Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga telah lama dipandang sebagai suatu lingkup yang paling vital bagi tumbuh-
kembang yang sehat. Keluarga memiliki pengaruh penting pada pembentukan identitas dan
rasa percaya diri seseorang. Terdapat suatu keterkaitan yang kuat antara keluarga dan status
kesehatan anggotanya, sehingga peran keluarga amat penting dalam setiap aspek pelayanan
kesehatan individu anggota keluarganya, mulai dari tahap promosi kesehatan hingga dalam
tahap rehabilitasi. Pengkajian dari pemberi layanan kesehatan keluarga adalah hal penting
dalam membantu tiap anggota keluarga mencapai tingkat kesejahteraan yang optimum
(Gillis & Davis, 1993) dikutip dalam (Friedman, 2010).
Status sehat/sakit para anggota keluarga dan keluarga saling mempengaruhi satu sama
lain. Suatu penyakit dalam keluarga mempengaruhi seluruh keluarga dan sebaliknya
mempengaruhi jalannya suatu penyakit dan status kesehatan anggota. Karena itu, pengaruh
dari status sehat/sakit keluarga saling mempengaruhi atau sangat bergantung satu sama lain.
Keluarga cenderung menjadi seorang reactor terhadap masalah-masalah kesehatan dan
menjadi aktor dalam menentukan masalah-masalah kesehatan anggota keluarga (Gillis et al.,
1989; Wright dan Leahey, 1984) dikutip dalam (Friedman, 2010)
Pada tahun 2009 presentase pernikahan usia muda mencapai 41,33 % dan mengalami
kenaikan sebesar 50% pada tahun 2010 (Riskesdas 2010). Secara nasional, persentase
penduduk yang bekerja lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan
2 : 1 . Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Survei Angkatan Kerja Nasional
(sakernas) tahun 2007, dari seluruh penduduk yang bekerja sebanyak 7,6 juta jiwa, 63,7
persennya adalah laki-laki dan perempuan hanya 36,3 persen (Hnur, 2009).

Peran dan tanggung jawab ibu dalam membentuk keluarga sejahtera, sesungguhnya
tidak dapat dipisahkan dari peran dan tanggung jawab kaum bapak. Keduanya saling
melengkapi dan saling mendukung. Membentuk keluarga sejahtera pada dasarnya adalah
menggerakkan proses dan fungsi manajemen dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu
selain tugas-tugas kondrati (mengandung dan menyusui) segala sesuatu yang berhubungan
dengan membentuk keluarga sejahtera haruslah elastis, terbuka dan demokratis. Tugas pokok
bisa, berbeda tetapi tujuan dan acuan nilainya sama (Hnur, 2009).

1
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui keperawatan keluarga
2. Untuk mengetahui tujuan keperawatan keluarga
3. Untuk mengetahui pelayanan keperawatan di rumah/ home care
4. Untuk mengetahui sejarah keperawatan keluarga
5. Untuk mengetahui trend dan isu keperawatan keluarga

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Keperawatan keluarga merupakan pelayanan holistik yang menempatkan keluarga dan
komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam tahap
pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Depkes, 2010).
Pengertian lain dari keperawatan keluarga adalah proses pemberian pelayanan kesehatan
sesuai kebutuhan keluarga dalam lingkup praktik keperawatan (Depkes RI, 2010).
Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah satu area pelayanan keperawatan di
masyarakat yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan
melibatkan anggota keluarga dalam pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi,
dengan memobilisasi sumber pelayanan kesehatan yang tersedia di keluarga dan
sumbersumber dari profesi lain, termasuk pemberi pelayanan kesehatan dan sektor lain di
komunitas (Depkes RI, 2010).

