadang-
kadang termetamorfkan. Sebagai contoh endapan ini adalah Proterozoikum Witwatersand, Afrika
Selatan, merupakan daerah emas terbesar di dunia, produksinya lebih 1/3 dunia. Emas dan
uranium terjadi dalam beberapa lapisan konglomerat. Mineralisasi menyebar sepanjang 250 km.
Tambang terdalam di dunia sampai 3000 meter, ini dimungkinkan karena gradien geotermis
disana sekitar 10 per 130 meter.

c. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia

1. Lingkungan Darat

Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah akibat
oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut “ red beds”. Kalau konsentrasi elemen logam
dekat permukaan tanah atau di bawah tanah tempat pengendapan tinggi memungkinkan terjadi
konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian (leaching/pelindian) meresap bersama air
tanah yang kemudian mengisi antar butir sedimen klastik. Koloid bijih akan alih tempat oleh
penukaran kation antara Fe dan mineral lempung atau akibat penyerapan oleh mineral lempung
itu sendiri.

2. Lingkungan Laut

Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat
yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang tinggi
dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut mempunai elemen yang rendah. Sebagai contoh
kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk konsentrasi mineral logam yang berharga hal
ini dapat terjadi kalau mempunyai keadaan yang khusus (terutama Fe dan Mn) seperti :
a. Adanya salah satu sumber logam yang berasal dari pelapkan batuan di daratan atau dari sistem
hidrotermal bawah permukaan laut.
b. Transport dalam larutan, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang dominan dan
terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
c. Endapan di dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH)3, FeCO3 atau Fe-silikat tergantung
perbedaanpotensial reduksi (Eh).

14
Bijih dalam lingkungan laut ini dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh larutan koloid
membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk kulit yang simetris disebabkan
perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan pertumbuhan yang terus menerus, oolit tersebut
akan stabil di dasar laut dimana tertanam dalam material lempungan karbonatan yang
mengandung beberapa besi yang bagus. Di dasar laut mungkin oolit tersebut reworked. Dengan
hasil keadaan tersebut bijih besi dan mangan sebagai contoh ferromanganese nodules yang
sekarang ini menutupi daerah luas lautan.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses
pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor
pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah sebagai pegangan
dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru, mengungkapkan sifat-sifat fisik dan
kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang
akan diterapkan, serta membantu dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan
galian tersebut.

B. Penutup
Demikian Makalah yang berjudul “Genesa Bahan Galian” ini kami buat, semoga dengan
dibuatnya makalah ini dapat dijadikan sebagai referensi pembelajaran untuk kedepannya dan juga
dapat menambah wawasan pembaca tentang hal-hal yang menyangkut tentang genesa batuan
tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Desra.2014.https://www.slideshare.net/desra99/1-genesa-mineral-bijih (diakses pada 27 Januari 2019)

Iksan, Nurany.2014. “Genesa Mineral”. http://www.academia.edu/28518577/GENESA_MINERAL


(diakses pada 27 Januari 2019)

Oktaviany, Vina.2013.”Makalah Genesa Mineral” https://www.scribd.com/doc/182410703/Makalah-


Genesa-Mineral (diakses pada 27 Januari 2019)

17