Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah gangguan kesehatan yang menonjol pada usia
lanjut adalah gangguan muskoloskeletal terutama masalah osteoporosis,
pada orang yang menderita penyakit ini yang akan tejadi adalah tulang
menjadi tipis dan rapuh yang pada akhirnya bisa menyebabkan patah.
Penyakit ini ditandai hilangnya masa tulang, sehingga tulang menjadi
mudah patah dan tidak tahan tekanan dan benturan.
World Health Organization (WHO) memperkirakan pada
pertengahan abad mendatang jumlah patah tulang pada pangkal karena
Osteoporosis akan meningkat tiga kali lipat, dari 1,7 juta pada tahun 1990
menjadi 6,3 juta kasus pada tahun 2050 kelak.
Data dari International Osteoporosis Foundation (IOF)
menyebutkan bahwa di seluruh dunia satu dari tiga wanita dan satu dari
delapan pria yang berusia di atas 50 tahun, memiliki resiko mengalami
patah tulang akibat Osteoporosis dalam hidup mereka. Pada tahun 2050
sekitar 51 % penderita Osteoporosis kemungkinan besar adalah mereka
yang tinggal di benua Asia. Kualitas hidup yang meningkat, angka harapan
hidup yang tinggi, nutrisi yang tidak adekuat serta kurangnya aktivitas
fisik merupakan faktor terjadinya Osteoporosis (Hartono, 2001).
Osteoporosis ternyata tidak hanya menyerang usia lanjut tetapi
dapat menyerang usia muda karena kurangnya melakukan aktivitas. Salah
satu aktivitas yang dapat mencegah terjadinya osteoporosis adalah senam.
enam sendi dan tulang (sentul) merupakan senam pencegahan
Osteoporosis yang diciptakan oleh kelompok peneliti Osteoporosis
FKUI/RSUPN-CM bekerja sama dengan Asosiasi Senam Kebugaran
Indonesia, merupakan gabungan latihan aerobic low impact dan latihan
resistensi yang memberikan tekanan dan tarikan untuk merangsang 3
pembentukan massa tulang dan diharapkan senam ini merupakan upaya
pencegahan keropos tulang di hari tua.

1
B. Tujuan
1. Memahami tentang pengertian dari osteoporosis
2. Memahami tentang etiologi dari osteoporosis
3. Memahami tentang prognosis dari osteoporosis
4. Memahami tentang manifestasi dari osteoporosis
5. Memahami tentang klasifikasi dari osteoporosis
6. Memahami tentang patofisiologi dari osteoporosis
7. Memahami tentang komplikasi dari osteoporosis
8. Memahami tentang pemeriksaan laboratorium osteoporosis
9. Memahami tentang penatalaksanaan dari osteoporosis
10. Memahami tentang intervensi keperawatan daro osteoporosis

2
BAB II
KONSEP MEDIS
A. Definisi
Osteoporosis berasal dari kata Oste dan porous osteo artinya
tulang, dan porous berarti berlubang lubang atau keropos. Jadi,
osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai
sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai
gangguan mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang,
yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra, 2009).

Menurut WHO pada International Consensus Development


Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan
sifat sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan
mikroars itektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada
akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan
risiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health(NIH), 2001 Osteoporosis
adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang yang
mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang.

3
Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu
densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007)
Osteoporosis adalah kelainan metabolic tulang dimana terdapat
penurunan masa tulang tanpa disertai pada matriks
tulang.(Nurarif,Kusuma, 2015).
Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan menurunnya
massa tulang (kepadatan tulang) secara keseluruhan akibat
ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam tulang
dan disertai dengan rusaknya arsitektur tulang yang akan mengakibatkan
penurunan kekuatan tulang yang dalam hal ini adalah pengeroposan
tulang, sehingga mengandung risiko mudah terjadi patah tulang.
Osteoporosis merukan salah satu penyakit yang digolongkan sebagai silent
disease karena tidak menunjukan gejala-gejala yang spesifik. Gejala dapat
berupa nyeri pada tulang dan otot, terutama sering pada punggung.
Beberapa gejala umum osteoporosis, mulai dari patah tulang, tulang
punggung yang semakin membungkuk, menurunnya tinggi badan dan
nyeri punggung.
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :
a. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang,
yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula
sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan pertumbuhan,
disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi
kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan
kemampuan genetiknya Colles.
Pada usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering
terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1 pada usia rata-rata
53-57 tahun. Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang
yang terjadi sesuai dengan proses penuaan, sedangkan osteoporisis
sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal
tertentu. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat

4
utama karena lebih banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis
sekunder. Proses ketuaan pada wanita menopause dan usia lanjut
merupakan contoh dari osteoporosis primer.
b. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain
diluar tulang. Osteoporisis sekunder mungkin berhubungan dengan
kelainan patologis tertentu termasuk kelainan endokrin, epek samping
obat obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis sekunder, terjadi
penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menimbulkan
fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid,
artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi,
mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian
status hipogonade, dan lain-lain.(Indah, 2015)
B. Etiologi
Osteoporosis disebabkan oleh glukokortikoid yang mengganggu
absors kalsium di usus dan peningkatan ekstraksi kalsium lewat ginjal
sehingga akan menyebabkan hipokalsemia,hiperparatiroidisme sekunder
dan peningkatan kerja osteoklas. Terhadap osteoblas glukokortikoid akan
menghambat kerjanya, sehingga formasi tulang menurun. Dengan adanya
peningkatan resorpsi tulang oleh osteoklas dan penurunan formasi tulang
oleh osteoblas, maka akan terjadi osteporosis yang progresif.
Factor-factor resiko terjadinya osteoporosis adalah:
1. Umur ; sering terjadi pada usia lanjut
2. Ras ; kulit putih menjadi resiko paling tinggi
3. Faktor keturunan ; ditemukan riwayat keluarga dengan keropos tulang
4. Adanya kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vetebra. Terutama
terjadi pada wanita umur 50-60 tahun dengan densitas tulang yang
rendah dan diatas umur 70 tahun dengan BMI yang rendah. ( BMI =
mody mass index yaitu berat badan di bagi kuadrat tinggi badan)
5. Aktifitas fisik yang kurang
6. Tidak pernah melahirkan

5
7. Monopause dini ( monopause yang terjadi pada umur 46 tahun)
8. Gizi ( kekurangan protein dan kalsium dalam masa kanak-kanak dan
remaja)
9. Hormonal yaitu kadar esterogen plasma yang kurang
10. Obat misalnya kortikosteroid
11. Kerusakan tulang akibat kelelahan fisik
12. Jenis kelamin: 3 kali lebih sering terjadi pada wanita
(Nurarif,Kusuma, 2015)
C. Prognosis
Kondisi kronis merupakan salah satu penyebab utama kecectan
pada pria dan wanita. kompresi fraktur pada tulang belakang menyebabkan
rasa tidak nyaman dan mengganggu pernapasan.
D. Manifestasi klinik
Manifestasi umum: penurunan tinggi badan,lordosis,nyeri pada tulang atau
fraktur, biasanya pada vertebra, pinggul atau lengan bagian bawah.
1. Nyeri tulang terutama pada tulang belakang yang intensitas
serangannya timbul pada malam hari.
2. Deformitas tulang: dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis anguler yang dapat menyebabkan medulla
spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
3. Nyeri fraktur akut dapat di atasi dalam 2 hingga 3 bulan. Nyeri fraktur
kronis di manifestasikan sebagai rasa nyeri yang dalam dan dekat
dengan tempat patahan.
4. Tanda McConkey) di dapatkan protuberansia abdomen, spasme otot
paravertebral dan kulit yang tipis.
E. Klasifikasi
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer terbagi atas 2 tipe yaitu :
 Tipe 1 : tipe yang timbul pada wanita pasca monopouse
 Tipe 2 : terjadi pada orang lanjut usia baik pria dan wanita

6
1) Osteoporosis sekunder
Disebabkan oleh penyakit-penyakit tulang erosif(misalnya
myeloma multiple, hipertiriodisme,hiperparatiriodisme) dan
akibat obat-obatan yang toksik untuk tulang(misalnya
glukokortikoid).
2) Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan ditemukan
pada :
 Usia kanak kanak (juvenil)
 Usia remaja (adolesen)
 Wanita pra - monopouse
 Pria usia pertengahan
(Nurarif,Kusuma, 2015)
F. Patofisiologi
Osteoporosis merupakan kelainan metabolik tulang yang ditandai
dengan berkurangnya massa tulang dan adanya kerusakan dari arsitektur
tulang sehingga terjadi peningkatan kerapuhan tulang yang dapat
menyebabkan mudah terjadi fraktur. Massa tulang yang berkurang akan
membuat tulang semakin tipis dan rapuh sehingga mudah patah pada
trauma yang ringan.
Bone remodelling terjadi seumur hidup dan mencapai puncaknya
saat dewasa (sekitar umur 30 tahun) kemudian menurun sesuai
pertambahan umur, kemudian terjadi keseimbangan antara aktivitas
osteblastik dan osteoklastik (pembentukan dan resorpsi tulang).
Keseimbangan tersebut dipengaruhi oleh hormon estrogen, paratiroid dan
kalsitriol.
Pada pasca menopause, terjadi penurunan estrogen yang dapat
menyebabkan meningkatnya resorpsi tulang, dan diduga berhubungan
dengan peningkatan sitokin. Resorpsi tulang tersebut akan meningkatkan
kadar kalsium dalam darah dan menyebabkan penekanan terhadap hormon
paratiroid. Kadar hormon paratiroid yang rendah sering dijumpai pada

