Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS(SIG)


ANALISIS KEAKURATAN PETA SERTA PEMBUATAN PETA
DI DESA ILOHELUMA

(disusun untuk tugas ujian akhir semester mata kuliah metodologi riset)

Disusun oleh :
MUHAMAD RESCA ASSANG

TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Juni 2015
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... 1

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................ 2


1.1 Judul.............................................................................................................................................................................2
1.2 Latar Belakang .............................................................................................................................................................2
1.3 Rumusan Maslah ..........................................................................................................................................................3
1.3 Tujuan ..........................................................................................................................................................................4
1.4 Manfaat ........................................................................................................................................................................4
1.4 Pembatasan Masalah ....................................................................................................................................................4

BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................................... 5


2.1 Sistem Informasi Geografis ..........................................................................................................................................5
2.2 Peta ..............................................................................................................................................................................5
2.3 Pemetaan ......................................................................................................................................................................5
2.3.1 Tahapan Pembuatan Peta ................................................................................................. 6
2.3.2 Proses Pemetaan .............................................................................................................. 7
2.4 ArcGIS .........................................................................................................................................................................8

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................................................. 10


3.1 Lokasi Penelitian ..................................................................................................................................................10
3.2 Alat dan bahan ......................................................................................................................................................10
3.3 Tahapan kegiatan ..................................................................................................................................................11

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Judul
Perancangan sistem informasi geografi(SIG) analisis keakuratan
peta serta pembuatan peta di desa Iloheluma.

1.2 Latar Belakang

Desa Iloheluma adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan


Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Desa ini
memilik luas 2,62 km2, memiliki 4 dusun dan jumlah penduduk sebanyak
1419 orang. Kondisi daerahnya terletak di dataran rendah dengan mata
pencaharian utama penduduknya adalah tabama (pertanian bahan
makanan) dan dalam jumlah relatif sedikit berprofesi seabagai peternak,
pedagang, PNS dan profesi lainnya. Jika dilihat dari sarana akses dengan
pusat pemerintahan, desa ini hanya terletak sejauh 2 km dari pusat
kecamatan.
Jika ditelusuri melalui internet, data yang diperoleh tidak konsisten
antara sumber yang satu dengan sumber lainnya. Sebagai contoh diambil
data tentang luas wilayah desa. Pada publikasi kecamatan dalam angka
yang ada pada web badan pusat statistik kabupaten Bone Bolango
(http://bonebolangokab.bps.go.id/publikasi/) didapati luas wilayah desa
Iloheluma sebesar 2,62 km2. Sedangkan penelusuran pada web sistem
informasi desa dan kelurahan
(http://www.prodeskel.pmd.kemendagri.go.id/mpublik/) yang dikelola
oleh Kementrian Dalam Negeri RI Dirjen Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa pada menu data pokok desa/kelurahan didapati bahwa luas wilayah
desa Iloheluma didapati sebesar 300 ha.
Hal ini selanjutnya diakui oleh kepala desa bahwa data luas
wilayah desa memang hanya diestimasi besarannya tanpa ada pemetaan
maupun pengukuran langsung wilayah desa. Lebih lanjut kepala desa

2
menuturkan bahwa pengukuran wilayah desa hanya dilakukan dengan
menggunakan pengukur jarak (speedometer) yang ada pada sepeda motor.

Dengan kondisi di mana administrasi desa tidak lengkap dan akurat,


cukup menyulitkan pemerintah desa dalam menetapkan pengelolaan ruang
yang ada di desa. Data spasial yang tercantum dalam dokumen-dokumen
yang ada di desa hanyalah berupa estimasi yang diperkirakan sendiri oleh
aparat desa. Hal berikutnya adalah perencanaan desa yang telah ada
sebelumnya hanya disusun tanpa didukung oleh adanya analisis potensi
dan masalah desa serta dokumen pendukung seperti peta maupun data
otentik terkait lainnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, perencanaan spasial sangat


berperan, Penerapan Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan salah
satu langkah yang dapat digunakan. Penerapan SIG mempunyai
kemampuan yang sangat luas, sehingga teknologi tersebut sering dipakai
dalam proses perencanaan tata ruang. Selain itu, pemanfaatan SIG dapat
meningkatkan efisiensi waktu dan ketelitian atau akurasi. Sehingga SIG
sangat cocok dalam proses anlisis peta serta pada pembuatan peta itu
sendiri.

