Anda di halaman 1dari 17

1.

Definisi
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan
merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat
mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun (Mansjoer, 2010).
Apendisitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran
kanan bawah rongga abdomen dan penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat (Smeltzer, 2005).
Apendisitis adalah peradangan apendiks yang mengenai semua
lapisan dinding organ tersebut (Price, 2005).

2. Klasifikasi
Berdasarkan Doctos (2010) apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut
fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
Apendisitis purulenta difusi yaitu sudah bertumpuk nanah (Docstoc, 2010).
Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah
sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu apendiks
miring, biasanya ditemukan pada usia tua (Docstoc, 2010).
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan
apendisitis kronik (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
2.1 Apendisitis akut
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak pada apendiks yang memberikan tanda setempat,
disertai maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gejala
apendisitis akut ialah nyeri samar dan tumpul yang merupakan nyeri
viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai
mual, muntah dan umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam
nyeri akan berpindah ke titik Mc.Burney. Nyeri dirasakan lebih tajam dan
lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Apendisitis akut dibagi menjadi :
2.1.1 Apendisitis Akut Sederhana
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa
disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen 9
appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang
mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks menebal, edema, dan
kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus,
mual, muntah, anoreksia, malaise dan demam ringan (Rukmono,
2011).
2.1.2 Apendisitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks
dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia
dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding apendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.
Apendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di
dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan
rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik
Mc. Burney, defans muskuler dan nyeri pada gerak aktif dan pasif.
Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai
dengan tanda-tanda peritonitis umum (Rukmono, 2011).
2.1.3 Apendisitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri
mulai terganggu sehingga terjadi infark dan gangren. Selain
didapatkan tanda-tanda supuratif, apendiks mengalami gangren
pada bagian tertentu. Dinding apendiks berwarna ungu, hijau 10
keabuan atau merah kehitaman. Pada apendisitis akut gangrenosa
terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang
purulen (Rukmono, 2011).
2.1.4 Apendisitis Infiltrat
Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang
penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum,
kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa
flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya (Rukmono,
2011).
2.1.5 Apendisitis Abses
Apendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi
nanah (pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum,
retrosekal, subsekal dan pelvikal (Rukmono, 2011).
2.1.6 Apendisitis Perforasi
Apendisitis perforasi adalah pecahnya apendiks yang sudah
gangren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut
sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding apendiks tampak
daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik (Rukmono, 2011).
2.2 Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan
adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang
kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik
apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding 11 apendiks,
sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan
ulkus lama di mukosa dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis
kronik antara 1-5%. Apendisitis kronik kadang-kadang dapat menjadi akut
lagi dan disebut apendisitis kronik dengan eksaserbasi akut yang tampak
jelas sudah adanya pembentukan jaringan ikat (Rukmono, 2011).

3. Epidemiologi
Kejadian apendisitis di indonesia menurut data yang dirilis oleh
Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2009 sebesar 596.132 orang dengan
persentase 3.36% dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 621.435 orang
dengan persentase 3.53%. Apendisitis merupakan penyakit tidak menular
tertinggi kedua di Indonesia pada rawat inap di rumah sakit pada tahun 2009
dan 2010 (Edhar dkk, 2017).
World Health Organization (WHO) menyatakan angka kematian akibat
apendisitis di dunia adalah 0,2-0,8%. Data dari WHO (World Health
Organization) menyebutkan bahwa insiden apendisitis di Asia dan Afrika pada
tahun 2004 adalah 4,8% dan 2,6% dari total populasi penduduk. Di Amerika
Serikat, sekitar 250.000 orang telah menjalani operasi apendektomi setiap
tahunnya.
Sumber lain juga menyebutkan bahwa apendisitis terjadi pada 7%
populasi di Amerika Serikat, dengan insidens 1,1 kasus per 1000 orang per
tahun. Penyakit ini juga menjadi penyebab paling umum dilakukannya bedah
abdomen darurat di Amerika Serikat. Di negara lain seperti negara Inggris,
juga memiliki angka kejadian apendisitis yang cukup tinggi. Sekitar 40.000
orang masuk rumah sakit di Inggris karena penyakit ini (WHO, 2004; Peter,
2010).
Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006 menyebutkan bahwa
apendisitis menempati urutan keempat penyakit terbanyak di Indonesia
setelah dispepsia, gastritis, duodenitis, dan penyakit sistem cerna lain dengan
jumlah pasien rawat inap sebanyak 28.040 orang. Kejadian appendisitis di
provinsi Sumatera Barat tergolong cukup tinggi. Angka kejadian apendisitis
secara umum lebih tinggi di negara-negara industri dibandingkan negara
berkembang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya asupan serat serta tingginya
asupan gula dan lemak yang dikonsumsi. Berbeda dengan negara
berkembang yang konsumsi seratnya masih cukup tinggi sehingga angka
kejadian apendisitis tidak setinggi di negara industri (Depkes RI, 2006; Longo
et al., 2012).

4. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks
oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin
lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen.
Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat
inilah terjadi apendistis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium (Price,
2005).
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri
akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah,
keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran
arteri terganggu akan terjadi infark dinding 12 apendiks yang diikuti dengan
gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding
yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi (Mansjoer,
2010).
Apendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang
disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekalit. Penjelasan ini sesuai dengan
pengamatan epidemiologi bahwa apendisitis berhubungan dengan asupan
serat dalam makanan yang rendah (Burkitt, Quick, Reed, 2007).
Pada stadium awal dari apendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi
mukosa. Inflamasi ini kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan
lapisan muskular dan serosa (peritoneal). Cairan eksudat fibrinopurulenta
terbentuk pada permukaan serosa dan berlanjut ke beberapa permukaan
peritoneal yang bersebelahan, seperti usus atau dinding abdomen,
menyebabkan peritonitis lokal (Burkitt, Quick, Reed, 2007).
Dalam stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke
dalam lumen, yang menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri yang
menyuplai apendiks menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai
darah menjadi nekrosis atau gangren. Perforasi akan segera terjadi dan
menyebar ke rongga peritoneal. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh
omentum, abses lokal akan terjadi (Burkitt, Quick, Reed, 2007).
5. Faktor resiko
Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya apendisitis akut ditinjau
dari teori Blum dibedakan menjadi empat faktor, yaitu faktor biologi, faktor
lingkungan, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku. Faktor biologi
antara lain usia, jenis kelamin, ras sedangkan untuk faktor lingkungan terjadi
akibat obstruksi lumen akibat infeksi bakteri, virus, parasit, cacing dan benda
asing dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Faktor pelayanan kesehatan
juga menjadi resiko apendisitis baik dilihat dari pelayan keshatan yang
diberikan oleh 13 layanan kesehatan baik dari fasilitas maupun non-fasilitas,
selain itu faktor resiko lain adalah faktor perilaku seperti asupan rendah serat
yang dapat mempengaruhi defekasi dan fekalit yang menyebabkan obstruksi
lumen sehingga memiliki risiko apendisitis yang lebih tinggi (Sjamsuhidajat,
De Jong, 2004).
Penelitian Indri U, dkk (2014), mengatakan risiko jenis kelamin pada
kejadian penyakit apendisitis terbanyak berjenis kelamin laki-laki dengan
presentase 72,2% sedangkan berjenis kelamin perempuan hanya 27,8% . Hal
ini dikarenakan laki-laki lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah untuk
bekerja dan lebih cenderung mengkonsumsi makanan cepat saji, sehingga
hal ini dapat menyebabkan beberapa komplikasi atau obstruksi pada usus
yang bisa menimbulkan masalah pada sistem pencernaan salah satunya
yaitu apendisitis.
Menurut Nurhayati (2011) mengatakan bahwa pola makan yang
kurang serat menyebabkan apendisitis, selain itu bahan makanan yang
dikonsumsi dan cara pengolahan serta waktu makan yang tidak teratur
sehingga hal ini dapat menyebabkan apendisitis. kebiasaan pola makan yang
kurang dalam mengkonsumsi serat yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional appendiks dan meninggkatkan pertumbuhan kuman, sehingga
terjadi peradangan pada appendiks.
Berdasarkan penelitian Adhar dkk (2017) bahwa faktor risiko terjadinya
apendisitis adalah berdasarkan usia dan pola makan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 responden yang berusia
15 sampai 25 tahun, terdapat 31 responden (57,4%) diantaranya mengalami
kejadian apendisitis, sedangkan dari 107 responden yang berusia 25 tahun,
terdapat 23 responden (42,6%) yang mengalami kejadian apendisitis.
Diperoleh odds ratio (OR) dengan Confidence interval (CI) 95% sebesar
2,331 - 9,545 , ini berarti bahwa pasien yang berusia 15 sampai 25 Tahun
4,717 kali lebih besar untuk menderita Apendisitis di bandingkan pasien yang
berusia 25 tahun.
Berdasarkan hasil di lapangan saat penelitian didapatkan bahwa
tingkat pekerjaan masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini
lebih banyak adalah pelajar dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa banyak
menghabiskan waktu di sekolah/di kampus sehingga untuk asupan tiap jam
istirahat hanya pada kantin di sekolah/di kampus. Kantin yang ada di
sekolah/di kampus lebih menjual makanan yang bersifat instan atau cepat
saji, Hal inilah yang menyebabkan kurangnya mengkonsumsi makanan
berserat yang berisiko terhadap apendisitis.
Usia 15 – 25 tahundalampenelitianini memiliki pola asupan serat yang
buruk. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya konsumsi sayur-sayuran dan buah-
buahan setiap hari. Sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber
serat yang paling mudah didapatkan. Berdasarkan hasil Penelitian ini
menunjukan bahwa dari 55 responden yang berusia 15-25 tahun. Terdapat 31
responden (57,4%) yang menderita apendisitis. Berdasarkan hasil di
lapangan saat penelitian didapatkan bahwa tingkat pekerjaan masyarakat
yang menjadi responden dalam penelitian ini lebih banyak adalah pelajar dan
mahasiswa.
Pelajar dan mahasiswa banyak menghabiskan waktu di sekolah/di
kampus sehingga untuk asupan tiap jam istirahat hanya pada kantin di
sekolah/di kampus. Kantin yang ada di sekolah/di kampus lebih menjual
makanan yang bersifat instan atau cepat saji, Hal inilah yang menyebabkan
kurangnya mengkonsumsi makanan berserat yang berisiko terhadap
apendisitis. Penelitian ini menunjukan bahwa dari 55 responden yang berusia
15-25 tahun. Terdapat 24 responden (22,2 %) yang tidak menderita
