Anda di halaman 1dari 22

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan Rahmat
dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada
waktunya. Makalah ini membahas mengenai Esensi, Urgensi, Dinamika dan Tantangan
Nasional serta Esensi dan Urgensi Bela Negara yang digunakan sebagai pemenuhan tugas
Pendidikan Kewarganegaraan Dan diharapkan menjadi salah satu referensi bagi pembaca
sehingga memiliki wawasan yang luas tentang esensi, urgensi, dinamika dan tantangan
nasional serta esensi dan urgensi bela negara.

Makalah ini dibuat dengan mengkaji dari berbagai sumber baik secara tertulis maupun tidak
tertulis dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan berbagai
tantangan maupun hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini, semoga mendapat balasan yang sesuai dari Allah SWT.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, banyak kekurangan yang
mendasar yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu kami
mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang positif dan membangun.
Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Jember, 27 Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................

KATA PENGANTAR..............................................................................................

DAFTAR ISI...........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................

A.Latar Belakang...............................................................................................
B. Rumusan Masalah..........................................................................................
C. Tujuan Penulisan............................................................................................

D. Manfaat Penulisan………………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................

A.Esensi dan Urgensi Ketahanan Nasional ...................................................................


B.Esensi dan Urgensi Bela Negara ..........................................................................
C.Dinamika Ketahanan Nasional Indonesia.............................................................
D.Tantangan Ketahanan Nasional Indonesia ..........................................................

BAB III PENUTUP..........................................................................................................

A. Simpulan........................................................................................................

Daftar Pustaka………………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terbentuknya negara Indonesia dilatarbelakangi oleh perjuangan seluruh bangsa.


Sejak lama Indonesia menjadi incaran banyak bangsa atau negara karena potensi yang
besar dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang banyak (Sutoyo,
2011). Bahkan setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, harus
menghadapi ancaman dan gangguan baik yang bersifat fisik sampai ideologi. Sampai saat
ini ancaman dan hambatan yang harus dihadapi Indonesia kian kompleks, yaitu ancaman,
tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang memengaruhi berbagai aspek astra
gatra terutama gatra ideologi, politik, dan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah
ancaman separatis ditunjukkan banyaknya wilayah atau propinsi di Indonesia yang ingin
melepaskan dirinya merdeka lepas dari Indonesia seperti Aceh, Riau, Irian Jaya, Irian Jaya
dan beberapa daerah lainnya. Begitu pula beberapa aksi provokasi yang mengganggu
kestabilan kehidupan hingga terjadi kerusuhan yang diwarnai nuansa etnis dan agama.

Tapi bangsa Indonesia telah berusaha dan berhasil menghadapi berbagai hal tersebut
dengan semangat persatuan dan keutuhan. Diperlukan keuletan dan ketangguhan bangsa
yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menjaga dan
menjamin keutuhan keberlangsungan bangsa dan negara dalam mencapai tujuan nasional
yang disebut dengan ketahanan nasional. Selain itu, bela negara merupakan implementasi
bangsa Indonesia dalam peranannya menjalankan konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia
sehingga tercipta dan terjaganya keamanan, keutuhan, kesejahteraan dan kedamaian
negara Indonesia. Sehingga penulis mengambil judul “Esensi, Urgensi, Dinamika, dan
Ancaman Ketahanan Nasional Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa esensi, urgensi, dan dinamika ketahanan nasional Indonesia ?


2. Apa esensi dan urgensi bela negara ?
3. Apa tantangan ketahanan nasional Indonesia dan solusinya ?
1.3 Tujuan Penulisan

Adapun maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah:


1. Untuk memahami esensi, urgensi, dinamika dan tantangan ketahanan nasional
2. Untuk memahami esensi dan urgensi bela negara
3. Dapat mengimplementasikan konsepsi ketahanan nasional Indonesia
4. Memberikan solusi akan permasalahan ketahanan nasional yang ada di Indonesia

1.4 Manfaat Penulisan

1. Manfaat teoritis
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan
tentang ketahanan nasional di Indonesia.

2. Manfaat praktis
Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca mengenai
ketahanan nasional Indonesia dan bela negara sehingga tergerak
mengimplementasikan, ikut memberikan solusi akan masalah yang memengaruhi aspek
ketahanan nasional dan terwujudnya rasa cinta tanah air.
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Esensi Ketahanan Nasional dan Bela Negara

2.1.1 Esensi dan Urgensi Ketahanan Nasional

Geostrategi Indonesia pada dasarnya adalah strategi nasional bangsa


Indonesia dalam memanfaatkan wilayah negara Republik Indonesia sebagai ruang
lingkup nasional guna merancang arahan tentang kebijakan, sarana, dan sasaran
pembangunan untuk mencapai kepentingan dan tujuan nasional. Geostrategi
Indonesia dirumuskan dalam wujud Konsepsi Ketahanan Nasional (Heny
Herdiwanto& Jumanta Hamdayama, 2010). Ketahanan nasional Indonesia adalah
kondisi dinamis suatu bangsa atau Indonesia yang meliputi segenap kehidupan
nasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan yang mengandung
kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi
segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari dalam
maupun dari luar, untu menjamin identitas, integritas dan kelangsungan hidup
bangsa dan Negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional (Lemhamnas,
200:98) kondisi ini dibina terus menerus dan sinergi mulai dari pribadi, keluarga,
lingkungan nasional.

