Anda di halaman 1dari 36

TUGAS AKHIR PLENO

MODUL 1
HUBUNGAN DOKTER GIGI DAN PASIEN

DISUSUN OLEH:
ANGKATAN 2016

BLOK ILMU KEDOKTERAN GIGI KOMUNITAS


SEMESTER AWAL 2017/2018

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh
tutor yang telah banyak membimbing kami dan memberikan semangat untuk
menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya kesederhanaan isi makalah ini
baik dari segi bahasa terlebih pada pembahasan materi ini.
Semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat memberikan manfaat kepada
kita semua terutama bagi kami sebagai penulis sehingga dapat menambah wawasan, dan
kami sangat mengharapkan adanya saran dan kritik dari para pembaca untuk dijadikan
sebagai bahan acuan untuk penulisan selanjutnya.

Makassar, 10 November 2017


Hormat Kami

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .........................................................................................................ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
1.1 Latar belakang ......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah .................................................................................................... 1
1.3 Tujuan penulisan ..................................................................................................... 2
1.4 Skenario................................................................................................................... 2
1.5 Kalimat Kunci ......................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 4
2.1 Perbedaan dokter gigi keluarga, swasta dan puskesmas ......................................... 4
2.1.1 Dokter gigi keluarga ........................................................................................... 4
2.1.2 Dokter gigi swasta............................................................................................... 4
2.1.3 Dokter puskesmas ............................................................................................... 5
2.2 Standar pelayanan kedokteran sesuai SOP.............................................................. 5
2.3 Asas etika kedokteran.............................................................................................. 6
2.4 Hak dan kewajiban dokter dan pasien .................................................................... 7
2.4.1 Kewajiban dokter berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 29
Tahun 2014 pasal 50 dan 51 ........................................................................................ 8
2.4.2 Hak dokter gigi berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 29
Tahun 2014 pasal 50 dan 51 ........................................................................................ 9
2.4.3 Kewajiban Pasien menurut permenkes no. 69 tahun 2014 pasal 28 dan 29: ... 9
2.4.4 Hak Pasien menurut permenkes no. 69 tahun 2014 pasal 24 ayat 2 .............. 10
2.5 Aspek hukum hubungan dokter dengan pasien ..................................................... 11
2.6 Hubungan yang baik antara dokter dan pasien...................................................... 13
2.7 Dimensi yang harus dimiliki dokter gigi ............................................................... 16
2.8 Ciri-ciri dokter yang profesional ........................................................................... 18
2.9 Kompetensi yang harus dimiliki seorang dokter yang profesional ....................... 19
2.10 Peran dokter gigi keluarga................................................................................... 20
2.11 Prinsip pelayanan dokter gigi keluarga ............................................................... 21
2.12 Sistematika kerja BPJS........................................................................................ 22
2.13 Keuntungan dan kerugian pasien BPJS ............................................................... 25
2.14 Aspek yang memengaruhi kepuasan pasien ........................................................ 27
2.15 Manajemen pelayanan kesehatan ........................................................................ 28

iii
BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 29
3.1 Kesimpulan............................................................................................................ 29
3.2 Saran ...................................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 31

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Profesi kedokteran merupakan salah satu profesi yang mendapatkan


sorotan masyarakat, terutama pada era global yang terjadi saat ini. Cukup
banyak masyarakat yang menyoroti profesi dokter. Hal ini dapat diamati dari
banyaknya aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui media cetak
maupun elektronik salah satunya media sosial. Sorotan masyarakat terhadap
profesi dokter merupakan satu pertanda ketidakpuasan masyarakat terhadap
pelayanan medis. Pada umumnya alasan ketidakpuasan pasien dan keluarga
terhadap pelayanan dokter adalah karena pelayanan dokter tidak memenuhi
harapan mereka.
Seorang dokter harus benar-benar memahami keluhan dari pasien. Oleh
sebab itu, komunikasi yang baik antara dokter dan pasien sangat diperlukan.
Di dalam dunia kedokteran komunikasi antara dokter dan pasien merupakan
sebuah kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang dokter. Kemampuan
berkomunikasi inilah yang menentukan keberhasilan seorang dokter dalam
membantu masalah kesehatan pasien.

1.2 Rumusan masalah

1. Jelaskan perbedaan dokter gigi keluarga, swasta, dan puskesmas!


2. Bagaimana standar pelayanan kedokteran gigi sesuai SOP?
3. Apa saja asas etika kedokteran ?
4. Apa saja hak dan kewajiban dokter dan pasien?
5. Bagaimana aspek hukum hubungan dokter dan pasien?
6. Jelaskan bagaimana hubungan dokter dan pasien yang baik!
7. Jelaskan dimensi yang harus dimiliki oleh dokter gigi!
8. Bagaimana ciri-ciri seorang dokter yang profesional?
9. Apa saja kompetensi yang harus dimiliki dokter yang profesional ?

1
10. Bagaimana peran dokter gigi keluarga?
11. Bagaimana prinsip pelayanan dokter gigi keluarga?
12. Bagaimana sistematika kerja BPJS?
13. Apa keuntungan dan kerugian pasien BPJS?
14. Aspek apa saja yang memengaruhi kepuasan pasien?
15. Bagaimana manjemen pelayanan kesehatan?

1.3 Tujuan penulisan

1. Mampu menjelaskan perbedaan dokter gigi keluarga, swasta, dan


puskesmas.
2. Mampu menjelaskan standar pelayanan kedokteran gigi sesuai SOP.
3. Mampu menjelaskan asas etika kedokteran.
4. Mampu menjelaskan hak dan kewajiban dokter dan pasien.
5. Mampu menjelaskan aspek hukum hubungan dokter dan pasien.
6. Mampu menjelaskan hubungan dokter dan pasien yang baik.
7. Mampu menjelaskan dimensi yang harus dimiliki oleh dokter gigi.
8. Mampu menjelaskan ciri ciri seorang dokter yang profesional.
9. Mampu menjelaskan kompetensi yang harus dimiliki dokter yang
profesional.
10. Mampu menjelaskan peran dokter gigi keluarga.
11. Mampu menjelaskan prinsip pelayanan dokter gigi keluarga.
12. Mampu menjelaskan sistematika kerja BPJS.
13. Mampu menjelaskan keuntungan dan kerugian pasien BPJS.
14. Mampu menjelaskan aspek yang memengaruhi kepuasan pasien.
15. Mampu menjelaskan manjemen pelayanan kesehatan.

