Anda di halaman 1dari 10

ESSAY

CARA MENINGKATKAN PELUANG HIDUP PASIEN CARDIAIC ARREST


MELALUI BYSTANDER DAN PUBLIC ACCESS DEFIBRILLATION

Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester (UTS)


Keperawatan Gawat Darurat
Dosen : Ns. Tony Suharsono, S. Kep., M. Kep.

Oleh :
Ekwantoro
186070300111013

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


PEMINATAN GAWAT DARURAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
LEMBAR PERNYATAAN ORIGINALITAS

JUDUL
CARA MENINGKATKAN PELUANG HIDUP PASIEN CARDIAIC ARREST
MELALUI BYSTANDER DAN PUBLIC ACCESS DEFIBRILLATION

IDENTITAS PENULIS
Nama : Ekwantoro
Email : exwanagata35@gmail.com
NIM : 186070300111022
No. HP : 085233592969

Dengan ini saya menyatakan bahwa essay dengan judul tersebut di atas
merupakan karya original, dan tidak mengandung unsur plagiarisme di
dalamnya. Jika terbukti terdapat pelanggaran di dalam tulisan tersebut, maka
saya siap bertanggung jawab.

Malang, 23 Oktober 2018


Penulis

Ekwantoro
CARA MENINGKATKAN PELUANG HIDUP PASIEN CARDIAIC ARREST
MELALUI BYSTANDER DAN PUBLIC ACCESS DEFIBRILLATION

1. Latar belakang
Suatu serangan akut akan menimpa sesorang tanpa ada peringatan
sebelumnya, seperti halnya cardiac arrest yang menyerang individu yang
sebelumnya kelihatan sehat, tidak memandang etnis, jenis kelamin, lokasi bahkan
saat ini usia muda pun dapat terkana serangan cardiac arrest. Jika penanganan dan
perawatan yang tidak tepat individu dengan cardiac arrest akan membuat detak
jantung berhenti, nadi tidak teraba dan tekanan darah menghilang serta kematian .
Namun, jika kondisi jantung tersebut segera di lakukan panangan yang secara
cepat dan tepat akan membuat individu pulih jangka panjang. Dalam kaitanya
dengan lokasi terjadinya cardiac arrest meliputi di luar rumah sakir (Out Hospital
Cardiac Arrest/OCHA) dan di dalam rumah sakit (In Hospital Cardiac
Arrest/ICHA).Terdapat banyak faktor penyebab dan keberhasilan dalam penangan
serangan jantung baik di dalam rumah sakit maupun di luar rumah sakit, namun
keberhasilan tesebut tidaklah banyak. Tahun 2013 di Amerika serikat terdapat
395.000 insiden cardiac arrest dengan lokasi di luar rumah sakit OHCA . Sedangkan
kasus di dalam rumah sakit diperkirakan 200.000 dengan tingkat prevelensi untuk
kelangsungan hidup sekitar 24% . Walaupun sudah dilakukan upaya pengobatan
dan perawatan yang maksimal.
Hal yang pertama atau tindakan yang pertama pada individu dengan cardiac
arrest tuntunya dangan melakukan chain of survival. Serangkaian kegiatan ini di
butuhkan waktu yang segera atau cepat sehingga mampu menolong korban .
Namun rangkaian ini sangat tidak mudah untuk menjalakannya, karena rangkaian
ini tidak berjalan sendiri, tapi harus bersama dan berkesinambungan. Di saat
individu dapat di lakukan bantuan hidup dasar dan berhasil membuat jantung
berdenyut, maka hal yang paling utama adalah mempertahankan kelangsungan
hidup korban pasca serangan jantung. Bystander CPR yang mempunyai kualitas
dalam CPR mampu mengalami perbaikan dalam kelangsungan hidup OHCA.
Namun, sebagian besar pasien yang mengalami OCHA tidak mendapatkan
pertolongan CPR atau intervensi lain yang tepat (misalnya AED) untuk
meningkatkan kelangsungan hidupnya. Kasus henti jantung sebagian besar terjadi
di luar rumah sakit sehingga membutuhkan bantuan yang cepat dan tepat dalam
menanganinya agar tidak terjadi kematian. Berdasarkan laporan dari Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) melakukan survey terhadap kejadian
cardiac arrest di United States selama periode 1 Oktober 2005–31 December 2010
didapatkan sekitar 31,689 kasus cardiac arrest yang terjadi di luar rumah sakit. Dari
kejadian tersebut, sejumlah 33, 3% dari kasus cardiac arrest yang memperoleh
bantuan CPR dari bystander dan hanya 3,7% yang mendapatkan bantuan
automated external defibrillator (AED) sebelum personel EMS datang . Disampiang
itu rumah sakit mempunyai peran penting dalam memberikan perawatan optimal
untuk semua jantung. Sangatlah tidak mudah dalam perawatan pasca henti jantung,
di butuhkan penekanan pada multidisplin serta berfokus pada pemulihan dan
pengoptimalan fungsi dinamis, neurologis serta metabolik sehingga di harapkan
mampu meningkatkan kelangsungan hidup individu pasca cardiac arrest .
Dari penjelasan diatas sangat penting sekali bagaimana peran bystander dan
Public Access Defibrillation dalam mempertahankan kelangsungan hidup pada
korban dengan cardiac arrest
2. Manfaat
a. Salah satu rangkaian dalam chain of survival adalah CPR, dimana kuliatas
Bystander CPR di harapkan mampu mempertahan korban cardiac arrest,
sebelum AED datang. Di samping itu melalui pemberian informasi terkait CPR
ini masyarakat atau orang awam mampu melakukan CPR pada korban cardiac
arrest tanpa ada keraguan
b. Pemberian akses kepada orang awam terhadap Public Access Defibrillation
akan mempermudah akses dan mempertahankan kelangsungan hidup pada
korban cardiac arrest.