7
penderita osteoporosis, yang juga akan menurunkan kadar 1,25 dehydroxy
vitamin D (kalsitriol), sehingga penyerapan kalsium jadi menurun.
Kondisi osteoporosis merupakan suatu hasil interaksi yang
kompleks menahun antara factor genetic dan factor lingkungan. berbagai
factor terlibat dalam interaksi ini dengan menghasilkan suatu kondisi
penyerapan tulang lebih banyak dibandingkan dengan pembentukan yang
baru. kondisi ini memberikan manifestasi penurunan masa tulang total.
kondisi osteoporosis yang tidak mendapatkan intervensi akan memberikan
dua manifestasi penting, dimana tulang menjadi rapuh, dan terjadinya
kolabs tulang (terutama area vertebra yang mendapat tekanan tinggi pada
saat berdiri). Hal ini akan berlanjut pada berbagai kondisi bermasalah pada
pasien dengan osteoporosis. (Zairin Noor Helmi, 2014)
G. Komplikasi
1. Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi
panas, rapuh dan menjadi patah. osteoporosis sering
mengakibatkan fraktur. bisa terjadi fraktur kompresi vertebra
thorakalis dan lumbalis, fraktur daerah kalum femoris dan daerah
trokhanter dan fraktur colles pada pergelangan tangan.
2. Syok, perdarahan, atau emboli lemak (komplikasi fraktur yang
fatal) (Indah, 2015)
H. Pemeriksaan lab
1. Foto rontgen polos
2. CT-Scan : dapat mengukur dnsitas tulang secara kuantitatif yang
mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up.
3. Pemeriksaan DEXA: di gunakan untuk mengukur densitas tulang
dan menghitung derajat osteopenia (kehilangan tulang ringan
sedang ) atau osteoporosis (kehilangan tulang berat)
4. Pemeriksaan laboratorim
 Kadar Ca,P, fosfatase alkali tidak menunjukan kelainan
yang nyata

8
 Kadar HPT (pada pasca monopouse kadar HPT meningkat
dan CT(Terapi estrogen merangsang pembentukan ct)
 Kadar 1,25-(OH) 2-D3 absorbsi Ca menurun
 Ekstresi fosfat dan hidrokspolin terganggu sehingga
meningkat kadarnya
I. Penatalaksanaan
The National Osteoporosis Guideline Group (TNOGG) telah
memperbaharui guideline 2009 pada hal penegakan diagnosis dan
tatalaksana osteoporosis wanita postmonopause dan pria usia sekurang-
kurangnya 50 tahun di inggris.
Beberapa hal yang di sorot dalam guideline 2013 :
1) Terapi farmakologi yang dapat menurunkan resiko terjadinya
fraktur vertebra (dan beberapa kasus fraktur tulang panggul) seperti
bisphosphonate, denosumab, dekombinan hormon parathyroid,
raloxifene, dan strontium ranelate. Terapi yang di akui untuk kasus
vertebra, non vertebra dan fraktur tulang panggul hanya
alendronate, risedronate, zoledronate, dan terapi sulih hormon.
2) Wanita postmonopause dapat mendapatkan manfaat dari calcitriol,
etidronate dan terapi hormon pengganti
3) Suplemen kalsium dan vitamin D secara luas di rekomendasikan
untuk para lansia dan sebagai terapi osteoporosis
4) Alendronate generic di rekomendasikan sebagai terpi lini pertama
karena kerja spektrum luasnya sebagai agen antifraktur dengan
harga terjangkau
5) Karena harga yang mahal, maka rekombinan hormon paratiroid
hanya di berikan pada pasien dengan resiko sangat tinggi fraktur
terutama pada vertebra
6) Efek potensial pada kardiovaskuler akibat pemberian suplemen
kalsium masih kontroversial, namun sangat bijaksana jika asupan
kalsium melalui makanan di tingkatkan dan menggunakan

