Anda di halaman 1dari 38

TINJAUAN

KEBIJAKAN MONETER
Ekonomi, Moneter, dan Keuangan

Januari 2019
Tinjauan Kebijakan Moneter
Januari 2019
Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) dipublikasikan secara bulanan oleh Bank Indonesia
setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada setiap bulan Januari, Maret, April, Juni,
Juli, September, Oktober, dan Desember. Laporan ini dimaksudkan sebagai media bagi
Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas
mengenai evaluasi kondisi moneter terkini atas asesmen dan prakiraan perekonomian
Indonesia serta respons kebijakan moneter Bank Indonesia yang dipublikasikan dalam
Laporan Kebijakan Moneter (LKM) secara triwulanan pada setiap bulan Februari,
Mei, Agustus, dan November. Secara rinci, TKM menyampaikan hasil evaluasi atas
perkembangan terkini mengenai inflasi, nilai tukar, dan kondisi moneter selama bulan
laporan, serta keputusan respons kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Dewan Gubernur
PERRY WARJIYO
Gubernur

MIRZA ADITYASWARA
Deputi Gubernur Senior

ERWIN RIJANTO
Deputi Gubernur

SUGENG
Deputi Gubernur

ROSMAYA HADI
Deputi Gubernur

DODY BUDI WALUYO


Deputi Gubernur

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 1


Daftar Isi

1. Ringkasan Eksekutif 03

2. Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Moneter 06

Perkembangan Ekonomi Dunia 06


Risiko Pasar Keuangan Global 12
Pasar Komoditas Global 13
Pertumbuhan Ekonomi 16
Neraca Pembayaran Indonesia 19
Nilai Tukar Rupiah 21
Inflasi 23
Pasar Keuangan 26
Transmisi Suku Bunga 27
Likuiditas Perekonomian 29
Intermediasi Perbankan 29
Pembiayaan NonPerbankan 31
Pasar Saham 32
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) 34

2 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


1 Ringkasan Eksekutif

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Januari 2019 memutuskan
untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku
bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.
Keputusan tersebut konsisten dengan upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam
batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Bank Indonesia juga
terus menempuh strategi operasi moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar
Rupiah maupun pasar valas sehingga dapat mendukung stabilitas moneter dan sistem keuangan.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan dan memperkuat
koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan
memperkuat ketahanan eksternal, termasuk untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan
sehingga turun menuju kisaran 2,5% PDB pada 2019.
Pertumbuhan ekonomi dunia melandai, namun ketidakpastian pasar keuangan sedikit
mereda. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS 2019 diprakirakan melambat akibat pasar
tenaga kerja yang semakin ketat dan dukungan fiskal yang terbatas. Stance kebijakan moneter
The Fed AS lebih dovish dan diprakirakan menurunkan kecepatan kenaikan suku bunga Fed Fund
Rate (FFR). Pertumbuhan ekonomi Eropa diprakirakan juga melambat pada 2019 sehingga dapat
pula memengaruhi kecepatan normalisasi kebijakan moneter bank sentral Eropa (ECB). Di negara
berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus melambat dipengaruhi oleh melemahnya
konsumsi dan ekspor neto antara lain akibat ketegangan hubungan dagang dengan AS dan
dampak proses deleveraging yang masih berlanjut. Sejalan dengan prospek pertumbuhan
ekonomi dunia itu, harga komoditas global diprakirakan menurun, termasuk harga minyak
dunia akibat peningkatan pasokan dari AS. Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan sedikit
mereda dan mendorong aliran modal ke negara berkembang sejalan dengan lebih rendahnya
prakiraan kecepatan kenaikan FFR dan berkurangnya eskalasi ketegangan hubungan dagang
AS-Tiongkok.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat ditopang permintaan
domestik. Berbagai indikator pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2018 menunjukkan
permintaan domestik tetap kuat ditopang oleh konsumsi, baik konsumsi swasta maupun
konsumsi Pemerintah. Konsumsi swasta diprakirakan tetap baik seiring terjaganya daya beli dan
keyakinan konsumen serta dampak positif persiapan pemilu. Konsumsi pemerintah tumbuh
kuat ditopang belanja barang dan bantuan sosial. Namun demikian, ekspor diperkirakan masih
terbatas dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai dan harga komoditas ekspor
Indonesia yang menurun. Sementara itu, impor mulai menurun sejalan dengan kebijakan yang
ditempuh, meskipun masih tumbuh tinggi untuk memenuhi permintaan domestik. Ke depan,
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 tetap baik yakni pada
kisaran 5,0-5,4%, ditopang oleh terjaganya permintaan domestik dan membaiknya ekspor neto.

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 3


Neraca perdagangan Indonesia Desember 2018 mencatat defisit sedangkan aliran masuk
modal asing masih berlanjut. Defisit neraca perdagangan tercatat sebesar 1,1 miliar dolar AS
dipengaruhi penurunan kinerja ekspor, khususnya ekspor nonmigas akibat kondisi global yang
kurang kondusif. Sementara itu, aliran masuk modal asing kembali terjadi pada Desember 2018
sebesar 1,9 miliar dolar AS, dan berlanjut pada Januari 2019. Posisi cadangan devisa pada akhir
Desember 2018 cukup tinggi sebesar 120,7 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 6,7
bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada
di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, Bank Indonesia terus
memperkuat koordinasi dengan Pemerintah guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,
termasuk pengendalian defisit transaksi berjalan pada 2019 menuju kisaran 2,5% dari PDB.
Nilai tukar Rupiah dalam tren menguat sehingga mendukung stabilitas harga. Rupiah
pada Desember 2018 secara rerata menguat sebesar 1,16%, meskipun secara point to point
sedikit melemah sebesar 0,54%. Tren penguatan Rupiah berlanjut pada Januari 2019. Penguatan
Rupiah antara lain dipengaruhi aliran masuk modal asing akibat perekonomian domestik yang
kondusif dan imbal hasil domestik yang tetap menarik, serta ketidakpastian pasar keuangan
global yang sedikit mereda. Dengan perkembangan yang cenderung menguat menjelang akhir
tahun 2018, Rupiah secara rerata keseluruhan tahun 2018 tercatat mengalami depresiasi sebesar
6,05%, atau secara point to point sebesar 5,65% dibandingkan dengan level tahun sebelumnya.
Depresiasi Rupiah secara point to point tersebut lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi
mata uang negara lain seperti Rupee India, Rand Afrika Selatan, Real Brasil, dan Lira Turki. Ke
depan, Bank Indonesia terus mencermati risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan
tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya dengan tetap
mendorong berjalannya mekanisme pasar, dan mendukung upaya-upaya pengembangan pasar
keuangan.
Inflasi tetap rendah dan terkendali sehingga pada 2018 berada dalam kisaran sasaran
3,5%±1% (yoy). Inflasi IHK pada Desember 2018 sebesar 0,62% (mtm), tetap terjaga sesuai
dengan pola musiman akhir tahun. Dengan perkembangan ini, inflasi 2018 tercatat 3,13%
(yoy) atau berada dalam kisaran sasarannya selama empat tahun terakhir. Inflasi yang terkendali
dipengaruhi inflasi inti yang terjaga pada level rendah sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank
Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi. Inflasi volatile
food juga terkendali ditopang oleh pasokan pangan yang terjaga dan pengaruh harga pangan
global yang menurun. Inflasi administered prices tercatat rendah sejalan dengan minimalnya
kebijakan terkait tarif dan harga barang dan jasa yang diatur Pemerintah. Ke depan, Bank
Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan
Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan inflasi tetap rendah dan
stabil, yang pada 2019 diprakirakan berada dalam sasaran inflasi sebesar 3,5±1%.

4 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga disertai fungsi intermediasi yang tetap baik dan
risiko kredit yang terkendali. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan
tetap tinggi mencapai 23,3% dan rasio likuiditas (AL/DPK) masih aman yakni sebesar 20,1% pada
November 2018. Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah
yaitu sebesar 2,7% (gross) atau 1,2% (net). Dari fungsi intermediasi perbankan, pertumbuhan
kredit pada November 2018 tercatat sebesar 12,1% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan
pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,3% (yoy). Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK)
pada November 2018 sebesar 7,2% (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan bulan
sebelumnya sebesar 7,6% (yoy). Sementara itu, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal,
penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, Medium Term Notes (MTN), dan
Negotiable Certificate of Deposit (NCD) selama Januari s.d. November 2018 tercatat sebesar
Rp197,1 triliun (gross), turun dibandingkan dengan capaian periode yang sama pada 2017
sebesar Rp276,9 triliun (gross). Pada 2019, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit
berada dalam kisaran 10-12% (yoy) sedangkan pertumbuhan DPK diprakirakan sekitar 8-10%
(yoy). Ke depan, Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait guna turut
menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk memantau kecukupan dan distribusi likuiditas di
perbankan.
Perekonomian domestik yang tetap baik ditopang kelancaran sistem pembayaran yang
tetap terpelihara, baik dari sisi tunai maupun nontunai. Dari sisi pembayaran tunai, posisi
uang yang diedarkan (UYD) meningkat 7,8% (yoy) di Desember 2018, lebih tinggi dibandingkan
dengan pertumbuhan November 2018 sebesar 7,3% (yoy). Di sisi pembayaran nontunai nilai
besar, nilai transaksi yang diselesaikan melalui BI-RTGS pada Desember 2018 mengalami
peningkatan sebesar 1,53% (yoy), setelah pada sebelumnya mencatat penurunan 1,7% (yoy).
Di sisi pembayaran nontunai nilai ritel, pertumbuhan SKNBI menurun menjadi 8,08% dari 9,7%
pada November 2018. Sementara itu, transaksi masyarakat menggunakan ATM/Debit, Kartu
Kredit, dan Uang Elektronik masing-masing meningkat sebesar 14,3%, 7,9%, dan 215,4%.
Peningkatan seluruh komponen sistem pembayaran tidak terlepas dari pengaruh musiman Natal
2018 dan Tahun Baru 2019. Ke depan, guna menjaga stabilitas makroekonomi, Bank Indonesia
terus memastikan kelancaran dan ketersediaan sistem pembayaran nasional, baik sistem yang
dioperasikan oleh Bank Indonesia maupun diselenggarakan oleh industri.