3. Tinjauan literatur
a. Bysender CPR
Penelitian yang dilakukan oleh , dengan judul Epidemiology and outcomes
from out-of-hospital cardiac arrests in England. Dimana jenis penelitian adalah
studi observasional prospektif dari individu OHCA dengan waktu antara 1 Januari
dan 31 Desember 2014 di 10 layanan ambulans Inggris (EMS), melayani
populasi hampir 54 juta. Hasil penelitian menunjukan terdapat 28.729 kasus
OHCA dari serangan jantung yang ditangani EMS (53 per 100.000 penduduk
populasi). Usia rata-rata adalah 68,6 (SD = 19,6) tahun dan 41,3% adalah
perempuan. Sebagian besar (83%) terjadi di tempat tinggal, 52,7% disaksikan
oleh EMS atau pengamat. Dalam kasus-kasus non-EMS yang disaksikan, 55,2%
menerima bystander CPR sementara akses publik defibrilasi jarang digunakan
(2,3%). Hasil kesimpulan pada penelitian Hawkes, dkk adalah Penangkapan
jantung adalah penyebab kematian yang penting di Inggris. Dengan kurang dari
satu dari sepuluh pasien bertahan hidup, ada ruang lingkup untuk meningkatkan
hasil. Tingkat ketahanan hidup tertinggi di antara mereka yang menerimanya
bystander CPR dan defibrilasi akses publik.
Penelitian yang di lakukan oleh dengan judul Evaluating The Effectiveness
Of Community Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) In Improving Out-
Ofhospital Cardiac Arrest Survival: Is There Aneed For A Complementary
Community-Based Intervention. Metode penelitian yang di lakukan dengan
metode desain komparatif paralel retrospektif di mana pasien menerima
bystander CPR dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya. Efeknya
modifikasi dari tingkat baseline dan waktu respon dinilai menggunakan regresi
logistik bertingkat dan desain regresi kuadrat terkecil biasa. Tingkat
kelangsungan hidup secara keseluruhan adalah 10,3%. Kelangsungan hidup
dalam kelompok intervensi adalah 15% dibandingkan dengan 8% untuk kontrol
(2,35 p < 0,001). Dimana pada kesimpulan penelitiannya adalah adanya
perbedaan yang signifikan antara yang dilakukan pelatihan CPR dengan yang
tidak dilakukan pelatihan CPR terhadap kelangsungan hidup pada pasien
cardiac arrest.
Seseorang yang berada di dekat korban cardiac arrest yang dapat
membatu dalam melakukan CPR (Bystander CPR), yang artinya seorang
bystander CPR dapat secara lansung melakukan resusitasi jika korban dalam
kondisi tidak ada respon/kollaps (American Heart Association, 2015). Peran
bystander CPR ini sangat penting, karena mereka adalah orang yang petama kali
menemukan atau menjumpai korban. Menurut terdapat 4 hal yang bisa di
lalukan oleh bystander disaat menjumpai korban dalam kondisi kolaps atau tidak
reponsibel, hal ini sebagai bagian dari tanggap darurat masyarakat. Pertama
pastikan korban benar-benar membutuhkan bantuan. Bystander memastikan
bahwa korban mengalami cardiac arrest atau serangan jantung serta
membutuhkan bantuan EMS atau Emergency Medical Services (Early
recognition). Kedua meraka yang pertama kali menemukan korban (penolong)
harus segera mengubungi nomer telepon Emergency Medical Services (EMS)
wilayah setempat. Ketiga panggilan yyang berasal dari penolong tadi akan di
alihkan ke petugas EMS yang di beri nama dispatcher. Melalui dispatcher akan di
identifikasi terkait cardaic arrest atau bukan serta akan merespon, jika itu
merupakan kejadian cardiac arrest atau serangan jantung maka langkah
selanjutnya (keempat) yaitu operator atau dispatcher akan melakukan instruksi
(memerintahkan) serta memandu penolong untuk melakukan CPR. Sehingga
penolong melakukan apa yang di instrusikan yaitu CPR pada korban sampai
bantuan CPR datang.

