Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

UJI BIOAKTIVITAS EKSTRAK Padina australis DARI PESISIR


PANTAI MOLAS SULAWESI UTARA TERHADAP BAKTERI
Staphylococcus epidermidis
(Bioactivity Test of Padina australis Extract Obtained from Molas Coast of North
Sulawesi, Against Bacterium Staphylococcus epidermidis)

Nur Alfan Muhammad Zen1*, Edwin de Queljoe1, Marina Singkoh1

1. Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam
Ratulangi, Manado
*e-mail : alfanmzen30@gmail.com

The aim of this research was to know the bioactivity of Padina australis extract obtained
from Molas Coast North Sulawesi against bacterium Staphylococcus epidermidis. The method
for the test was MIC Test (Minimum Inhibitory Concentration) and MBC Test (Minimum
Bactericidal Concentration). The testing was analyzed with complete randomized design with
five treatments namely concentration of 30%, 60%, 90%, negative control (CMC 1%) and
positive control (cotrimoksazole). Determination of MIC value with turbidity analysis was using
spectrophotometer (ƛ630 nm) while the value of MBC was with pour plate method. Data of MBC
test was analyzed with one way ANOVA and Tukey Test. MIC of P. australis extract on S.
epidermidis is on concentration of 90%. The results of statistical analysis one way ANOVA, of
the MBC test showed a significant differrence between the extract with colonies total grown on
NA media. Tukey test showed that the extract of P. australis performed best bioactivity against
S. epidermidis was on concentration of 90%

Keywords : Padina australis, Staphylococcus epidermidis, bioactivity

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bioaktivitas ekstrak P. australis terhadap


bakteri S. epidermidis. Metode yang digunakan dalam uji bioaktivitas adalah uji Minimum
Inhibitory Concentration (MIC) dan uji Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Pengujian
bioaktivitas dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan yaitu seri konsentrasi ekstrak 30%, 60%, 90%, kontrol negatif (CMC 1%) dan kontrol
positif (cotrimoksazole). Penentuan nilai MIC dengan analisis kekeruhan menggunakan
spektrofotometer (ƛ630 nm) sedangkan nilai MBC dengan metode pour plate. Data hasil uji
MBC dianalisis menggunakan ANOVA one way kemudian dilanjutkan dengan Uji Tukey. Hasil
penelitian ini menunjukkan nilai MIC (Kadar Hambat Minimal) adalah konsentrasi 90%. Hasil
analisa statistika ANOVA one way data uji MBC menunjukkan terdapat perbedaan yang
signifikan antara pemberian ekstrak dengan total koloni yang tumbuh pada media NA. Uji Tukey
menunjukkan bahwa ekstrak P. australis yang menunjukkan bioaktivitas terbaik terhadap S.
epidermidis adalah konsentrasi 90% dengan selisih 631 koloni dengan konsentrasi 60% dan
658 koloni dengan konsentrasi 30%. Total koloni yang tumbuh pada media NA dengan
perlakuan konsentrasi ekstrak 90% adalah 31 koloni. Ekstrak etanol Padina australis memiliki
bioaktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. epidermidis. Nilai MIC ekstrak P.
australis terhadap bakteri S. epidermidis adalah konsentrasi 90%. Nilai MBC tidak diketahui
dikarenakan pada pengujian lanjut (MBC) konsentrasi yang menunjukkan nilai MIC merupakan
konsentrasi tertinggi yaitu 90% masih ditemukan koloni bakteri yang tumbuh pada media NA.