Oleh kareana itu dalam penelitian ini menggunakan perancangan


SIG dalam studi kasus analisis peta serta pembuatan peta, diharapkan
dapat membantu pemerintah desa untuk dalam memperoleh data yang
akurat mengenai kondisi topografi wilayah desa, serta peta administratif
yang sesuai dengan standar penyajian peta yang memenuhi syarat dan
kriteria dalam tata penyajian peta.

1.3 Rumusan Maslah

Bagaimana menganalisis keakuratan peta dan membuat peta


administratif Desa menggunakan sistem informasi geografis?

3
1.3 Tujuan
menganalisis keakuratan peta dan membuat peta administratif Desa
menggunakan sistem informasi geografis

1.4 Manfaat
1. Diketahuinya data yang akurat terkait topografi wilayah desa.
2. Dihasilkanya sebuah Peta administratif yang menjadi acuan
pemerintah dan masyarakat desa untuk melakukan perencanaan tata
ruang desa.

1.4 Pembatasan Masalah

Untuk membahas permasalahan di atas maka penelitian ini perlu


diberi batasan, sebagai berikut :
1. Penelitian ini di Desa Iloheluma Kecamatan Tilongkabila
Kabupaten Bone Bolango.
2. Menganalisis keakuratan peta menggunakan software ArcGIS
Versi 10.1
3. Pembuatan Peta adminstratif menggunakan software ArcGIS Versi
10.1

4
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Informasi Geografis


Sistem Informasi Geografis atau disingkat SIG merupakan suatu sistem
berbasis komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan,
mengatur, mentransformasi, memanipulasi, dan menganalisis data-data
geografis (Yousman, 2004:1).

Menurut Prahasta (2006 : 1), sistem ini dapat mengintegrasikan data


spasial (peta vektor dan citra digital), atribut (tabel sistem basis data) serta
properties penting lainnya. Kemampuan tersebutlah yang membedakan sistem
informasi geografis dengan sistem informasi lain dan membuat sistem
informasi geografis lebih bermanfaat dalam memberikan informasi yang
mendekati kondisi dunia nyata, memprediksi suatu hasil dan perencanaan
strategis.

2.2 Peta
Menurut Imran (2009), peta merupakan kalibrasi dari bidang permukaan
bumi 3 dimensi menjadi sebuah gambaran utuh yang lebih sederhan ke dalam
selembar kertas media yang datar dengan penyesuaian baik ukuran maupun
bentuknya disertai peula dengan informasi dan detail-detailnya. Dengan
kalimat sederhan, pengertian peta merupakan pengecilan dari peri permukaan
bumi atau benda angkasa yang digambarkan pada bidang datar dengan
menggunkan ukuran, symbol, dan sistem generalisasi(Penyederhanaan).

2.3 Pemetaan
Pemetaan adalah pengelompokkan suatu kumpulan wilayah yang
berkaitandengan beberapa letak geografis wilayah yang meliputi dataran
tinggi, pegunungan, sumber daya dan potensi penduduk yang berpengaruh

5
terhadap sosial kultural yang memilki ciri khas khusus dalam penggunaan
skala yang tepat. (Soekidjo,1994).

Pengertian lain tentang pemetaan yaitu sebuah tahapan yang harus


dilakukan dalam pembuatan peta. Langkah awal yang dilakukan dalam
pembuatan data, dilanjutkan dengan pengolahan data, dan penyajian
dalam bentuk peta (Juhadi dan Liesnoor, 2001).

Tujuan utama pemetaan adalah untuk menyediakan deskripsi dari suatu


fenomena geografis, informasi spasial dan non-spasial, informasi tentag jenis

fitur, (titik, garis dan polygon) (Indarto, 2010).

