Anda di halaman 1dari 16

UJI EFEK EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) PADA LUKA

SAYAT DENGAN TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR

YANG DIBERIKAN SECARA ORAL

NASKAH PUBLIKASI

Oleh:

ARIQ ALAUDDIN

NIM :I 22111021

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2016
UJI EFEK EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) PADA LUKA

SAYAT DENGAN TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR

YANG DIBERIKAN SECARA ORAL

NASKAH PUBLIKASI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

(S.Farm) Pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas

Tanjungpura Pontianak

Oleh:

ARIQ ALAUDDIN

NIM :I22111021

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2016

i
ii
UJI EFEK EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) PADA LUKA
SAYAT DENGAN TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR
YANG DIBERIKAN SECARA ORAL

Ariq Alauddin, Mohamad Andrie, Nera Umilia Purwanti


Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak
Riq_beray@yahoo.com

ABSTRAK

Ikan Gabus (Channa striata) merupakan famili dari ikan toman (Channa
Micropeltes) yang sudah terbukti dapat membantu proses penyembuhan luka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penyembuhan luka sayat ekstrak
ikan gabus secara oral dan mengetahui konsentrasi yang memberikan efek
penyembuhan luka tercepat. Tikus yang diberi luka sayat dibagi menjadi 4
kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok dosis 3,68 g/kg BB,
kelompok dosis 7,37 g/kg BB, dan kelompok dosis 14,75 g/kg BB. Tikus putih
jantan galur Wistar dilukai pada area punggung sepanjang 2 cm dengan
kedalaman 2 mm dan diberikan ekstrak ikan gabus selama 10 hari. Pengamatan
dilakukan setiap hari dengan pengambilan foto pada hari ke 1,3,5,7,9 dan 10. Luas
area luka diukur dengan program Macbiophotonic image J. Hasil analisis statistik
One Way ANOVA dan Post Hoc Test-LSD menunjukkan ada perbedaan
signifikan (p<0,05) antara kelompok variasi dosis dengan kelompok kontrol
negatif dimulai pada hari ke-3. Dosis 14,75 g/kg BB memberikan efek
penyembuhan terbaik sebesar (99,21%) pada hari ke-10 jika dibandingkan dengan
dosis 3,68 g/kg BB (83,55%) dan dosis 7,37 g/kg BB (93,07%). Kesimpulan dari
penelitian ini menunjukan ekstrak ikan gabus dengan dosis 14,75 g/kg BB
memiliki efek penyembuhan tercepat terhadap luka sayat.

Kata Kunci : Ekstrak, ikan gabus, luka sayat, Macbiophotonic Image J,


penyembuhan luka sayat
WOUND HEALING EFFECT OF SNAKEHEAD (Channa striata)
EXTRACTS ON MALE WISTAR RATS ORALLY

ABSTRACT

The snakehead (Channa striata) has been approved can heal wound and it
is in the same family with giant snakehead (Channa micropeltes). The purpose of
this study was to determine the effect snakehead extract of healing cuts orally and
to determine the concentration that provides the fastest wound healing effect. The
rats was given cuts into 4 groups, negative control group dose, 3,68 g/kg BB
group dose, 7,37 g/kg BB group dose and 14,75 g/kg BB group dose. Male wistar
rats was given cuts in the back with 2 cm and 2 mm depth and rats were given the
fish extract for 10 days. The wound were observed every day with photograph on
days 1,3,5,7,9 and 10.Wound area were measured by using Macbiophotonic
image J. The data were analyzed using One Way ANOVA and Post Hoc Test-LSD
show significant differences (p<0,05) between groups of dose variation with
negative control group started on the 3rd day. Dose 14,75 g/kg BB provides the
best healing effect of (99,21%) on day 10 when compared with dose 3,68 g/kg BB
(83,55%) and dose 7,37 g/kg BB (93,07%).The results of this study indicate that
snakehead extracts with dose 14,75 g/kg BB have wound healing effect.