Gambar 1. Langkah Bystander saat menjumpai cardiac arrest

b. Public Access Defibrillation


Suatu yang di lakukan oleh The Public Access Defibrillation (PAD) tahun
2004 Pada penelitian ini, dimana terdapat 2 kelompok, dimana kelompok
tersebut di latih dan CPR dan penggunakan AED, sedangan kelompok satunya
hanya dilakukan CPR saja. Hasil menunjukan bahwa kelompok yang telah
dilakukan pelatihan CPR dan AED mempunyai peluang untuk kelangsungan
hidup dari pada yang dilakukan CPR saja pada individu cardiac arrest. Dengan
nilai RR 2,0 95% CI 1.07-3.77. dengan hasil ini data ini tidak hanya menunjukkan
manfaat atau pemberian defibrilasi sejak awal pada individu dengan henti
jantung. Hal tersebut di dukung dengan penelitian Kitamura, dkk kpada tahun
2016 bahwa dari 43.762 pasien dengan ventricular-fibrillation cardiac arrested,
4499 (10,3%) menerima defibrilasi akses publik. Persentase dari pasien yang
menerima fasilitas publik defibrilasi meningkat dari 1,1% pada tahun 2005
menjadi 16,5% pada 2013 (P <0,001). Persentase pasien yang hidup pada 1
bulan dengan hasil neurologis yang menguntungkan secara signifikan lebih tinggi
dengan akses publik defibrilasi daripada tanpa fasilitas akses defibrilasi (38,5%
vs 18,2%; disesuaikan rasio odds setelah kecocokan skor kecenderungan, 1,99;
95% interval kepercayaan, 1,80 hingga 2.19). Perkiraan jumlah survivor yang
bertahan hidup dengan hasil neurologis yang menguntungkan dikaitkan dengan
defibrilasi akses publik meningkat dari 6 di 2005 hingga 201 pada 2013 (P
<0,001). Peneliti menjelaskan bawah pemakaian AED di layanan publik
berdampak pada peningkatan kelangsungan hidup pada korban cardiac arrest.
Pemakain Defibrilasi sejak dini merupakan peran kunci dalam memulihkan
bahkan mempertahankan denyut jantung pada pasien cardiac arrest. Seperti
penelitian yang sebelumnya bahwa defiblilasi akses publik yang di lakukan oleh
oleh orang awam memberikan kontribusi pada korban cardiac arrest. Sejumlah
penelitian ilmiah yang dilakukan selama dua dekade terakhir yang dilakukan
Sudden Cardiac Arrest Association telah membuktikan bahwa defibrilasi cepat
adalah faktor paling penting yang mempengaruhi kelangsungan hidup dari
Penelitian ini, ditambah dengan kemajuan teknologi yang penting, telah
mendorong gerakan internasional untuk meningkatkan akses ke defibrilasi dini.