apendisitis. Berdasarkan fakta di lapangan hal ini disebabkan pengetahuan
responden yang baik sehingga dapat menjaga asupan serat dan konsumsi air
minum yang cukup tiap harinya sehingga mengurangi risiko apendisitis.
Penelitian ini menunjukan bahwa dari 107 responden yang berusia 25 tahun.
Terdapat 23 responden (42,6%) yang menderita apendisitis. Hal ini
dikarenakan apendisitis dapat terjadi pada semua umur. Pola asupan serat
yang buruk juga mempengaruhi terjadinya apendisitis pada usia 25 tahun.
Faktor Risiko Jenis Kelamin Terhadap Kejadian Apendisitis Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 71 responden yang berjenis kelamin laki-
laki, terdapat 20 responden (37,0%) diantaranya mengalami kejadian
apendisitis, sedangkan dari 91 responden yang berjenis kelamin perempuan,
terdapat 34 responden (63,0%) yang mengalami kejadian apendisitis.Hasil uji
statistik faktor risiko jenis kelamin terhadap penyakit apendisitis yang
dilakukan di RSU Anutapura Palu tahun 2015, diperoleh odds ratio (OR)
dengan Confidence interval (CI) 95% sebesar 0,337 – 1,284, ini berarti bahwa
pasien yang berjenis kelaminlaki-laki 0,657 kali lebih besar untuk menderita
Apendisitis dibandingkan pasien yang berjenis kelamin perempuan.
Karena nilai OR < 1, maka jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko
terhadap apendisitis. Hasil perhitungan nilai OR tersebut menunjukkan bahwa
jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko terhadap apendisitis.
Penelitian ini menunjukan bahwa dari 71 responden dengan jenis
kelamin laki-laki. Terdapat 20 responden (37,0%) yang menderita apendisitis.
Berdasarkan fakta di lapangan, Hal ini dikarenakan laki-laki lebih banyak
menghabiskan waktu diluar rumah untuk bekerja dan lebih cenderung
mengonsumsi makanan fast food dibandingkan dengan nasi dan sebagainya,
karena makanan fast food lebih gampang mereka dapatkan direstauran
ataupun di pedagang kaki lima.
Makanan fast food merupakan jenis makanan yang cara
pengolahannya tidak tepat, sehingga hal ini dapat menyebabkan beberapa
komplikasi atau obstruksi pada usus yang bisa menimbulkan masalah pada
sistem pencernaan salah satunya yaitu apendisitis. Pada jenis kelamin laki-
laki menurut data di lapangan mempunyai pola asupan serat yang buruk hal
ini dikarenakan kurangnya konsumsi sayursayuran dan buah-buahan setiap
hari. Penelitian ini menunjukan bahwa dari 71 responden dengan jenis
kelamin laki-laki. Terdapat 51 responden (47,2 %) yang tidak menderita
apendisitis. Hal ini disebabkan pengetahuan responden yang baik sehingga
dapat menjaga asupan serat dan konsumsi air minum yang cukup tiap
harinya sehingga mengurangi risiko apendisitis.
Penelitian ini menunjukan bahwa dari 91 responden dengan jenis
kelamin perempuan. Terdapat 34 responden (63,6%) yang menderita
apendisitis. Hal ini dikarenakan Pada era globalisasi sekarang ini dengan
adanya emansipasi atau kesetaraan gender. Laki-laki dan perempuan
memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan seluasluasnya dan
setinggi-tingginya.
Dalam penelitian ini tingkat pekerjaan masyarakat yang menjadi
responden lebih banyak adalah pelajar dan mahasiswa yang berjenis kelamin
lakilaki maupun perempuan. Pelajar dan mahasiswa banyak menghabiskan
waktu di sekolah/di kampus sehingga untuk asupan tiap jam istirahat hanya di
kantin. Kantin yang ada di sekolah/di kampus lebih menjual makanan yang
bersifat instan atau cepat saji, Hal inilah yang menyebabkan kurangnya
mengkonsumsi makanan berserat yang berisiko terhadap apendisitis. Dari hal
tersebut dapat disimpulakan bahwa jenis kelamin bukan risiko terhadap
kejadian apendisitis.
Faktor risiko pola makan terhadap kejadian apendisitis : Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 82 responden yang mempunyai pola
makan buruk, terdapat 38 responden (70,4%) diantaranya mengalami
kejadian apendisitis, sedangkan dari 80 responden yang mempunyai pola
makan baik, terdapat 16 responden (29,6%) yang mengalami kejadian
apendisitis. Hasil uji statistik faktor risiko pola makan terhadap penyakit
apendisitis di RSU Anutapura Palu tahun 2015, diperoleh odds ratio (OR)
dengan Confidence interval (CI) 95% sebesar 1,717 – 6,949, ini berarti bahwa
pasien yang pola makannya buruk3,455 kali lebih besar untuk menderita
Apendisitis di bandingkan pasien yang pola makannya baik. Hasil nilai OR >
1, maka pola makan merupakan faktor risiko terhadap apendisitis. Penelitian
ini menunjukan bahwa dari 82 responden dengan pola makan buruk.
Terdapat 38 responden (70,4 %) yang menderita apendisitis. Hal ini
disebabkan bahwa pola makan merupakan faktor risiko penyakit apendisitis.
Pola makan makanan berserat merupakan informasi mengenai jenis
dan jumlah pangan berserat yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok
orang pada waktu tertentu, sehingga penilaian konsumsi pangan berserat
dapat berdasarkan pada jumlah maupun jenis makanan berserat yang
dikonsumsi. Makanan berserat sangat dibutuhkan oleh tubuh dalam proses
pencernaan.
Kekurangan asupan serat dapat mengakibatkan konstipasi. Konstipasi
sangat tinggi berisiko menyebabkan penyumbatan pada saluran appendiks,
sehingga dapat menimbulkan penyakit apendisitis. Penelitian ini menunjukan
bahwa dari 82 responden dengan pola makan buruk.
Terdapat 44 responden (40,7%) yang tidak menderita apendisitis. Hal
ini disebabkan responden tersebut tidak menderita apendisitis dikarenakan
responden tersebut pernah apendiktomi pada masa lalu sehingga risiko
terjadinya apendisitis berkurang walaupun responden berisiko tinggi pada
pola makan dan juga karena konsumsi air minum yang tercukupi perharinya
Selain itu, dari 80 responden dengan pola makan baik. Terdapat 16
responden (47,2 %) yang menderita apendisitis. Hal ini disebabkan
kurangnya mengkonsumsi air minum untuk kebutuhan perhari. Sehingga
walaupun kebutuhan serat setiap hari sudah terpenuhi akan tetap mengalami
konstipasi hal ini dikarenakan air minum didalam kolon berfungsi menambah
masa feses dan juga mengubah bentuk feses menjadi lebih lunak sehingga
akan lebih mudah dalam proses metabolisme.