B. Tujuan
Tujuan keperawatan keluarga ada dua macam, yaitu tujuan umum dan khusus.
1. Tujuan umum dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
2. Tujuan khusus dari keperawatan keluarga adalah keluarga mampu
melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan keluarga dan mampu menangani
masalah kesehatannya berikut ini.
a) Mengenal masalah kesehatan yang dihadapi anggota keluarga. Kemampuan
keluarga dalam mengenal masalah kesehatan seluruh anggota keluarga.
Contohnya, apakah keluarga mengerti tentang pengertian dan gejala kencing
manis yang diderita oleh anggota keluarganya?
b) Membuat keputusan secara tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota
keluarga. Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan untuk membawa
anggota keluarga ke pelayanan kesehatan. Contoh, segera memutuskan untuk
memeriksakan anggota keluarga yang sakit kencing manis ke pelayanan
kesehatan.

3
c) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan Kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit.
Contoh, keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit kencing manis,
yaitu memberikan diet DM, memantau minum obat antidiabetik, mengingatkan
untuk senam, dan kontrol ke pelayanan kesehatan.
d) Memodifikasi lingkungan yang kondusif. Kemampuan keluarga dalam
mengatur lingkungan, sehingga mampu mempertahankan kesehatan dan
memelihara pertumbuhan serta perkembangan setiap anggota keluarga. Contoh,
keluarga menjaga kenyamanan lingkungan fisik dan psikologis untuk seluruh
anggota keluarga termasuk anggota keluarga yang sakit.
e) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan dan
perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan. Contoh,
keluarga memanfaatkan Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan
kesehatan lain untuk anggota keluarganya yang sakit.

C. Pelayanan Keperawatan Keluarga di Rumah/Home Care

Masalah kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada transisi epidemiologi dari
penyakit menular ke penyakit kronis serta degenerative. Kondisi tersebut disebabkan oleh
perubahan struktur pendidikan dan gaya hidup masyarakat. Perubahan tersebut
menyebabkan pola perawatan jangka panjang sangat dibutuhkan. Seiring dengan itu,
konsep pelayan kesehatan pun berubah. Konsep yang tadinya masyarakat mendatangi
institusi pelayanan kesehatan seperti rumah sakitdan Puskesmas menjadi pelayanan
kesehatan yang mendatangi masyarakat. (Widyanto, 2014:10).

Oleh karena itu, paradigma bahwa rumah sakit adalah tempat yang penting dalam
penyembuhan dan perawatan klien sudah mulai berubah menjadi perawatan di rumah
(home care), (Widyanto, 2014:10).

Hampir semua orang setuju bahwa rumah merupakan tempat paling baik untuk
melakukan perawatan kesehatan, terutama untuk menigkatkan tingkat kemandirian klien.
Tidak hanya memberikan perawatan yang lebih murah, home care juga merupakan
langkah kunci untuk untuk mencapaiderajat kesehatan yang optimal untuk banyak klien.
Konsep home care dapat menigkatkan kualitas pelayanan dan menghindari rawat inap di
pelayan kesehatan karena kondisi kronis atau efek samping. Konsep home care juga dapat
4
mengindari kesalahan yang sering dilakukan di rumah jika tidak ada perawat seperti
kesalahan pengobatan atau terjatuh. (Widyanto, 2014:11).

1. Defenisi Home care

Menurut Depkes tahun 2002, Home care merupakan pelayanan kesehatan yang
berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di
tempat tinggal mereka untuk meningkatkan, mempertahankan atau memakimalkan
tingkat kemandirian atau meminimalkan akibat penyakit. (Ali, 2009:11).

Menurut Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Departemen Kesehatan RI


dalam makalahnya pada seminar nasional tahun 2007 tentang “Home care : Bukti
Kemandirian Perawat” menyebutkan bahwa home care sebagai salah satu bentuk
praktik mandiri perawat. Home care merupakan sintesis dari pelayanan keperawatan
kesehatan komunitas dan keterampilan teknis keperawatan klinik yang berasal dari
spesialisai keperawatan tertentu. (Widyanto, 2014:11).

2. Tujuan Home care

1. Terpenuhi kebutuhan dasar klien secara bio, psiko, dan spiritual.

2. Meningkatnya kemandirisn klien

3. Terpenuhi pelayana kesehatan di rumah sesuai dengan kebutuhan klien

(Widyanto, 2014:12).