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 5


Perkembangan Ekonomi
2 dan Kebijakan Moneter
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA
Pertumbuhan ekonomi dunia melandai,
Indeks
namun ketidakpastian pasar keuangan 60
sedikit mereda. Melandainya pertumbuhan Negara Maju
ekonomi dunia terutama dipengaruhi oleh
55
pertumbuhan ekonomi negara maju (Grafik AS

2.1 dan 2.2). Pertumbuhan ekonomi AS 2019


diprakirakan melambat akibat pasar tenaga Akhir 2017 Data Akhir
50
kerja yang semakin ketat dan dukungan fiskal Dunia Dunia 54,5 51,5
Negara Berkembang Negara Maju 56,2 52,3
Negara Berkembang 52,2 50,3
yang terbatas. Stance kebijakan moneter AS 56,4 53,8
45
The Fed AS lebih dovish dan diprakirakan 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12
menurunkan kecepatan kenaikan suku bunga 2015 2016 2017 2018

Fed Fund Rate (FFR). Pertumbuhan ekonomi Sumber: IHS Markit; Data s.d. Desember 2018
Eropa diprakirakan juga melambat pada
Grafik 2.1 PMI Manufaktur Global
2019 sehingga dapat pula memengaruhi
kecepatan normalisasi kebijakan moneter bank
sentral Eropa (ECB). Di negara berkembang,
pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus
melambat dipengaruhi oleh melemahnya
konsumsi dan ekspor neto antara lain akibat
ketegangan hubungan dagang dengan
AS dan dampak proses deleveraging yang
masih berlanjut. Sejalan dengan prospek
pertumbuhan ekonomi dunia, harga komoditas
global diprakirakan menurun, termasuk harga
minyak dunia akibat peningkatan pasokan
dari AS. Sementara itu, ketidakpastian pasar
keuangan sedikit mereda dan mendorong
% yoy
aliran modal ke negara berkembang sejalan 3,5
dengan lebih rendahnya prakiraan kecepatan AS 2,9 3,0
kenaikan FFR dan berkurangnya eskalasi 2,4 2,5
2,5
ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok. 2,0 1,9
2,2 1,8 2,0
Ekonomi AS pada tahun 2018 diprakirakan Kawasan Euro 1,7
1,5
tumbuh terakselerasi didorong oleh 1,7
1,0
berlanjutnya akselerasi konsumsi. Kinerja Jepang
1,1 0,9 0,3
positif tenaga kerja dan ekspansi kebijakan 0,5

fiskal merupakan pendorong utama akselerasi 0,0


konsumsi pada tahun 2018 (Grafik 2.3). Hal 2017 2018F 2019F 2020F

tersebut juga terkonfirmasi dari beberapa Sumber: WEO Oktober 2018

indikator konsumsi, antara lain pertumbuhan Grafik 2.2 Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju

6 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


pendapatan yang masih terjaga di level yang
tinggi, indeks Conference Board Consumer % %
5
Confidence yang masih menunjukkan kinerja 4 Konsumsi Pemerintah 3,0 3,09
11

positif serta permintaan barang manufaktur Investasi Swasta 2,6 2,9 6


3
PDB
2
yang meningkat. Di sisi lain, kinerja investasi 1
1
diprakirakan masih akan tumbuh melambat, 0 -4
baik yang bersumber dari investasi residensial -1 Konsumsi Ekspor Neto
-2 -9
maupun investasi nonresidensial. Dari sisi -3
-14
eksternal, dukungan ekspor neto terhadap -4
-5 -19
perekonomian AS diprakirakan masih tertahan. I II III IV I II III IV I II III IV I II III IVF
Kondisi tersebut sejalan dengan kinerja impor 2015 2016 2017 2018

yang diprakirakan masih tetap kuat sejalan Sumber: Bloomberg, diolah

dengan masih kuatnya aktivitas konsumsi.


Sementara itu, ekspor diprakirakan tertahan Grafik 2.3 Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi AS
seiring moderasi ekonomi negara mitra
dagang.
Setelah tumbuh terakselerasi pada
tahun 2018, ekonomi AS diprakirakan
tumbuh melambat pada 2019. Konsolidasi
perekonomian AS pada tahun 2019 tersebut
juga sejalan dengan kondisi perekonomian
AS yang telah berada di atas potensialnya
pada tahun 2018. Prakiraaan perlambatan
pertumbuhan ekonomi AS tersebut sejalan
dengan melambatnya aktivitas produksi,
kondisi tenaga kerja yang semakin ketat, serta
terbatasnya dukungan fiskal. Melambatnya
aktivitas produksi pada tahun 2019 tersebut
tercermin pada indikator Markit Purchasing
Manager Index (PMI) Manufaktur yang mulai
menunjukkan penurunan pada akhir 2018
(Grafik 2.1).
Inflasi AS 2018 berada di kisaran target
%
dengan indikasi tekanan yang menurun 3,5
IHK(yoy) 3,0
sejalan dengan ekspektasi inflasi yang
IHK Inti Target : 2% 2,21 2,0 2,5
mereda (Grafik 2.4). Inflasi IHK AS tercatat 1,92,0 2,0
lebih rendah yakni dari 2,5% pada Oktober 1,9
1,95
1,5
2018 menjadi 2,2% pada November 2018. PCE Inti (yoy) 1,84
1,0
Menurunnya tekanan inflasi AS pada November PCE (yoy)
PCE (mtm) 0,5
0,1
2018 secara umum sejalan dengan ekspektasi 0
Proyeksi PCE
inflasi yang mereda akibat menurunnya harga -0,5
10 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
minyak dan ekspektasi aktivitas ekonomi yang
2019
2018
2020

2015 2016 2017 2018


tidak sekuat perkiraan awal. Sebaliknya, inflasi
Sumber: Bloomberg, diolah
inti pada November 2018 meningkat yang
didorong oleh meningkatnya inflasi perumahan Grafik 2.4 Inflasi AS

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 7


dan layanan kesehatan. Meskipun demikian,
%
aktivitas perekonomian yang masih tumbuh 4
Investasi Konsumsi Pemerintah PDB (yoy)
3
kuat dan di atas potensialnya serta kinerja 2,4
2,2 3
tenaga kerja dan upah yang masih tumbuh
1,6 1,6 2
positif berpotensi untuk menahan penurunan 2
inflasi lebih lanjut di 2019. 1
1
Di Kawasan Euro, perlambatan ekonomi 0
-1
diperkirakan berlanjut didorong oleh -1
Ekspor Neto
melemahnya kinerja ekspor, melambatnya -2
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IVF
konsumsi, serta tertahannya investasi
2015 2016 2017 2018
(Grafik 2.5). Pada tahun 2018, pertumbuhan
Sumber: Bloomberg, diolah
ekonomi di kawasan Euro tumbuh melambat
dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi Grafik 2.5 Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Euro
tersebut didorong oleh melambatnya konsumsi
akibat konsolidasi fiskal, melambatnya kinerja
ekspor seiring dengan perlambatan ekonomi
Tiongkok, serta tertahannya pertumbuhan
investasi. Selain itu, perlambatan juga didorong
oleh ketidakpastian politik di kawasan Euro,
meningkatnya ketegangan hubungan dagang,
serta memburuknya dukungan tenaga kerja
yang tercermin dari menurunnya jumlah tenaga
kerja dan produktivitas. Memasuki tahun
2019, perlambatan tersebut diprakirakan
terus berlanjut. Hal tersebut tercermin dari
berlanjutnya penurunan tingkat keyakinan
ekonomi dan penurunan ekspektasi aktivitas
manufaktur dan jasa. Beberapa indikator
lainnya seperti tingkat keyakinan bisnis dan
konsumsi serta PMI manufaktur dan jasa secara
umum juga masih melanjutkan tren penurunan
pada akhir 2018. Selain itu, perlambatan juga
didorong oleh masih terbatasnya dukungan
%
fiskal dan berlanjutnya permasalahan
3
struktural tenaga kerja. Dukungan net Target ECB Inflasi CPI 2%
ekspor juga diperkirakan masih dalam tren IHK (yoy)
2
1,90
melambat seiring dengan pertumbuhan IHK inti (yoy)
1
perdagangan global dan ekonomi Tiongkok 1,0
0
yang melanjutkan pelemahan.
-0,2
IHK (mtm) -1
Tekanan inflasi di kawasan Euro mengalami
penurunan sejalan dengan meredanya -2
7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10
inflasi energi. Inflasi IHK di kawasan
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Euro pada November 2018 tercatat 1,9%
Sumber: Bloomberg, diolah
(yoy), menurun dari 2,2% (yoy) pada bulan
sebelumnya (Grafik 2.6). Penurunan tersebut Grafik 2.6 Inflasi Kawasan Euro

8 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


merupakan dampak dari meredanya inflasi di
sektor energi, terutama pasca menurunnya 6

harga minyak sejak pertengahan Oktober PDB 4


2018. Sama halnya dengan inflasi IHK, inflasi Proyeksi PDB (BI)
2
inti pada November 2018 juga menurun dari
0
1,1% (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi PDB Potensial
-2
1,0% (yoy). Menurunnya inflasi inti tersebut
dipengaruhi oleh terbatasnya pertumbuhan -4

permintaan serta tertahannya akselerasi -6

2018F
2019F
2020F
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
pertumbuhan upah. Di tahun 2019, inflasi
diprakirakan menurun dan masih akan berada
Sumber: Bloomberg, diolah
di bawah target inflasi ECB sebesar 2%. Hal
tersebut terkonfirmasi dari menurunnya
ekspektasi inflasi di 2019 berdasarkan hasil Grafik 2.7 Pertumbuhan Ekonomi Jepang
survei Consensus Forecast dan Bloomberg
pada Desember 2018.
Perekonomian Jepang diprakirakan tumbuh
melambat sejalan dengan berakhirnya % yoy % yoy
3 3
dukungan fiskal dan melemahnya
dukungan sektor eksternal (Grafik 2.7).
2 2
Perekonomian Jepang diprakirakan tumbuh IHK

melambat pada tahun 2018. Kondisi tersebut 1


IHK (tidak termasuk makanan dan energi)
1
sejalan dengan berakhirnya dukungan stimulus
fiskal pada tahun 2017, terbatasnya dukungan 0 0
IHKTokyo
produktivitas, serta melemahnya dukungan IHK(tidak termasuk makanan segar)
sektor eksternal. Di 2019, perlambatan -1
1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 12
-1
Jan-15
Apr-15
Jul-15

Jan-16

Jan-17

Jul-17

Jan-18
Oct-15

Apr-16
Jul-16
Oct-16

Apr-17

Apr-18
Jul-18
Oct-18
ekonomi Jepang diprakirakan terus berlanjut 2015 2016 2017 2018

seiring dengan masih lemahnya dukungan


Sumber: Bloomberg
sektor eksternal seiring dengan melambatnya
pertumbuhan ekonomi mitra utama Jepang Grafik 2.8 Inflasi Jepang
(AS, kawasan Euro, dan Tiongkok). Selain
itu, masih berlanjutnya konsolidasi fiskal dan
tertahannya dukungan produktivitas masih
berperan besar dalam menahan ekonomi % yoy
7,3 6,6 6,6
8
Jepang untuk tumbuh lebih tinggi. Kondisi 6,9 6,9
6,4 7
tersebut tercermin dari beberapa indikator 2,9 2,2
2,1 6
3,4 2,9
yakni PMI manufaktur, tingkat keyakinan 5
4
konsumen, serta tingkat keyakinan bisnis yang 3
4,1 5,2
masih melanjutkan tren penurunan. 3,6 4,1 4,5 2
1
Inflasi Jepang menurun dan masih berada 0
0,3 -0,1 0,6
jauh di bawah target BOJ. Inflasi IHK Jepang -0,7 -0,6 -1
-2
pada November 2018 tercatat menurun 2014 2015 2016 2017 2018f 2019f
menjadi sebesar 0,8% (yoy), lebih rendah Net Ekspor Konsumsi Investasi Pertumbuhan (yoy)
dibandingkan dengan inflasi pada bulan Sumber: Bloomberg, diolah
sebelumnya sebesar 1,4% (yoy) (Grafik 2.8). Grafik 2.9 Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 9