6. Manifestasi klinis
Diagnosis Pada anamnesis penderita akan mengeluhkan nyeri atau
sakit perut. Ini terjadi karena hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan
terjadi pada seluruh saluran cerna, sehingga nyeri viseral dirasakan pada
seluruh perut. Muntah atau rangsangan viseral akibat aktivasi nervus vagus.
Obstipasi karena penderita takut untuk mengejan. Panas akibat infeksi akut
jika timbul komplikasi. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi,
antara 37,5-38,5 C tetapi jika suhu lebih tinggi, diduga sudah terjadi perforasi
(Departemen Bedah UGM, 2010). Pada pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi
di dapat penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang
sakit, kembung bila terjadi perforasi, dan penonjolan perut bagian kanan
bawah terlihat pada apendikuler abses (Departemen Bedah UGM, 2010).
Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung.
Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan,
dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri.
Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah adalah :
 Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri
tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc. Burney dan ini
merupakan tanda kunci diagnosis.
 Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound
tenderness (nyeri lepas tekan) adalah nyeri yang hebat di
abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba
dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan
dan dalam di titik Mc. Burney.
 Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan
abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietal.
 Rovsing sign (+) adalah nyeri abdomen di kuadran kanan
bawah apabila dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri
bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang
dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.
 Psoas sign (+) terjadi karena adanya rangsangan muskulus
psoas oleh peradangan yang terjadi pada apendiks.
 Obturator sign (+) adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul
dan lutut difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan
luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan
apendiks terletak pada daerah hipogastrium (Departemen
Bedah UGM, 2010).
Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok pada auskultasi akan
terdapat peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik
karena peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. Auskultasi
tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis,
tetapi 15 kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi
peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok dubur (Rectal Toucher) akan
terdapat nyeri pada jam 9-12 (Departemen Bedah UGM, 2010).
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari
oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda
setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal.
Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang
merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.
Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya
nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke
kanan bawah ke titik Mc. Burney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan
lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi
sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu
dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi
(Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya
terlindung oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu
jelas dan tidak tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah
perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi
m.psoas mayor yang menegang dari dorsal (Sjamsuhidajat, De Jong,
2004).
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum
sehingga peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi
lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke
kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing karena
rangsangan dindingnya (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).