2.3.1 Tahapan Pembuatan Peta


Menurut Imran (2009) Dalam buku “Desain dan Komposisi Peta
Tematik” karangan Juhadi dan Dewi Liesnoor, disebutkan bahwa
tahapan pembuatan peta secara sistematis yang dianjurkan adalah:

1. Menentukan daerah dan tema peta yang akan dibuat

2. Mencari dan mengumpulkan data

3. Menentukan data yang akan digunakan

4. Mendesain simbol data dan simbol peta

5. Membuat peta dasar

6. Mendesain komposisi peta (lay out peta), unsur peta dan kertas

7. Pencetakan peta

8. Lettering dan pemberian simbol

9. Reviewing

10. Editing

11. Finishing

6
2.3.2 Proses Pemetaan
Menurut Hidayat (2012) proses pembuatan peta harus mengikuti
pedoman dan prosedur tertentu agar dapat dihasilkan peta yang baik,
benar, serta memiliki unsur seni dan keindahan. Secara umum proses
pembuatan peta meliputi beberapa tahapan dari pencarian dan
pengumpulan data hingga sebuah peta dapat digunakan. Proses
pemetaan tersebut harus dilakukan dengan urut dan runtut, karena jika
tidak dilakukan secara urut dan runtut, tidak akan diperoleh peta yang
baik dan benar.

Menurut Permanasari (2007) mengemukakan bahwa: ada 3 tahap


proses pemetaan yang harus dilakukan yaitu :

a. Tahap pengumpulan data

Langkah awal dalam proses pemetaan dimulai dari pengumpulan


data. Data merupakan suatu bahan yang diperlukan dalam proses
pemetaan. Keberadaan data sangat penting artinya, dengan data
seseorang dapat melakukan analisis evaluasi tentang suatu data
wilayah tertentu. Data yang dipetakan dapat berupa data primer atau
data sekunder. Data yang dapat dipetakan adalah data yang bersifat
spasial, artinya data tersebut terdistribusi atau tersebar secara
keruangan pada suatu wilayah tertentu. Pada tahap ini data yang telah
dikumpulkan kemudian dikelompokkan dahulu menurut jenisnya
seperti kelompok data kualitatif atau data kuantitatif.

Pengenalan sifat data sangat penting untuk simbolisasi atau


penentuan dan pemilihan bentuk simbol, sehingga simbol tersebut
akan mudah dibaca dan dimengerti. Setelah data dikelompokkan
dalam tabel–tabel, sebelum diolah ditentukan dulu jenis simbol yang
akan digunakan. Untuk datakuantitatif dapat menggunakan simbol
batang, lingkaran, arsir bertingkat dan sebagainya, melakukan
perhitungan-perhitungan untuk memperoleh bentuk simbol yang
sesuai.
7
b. Tahap penyajian data

Langkah pemetaan kedua berupa panyajian data. Tahap ini


merupakan upaya melukiskan atau menggambarkan data dalam bentuk
simbol, supaya data tersebut menarik, mudah dibaca dan dimengerti
oleh pengguna (users). Penyajian data pada sebuah peta harus
dirancang secara baik dan benar supaya tujuan pemetaan dapat
tercapai.

c. Tahap penggunaan peta

Tahap penggunaan peta merupakan tahap penting karena


menentukan keberhasilan pembuatan suatu peta. Peta yang dirancang
dengan baik akan dapat digunakan/dibaca dengan mudah. Peta
merupakan alat untuk melakukan komunikasi, sehingga pada peta
harus terjalin interaksi antar pembuat peta (map maker) dengan
pengguna peta (map users). Pembuat peta harus dapat merancang peta
sedemikian rupa sehingga peta mudah dibaca, diinterpretasi dan
dianalisis oleh pengguna peta. Pengguna harus dapat membaca peta
dan memperoleh gambaran informasi sebenarnya dilapangan (real
world).