9
suplemen vitamin D saja dari pada mengkonsumsi suplemen
kalsium dan vitamin D bersamaan
7) Terapi bisphosphonate di lanjutkan meskipun tanpa evaluasi lebih
lanjut terutama pada pasien dengan resiko sangat tinggi terjadi
fraktur, dimana review terapi dan evaluasi fungsi ginjal cukup di
lakukan 5 tahun sekali
8) Jika bisphosphonate di hentikan, resiko fraktur di evaluasi ulang
tiap kali setelah terjadinya fraktur baru, atau setelah 2 tahun setelah
terjadi fraktur baru
9) Pasien dengan fraktur veterbra sebelumnya atau terapi awal
osteoporosis tulang panggul dengan skor T BMD lebih dari 2,5 SD
dapat mengalami peningkatan resiko fraktur vetebra jika
zoledronate di hentikan
10) Terapi untuk pria dengan resiko tinggi terjadi fraktur harus di
mulai dengan aledronate, rissetdronate, zoledronate atau
teriparatide.

10
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnese
a. Identitas
1) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor
register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas
klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2) Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan
dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang
terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan
dengan klien dan alamat.
b. Riwayat Kesehatan Dalam pengkajian riwayat kesehatan, perawat
perlu mengidentifikasi adanya :
1) Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher,dan
pinggang
2) Berat badan menurun
3) Biasanya diatas 45 tahun
4) Jenis kelamin sering pada wanita
5) Pola latihan dan aktivitas
2. Pola aktivitas sehari-hari
Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga,
pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan
toilet. Olahraga dapat membentuk pribadi yang baik dan individu
akan merasa lebih baik. Selain itu, olahraga dapat mempertahankan
tonus otot dan gerakan sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang
adekuat untuk mempertahankan fungsi tubuh. Aktifitas tubuh
memerlukan interaksi yang kompleks antara saraf dan

11
muskuloskeletal. Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan
dengan menurunnya gerak persendian adalah agility ( kemampuan
gerak cepat dan lancar ) menurun, dan stamina menurun.
3. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing) Inspeksi : Ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada
dan tulang belakang Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru Auskultasi : Pada
kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki .
b. B2 ( Blood) Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi
keringat dingin dan pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna
terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan
efek obat.
c. B3 ( Brain) Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih
parah, klien dapat mengeluh pusing dan gelisah.
1) Kepala dan wajah : ada sianosis
2) Mata : Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis
3) Leher : Biasanya JVP dalam normal Nyeri punggung yang
disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan halus
merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur
kompresi vertebra
d. B4 (Bladder) Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak
ada keluhan pada sistem perkemihan.
e. B5 ( Bowel) Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi
namun perlu di kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.
f. B6 ( Bone) Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis.
Klien osteoporosis sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowager’s
hump) dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan
gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri
spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebra
torakalis 8 dan lumbalis 3.

12
4. Pemeriksaan penunjang
a. Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang
yangmenurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat
korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat.
Penipisan korteks dan hilangnya trabekula transversal merupakan
kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebrae
menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nucleus pulposus
kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. Ct-Scan
Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai
nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra
diatas 110 mg/cmbiasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau
penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cmada pada
hampir semua klien yang mengalami fraktur.

13
B. Diagnosa keperawatan
NO DIAGNOSA
Nyeri akut (00132)
Definisi : pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau yang di
gambarkan sebagai kerusakan (international association for the study of pain) ;
1
awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan
akhir yang dapat di antisipasi atau di prediksi.
Domain 12 : kenyamanan
Kelas 1 : kenyamanan fisik
Ketidakefektifan pola nafas (00032)
Domain 4: respons kardiovaskuler/pulmonal
2
Kelas 4: aktivitas/istirahat
Definisi: inspirasi dan/atau eksprasi yang tidak member ventilasi adekuat.
Resiko Cedera (0035)
Definisi :rentan mengalami cedera fisik akibat kondisi lingkungan yang
berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber defensive individu, yang dapat
3
mengganggu kesehatan
Domain 11 :keamaan/perlindungan
Kelas 2 : cedera fisik
Hambatan mobilitas fisik (00085)
4 Definisi : ketebartasan dalam gerak fisik atau satu atau lebih ekstremitas
secara mandiri dan terarah
Defisiensi pengetahuan (00126)
Definisi : ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan
topic tertentu
5
Domain 5 : persepsi kognisi
Kelas 4 : kognisi