7. Pemeriksaan diagnostik
7.1 Pemeriksaan laboratorium
 Hitung jenis leukosit dengan hasil leukositosis.
 Pemeriksaan urin dengan hasil sedimen dapat normal atau terdapat
leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang
menempel pada ureter atau vesika. Pemeriksaan leukosit
meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh
terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut
dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi. Hb
(hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat
pada keadaan apendisitis infiltrat. Urin rutin penting untuk melihat
apakah terdapat infeksi pada ginjal.
7.2 Pemeriksaan Radiologi
 Apendikogram Apendikogram dilakukan dengan cara pemberian
kontras BaS04 serbuk halus yang diencerkan dengan
perbandingan 1:3 secara peroral dan diminum sebelum
pemeriksaan kurang lebih 8-10 jam untuk anak-anak atau 10-12
jam untuk dewasa, hasil apendikogram dibaca oleh dokter spesialis
radiologi.
 Ultrasonografi (USG) USG dapat membantu mendeteksi adanya
kantong nanah. Abses subdiafragma harus dibedakan dengan
abses hati, pneumonia basal, atau efusi pleura (Penfold, 2008)
7.3 Diagnosis Banding Banyak masalah yang dihadapi saat menegakkan
diagnosis apendisitis karena penyakit lain yang memberikan gambaran
klinis yang hampir sama dengan apendisitis, diantaranya gastroenteritis.