1.4 Skenario

Ibu Shinta Scopus yang tinggal diwilayah kerja puskesmas di atas berumur
60 tahun pensiunan pegawai negeri.Sejak kecil giginya selalu bermasalah
karena itu rajin ke dokter yang dekat rumahnya dan merupakan dokter

2
keluarga.Dokter keluarga ibu Shinta sudah meninggal dunia.Ibu Shinta juga
sebagai peserta asuransi BPJS.Ibu Shinta merasa kehilangan dokter dan
sahabat yang membantunya sekeluarga sehat.Kemudian ibu Shinta dating
berobat di tempat praktek dokter gigi swasta yang terkenal dan dokter
tersebut cukup banyak pasiennya, dokter tersebut juga menerima pasien dari
asuransi BPJS.Ibu Shinta mendapat giliran dengan nomor urut
terakhir.Pertama masuk ke ruang dokter, waktu di tempat praktek
menunjukkan jam 24.00, ibu Shinta memperkenalkan diri dan
memberitahukan bahwa dia peserta asuransi BPJS.Keluhannya dengan pipi
bengkak dan sakit.Saat ibu Shinta mendapat giliran pemeriksaan, dokter
tersebut hanya melihat dan mendengarkan keluhan pasien saja kemudian
menulis resep dan memberikannya ke ibu Shinta.Merasa tidak cocok dengan
dokter tersebut, kemudian ibu Shinta memutuskan berobat pada dokter
puskesmas yang letaknya dekat rumahnya.Meski tidak seramah dokter
keluarganya, tetapi dia melayani secara lebih profesionalisme.

1.5 Kalimat Kunci

1. Dokter Keluarga
2. Dokter puskesmas
3. Peserta asuransi PBJS
4. Praktek dokter gigi swasta
5. Jam 24.00
6. Tidak cocok denagn dokter tersebut
7. Profesionalisme dokter
8. Pelayanan Kesehatan
9. Sikap dokter

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perbedaan dokter gigi keluarga, swasta dan puskesmas

2.1.1 Dokter gigi keluarga


Dokter gigi keluarga adalah dokter gigi yang mampu
menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi yang berorientasi pada
komunitas dengan keluarga sebagai sasaran utama dan memandang individu-
individu baik yang sakit maupun sehat sebagai bagian dari unit keluarga serta
komunitasnya. Dalam melaksanakan tugasnya dokter gigi keluarga
merupakan kontak pertama yang harus proaktif memecahkan masalah
kesehatan gigi dan mulut keluarga sesuai asuhan pelayanan kedokteran gigi
dasar. Layanan dokter gigi keluarga yang diberikan seharusnya terjaga
mutunya dengan mengutamakan pendekatan promotif dan preventif serta
menerapkan ilmu pengetahuan kedokteran gigi mutakhir secara rasional
dengan memperhatikan system rujukan.1

2.1.2 Dokter gigi swasta


Praktik perorangan dilakukan oleh dokter gigi, baik umum maupun
spesialis. Dokter mempunyai tempat praktik yang diurusnya sendiri, dan
biasanya memiliki jam praktik. Adakalanya dokter gigi dibantu oleh tenaga
administrasi yang mengatur pasien, dan kadang juga dibantu oleh perawat.
Ada juga yang benar-benar sendiri dalam memberikan pelayanan, sehingga
dokter/dokter gigi tersebut menangani sendiri semua prosedur pelayanan
medis yang diberikannya. Tempat praktik bisa berupa tempat khusus, yaitu
hanya untuk praktik saja, sehingga dokter gigi tersebut tidak akan dapat
dijumpai di tempat ini di luar jam praktik yang telah ditetapkan. Tempat
praktik perorangan bisa juga di tempat yang menjadi bagian dari rumah
tinggal dokter gigi. Apapun bentuknya, ada persyaratan yang ditetapkan oleh
Departemen Kesehatan RI dan jajaran teknis di bawahnya untuk tempat
praktik dokter gigi. Dokter diwajibkan memasang papan praktik yang

4
memuat nama, kualifikasi dan nomor STR dan SIP nya agar memudahkan
pasien mengenali dokternya.2

2.1.3 Dokter puskesmas


Dokter puskesmas adalah dokter yang berkerja pada pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang memiliki peranan yang sangat penting dalam
era sistem JKN sebagai lapisan terbawah dalam piramida kesehatan ideal dan
garda terdepan dimana terjadi kontak pelayanan kesehatan pertama dengan
perorangan atau kelompok.3

2.2 Standar pelayanan kedokteran sesuai SOP

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 1438/MENKES/PER/IX/2010 Bab V Pasal 10 tentang standar
pelayanan kedokteran, maka ditetapkan tentang Standar Prosedur
Operasional dalam melakukan praktik kedokteran gigi, antara lain:
1. Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan wajib memprakarsai penulisan
SPO sesuai dengan jenis dan strata fasilitas pelayanan kesehatan yang
dipimpinnya.
2. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) harus dijadikan acuan
pada penyususnan SPO di fasilitas pelayanan kesehatan.
3. SPO harus dijadikan panduan bagi seluruh tenaga kesehatan dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan.
4. SPO disusun dalam bentuk Panduan Praktis Klinis (Clinical Practice
Guidelines) yang dapat dilengkapi dengan alur klinis (Clinical Pathway),
algoritme, protokol, prosedur atau standing order.
5. Panduan praktis klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus memuat
sekurang-kurangnya mengenai pengertian, anamnesis, pemeriksaan fisik,
kriteria, diagnosis, diagnosis banding, pemeriksaan penunjang, terapi,
edukasi, prognosis, dan kepustakaan.4

5
2.3 Asas etika kedokteran

Dasar etika profesi kedokteran, dapat dijabarkan menjadi enam asas etika
yang bersifat universal, yaitu:

1. Asas menghormati otonomi pasien (principle of respect to the patient’s


autonomy)

Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui apa yang akan


dilakukan oleh dokter serta memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya
sendiri, sehingga kepadanya perlu diberikan informasi yang cukup. Pasien
berhak untuk menghormati pendapat dan keputusannya, dan tidak boleh
dipaksa. Oleh karenanya perlu adanya informed consent.

2. Asas Kejujuran (principle of vercity)

Dokter hendaknya mengatakan hal yang sebenarnya secara jujur akan apa
yang terjadi, apa yang dilakukan, serta akibat/risiko yang dapat terjadi.
informasi yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan tingkat pendidikan
pasien. Selain jujur kepada pasien, dokter juga harus jujur kepada diri sendiri.

3. Asas tidak merugikan (principle of non-malefience)

Dokter berpedoman primum non nocere, tidak melakukan tindakan yang


tidak perlu, dan mengutamakan tindakan yang tidak merugikan pasien, serta
mengupayakan risiko fisik, risiko psikologis, maupun risiko sosial akibat
tindakan tersebut seminimal mungkin.

4. Asas manfaat (princple of benefience)

Semua tindakan dokter yang dilakukan terhadap pasien harus bermanfaat


bagi pasien guna mengurangi penderitaan atau memperpanjang hidupnya.
Dokter wajib membuat rencana perawatan yang berlandaskan pada
pengetahuan yang sahih dan dapat berlaku secara umum. Kesejahteraan
pasien perlu mendapat perhatian yang utama. Risiko yang mungkin timbul

6
dikurangi sampai seminimal mungkin sementara manfaatnya harus
semaksimal mungkin bagi pasien.