14
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC Rasional
1. Nyeri akut (00132) 1. Kontrol nyeri Manajemen pengobatan Manajemen Pengobatan
Definisi : pengalaman sensori 2. Tingkat nyeri 1. Monitor respon terhadap 1. Saat pengobatan akan
dan emosional tidak 3. Tingkat ketidaknyamanan pengobatan dengan cara muncul beberapa
menyenangkan yang muncul 4. Pergerakan yang tepat efek samping/ respon
akibat kerusakan jaringan actual Tujuan & Kriteria Hasil: tubuh yang lain untuk
atau potensial atau yang di Setelah dilakukan tindakan itu kita harus
gambarkan sebagai kerusakan keperawatan selama …x 24 jam memonitor sesering
(international association for the pasien menunjukkan mungkin agar tidak
study of pain) ; awitan yang tiba- 1. Kontrol nyeri membuat klien
tiba atau lambat dari intensitas 1) mengenali kapan nyeri merasa cemas,
ringan hingga berat dengan akhir terjadi (4) berhubung osteoporis
yang dapat di antisipasi atau di 2) menggunakan tindakan ini lebih banyak
prediksi. pencegahan (4) menyerang lansia
Domain 12 : kenyamanan 3) mengenali apa yang terkait maka tingkat
Kelas 1 : kenyamanan fisik dengan gejala nyeri (4) kecemasan mereka
Batasan karakteristik : 4) melaporkan nyeri yang lebih tinggi.
1) sikap melindungi area nyeri terkontrol (4) 2. Semua jenis obat-
2) indikasi nyeri yang dapat di Catatan : 2. Monitor efek samping obatan memiliki efek
amati 1 = tidak pernah menunjukan obat samping yang
3) perubahan posisi untuk 2 = jarang menunjukan berbeda-beda apalagi

15
menghindari nyeri 3 = kadang-kadang menunjukan obat penghilang
4) gangguan tidur 4 = sering menunjukan nyeri, untuk itu kita
Faktor yang berhubungan : 5 = secara konsisten menunjukan harus memantau atau
1) agen cedera (misalnya, 2. Tingkat nyeri memonitor keadan
biologis, zat kimia, fisik, dan 1) nyeri yang di laporkan (4) klien agar kita dapat
psikologis) 2) panjangnya episode nyeri mengetahui obat
(4) yang diminum klien
3) ekspresi nyeri wajah (4) bekerja dengan baik
4) tidak bisa beristirahat (4) atauu tidak.
Catatan : 3. Pemberian obat harus
1 = berat sesuai prosedur,
2 = cukup berat untuk itu kita harus
3 = sedang 3. Monitor efektivitas cara memonitor sesring
4 = ringan pemberian obat yang mungkin bagaimana
5= tidak ada sesuai cara pemberian obat
3. Tingkat ketidaknyamanan kepada klien, sudah
1) Nyeri (4) sesuai prosedur atauy
2) Tidak dapat beristirahat melenceng dari
(4) prosedur pemberian
3) Otot pegal (4) obat, karena jika
pemberian obat tidak

16
Catatan : sesuai maka efek
1 = berat negatinya akan di
2 = cukup berat rasakan klien
3 = sedang terutama untuk
4 = ringan lansia.
5= tidak ada 4. Ada beberapa jenis
4. Pergerakan obat yang dapat
1) keseimbangan (4) menghilangkan nyeri,
2) cara berjalan (4) kadar obatnya juga
3) gerakan otot (4) berbeda-beda dari
4) gerakan sendi (4) 4. Kaji ulang pasien dan tingkat sedang
catatan keluarga secara berkala sampai untuk nyeri
1= Sangat terganggu mengenai jenis dan jumlah yang berat untuk itu
2= banyak terganggu obat yang dikonsumsi kita harus mengkaji
3= cukup teganggu terlebih dahulu
4= sedikit terganggu bagaimana cara
5= tidak terganggu keluarga memberikan
obat dan dengan
dosis yang
bagaimana agar
apabila ada kesalahan

17
yang di lakukan
keluarga kita dapat
memberi tahu
bagaimana cara
pemberian obat.
5. Obat memnpunyai
tingkat dosis yang
berbeda-beda dari
yang rendah sampai
pada tingkat berat,
5. Tentukan obat apa yang apalagi untuk
diperlukan dan kelola penghilang nyeri,
menurut resep. obatnya ada beberapa
macam untuk itu kita
sebaiknya
menentukan obat apa
yang diperlukan oleh
klien dengan tetap
mendiskusikan pada
dokter.
6. Pengobatan tidak

18
hanya dapat
diberikan oleh
perawat dan kelurga
akan tetapi klien juga
harus mengerti dan
6. Tentukan kemampuan tahu bagaimana cara
pasien untuk mengobati pengobatan
diri sendiri penyakitnya sesuai
prosedure, karena
apabila nyerinya
muncul saat tak ada
keluarga maupun
perawat di dekatmya
dia bisa
meminimalisir
sendiri nyeri yang
muncul dengan cara
seperti yang sudah di
jelaskan di atas
dengan catatan
dilakukan sendiri