4. Manfaat Home care

Menurut Tribowo (2002) dalam Widyanto (2014), manfaat home care :

1. Pelayanan akan lebih sempurna, holistic, dan komprehensif

2. Pelayanan lebih professional

3. Pelayanan keperawatan mandiri bias diaplikasikan dengan di bawah naungan


legal dan etik keperawatan.

4. Kebutuhan klien akan dapat terpenuhi sehingga klien akan lebih nyaman dan
puas dengan asuhan keperawatan yang professional.

5
D. Sejarah Keperawatan Keluarga

Keperawatan keluarga selalu ada dalam keperawatan namun mengalami pasang surut.
1. Pada era sebelum masa industri dan kolonial saat anggota keluarga bekerja di
rumah dalam industri rakyat atau perkebunan, keperawatan keluarga tampak
menonjol.
2. Namun data era industrialisasi, saat anggota keluarga berpindah kerja ke
pabrik. Pelayanan kesehatan secara bertahap berpindah dari rumah ke rumah sakit.
3. Selama tahun 1800-an dan awal 1900-an di Amerika Serikat, perawat
kesehatan masyarakat dan petugas kesehatan lain di Inggris melayani keluarga di
rumah.
4. Pada tahun 1970-an kita dapat menemukan banyak buku yang berfokus pada
teori keluarga dan penerapan nya pada pelayanan kesehatan komunitas yang berpusat
pada keluarga. Kebanyakan buku memandang keluarga sebagai konteks. (Friedman ,
2010)

Keperawatan orang tua anak yang berfokus pada keluarga secara khusus dipengaruhi oleh
teori tumbuh kembang, ikatan antara ibu dan anak, peran, serta sosialisasi. Sebaliknya
pelayanan kesehatan jiwa psikiater lebih banyak dipengaruhi oleh teori dan tulisan klinis
dalam gerakan terapi keluarga. Karna perawat terapi keluarga bekerja sama dengan keluarga
yang bermasalah, pengetahuan dasar ini menjadi lebih penting guna membantu mereka
mengkaji dan memberikan intervensi kepada keluarga yang disfungsional. Akan tetapi
beberapa teori terapi dan model praktek keluarga adalah satu-satunya modalitas psikoterapi
dalam kesehatan jiwa. Oleh karena itu pengkajian dan intervensi keperawatan keluarga tidak
tersebar luas keseluruh area spesialisasi.
Perawat praktisi keluarga dan anak merupakan karya spesialisasi ke empat yang di
identifikasi dan berfokus pada keluarga.pada tahun 1960,diakui diantara para perenacana
pelayanan kesehatan dan pembuat undang-undang bahwa spesialisasi di bidang kedokteran
tidak memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan primer seluruh penduduk amaerika serikat.
Dana federal diberikan pada lembaga pendidikan kedokteran untuk membuka program
praktik keluarga .
Asuhan perawat praktisi keluarga diberikan untuk seluruh keluarga,tetapi fokus utama
para perawat perawat praktisi ini adalah memandang keluarga sebagai suatu kumpulan dari
anggotanya. Baik perawat praktisi keluarga maupun anak memandang keluarga sebagai
6
konteks bagi klien individu.Akan tetapi,hal ini tengah mengalami perubahan,karena beberapa
program perawat praktisi memasukkkan materi keperawatan keluarga lamjut dalam
kurikulumnya guna mengupayakan layanan yang lebih luas dan untuk membantu mahasiswa
berfikir tentang keluarga.

E. Trend dan Isu Keperawatan Keluarga

1. Isu praktik : kesenjangan bermakna antara teori dan penelitian serta praktik
klinis Kesenjangan antara pengetahuan yang ada dan penerapan pengetahuan ini jelas
merupakan masalah disemua bidang dan spesialisasi di keperawatan
keluarga,meskipun kesenjangan ini lebih tinggi di nkeperawatan keluarga.
Keperawatan yang berpusat pada keluarga yang juga masih dinyatakan ideal
dibanding praktik yang umum dilakukan.