8. Penatalaksanaan secara medis


Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita apendisitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operatif. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik.
Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita
apendisitis perforasi, sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan
elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik (Oswari, 2000). Operatif Bila
diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan apendisitis maka tindakan yang
dilakukan adalah operasi membuang appendiks. Penundaan appendektomi
dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada
abses apendiks dilakukan drainase (Oswari, 2000).
Pengobatan tunggal yang terbaik untuk usus buntu yang sudah
meradang/apendisitis akut adalah dengan jalan membuang penyebabnya
(operasi appendektomi). Pasien biasanya telah dipersiapkan dengan puasa
antara 4 sampai 6 jam sebelum operasi dan dilakukan pemasangan cairan
infus agar tidak terjadi dehidrasi. Pembiusan akan dilakukan oleh dokter ahli
anastesi dengan pembiusan umum atau spinal/lumbal. Pada umumnya,
teknik konvensional operasi pengangkatan usus buntu dengan cara irisan
pada kulit perut kanan bawah di atas daerah apendiks. Perbaikan keadaan
umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan
positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa nasogastrik perlu
dilakukan sebelum pembedahan (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Alternatif lain operasi pengangkatan usus buntu yaitu dengan cara bedah
laparoskopi. Operasi ini dilakukan dengan bantuan video camera yang
dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas dapat melihat dan
melakukan appendektomi dan juga dapat memeriksa organ-organ di dalam
perut lebih lengkap selain apendiks. Keuntungan bedah laparoskopi ini selain
yang disebut diatas, yaitu luka operasi lebih kecil, biasanya antara satu dan
setengah sentimeter sehingga secara kosmetik lebih baik.

9. Etiologi
Appendicitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendix
sehingga terjadi kongseti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi
infeksi. Appendicitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Penyebab
obstruksi yang paling sering adalah fecolith. Fecolith ditemukan pada sekitar
20% anak dengan appendicitis. Penyebab lain dari obstruksi appendiks
meliputi: Hiperplasia folikel lymphoid Carcinoid atau tumor lainnya Benda
asing (pin, biji-bijian) Kadang parasit Penyebab lain yang diduga
menimbulkan Appendicitis adalah ulserasi mukosa appendix oleh parasit E.
histolytica. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien
appendicitis yaitu : Bakteri aerob fakultatif Bakteri anaerob Escherichia coli.
DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer (2010), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4, Jakarta : Media


Aesculapius

Burkitt, H.G., Quick, C.R.G., and Reed, J.B., 2007. Appendicitis. In: Essential
Surgery Problems, Diagnosis, & Management. Fourth Edition. London: Elsevier,
389-398.

Smeltzer, & Bare. 2005 Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddart.
Edisi 8, Vol 1, alih bahasa: Kuncara Monica Ester. Jakarta: EGC.

Smeltzer, & Bare. 2005 Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddart.
Edisi 8, Vol 1, alih bahasa: Kuncara Monica Ester. Jakarta: EGC.

Sjamsuhidajat, R & Wim, de Jong (ed). 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

Rukmono. 2011. Patologi. Jakarta : Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia.

Oswari, E. 2000. Bedah Dan Perawatannya. Edisi 3. Jakarta : balai penerbit FKUI.

Docstoc. 2010. Askep Apendisitis. Available from:


http://www.docstoc.com/docs/22262076/askep-apendisitis. Di akses 22 januari 2019

Grace, Pierce A. dan Neil R. Borley.2006. At a Glance Ilmu Bedah . Alih Bahasa dr.
Vidia. Umami. Editor Amalia S. Edisi 3. Jakarta: Erlangga.

Angka kejadian apendisitis akut. Ditjen Bina Yan Medik DepKes RI. 2008.
www.depkes.go.id.ditjen-bina-yan-medik. Di akses 22 januari 2019

Departemen Bedah UGM. 2010. Apendik. Available from:


http://www.bedahugm.net/tag/appendix. Di akses 22 januari 2019

Penfold, et al, 2008. Geographic disparities in the risk of perforated appendicitis


among children in Ohio. International Journal of Health Geographics, Vol 56 No 7,
2008.
Adhar Arifuddin, dkk. 2017. Faktor risiko kejadian apendisitis di bagian rawat inap
rumah sakit umum anutapura palu. Jurnal Preventif, Volume 8 Nomor 1, April 2017 :
1- 58