19
oleh klien.
7. Salah satu efek dari
pemberian obat
analgesik adalah
ngantuk, umtuk itu
sebaiknya kita haruis
mendiskusikan
7. Tentukan dampak terlebih dahulu
pengunaan obat untuk kepada klien dan
gaya hidup klien keluarga tentang efek
dari penggunaan obat
itu senndiri agar tidak
membuat klien
cemas.
8.
Manajemen Nyeri
1. Mengkaji nyeri dapat
kita lakukan dari
mulai lokasi nyeri
sampai faktor apa
yang bisa

20
menyebabkan nyeri
Manajemen Nyeri itu muncul lagi,
1. Kaji nyeri meliputi untuk itu kita harus
lokasi,karakteristik,kualita kaji lebih dahalu
s atau faktor pencetus untuk persiapan
munculnya nyeri. diagnosa yang lain.
2. Obat analgesik sangat
membantu untuk
klien, akan tetapi
efek yang di
timbulkan kadang
kala berbeda dari satu
orang ke orang
2. Pastikan perawatan lainnya dan untuk
analgesik bagi pasien pemberiannya tidak
dilakukan dengan dianjurkan
pemantauan yang ketat. sembarangan untuk
itu kita harus
mengontrol dengan
ketat proses
pemberian analgesik

21
pada klien.
3. Mengetahui
pengalaman nyeri
seseorang tidak
semudah seperti
bertanya hal yang
sepele, terutama
untuk lansia,
3. Gunakan strategi terkadang mereka
teraupetik untuk tidak dapat
mengetahui pengalaman mengetahui sampai di
nyeri mana dan bagaiman
tingkat nyeri yang
sering meraka
keluhkan, untuk itu
kita harus
menggunakan
strategi teraupetik
untuk berkomunikasi
dengan klien agar
kita dapat

22
mendapatkan
informasi yang
sesuai.
4. Beberapa faktor dari
luar dapat
mempengaruhi
proses pengobtan,
terutama faktor
lingkungan, apalagi
untuk lansia
4. Kendalikan faktor kenyamanan sangat
lingkungan yang dapat dibutukan untuk
mempengaruhi respon proses penyembuhan
pasien terhadap penyakit untuk itu
ketidaknyamanan. kita harus
mengendalikan
lingkungan klien
dengan tetap menjaga
kenyamanan klien itu
sendiri.
5. Pada penyakit ini

23
salah satu pencetus
terjadinya nyeri
adalah aktivitas,
ketika seseorang
melakukan aktivitas
apalagi aktivitas yang
berat maka nyeri
5. Kurangi faktor pencetus akan dirasakan oleh
nyeri klien untuk itu kita
harus meminimalisir
aktivitas yang di
lakukan oleh klien.

6. Nyeri dapat
berkurang apabila
seseorang istrahat
atau tidur untuk itu
kita harus
mendukung istrahat
yang adekuat agar
dapat membantu

24
mengurangi nyeri
6. Dukung istrahat yang tersebut.
adekuat untuk membantu Peningkatan Nyeri
penurunan nyeri 1. Kita harus
menentukan pola
tidur pasien dengan
tetap mendiskusikan
dnegan keluarga
bagaiamana kualitas
tiodur klien,
berhubung tidut atau
Peningkatan Tidur istrahat dapat
1. Tentukan pola tidur pasien meminimalisir
adanya nyeri, akan
tetapi tepak
memperboleh klien
melakukan aktivitas.
2. Tidur yang cukup
dapat membantu
pengurangan nyeri
untuk itu kita harus

25
menejlaskan pada
klien bagaimana
pentingnya tidur yang
cukup.
3. Penjelasan tentang
2. Jelaskan pentingnya tidur efek samping obat
yang cukup. sangan perlu
berahubung obat
yang akan diberikan
dapat membuat
seseorang
mengantuk, untuk itu
kita harus
3. Tentukan efek dari obat menjelaskan terlebih
terhadap pola tidur. dahulu pada klien
agar klien tidak akan
merasa cemas.
4. Klien harus mampu
mengontrol pola
tidurnya sendiri
karena apabila pola