Kata Kunci : Padina australis, Staphylococcus epidermidis, bioaktivitas

34
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

PENDAHULUAN S. epidermidis. Bioaktivitas dari ekstrak


P. australis diketahui berdasarkan hasil
Kelautan yang meliputi hampir uji MIC (Minimum Inhibitory
70% dari seluruh luas permukaan bumi Concentration) dan uji MBC (Minimum
khususnya Indonesia yang dikenal Bactericidal Concentration).
dunia sebagai negara bahari
merepresentasikan sumber terbaik bagi
kekayaan bahan alam planet ini. METODE PENELITIAN
Berbagai literatur telah mengemukakan
bahwa banyak hasil bahan alam Penelitian ini dilaksanakan pada
kelautan yang mempunyai bioaktivitas bulan Agustus hingga Oktober 2015.
antitumor (Kamiya et al., 1987), antiviral Pengambilan sampel di Pesisir Pantai
(Rinehart et al., 1993), komponen Molas Kecamatan Bunaken Kota
sitotoksik (Schmitz et al., 1993), dan Manado Sulawesi Utara. Uji bioaktivitas
lain-lain. Studi-studi tersebut telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi
memperlihatkan bahwa lingkungan Farmasi FMIPA UNSRAT Manado.
kelautan merupakan sumber yang kaya Bahan-bahan yang digunakan dalam
akan komponen bioaktif, diantaranya penelitian ini adalah MERCK® Nutrient
banyak memiliki struktur kimiawi yang Agar (NA), MERCK® Nutrient Broth,
tidak ditemukan di lingkungan terestrial etanol 95%, CMC, sampel segar
(Jadulco, 2002). P. australis Hauck, aluminium foil, kertas
Alga (seaweed) adalah bagian whatman No. 1, kain kasa dan kapas
terbesar dari Kingdom Plantae yang steril, CMC, akuades steril, NaCl 0,9%,
hidup di laut, dimana secara morfologi H2SO4 1%, dan BaCl 1%.
dapat dikelompokkan ke dalam Sampel segar P. australis Hauck
golongan tumbuhan (Thallophyta) yang berasal dari pesisir Pantai Molas
karena tidak memiliki perbedaan Kecamatan Bunaken Kota Manado yang
susunan kerangka seperti akar, batang, telah diambil dibersihkan dari
dan daun (Aslan, 1998). Riset mengenai substratnya dan dicuci hingga bersih.
alga sebagai bahan sediaan farmasetika Sampel dipotong-potong kecil kemudian
telah dilakukan pada beberapa tempat digerus. Sampel yang telah digerus
di wilayah Sulawesi Utara diantaranya di selanjutnya direndam dalam pelarut
perairan pesisir Pulau Nain, perairan etanol 95% dengan perbandingan
Likupang, Tongkaina, dan Malalayang pelarut dan sampel yaitu 2:1 selama 24
(Singkoh, 2008). Namun beberapa jam kemudian maserat disaring
wilayah seperti pesisir pantai Molas, menggunakan kertas whatman no. 1
Kota Manado belum banyak diteliti. sehingga diperoleh filtrat pertama. Filtrat
Penyakit infeksi merupakan jenis pertama disimpan di dalam botol
penyakit yang paling banyak diderita sedangkan ampas sampel direndam
oleh penduduk di negara berkembang, kembali dengan pelarut yang sama
termasuk Indonesia. Salah satu dengan perbandingan pelarut dan
penyebab penyakit infeksi adalah sampel yaitu 2:1. Hal yang sama
bakteri (Radji, 2011). Salah satu bakteri dilakukan pada maserasi ketiga selama
yang dapat menyebabkan infeksi adalah 24 jam. Hasil maserasi yang telah
Staphylococcus epidermidis. Saat ini disaring kemudian dikumpulkan dan
sudah banyak bakteri penyebab diuapkan dengan menggunakan alat
penyakit (patogen) pada manusia yang rotary vacum evaporator pada suhu
menunjukkan resistensi obat karena 45˚C agar terbentuk ekstrak kental.
penggunaan antibiotik yang tidak sesuai Hasil ekstrak kental ini merupakan
(Sartoratto et al., 2004). ekstrak dengan konsentrasi 100% dan
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mencegah kehilangan senyawa-
mengetahui bioaktivitas ekstrak senyawa yang terkandung dalam
Padina australis terhadap bakteri
35
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