Penurunan inflasi terutama didorong oleh
menurunnya harga energi serta menurunnya % %
12 20
harga pada kelompok barang tidak tahan lama. Penjualan Ritel (ytd, yoy)
11 Penjualan Ritel (yoy) 15
Di 2019, inflasi diprakirakan meningkat menuju
10 10
target BOJ yakni sebesar 2%, didukung oleh
9 5
kinerja positif tenaga kerja serta ekspektasi
8 0
inflasi yang diperkirakan meningkat. Penjualan Ritel Riil (yoy)
7 -5
Ekonomi Tiongkok diprakirakan tumbuh 6
Automobiles (yoy, skala kanan)
-10
(± 25% dari total penjualan)
lebih rendah, dipengaruhi oleh financial
5 -15
deleveraging dan eskalasi trade war 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
2015 2016 2017 2018
(Grafik 2.9). Kondisi tersebut terutama
bersumber dari melambatnya kinerja konsumsi Sumber: Bloomberg, diolah

yang disebabkan oleh dampak dari penurunan Grafik 2.10 Perkembangan Penjualan Ritel Tiongkok
aset rumah tangga didorong koreksi harga
properti, meningkatnya ketidakpastian pasar
keuangan global, serta adanya kebijakan
financial deleveraging. Melambatnya kinerja
konsumsi juga terindikasi dari turunnya
pertumbuhan penjualan ritel (Grafik 2.10).
Perlambatan ekonomi Tiongkok juga
dipengaruhi oleh kinerja industri yang tertahan
sebagai respons dari menurunnya permintaan
domestik. Kondisi tersebut tercermin dari
indeks Industrial Production (IP) dan PMI
manufaktur yang menurun. Dari sisi eksternal,
kinerja ekspor Tiongkok pada November 2018
mulai menunjukkan perlambatan meskipun
masih terdapat aktivitas frontloading shipping
ekspor Tiongkok sebelum ditetapkannya tarif
impor oleh AS pada 2019. Kinerja impor
juga tumbuh melambat yang diprakirakan
merupakan dampak ketegangan hubungan
dagang antara AS dan Tiongkok. Di tahun
2019, ekonomi Tiongkok diprakirakan kembali 12
PDB
tumbuh melambat yang dipengaruhi oleh Investasi Lainnya 10
7,1 7,0 8
melemahnya konsumsi dan ekspor neto antara
6
lain akibat ketegangan hubungan dagang
4
dengan AS dan dampak proses deleveraging 2
yang masih berlanjut. 0
Konsumsi -2
Inflasi Tiongkok menurun, dipengaruhi Konsumsi Pemerintah Ekspor Neto
-4
oleh menurunnya inflasi pangan. Inflasi I II III IV I II III IV I II III IV I II III IVF
IHK Tiongkok tercatat 2,2% pada November 2015 2016 2017 2018
Sumber: Bloomberg
2018, setelah sebelumnya mengalami inflasi
sebesar 2,5% pada bulan sebelumnya.
Penurunan inflasi terutama disebabkan oleh Grafik 2.11 Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi India

10 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


melambatnya inflasi pangan. Sementara itu,
inflasi nonmakanan tetap tinggi sejalan dengan %
meningkatnya harga sewa rumah. 10
Bahan Bakar dan Listrik 8
Perekonomian India diprakirakan terus IHK (% yoy) Rokok dan Minuman Keras
meningkat sejalan dengan kinerja Makanan dan Minuman 6

konsumsi dan investasi yang masih kuat Inti 4


serta dukungan ekspor neto (Grafik 2.11). 2
Pertumbuhan ekonomi India pada tahun 2018
0
diprakirakan meningkat yang ditopang oleh
-2
kinerja konsumsi yang masih solid, investasi 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 11

Feb-16
Apr-16

Oct-16

Feb-17
Apr-17

Oct-17

Feb-18
Apr-18

Oct-18
Dec-15

Jun-16

Dec-16

Jun-17

Dec-17

Jun-18
Aug-16

Aug-17

Aug-18
yang meningkat, dan dukungan ekspor neto 2015 2016 2017 2018

yang membaik. Solidnya kinerja konsumsi Sumber: Reserved Bank of India

terutama terkonfirmasi dari peningkatan Grafik 2.12 Kontribusi Inflasi India


pertumbuhan penjualan kendaraan. Di
samping itu, kinerja investasi juga diprakirakan
meningkat yang terindikasi dari tingkat
keyakinan bisnis yang meningkat dan PMI
Manufaktur yang membaik. Dari sisi eksternal,
neraca perdagangan yang melebar diprakirakan
tertahan sejalan dengan melambatnya kinerja
impor akibat penurunan harga minyak sejak
pertengahan Oktober 2018 serta adanya
kebijakan terkait dengan impor batubara,
CPO, dan kedelai. Di 2019, pertumbuhan
ekonomi India diprakirakan tetap solid yang
ditopang oleh membaiknya dukungan sektor
eksternal sejalan dengan impor yang tumbuh
negatif serta masih kuatnya aktivitas konsumsi
dan investasi.
Penurunan inflasi IHK India berlanjut dan
diprakirakan masih berada dalam kisaran
target inflasi 4 ± 2% (Grafik 2.12). Inflasi
IHK India pada November 2018 tercatat 2,3%
(yoy) menurun dari 3,4% (yoy) pada bulan
sebelumnya. Penurunan inflasi terutama
disebabkan oleh menurunnya inflasi makanan
dan minuman serta menurunnya harga minyak.
Sementara itu, inflasi inti India (tidak termasuk
pangan, tembakau, dan energi) pada November
2018 (5,7%; yoy) relatif sama dibandingkan
dengan bulan sebelumnya (5,8%;yoy). Masih
tingginya tekanan pada inflasi inti sejalan
dengan meningkatnya aktivitas ekonomi India
yang diprakirakan terus berlanjut. Memasuki
tahun 2019, inflasi diperkirakan kembali

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 11


meningkat seiring dengan prospek ekonomi
%
India yang meningkat serta dampak depresiasi 100
99,5 99,5 2,25-2,52,75-3 2,5-2,75
84,8 90
82,5
Indian Rupee (INR). 93,3 78,8 75,8 80
66,2 70
59,2 60
50
40
RISIKO PASAR KEUANGAN GLOBAL 30
14,5 14,1 13,3 12,8 20
10,9 9,6
Risiko ketidakpastian pasar keuangan 0,5 0,5 6,7 10
0 0 0 1 1 1 1 1 0
global mereda, meskipun masih tinggi. 1 3 5 6 7 9 10 12 1
Meredanya ketidakpastian pasar keuangan 2019 2020

global sejalan dengan prakiraan menurunnya Sumber: Bloomberg; Data s.d. 14 Januari 2019

kecepatan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan Grafik 2.13 Probabilitas Kenaikan FFR
meredanya ketegangan hubungan dagang
Indeks
AS dan Tiongkok (Grafik 2.13 dan 2.14). 600

Penurunan kecepatan kenaikan FFR tersebut 500

sesuai dengan keputusan Federal Open 400


335,13
Market Committee (FOMC) September dan 300
Desember 2018 dengan mempertimbangkan 200
prospek pertumbuhan ekonomi AS yang lebih 100
rendah pada 2019 serta indikasi tekanan 0
1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5 12
inflasi AS yang menurun sejalan dengan masih 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
menurunnya harga minyak. Sejalan dengan hal Sumber: Bloomberg; Data s.d. 31 Desember 2018
tersebut, sejumlah bank sentral diperkirakan
Grafik 2.14 Economic Policy Uncertainty (EPU) Trade Policy AS
akan kembali melakukan penyesuaian
kebijakan moneter pada tahun 2019 meskipun 450
Indeks Indeks
170
434,61
tidak seketat perkiraan sebelumnya. 430 Emerging Market Bond Index (EMBI) 160
410 150
Meredanya ketidakpastian pasar keuangan 390 140
370 137,45 130
global memberikan pengaruh kepada 350 120
330 110
menurunnya ketidakpastian dan risiko di 310 100
CDS Indonesia (Skala kanan)
negara berkembang sehingga memengaruhi 290 90
270 80
aliran modal ke negara berkembang (Grafik 250 70
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
2.15). Kondisi tersebut tercermin dari aliran 2018
modal di negara berkembang pada Januari Sumber: EPFR, Fund Flows (FF)
2019 yang mencatatkan capital inflow dan Grafik 2.15 Ketidakpastian dan Risiko Negara Berkembang
diprakirakan akan terus meningkat. Kondisi
tersebut juga diiringi dengan perpindahan miliar USD, akumulasi aliran miliar USD, akumulasi aliran
modal sejak Nov- 08 modal sejak Nov-08
330 2100
aliran modal yang cukup signifikan dari negara Periode Outflow Negara
320
maju sejalan dengan prospek ekonomi negara 310
Berkembang 2050

maju yang diperkirakan melambat pada tahun 300 Aliran Modal Negara 291,98 2000
Maju(Skala kanan)
290
2019 (Grafik 2.16). 1950
280
Aliran Modal Negara
270 Berkembang 1900
260
1873,23
250 1850
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
2018

Sumber: IIF

Grafik 2.16 Aliran Modal ke luar dari Negara Berkembang

12 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


PASAR KOMODITAS GLOBAL
Pertumbuhan ekonomi global yang USD/MT USD/MT
25000
melandai serta ketidakpastian pasar 7500
23000 Tembaga (Skala kanan)
6500
keuangan global yang masih tinggi 21000
19000 5500
mendorong pertumbuhan volume
17000 Timah 4500
perdagangan dunia tumbuh melambat. 15000
3500
Pertumbuhan volume perdagangan dunia 13000 Nikel
2500
diprakirakan lebih rendah dari prakiraan 11000
9000 1500
sebelumnya (Grafik 2.17). Hal tersebut
7000 500
disebabkan oleh realisasi volume perdagangan 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12
dunia pada triwulan I, II, dan III 2018 yang 2015 2016 2017 2018

lebih rendah dari perkiraan sejalan dengan Sumber: Bloomberg; Data s.d. 31 Desember 2018

melambatnya pertumbuhan ekonomi global


Grafik 2.17 Perkembangan Harga Logam
serta meningkatnya isu proteksionisme, antara
lain penetapan tarif impor oleh AS dan sentimen
Brexit. Aktivitas ekspor dan impor di negara
maju juga terus mengalami penurunan sejalan
dengan rendahnya pertumbuhan ekonomi
negara maju. Sementara itu, aktivitas ekspor
dan impor di negara berkembang tumbuh
meningkat dipengaruhi oleh aksi frontloading
Tiongkok, membaiknya ekonomi India, serta
adanya kebijakan penurunan pajak impor oleh
Tiongkok. Perlambatan volume perdagangan
dunia tersebut diprakirakan terus berlanjut
pada tahun 2019. Kondisi tersebut sejalan
dengan prakiraan ekonomi global 2019 yang
diprakirakan tumbuh melandai. Hal tersebut
juga terindikasi dari beberapa indikator
perdagangan dari World Trade Organization
(WTO) dan IFO World Economic Survey seperti
intensitas perdagangan (trade intensity) yang
terus menurun secara gradual dan volume
ekspor global yang menurun dalam 6 bulan
kedepan.
Sejalan dengan melambatnya
pertumbuhan volume perdagangan dunia,
harga komoditas global juga diprakirakan
menurun, termasuk harga minyak dunia.
Harga komoditas ekspor Indonesia yang pada
tahun 2018 tumbuh melambat diprakirakan
berlanjut pada 2019. Kondisi tersebut terutama
didorong oleh berlanjutnya penurunan harga
komoditas batubara dan logam. Penurunan
harga batubara disebabkan oleh meningkatnya