Keywords: Cuts, extract, Macbiophotonic Image J, snakehead, wound healing


PENDAHULUAN fungsi organ hingga terjadi
pendarahan bahkan kematian sel.
Pengunaan hewan atau Salah satu jenis luka berdasarkan
tumbuhan sebagai bahan alternatif penyebabnya adalah Vulnus scissum
dalam pengobatan belum mengalami atau luka sayat. Vulnus scissum
perkembangan yang berarti, padahal merupakan luka sayat atau iris yang
bila ditinjau dari segi sumber daya ditandai dengan tepi luka berupa
alam khususnya perairan di garis lurus atau beraturan dan
Indonesia sangat potensial untuk biasanya dijumpai pada aktivitas
dikembangkan menjadi sumber sehari-hari. Pembedahan merupakan
bahan baku dalam untuk pengobatan. salah satu contoh dari Vulnus
Pemanfaatan hewan-hewan laut scissum dan kecepatan penyembuhan
maupun hewan-hewan sungai luka pada pembedahan sangat
sebagai bahan pengobatan saat ini bergantung pada banyak faktor salah
masih dalam tahap pengembangan, satunya adalah nutrisi.(3)
khususnya penggunaan ikan sebagai Salah satu kandungan yang
bahan baku untuk pengobatan.(1) ada di ikan gabus adalah albumin,
Ikan selain sebagai bahan yang merupakan protein globular
pangan yang bermutu dan bergizi yang sering diaplikasikan secara
ternyata juga dapat dimanfaatkan klinis untuk perbaikan gizi dan
sebagai bahan untuk menyembuhkan penyembuhan luka paska operasi.
luka. Ikan gabus yang merupakan Albumin berfungsi mengatur tekanan
ikan air tawar banyak dimanfaatkan osmotik di dalam darah, menjaga
masyarakat Indonesia sebagai bahan keberadaan air dalam plasma darah
untuk menyembuhkan luka seperti sehingga dapat mempertahankan
luka bakar dan luka sayat.(1) volume darah dalam tubuh dan
Ikan gabus dikenal dengan sebagai sarana pengangkut dan
nama lain yaitu bako, haruan, tola, transportasi. Albumin juga
dan kayu. Badannya bulat, pipih bermanfaat dalam pembentukan
pada bagian posterior, punggungnya jaringan tubuh, misalnya luka
kecoklatan hampir hitam, bagian sesudah operasi, luka bakar dan saat
perut putih kecoklatan. Saat ini ikan sakit(3)
gabus dimanfaatkan dalam dunia Kandungan asam amino dan
kedokteran yaitu sebagai penyembuh asam lemak pada ikan gabus juga
luka dengan cara mengambil minyak memiliki efektifitas terhadap
dari ikan gabus tersebut. Kandungan penyembuhan luka. Kedua senyawa
senyawa bioaktif yang terdapat di ini dapat membantu proses
dalam ikan gabus dapat membantu pembentukan kembali kolagen dan
proses penyembuhan luka(2) jaringan epitel pada luka. Asam
Luka merupakan gangguan lemak omega-3 dan asam lemak
dari kondisi normal kulit. Luka omega-6 dapat membantu
merupakan kerusakan pada kulit. mempercepat proses penyembuhan
Ketika luka timbul maka akan luka pada kaki tikus diabetes
muncul beberapa efek negatif seperti kronis.(4)
hilangnya seluruh atau sebagian
Telah dilakukan penelitian Tempat dan Waktu Penelitian
oleh Sinambela (2012) salep ekstrak Penelitian dilakukan di
ikan gabus dan Gusdi (2012) dalam Laboratorium Teknologi Farmasi
bentuk sediaan gel ekstrak ikan serta di Laboratorium Farmakologi
gabus meyebutkan bahwa kedua dan Farmasi Klinis Fakultas
sediaan topikal tersebut dapat Kedokteran,Universitas Tanjungpura
menyembuhkan luka sayat. Pontianak.
Penelitian oleh Nicodemus (2014) Hewan Uji
membuktikan bahwa ekstrak ikan Hewan uji yang digunakan
toman (Channa micropheltes) yang sebagai populasi pada penelitian ini
diberikan secara oral dapat
adalah tikus putih jantan (Rattus
menyembuhkan luka sayat. Hingga
saat ini penelitian secara oral ekstrak norvegicus) galur Wistar.
ikan gabus (Channa striata) masih Determinasi Hewan
belum dilakukan. Ikan gabus (Channa striatta)
Berdasarkan hal tersebut, yang digunakan dideterminasi di
perlu dilakukan penelitian tentang uji Laboratorium Biologi, Jurusan
efektivitas secara oral. Untuk itu, Biologi, Fakultas Matematika dan
peneliti merasa perlu untuk Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
dilakukan penelitian uji efektivitas Tanjungpura, Pontianak.
ekstrak ikan gabus terhadap Pengambilan dan Pengolahan
penyembuhan luka sayat secara oral Sampel
sehingga diharapkan dapat Sampel yang digunakan
dikombinasikan dengan sediaan berupa ikan gabus (Channa striata)
topikal.(5,6,7) yang diperoleh dan dikumpulkan dari
pedagang ikan yang berlokasi di
METODOLOGI PENELITIAN pasar ikan yang ada di Daerah kota