5. Asas Kerahasiaan (principle of confidentality)

Dokter harus menghormati rahasia pasien, meskipun pasien tersebut sudah


meninggal dunia.

6. Asas Keadilan (principle of justice)

Dokter harus berlaku adil, tidak memandang kedudukan atau kepangkatan,


tidak memandang kekayaan, dan tidak berat sebelah dalam merawat pasien.5

2.4 Hak dan kewajiban dokter dan pasien

Hak adalah kepentingan umum yang dilindungi oleh hukum. Kepentingan


berarti tuntutan yang diharapkan untuk dipenuhi. Sehingga hak adalah suatu
tuntutan yang pemenuhannya dilindungi oleh hukum. Terdapat 3 macam hak
berdasarkan sumber pemenuhannya yaitu:
1. Hak manusia karena kodratnya, yaitu hak yang diperoleh begitu lahir,
seperti hak untuk hidup dan bernafas. Hak ini tidak boleh diganggu gugat
oleh negara, bahkan pemenuhannya wajib dilakukan oleh Negara.
2. Hak yang lahir dari hukum (hak hukum), yaitu hak yang diberikan oleh
Negara untuk warga negaranya.
3. Hak lahir dari hubungan kontraktual. Hal ini didasarkan pada perjanjian
kontrak antara satu dengan yang lain. Sehubungan dengan hak pasien,
maka hak ini merupakan hak yang asasi dan bersumber dari hak dasar
individual, the right of self determination dalam Black’s Law Dictionary
berarti sebagai right yang mengandung beberapa arti antara lain hak alami
(natural right), hak politik (political right), serta hak pribadi. Hak untuk
menentukan nasib sendiri, keamanan pribadi yang berkaitan erat dengan
hidup, bagian tubuh, kesehatan, kehormatan, serta hak atas kebebasan
pribadi.

7
Hak pasien sebagai konsumen:
1. Konsumen berhak memilih dokter yang diinginkan dan berhak untuk
mendapatkan opini kedua (second opinion), juga berhak untuk
mendapatkan rekam medik (medical record) sesuai dengan riwayat
penyakitnya.
2. Setiap orang berhak atas kesehatan. Pasien sebagai konsumen berhak
untuk memperoleh pelayanan kesehatan dari fasilitas pelayanan kesehatan
agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. (UU
No.36 Tahun 2009 Pasal 4).
3. Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh
tindakan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan
memahami mengenai tindakan tersebut secara lengkap. (UU No. 36
Tahun 2009 Pasal 56).
4. Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah
dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. (UU No. 36
Tahun 2009 Pasal 57).
5. Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga
kesehatan, dan penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian
akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya. (UU No. 36 Tahun 2009 Pasal 58) Tuntutan ganti rugi
terhadap seseorang, tenaga kesehatan dan penyelenggara kesehatan yang
melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan
seseorang dalam keadaan darurat.6

2.4.1 Kewajiban dokter berdasarkan Undang-Undang Republik


Indonesia No. 29 Tahun 2014 pasal 50 dan 51
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
2. Merujuk pasien ke dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan;

8
3. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien meninggal dunia;
4. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang bertugas mampu melakukannya;
5. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran gigi.

2.4.2 Hak dokter gigi berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia


No. 29 Tahun 2014 pasal 50 dan 51
1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
prosedur operasional;
3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau
keluarganya;
4. Menerima imbalan jasa.7

2.4.3 Kewajiban Pasien menurut permenkes no. 69 tahun 2014 pasal 28


dan 29:
1. Mematuhi peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
2. Menggunakan fasilitas rumah sakit secara bertanggung jawab;
3. Menghormati hak-hak pasien lain, pengunjung dan hak Tenaga Kesehatan
serta petugas lainnya yang bekerja di rumah sakit;
4.Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai kemampuan
dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;
5. Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan di
rumah sakit dan disetujui oleh pasien yang bersangkutan setelah
mendapatkan penjelasan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
6. Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak
rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan dan/atau
tidak mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan dalam
rangka penyembuhan penyakit atau masalah kesehatannya;

9
7. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

2.4.4 Hak Pasien menurut permenkes no. 69 tahun 2014 pasal 24 ayat 2
1. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
2. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional;
3. Memperoleh pelayanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar
dari kerugian fisik dan materi;
4. Memilih Dokter dan Dokter Gigi serta kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
5. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada Dokter dan
Dokter Gigi lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam
maupun di luar Rumah Sakit;
6. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk
data-data medisnya;
7. Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan
medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi
yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
serta perkiraan biaya pengobatan;
8. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan
oleh Tenaga Kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
9. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
10. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya
selama hal tersebut tidak mengganggu pasien lainnya;
11. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan
di Rumah Sakit;
12. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap
dirinya;
13. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama
dan kepercayaan yang dianut;

10
14. Mendapatkan perlindungan atas rahasia kedokteran termasuk kerahasiaan
rekam medik;
15. Mendapatkan akses terhadap isi rekam medis;
16. Memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi bagian dalam suatu
penelitian kesehatan;
17. Menyampaikan keluhan atau pengaduan atas pelayanan yang diterima;
18. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
19. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara
perdata ataupun pidana.8

2.5 Aspek hukum hubungan dokter dengan pasien

Secara hukum, hubungan dokter dan pasien terbagi atas 2, yaitu:


1. Hubungan Karena Kontrak (Transaksi Terapeutik)
Karena adanya perkembangan yang menuntut hubungan dokter –
pasien bukan lagi merupakan hubungan yang bersifat paternalistik tetapi
menjadi hubungan yang didasari pada kedudukan yang seimbang/partner,
maka hubungan itu menjadi hubungan kontraktual. Hubungan kontraktual
terjadi karena para pihak yaitu dokter dan pasien masing-masing diyakini
mempunyai kebebasan dan mempunyai kedudukan yang setara. Kedua
belah pihak lalu mengadakan suatu perikatan atau perjanjian di mana
masing-masing pihak harus melaksanakan peranan atau fungsinya satu
terhadap yang lain. Peranan tersebut bisa berupa hak dan kewajiban.
Hubungan karena kontrak umumnya terjadi melalui suatu
perjanjian.Dalam kontrak terapeutik, hubungan itu dimulai dengan tanya
jawab (anamnesis) antara dokter dengan pasien, kemudian diikuti dengan
pemeriksaan fisik, kadang-kadang dokter membutuhkan pemeriksaan
diagnostik untuk menunjang dan membantu menegakkan diagnosisnya
yang antara lain berupa pemeriksaan radiologi atau pemeriksaan

11
tambahaan. Untuk melakukan suatu tindakan medik, ada tiga syarat yang
harus dipenuhi yaitu:
i. Mempunyai indikasi medis, untuk mencapai tujuan yang konkret
ii. Dilakukan menurut aturan-aturan yang berlaku di dalam ilmu
kedokteran.
iii. Harus sudah mendapat persetujuan dari pasien.
Dalam ilmu hukum dikenal dua jenis perjanjian, yaitu:

i. Resultaatsverbintenis, yang berdasarkan hasil kerja.