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 13


kapasitas produksi batubara Tiongkok,
melambatnya permintaan global, serta USD / Barel

meningkatnya pasokan dari AS. Disamping 80


itu, adanya kebijakan beberapa negara seperti 70
Harga Minyak Brent
Jerman dan Tiongkok untuk mengurangi 67,73
60
penggunaan batubara secara bertahap turut 53,17
50
memberikan tekanan pada harga batubara.
Adapun penurunan harga logam terutama 40

didorong oleh penurunan harga nikel sejalan Rata-rata Triwulanan 30


dengan perkiraan peningkatan pasokan dari 20
Indonesia akibat ekspansi pembangunan 2015 2016 2017 2018
hyper-efficient HPAL smelter di Morowali, Sumber: Bloomberg, diolah; Data s.d. 31 Desember 2018
Sulawesi Tengah (Grafik 2.17).
Grafik 2.18 Perkembangan Harga Minyak
Di sisi lain, harga komoditas pertanian seperti
CPO dan karet diprakirakan membaik di
tahun 2019. Setelah mengalami penurunan
harga akibat melemahnya permintaan dan
meningkatnya pasokan pada tahun 2018,
harga CPO di tahun 2019 diprakirakan mulai
membaik yang ditopang oleh meningkatnya
permintaan seiring dengan penurunan pajak
impor CPO di India dan perbaikan harga
barang substitusi (kedelai). Harga karet juga
diprakirakan membaik pada 2019 sejalan
dengan menurunnya pasokan karet, adanya
rencana kebijakan penggunaan karet oleh
beberapa negara produsen karet dunia
(Indonesia, Malaysia, dan Thailand), serta
upaya Tiongkok untuk mendorong konsumsi
domestik.
Penurunan harga minyak terus berlanjut
(Grafik 2.18). Harga minyak pada 2019
diprakirakan masih dalam tren menurun seiring
dengan meningkatnya produksi minyak AS
di tengah rencana penurunan produksi OPEC
dan melambatnya permintaan. Peningkatan
produksi di AS tersebut sejalan dengan
peningkatan kapasitas pipa di Permian Basin
serta target AS untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan menjadi negara Self-Energy
Independent. Sementara itu, mulai Januari
2019, OPEC berencana akan menurunkan
produksi untuk menjaga kestabilan harga
minyak. Dari sisi permintaan, penurunan harga
minyak juga dipengaruhi oleh konsumsi minyak

14 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


yang masih berada dalam tren melambat
sejalan dengan ekspektasi melambatnya
pertumbuhan ekonomi terutama ekonomi AS,
Eropa, Jepang, dan Tiongkok.

PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi Indonesia
diperkirakan tetap kuat ditopang
permintaan domestik. Berbagai indikator
pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2018
menunjukkan permintaan domestik tetap kuat
ditopang oleh konsumsi, baik konsumsi swasta
maupun konsumsi Pemerintah. Konsumsi
swasta diprakirakan tetap baik seiring
terjaganya daya beli dan keyakinan konsumen
serta dampak positif persiapan pemilu.
Konsumsi pemerintah tumbuh kuat ditopang
belanja barang dan bantuan sosial. Namun
demikian, ekspor diperkirakan masih terbatas
dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia
yang melandai dan harga komoditas ekspor
Indonesia yang menurun. Sementara itu, impor
mulai menurun sejalan dengan kebijakan
yang ditempuh, meskipun masih tumbuh
tinggi untuk memenuhi permintaan domestik.
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan
pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 tetap
baik yakni pada kisaran 5,0-5,4%, ditopang
oleh terjaganya permintaan domestik dan
membaiknya ekspor neto.

Tabel 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran


Persen, yoy

2017 2018
Komponen PDB Pengeluaran 2016 2017
I II III IV I II III
Konsumsi Rumah Tangga 5,01 4,94 4,95 4,93 4,97 4,95 4,95 5,14 5,01
Konsumsi Lembaga Nonprofit Melayani Rumah Tangga 6,64 8,07 8,52 6,02 5,24 6,91 8,09 8,71 8,54
Konsumsi Pemerintah -0,14 2,69 -1,92 3,48 3,81 2,14 2,74 5,21 6,28
Investasi 4,47 4,77 5,34 7,08 7,27 6,15 7,95 5,86 6,96
Investasi Bangunan 5,18 5,87 6,07 6,28 6,68 6,24 6,16 5,02 5,66
Investasi Nonbangunan 2,43 1,46 3,23 9,47 9,03 5,90 13,57 8,35 10,72
Ekspor -1,57 8,41 2,80 17,01 8,50 9,09 6,09 7,63 7,52
Impor -2,45 4,81 0,20 15,46 11,81 8,06 12,66 15,26 14,06
PDB 5,03 5,01 5,01 5,06 5,19 5,07 5,06 5,27 5,17
Sumber: BPS

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 15


Konsumsi swasta diprakirakan tetap baik
seiring terjaganya daya beli dan keyakinan %yoy
3
konsumen serta dampak positif persiapan Nilai Tukar Petani
2
pemilu. Konsumsi rumah tangga didukung Upah Buruh Tani 1,2
(riil) 1
oleh daya beli yang membaik sejalan dengan
0,13
pendapatan rumah tangga yang meningkat 0

di tengah inflasi yang terjaga pada level yang -1


rendah. Pendapatan rumah tangga kelompok -2
bawah yang membaik terindikasi dari nilai
-3
tukar petani (NTP) dan upah riil buruh tani I II III IV I II III IV I II III IV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
yang tumbuh positif hingga Desember 2018 2016 2017 2018 2018

(Grafik 2.19). Sementara itu, pendapatan kelas Sumber: BPS, diolah

menengah khususnya gaji karyawan swasta


terindikasi membaik, tercermin pada kenaikan Grafik 2.19 NTP dan Upah Buruh Tani
beban biaya gaji korporasi (salary expense).
Kinerja positif konsumsi rumah tangga sejalan
dengan tingkat keyakinan konsumen yang
masih berada dalam teritori optimis (indeks Indeks
135
di atas 100) serta meningkat pada November Pengeluaran Rp1-2juta
130
Pengeluaran Rp2-5 juta
dan Desember 2018 (Grafik 2.20). Konsumsi 125
swasta yang tetap kuat didukung pula oleh 120
konsumsi LNPRT yang diperkirakan meningkat 115
sebagaimana pola historis pengeluaran LNPRT Indeks Keyakinan 110
Konsumen (IKK) 105
pada dua triwulan sebelum Pemilu Legislatif/
Pengeluaran >Rp5 100
Pemilu Presiden (Grafik 2.21) juta
95
I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV 2 4 6 8 10 12
Konsumsi yang tetap kuat tercermin
2014 2015 2016 2017 2018 2018
dari penjualan eceran dan penjualan
Sumber: Bank Indonesia
kendaraan bermotor yang cukup baik.
Perbaikan konsumsi terindikasi dari penjualan Grafik 2.20 Indeks Keyakinan Konsumen
ritel yang tetap tumbuh baik pada triwulan
IV 2018, ditopang oleh penjualan kelompok
pakaian, makanan dan minuman serta
peralatan rumah tangga. Penjualan ritel
yang meningkat tersebut sesuai dengan pola % yoy
30
musiman akhir tahun. Indikasi konsumsi yang
24,1 25
22,8 23,2 22,4
membaik tercermin juga pada penjualan
sepeda motor yang tumbuh meningkat pada 20

triwulan IV 2018. Penjualan mobil tercatat 12,8


Pemilu 2009 15
Pemilu 2014
masih tumbuh tinggi ditopang oleh penjualan
10
kendaraan jenis kendaraan penumpang multi 5,8
4,7
purpose vehicle (MPV) dan low cost green car 5
0
(LCGC) (Grafik 2.22). 0
2 Tw Sebelum 1 Tw Sebelum Pileg Pilpres
Konsumsi pemerintah tumbuh kuat
Sumber: BPS, diolah
ditopang belanja barang dan bantuan
sosial. Berdasarkan realisasi anggaran Grafik 2.21 Historis Konsumsi LNPRT

16 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


triwulan IV 2018, konsumsi pemerintah
% yoy
25
tumbuh meningkat bersumber dari realisasi Penjualan Eceran
Penjualan 20
belanja pemerintah pusat dan serapan belanja (Total)
Mobil 15
8,58
daerah. Belanja pemerintah pusat dalam 10
4,24 5
bentuk belanja pegawai dan belanja barang 3,15 0
tumbuh meningkat. Belanja pemerintah juga Penjualan
-5
Motor -10
didukung oleh serapan belanja daerah dari
-15
APBD yang lebih tinggi pada triwulan IV 2018 -20
I II III IV I II III IV I II III IV
dibandingkan dengan serapan pada periode 2016 2017 2018
yang sama tahun sebelumnya. Sumber: Bank Indonesia, Gaikindo, AISI

Pertumbuhan investasi tetap kuat pada Grafik 2.22 Penjualan Eceran dan Kendaraan Bermotor
trwulan IV 2018, meskipun terindikasi
% yoy
sedikit tertahan dibandingkan dengan 25

periode sebelumnya. Pertumbuhan Penjualan


20
15
investasi yang masih kuat ditopang oleh Semen
10
proyek infrastruktur Pemerintah. Hal itu 4,6 5
dikonfirmasi oleh data penjualan semen yang
0
tetap tumbuh positif pada triwulan IV 2018 -5
(Grafik 2.23). Namun, pertumbuhan investasi -10
I II III IV I II III IV I II III IV*
bangunan sedikit tertahan yang tercermin dari
2016 2017 2018
pertumbuhan impor bahan bangunan yang Sumber: Asosiasi Semen Indonesia
tumbuh terbatas. Grafik 2.23 Penjualan Semen
Di sisi lain, investasi nonbangunan
PMI level
mulai melambat pada akhir triwulan IV 54
PMI SKDU 52,02
2018 dipengaruhi perkembangan sektor 51,92 52
50
manufaktur dan pertambangan. Perkiraan 51,03 50,45
PMI Markit Economics 48
pertumbuhan investasi nonbangunan
46
dipengaruhi oleh prospek kinerja 44
pertambangan yang diperkirakan melambat 42
seiring melemahnya ekspor komoditas sektor 40
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 7 8 9 10 11 12
pertambangan. Sejalan dengan itu, kinerja 2015 2016 2017 2018 2018
sektor manufaktur yang cenderung stabil, Sumber: Markit Economics, Bank Indonesia
sebagaimana tercermin pada tren Purchasing
Grafik 2.24 Purchasing Manager Index
Manager Index (PMI), menahan pertumbuhan
lebih lanjut dari investasi nonbangunan (Grafik % yoy
100
Alat Angkutan
2.24). Hal tersebut juga diperkuat dengan Untuk Industri 80
Barang Modal Kecuali Alat 60
perkiraan penurunan kapasitas utilisasi dari Angkutan
40
14,3
sektor manufaktur dan pertambangan dalam 13,3 20
12,7
0
Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) sehingga Barang Modal
-24,1 -20
belum dibutuhkan penambahan investasi Mobil Penumpang -40
baru. Proyeksi investasi nonbangunan yang -60
-80
melambat dikonfirmasi oleh impor barang I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 7 8 9 10 11 12

modal yang tumbuh melambat pada November 2015 2016 2017 2018 2018
Sumber: Bank Indonesia
dan Desember 2018 baik dalam bentuk mesin-
mesin maupun alat angkutan (Grafik 2.25). Grafik 2.25 Impor Barang Modal