Konsepsi ketahanan Indonesia merupakan pedoman untuk meningkatkan


keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan
kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Pernyataan
konseptual yang kompleks tersebut dapat dijelaskan unsur-unsurnya (Sunarso dan
Kus Eddi Sartono) :

a) Ketangguhan adalah kekuatan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu


dapat bertahan karena beban yang dipikulnya.
b) Keuletan adalah usaha secara giat dengan kemampuan yang sangat keras
dalam menggunakan kemampuan untuk mencapai tujuan.
c) Identitas adalah cirri khas suatu bangsa dan Negara dilihat secara keseluruhan
(holistic)
d) Integritas adalah kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu bangsa
baik unsure sosial maupun alamiah, baik yang bersifat potensial maupun
fungsional.
e) Ancaman adalah hal usaha yang bersifat mengubah kebijaksanaan yang
dilakukan secara konseptual, criminal, dan politis.
f) Tantangan adalah hal atau usaha yang bersifat menggugah kemampuan yang
terjadi karena kondisi yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan
untuk menanggulangi keadaan yang ada didepannya.
g) Hambatan adalah hal atau usaha dari diri sendiri yang bersifat dan bertujuan
melemahkan atau menghalangi secara tidak konseptual.
h) Gangguan adalah hal atau usaha yang berasal dari luar, bersifat dan bertujuan
melemahkan atau menghalangi secara tidak konseptual.
A. Hakikat dan Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia
1) Hakikat ketahanan nasional Indonesia adalah keuletan dan ketangguhan
bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan
nasional untuk dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara
dalam mencapai tujuan nasional.
2) Konsepsi ketahan nasional Indonesia adalah pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara selaras, serasi, dan
seimbang seluruh aspek kehidupan bangsa dan Negara Indonesia.
B. Asas-Asas Ketahan Nasional Indonesia

Asas ketahanan nasional Indonesia adalah tata laku berdasarkan nilai-nilai


pancasila, UUD 1995, dan wawasan nusantara yang terdiri dari :

1. Asas kesejahteraan dan keamanan


Asas kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam kehidupan
nasional yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan yang tanpa
keduannya system kehidupan nasional tidak dapat berlangsung atau
berjalan lancar.
2. Asas komprehensif integral atau menyeluruh terpadu
Sistem kehidupan nasional mencakup aspek kehidupan bangsa dalam
perwujudan persatuan dan kesatuan yang selaras, serasi, dan seimbang
seluruh aspek kehidupan bermasyaraat, berbangsa dan bernegara.
3. Asas mawas kedalam dan mawas keluar
 Mawas kedalam
Bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi kehidupan
nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang
proporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian
bangsa yang ulet dan tangguh.
 Mawas keluar
Bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan berperan serta mengatasi
dampak lingkungan strategis luar negeri dan menerima kenyataan
adanya interaksi dan ketergantungan dengan dunia internasional.
4. Asas kekeluargaan
Asas ini yang menggakui adanya keanekaragaman di Indonesia yang
harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan agar tidak
berkembang menjadi konflik saling menghancurkan.

C. Sifat Ketahanan Nasional Indonesia


a. Mandiri
Ketahanan Nasional percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri serta
pada keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah
menyerah dengan tumpuan pada integritas dan kepribadian bangsa.
b. Dinamis
Ketahanan nasional tidaklah tetap, ia dapat meningkat atau menurun
tergantung pada situasi dan kondisi bangsa, Negara, serta lingkungan
strategisnya.
c. Wibawa
Keberhasilan pembinaan ketahanan nasional Indonesia secara berlanjut
dan berkesinambungan akan meningkatkan kemampuan dan kekuatan
bangsa, makin tinggi tingkat ketahanan nasional maka makin tinggi pula
nilai kewibawaan dan daya tangkal yang dimiliki oleh bansa dan Negara
Indonesia.
d. Konsultasi dan kerjasama
Konsepsi ketahanan nasional Indonesia tidak mengutamakan sikap
konfrontasi danjantagonis tidak mengandalkan kekuatan, kekuatan fisik
semata, tetapi lebih mengutamakan sikap konsultatif, kerjasama serta
saling menghargai dengan mengandalkan kekuatan moral dan kepribadian
bangsa.