4. Pembahasan
Kematian otak dan kematian permanen dapat terjadi hanya dalam jangka
waktu 8 sampai 10 menit dari seseorang tersebut mengalami henti jantung. Kondisi
tersebut dapat dicegah dengan pemberian resusitasi jantung paru (CPR). Intervensi
CPR ini berpontensi menyelamatakan nyawa tanpa memerlukan peralatan yang
mahal. Jika CPR ini berkualitas, akan berdampak pada peningkatan kelangsungan
hidup korban cardiac arrest . Pada tahun 1991 Cummins, dkk telah
memperkanalkan “links in the Chain of Survival”, dimana links ini berperan dalam
penataksanaan korban cardiac arrest. Adapun chain of survival terdiri dari dari 4
rangkaian : early acces, early CPR, early defibrillator, dan early advance care.
Sesuai dengan penelitian bahwa langkah awal yang dilakukan bystander adalah
menghubungi. Operator telekomunikasi dapat memberikan panduan untuk
melakukan CPR melalui telepon. Studi telah menunjukkan keampuhan instruksi
CPR dalam meningkatkan tingkat kelangsungan hidup serangan jantung tiba-tiba
Disisi lain menurut adanya ketakutan bysender saat malakukan CPR, seperti
takut akan infeksi silang sehingga meraka kurang percaya diri. Namun ketakutan
akan infeksi silang ini telah di respon dengan cepat oleh AHA. American Heart
Association (AHA) telah merekomendasikan para pengamat/pendidik untuk tidak
ada penularan penyakit selama CPR serta merokomendasikan tempat dan ruang
publik memeliki perlengkapan yang relevan terkait perlindungan saat CPR seperti
sarung tangan dan masker yang menjadi satu kesatuan dengan PAD .
Peningkatan kualitas dari CPR harus benar-benar di lakukan pada korban
cardiac arrest, untuk mereka yang belum pamah maka dari itu komunitas atau
masyarakat harus mulai di lakukan pemberian pendidikan serta pelatihan CPR
hingga mereka mampu dan mahir dalam melakukan penyelamatan pada kasus
kegawatdaruratan khususnya pada korban cardiac arrest. Hal tersebut sesuai
dengan rekomendasi dari American Heart Association (AHA) bahwa diperlukan
suatu perubahan paradigma guna meningkatkan kemapuan bystender CPR dalam
penggunaan hands-only CPR. Selain itu cara peningkatan ini melalui kampaye
pendidikan seperti, pemutaran video cara CPR dan pelatihan-pelatihan secara
kontinue bahkan saat ini telah berkembang dengan adanya Computer Based CPR.
Selain computer based CPR adanya publik akses defibililator memberikan
kontribusi dalam penyelamatan korban cardic arrest. Peralatan elektronik yang
disebut alat kejut jantung otomatis atau Automated External Defibrillators (AED).
Secara klinis AED terbukti efektif dalam penyelamatan korban cardiac arrest.
menurut jumlah pasien serangan jantung yang selamat per tahun naik lebih dari
tiga kali lipat ketika akses publik terhadap AED ditingkatkan. Akses publik mengacu
pada aksesibilitas bagi pengguna yang terlatih untuk menggunakan AED di tempat
umum. Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari American Heart Association
pemberian atau penempatan AED di lokasi umum yang di kemungkinan mempunyai
prevelensi dan resiko terjadinya cardiac arrest yang tinggi misalnya fasilitas
olahraga, stasiun atau bandara. Diharapkan dengan akses yang cepat unuk
pemakaian AED dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada korban cardiac
arrest .
Sementara AED sekarang sangat mudah digunakan dan banyak awam yang
tidak terlatih telah menggunakannya dengan sukses, yang terbaik adalah
memastikan bahwa personel yang terlatih selalu ada di lokasi (di lokasi di mana hal
ini dapat dilakukan). Seorang pengguna yang terlatih tidak harus berarti orang yang
terlatih secara medis tetapi juga merujuk kepada orang awam dengan pelatihan
AED. Menurut American Heart Association (2015) memberikan rekomendasi terkait
penerapan proram Publik Access Defiblillator (PAD), dalam program PAD ini
meliputi 4 komponen yang mempunyai terkaitan satu dengan yang lain. Adapun 4
komponen tersebut adalah
a. Melakukan telaah atau identifiksi terkait lokasi dan lingkungan yang sering
muncul kondisi cardiac arrest. Dimana penempatan ini harus di ketahui oleh
meraka serta adanya pengawasan terkait penempatan AED
b. Pemberian edukasi, pelatihan atau trainnig terhadap penolong dalam CPR dan
penggunaan AED
c. Adanya link atau hubungan dengan sistem EMS sekitarnya
d. Program peningkatan mutu kualitas yang berkesinambungan