Alat Pontianak,Kalimantan Barat. Adapun
Alat-alat yang digunakan bagian yang digunakan adalah bagian
antara lain cawan porselin, panci dagingnya.
kukus, timbangan analitik (Precisa Pertama ikan gabus
tipeXB 4200C), botol kaca gelap 300 dibersihkan bagian kepala serta isi
ml, alumunium foil, batang perut dari ikan gabus, isi perut dari
pengaduk, penggaris, scalpel blade ikan gabus dapat dikeluarkan terlebih
No. 11, pinset, spuit injeksi, sonde dahulu. Ikan gabus lalu dicuci
oral, alat press hidrolik, alat dengan air hingga bersih dan tidak
sentrifugasi (PLC Series), clean tersisa bagian dari isi perutnya.
pack, digital camera 14,2 mega Selanjutnya daging ikan gabus
pixel, bulb, glass wear (Pyrex), kain ditimbang sebanyak 1 kg kemudian
flanel, dan kompor gas. dikukus dalam panci selama 30
Bahan menit dengan suhu 70–80oC.
Bahan yang digunakan adalah Selanjutnya daging ikan gabus
daging ikan gabus, aquadest, alkohol dibungkus dengan kain flannel dan
dan eter. dimasukkan ke dalam alat press
hidrolik, dilakukan pengepresan
dengan tekanan tinggi untuk
mengambil hasilnya. Kemudian digunakan berjumlah 16 ekor yang
disentrifuse selama 60 menit pada dibagi dalam 4 kelompok. Perlukaan
kecepatan 6000 rpm, selanjutnya dilakukan pada punggung tikus
diambil lapisan minyak dan air,
dengan membuat sayatan sepanjang
sedangkan endapan atau pengotornya
dibuang. Hasil pengepresan inilah 2 cm dengan kedalaman 2 mm
yang merupakan ekstrak dari daging menggunakan skapel steril nomor 11.
ikan gabus. Ekstrak ikan gabus yang Perlakuan ini dilakukan sama
telah didapat dimasukkan ke dalam terhadap semua hewan uji. ekstrak
tabung reaksi dan ditutup dengan ikan gabus diberikan secara oral
clean pack dan alumunium foil, agar sebanyak 2 kali setiap hari tiap
tidak terkontaminasi.
konsentrasi perlakuan. Pengamatan
Identifikasi Albumin
dan pengambilan foto luka dilakukan
Sebanyak 5 ml ekstrak ikan
gabus dipanaskan diatas waterbath pada hari ke–1 hingga hari ke–10.
selama 30 menit. Hasil menunjukkan foto yang diperoleh selanjutnya
positif mengandung albumin (terjadi dikuantifikasi dengan menggunakan
koagulasi)(8,9,6) program Macbiophotonic Image J.
Pengelompokan Hewan Uji Analisis Hasil
Sebanyak 16 ekor tikus putih Analisis hasil yang dilakukan
jantan galur wistar dibagi menjadi 4 meliputi analisis rata-rata persentase
kelompok. masing-masing kelompok penyembuhan luka sayat. Luas area
4 ekor tikus. Kelompok dosis 3,68 g / luka dikuantifikasi dengan bantuan
kg BB Diberi ekstrak ikan gabus program Macbiophotonic Image J
secara oral 2 kali sehari. dan dianalisis dengan One Way
Kelompok dosis 7,37 g / kg ANOVA. Hasil analisis yang didapat
BB Diberi ekstrak ikan gabus secara kemudian dibandingkan antar
oral 2 kali sehari. kelompok.
Kelompok dosis 14,75 g / kg
BB Diberi ekstrak ikan gabus secara HASIL DAN PEMBAHASAN
oral 2 kali sehari. Determinasi Hewan
Kelompok (kontrol negatif) Penelitian ini menggunakan
Diberi aquadest 2 kali sehari secara sampel daging ikan gabus (Channa
oral. striata) yang telah di determinasi di
Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Laboratorium Biologi Fakultas
Tikus dianestesi dengan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
menggunakan eter secara inhalasi. Alam Universitas Tanjungpura
Selanjutnya bagian punggung hewan Pontianak. Hasil determinasi
uji dicukur bulunya dengan diameter menunjukkan bahwa sampel yang
3 cm serta dibersihkan dengan digunakan adalah ikan gabus
alkohol sebelum dilakukan (Channa striata). Sampel yang
perlukaan. Hewan uji yang digunakan pada penelitian
menunjukkan ciri-ciri yang sesuai terbentuk dari sisa daging ikan gabus
dengan hasil identifikasi, sehingga yang ikut masuk ke dalam wadah
dapat disimpulkan bahwa sampel penampungan saat proses
pengepresan.
yang digunakan adalah ikan gabus
Hasil rendemen ekstrak ikan
(Channa striata).
gabus dapat dilihat pada (Tabel 1).
Hasil Ekstraksi Daging Ikan
Tabel 1. Hasil Redemen Ekstrak
Gabus (Channa striata)
Ikan Gabus
Hasil ekstrak yang telah
disentrifius terdiri dari 3 lapisan, N Bahan Hasil Rendemen Pengamatan
yaitu lapisan minyak yang berada o Baku Sentrifugasi
dibagian atas, lapisan air yang berada Bau Amis
dibagian tengah, dan lapisan zat-zat 1 4,5 Kg 544 mL 12,08 % v/b
Khas Ikan
. Daging
pengotor yang berada dibagian Ikan Warna Kuning
bawah. (Gambar 1). Gabus
Pucat Berbuih