D. Unsur-Unsur Ketahanan Nasional Model Indonesia

Terdiri atas delapan unsur yang dinamakan Asta Gatra (delapan gatra),
yang terdiri dari Tri Gatra (tiga gatra) alamiah dan Panca Gatra (lima gatra)
sosial. Unsur atau gatra dalam ketahanan nasional Indonesia tersebut, sebagai
berikut;
Tiga aspek kehidupan alamiah (tri gatra) yaitu:
1) Gatra letak dan kedudukan geografi
2) Gatra keadaan dan kekayaan alam
3) Gatra keadaan dan kemampuan penduduk
Lima aspek kehidupan sosial (panca gatra) yaitu:
1) Gatra ideologi
2) Gatra politik
3) Gatra ekonomi
4) Gatra sosial budaya (sosbud)
5) Gatra pertahanan dan keamanan (hankam)
Model Asta Gatra merupakan perangkat hubungan bidang-bidang kehidupan
manusia dan budaya yang berlangsung di atas bumi ini dengan memanfaatkan
segala kekayaan alam yang dapat dicapai dengan menggunakan
kemampuannya. Model ini merupakan hasil pengkajian Lembaga Ketahanan
Nasional (Lemhanas). Adapun penjelasan dari masing masing gatra tersebut
adalah sebagai berikut:

1. Gatra letak geografi atau wilayah menentukan kekuatan nasional


negara.
Hal yang terkait dengan wilayah negara meliputi; Bentuk wilayah
negara dapat berupa negara pantai, negara kepulauan atau negara
kontinental. Dalam kaitannya dengan wilayah negara, pada masa
sekarang ini perlu dipertimbangankan adanya kemajuan teknologi,
kemajuan informasi dan komunikasi. Suatu wilayah yang pada awalnya
sama sekali tidak mendukung kekuatan nasional karena penggunaan
teknologi, wilayah itu kemudian bisa menjadi unsur kekuatan nasional
negara .Sumber kekayaan alam dalam suatu wilayah baik kualitas
maupun kuantitasnya sangat diperlukan bagi kehidupan nasional. Oleh
karena itu, keberadaannya perlu dijaga dan dilestarikan. Kedaulatan
wilayah nasional, merupakan sarana bagi tersedianya sumber kekayaan
alam dan menjadi modal dasar pembangunan. Pengelolaan dan
pengembangan sumber kekayaan alam merupakan salah satu indikator
ketahanan nasional.

2. Gatra penduduk sangat besar pengaruhnya terhadap upaya


membina dan mengembangkan ketahanan nasional.
Meliputi jumlah (kuantitas), komposisi, persebaran, dan kualitasnya.
Penduduk yang produktif, atau yang sering disebut sebagai sumber daya
manusia yang berkualitas, mempunyai korelasi positif dalam pemanfaatan
sumber daya alam serta menjaga kelestarian lingkungan hidup (geografi),
baik fisik maupun sosial.

3. Gatra ideologi

Menunjuk pada perangkat nilai-nilai bersama yang diyakini baik untuk


mempersatukan bangsa. Bangsa Indonesia yang bersatu sangat penting
untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Hal ini dikarenakan Bangsa
Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keanekaragaman yang tinggi.
Keadaan ini mempunyai dua peluang, yakni berpotensi perpecahan, dan
yang kedua berpotensi sebagai kekayaan bangsa, menumbuhkan rasa
kebanggaan, dan bersatu. Unsur ideologi diperlukan untuk
mempersatukan bangsa yang beragam ini. Bagi bangsa Indonesia, nilai
bersama ini tercermin dalam Pancasila.

4. Gatra politik

Berkaitan dengan kemampuan mengelola nilai dan sumber daya


bersama agar tidak menimbulkan perpecahan tetap stabil dan konstruktif
untuk pembangunan. Politik yang stabil akan memberikan rasa aman serta
memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. Pada gilirannya keadaan
itu akan memantapkan ketahanan nasional suatu bangsa. Gatra politik ini
nantinya diwujudkan dalam sistem politik yang diatur menurut konstitusi
negara dan dipatuhi oleh segenap elemen bangsa.

5. Gatra ekonomi.

Ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan


nasional negara yang bersangkutan terlebih di era global sekarang ini.
Bidang ekonomi berperan langsung dalam upaya pemberian dan distribusi
kebutuhan warga negara. Kemajuan pesat di bidang ekonomi tentu saja
menjadikan negara yang bersangkutan tumbuh sebagai kekuatan dunia.
Contoh Jepang dan Cina. Setiap negara memiliki sistem ekonomi
tersendiri dalam rangka mendukung kekuatan ekonomi bangsanya.
Ekonomi yang kuat tentu saja dapat meningkatkan ketahanan eknomi
negara yang bersangkutan.