5. Kesimpulan
Chain of survival yang telah di kemukan merupakan rangakain yang tidak bisa
terpisahkan. Dalam komponen tersebut adanya peran bystander dan AED yang
manjadi kunci pertama dalam penyelamatan pasien dengan cardiac arrest, sebelum
bantuan EMS datang. Oleh karena perlu bystander-bystander dengan jumlah yang
banyak dan mempunyai kulitas CPR yang baik pula. CPR yang baik dan kualitas ini
di hasilkan dari pelatihan – pelatihan yang diberikan secara berkesinambungan.
Jika dari segi kualitas SDM bystander CPR yang baik, diharapkan AED di
lingkungan umum juga bertambah. Kerena CPR dengan bantuan AED akan
membantu dalam kelansungan hidup pasien dengan cardiac arrest

Daftar Pustaka

Abella, Benjamin S., Aufderheide, Tom P., Eigel, Brian, Hickey, Robert W., Longstreth,
Nadkarni, Vinay, . . . Hazinski, Mary Fran. (2008). Reducing Barriers for
Implementation of Bystander-Initiated Cardiopulmonary Resuscitation.
Circulation, 117, 704-709. doi: 10.1161/circulationaha.107.188486
AHA. (2010). American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science. 18.
AHA. (2015). American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science.
Aledhaim, Ali Hassan. (2016). Evaluating The Effectiveness Of Community
Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) In Improving Out-Ofhospital Cardiac
Arrest Survival: Is There Aneed For A Complementary Community-Based
Intervention. Morgan State University.
Bryan, McNally, Kellermann, Arthur, Park, Allison, & Click, Lorie. (2011). Out-of-hospital
cardiac arrest surveillance — cardiac arrest registry to enhance survival
(CARES), united states. Morbidity and Mortality Weekly Report Surveillance
Summaries, 60.
Chan, Paul. (2015). Public health burden of in-hospital cardiac arrest. Paper
commissioned by the Committee on the Treatment of Cardiac Arrest : Current
Status and Future Directions.
Daya, Mohamud R., H., Robert, Schmicker, May, Susanne, J., Laurie, & Morrison.
(2015). Current Burden of Cardiac Arrest in the United States : Report from the
Resuscitation Outcomes Consortium. The Institute of Medicine.
Grahamm, Roobert, Margaret, McCoy, AA., & Schultz, Andrea M. (2015). Strategiess to
Improve Cardiac Arrest Survival. Washington, DC: The National Academies
Press.
Hawkes, Claire, Booth, Scott, Li, Chen, J, Samantha, Brace-McDonnell, Whittington,
Andrew, . . . D., Charles. (2016). Epidemiology and outcomes from out-of-
hospital cardiac arrests in England. Elsevier. doi:
10.1016/j.resuscitation.2016.10.030
Kitamura, Tetsuhisa, Kiyohara, Kosuke, Sakai, Tomohiko, Matsuyama, Tasuku,
Hatakeyama, Toshihiro, Shimamoto, Tomonari, . . . Iwami, Taku. (2016). Public-
Access Defibrillation and Out-ofHospital Cardiac Arrest in Japan. The new
england journal of medicine. doi: 10.1056/NEJMsa1600011
Sanko, C, Lane, A, Flinders, P, Reddy, S, Kashani, L, Cassella, . . . M, Eckstein. (2016).
Impact of a New Medical Dispatch System on Telecommunicator-Assisted CPR.
Annals of Emergency Medicine, 68.
Sasson, Comilla et al. (2013). Increasing cardiopulmonary resuscitation provision in
communities with low bystander cardiopulmonary resuscitation rates.
Circulation, 128, 1-9. doi: 10.1161/CIR.0b013e318288b4dd.
Swor, Robert, Khan, Iftikhar, Domeier, Robert, Linda Honeycutt, EMTP, Kevin Chu,
MBBS,, & Scott Compton. (2006). CPR Training and CPR Performance : Do
CPR-trained Bystanders Perform CPR. 13(6), 596–601. doi:
10.1197/j.aem.2005.12.021
Travers, Andrew H., Rea, Thomas D., Bobrow, Bentley J., Edelson, Dana P., A, Robert,
Sayre, Michael R., . . . O'Connor, Robert E. (2010). Part 4 : CPR Overview :
2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation
and Emergency Cardiovascular Care. Circulation : American Heart Association
doi: 10.1161/CIRCULATIONAHA.110.97091