ii. Inspanningverbintenis, yang berdasarkan usaha yang maksimal.
Sebagai sebuah perjanjian, sebagaimana lazimnya ketentuan mengenai
perjanjian, maka untuk sahnya perjanjian harus dipenuhi syarat-syarat
yang ditentukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu :

i. Kesepakatan dari pihak-pihak yang bersangkutan, adanya informed


consent
ii. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Harus dikatakan cakap-
hukum, apabila ia pria/wanita 21 tahun, pria belum berumur 21 tahun
tetapi sudah menikah.
iii. Suatu hal tertentu, menyangkut objek hukum atau kebendaan (dalam
hal ini pelayanan medis) yang perlu ditegaskan ciri-cirinya. Dalam
perjanjian medis umumnya objeknya adalah “usaha penyembuhan”
bukan merupakan “jaminan kesembuhan”.
iv. Suatu sebab yang halal, tidak boleh bertentangan dengan perundang-
undangan, kesusilaan atau ketertiban umum.
2. Hubungan Karena Undang-Undang (Zaakwarneming)
Apabila pasien dalam keadaan tidak sadar sehingga dokter tidak
mungkin memberikan informasi, maka dokter dapat bertindak atau
melakukan upaya medis tanpa seizin pasien sebagai tindakan berdasarkan
perwakilan sukarela atau menurut ketentuan Pasal 1354 KUH Perdata
disebut Zaakwarneming. Dalam Pasal 1354 KUH Perdata, pengertian

12
Zaakwarneming adalah mengambil alih tanggung jawab dari seseorang
sampai yang bersangkutan sanggup lagi untuk mengurus dirinya sendiri.
Dalam keadaan demikian, perikatan yang timbul tidak berdasarkan
suatu persetujuan pasien, tetapi berdasarkan suatu perbuatan menurut
hukum,yaitu : Dokter berkewajiban untuk mengurus kepentingan pasien
dengansebaik-baiknya setelah pasien sadar kembali, dokter
berkewajibanmemberikan informasi mengenai tindakan medis yang telah
dilakukannya dan mengenai segala kemungkinan yang timbul dari
tindakan tersebut.Untuk tindakan selanjutnya tergantung pada persetujuan
pasien yang bersangkutan.9

2.6 Hubungan yang baik antara dokter dan pasien

Pengembangan hubungan dokter-pasien secara efektif yang berlangsung


secara efisien, dengan tujuan utama penyampaian informasi atau pemberian
penjelasan yang diperlukan dalam rangka membangun kerja sama antara
dokter dengan pasien. Komunikasi yang dilakukan secara verbal dan non-
verbal menghasilkan pemahaman pasien terhadap keadaan kesehatannya,
peluang dan kendalanya, sehingga dapat bersama-sama dokter mencari
alternatif untuk mengatasi permasalahannya.
Pendekatan Komunikasi Efektif Dokter-Pasien :
Dalam menunjang keberhasilan komunikasi efektif dokter-pasien, diketahui
beberapa jenis pendekatan, antara lain:

1. Pendekatan konvensional/ disease centered communication style/ doctor


centered communication style
Pendeketan model ini dokter yang lebih aktif dalam menanyakan
keluhan pasien demi menegakkan keperluan diagnosis. Pasien cendeung
lebih pasif dan mengikut apa kata dokter. Biasanyanya dokter akan
memberikan banyak pertanyaan tertutup sehingga tidak jarang akan banyak
erdapat unsure subjektif disini. Pendekatan model ini akan cocok ketika

13
seorang dokter mendapat pasien yang bersifat tertutup, pemalu atau
pendiam.
2. Pendekatan modern/ patient centered communication style/ illness
centered communication style
Pendekatan model ini adalah kebalikan dari model pendekatan
sebelumnya. Dokter biasanya hanya akan perlu memberikan sebuah
stimulasi, seperti pertanyaan terbuka, kemudian akan dilanjutkan oleh
pasien yang cenderung lebih aktif dalam proses penegakkan diagnosis.
Untuk itu, peran dokter sebagai pendengar sangat diperlukan dan juga
diperlukan sifat menghargai dan empati terhadap semua keluhan pasien.
Dalam memulai komunikasi efektif dengan baik pada pasien, seorang
dokter dapat memulainya dengan mengucapkan salam dengan wajah ceria
penuh senyuman agar si pasien merasa bahwa kehadiranna disambut hangat
oleh dokter. Lalu mulailah perkenalkan diri Anda sebagai dokternya dan
sampaikan bahwa tugas Anda sebagai dokter adalah untuk membantunya
dengan seluruh kemampuan dan usaha yang Anda bias lakukan, dan saat
pasien sedang menyampaikan keluhannya, maka Anda sebagai dokternya
harus mendengarkan dengan penuh perhatian dan simpati. Hindarilah untuk
mengalihkan focus dari pasien, seperti mengangkat telfon, membalas sms,
bermain gadget dan lainnya. Setelah tercipta anamnesis. Lakukan
pemeriksaan. Setelah itu, tutuplah anamnesismu dengan menyampaikan
kepada pasien dengan sejelas-jelasnya mengenai keadaannya, penyakitnya,
solusi atau tindakan terbaik selanjut. Mintalah consent dari pasien jika Anda
hndak melakukan suatu tindakan medic. Sesaat semua sudah dilakukan
sampaikan dukungan Anda dengan “Semoga lekas sembuh ya, Pak/Bu”.
Kembali ucapkan salam Anda ketika pasien hendak keluar dari ruangan.10

14
Pola hubungan dokter pasien:

1. Menurut Sri Praptianingsih dalam Sudarma M:


i. Engineering, dilandasi oleh pemahaman bahwa dokter adalah seorang
professional dan menjalankan tugasnya secara professional dan
objektif. Dokter akan mengikuti apapun yang diinginkan oleh pasien,
meskipun akan bertolak belakang dengan nilai dan norma.
ii. Paternalistik, dokter dianggap sebagai orang yang memiliki tanggung
jawab terhadap profesi dan moral. Dokter diposisikan sebagai orang
yang mengetahui tindakan yang terbaik untuk pasien.
iii. Kontrak sosial, terdapat kerja sama antara pasien dan dokter,
kesepakatan atau kepahaman antara dokter dan pasien, termasuk hak
dan kewajibannya, dilakukan setelah keduanya ada kesepakatan (baik
tertulis maupun tidak). Pola ini merupakan perpaduan antara pola
engineering dan paternalistik.11
2. Menurut Szasz dan Hollender:
i. Activity-passivity
Bersifat paternalistik secara natur; merupakan analog hubungan orang
tua-bayi. Model hubungan ini bukanlah sebuah interaksi antara dokter dan
pasien karena pasien tidak dapat berpartisipasi secara aktif. Pasien
diposisikan sebagai figur yang tidak berdaya dan membutuhkan
pengetahuan dari dokter, dan perawatan yang dilakukan ‘tidak
memperdulikan kontribusi pasien dan terlepas dari hasil akhirnya’.
Hubungan ini dibenarkan bila terjadi dalam kondisi gawat darurat karena
waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan informed consent atau
melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan tidak cukup dan dapat
membuat kondisi kesehatan pasien menjadi lebih parah. Hubungan jenis ini
menempatkan dokter pada posisi superior dan memegang kendali penuh atas
situasi yang ada (‘membutuhkan keahlian dan berkontribusi pada rasa
superioritas’).