Hasil Uji Identifikasi Ekstrak Ikan


Gabus
Ekstrak yang diperoleh
kemudian dilakukan uji identifikasi
yang bertujuan untuk memastikan
ekstrak yang diperoleh mengandung
albumin. Identifikasi albumin
dilakukan dengan metode
pemanasan, yaitu dengan pemanasan
ekstrak ikan gabus selama 30 menit
pada suhu 90°C (9,16). Albumin akan
terkoagulasi dan membentuk
(15)
gumpalan . Berdasarkan hasil uji
identifikasi ekstrak ikan gabus
Gambar 1. Hasil Sentrifugasi menghasilkan gumpalan setelah
Ekstrak Ikan Gabus dipanaskan sehingga dapat diketahui
Lapisan minyak yang berada ekstrak ikan gabus positif
diatas permukaan air dan bewarna mengandung albumin.
kuning terang. Minyak akan
membentuk lapisan yang terpisah
dari air akibat perbedaan berat jenis.
Berat jenis air lebih besar
dibandingkan berat jenis minyak,
lapisan air bewarna kuning pucat dan
berada dibagian tegah ekstrak.
Sedangkan lapisan yang paling
bawah merupakan zat-zat pengotor
yang bewarna coklat agak
kehitaman. Lapisan zat-zat pengotor
minggu hal ini bertujuan agar tikus
uji terbiasa dengan lingkungan
barunya sehingga dapat mengurangi
stress yang mungkin timbul. Setelah
tikus beradaptasi dengan lingkungan
yang baru selanjutnya diberikan
perlakuan berupa luka sayat pada
punggung tikus (11)
Sebanyak 16 ekor tikus putih
Gambar 2. Uji Identifikasi jantan galur wistar dibagi menjadi 4
Albumin kelompok yang terdiri atas masing-
masing 4 hewan uji.Sebelum diberi
Penentuan Bobot Jenis Esktrak perlukaan hewan uji dibius terlebih
Ikan Gabus dahulu menggunakan eter. Kemudian
Bobot jenis ekstrak ikan bulu pada bagian punggung hewan
uji dicukur dengan diameter 3 cm
gabus ditentukan menggunakan
dan dibersihkan dengan alkohol
piknometer. Sebelum digunakan, 70%. Perlakuan ini dilakukan sama
piknometer harus dibersihkan dan terhadap semua hewan uji yang
dikeringkan hingga tidak ada digunakan (12). Selanjutnya dilakukan
sedikitpun titik air di dalamnya. Hal perlukaan pada punggung hewan uji
ini bertujuan untuk memperoleh dengan menggunakan scalpel steril
nomor 11 untuk membuat sayatan
bobot kosong dari alat. Jika masih
sepanjang 2 cm dengan kedalaman 2
terdapat titik air di dalamnya, maka mm (12). Perlukaan yang dilakukan
hasil akhir yang diperoleh dapat pada hewan uji berdasarkan
berpengaruh. kedalaman luka pada stadium 2,
Proses Perlukaan dan Perlakuan yaitu luka pada bagian jaringan
Terhadap Hewan Uji dermis namun tidak merusak
Pengujian praklinis dilakukan jaringan otot (13).
pada hewan uji sebelum diujikan Perlakuan dilakukan dengan
terhadap manusia. Hewan uji yang pemberian bahan uji terhadap hewan
uji. Kelompok perlakuan yaitu
digunakan pada penelitian ini adalah
kelompok dosis 3,68 g / kg BB; 7,37
tikus putih (Rattus novergicus) jantan g / kg BB; serta 14,75 g / kg BB
galur wistar. Tikus yang digunakan diberikan ekstrak ikan gabus secara
memiliki bobot antara 177,43 – oral, sementara kelompok kontrol
221,04 g dan telah memenuhi syarat negatif diberikan akuades secara
untuk dilakukan pengujian oral. Pemberian ekstrak ikan gabus
Penggunaan tikus sebagai hewan uji dilakukan 2 kali perhari dan
pengamatan dilakukan pada hari ke-
dikarenakan tikus relatif resisten
1, 3, 5, 7, 9, dan 10.
terhadap infeksi dan mudah ditangani
(10)
. Tikus yang digunakan pada
penelitian diaklimatisasi selama 1
Hasil Uji Efek Penyembuhan Luka data harus terdistribusi normal,
Sayat Ekstrak Ikan Gabus homogen, bersifat independen antar
Metode yang digunakan subjek uji, dan memiliki lebih dari 2
untuk mengamati efek penyembuhan kelompok perlakuan (16).
luka sayat tikus ekstrak ikan gabus Data diuji dengan