2.4 ArcGIS
Menurut Prahasta (2011) bahwa: “ArcGIS adalah produk sistem software
yang merupakan kumpulan (terintegrasi) dari produk-produk software
lainnya dengan tujuan untuk membangun sistem informasi geografi (SIG)
yang lengkap”. Arcgis merupakan software GIS yang dibuat oleh ESRI
(Environmental Sistem Research Institute) yang berpusat di Redlands,
California, United State Amerika (USA). Software ini sangat populer di
kalangan pengguna GIS, dan merupakan salah satu software GIS yang paling
banyak digunakan diseluruh dunia. Saat ini, ArcGIS telah dirilis hingga versi
Arcgis 10.3

8
ArcGis terdiri dari beberapa Framework (sistem) diantaranya:

1) ArcMap merupakan aplikasi pembuat peta yang komprehensif di dalam

software ArcGis.

2) ArcCatalog merupakan aplikasi yang dapat membantu para pengguna


ArcGis untuk mengorganisasi dan mengelola semua informasi spasial.
Aplikasi ini mencakup beberapa alat bantu yang berfungsi menyimpan,
menampilkan, mengelola metada, mengexport, mengimport model-model
data geodatabase dan mengembangkan serta mendefinisikan database.

3) ArcToolbox dan ModelBuilder berfungsi untuk geoprocessing yang


berguna untuk manajemen data, konversi data, geocoding, analisis statistik
dan sebagainya.

4) AcrGlobe berfungsi untuk analisis 3D yang dinamis.

5) ArcReader aplikasi yang menyediakan metode untuk berbagi peta-peta


elektronik, baik secara lokal melalui jaringan lokal maupun melalui internet.
ArcReader sering digunakan untuk mempublikasikan peta-peta yang
berbasiskan ArcIMS atau layanan-layanan geografi network.

9
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian

Survey ini dilaksanakan di desa Iloheluma kecamatan Tilongkabila


kabupaten Bone Bolango. Pada hari pertama pengambilan Tracking batas
wilayah desa dan Batas Dusun. Pada hari kedua pengambilan titik
koordinat Infrastruktur umum.

3.2 Alat dan bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses kegiatan ini berupa:

 Kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi.


 GPS (Global Positioning System) digunakan untuk pengambilan titik
koordinat dan tracking wilayah.
 ATM/ATK digunakan untuk mencatat data
 Peralatan survey dapat berupa alat navigasi, alat ukur, dan alat survey
lainnya
 Logistic digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional di
lapangan
 Computer digunakan untuk mendukung proses pengolahan data,
penggambaran peta dan pembuatan laporan.
 Software ArcGis, Global Mapper, Goole Earth, EasyGPS, pemetaan
digunakan untuk mendigitalisasi data hasil lapangan dalam bentuk peta
digital.
 Citra satelit digunakan untuk referensi pembuatan peta.
 Peta dasar digunakan sebagai peta rujukan.

10
3.3 Tahapan kegiatan
Kegiatan pemetaan mengikuti alur seperti yang diuraikan berikut.
1. Persiapan

Persiapan dilakukan untuk menyiapkan segala hal terkait


dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam keseluruhan kegiatan,
meliputi penyiapan tim, penyiapan alat dan bahan, penyiapan
admnistratif dan hal terkait lainnya. Hal ini dilakukan dengan
tujuan supaya segalah bentuk yang menjadi kesiapan sudah terlebih
dahulu diselesaikan agar saat pelaksanaan, kegiatan yang kondusif
bisa tercapai.
2. Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan cara sebagai berikut :


 Studi Pustaka
Studi pustaka ditujukan untuk mencari teori, literature
maupun materi terkait yang dapat digunakan untuk
memudahkan proses pemetaan. Pada tahapan ini ditentukan
pula sintesis model penelitian yang disesuaikan dengan
keterbatasan data dan waktu penelitian.
 Observasi dan survey
Observasi dan survey lapangan dilakukan untuk
mengamati secara langsung lokasi yang akan dipetakan,
melakukan pengambilan data baik data titik koordinat serta
jalur tracking atau melakukan penelusuran lintasan yang nanti
akan digambarkan dalam peta. Pada tahapan ini lebih mengarah
pada pembuatan koordinat infrastruktur umum, serta
pembuatan jalur tracking batas desa, batas wilayah desa, dan
batas anatar dusun desa. Penetapan koordinat maupun trecking
jalur, disesuaikan kondisi topografi desa yang kemudian pada
perolehan data koordinat maupun jalur trecking ini dibantu
langsung oleh pemerintah desa setempat.

