Anda di halaman 1dari 4

Bahan Khotbah Minggu 20 Januari 2019

Mazmur 18: 31 – 37
Tuhan Memberi yang Tepat Dalam Keadaan Sulit
Bapak,ibu saudara saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

Mari kita buka Kidung Jemaat 37 di bagian bawah tertulis nama Augustus M.
Toplady sebagai penulis syair. Siapakah Augustus M. Toplady? Dia adalah
seorang pendeta yang lahir di Inggris pada tahun 1740. Yang menarik
tentang pendeta Toplady ia sering sakit-sakitan tetapi ia punya semangat
seperti baja. Pada saat umur 19 Tahun Augustus M Toplady tetlah berhasil
menerbitkan buku berisi lagu rohani karangannya sendiri. Lagunya adalah
perjalanan iman yang meyakini bahwa manusia tidak dapat beroleh selamat
atas usaha sendiri. Bahkan dalam kata penghabisannya sebelum ia
meninggal pada tahun 1778 (saat umur 38 tahun) ia berucap “ Sungguh tak
terkatakan penghiburan yang kualami dalam jiwaku; semua doaku menjadi
puji-pujian” Pergumulan demi pergumulan yang dialami Pdt Toplady makin
meneguhkan bahwa Allah saja yang dapat meneguhkan dan
menyelamatkan, bahwa doa-doa dari pergumulan itu juga akhirnya menjadi
puji-pujian. Semua doa-doaku menjadi puji-pujian itu adalah ungkapan akan
kebesaran Allah. Seringkali dalam doa kita menuntut Allah untuk bertindak
tetapi setelah tindakan Allah nyata sudahkah itu jadi pujian dan pengakuan
akan kebesaran Allah? Doa yang kemudian menjadi puji-pujian atas
keyakinan iman bahwa Allah hadir dan bertindak dalam pergumulan
manusia. Seperti yang ditunjukkan dalam Mazmur 18: 31 – 37 ini oleh Raja
Daud suatu pujian atas doa yang meyakini Allah hadir dan bertindak.

Konteks Mazmur 18: 31 – 37 yang kita baca saat ini berbicara tentang puji-
pujian Daud atas tindakan Allah ketika dia sedang dalam ancaman perang.
Daud menganalogikan Allah bagaikan gunung batu (lihat ayat 32) karena
gunung batu pada saat itu adalah lambang kekuatan dan perlindungan. Pada
zaman itu di wilayah Timur Tengah cara paling aman untuk berlindung dari
serangan musuh adalah berlindung di bukit-bukit batu. Musuh akan sulit
untuk melihat atau menyerang karena celah berbatuan. Nah Allah
digambarkan sebagai gunung batu menyatakan pengakuan Daud bahwa
Allah saja yang mampu menjadi tempat perlindungan baginya saat dikejar
musuh. Daud merasa aman bukan pada tempat tetapi pada Allah. Lari dari
kejaran musuh amat melelahkan dan membuat emosi dapat menjadi tidak
stabil. Berlindung di bukit batu memberikan rasa aman tetapi tetap saja itu
hanya sementara untuk merasakan aman. Daud telah mengalami bahwa lari
dari satu bukit batu ke bukit batu yang lebih tinggi melelahkan juga.
Akhirnya yang melindungi dan membuat dia tetap selamat hanya karena
tindakan Allah. Sebagaimana keyakinan iman yang juga ditunjukkan oleh Pdt
Toplady yang menciptakan lagu batu karang yang teguh. Bahwa satu-satunya
tempat pelarian dan perlindungan yang pasti memberikan jaminan selamat
hanya ada pada ALLAH?
Bapak, ibu saudara-saudari yang terkasih bukankah pergumulan atau
masalah yang datang dalam hidup kita dapat diibaratkan seperti musuh yang
mengejar? Musuh yang membuat kita lelah dan kadang ingin menyerah.
Tidak ada satu manusia pun yang luput dari permasalahan atau pergumulan.
Bahkan masalah dalam hidup manusia itu selalu ada hanya berubah
tingkatannya sesuai dengan kondisi dan tingkat kedewasaan kita. Hidup itu
beralih dari satu masalah ke masalah yang lain. Beralih dari satu pergumulan
kepada pergumulan yang lain. Hanya saat manusia sudah menutup mata
maka tidak lagi memikirkan masalah atau pergumulan hidup. Oleh karena
itu bagi orang yang tidak tahan dalam pergumulan hidupnya dapat saja
mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Bahkan dilansir dari berita VOA
(Voice of America) menurut data WHO (Badan Kesehatan Dunia setiap 40
detik terjadi tindakan bunuh diri di dunia. Tingkat bunuh diri di dunia pada
tahun 2018 semakin meninggi yang diduga karena isolasi sosial dan bullying
(penindasan/perundungan) yang makin marak akhir-akhir ini. Bagi beberapa
orang yang juga enggan bunuh diri tetapi juga ingin lari dari masalah
hidupnya seringkali pelariannya adalah narkoba atau miras (minuman keras).
Semua ini mengajarkan kita bahwa dari dahulu hingga kini seringkali kita
diperhadapkan dengan musuh-musuh entah musuh karena pergumulan
dalam lingkup sosial bahkan musuh yang terang-terangan yaitu orang yang
menindas dan menjatuhkan kita. Pergumulan demi pergumulan membuat
manusia lemah dan lelah. Manusia butuh untuk mendapatkan jaminan
keamanan.
Melalui teks ini jaminan keselamatan dan keamanan itu hanya didapat pada
Tuhan. Ada 3 kata yang menjadi penegasan yaitu jalan, perisai dan gunung
batu, ketiganya menganalogikan kemahakuasaan TUHAN. Hidup seperti
rangkaian dari satu perjuangan ke perjuangan berikutnya. Daya tahan dan
daya juang manusia sangatlah terbatas. Manusia suka mengambil jalan
sendiri, entah itu jalan pintas, entah itu jalan sesat karena itu pada ayat 31
pemazmur mengakui jalan Tuhan yang sempurna. Sempurna bukan diartikan
bahwa tidak adanya perjuangan, sempurna diartikan karena sepanjang jalan
ada perlindungan. Di sepanjang jalan ada janji penyertaan yang pasti
Sehingga orang yang tidak mengikuti jalan Tuhan cenderung menjadi orang
yang mudah kalah dalam pergumulan hidupnya.
Bapak, ibu, saudara –saudari yang terkasih
Apakah kita sudah mereflesikan perjalanan hidup kita masing-masing?
Banyak bukan yang telah kita lewati? Pergumulan demi pergumulan,
masalah demi masalah. Pergumulan belum mendapat kesesuaian harapan,
belum mendapatkan apresiasi, belum mendapatkan status sosial, belum
mendapatkan jaminan. Namun kita lupa kegalauan manusia terjadi karena
terlalu mengkhawatirkan apa yang telah dijaminkan menjadi tindakan
ALLAH. Apa itu? Kehidupan ini milik Tuhan, hidup dan mati kita ada di
tangan Tuhan, rejeki juga semua terjadi karena kebaikan Tuhan, keselamatan
pastilah menjadi bagian Tuhan. Bukan berarti kita pasrah tetapi belajar
untuk menjalankan kehidupan sebagaimana manusia yang sadar diri punya
keterbatasan (lihat kembali ayat 34 s.d 37). Jalani kehidupan, perjuangkan
tetapi jangan lupa sumber segala berkat, sumber kekuatan dan sumber
perlindungan hanya ada pada Tuhan. Dalam keadaan yang sulit Tuhan tidak
pernah terlambat untuk menopang dan memampukan kita untuk terus
berdiri. AMIN.