dengan cara pengukuran luas area melakukanOne-Sample Kolmogorov-
perlukaan menggunakan program Smirnov Test yang berfungsi untuk
Macbiophotonic Image J. Program mengetahui apakah data luas area
ini digunakan untuk luka sayat terdistribusi normal atau
mengkuantifikasi luas, jumlah, dan
tidak, dimana didapatkan bahwa luas
intensitas suatu objek penelitian yang
selanjutnya diperoleh nilai angka area luka sayat terhadap hewan uji
yang dapat dikuantifikasi untuk terdistribusi normal (p>0,05).
dianalisis. Prinsip kerja dari Program Selanjutnya dilakukan uji
Macbiophotonic Image J adalah Homogenity of Variances yang
dengan menentukan dan berfungsi untuk mengetahui apakah
mengkuantifikasi luas area luka sayat data luas area luka sayat terdistribusi
tikus dalam satuan mm2, dari data
normal dan penyebaran datanya
yang didapat kemudian dilakukan
analisis statistik (14) homogen, dimana didapatkan bahwa
luas area luka sayat terhadap hewan
uji adalah homogen (p>0,05).
Data selanjutnya dilakukan
uji One Way ANOVA, hasil uji ini
menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan terhadap kelompok
percobaan (p<0,05). Kemudian
dilakukan uji Post Hoc Test. Uji Post
Hoc Test dilakukan untuk melihat
kelompok mana saja yang berbeda
secara signifikan. Hasil uji dengan
Post Hoc Test (Metode LSD ) pada
hari ke-3 mulai menunjukkan bahwa
semua kelompok memiliki perbedaan
yang signifikan (p<0,05). Hal ini
Gambar 3. Proses Pengukuran menunjukkan bahwa pemberian
Luas Area Luka Sayat dengan ekstrak ikan gabus dengan berbagai
Program Macbiphotonic Image konsentrasi pada luka sayat dapat
J. mempengaruhi proses penyembuhan
Pengujian statistik merupakan luka sayat secara signifikan (p<0,05).
salah satu cara yang digunakan untuk Sementara perbedaan
menentukan,menyajikan,menganalisa signifikan (p<0,05) antar dosis (dosis
,dan menyimpulkan data yang 3,68 g / kg BB, 7,37 g / kg BB serta
diperoleh (15). Persyaratan yang harus dosis 14,75 g / kg BB) terjadi pada
dipenuhi untuk melakukan analisis hari ke-3. Berdasarkan data tersebut
dengan uji One Way Anova adalah dapat dilihat bahwa semakin besar
konsentrasi ekstrak ikan gabus yang 3,68 g / kg BB, 7,37 g / kg BB dan
diberikan maka semakin besar pula kontrol negatif.
aktivitas penyembuhan luka sayat Fase air ekstrak ikan gabus
terhadap hewan uji. dengan dosis penggunaan 14,75 g /
Berdasarkan nilai rata-rata kg BB daging ikan gabus memiliki
persentase penyembuhan luka persentase penyembuhan luka sayat
terdapat perbedaan rata-rata sebesar 97,19%, sedangkan untuk
penyembuhan luka sayat antar fase minyak ekstrak ikan gabus
kelompok uji. Kelompok 14,75 g / kg dengan dosis 14,75 g / kg BB daging
BB merupakan kelompok yang ikan gabus sebesar 97,89% (47,48). Hal
memberikan efek penyembuhan luka ini menunjukkan bahwa pemberian
sayat terbaik pada hari ke-10 fase air ataupun fase minyak ekstrak
(99,21%) jika dibandingkan dengan ikan gabus tidak memberikan efek
kelompok 3,68 g / kg BB (83,55%), penyembuhan yang lebih cepat
kelompok 7,37 g / kg BB (93,07%) dibandingkan pemberian dari
dan kontrol negatif (71,61%). Hal ini kombinasi fase air dan fase minyak
mengindikasikan bahwa penutupan ekstrak ikan gabus dengan dosis
luka pada hewan uji yang diberi 14,74 g / kg BB, yakni 99,21%.
ekstrak dosis 14,75 g / kg BB ekstrak Ekstrak ikan gabus tanpa pemisahan
ikan gabus lebih cepat jika lebih berpotensi dalam memberikan
dibandingkan dengan penutupan luka efek penyembuhan luka sayat.
terhadap kelompok ekstrak dosis
Tabel 2. Persentase Penyembuhan Luka Sayat Terhadap Hewan Uji