26
tidurnya berlebih
maka akan dapat
menimbulkan
penyakit yang lain
seperti dekubitus
4. Anjurkan pasien untuk yang di sebabkan
memantau pola tidurnya karena terlalu lama
bad tress.
5. Makan dan minum
sebelum tidur dapat
mengganggu kualitas
tidur seseorang,
untuk penderita
osteoporosis sangat
tidak di anjurkan
makan sebelum tidur
karena ketika tidur
5. Anjurkan pasien untuk akan terbangun untuk
menghindari makan dan buang air yang dapat
minum sebelum tidur. membuat klein
merasakan nyeri yang

27
di sebabkan oleh
aktivitas yang
dilakukan klien.
6. Tekhnik untuk
meningkatkan
kualitas tidur ada
beberapa, salah
satunya dengan
mamatikan lampu
ketika mau istrahat,
akan tetapi klita
harus mendiskusikan
terlebih dahulu pada
6. Diskusikan dengan keluarga klien
keluarga mengenai teknik tentang peningkatan
untuk meningkatkan tidur klien sesuai
kualitas tidur. dengan kebiasaan
yang sudah di ketahui
oleh keluarga klien.
2. Ketidakefektifan pola nafas 1. Status pernafasan Monitor Pernafasan Monitor Pernafasan
(00032) 2. Status pernafasan : 1. Monitor kecepatan irama, 1. Agar dapat mengetahui

28
Domain 4: respons pertukaran gas kedalaman dan kesulitan apakah klien tersebut
kardiovaskuler/pulmonal Tujuan & kriteria hasil: bernafas mengalami kesulitan
Kelas 4: aktivitas/istirahat Setelah dilakukan tindakan bernafas. Sehingga dapat
Definisi: inspirasi dan/atau keperawatan selama…x 24 jam dilakukan tindakan
eksprasi yang tidak member ketidakefektifan pola nafas keperawatan dengan
ventilasi adekuat teratasi dengan tepat
Batasan Karakteristik: Indicator
1. Bradipnea 1. Status pernafasan 2. Monitor pola nafas (misal, 2. Agar dapat mengetahui
2. Dispnea - Frekuensi pernafasan (4) bradipneu, takipneu, keadaan dan melihat
3. pola nafas abnormal (mis, - Kepatenan jalan nafas (4) hiperventilasi, pernafasan apakah ada hambatan
irama, frekuensi, kedalaman) - Saturasi oksigen (4) kusmaul, pernafasan 1:1, pada saat bernafas klien
Faktor yang Berhubungan: Catatan: apneustik raspirasi biot dan
1. cedera medulla spinalis 1. 1= devisiasi berat dari kisaran pola ataxic
2. deformitas tulang normal 3. Monitor peningkatan 3. Dimana jika klien terjadi
3. gangan neurologis (mis, 2. 2= devisiasi yang cukup kelelahan, kecemasan dan peningkatan kelelahan
elektroensefalogram (EEG) cukup berat dari kisaran kekurangan udara pada pasien pada saat melakukan
positif, trauma kepala, normal aktivitas, maka petugas
ganguan kejang) 3. 3= devisiasi sedang dari kesehatan harus terus
4. posisi tubuh yang kisaran normal mengawasi semua
menghambat ekspansi paru 4. 4= devisiasi ringan dari kegiatan yang dilakukan
5. nyeri kisaran normal oleh klien, sehingga

29
6. imaturitas neurologis 5. 5= tidak ada devisiasi dari petugas kesehatan dapat
kisaran normal mengetahui aktivitas apa
2. Status pernafasan: pertukan yang dapat
gas mengakibatkan klien
- Tekanan parsial di oksigen di tersebut dapat terjadi
darah arteri (PaO3) sesak nafas
- Tekanan parsial 4. Monitor keluhan sesak nafas 4. Karena tanda-tanda dari
karbondioksida di darah arteri klien, termasuk kegiatan yang seseorang mengalami
(PaCO3) dapat meningkatkan atau sesak nafas yaitu dimana
- Saturasi oksigen memperburuk sesak nafas bunyi nafasnya itu
tersebut mengi, terjadi nyeri pada
dada, kondisi kuku dan
bibir terlihat membiru
atau terjadi sianosi
5. Berikan bantuan terapi nafas 5. Berkan bantuan
jika diperlukan (misalnya pernafasan apabila sudah
nebulizer) terlalu parah untuk
meminimalisir sesak
klien.
Manajemen jalan nafas Manajemen jalan nafas
1. Monitor status pernafasan dan 1. agar dapat memberikan