6. Gatra sosial budaya.

Dalam aspek sosial budaya, nilai-nilai sosial budaya, hanya dapat


berkembang di dalam situasi aman dan damai. Tingginya nilai sosial
budaya biasanya mencerminkan tingkat kesejahteraan bangsa baik fisik
maupun jiwanya. Sebaliknya keadaan sosial yang timpang dengan segala
kontradiksi di dalamnya, memudahkan timbulnya ketegangan sosial.
Kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia disokong dengan baik oleh
seloka Bhinneka Tunggal Ika. Selama seloka ini dijunjung tinggi maka
ketahanan sosial budaya masyarakata relatif terjaga.

7. Gatra pertahanan keamanan Negara

. Unsur pertahanan keamanan negara merupakan salah satu fungsi


pemerintahan negara. Negara dapat melibatkan rakyatnya dalam upaya
pertahanan negara sebagai bentuk dari hak dan kewajiban warga negara
dalam membela negara. Bangsa Indonesia dewasa ini menetapkan politik
pertahanan sesuai dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara. Pertahanan negara Indonesia bersifat semesta dengan
menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama
pertahanan didukung komponen cadangan dan komponen pendukung,
terutama dalam hal menghadapi bentuk ancaman militer. Sedangkan
dalam menghadapi ancaman nonmiliter, sistem pertahanan menempatkan
lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama sesuai
dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh
unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa.

2.2.2 Esensi dan Urgensi Bela Negara

Bela negara adalah sikap, tekad dan juga perilaku warga negara yang dilakukan
secara menyeluruh, teratur serta terpadu dan juga dijiwai oleh kecintaan terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
untuk menjamin kelangsungan hidup berbangsa. Dasar hukum mengenai bela negara
terdapat dalam isi UUD 1945, yakni:

a. Pasal 27 ayat (3) yang menyatakan bahwa semua warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
b. Pasal 30 ayat (1) yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.

Bela negara mencakup pengertian bela negara secara fisik dan nonfisik. Bela negara
secara fisik adalah memanggul senjata dalam menghadapi musuh (secara militer).
Bela negara secara fisik pengertiannya lebih sempit daripada bela negara secara
nonfisika.

A. Bela Negara Secara Fisik


Menurut Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
militer). Bela negara secara fisik pengertiannya lebih sempit daripada bela
keikutsertaan warga negara dalam bela negara secara fisik dapat dilakukan
dengan menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia dan Pelatihan Dasar
Kemiliteran. Sekarang ini pelatihan dasar kemiliteran diselenggarakan melalui
program Rakyat Terlatih (Ratih), meskipun konsep Rakyat Terlatih (Ratih)
adalah amanat dari Undang-undang No. 20 Tahun 1982. Rakyat Terlatih (Ratih)
terdiri dari berbagai unsur, seperti Resimen Mahasiswa (Menwa), Perlawanan
Rakyat (Wanra), Pertahanan Sipil (Hansip), Mitra Babinsa, dan Organisasi
Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang telah mengikuti Pendidikan Dasar Militer,
dan lain-lain. Rakyat Terlatih mempunyai empat fungsi yaitu Ketertiban Umum,
Perlindungan Masyarakat, Keamanan Rakyat, dan Perlawanan Rakyat. Tiga
fungsi yang disebut pertama umumnya dilakukan pada masa damai atau pada
saat terjadinya bencana alam atau darurat sipil, di mana unsur-unsur Rakyat
Terlatih membantu pemerintah daerah dalam menangani Keamanan dan
Ketertiban Masyarakat. Sementara fungsi Perlawanan Rakyat dilakukan dalam
keadaan darurat perang di mana Rakyat Terlatih merupakan unsur bantuan
tempur.Bila keadaan ekonomi dan keuangan negara memungkinkan, maka dapat
pula dipertimbangkan kemungkinan untuk mengadakan Wajib Militer bagi
warga negara yang memenuhi syarat seperti yang dilakukan di banyak negara
maju di Barat. Mereka yang telah mengikuti pendidikan dasar militer akan
dijadikan Cadangan Tentara Nasional Indonesia selama waktu tertentu, dengan
masa dinas misalnya sebulan dalam setahun untuk mengikuti latihan atau kursus-
kursus penyegaran. Dalam keadaan darurat perang, mereka dapat dimobilisasi
dalam waktu singkat untuk tugas-tugas tempur maupun tugas-tugas teritorial.
Rekrutmen dilakukan secara selektif, teratur dan berkesinambungan.
Penempatan tugas dapat disesuaikan dengan latar belakang pendidikan atau
profesi mereka dalam kehidupan sipil misalnya dokter ditempatkan di Rumah
Sakit Tentara, pengacara di Dinas Hukum, akuntan di Bagian Keuangan,
penerbang di Skuadron Angkatan, dan sebagainya. Gagasan ini bukanlah
dimaksudkan.sebagai upaya militerisasi masyarakat sipil, tapi memperkenalkan
“dwi-fungsi sipil”. Maksudnya sebagai upaya sosialisasi “konsep bela negara” di
mana tugas pertahanan keamanan negara bukanlah semata-mata tanggung jawab
TNI, tapi adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara Republik Indonesia.