ekstrak, ekstrak harus disimpan pada 1 mL CMC 1% dan 200 μL kultur


suhu 18˚C. bakteri. Semua tabung divortex agar
Uji bioaktivitas ekstrak etanol homogen kemudian diambil 2 mL untuk
P. australis dilakukan dengan metode diukur nilai Optical Density (OD) bakteri
pengukuran turbiditas (kekeruhan) dengan menggunakan spektrofotometer
menggunakan analisis spektrofotometer. (ƛ 630 nm).
Untuk menentukan nilai MIC dan nilai Kelima tabung di atas diinkubasi
MBC dengan metode pour plate. selama 18 jam pada suhu 37˚C. Nilai
Suspensi bakteri S. epidermidis yang OD pasca inkubasi diukur kembali
digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan mengambil 2 mL untuk diukur
dari Laboratorium Mikrobiologi Klinik nilai OD dengan menggunakan
RSUD. Prof. Dr. Kandou Kota Manado spektrofotometer (ƛ 630 nm). Jika
dengan kepadatan 106 CFU/mL. selisih nilai OD dengan konsentrasi
Pembuatan suspensi tersebut terendah bernilai negatif, maka
distandarisasi dengan menggunakan ditetapkan sebagai Minimum Inhibitory
metode McFarland 0.5 yang terdiri dari Concentration (MIC).
9,95 mL larutan H2SO4 1% dan 0,05 mL Uji MBC menggunakan metode
larutan BaCl 1,175% yaitu setara pour plate yang mengacu pada
dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL penelitian Munfaati et al, (2014) yaitu
(Sutton, 2011). dengan cara mencairkan Nutrient Agar
Satu tabung berisi larutan standar terlebih dahulu dan menyiapkan cawan
McFarland 0.5 terlebih dahulu disiapkan. petri steril sebanyak 5 buah. Ekstrak P.
Suspensi bakteri S. epidermidis dibuat australis dari seri konsentrasi dan juga
dengan cara mengambil 4-10 ose kontrol dimasukkan kedalam tabung
bakteri dari media NA yang telah yang berisi Nutrient Broth. Tabung
diinkubasi selama 24 jam dimasukkan tersebut ditambahkan suspensi bakteri
ke dalam tabung yang berisi NaCl 0,9%, kemudian dihomogenkan dan
kemudian dihomogenkan. Suspensi selanjutnya dituang ke dalam cawan
bakeri tersebut disetarakan petri steril dan ditunggu hingga media
kekeruhannya dengan larutan standar memadat. Setelah itu diinkubasi pada
McFarland 0.5. Suspensi yang telah suhu 37˚C. Hasil inkubasi dapat dilihat
dibuat kemudian diencerkan dengan dengan ada tidaknya pertumbuhan
cara memipet 0,1 mL suspensi bakteri koloni pada Nutrient Agar. Total koloni
(108 CFU/mL) dimasukkan kedalam bakteri dihitung menggunakan Colony
tabung steril dan ditambahkan 9,9 mL Counter. Data hasil penelitian uji MBC
larutan NaCl 0,9% sehingga diperoleh (kuantitatif) dianalisis dengan uji ANOVA
kepadatan bakteri uji yakni 106 CFU/mL one way kemudian apabila terjadi
(Oonmetta-aree et al., 2005). perbedaan yang signifikan maka
Uji MIC dilakukan mengacu pada dilanjutkan dengan Uji Tukey.
penelitian Munfaati et al, (2014). Seri
konsentrasi ekstrak P. australis yang
telah diencerkan dengan pelarut CMC HASIL DAN PEMBAHASAN
1% disiapkan terlebih dahulu. Tiga dari
lima tabung reaksi steril yang berisi 8,8 Pengujian bioaktivitas pada
mL Nutrient Broth steril masing-masing bakteri S. epidermidis dilakukan dengan
ditambahkan 1 mL ekstrak P. australis menentukan nilai Minimum Inhibitory
Hauck dan 200 μL kultur bakteri. Pada Concentration (MIC) atau Kadar Hambat
perlakuan kontrol positif tabung yang Minimal (KHM) dan Minimum
berisi 8,8 mL Nutrient Broth Bactericidal Concentration (MBC) atau
ditambahkan 1 mL antibiotik Kadar Bunuh Minimal (KBM). Hasil
cotrimoksazole dan 200 μL kultur pengukuran nilai OD (optical density)
bakteri. Pada perlakuan kontrol negatif pada uji Minimum Inhibitory
tabung yang berisi 8,8 mL ditambahkan Concentration (MIC) menggunakan
36
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