kelompok Rata rata Persentase (%) Penyembuhan Luka Sayat


Hari ke 1 hari ke 3 Hari ke 5 Hari ke 7 Hari ke 9 Hari ke 10
3,48 g / kg BB 0,00 25 ± 5,31 42 ± 5,30 * 56 ± 7,70 * 72 ± 3,36 * 84 ± 4,21 *
7,37 g / kg BB 0,00 33 ± 6,02 * 53 ± 3,71 * 72 ± 5,12 * 83 ± 3,39 * 93 ± 1,52 *
14,75 g /kg BB 0,00 36 ± 3,98 * 64 ± 5,46 * 86 ± 1,20 * 97 ± 1,72 * 99 ± 1,34 *
Kontrol 0,00 21 ± 9,42 33 ± 6,85 44 ± 4,45 60 ± 6,17 72 ± 3,15
Negatif
Ket : 𝑥̅ = rata-rata persentase penyembuhan luka; SD = Standar Deviasi
*) Terjadi perbedaan secara signifikan antara kelompok dosis dengan
kelompok kontrol negatif
Rata-rata Persentase Penyembuhan Luka Sayat (%)

Persen Penyembuhan Luka ( %)


100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Hari
0%
1 3 5 7 9 10
Dosis 3,68 g/Kg BB 0% 25% 42% 56% 72% 84%
Dosis 7,37 g/Kg BB 0% 33% 53% 72% 83% 93%
Dosis 14,75 g/Kg BB 0% 36% 64% 86% 97% 99%
Kontrol Negatif 0% 21% 33% 44% 60% 72%