15
ii. Guidance-co-operation
Dilakukan pada situasi yang tidak terlalu bersifat darurat. Meskipun
pasien merasakan sakit, pasien tetap sadar dan memiliki perasaan dan
aspirasinya masing-masing. Pada situasi ini, pasien mungkin merasa cemas
dan sakit sehingga pasien bersedia untuk ‘bekerja sama’ dan menempatkan
dokter dalam posisi pemegang kuasa. Sehingga dokter akan memberikan
arahan (guidance) dan mengharapkan pasien menjadi kooperatif dan
mengikuti perintahnya tanpa banyak bertanya. Hubungan ini dideskripsikan
sebagai hubungan orang tua dan anak-anak.
iii. Mutual participation
Didasarkan pada azas bahwa hubungan dengan semua manusia itu
bersifat menguntungan secara mutualisme. Dalam hubungan ini, dokter
tidak akan serta-merta menyatakan bahwa ia yang tahu apa yang terbaik
untuk pasiennya. Untuk dapat menimbulkan partisipasi mutual antara dokter
dan pasien, interaksi keduanya harus didasarkan pada memiliki kekuasaan
yang sama, kemandirian secara mutual, dan kepuasaan yang setara. Hal ini
pada akhirnya akan memberikan pasien kemampuan untuk menjaga diri
mereka sendiri.12

2.7 Dimensi yang harus dimiliki dokter gigi

1. Selalu ingin belajar


Dokter gigi dintuntut untuk selalu belajar, tentang suatu hal yang baru.
Bahkan pembelajaran dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan
bukan sebagai suatu beban.13

2. Komunikator yang baik


Dokter gigi harus mengerti bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya
berupa komunikasi verbal namun lebih banyak mengacu kepada komunikasi
non verbal dan menjadi pendengar yang baik.13 Dalam menghadapi pasien
anak misalnya, dokter yang menunjukkan rasa empati, iba, dan peduli serta
mendengarkan keluhan pasien dengan baik akan meningkatkan tingkat

16
kepuasan pasien serta keluarganya dan pasien menjadi lebih senang dalam
menerima perawatan.14
3. Dealing with task
Sebagai seorang dokter professional, saat ditunjukkan ketika berhadapan
dengan tugasnya (dealing with task), yang berarti mampu menyelesaikan
tugas-tugasnya sesuai peran dan fungsinya; mampu mengatur diri sendiri
seperti ketepatan waktu, pembagian tugas profesi dengan tugas-tugas pribadi
yang lain (dealing with one-selo), dan mampu mengenal menghadapi
berbagai macam tipe pasien serta mampu bekerja sama dengan profesi
kesehatan yang lain (dealing with others). Didalam proses komunikasi
dokter-pasien, sikpa professional ini penting untuk menjalin sambung rasa,
sehingga pasien merasa nyaman, aman, dan dapt percaya kepada dokter, yang
merupakan landasan bagi berlanngsungnya komunikasi secara efektif .
Menjalin sambung rasa merupakan itikad dari dokter untuk melakukan
fasilitasi terhadap keluhan pasien, yang berdasar kepada keterbukaan,
kejujuran, pemahaman, terhadap kebutuhan dan harapan pasien.
4. Pelayanan yang bermanfaat sesuai kebutuhan pasien dan perkembangan
iptek
Seorang dokter harus mengikuti perkembangan yang semakin pesat sebagai
contoh dokter harus mengguanakan peralatan dan metode yang ada saat ini.

5. Tersedia, aman,nyaman dan dapat diakses.


Seorang dokter harus ada dimanapun pasien membutuhkan, dimana dokter
lebih mudah dijangkau.
6. Dapat diterima masyarakat setempat.
Adanya dokter di tengah-tengah masyarakat harus lebih bisa membuat rasa
aman, ramah sehingga masyarakat dapat menerima dan memberikan ke
percayaan kepada dokter untuk mengobati.
7. Sopan, hormat, berkelanjutan, penuh perhatian dapat
dipertanggungjawabkan dan tepat waktu.

17
8. Penguasaan Ilmu Pengetahuan Kedokteran dan Kedokteran Gigi
Memahami ilmu kedokteran dasar, ilmu kedokteran klinik yang relevan,
ilmu kedokteran gigi dasar, ilmu kedokteran gigi terapan dan ilmu
kedokteran gigi klinik sebagai dasar profesionalisme serta pengembangan
ilmu kedokteran gigi.
9. Pemeriksaan Fisik Secara Umum dan Sistem Stomatognatik Melakukan
pemeriksaan, mendiagnosis dan menyusun rencana perawatan untuk
mencapai kesehatan gigi mulut yang prima melalui tindakan promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
10. Pemulihan Fungsi Sistem Stomatognatik Melakukan tindakan pemulihan
fungsi sistem stomatognatik melalui penatalaksanaan klinik.
11. Kesehatan Gigi Mulut Masyarakat
Menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat menuju kesehatan gigi
mulut yang prima.
12. Manajemen Praktik Kedokteran Gigi Menerapkan fungsi manajemen
dalam menjalankan praktik kedokteran gigi..15

2.8 Ciri-ciri dokter yang profesional

Sikap profesional seorang dokter ditunjukkan ketika dokter berhadapan


dengan tugasnya (dealing with task), yang berarti mampu menyelesaikan
tugas-tugasnya sesuai peran dan fungsinya; mampu mengatur diri sendiri
seperti ketepatan waktu, pembagian tugas profesi dengan tugas-tugas pribadi
yang lain (dealing with one-self); dan mampu menghadapi berbagai macam
tipe pasien serta mampu bekerja sama dengan profesi kesehatan yang lain
(dealing with others).
Sebagai seorang profesional, dalam melakukan pekerjaan dituntut
memiliki beberapa sikap, sebagai berikut :
1. Komitmen Tinggi
Seorang profesional harus mempunyai komitmen kuat pada pekerjaan yang
dilakukannya.