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 17


Ekspor diperkirakan masih tumbuh
terbatas dipengaruhi pertumbuhan %yoy
50
ekonomi dunia yang melandai dan
Pertambangan 40
harga komoditas ekspor Indonesia yang 30
menurun. Kinerja ekspor masih terbatas 20
Total Manufaktur 10,54
dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan 10
6,85
ekonomi yang melandai sehingga volume 4,27
0
Pertanian -7,07
perdagangan dunia diperkirakan tumbuh lebih -10

lambat dan menurunkan permintaan ekspor. -20


-30
Kinerja ekspor juga terdampak oleh harga I II III IV I II III IV I II III IV 7 8 9 10 11 12
komoditas global yang menurun (Grafik 2.26). 2016 2017 2018 2018
Menurut komoditas, pertumbuhan ekspor Sumber: Bank Indonesia
yang lebih rendah disebabkan oleh masih
turunnya ekspor pertanian, antara lain karet Grafik 2.26 Indeks Harga Ekspor Nonmigas
mentah dan kertas yang turun di tengah ekspor
CPO yang membaik pada triwulan IV 2018.
Selain ekspor pertanian yang terbatas, ekspor
pertambangan khususnya komoditas batubara
tumbuh melambat akibat eskalasi trade war
serta terjadinya peralihan permintaan dunia
ke batubara kalori tinggi dipengaruhi oleh
isu lingkungan (Grafik 2.27). Ekspor produk
mineral dan metal juga masih menurun seiring
penurunan harga tembaga, nikel, timah dan
aluminium. Sementara itu, ekspor manufaktur
masih relatif baik didukung subsektor kimia
serta besi dan baja.
Impor mulai menurun sejalan dengan
kebijakan yang ditempuh, meskipun
masih tumbuh tinggi untuk memenuhi
permintaan domestik. Setelah berada dalam
tren menguat pada triwulan sebelumnya, impor
pada akhir triwulan IV 2018 mulai menurun.
Perkembangan tersebut sejalan dengan % yoy
% yoy
sinergi bauran kebijakan yang ditempuh Bank 40

Indonesia, Pemerintah dan otoritas lainnya 30


Pertanian
yang difokuskan pada upaya mengendalikan Pertambangan 20
defisit Transaksi Berjalan (TB) pada level yang Total 10
aman, termasuk kebijakan untuk mendorong 2,45
0
ekspor dan menurunkan impor. Kebijakan -2,46
-2,90
-10
yang terkait dengan impor tersebut ditempuh -6,43
Manufaktur
terutama melalui diversifikasi sumber energi -20
I II III IV I II III IV I II III IV 7 8 9 10 11 12
melalui penggunaan Biodiesel 20 (B20) 2016 2017 2018 2018
dan penundaan pengerjaan proyek-proyek Sumber: Bank Indonesia
pembangkit listrik yang memiliki kandungan
impor tinggi. Grafik 2.27 Ekspor Nonmigas Riil

18 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


Pelemahan impor bersumber dari barang
modal dan barang konsumsi, sementara % yoy
60
bahan baku cenderung stabil (Grafik 50
2.28). Dari sisi barang modal, pelemahan 40

diperkirakan bersifat broad-based untuk Barang Konsumsi 30


12,7 20
keperluan infrastruktur, misalnya mesin dan 13,2 10
Bahan Baku 11,7
perlengkapan listrik, maupun non-infrastruktur 0
Total Impor 2,9
dalam bentuk alat angkut tambang. Di sisi lain, Barang Modal
-10
-20
impor bahan baku terkait dengan permintaan
-30
spare part dan peralatan untuk alat angkut I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 7 8 9 10 11 12
melambat akibat pelemahan kinerja di sektor 2015 2016 2017 2018 2018

pertambangan. Impor bahan baku untuk Sumber: Bank Indonesia

keperluan industri juga mengalami pelemahan


sesuai musiman akhir tahun. Meski demikian, Grafik 2.28 Impor Nonmigas Riil
kinerja impor bahan baku pada triwulan IV
diperkirakan masih lebih baik dari triwulan
sebelumnya untuk mendukung proses produksi
di sektor industri untuk memenuhi konsumsi
durable goods. Sementara itu, impor barang
konsumsi melambat signifikan, bersumber
dari impor makanan minuman olahan untuk
keperluan rumah tangga dan barang tahan
lama.

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA


Neraca perdagangan Indonesia Desember
2018 mengalami penurunan defisit. Neraca Miliar Dolar AS
3
perdagangan Indonesia pada Desember Nonmigas
Total 2
2018 mengalami defisit 1,1 miliar dolar AS,
1
membaik dibandingkan dengan defisit pada -0,22
bulan sebelumnya yang sebesar 2,0 miliar dolar 0

AS (Grafik 2.29). Perbaikan defisit tersebut Migas -1


bersumber dari penurunan defisit neraca -2
-0,88
perdagangan migas ditunjang peningkatan -0,10
-3
ekspor migas dan penurunan impor migas. 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
Sementara itu, defisit neraca perdagangan 2016 2017 2018

nonmigas mengalami peningkatan karena Sumber: BPS, diolah

penurunan ekspor nonmigas yang lebih besar


Grafik 2.29 Neraca Perdagangan
dari penurunan impor nonmigas. Penurunan
ekspor nonmigas didorong oleh kondisi global
yang kurang kondusif, sedangkan penurunan
impor nonmigas sejalan dengan kebijakan
yang ditempuh. Dengan perkembangan
tersebut, neraca perdagangan Indonesia secara
kumulatif Januari-Desember 2018 mencatat
defisit 8,57 miliar dolar AS.

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 19


Defisit neraca migas menurun bersumber
dari meningkatnya ekspor migas dan
menurunnya impor migas. Defisit neraca
perdagangan migas pada Desember 2018
tercatat 0,22 miliar dolar AS atau menurun
dibandingkan dengan defisit pada bulan
sebelumnya sebesar 1,50 miliar dolar
AS. Perkembangan tersebut dipengaruhi
peningkatan ekspor migas sebesar 0,38
miliar dolar AS (mtm), terutama ekspor gas
di tengah ekspor hasil minyak dan minyak
mentah yang menurun. Penurunan defisit
neraca perdagangan migas juga dipengaruhi
impor migas yang turun 0,90 miliar dolar AS
(mtm) karena penurunan harga yang disertai
volume yang juga menurun. Penurunan impor
migas terjadi baik untuk minyak mentah,
hasil minyak, maupun gas. Secara kumulatif,
neraca perdagangan migas sepanjang Januari-
Desember 2018 mengalami defisit 12,40 miliar
dolar AS.
Neraca perdagangan nonmigas mengalami
defisit yang meningkat. Neraca perdagangan
nonmigas pada Desember 2018 tercatat defisit
0,88 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan
dengan defisit pada bulan sebelumnya yang
sebesar 0,50 miliar dolar AS. Defisit tersebut
dipengaruhi penurunan ekspor nonmigas
yang melebihi penurunan impor nonmigas.
Penurunan ekspor nonmigas sebesar 1,10
miliar dolar AS (mtm) bersumber dari
penurunan ekspor beberapa komoditas antara
lain bijih, kerak, dan abu logam, serta bahan
bakar mineral. Sementara itu, penurunan
impor nonmigas sebesar 0,72 miliar dolar AS
(mtm) terutama berupa barang modal dan
bahan baku/penolong, antara lain bahan kimia
organik, plastik dan barang plastik, kendaraan
dan bagiannya, serta perhiasan/permata.
Dengan perkembangan tersebut, neraca
perdagangan nonmigas secara kumulatif
Januari-Desember 2018 masih mengalami
surplus 3,84 miliar dolar AS.

20 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


Aliran masuk modal asing kembali terjadi
pada Desember 2018 dan berlanjut pada Miliar Dolar AS
8.000
Januari 2019. Aliran masuk modal asing pada
6.000
Desember 2018 tercatat sebesar 1,9 miliar Liabilitas Investasi Portofolio
dolar AS (Grafik 2.30). Aliran modal asing Net Sektor Publik 4.000
1,9
tercatat masuk pada sektor publik, terutama 2.000
pada instrumen obligasi global. Pada Januari 0
2019, aliran masuk modal asing kembali
Net Sektor Swasta -2.000
berlanjut baik pada sektor publik maupun
swasta. Aliran modal asing masuk ke sektor -4.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1
publik terutama pada instrumen SUN Rupiah,

2019
2017 2018
sedangkan ke sektor swasta utamanya terjadi Sumber: Bank Indonesia, IDX, Bloomberg, diolah; *Data s.d. 30 Nov 2018
pada instrumen saham.
Grafik 2.30 Aliran Dana Nonresiden
Posisi cadangan devisa Indonesia
pada akhir Desember 2018 meningkat
dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi
cadangan devisa Indonesia tercatat 120,7
miliar dolar AS pada akhir Desember 2018, Miliar Dolar AS Bulan
150 9
meningkat dibandingkan dengan 117,2 miliar Cadangan Devisa
120 120,7 8
dolar AS pada akhir bulan sebelumnya (Grafik
2.31). Posisi cadangan devisa tersebut setara 90 Bulan Impor dan Pembayaran 6,5 7
dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau Utang Pemerintah (Skala kanan)
60 6
6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar
negeri pemerintah, serta berada di atas standar 30 5
kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
0 4
Peningkatan cadangan devisa pada Desember 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
2018 terutama dipengaruhi oleh penerimaan 2016 2017 2018

devisa migas, penerbitan global bonds dan Sumber: Bank Indonesia

penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.


Grafik 2.31 Perkembangan Cadangan Devisa
Bank Indonesia menilai cadangan devisa
tersebut mampu mendukung ketahanan
sektor eksternal serta menjaga stabilitas
makroekonomi dan sistem keuangan. Desember vs November 2018
ZAR -3,56 -1,11
TRY -1,46 0,82
IDR -0,54 1,16
-0,36
NILAI TUKAR RUPIAH BRL -2,57
INR -0,26 1,58
PHP - 0,23
Nilai tukar Rupiah dalam tren menguat KRW
-0,15 0,88
0,46
sehingga mendukung stabilitas harga. EUR 1,15
0,22
CNY 1,19
Rupiah pada Desember 2018 secara rerata 0,79
MYR 1,23
0,32
point-to-point 1,80
menguat sebesar 1,16%. Meskipun demikian, THB
Rata-rata
0,82
JPY 3,21
1,05
secara point to point Rupiah sedikit melemah
-6,0 -4,0 -2,0 0,0 2,0 4,0
sebesar 0,54% (Grafik 2.32). Tren penguatan %
Sumber: Bloomberg, Reuters, diolah; Data s.d. 31 Desember 2018
Rupiah berlanjut pada Januari 2019. Pada
tanggal 16 Januari 2019, nilai tukar Rupiah
Grafik 2.32 Apresiasi/Depresiasi Nilai Tukar Kawasan
ditutup pada level Rp14.123 per dolar AS, atau (Desember vs November 2018)