B. Bela Negara Secara Nonfisik


Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa bela negara tidak selalu harus
berarti “memanggul senjata menghadapi musuh” atau bela negara yang
militerisitik.Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara keikutsertaan warga negara dalam bela negara secara nonfisik dapat
diselenggarakan melalui pendidikan kewarganegaraan dan pengabdian sesuai
dengan profesi. Pendidikan kewarganegaraan diberikan dengan maksud
menanamkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Pendidikan
kewarganegaraan dapat dilaksanakan melalui jalur formal (sekolah dan
perguruan tinggi) dan jalur nonformal (sosial kemasyarakatan).
Bela negara memiliki kedudukan yang penting karena merupakan implementasi
dan upaya bangsa Indonesia sehingga tidak terjadi perpecahan dalam negara
Indonesia demi terjaganya kelangsungan hidup dan keutuhan negara sesuai dengan
dinamika ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Bela negara memiliki
fungsi, tujuan dan manfaat sebagai berikut:

A. Tujuan Bela Negara


a. Menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
b. Menjaga identitas dan integritas bangsa dan negara.
c. Melestarikan budaya.
d. Mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan juga negara.
e. Berbuat yang terbaik bagi bangsa dan juga negara.

B. Fungsi Bela Negara


a. Merupakan kewajiban setiap warga negara.
b. Mempertahankan Negara dari berbagai ancaman.
c. Merupakan panggilan sejarah.
d. Menjaga keutuhan wilayah negara.

C. Manfaat Bela Negara


Bela negara memiliki beragam manfaat, baik bagi individu masing-masing
warga negara ataupun bagi negara itu sendiri. Berikut ialah beberapa contoh
manfaat bela negara:
a. Menanamkan rasa kecintaan pada Bangsa dan Patriotisme sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
b. Membentuk Iman dan Taqwa pada masing-masing Agama.
c. Melatih jiwa kepemimpinan dalam memimpin diri sendiri ataupun
kelompok.
d. Menghilangkan sikap negatif, misalnya malas, apatis, boros, egois, dan
tidak disiplin.
e. Membentuk sikap disiplin akan waktu, aktivitas, dan juga pengaturan
kegiatan lain.
f. Membentuk perilaku jujur, tegas, adil, tepat, serta kepedulian antar sesama.
g. Membentuk jiwa kebersamaan serta solidaritas antar sesama rekan
seperjuangan.
h. Membentuk mental dan juga fisik yang tangguh.
i. Berbakti pada orang tua, bangsa, dan agama.
j. Melatih kecepatan, ketepatan, ketangkasan individu dalam melaksanakan
beragam kegiatan.