18
2. Tanggung Jawab
Seorang profesional harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang
dilakukan sendiri.
3. Berpikir Sistematis
Seorang profesional harus mampu berpikir sitematis tentang apa yang
dilakukan dan belajar dari pengalaman.
4. Penguasaan Materi,
Seorang profesional harus menguasai secara mendalam bahan/ materi
pekerjaan yang dilakukan.
5. Menjadi bagian masyarakat professional
Seorang profesional harus menjadi bagian dari masyarakat dalam lingkungan
profesinya.
Tiga Watak Kerja Profesionalisme, adalah:
1. Kerja seorang profesional beritikad merealisasikan kebajikan demi
tegaknya kehormatan profesi, dan tidak terlalu mementingkan atau
mengharapkan imbalan upah materiil
2. Kerja seorang profesional harus dilandasi kemahiran teknis yang
berkualitas yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan
yang panjang, ekslusif dan berat
3. Kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral,
harus tunduk pada mekanisme kontrol berupa kode etik yang
dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah organisasi
profesi.16

2.9 Kompetensi yang harus dimiliki seorang dokter yang profesional

Kompetensi yang harus dimiliki untuk menunjang keprofesionalisme


seorang dokter, yaitu :

1. Etik/Jurpensi
i. Menerapkan Etika kedokteran gigi serta hukum yang berkaitan dengan
praktik kedokteran gigi secara profesional;

19
ii. Melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sesuai dengan kode etik;
iii. Memahami masalah-maslah yang berhubungan dengan hukum yang
berkaitan dengan praktik kedokteran gigi.
2. Analisa informasi kesehatan secara kritis, ilmiah, dan efektif
i. Menganalisa secara kritis keahlian informasi;
ii. Mengelolah informasi kesehatan secara ilmiah, efektif, sistematis, dan
komprehensif;
iii. Berpikir kritis dan alternatif dalam mengambil keputusan;
iv. Menggunakan pendekatan evidence based dentistry dalam pengelolaan
kesehatan gigi dan mulut.
3. Komunikasi
Melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi secara efektif dan
bertanggung jawab baik secara lisan maupun tertulis dengan pasien, keluarga
atau pendamping pasien serta msayarakat, teman sejawat dan profesi
kesehatan lain yang terkait. Hubungan sosio kultural dalam bidang kesehatan
gigi dan mulut. Mengelolah dan menghargai pasien dengan keanekaragaman
sosial, ekonomi, budaya agama, dan ras melalui kerjasama dengan pasien dan
berbagai pihak terkait untuk menunjang pelayanan kesehatan gigi dan mulut
yang bermutu.17

2.10Peran dokter gigi keluarga

Peran dokter gigi keluarga menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 1415/MENKES/SK/X/2005 tentang Kebijakan Pelayanan
Kedokteran Gigi Keluarga BAB III bagian G:
Dokter gigi keluarga seharusnya berperan sebagai;

1. Pemberi pelayanan dengan komitmen tinggi serta menunaikan tugasnya


secara profesional dan etis;
2. Ujung tombak dalam sistem pelayanan kesehatan nasional yang
berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan
kesehatan tingkat pertama. Dokter gigi keluarga juga berfungsi sebagai

20
penapis rujukan upaya kesehatan gigi dan mulut keluarga ke fasilitas yang
lebih mampu;
3. Koordinator dalam pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut pasien beserta
keluarganya dan bekerta sama secara harmonis dengan setiap individu dan
institusi;
4. Sebagai mitra yang beretika bagi pasiennya dalam mengambil keputusan
medis dengan memilih dan menggunakan teknologi kedokteran gigi
secara rasional;
5. Mendorong peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan gigi dan mulut.1

2.11 Prinsip pelayanan dokter gigi keluarga

Prinsip pelayanan dokter gigi keluarga berdasarkan Keputusan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1415/MENKES/SK/X/2005 tentang
Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga BAB III bagian F:
i. Pelayanan yang dilakukan harus dilandasi oleh kebutuhan seluruh
anggota keluarga sehingga perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi
dan mulut secara menyeluruh. Hasil pemeriksaan akan direkam dalam
kartu rekam medik dental untuk setiap individu serta disimpan dalam
satu arsip keluarga;
ii. Renacana terapi dan asuhan yang komprehensif meliputi lima tingkat
pencegahan yang disusun secara rinci, termasuk rujukannya, dan
dikomunikasikan kepada keluarga binaan untuk persetujuan tindakan
medik gigi, Penjadwalan terapi/ tindakan dibuat bersama oleh pemberi
dan penerima layanan.
iii. Tindakan/terapi dan asuhan pelayanan yang bersifat menyeluruh dengan
menempatkan kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari kesehatan
secara utuh untuk perawatan individu disertai dengan program asuhan
kesehatan komunitas keluarga binaan;

21
iv. Tindakan/terapi dan asuhan pelayanan dilakukan secara profesional
dengan mengacu pada bukti-bukti klinik dan data epidemiologik yang
ada;
v. Tindakan/terapi harus sesuai prosedur standar baru, dan selalu diikuti
oleh evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan.1

2.12 Sistematika kerja BPJS

Pelayanan gigi
1. Cakupan Pelayanan
i. Administrasi pelayanan, meliputi biaya administrasi pendaftaran peserta
untuk berobat, penyediaan dan pemberian surat rujukan ke faskes
lanjutan untuk penyakit yang tidak dapat ditangani di faskes tingkat
pertama
ii. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis
iii. Premedikasi
iv. Kegawatdaruratan oro-dental
v. Pencabutan gigi sulung (topikal, infiltrasi)
vi. Pencabutan gigi permanen tanpa penyulit
vii. Obat pasca ekstraksi
viii. Tumpatan komposit/GIC
ix. Skeling gigi (1x dalam setahun)

2. Prosedur
i. Pendaftaran
Jika peserta memilih terdaftar di Puskesmas/ Klinik sebagai Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertamanya, maka:
a. Puskesmas/Klinik wajib menyediakan jejaring (Dokter Gigi/Lab/Bidan
dan sarana penunjang lain)
b. Peserta mendapatkan pelayanan gigi di Dokter Gigi yang menjadi
jejaring Puskesmas/klinik
c. Tidak ada pendaftaran peserta ke Dokter Gigi lain.

22
d. Jika peserta memilih terdaftar di Dokter Praktek Perorangan (Dokter
Umum) sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertamanya, maka:
e. Peserta dapat mendaftar ke Dokter Gigi Praktek Mandiri/Perorangan
sesuai pilihan dengan mengisi Daftar Isian Peserta (DIP) yang
disediakan oleh BPJS Kesehatan.
f. Pelayanan gigi kepada peserta diberikan oleh Dokter Gigi sesuai
pilihan Peserta.
g. Penggantian Fasilitas Kesehatan Dokter Gigi diperbolehkan minimal
setelah terdaftar 3 (tiga) bulan di Fasilitas Kesehatan tersebut.
ii. Pelayanan

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

a. Peserta datang ke Puskesmas/Klinik atau ke Dokter Gigi Praktek


Mandiri/Perorangan sesuai pilihan Peserta.
b. Peserta menunjukkan kartu identitas BPJS Kesehatan (proses
administrasi).
c. Fasilitas Kesehatan melakukan pengecekan keabsahan kartu peserta.
d. Fasilitas Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan/pemberian
tindakan/pengobatan.
e. Setelah mendapatkan pelayanan peserta menandatangani bukti
pelayanan pada lembar yang disediakan oleh Fasilitas Kesehatan.
f. Bila diperlukan atas indikasi medis peserta akan memperoleh obat.
g. Rujukan kasus gigi dapat dilakukan jika atas indikasi medis
memerlukan pemeriksaan/ tindakan spesialis/sub spesialis. Rujukan
tersebut hanya dapat dilakukan oleh Dokter Gigi, kecuali
Puskesmas/Klinik yang tidak memiliki Dokter Gigi.

Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan


a. Peserta membawa identitas BPJS Kesehatan serta surat rujukan dari
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

23
b. Peserta melakukan pendaftaran ke RS dengan memperlihatkan
identitas dan surat rujukan
c. Fasilitas Kesehatan bertanggung jawab untuk melakukan pengecekan
keabsahan kartu dan surat rujukan serta melakukan input data ke dalam
aplikasi Surat Elijibilitas Peserta (SEP) dan melakukan pencetakan
SEP.
d. SEP akan dilegalisasi oleh Petugas BPJS Kesehatan di Rumah Sakit.
e. Peserta mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan
dan/atau perawatan dan/atau pemberian tindakan dan/atau obat
dan/atau Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).
f. Setelah mendapatkan pelayanan, Peserta menandatangani bukti
pelayanan pada lembar yang disediakan oleh masing-masing Fasilitas
Kesehatan.

Pelayanan Protesa Gigi/Gigi Palsu


a. Cakupan Pelayanan
a) Protesa gigi/gigi palsu merupakan pelayanan tambahan/suplemen
dengan limitasi/plafon/ pembatasan yang diberikan kepada peserta
BPJS Kesehatan
b) Pelayanan Protesa gigi/gigi palsu dapat diberikan di Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Rujukan
Tingkat Lanjutan.
c) Protesa gigi/gigi palsu diberikan kepada Peserta BPJS Kesehatan
yang kehilangan gigi sesuai dengan indikasi medis dan atas
rekomendasi dari Dokter Gigi.
d) Tarif maksimal penggantian prothesa gigi adalah sebesar Rp.
1.000.000,- dengan ketentuan sebagai berikut:
Tarif untuk masing-masing rahang maksimal Rp. 500.000,-
Rincian per rahang :
1 sampai dengan 8 gigi : Rp. 250.000,-
9 sampai dengan 16 gigi : Rp. 500.000,-

24
b. Prosedur Pelayanan
a) Prosedur pelayanan dapat dilihat pada bab IV. Pelayanan gigi poin
B.2. Prosedur Pelayanan halaman 10.
b) Bila diperlukan atas indikasi medis peserta akan memperoleh
resep protesa gigi/gigi palsu yang mencantumkan jumlah dan
lokasi gigi.
c) Protesa gigi/gigi palsu dapat diperoleh dari :
1) Dokter Gigi praktek mandiri/perorangan;
2) Puskesmas yang memiliki tenaga kesehatan dokter gigi
dan/atau jejaring dokter gigi;
3) Klinik yang memiliki tenaga kesehatan dan/ atau jejaring
dokter gigi; atau
4) Rumah Sakit.
d) Peserta menandatangani bukti tanda terima, setelah mendapatkan
protesa gigi/gigi palsu
e) Protesa gigi/gigi palsu dapat diberikan kembali paling cepat 2
(dua) tahun sekali atas indikasi medis untuk gigi yang sama.18

2.13 Keuntungan dan kerugian pasien BPJS

Berikut adalah paparan mengenai keuntungan dan kerugian penggunaan


asuransi BPJS dalam perawatan kesehatan
Keuntungan :

1. Premi Murah
Premi BPJS ditentukan berdasarkan kelas yang diambil, tidak
membedakan usia dan jenis kelamin. Premi BPJS Kesehatan per bulan adalah
sebagai berikut:
a) Kelas 1 : 59.500
b) Kelas 2 : 42.500
c) Kelas 3 : 25.500

25
2. Manfaat kesehatan yang dijamin
Selain murah, manfaat yang diberikan BPJS Kesehatan juga lebih lengkap
dari asuransi kesehatan swasta. Berikut manfaat yang diberikan BPJS :
i. Rawat inap
ii. Rawat jalan
iii. Kehamilan, melahirkan dan persalinan dengan operasi caesar
iv. Optik/Kacamata.
3. Tidak ada Pre-Existing Condition
BPJS Kesehatan tidak memberlakukan pre-existing condition, yaitu
kondisi sakit yang pernah diderita peserta. BPJS menanggung semua penyakit
termasuk penyakit yang sudah pernah ada sebelum peserta bergabuing, untuk
itu tidak diperlukan medical check up apabila ingin menjadi peserta BPJS
Kesehatan.
4. Full Cashless
Peserta tidak perlu membayar selama mengikuti kelas kamar yang sesuai
dengan premi yang diambil. Apabila kelas kamar penuh dan melakukan
upgrade kelas, maka kelebihan biaya itu yang harus dibayar peserta BPJS
Kesehatan.
5. Tidak ada batasan Plafond
Tiap produk asuransi kesehatan pasti memiliki plafond atau batasan
pertanggungan, misalnya biaya kamar per malam maksimal 500 ribu, biaya
operasi dan dokter 10 juta. Jika biaya rumah sakit melebihi plafond yang
sudah ditentukan, maka kelebihan tersebut tidak akan diganti oleh asuransi.
BPJS Kesehatan merujuk pada buku panduan, tidak ada plafond atau batasan
biaya penggantian. Selama mengikuti prosedur dan menggunakan kelas
kamar yang ditentukan, semua biaya penggobatan ditanggung oleh BPJS.
Kerugian :
1. Prosesnya Panjang dan Kurang Fleksibel
BPJS Kesehatan memberlakukan sistem rujukan berjenjang yaitu peserta
tidak bisa langsung datang ke rumah sakit tetapi harus datang dahulu ke
fasilitas kesehatan (faskes) tingkat 1 yaitu puskesmas, klinik atau dokter

26
keluarga yang sudah ditunjuk BPJS.Jika ada keputusan dari faskes tingkat 1
untuk melakukan rujukan di rumah sakit, peserta dibolehkan langsung ke
rumah sakit namun tidak bisa menentukan ingin dirawat di rumah sakit mana.
2. Antrian yang Panjang
Karena premi yang murah dan dijamin oleh pemerintah, peserta BPJS
Kesehatan sangatlah banyak dan terkadang fasilitas kesehatan dan rumah sakit
tidak mampu melayani sehingga terjadi antrian. Aakan menjadi masalah
apabila keadaan darurat dan harus dirawat saat itu juga.
3. Tidak Semua Rumah Sakit Bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
Tidak semua rumah sakit bekerja sama dengan BPJS Kesehatan terutama
rumah sakit swasta karena belum bekerjasama dengan BPJS. Apabila tidak
bekerjasama, peserta tidak bisa menggunakan manfaat keanggotaannya di
BPJS Kesehatan. Kebanyakan rumah sakit swasta yang bekerjasama pun
tergolong rumah sakit kelas C yang fasilitasnya kurang memadai.
4. Biaya Rumah Sakit yang Tidak Diganti
Ini kondisi yang banyak dikeluhkan peserta BPJS, yaitu penggantian tidak
penuh meskipun sudah mengikuti ketentuan kelas kamar, atau penggantian
obat dilakukan secara bertahap (tidak sekaligus).19