Tabel 1. Hasil Pengukuran Nilai OD pada uji MIC ekstrak Padina australis Hauck
terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.
Perlakuan Nilai OD
ΔOD
Pra Inkubasi Pasca Inkubasi
30% 0,364 0,603 0,239
60% 0,423 0,680 0,257
90% 0,506 0,339 -0,671
Kontrol Positif 0,170 0,048 -0,122
Kontrol Negatif 0,050 0,341 0,291

spektrofotometer (ƛ 630 nm) juga perlakuan kontrol positif


menunjukkan hambatan pertumbuhan (cotrimoksazole) sebesar -0,122 pada
bakteri S. epidermidis secara pasti yaitu konsentrasi ekstrak 30%, 60%, dan juga
dengan melihat penurunan nilai OD pra kontrol negatif (CMC 1%) tidak
inkubasi dan pasca inkubasi (Munfaati mengalami penurunan nilai OD pasca
et al., 2014) yang disajikan pada inkubasi ditandai dengan selisih ΔOD
Tabel 1. Nilai Minimum Inhibitory yang bernilai positif yakni sebesar 0,239
Concentration (MIC) dapat ditentukan untuk konsentrasi 30%, 0,257 untuk
dengan mengukur selisih antara nilai konsentrasi 60% dan 0,291 untuk
OD pra inkubasi dan pasca inkubasi. kontrol negatif yang artinya pada
Nilai ΔOD negatif menunjukkan adanya konsentrasi 30%, 60% dan perlakuan
penurunan nilai absorbansi yang kontrol negatif (CMC 1%) tersebut
menandakan terjadinya penurunan masih terjadi peningkatan pertumbuhan
jumlah sel yang telah diinkubasi selama bakteri S. epidermidis. Berdasarkan
18 jam. Nilai ΔOD positif menunjukkan hasil diatas, maka ekstrak P. australis
tidak adanya penurunan nilai OD yang Hauck dengan konsentrasi 90%
berarti masih terjadi peningkatan jumlah ditetapkan sebagai Minimum Inhibitory
sel bakteri pasca inkubasi. Nilai ΔOD Concentration (MIC) ekstrak etanol
yang tersaji dalam Tabel 1 menunjukkan P. australis Hauck terhadap
nilai negatif hanya pada konsentrasi pertumbuhan bakteri S. epidermidis.
ekstrak 90% yakni sebesar -0,617 dan

Gambar 1. Hubungan antara nilai OD pemberian tiap seri konsentrasi ekstrak pra dan
pasca inkubasi.
37
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

Tabel 2. Hasil Uji MBC ekstrak Padina australis terhadap bakteri Staphylococcus.
epidermidis
Total Koloni (CFU/plate)
Perlakuan Total Rerata
UI UII UIII
30% 633 652 701 1986 662 ± 35,09
60% 752 702 612 2066 689 ± 70,95
90% 30 31 32 93 31 ± 1,00
Kontrol (+) 0 0 0 0 0
Kontrol (-) 771 700 738 2209 736 ± 35,53

Hasil pengujian MBC dengan Hal ini menunjukkan bahwa ada


menggunakan metode pour plate perbedaan yang signifikan antara
berupa jumlah koloni bakteri S. perlakuan seri konsentrasi uji ekstrak P.
epidermidis yang tumbuh pada media australis terhadap total koloni S.
NA tersaji pada Tabel 2. Data pada epidermidis yang tumbuh pada media
tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah rata- NA.
rata koloni yang tumbuh pada media NA Berdasarkan Uji Tukey dapat
paling banyak pada kontrol negatif dilihat total koloni pada konsentrasi 30%
(tanpa pemberian ekstrak P. australis) lebih kecil 26,667 koloni dibandingkan
yaitu sebanyak 736 koloni sedangkan total koloni pada konsentrasi 60% dan
jumlah rata-rata koloni paling sedikit lebih besar 631,000 koloni pada
terdapat pada kontrol positif konsentrasi 90%. Total koloni yang
(cotrimoksazole) yakni sebanyak 0 tumbuh pada konsentrasi 60% lebih
koloni dan konsentrasi 90% sebanyak besar 657,667 koloni dengan koloni
31 koloni. Hasil uji MBC dianalisis yang tumbuh pada konsentrasi 90%.
secara statistika dengan menggunakan Total koloni yang tumbuh pada
uji ANOVA (Analysis of Varians) one konsentrasi 90% lebih kecil 657,667
way dengan taraf kepercayaan 95% dan koloni dari total koloni
diperoleh nilai FHitung = 199.047 > nilai yang tumbuh pada konsentrasi 60%
Ftable = 5.14 (H0 ditolak = hipotesa nihil). sehingga dari keseluruhan pernyataan

38
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

Gambar 2. Rata-rata total koloni pada setiap perlakuan.