2.2 Dinamika Ketahanan Nasional Indonesia

Konsep pengertian ketahanan nasional Indonesia sempat mengalami perubahan


untuk menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik dari dalam
negeri maupun luar negeri. Tetapi berdasarkan pengalaman sejarah bangsa Indonesia
mampu membuktikan bahwa konsep pengertian ketahanan nasional kita mampu
menangkal berbagai bentuk ancaman sehingga tidak berujung pada kehancuran bangsa
atau NKRI. Berikut ini perkembangan pengertian Konsep Ketahanan Nasional
Indonesia (Tannas) :
1. Gagasan Tannas oleh Seskoad pada tahun 1960-an
Istilah ketahanan nasional sudah dikenal sejak awal tahun 1960-an. Pada saat
itu ketahanan nasional belum diberi definisi tertentu dan belum disusun dalam
suatu konsep yang lengkap. Pada waktu itu istilah ketahanan nasional dipakai
dalam rangka pembahasan masalah pembinaan teritorial atau masalah pertahanan
keamanan pada umumnya. Sedangkan secara historis, gagasan tentang ketahanan
nasional bermula pada awal tahun 1960-an di kalangan militer angkatan darat di
SSKAD yang sekarang bernama SESKOAD (Sunardi, 1997). Masa itu sedang
meluasnya pengaruh komunisme yang berasal dari Uni Sovyet dan Cina. Pengaruh
komunisme menjalar sampai kawasan Indo Cina sehingga satu per satu kawasan
Indo Cina menjadi negara komunis seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja. Tahun
1960-an terjadi gerakan komunis di Philipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Bahkan gerakan komunis Indonesia mengadakan pemberontakan pada 30
September 1965 namun akhirnya dapat diatasi (Paristiyanti Nurwardani, 2017).
Berbeda dengan Negara Yugioslavia yang telah terpecah dalam banyak seperti
Bosnia Herzegovina, Kroasia, Serbia, Slovenia, Makedonia, dan Montenegro.
Bahkan Kosovo telah memproklamirkan dirinya sebagai negara baru meskipun
tidak banyak mendapat pengakuan dari negara lain. Terjadinya perpecahan tersebut
dikarenakan tidak kuatnya konsepsi dan implementasi pertahanan nasional Negara
Yugoslavia terutama aspek ideologi.
2. Upaya Penggagasan Konsep Ketahanan Nasional 1962 oleh Lemhannas
Sekitar awal tahun l962 ada usaha-usaha untuk mengembangkan pola
gagasan Ketahanan Nasional tersebut, terutama oleh Panitia Pendirian Lembaga
Pertahanan Nasional (Lemhannas). Kemudian pada tahun 1965 Lemhannas
diresmikan, maka lembaga ini selalu berusaha mempopulerkan dan
menyempurnakan konsep Ketahanan Nasional.
3. Gagasan Tannas oleh Lemhannas pada tahun 1968
Pada tahun 1968 Lemhannas untuk pertama kalinya memperkenalkan konsep
pertahanan nasional pada publik. Pada waktu itu Lemhannas mendefinisikan
ketahanan nasional sebagai keuletan dan daya tahan bangsa dalam menghadapi
segala kekuatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam yang langsung
maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan negara dan bangsa
Indonesia.
4. Revisi Gagasan Tannas oleh Lemhanas pada tahun 1969
Pengertian tersebut direvisi oleh Lemhannas pada tahun 1969, menjadi
keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan untuk
mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala ancaman baik yang
datang dari luar maupun yang datang dari dalam yang langsung maupun tidak
langsung membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara.
5. Gagasan Tannas oleh Lemhannas pada tahun 1972
Kata “segala” pada konsep sebelumnya ditelaah kembali dan menunjukkan
kesadaran akan spectrum ancaman yang lebih dari sekedar ancaman komunis dan
atau pemberontakan. Kesadaran akan spectrum ini diperluas tahun 1972 menjadi
ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG). Konsep Ketahanan
Nasional tahun 1972 dirumuskan sebagai kondisi dinamis satu bangsa yang berisi
keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan
kekuatan nasional, didalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman,
hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dalam, yang langsung
maupun tidak langsung yang membahayakan identitas, integritas kelangsungan
hidup bangsa dan negara serta perjuangan mengejar tujuan perjuangan nasional.
Konsepsi ini mampu menghadapi krisis ekonomi dan politik pada tahun 1997-1998
yang melanda dunia termasuk Indonesia. Konsep ini juga digunakan hingga saat ini
karena dianggap paling relevan dan sesuai dengan kebutuhan Negara Indonesia.
6. Gagasan Tannas berdasarkan SK Menhamkam/Pangab No.SKEP/1382/XI/1974
Ketahanan nasional merupakan kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi
keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan,
tantangan, baik yang datang dari dalam maupun luar, yang langsung maupun tidak
langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan
negara serta perjuangan nasional.
7. Gagasan Tannas menurut Presiden Soeharto pada tahun 1975
Konsep Ketahanan Nasional yang dikemukakan Presiden Soeharto pada
Sidang DPR RI Tanggal 16 Agustus 1975 menegaskan bahwa Ketahanan Nasional
itu merupakan bagian yang penting dari usaha kita untuk terus membangun diri
sendiri dan sanggup membentuk masa depan sendiri. Ketahanan Nasional
dirumuskan oleh Presiden Soeharto sebagai tingkat keadaan keuletan dan
ketangguhan bangsa kita dalam menghimpun dan mengerahkan keseluruhan
kemampuan nasional yg ada sehingga merupakan kekuatan nasional yang mampu
menghadapi setiap ancaman dan tantangan keutuhan maupun kepribadian bangsa
dalam mempertahankan kehidupan bangsa dan kelangsungan cita-citanya. Dalam
ketahanan di bidang politik dikatakan hak demokrasi selalu disertai dengan
tanggungjawab. Ditegaskan oleh Presiden : kebebasan yang kreatif berjalanlah
terus, bergandengan dengan rasa tanggung jawab yang besar.
8. Gagasan Tannas menurut GBHN 1978-1997
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang merupakan integrasi kondisi
tiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Pada hakikatnya ketahanan nasional
adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk menjamin kelangsungan
hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara.

Meski konsep ketahanan nasional cukup relevan dan mampu menghadapi ancaman,
hambatan, tantangan, dan gangguan hingga saat ini. Tetap diperlukan perubahan,
perkembangan, dan dinamika yang terus menerus. Guna mengahadapi aneka ancaman,
hambatan, tantangan, dan gangguan yang terus berubah bahkan semakin kompleks.
Ketahanan nasional sebagai kondisi, salah satu wajah Tannas, akan selalu menunjukkan
dinamika sejalan dengan keadaan atau obyektif yang ada dimasyarakat kita. Sebagai
kondisi, gambaran Tannas bisa berubah-ubah, kadang tinggi, kadang rendah.
Berikut ini pemberitaan terkait dengan Tannas sebagai Kondisi:

258
Lemhannas: Ketahanan Nasional Indonesia Rapuh
Rabu, 13 November 2013 | 17:35
[JAKARTA] Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dalam kajiannya menemukan
fakta bahwa ketahanan nasional Indonesia tidak tangguh alias rapuh. Kesimpulan itu
diambil berdasarkan pengkajian pengukuran ketahanan nasional dari 33 provinsi yang
ada di Indonesia dengan 847 indikator.
“Hasilnya sampai tahun 2012, ketahanan nasional kita tidak tangguh. Apa karena
struktur kelembagaan negara, kultur kita setelah reformasi, atau prosesnya yang
salah,” kata Deputi Bidang Pendidikan Lemhannas, Mayjen TNI (Purn) I Putu Sastra
dalam diskusi bertajuk “Menata Ulang Sistem Bernegara” di Gedung DPD RI, Jakarta,
Rabu (13/11).
Hadir sebagai pembicara bersama Sekretaris Tim Pengkajian Sistem Kebangsaan RI
Partai Golkar, Agun Gunanjar Sudarsa, pengamat politik Yudi Latif, dan anggota DPD
RI, AM Fatwa.
Menurut Putu, hasil pengkajian ini bersifat kuantitatif, karena masih perlu diurai lagi
penyebabnya, apakah karena kultur atau struktur yang salah, lembaganya yang salah
atau prosesnya yang keliru. “Ada 8 gatra yang menjadi ukuran ketahanan nasional, di
antaranya geografi, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan
pertahanan dan keamanan (Hakam),” ujarnya.
Putu mengatakan, solusi untuk mengatasi hal ini adalah perlu dilakukan amendemen
UUD 1945. “Persoalannya tinggal bagaimana mekanismenya, kapan waktunya, dan
sebagainya,” katanya.
Sumber: http://www.suarapembaruan.com/home/lemhannas-
ketahanannasionalindonesia-
rapuh/44880

Berdasar pemberitaan di atas, dinyatakan bahwa kondisi Tannas kita, konsepsi ketahanan
nasional sebagai kondisi, dianggap rapuh meski masih relevan sampai sekarang. Hal ini
berdasarkan hasil pengkajian pengukuran Tannas. Ukuran yang digunakan adalah ajaran
asta gatra yang mencakup delapan aspek/unsur.

2.2 Tantangan Ketahanan Nasional Indonesia


 Ancaman yaitu usaha yang bersifat mengubah kebijaksanaan yang dilakukan secara
konsepsional (terencana dan terarah) baik melalui tindak kriminal maupun politis.

Ancaman dibedakan menjadi 2 yaitu ancaman militer dan ancaman non-militer.

1. Ancaman militer merupakan ancaman dengan menggunakan kekuatan bersenjata


yang dinilai mampu membahayakan negara ( baik itu keutuhan negara, kedaulatan
negara dan keselamatan segenap bangsa).
2. Ancaman non-militer (nirmiliter) adalah ancaman yang tidak menggunakan
kekuatan bersenjata namun jika tetap dibiarkan akan merugikan negara, bahkan
dapat membahayakan negara. Ancaman non-militer memiliki karakteristik yang
berbeda dengan ancaman militer, yaitu tidak bersifat fisik dan bentuknya tidak
terlihat seperti ancaman militer, karena ancaman ini lebih berbentuk pada dimensi
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, informasi, dan keselamatan
umum.

Contoh Ancaman Militer

a.) Dari dalam negeri

- Gerakan separatisme (ingin memisahkan diri dan membuat negara baru).

- Pengrusakan lingkungan secara besar-besaran.

- Sabotase dari dalam negeri.

- Aksi terorisme dari dalam negeri.

- Pemberontakan bersenjata.

- Aksi kekerasan dan kejahatan yang berbau SARA.

b.) Dari luar negeri

- Agresi.

- Spionase.

- Sabotase.

- Pelanggaran wilayah oleh negara lain.

- Aksi teror melalui jaringan internasional.

Contoh Ancaman Non-militer

a.) Dari dalam negeri

- Kemiskinan.

- Kebodohan.
- Keterbelakangan.

- Narkoba.

b.) Dari luar negeri

- Pengaruh arus globalisasi.

- Jaringan narkoba internasional.

- Maraknya media propaganda asing.

 Tantangan
Tantangan adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk menggugah kemampuan suatu
bangsa atau negara.

Contoh : Di Bidang Politik

Dalam bidang politik terdapat ancaman berupa pemerintahan yang tidak aspiratif dan
responsive atau bisa dikatakan diktator. Pemerintahan yang tidak mau mendengarkan aspirasi
rakyat artinya pemerintah ini tidak demokratis (dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat).
Padahal kita tahu bahwa sistem pemerintah Indonesia adalah sistem pemerintah yang
demokratis bukantotaliter (diktator). Meskipun telah diselenggarakannya pemilu, hal ini tidak
menjamin semua suara serta partisipasi rakyat mendapat bagian dalam pemerintahan. Ini
dikarenakan masih sering manipulasi suara rakyat untuk memenangkan kelompok tertentu
sampai kepada tidak meratanya pemberian hak suara kepada rakyat (ada rakyat yang berhak
menggunakan hak suaranya tetapi tidak tercantum namanya dan sebaliknya).