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 21


menguat dibandingkan nilai tukar Rupiah pada
tanggal 31 Desember 2018 sebesar Rp14.380 IDR/USD
15.500
per dolar AS (Grafik 2.33). Rata-rata nilai tukar 15.250
IDR/USD
bulanan dari awal tahun hingga tanggal 16 14.798 15.000
Januari 2019 tercatat sebesar Rp14.175 per 14.601 14.750
14.500
dolar AS, atau meningkat dibandingkan rata- 13.952
14.493 14.250
rata nilai tukar Rupiah pada Desember 2018 Rata-rata Bulanan
14.000
13.576 14.123
sebesar Rp 14.493 per dolar AS 13.750
Rata-rata Triwulanan
13.500
Penguatan Rupiah antara lain dipengaruhi 13.250
aliran masuk modal asing pada bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
2018
Desember 2018 dan berlanjut pada Januari
Sumber: Bloomberg, Reuters, diolah; Data s.d. 16 Januari 2019
2019. Berlanjutnya aliran masuk modal asing
didorong oleh faktor domestik maupun global.
Grafik 2.33 Aliran Dana Nonresiden
Dari sisi domestik, fundamental ekonomi
yang tetap baik dan stabilitas makroekonomi
yang terjaga mendorong aliran masuk modal
asing ke perekonomian domestik. Selain itu,
imbal hasil asset keuangan domestik juga
masih tetap menarik bagi investor asing.
Perekonomian domestik yang kondusif
tersebut antara lain tercermin dari inflasi yang
rendah dan terkendali pada 2018 serta rilis
posisi cadangan devisa pada akhir Desember
2018 yang meningkat dibandingkan bulan
sebelumnya. Sementara itu, dari sisi global,
sentimen positif bersumber dari ketidakpastian
pasar keuangan global sedikit mereda seiring
berkurangnya eskalasi ketegangan hubungan
dagang AS-Tiongkok.
Dengan perkembangan yang cenderung
menguat menjelang akhir tahun 2018,
Rupiah secara keseluruhan tahun tercatat
mengalami depresiasi. Rupiah secara rerata 2018 vs 2017
keseluruhan tahun 2018 tercatat mengalami TRY -28,24
-25,02
BRL -14,65
depresiasi sebesar 6,05%, atau secara ZAR
-12,76
-13,90
0,39
point to point sebesar 5,65% dibandingkan INR -8,45
-4,88
IDR -5,65
dengan level tahun sebelumnya (Grafik EUR
-6,05
-4,86
4,26
2.34). Depresiasi Rupiah secara point to point PHP -5,15
-4,31
KRW -3,92
tersebut lebih rendah dibandingkan dengan MYR -2,10
2,73
6,50
depresiasi mata uang negara lain seperti Rupee SGD point-to-point -1,92
2,30
THB rata-rata 0,67
4,91
India (8,45%), Rand Afrika Selatan (13,90%), JPY 2,41
1,54
Real Brasil (14,65%), dan Lira Turki (28,24%). -35,0 -30,0 -25,0 -20,0 -15,0 -10,0 -5,0 0,0 5,0 10,0
%
Meskipun secara keseluruhan tahun tercatat Sumber: Reuters, Bloomberg, diolah; Data s.d 31 Desember 2018
depresiasi, namun volatilitas nilai tukar Rupiah
tetap terjaga. Volatilitas nilai tukar Rupiah Grafik 2.34 Nilai Tukar Rupiah

22 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


pada tahun 2018 tercatat sebesar 8,47%,
lebih rendah dibandingkan volatilitas rata-rata %
35
negara kawasan yang sebesar 12,23% (Grafik 2017
2018 30
2.35). Rata-rata 2018
25
Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati
20
risiko ketidakpastian pasar keuangan global
15
dengan tetap melakukan langkah-langkah 12,23

stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya 10

dengan tetap mendorong berjalannya 5


mekanisme pasar, dan mendukung upaya- 0
upaya pengembangan pasar keuangan. TRY ZAR BRL INR KRW IDR THB PHP MYR SGD
Sumber: Reuters, Bloomberg, diolah; Data s.d 31 Desember 2018

INFLASI Grafik 2.35 Volatilitas Nilai Tukar Kawasan

Inflasi tetap terkendali hingga akhir 2018


dan berada dalam kisaran sasaran 3,5±1%.
Realisasi inflasi pada Desember 2018 sebesar
0,62% (mtm), meningkat dibandingkan
dengan bulan sebelumnya yang sebesar
0,27% (mtm). Peningkatan tersebut terutama
dipengaruhi oleh inflasi kelompok volatile
food dan administered prices, di tengah
rendahnya inflasi inti. Dengan perkembangan
tersebut, secara tahunan inflasi tahunan
2018 tercatat sebesar 3,13% atau berada
dalam kisaran sasarannya selama empat
tahun terakhir. Realisasi tersebut bahkan lebih
rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang
sebesar 3,61% dan rata-rata inflasi dalam 3
tahun terakhir sebesar 3,33% (Grafik 2.36).
Inflasi yang terkendali dipengaruhi inflasi
inti tercatat stabil didukung terjangkarnya
ekspektasi inflasi. Inflasi volatile food juga
terkendali ditunjang pasokan yang terjaga dan % yoy
20
penurunan harga pangan global. Sementara
16
itu, inflasi administered prices tercatat rendah
Administered Prices 12
sejalan dengan minimalnya kebijakan tarif/ Volatile Food
harga barang dan jasa yang diatur pemerintah. 3,39 8
3,36
Ke depan, Bank Indonesia terus konsisten 4
menjaga stabilitas harga dan memperkuat 0
IHK Inti 3,13
koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, 3,07
-4
baik di tingkat pusat maupun daerah, guna 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12

memastikan inflasi tetap rendah dan stabil, 2015 2016 2017 2018

yang pada 2019 diprakirakan berada dalam Sumber: BPS, diolah

sasaran inflasi sebesar 3,5±1%.


Grafik 2.36 Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy)

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 23


Pada bulan Desember 2018, inflasi
kelompok volatile food mengalami % mtm % yoy
12 12
peningkatan dibandingkan dengan
10 10
bulan sebelumnya. Kelompok volatile food
8 Volatile food (yoy) 8
mencatat inflasi 1,55% (mtm), lebih tinggi -skala kanan
6 6
dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang 3,39
4 4
sebesar 0,23% (mtm) – (Grafik 2.37). Kendati Volatile food (mtm)
2 1,55 2
demikian, realisasi inflasi tersebut lebih rendah
0 0
dibandingkan dengan rata-rata historis inflasi
-2 -2
pada Desember selama tiga tahun terakhir 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
yang sebesar 2,15% (mtm). Inflasi volatile 2015 2016 2017 2018
food pada bulan Desember 2018 terutama Sumber: BPS, diolah
bersumber dari komoditas telur ayam ras,
daging ayam ras, bawang merah, dan beras Grafik 2.37 Perkembangan Inflasi Volatile Food
(Tabel 2.2). Peningkatan harga telur ayam ras
dan daging ayam ras sesuai dengan polanya
pada akhir tahun dan kenaikan harga pakan.
Kenaikan harga bawang merah terjadi seiring Tabel 2.2 Penyumbang Inflasi/Deflasi Komoditas Volatile Food
musim penghujan. Sementara itu, peningkatan
Komoditas VF Inflasi/Deflasi Sumbangan
inflasi beras pada bulan ini disebabkan oleh (% mtm) (%)
kenaikan harga gabah di tingkat petani dan Telur Ayam Ras 12,19 0,08
penggilingan seiring dengan memasukinya Daging Ayam Ras 5,15 0,06
Bawang Merah 10,11 0,05
musim tanam utama. Secara tahunan, inflasi Beras 0,82 0,03
kelompok volatile food tercatat sebesar 3,39% Wortel 11,63 0,01
(yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan Tomat Sayur 3,89 0,01
Bayam 3,11 0,01
sebelumnya sebesar 4,32% (yoy), naun lebih Jeruk 1,25 0,01
tinggi dari tahun 2017 sebesar 0,71% (yoy). Cabai Rawit 3,73 0,01
Cabai Merah -4,5 -0,03
Inflasi administered prices mengalami Sumber: BPS, diolah
peningkatan. Inflasi kelompok administered
prices pada Desember 2018 tercatat sebesar
1,20% (mtm), lebih tinggi dibandingkan
dengan inflasi bulan lalu sebesar 0,52%
(mtm) ataupun bila dibandingkan dengan % mtm %yoy
5 14
pola historisnya sebesar 0,91% (mtm) - (Grafik
4 Administered Prices (%, mtm) 12
2.38). Inflasi kelompok administered prices 3 10
pada bulan Desember 2018 dipengaruhi oleh 2 8
1,20
pola musiman akhir tahun terkait kenaikan 1 6
tarif angkutan udara, kereta api, dan angkutan 0 4
-1 3,38 2
antar kota seiring peningkatan permintaan
-2 0
pada saat Natal dan Tahun Baru (Tabel 2.3). -3 -2
Administered Prices (%, yoy) - Skala Kanan
Inflasi tarif angkutan udara dan kereta api -4 -4
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
pada bulan ini bahkan di atas historisnya. Di
2015 2016 2017 2018
samping itu, kenaikan inflasi administered
Sumber: BPS, diolah
prices pada Desember 2018 juga dipengaruhi
oleh inflasi rokok kretek filter. Dengan Grafik 2.38 Perkembangan Inflasi Administered Prices

24 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


perkembangan tersebut, inflasi tahunan Tabel 2.3 Penyumbang Inflasi/Deflasi Administered Prices
kelompok administered prices tercatat sebesar
Komoditas AP Inflasi/Deflasi Sumbangan
3,36% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya (% mtm) (%)
sebesar 3,07% (yoy), namun lebih rendah dari Angkutan Udara 19,14 0,20
akhir tahun 2017 sebesar 8,70% (yoy). Tarip Kereta Api 14,98 0,03
Angkutan Antar Kota 0,91 0,01
Inflasi inti tetap terkendali. Infasi inti pada Rokok Kretek Filter 0,25 0,01
Sumber: BPS, diolah
Desember 2018 tercatat sebesar 0,17%
(mtm), lebih rendah dibandingkan dengan
inflasi bulan lalu sebesar 0,22% (mtm) dan
historisnya 0,20% (mtm). Inflasi inti pada
Desember 2018 terutama bersumber dari
komoditas air kemasan, nasi dengan lauk,
kontrak rumah, dan besi beton. Secara
tahunan, inflasi inti tercatat 3,07% (yoy),
meningkat dibandingkan inflasi bulan lalu
yang sebesar 3,03% (yoy). Peningkatan inflasi
inti terutama didorong oleh kenaikan inflasi
inti traded di tengah penurunan inflasi inti % yoy
7
non-traded (Grafik 2.39). Terkendalinya inflasi
6
inti hingga Desember 2018 tidak terlepas dari
5
konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam Inti Non Traded
3,08 4
mengarahkan ekspektasi inflasi serta menjaga Inti 3,07
3
pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya. 2,91 2
Inti Traded
Terjangkarnya ekspektasi inflasi tercermin dari
1
hasil survei Consensus Forecast (CF) bulan
0
Desember 2018 yang memperkirakan inflasi 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
2015 2016 2017 2018
tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi
(Grafik 2.40). Sumber: BPS, diolah

Secara spasial, terkendalinya inflasi dalam Grafik 2.39 Inflasi Inti Traded dan Non-traded
sasarannya didukung oleh perkembangan
inflasi di seluruh provinsi. Inflasi di berbagai
daerah pada Desember 2018 dipengaruhi
oleh inflasi angkutan udara, telur dan daging
ayam ras, serta bawang merah. Inflasi tertinggi
pada bulan Desember 2018 terjadi di Provinsi %yoy
Nusa Tenggara Timur (1,84%) dan Kalimantan 6,0

Utara (1,60%). Secara tahunan, hampir 5,5

seluruh provinsi mencatat inflasi di kisaran 5,0


Ekspektasi Inflasi
sasaran 3,5±1% - (Gambar 1). Inflasi terendah 2017 4,5
Ekspektasi Inflasi Ekspektasi Inflasi
berturut-turut terjadi di Sumatera (2,40%, 2018 2019 4,0
yoy), Bali-Nusa Tenggara (3,13%, yoy), dan 3,70
3,50
Jawa (3,24%, yoy). Beberapa daerah yang 3,30 3,5
3,0
mencatat inflasi lebih tinggi adalah Sulawesi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1
Tengah, Papua, Papua Barat, Kalimantan
2019

2017 2018
Utara, dan Kalimantan Tengah antara lain Sumber: Consensus Forecast
karena tingginya inflasi angkutan udara dan
Grafik 2.40 Ekspektasi Inflasi
ikan segar.