Gambar 4. Grafik Rata-rata Persentase Penyembuhan Luka Sayat


Proses penyembuhan luka akan menunjukkan tanda inflamasi dimana
dipengaruhi oleh zat-zat yang terkandung benda asing dari luar tubuh dapat masuk
dalam sediaan yang diberikan, terutama zat melalui luka yang terbuka seperti luka
aktif yang mempunyai kemampuan untuk sayat. Masuknya benda asing dapat
mempercepat penyembuhan dengan memicu gangguan tekanan hidrostatik,
merangsang pertumbuhan sel-sel baru pada dimana cairan intrasel akan masuk ke
kulit menjadi lebih cepat. Gizi yang baik dalam sel karena adanya perbedaan
akan mendukung penyembuhan, konsentrasi di dalam dan di luar sel
penundaan kekurangan gizi, menghambat melalui jalur osmotik sehingga
dan mencegah komplikasi (19). Selama menyebabkan sel mengalami
proses penyembuhan dibutuhkan asupan pembengkakan. Pada kondisi ini albumin
nutrisi yang cukup seperti karbohidrat, dibutuhkan untuk menjaga tekanan
(20)
protein, lemak, dan mikronutrien . osmotik didalam maupun diluar sel. Fase
Nutrisi dibutuhkan oleh tubuh dalam inflamasi sendiri memiliki ciri seperti
proses pembentukan jaringan baru. nyeri (dolor), panas (kalor), kemerahan
Penyembuhan luka pada hewan uji yang (rubor), bengkak (tumor), dan hilangnya
diberi ekstrak ikan gabus lebih cepat jika fungsi (fungsio laesa).(22)
dibandingkan dengan kontrol negatif Fase proliferasi ditandai dengan
dikarenakan adanya nutrisi yang pembentukan jaringan granulasi pada luka.
terkandung dalam sediaan tersebut. Jaringan granulasi merupakan kombinasi
Albumin yang terkandung dalam ekstrak dari elemen seluler termasuk fibroblast
ikan gabus memiliki peran dalam serta sel inflamasi dan bersamaan dengan
membantu proses penyembuhan luka.(21) timbulnya kapiler baru tertanam dalam
Secara umum tahap-tahap dalam jaringan longgar ekstra seluler dari matriks
proses penyembuhan luka adalah fase kolagen, fibronektin, dan asam hialuronik.
inflamasi, fase proliferasi, dan fase Pada fase proliferasi, pembentukan
maturasi. Pada proses inflamasi albumin pembuluh darah yang baru berlanjut
berperan dalam mengatur tekanan osmotik disepanjang luka.(23,13)
di dalam darah dan merupakan hampir Peran albumin pada fase maturasi
50% protein plasma (16). Ketika luka, kulit adalah sebagai bahan dasar untuk
pembentukan kolagen. Kolagen penyembuhan yang terjadi segera setelah
berkembang cepat menjadi faktor utama diusahakan bertautnya tepi luka biasanya
pembentuk matriks. Serabut kolagen pada dengan jahitan. Secondary Intention
awalnya terdistribusi acak membentuk Healing (penyembuhan luka sekunder)
persilangan dan beragregasi menjadi yaitu luka yang tidak mengalami
bundel-bundel fibril yang perlahan penyembuhan primer. Tipe ini
menyebabkan penyembuhan jaringan dan dikarakteristikkan oleh adanya luka yang
meningkatkan kekakuan serta kekuatan luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah
ketegangan serabut kolagen. Pengembalian besar. Proses penyembuhan terjadi lebih
kekuatan tegangan akan berjalan secara kompleks dan lebih lama, luka jenis ini
perlahan karena deposisi jaringan kolagen biasanya tetap terbuka. Tertiary Intention
terus-menerus, remodeling serabut kolagen Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu
membentuk bundel-bundel kolagen yang luka yang dibiarkan terbuka selama
lebih besar. Remodeling kolagen selama beberapa hari setelah tindakan
pembentukan jaringan parut tergantung debridement. Setelah diyakini bersih, tepi
pada proses sintesis dan katabolisme luka dipertautkan (4–7 hari). Luka ini
kolagen yang berkesinambungan. Tahapan merupakan tipe penyembuhan luka yang
maturasi dimulai pada hari ke-21 pasca terakhir.(13,26)
operasi dan dapat berlanjut hingga
bertahun-tahun (24,25) KESIMPULAN
Pembagian luka berdasarkan
kedalaman dan luasnya area luka adalah Pemberian ekstrak ikan gabus
sebagai berikut (13). Stadium I luka (Channa striata) secara oral dapat
superfisial (Non-Blanching Erithema) mempercepat proses penyembuhan luka
yaitu luka yang terjadi pada lapisan sayat. Dosis 14,75 g / kg BB merupakan
epidermis kulit. Stadium II luka (Partial dosis ekstrak ikan gabus (Channa striata)
Thickness) yaitu hilangnya lapisan kulit yang memberikan efek perbaikan luka
pada lapisan epidermis dan bagian atas sayat tercepat sebesar 99,21% pada hari
dari dermis. Merupakan luka superficial ke-10.
dan adanya tanda klinis seperti abrasi,
blister atau lubang yang dangkal. Stadium DAFTAR PUSTAKA
III luka (Full Thickness) yaitu hilangnya
kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau 1. Ciptanto, Sapto. 2010. TOP 10 Ikan
nekrosis jaringan subkutan yang dapat AirTawar. Lily Publisher
meluas sampai bawah tetapi tidak Yogyakarta,hal: 138-143.