di atas menimbulkan interpretasi bahwa Activity of the Macromolecul
konsentrasi ekstrak P. australis yang Fraction from a Fijian
paling baik digunakan dalam Tunicate Didemnum varians.
menghambat pertumbuhan bakteri Nippon Suisan Gakkaishi 53 (3):
S. epidermidis adalah konsentrasi 90%. 493-496.
Penurunan jumlah koloni bakteri
S. epidermidis dalam penelitian ini Munfaati, P. N., Evie, R., Guntur, M.
disebabkan oleh aktivitas biologis 2014. Aktivitas Senyawa
(antibakteri) senyawa bioaktif yang Antibakteri Ekstrak Herba Meniran
terkandung dalam ekstrak etanol (Phyllanthus niruri) terhadap
P. australis. Beberapa penelitian Pertumbuhan Bakteri Shigella
sebelumnya telah melaporkan senyawa dysenteriae Secara in Vitro.
bioaktif seperti golongan steroid dan Lantera Bio.
terpenoid yang terkandung dalam
ekstrak P. australis berperan besar Oonmetta-aree, J., Suzuki, T.,
dalam menghambat pertumbuhan Gasaluck, P., Eumkeb, G. 2005.
mikroba seperti bakteri. Antimicrobial properties and action
of galangal (Alpinia galanga Linn.)
KESIMPULAN on Staphylococcus aureus.
ELSEVIER. 1214-1220 pp.
Ekstrak etanol Padina australis
memiliki bioaktivitas dalam menghambat Radji, M. 2011. Buku Ajar Mikrobiologi
pertumbuhan bakteri Staphylococcus Panduan Mahasiswa Farmasi dan
epidermidis. Nilai MIC ekstrak P. Kedokteran, 14, 35, 107, 194,
australis terhadap bakteri S. epidermidis Jakarta, Penerbit Buku
adalah konsentrasi 90%. Nilai MBC Kedokteran EGC.
tidak diketahui dikarenakan pada
pengujian lanjut (MBC) konsentrasi yang Rineheart, K. L., Shield, L. S., Cohen-
menunjukkan nilai MIC merupakan Parsons, M. 1993. Antiviral
konsentrasi tertinggi yaitu 90% masih subtances. In: Marine
ditemukan koloni bakteri yang tumbuh Biotechnology, Vol. 1.
pada media NA. Pharmaceutical and Boactive
Natural Products, Attaway, D.H.,
Zaborsky, O.R. (eds). Plennum
DAFTAR PUSTAKA Press: New York and London;
309-342 pp.
Aslan, L.M. 1998. Budidaya Rumput
Laut. Penerbit Kanisius. Sartoratto, A., Machado, Ana Lúcia M.,
Yogyakarta. 96 hal. Delarmelina, C., Figueira G. M.,
Marta Cristina T. Duarte, Vera
Jadulco, R.C. 2002, Isolation and Lúcia, Rehder, G.. 2004.
Structure Elucidation of Bioactive Composition and Antimicrobial
Secondary Metabolites from Activity of Essential Oil From
Marine Sponges and Sponge- Aromatic Plants Used In Brazil.
derived Fungi. Dissertation of Brazilian Journal of Microbiology
Doktor grades, University of (2004) 35: 275-280.
Wuerzburg. p 176.
Schmitz, F. J., Bowden, B. F., Toth S. I.
Kamiya, H., Endo, Y., Muramoto, K., 1993. Antitumor and cytotoxic
Uchida, H., Sasaki, T., Uchida, compounds from marine organism.
N,A., Raj, U. 1987. Antitumor In: Marine Biotechnology Vol. 1.

39
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015

Pharmaceutical and Bioactive


Natural Products, Attaway, D.H.,
Zaborsky, O.R., (eds). Plenum
Press: New York and London;
197-308 pp.

Singkoh, M. F. O. 2008. Uji Farmasitika


pada Alga Laut Gracilaria edulis
(S. G. Gmelin) P. C. Silva,
Caulerpa racemosa (Forsskal) J.
Agardh, Boergesenia forbesii
(Harvey) J. Feldmann, Halimeda
macroloba Decaisne dari Perairan
Pulau Nain Kabupaten Minahasa
Utara Sulawesi. Tesis. Program
Pascasarjana, Universitas Sam
Ratulangi Manado.

Sutton, S. 2011. Measurement of


Microbial Cells by Optical Density.
Journal of Validation Technology.
17: 46-49.

40