 Hambatan
Hambatan adalah usaha yang berasal dari dalam dengan tujuan untuk
melemahkan/menghalangi secara tidak konsepsional (tidak terarah).
 Gangguan
Gangguan yaitu usaha yang berasal dari luar dengan tujuan melemahkan/menghalangi
secara tidak konsepsional.
BAB III SIMPULAN

Dinamika ketahanan nasional Indonesia sejak merdeka sampai saat ini


mengalami beberapa perubahan, yaitu : gagasan Tannas oleh Seskoad pada tahun
1960-an, gagasan Tannas oleh Lemhannas pada tahun 1968, upaya penggagasan
Tannas 1962 oleh Lemhannas, revisi Gagasan Tannas oleh Lemhanas pada tahun
1969, gagasan Tannas oleh Lemhannas pada tahun 1972, gagasan Tannas berdasarkan
SK Menhamkam/Pangab No.SKEP/1382/XI/1974, gagasan Tannas menurut Presiden
Soeharto pada tahun 1975, gagasan Tannas menurut GBHN 1978-1997. Meski
gagasan Tannas masih relevan sampai saat ini menurut data pengukuran yang
dilakukan Lemhamnas berdasar aspek astra gatra. Kondisi Tannas kita, konsepsi
ketahanan nasional sebagai kondisi, dianggap rapuh sehingga dibutuhkan pengkajian
gagasan Tannas yang lebih relevan.

Ketahanan Nasional

Ketahanan nasional sebagai konsepsi adalah konsep khas bangsa Indonesia


sebagai pedoman pengaturan penyelenggaraan bernegara dengan berlandaskan pada
ajaran asta gatra. Ketahanan nasional sebagai kondisi adalah kondisi dinamis bangsa
Indonesia yang berisi keuletan dan daya tahan. Ketahanan nasional sebagai metode
atau strategi adalah cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan ancaman
kebangsaan melalui pendekatan asta gatra yang sifatnya integral komprehensif.

Ketahanan nasional memiliki dimensi seperti ketahanan nasional ideologi,


politik dan budaya serta konsep ketahanan berlapis dimulai dari ketahanan nasional
diri, keluarga, wilayah, regional, dan nasional

Inti dari ketahanan nasional Indonesia adalah kemampuan yang dimiliki


bangsa dan negara dalam menghadapi segala bentuk ancaman yang dewasa ini
spektrumnya semakin luas dan kompleks, baik dalam bentuk ancaman militer maupun
nirmiliter

Bela Negara

Kegiatan pembelaan negara pada dasarnya merupakan usaha dari warga


negara untuk mewujudkan ketahanan nasional. Bela negara adalah, sikap dan tindakan
warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang dilandasi oleh
kecintaan pada tanah air dan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara

Bela negara mencakup bela negara secara fisik atau militer dan bela negara
secara nonfisik atau nirmiliter dari dalam maupun luar negeri. Setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara.

Bela Negara dapat secara fisik yaitu dengan cara "memanggul senjata"
menghadapi serangan atau agresi musuh. Bela Negara secara fisik dilakukan untuk
menghadapi ancaman dari luar.

Bela negara secara nonfisik adalah segala upaya untuk mempertahankan


negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran berbangsa
dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air(salah satunya diwujudkan
dengan sadar dan taat membayar pajak), serta berperan aktif dalam memajukan
bangsa dan negara, termasuk penanggulangan ancaman dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka

Endang Zaelani Sukaya, Achmad Zubaidi, Sartini, dan Parmono. 2000. Pendidikan
Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta : Paradigma

Herdianto Herdianto dan Handayama Jumanta. 2010. Cerdas, Kritis, dan Aktif
Berwarganegara Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta :
Erlangga

Kaelan dan Achmad Zubaidi. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.
Yogyakarta : Paradigma

Kementrian Pertahanan Indonesia. 2015. Buku Putih Pertahanan Indonesia. Jakarta:


Kementrian Pertahanan Indonesia. Jakarta: Sekretariat Jendral Dewan Ketahanan
Nasional
Khoiril. 2015. Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (5): Stabilitas & Ketahanan Nasional.
http://soeharto.co/wasiat-kebangsaan-presiden-soeharto-5-stabilitas-ketahanan-nasional.
Diakses 27 Oktober 2017
Kusrahmadi , Sigit Dwi. 2006. Ketahanan Nasional. Jurnal. Tidak diterbitkan. Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Yogyakarta : Yogyakarta

Nurwandan, Paristiyanti, dkk. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.


Jakarta : Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan
Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Sutoyo. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi.Yogyakarta: Graha


Ilmu