melewati jaringan yang mendasarinya. 2. Saleh, M. Hari Eko I., Delima H.D.,
Lukanya sampai pada lapisan epidermis, P.S. Siswoputranto. 1985. Standar
dermis dan fasia tetapi tidak mengenai Tepung Ikan di Dalam Pengembangan
otot. Luka timbul secara klinis sebagai Industri Tepung Ikan. Tim Analisa
suatu lubang yang dalam dengan atau Komoditi, Sekretariat Jenderal.
tanpa merusak jaringan sekitarnya. Departemen Pertanian.
Stadium IV luka (Full Thickness) dan telah 3. Suprayitno, E. 2009. Penggunaan
mencapai lapisan otot, tendon dan tulang
Albumin Ikan Gabus pada Penutupan
dengan adanya destruksi/kerusakan yang
luas.(13) Luka.ArtikelIlmiah.(Online)(http://pro
Terdapat 3 macam tipe eddys.blogspot.com/2009/02/pengaruh-
penyembuhan luka, berikut ini adalah pemberian-berbagai-serbuk.html,
karakteristik pembagian dengan jumlah diakses 21 September 2015).
jaringan yang hilang. Primary Intention 4. Naveh HR, Jafari, Taghavi MM,
Healing (penyembuhan luka primer) yaitu Shariati M., Vazeirnejad R., dan
Rezvani ME. Both omega-3 and 13.Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran.
omega-6 polyunsaturated fatty acids Edisi III. Jakarta: Penerbit Media
stimulate foot wound healing in chronic Aesculapius FKUI; 2000. Hal: 396
diabetic rat. Afr J of Pharm and 14.Zusuki, T. Macbiophotonic Image J
Pharmacol.2011; 5(14): 1713-1717. aplication. Nagoya Inc. Corp.
5. Nicodemus.Uji Efek Penyembuhan Japan:Deep Water Exploration Journal;
Luka Sayat Ekstrak Ikan Toman 2002.
(channa micropeltes) Secara Oral Pada 15.Nugroho M. Pengaruh Suhu dan
Lama Ekstraksi Secara Pengukusan
Tikus Putih Jantan Wistar, Skripsi.
Terhadap Rendemen dan Kadar
Pontianak : Program Studi Farmasi, Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus
Fakultas Kedokteran Universitas striatus). Jurnal Teknologi Pangan;
Tanjungpura Pontianak ; 2014. 2012.
6. Gusdi. O. Formulasi Sediaan Gel 16.Sudjana, Nana, Ibrahim. Penelitian
Ekstrak Ikan Gabus (Channa Striata) dan penilaian pendidikan. Bandung:
Sebagai Obat Luka Sayat, Skripsi. Sinar Baru Algensindo. 2001. Hal: 31.
Pontianak:Program Studi Farmasi, 17.Risky Ahmad, 2015.Uji Efek
Fakultas Kedokteran Universitas Penyembuhan Luka Sayat Emulsi Fase
Minyak Ekstrak Ikan Gabus (Channa
Tanjungpura Pontianak; 2012.
striata) Pada Tikus Jantan Wistar
7. Sinambela HY. Optimasi formulasi Secara Oral. Skripsi. Program Studi
sediaan salep minyak ikan gabus Farmasi, Fakultas Kedokteran
(channa striata ) sebagai obat luka Universitas Tanjungpura Pontianak.
sayat dengan metode simplex lattice 18.Indrawan MZ, 2015.Uji Efek
design. Skripsi. Program Studi Farmasi, Penyembuhan Luka Fase Air Ekstrak
Fakultas Kedokteran Universitas Ikan Gabus (channa striata) Pada Tikus
Tanjungpura Pontianak. Putih Jantan Wistar Yang Diberi
8. Poedjiadi A. Dasar-Dasar Biokimia. Perlukaan. Skripsi. Program Studi
Jakarta: UI Press; 2006: Hal: 59-62, Farmasi, Fakultas Kedokteran
115-119. Universitas Tanjungpura Pontianak.
9. Poedjiadi, A. Dasar – Dasar Biokimia. 19.Williams L, Leaper D. Nutrition and
Jakarta: UI Press; 1994. wound healing. Clin Nutr Update.
10.Mangkoewidjojo S, Smith JB. 2000; 5(1): p3-5
Pemeliharaan, pembiakan, dan 20.Gurnida DA, Lilisari M. Dukungan
Penggunaan hewan percobaan di daerah nutrisi pada penderita luka bakar.
tropis. Jakarta: UI Press. 1988. Hal: 37 Fakultas Kedokteran Universitas
11.Triyono B. Perbedaan Tampilan Padjadjaran Bandung. 2011.
Kolagen Di Sekitar Luka Inisiasi pada 21.Rusjianto. Pengaruh Pemberian
Tikus Wistar yang Diberi Infiltrasi Suplemen Seng (Zn) dan Vitamin C
Penghilang Nyeri Levobupivakain dan Terhadap Kecepatan Penyembuhan
yang Tidak Diberi Levobupivakain. Luka Pasca Bedah di Rumah Sakit
Tesis. Semarang: Program Magister Umum Daerah Kabupaten Sukoharjo.
Biomedik dan PPDS Universitas Jurnal Kedokteran Indonesia Vol. 1/
Diponegoro; 2005. No. 1; 2009.
12.Kenisa YP, Istiati, Setyari JW. Effect of 22.Suriadi. Manajemen Luka. Pontianak:
robusta coffee beans ointment on Stikep Muhammadiyah Pontianak;
full thickness wound healing. 2007.
Surabaya: Unair Dent J (Maj. Ked. 23. Indonesia Enterostomal Therapy Nurse
Gigi); 2012. Association (InETNA) dan Tim
Perawatan Luka dan Stoma Rumah
Sakit Dharmais. Perawatan luka.
Jakarta: Makalah Mandiri. 2004. Hal: 1-
16.
24.Mercandetti M., Cohen A. Wound
Healing, Healing and Repair.
Emedicine.http://www.emedicine.meds
cape.com/article/1298129overview.Tan
ggal akses: 20 Febuari2016.
25.Collagen Plays a Significant Role in All
ofWoundealing.http://www.cyberadsstu
dio.com/envy/collagen.htm.Tanggal
akses 20 Febuari 2016.
26.Indonesia Enterostomal Therapy Nurse
Association (InETNA) dan Tim
Perawatan Luka dan Stoma Rumah
Sakit Dharmais. Perawatan luka.
Jakarta: Makalah Mandiri; 2004.