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 25


SUMATERA KALIMANTAN SULAWESI
Aceh 1,84 Kepri 3,47 Kalbar 3,85 Gorontalo 2,15
Sumut 1,22 Bengkulu 2,35 Kalsel 2,63 Sulut 3,83
Riau 2,45 Kep.Babel 3,19 Kaltim 3,24 Sulteng 6,46
Sumbar 2,60 Sumsel 2,74 Kalteng 4,52 Sulbar 1,80
Lampung 2,73 Jambi 2,97 Kaltara 5,00 Sulsel 3,50
Sultra 2,65

INFLASI NASIONAL
Desember 2018 : 3,13% (yoy)

Inf ≥ 4,5%
3,5% ≤ Inf <4,5% JAWA BALI-NUSA TENGGARA MALUKU-PAPUA
Banten 3,42
2,5% ≤ Inf <3,5% Jakarta 3,27 Maluku 3,35
Jawa Barat 3,54 Bali 3,13 Maluku Utara 4,12
Inf < 2,5% Jawa Tengah 2,82 NTB 3,17 Papua 6,36
Jawa Timur 2,86 NTT 3,07 Papua Barat 5,21
Sumber: BPS, diolah Yogyakarta 2,66

Gambar 2.1 Peta Inflasi Daerah Desember 2018 (%,yoy)

PASAR KEUANGAN
Transmisi kebijakan moneter melalui
jalur suku bunga masih berlangsung.
Transmisi tersebut terutama berlangsung di
Pasar Uang Antar Bank (PUAB), sebagaimana
tercermin dari suku bunga PUAB O/N yang
bergerak meningkat dan mendekati suku
bunga kebijakan BI-7DRR. Transmisi kebijakan
moneter juga berlangsung dengan baik pada
kenaikan suku bunga deposito, sedangkan
kenaikan suku bunga kredit masih terbatas.
Likuiditas perbankan tetap memadai untuk
memenuhi peningkatan kebutuhan pada akhir
tahun. Sementara itu, likuiditas perekonomian
atau uang beredar dalam arti luas (M2)
melambat dipengaruhi oleh penurunan
aktiva luar negeri bersih dan perlambatan
pertumbuhan aktiva dalam negeri bersih.
Secara keseluruhan, stabilitas sistem keuangan
tetap terjaga disertai fungsi intermediasi yang
tetap baik dan risiko kredit yang terkendali.

26 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


Transmisi Suku Bunga
%
Transmisi suku bunga kebijakan BI-7DRR 8,25
7,75
tercermin pada suku bunga PUAB O/N
7,25
yang bergerak meningkat dan semakin LF Rate
6,75
mendekati suku bunga kebijakan BI- BI Rate
6,25
BI 7-Day RR
7DRR (Grafik 2.41). Rata-rata harian (RRH) (Setelah 19/08/16) 5,75
suku bunga PUAB O/N pada Desember 2018 Suku Bunga PUAB O/N
5,25
4,75
meningkat 6 bps menjadi 5,80% dari bulan
DF Rate 4,25
sebelumnya 5,74%. Peningkatan suku bunga
3,75
PUAB O/N merespons kenaikan suku bunga 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
kebijakan BI-7DRR yang berlangsung sejak 2016 2017 2018

Mei 2018. Peningkatan tersebut mendorong Sumber: Bank Indonesia

rata-rata spread antara BI-7DRR dengan suku


Grafik 2.41 Suku Bunga Kebijakan dan PUAB O/N
bunga PUAB O/N tetap rendah sebesar 20 bps
pada Desember 2018.
Volatilitas suku bunga PUAB O/N tetap
terjaga ditopang oleh ketersediaan
likuiditas yang memadai. Hal ini tercermin
dari spread antara RRH suku bunga PUAB O/N
tertinggi dengan terendah pada Desember
2018 yang stabil sebesar 28 bps dibandingkan
spread pada bulan sebelumnya (Grafik 2.42).
Volatilitas suku bunga PUAB O/N yang terkendali
didukung oleh likuiditas yang terjaga tercermin
dari RRH volume PUAB pada Desember 2018
yang mencapai Rp16,6 triliun. Ketersediaan
likuiditas tersebut memadai untuk memenuhi
peningkatan kebutuhan likuiditas menjelang
akhir tahun. Risiko keketatan likuiditas pada
akhir tahun 2018 dapat termitigasi dengan
adanya kebijakan untuk meningkatkan
fleksibilitas dan distribusi likuiditas di
perbankan. Bank Indonesia menaikkan porsi
% Rp Triliun
pemenuhan GWM Rupiah Rerata (konvensional 11 30
dan syariah) dari 2% menjadi 3% yang berlaku 10
Vol PUAB (Skala kanan) 25
efektif pada 1 Desember 2018. Selain itu, Bank 9
Vol PUAB O/N (Skala kanan) 20
Indonesia juga meningkatkan rasio Penyangga 8
7 15
Likuiditas Makroprudensial/PLM (konvensional
6
dan syariah) yang dapat direpokan ke Bank 10
5
Indonesia dari 2% menjadi 4% yang berlaku 5
4
efektif pada 30 November 2018. Suku Bunga PUAB O/N
3 0
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
Suku bunga deposito terus meningkat
2016 2017 2018
sebagai respons dari kenaikan suku bunga Sumber: Bank Indonesia
kebijakan BI-7DRR. Rata-rata tertimbang
(RRT) suku bunga deposito pada November Grafik 2.42 Suku Bunga dan Volume PUAB O/N

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 27


2018 meningkat 15 bps (mtm) menjadi 6,65%
(Grafik 2.43). Kenaikan suku bunga deposito % %
terjadi pada semua tenor dengan kenaikan 16 8
RRT Suku Bunga Kredit Spread Skb Kredit - Deposito 7
tertinggi terjadi pada tenor 1 bulan, 3 bulan 14
(skala kanan)
6
dan 6 bulan, yaitu masing-masing meningkat 12
5
16 bps, 17 bps dan 16 bps. Berdasarkan 10
4
kelompok bank, Bank Umum Kegiatan 8
3
Usaha (BUKU) 3 mengalami kenaikan suku 6 2
RRT Suku Bunga Deposito
bunga deposito tertinggi yakni mencapai 21 4 1
bps (mtm) pada November 2018. Dengan 2 0
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
perkembangan tersebut, kenaikan suku bunga
2015 2016 2017 2018
deposito secara kumulatif telah mencapai 85
Sumber: Bank Indonesia
bps sejak kenaikan suku bunga kebijakan BI-
7DRR pada Mei 2018. Grafik 2.43 Selisih Suku Bunga Perbankan

Transmisi kenaikan suku bunga kebijakan


BI-7DRR diikuti kenaikan suku bunga kredit
secara terbatas. RRT suku bunga kredit pada
November 2018 hanya meningkat 2 bps (mtm) %
15
menjadi 10,93% (Grafik 2.44). Kenaikan suku
bunga kredit yang terbatas tersebut lebih 14
Suku Bunga KK
dipengaruhi oleh kredit investasi yang sudah 13
mengalami kenaikan 13 bps (mtm) pada
RRT Suku Bunga Kredit
November 2018. Sementara itu, suku bunga 12
Suku Bunga KI
kredit konsumsi (KK) mengalami penurunan 11
Suku Bunga KMK
3 bps (mtm). Suku bunga kredit modal kerja
10
(KMK) juga masih relatif stabil dibandingkan 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
bulan sebelumnya. Berdasarkan kelompok 2015 2016 2017 2018
bank, peningkatan suku bunga kredit yang Sumber: Bank Indonesia
masih terbatas terlihat pada kelompok
Grafik 2.44 Suku Bunga Kredit Jenis Penggunaan
bank BUKU 2, BUKU 3 dan BUKU 4. Hanya
kelompok BUKU 1 yang tercatat mengalami
penurunan suku bunga kredit sebesar 2 bps
(mtm).Transmisi suku kebijakan ke suku bunga
kredit yang lebih lambat dibandingkan ke suku
bunga deposito menyebabkan spread suku
bunga kredit-deposito menyempit menjadi
428 bps pada November 2018, dibandingkan
spread pada bulan sebelumnya yang sebesar
441 bps. Dengan perkembangan tersebut,
secara kumulatif suku bunga kredit mengalami
penurunan sebesar 15 bps sejak periode
kenaikan BI-7DRR pada Mei 2018.

28 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


Likuiditas Perekonomian
% yoy
Likuiditas perekonomian atau uang 20
beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 18
16
melambat. Posisi M2 pada November 2018 M1 14
sebesar Rp5.670,0 triliun atau tumbuh 6,6% M2 12
(yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10
8
pada bulan sebelumnya yang sebesar 6
Kuasi
7,2% (yoy) – (Grafik 2.45). Perlambatan 4
2
pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh uang
0
kuasi dan M1 yang tumbuh melambat. Uang 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11
kuasi tumbuh melambat pada November 2018 2015 2016 2017 2018
menjadi 7,1% (yoy) dari bulan sebelumnya Sumber: Bank Indonesia

yang tumbuh 7,6% (yoy), sejalan dengan


Grafik 2.45 Uang Beredar M2
perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga
(DPK). Sementara itu, perlambatan M1 dari
semula tumbuh 6,3% (yoy) pada bulan
sebelumnya menjadi 5,0% (yoy) dipengaruhi
oleh perlambatan pada seluruh komponennya
yakni simpanan giro rupiah dan uang kartal.
Berdasarkan faktor-faktor yang
memengaruhi, perlambatan pertumbuhan
M2 dipengaruhi oleh penurunan aktiva
luar negeri bersih (Net Foreign Assets)
dan perlambatan pertumbuhan aktiva
% yoy
dalam negeri bersih (Net Domestic 30
Assets). Aktiva luar negeri bersih pada 25
November 2018 mengalami penurunan yang NFA
20
lebih dalam menjadi -2,4% (yoy) dibandingkan 15
M2
penurunan pada bulan sebelumnya sebesar 10
-0,7% (yoy) – (Grafik 2.46). Sementara itu, 5
NDA
aktiva dalam negeri bersih pada November 0
2018 juga tumbuh melambat menjadi 10,0% -5
(yoy), dibandingkan pertumbuhan pada bulan -10
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11
sebelumnya sebesar 10,4% (yoy). Perlambatan 2015 2016 2017 2018
tersebut dipengaruhi oleh kontraksi operasi Sumber: Bank Indonesia
keuangan pemerintah serta pertumbuhan
Grafik 2.46 Faktor yang Memengaruhi M2
kredit yang sedikit melambat.