11
 Data Sekunder
Data sekunder selanjutnya dapat didapatkan melalui
instansi terkait baik pemerintah, SKPD maupun LSM/NGO
serta pihak yang terkait lainnya. Data sekunder berupa data
batas desa, wilayah, serta batas antar dusu desa. Perolehan data
ini langsung dilakukan dengan penelusuran dimedia internet,
sebagaimana yang telah dibahas pada latar belakang
permasalahan sebelumnya.
3. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan untuk memilah hasil yang


didapatkan dari proses pengambilan data sesuai peruntukkannya.
Pada tahap ini pula dilakukan georeference untuk memposisikan
citra satelit dengan koordinat sebenarnya. Pada tahap ini
pengelolahn data koordinat maupun trecking jalur dikelolah
langsung dengan menggunakan software EasyGPS, yang kemudian
data tersebut diinputkan ke dalam software Global Maper, pada
tahapan ini juga melakukan Export Vecktor Data dengan tujuan
menyamakan format file dengan software ArcGIS supayah data
yang ada didalam GPS bisa diinputkan kedalam ArcGIS.
4. Penggambaran Peta

Penggambaran peta atau biasa disebut juga dengan digitasi


peta, hal ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi ArcGIS
(Geographic information system). Data hasil lapangan dimasukkan
dalam aplikasi kemudian dicocokkan dengan referensi yang ada
baik berupa citra satelit maupun peta dasar dalam bentuk RBI
(Rupa bumi Indonesia). pada tahap ini penggambaran peta lebih di
spesifikasikan pada penggambaran secara administratif desa.

12
5. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menjalnkan tool calculate
Geometry pada software ArcGIS yang dimna didalamnya terdapat
berbagai tool untuk menghitung luasan atau panjang dari suatu
potensi wilayah desa. Pada tahap ini perhitungan lebih di arahkan
pada perhitungan luas wilayah desa, luas wilayah antar dusun serta
potensi luasan lainya, panjang lintasan beberapa obyek misalnya
sungai, jalan irigasi maupun obyek penting lainnya.

13
3.4 Bagan Alir Penelitian

Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian

14
DAFTAR PUSTAKA

Yousman. 2004. Perancangan Sistem Informasi Geografis Menggunakan Peta

Digital. Jurnal Ilmiah Foristek Vol. 2, No. 1, Maret 2012

Prahasta. 2006. Sistem Informasi Geografis Jaringan Jalan Kabupaten Siak

Provinsi Riau

Imran. 2009. Pengertian Peta, (Online), (http://eprints.ung.ac.id/4554/5/2013-1-

87202-451408041-bab2-02082013124857.pdf), diakses tanggal 13 Juni 2016

Soekadji. 1998. Pemetaan Sumber Daya Kelautan, (Online),

(http://nandakartika21.blogspot.co.id/2015_10_01_archive.html), diakses tanggal

13 Juni 2016

Hidayat. 2012. Proses Pemetaan, (Online), (http://eprints.ung.ac.id/4554/5/2013-

1-87202-451408041-bab2-02082013124857.pdf), diakses tanggal 13 Juni 2016

Permanasari. 2007. Proses Pemetaan (Online),

(http://eprints.ung.ac.id/5124/5/2012-1-57201-531408018-bab2-

14082012065336.pdf), diakses tanggal 13 Juni 2016

Prahasta. 2011. ArcGIS (Online), (http://eprints.ung.ac.id/5124/5/2012-1-57201-

531408018-bab2-14082012065336.pdf), diakses tanggal 13 Juni 2016

15