2.14 Aspek yang memengaruhi kepuasan pasien

Kepuasan pasien didefinisikan sebagai penilaian selepas penggunaan


pelayanan atau produk yang dipilih memenuhi atau melebihi harapan pasien.
Aspek yang memengaruhi kepuasan pasien:

1. Pelayanan kepada pasien dengan harga yang adil atau ekuiti harga
2. Pelayanan kepada pelanggan diutamakan
3. Terdapat penyampaian informasi sebelum pemeriksaan dilakukan.20
4. Dokter yang mampu berkomunikasi dengan baik juga merupakan faktor
yang sangat berpengaruh dalam kepuasan pasien.21

27
2.15 Manajemen pelayanan kesehatan

1. Model manajemen P1 (perencanaan) - P2 (Penggerakan/Pelaksanaa) – P3


(Pengendalian dan penilaian.
2. Model manajemen ARRIF (Analisis, Rumusan, Rencana, Implementasi,
dan Forum Komunikasi). Model ini berfokus pada apa yang terjadi sesuai
dengan siklus manajemen yang berkaitan dengan fungsi petugas sebagai
pembina peran serta masyarakat
3. Model manajemen POAC/E (Planning, Organizing, Actuating,
Controlling/ Evaluating). Model ini merupakan model yang banyak
digunakan di puskesmas dan merupakan modifikasi model manajemen
dari Terry dengan penambahan fungsi evaluating.20

28
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hubungan antara pasien dengan dokter harus dibangun dengan baik.


Salah satunya dengan membangun komunikasi yang efektif. Hubungan
dokter pasien pada masa sekarang ini telah beralih ke model mutual
participation yang menempatkan dokter dan pasien dalam posisi setara
dan saling bekerja sama sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik dan
efektif. Jika komunikasi yang dilakukan baik dan efektif, dokter tidak akan
salah paham sehingga tidak melakukan malpraktik. Dokter sendiri harus
menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan asas etika kedokteran
begitu pula pasien yang harus memenuhi hak dan kewajibannya. Dokter
harus bekerja sesuai SOP dan harus memiliki ciri professional sehingga
pasien akan nyaman untuk berobat. Komunikasi dokter dan pasien
merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai dokter. Kompetensi
komunikasi menentukan keberhasilan dalam membantu penyelesaian
masalah kesehatan pasien. Aspek hukum hubungan antara dokter dan
pasien bisa berdasarkan dua hal, yaitu berdasarkan perjanjian dan karena
Undang-undang.
Asuransi BPJS sangat bermanfaat bagi masyarakat. Itu sangat
membantu masyarakat dengan ekonomian rendah sehingga mereka juga
mudah mendapatkan bantuan kesehatan. Tapi dibalik itu semua juga pasti
ada kerugian atau kekurangan dari asuransi tersebut dan kerugian atau
kekurangan tersebut juga akan merugikan pasien pengklaim asuransi.

3.2 Saran

Hubungan antara dokter dengan pasien sangat penting selama proses

pemeriksaan, pemberian perawatan hingga tahap evaluasi untuk membantu

menyelesaikan masalah kesehatan pasien, maka hubungan yang baik

29
antara kedua belah pihak harus dijaga. Dokter harus menjalin komunikasi

yang baik dengan pasien serta memperlakukan pasien lebih sebagai

partner agar pasien merasa nyaman dan pengobatan yang dilakukan dapat

lebih optimal.

30
DAFTAR PUSTAKA
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1415/MENKES/SK/X/2005 Tentang Kebijakan Pelayanan Kedokteran
Gigi Keluarga.
2. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 19/KKI/KEP/IX/2006
Tentang Kemitraan dalam Hubungan Dokter – Pasien
3. Ramdani AH, Setiawati EP, Herawati DMD. Persepsi dokter puskesmas di
Kota Bandung terhadap implementasi sistem jaminan kesehatan nasional.
JSK 2016;1(4):172.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1438/MENKES/PER/IX/2010 Tentang Standar Pelayanan Kedokteran
5. Yunanto A. Hukum pidana malpraktik medik. Yogyakarta: Penerbit andi;
2010. h. 8-9.
6. Kusumaningrum AE. Tinjauan yuridis hak dan kewajiban pasien sebagai
konsumen dalam pelayanan medis. Supremasi hukum 2013 Jun;2(1):87-8,
90.
7. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang praktik
kedokteran.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2014
Tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien.
9. Ali MM, Sidi IPS, Hadad T, Adam K, Rafly A, Sampurna B, editor.
Kemitraan dalam hubungan dokter-pasien. Jakarta: Konsil kedokteran
Indonesia; 2006. h. 9-12, 14-5.
10. Fourianalistyawati E. Komunikasi yang relevan dan efektif antara dokter
dan pasien. J psikogenesis Dec 2012;1(1):85-6.
11. Sudarma M. Sosiologi untuk kesehatan. Jakarta: Salemba medika; 2008. h.
81.
12. Kaba R, Sooriakumaran. The evolution of the doctor-patient relationship.
Int J Su 2007;5:60.
13. Behrendt K. The 10 characteristics of top dentists who thrive in practicing
fee-for-service Dentistry. ACT dental; 2016. pp. 6,13.
14. The American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on behavior
guidance for the pediatric dental patient. Cli practice guidance
2015;37(6):182.
15. Stefani E. Tinjauan yuridis pelayanan kesehatan yang bermutu menurut
pasal 5 ayat 2 undang-undang nomor 36 tahun 2009 berkaitan dengan
kekecewaan pasien terhadap perilaku dokter. J Univ Atma Jaya
2015;1(1):8-9.
16. Rosihan A. Etika & komunikasi dokter-pasien mahasiswa kalimantan: PT.
Grafika Wangi; 2014. p. 31-32
17. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar kompetensi dokter gigi. Jakarta:
Konsil kedokteran Indonesia; 2006. h. 8-11.
18. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Panduan praktis pelayanan gigi dan
protesa gigi bagi peserta JKN. Jakarta: BPJS Kesehatan; 2014. h. 9-17.

31
19. Dwi MW, Sulistyani D. Perbandingan premi asuransi kesehatan peserta
BPJS badan usaha dengan asuransi kesehatan swasta. J Akuntasi dan
Pajak; Juli 2015; 16(1): 43-44.
20. Akbar FH. Manajemen kualitas pelayanan kesehatan gigi. Makassar: UPT
unhas press; 2017. h. 29, 96, 108.
21. The American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on behavior
guidance for the pediatric dental patient. Cli practice guidance
2015;37(6):182.

32