Intermediasi Perbankan
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga
disertai fungsi intermediasi yang tetap
baik dan risiko kredit yang terkendali.
Stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga
tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 29


Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang tetap
tinggi mencapai 23,3% dan rasio likuiditas (AL/ %
26
DPK) yang masih aman yakni sebesar 20,1%
CAR 24
pada November 2018 (Grafik 2.47). Selain itu,
22
rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/
20
NPL) tetap rendah yaitu sebesar 2,7% (gross) AL/DPK
18
atau 1,2% (net). Fungsi intermediasi perbankan
yang tetap baik tercermin dari penyaluran kredit 16

perbankan yang tetap tumbuh pada level yang 14

tinggi, meskipun melambat. Pertumbuhan 12


1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11
kredit pada November 2018 tercatat 12,1% 2015 2016 2017 2018
(yoy), melambat dibandingkan dengan Sumber: Bank Indonesia
pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar
13,3% (yoy) – (Grafik 2.48). Berdasarkan Grafik 2.47 Rasio Kecukupan Modal dan Rasio Likuiditas
jenis penggunaan, perlambatan pertumbuhan
kredit bersumber terutama dari kredit investasi
(KI) dan kredit modal kerja (KMK) yang
tumbuh masing-masing menjadi 9,8% (yoy) % yoy
20
dan 13,7% (yoy) pada November 2018, lebih 18
rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang 16
14
tumbuh sebesar 13,6% (yoy) dan 14,3% (yoy). KI KK 12
KMK
Sementara itu, kredit konsumsi (KK) relatif 10
8
stabil meski sedikit melambat dari tumbuh
6
11,5% (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 4
Total Kredit
11,3% (yoy) pada November 2018. 2
0
Berdasarkan sektor ekonomi, perlambatan 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11
2015 2016 2017 2018
pertumbuhan kredit terutama bersumber
Sumber: Bank Indonesia
dari penyaluran kredit ke sektor yang
memiliki pangsa terbesar seperti sektor Grafik 2.48 Kredit Menurut Penggunaan
industri dan perdagangan. Penyaluran kredit
ke sektor perdagangan tumbuh melambat
dari sebelumnya tumbuh 10,4% (yoy) pada
bulan sebelumnya menjadi 9,6% (yoy) pada
Total 13,3
12,1
November 2018 (Grafik 2.49). Perlambatan Listrik 27,0
17,2
tersebut sejalan dengan aktivitas perdagangan Pertambangan 23,5
26,5

Jasa Sosial 16,6


ekspor yang melambat akibat permintaan 12,2
14,8
Okt-18
Jasa Dunia Usaha 13,0
dunia yang melandai dan harga komoditas 14,7 Nov-18
Pertanian 10,5
Konstruksi 22,6
ekspor Indonesia yang menurun. Sementara 21,7
Pengangkutan 21,4
itu, penyaluran kredit di sektor industri juga Industri 10,9
20,2
8,7
tumbuh lebih rendah pada November 2018 Lain-lain 11,4
11,3
Perdagangan 10,4
menjadi 8,7% (yoy), dari pertumbuhan bulan 9,6
-10 -5 0 5 10 15 20 25 30
sebelumnya sebesar 10,9% (yoy) seiring % yoy
Sumber: Bank Indonesia
perlambatan pada investasi nonbangunan.
Perlambatan pertumbuhan kredit dapat
tertahan oleh penyaluran di sektor lain- Grafik 2.49 Kredit Menurut Sektor Ekonomi

30 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


lain (konsumsi rumah tangga) yang masih
tumbuh tinggi dan penyaluran kredit di sektor % yoy
30
jasa dunia usaha yang tumbuh meningkat.
25
Pertumbuhan kredit di sektor lain-lain tumbuh
Giro 20
mencapai 11,3% (yoy) pada November 2018, Tabungan
Deposito 15
relatif stabil dibandingkan pertumbuhan pada
10
bulan sebelumnya yang sebesar 11,4% (yoy)
5
ditopang oleh konsumsi swasta yang tetap
Total DPK 0
tumbuh kuat.
-5
Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11
2015 2016 2017 2018
tumbuh melambat di tengah kenaikan
Sumber: Bank Indonesia
suku bunga. DPK perbankan pada November
2018 tumbuh 7,2% (yoy), lebih rendah Grafik 2.50 Dana Pihak Ketiga
dibandingkan pertumbuhan pada bulan
sebelumnya yang sebesar 7,6% (yoy) – (Grafik
2.50). Perlambatan tersebut terjadi di tengah
berlangsungnya transmisi kenaikan suku
bunga kebijakan BI-7DRR terhadap kenaikan
suku bunga simpanan. Pertumbuhan DPK yang
melambat terutama terjadi pada tabungan
dan deposito yang tumbuh masing-masing
menjadi 7,9% (yoy) dan 4,3% (yoy), lebih
rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh
masing-masing sebesar 10,1% (yoy) dan
4,7% (yoy). Beradasarkan valuta, perlambatan
pertumbuhan DPK disebabkan oleh DPK
rupiah yang tumbuh melambat terutama milik
nasabah perorangan dan korporasi. Dengan
perkembangan tersebut, Bank Indonesia
memprakirakan pertumbuhan kredit pada
2019 berada dalam kisaran 10-12% (yoy),
sementara pertumbuhan DPK diprakirakan
sekitar 8-10% (yoy).

Pembiayaan NonPerbankan
Pembiayaan ekonomi dari nonperbankan
hingga November 2018 menunjukkan
pencapaian lebih rendah dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya.
Pembiayaan ekonomi melalui pasar modal,
penerbitan saham (IPO dan rights issue),
obligasi korporasi, Medium Term Notes
(MTN), dan Negotiable Certificate of Deposit
(NCD) selama Januari s.d. November 2018

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 31


tercatat Rp197,1 triliun (gross), lebih rendah
dibandingkan dengan periode yang sama
pada 2017 sebesar Rp276,9 triliun (gross). Hal
tersebut dipengaruhi oleh peningkatan cost of
fund akibat yield Surat Berharga Negara (SBN)
yang masih berada pada level tinggi, serta
transmisi kenaikan suku bunga kebijakan BI-
7DRR yang berlangsung lebih cepat di pasar
modal. Cost of fund yang tinggi tersebut pada
gilirannya menyebabkan sebagian korporasi
menahan penggunaan pembiayaan yang
bersumber dari pasar modal untuk melakukan
ekspansi usaha. Sementara itu, pembiayaan
melalui kredit perbankan masih menawarkan
pricing yang lebih kompetitif.

Pasar Saham
Indeks Rp Triliun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 7000 20
Net Jual/Beli Asing (skala kanan)
15
menunjukkan kinerja yang baik ditunjang 6500 IHSG 10
sentimen positif dari eksternal dan 6000 5
domestik. IHSG pada akhir Desember 2018 0
5500
menunjukkan peningkatan sebesar 2,3% -5
(mtm) menjadi berada pada level 6.194,50 5000 -10
-15
(Grafik 2.51). Penguatan IHSG pada Desember 4500
-20
2018 dipengaruhi tekanan eksternal yang 4000 -25
sedikit mereda ditengah kondisi fundamental 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
2016 2017 2018
makroekonomi domestik yang tetap terjaga
Sumber: BEI, diolah
baik. Dari sisi eksternal, kinerja positif IHSG
dipengaruhi oleh ketidakpastian keuangan Grafik 2.51 IHSG dan Net Jual/Beli Asing
yang sedikit mereda seiring dengan kenaikan
FFR yang akan lebih gradual dan menurunnya
ketegangan hubungan dagang AS dengan
Tiongkok. Sementara dari sisi domestik, %
100
sentimen positif berasal dari pertumbuhan 90
ekonomi pada triwulan IV 2018 yang Nonresiden 80
70
diprakirakan tetap kuat ditopang oleh
60
konsumsi. Optimisime tersebut mendorong 50
investor domestik aktif melakukan transaksi Residen 40
30
di pasar saham sehingga porsi kepemilikannya
20
menjadi cukup dominan pada Desember 2018, 10
yaitu mencapai 71,3% (Grafik 2.52). 0
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
Kinerja pasar saham domestik lebih baik 2016 2017 2018
dibandingkan dengan sebagian besar Sumber: Bloomberg, diolah
negara peers di kawasan Asia. Penguatan Grafik 2.52 Porsi Kepemilikan Saham Asing

32 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


IHSG pada Desember 2018 lebih baik
dibandingkan penguatan indeks saham yang Filipina 1,3
India -0,3
berlangsung di Filipina dan Malaysia (Grafik Thailand -4,7
2.53). Perkembangan indeks saham di negara Vietnam -3,7
Singapura -2,1
peers lainnya seperti Thailand, Vietnam dan Jepang -10,5
Singapura mengalami koreksi pada Desember Hong Kong -3,8
Malaysia 0,7
2018. Koreksi tersebut dipengaruhi oleh -3,6
China
masih terdapatnya persepsi risiko dari dampak Inggris -3,5
penurunan volume perdagangan dunia ke Amerika Serikat -9,7
Indonesia 2,3
negara-negara dengan pangsa ekspor-impor -15 -10 -5 0 5
terhadap ekonomi yang cukup dominan. % mtm
Sumber: BEI dan Bloomberg, diolah; Data s.d. Desember 2018
Sementara perkembangan indeks saham di
Jepang, Tiongkok dan India juga mengalami
Grafik 2.53 IHSG dan Indeks Bursa Global
koreksi seiring dengan investor yang
memandang adanya risiko yang terjadi pada
ekonomi negara-negara tersebut, antara lain
pertumbuhan ekonomi Jepang dan Tiongkok
yang diperkirakan melambat, serta defisit
neraca perdagangan India yang melebar.
Penguatan IHSG didorong oleh
peningkatan indeks di sebagian besar
sektor. Peningkatan indeks harga saham
tertinggi pada Desember 2018 berlangsung
di sektor pertanian dan industri dasar (Grafik
2.54). Peningkatan indeks saham sektor
pertanian antara lain dipengaruhi oleh
sentimen positif dari kebijakan penghapusan
tarif pungutan ekspor produk sawit oleh
Pemerintah pada awal Desember 2018. Properti 1,7
Kebijakan tersebut ditujukan sebagai insentif Pertanian 6,5
bagi eksportir di tengah harga komoditas Perdagangan -0,5
Konsumsi 4,5
dunia yang sedang menurun. Sementara itu,
Aneka Industri -2,2
penguatan indeks harga di sektor industri dasar Industri Dasar 6,2
dipengaruhi oleh permintaan domestik yang Keuangan 0,8
masih kuat dan persepsi pelaku usaha yang Pertambangan 3,8
masih optimis terhadap prospek investasi ke Infrastruktur 3,2
IHSG 2,3
depan. Penguatan IHSG juga dipengaruhi oleh
-5 0 5 10
kinerja indeks saham di sektor konsumsi yang % mtm
Sumber: BEI; Data s.d.Desember 2018
membaik sejalan dengan keyakinan konsumen
yang meningkat serta dampak positif dari
persiapan Pemilu 2019. Grafik 2.54 Indeks Sektoral

Bank Indonesia Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 33


Pasar Surat Berharga Negara (SBN)
% Rp Triliun
Yield SBN kembali mengalami kenaikan 10 40
9 Yield SBN 10 Tahun
setelah pada bulan sebelumnya mengalami 30
8
penurunan. Yield SBN benchmark 10 tahun 7 20
pada Desember 2018 mengalami kenaikan 15 6 10
5
bps menjadi 8,02%, meningkat dibandingkan 0
4
pada bulan sebelumnya sebesar 7,87% (Grafik 3 -10
2.55). Kenaikan yield SBN tersebut dipengaruhi 2
-20
1 Net Jual/Beli Asing (skala kanan)
oleh persepsi investor yang memandang
0 -30
prospek ketidakpastian global masih akan 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
tetap tinggi meskipun telah terkoreksi seiring 2016 2017 2018

dengan penyesuaian kebijakan bank sentral AS Sumber: Bloomberg, diolah

yang lebih less hawkish. Di sisi lain, yield yang Grafik 2.55 SBN dan Net Jual/Beli Asing
berada pada level tinggi menjadikan instrumen
SBN relatif atraktif bagi investor nonresiden
dibandingkan negara berkembang lainnya.
Sepanjang Januari hingga Desember 2018, Rp Triliun %
investor nonresiden secara kumulatif mencatat 3000 45
Pangsa Asing (skala kanan) 40
net beli sebesar Rp57,1 triliun. Dengan 2500
Total SBN 35
perkembangan tersebut, kepemilikan asing di 2000 30
SBN pada Desember 2018 masih cukup terjaga 25
1500
yaitu sebesar 36,7% (Grafik 2.56). 20
1000 15
Total Asing 10
500
5
0 0
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 12
2016 2017 2018
Sumber: Bloomberg, diolah

Grafik 2.56 Kepemilikan SBN

34 Tinjauan Kebijakan Moneter Januari 2019 Bank Indonesia


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Divisi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan Moneter
Grup Kebijakan Moneter
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter

Telp : +62 21 2981 6836/5919


Fax : +62 21 345 2489
Email : gkm_komunikasi@bi.go.id
Website : http://www.bi.go.id