2. Isu praktik : kebutuhan untuk membuat perawatan keluarga lebih mudah untuk
di intergrasikan kedalam praktik. Dalam beberapa tahun belakangan ini,terjadi
restrukturisasi pelayanan kesehatan besar besaran, yang mencakup pengembangan
pesat sistim pengelolaan perawatan berupa sistim pemberiaan pelayanan kesehatan
yang kompleks,multi unit,dan multi level sedang dibentuk.

3. Isu praktik : Peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan


kesehatan pada keluarga. Berdasarkan perbincangan dengan perawat dan tulisan yang
disusun oleh perawat keluarga,terdapat kesepakatan umum bahwa peralihan
kekuasaan dan kendali dari penyedia Pelayanan kesehatan ke pasien atau keluarga
perlu dilakukan.kami percaya hal ini masih menjadi sebuah isu penting pada
pelayanan kesehatan saat ini.

4. Isu Prkatik : Bagaimana bekerja lebih efektif dengan keluarga yang


kebudayaan nya beragam. Kemungkinan, isu ini lebih banyak mendapat perhatian
dikalangan penyedia pelayanan kesehatan termasuk perawat dibandingkan isu lainnya
pada saaat ini.

5. Isu Praktik : Globalisasi keperawatan keluarga menyuguhkan kesempatan


baru yang menarik bagi perawat keluarga. Dengan makin kecilnya dunia akibat proses
yang dikenal sebagai globalisasi, perawat keluarga disuguhkan dengan kesempatan
7
baru dan menarik untuk belajar mengenai intervensi serta program yang duterapkan
oleh negara.
6. Isu pendidikan : muatan apa yang harus diajarkan dalam kurikulum
keperawatan keluarga dan bagaimana cara menyajikannya

Perawat keluarga dengan praktik tingkat lanjut dapat bekerja sebagai terapis keluarga
pada keluarga yang bermasalah. Akan tetapi, masih belum jelas muatan dan
keterampilan apa yang dibutuhkan dalam keperawatan keluarga untuk para perawat
yang dipersiapkan di program praktik tingkat lanjut lainnya (program perawat spesialis
klinis dan praktisi).

7. Isu penelitian : kebutuhan untuk meningkatkan penelitin terkait intervensi


keperawatan keluarga

Di bidang keperawatan keluarga, perawat peneliti telah membahas hasil kesehatan dan
peralihan keluarga yang terkait dengan kesehatan. Teori perkembangan, teori stress,
koping, dan adaptasi. Teori terapi keluarga dan teori system telah banyak memandu
penelitian para perawat peneliti keluarga.

8. Isu kebijakan : kebutuhan akan lebih terlibatnya perawat keluarga dalam


membentuk kebijakan yang memengaruhi keluarga

Sebagai advokat keluarga, kita perlu baik secara sendiri-sendiri maupun bersama
menganalisis isu dan kebijakan yang tengah diusulkan dan membantu merumuskan dan
mengimplementasikan kebijakan dan regulasi yang positif. Kita perlu mendukung
keluarga agar mempunyai hak mendapatkan informasi, memahami hak dan pilihan
mereka, serta lebih cakap dalam membela kepentingan mereka sendiri.

8
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Keperawatan keluarga sebagai tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang


dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai
tujuannya dan perawatan sebagai sasarannya. Oleh karena itu, perawat harus memahami
konsep keperawatan dalam keluarga dan mampu melakukan tindakan keperawatan sesuai
dengan sasaran keperawatan keluarga.

2. Saran

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber
yang lebih banyak yang tentuang dapat di pertanggung jawabkan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2009. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC

Friedman, Marilyn M. 2010. Buku Ajar Keperawatan Keluarga : riset, teori dna praktik. Alih
bahasa : Achir Yani S. Hamid. Edisi 5. Jakarta : EGC

Widyanto, Falsalado Candra. 2014. Keperawatan Komunitas dengan Pendekatan Praktis.


Yogyakarta : Nuha Medica

Hnuur.2009.http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/17113/Chapter%20I.pdf?
sequence=5 (diakses pada tanggal 10 juli 2018)

Riskesdas.2010.http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-muazizahni-6734-
1-bab1.pdf (diakses pada tanggal 10 juli 2018)

10