30
oksigenasi sebagaimana kebutuhan oksigen di
mestinya semua jaringan tubuh
secara adekuat
2. Posisikan pasien untuk 2. cara memaksimalkan
memaksimalkan ventilasi ventilasi missal dengan
ventilasi mekanis yaitu
alat pernafsan bertekanan
positifatau negative yang
dapat mempertahankan
O2 dengan jangka waktu
yang lama
3. nebulizer ultrasonic ini
3. Kelola nebulizer ultrasonik, adalah salah satu alat
sebagaimana mestinya elektromedik yang
berfungsi memberiakn
terapi pengobatan untuk
klien yang menderita
kelainan atau gangguan
pada saluran pernafasan
dimana memanfaatkan
cairan uap yang telah

31
dicampur dengan obat.
Cairan uap yang
mengandung obat sudah
menjadi kabut halus
sehingga mudah dihirup
dan masuk pada saluran
pernafasan
4. posisi yang cocok untuk
4. Posisikan untuk meringankan meringankan sesak nafas
sesak nafas salah satunnya dengan
beristrat atau tidur
dengan terlentak, tidak
tengkurap.
5. karena udara oksigen ini
5. Kelola udara atau oksigen memiliki fungsi sebagai
yang dilembabkan, bantuan pernfasan bagi
sebagaimana mestinya manusia. Jika udara atau
oksigen tersebut tidak
dilembabkan maka akan
menyebabkan banyak
bekteri

32
Terapi Oksigen
Terapi oksigen 1. Tujuan dari terapi
1. Monitor aliran oksigen oksigen ini untuk
mencegah dan
memperbaiki hipoksia
jaringan, sedangkan
tujuan khususnya untuk
mendapatkan Pao2 lebih
dari 90 mmhg atau SaO2
lebih dari 90%
2. untuk mengetahui apakah
2. Monitor peralatan oksigen alat yang digunakan
untuk memastikan bahwa alat tersebut berfungsi atau
tersebut tidak mengganggu tidak selama pemberian
upaya pasien untuk bernafas terapi oksigen
3. tanda-tanda dari
hipoventilasi yaitu
3. Amati tanda-tanda kurangnya ventilai
hipoventilasi induksi oksigen diibandingkan dengan
kebutuhan metabolic
sehingga terjai

33
peningkatan PCO2 dan
asidosis respiratorik.
4. Tekanan oksimetri
adalah tekanan oksigen
4. Monitor efetivitas terapi yang ada di darah arteri,
oksigen (misalnya, tekanan sedangkan ABGs ini
oksimetri, ABGs) dengan adalah analisis gas darah
tepat. arteri berguna untuk
mengkaji status
oksigenasi klien
(tekanan oksigenn
arterial (PaO2)), ventilasi
alveolar (tekana
karbondioksida arterial
(PaCO2)), dan juga untuk
menilai keseimbangan
asam basa.
5. Dengan menjaga
kepatenan jalan nafs
maka akan memngurangi
5. Pertahankan kepatenan jalan sesak nafas dari klien

34
nafas. 6. System humydifer adalah
sebuah system yang
berperan untuk mengatur
kondisi udara dalam
6. Siapkan peralatan oksigen dan suatu ruang. Humidifier
berikan melalui sistem merupakan mesin yang
humifider. bertugas untuk
melembabkan ruangan
sehingga klien merasa
lebih nyaman
7. Agar jika klien sudah
mau dipindahkan, maka
pelayanan kesehatan
tidak mengalami kendala
7. Sediakan oksigen ketika jiak pasien tiba-tiba
pasien dibawa/dipindahkan mengalami sesak.
8. Karena jika masker
oksigen atau kanal nasal
tersebut tidak diganti
setiap kali pemakaian
8. Pastikan penggantian masker maka akan mengalami

35
oksigen atau kanul nasal resiko infeksi terhadap
setiap kali perangkat diganti berabagai bakteri atau
virus
9. Ada yang namanya
tabung oksigen portable
karena bentuknya ringan
dan tidak memakan
9. Atur dan ajarkan pasien tempat . cara penggunaan
mengenai penggunaan buka tutup atas tabung,
perangkat oksigen yang letakkan tutup tabung di
memudahkan mobilitas. atas kepala kaleng dan
pergunakan itu sebgai
masker, tutup hidung
dengan menggunakan
tutup kaleng, tekannlah
pada kaleng lalu hiruplah
dalam-dalam selama ± 2
detik, dan ulangi hal
tersebut 5-10 sesuai
dengan kebutuhan klien
10. Cara menggunakan

36
oksigen dirumah yaitu
jangan gunakan ditempat
panas atau dekat api ,
jangan sembarangan
mengubah besarnya
10. Anjurkan pasien dan keluarga oksigen yang leuar, taruh
mengenai penggunaan tanda di pintu kamar
oksigen dirumah 11. untuk mengetahui apakah
penggunaan oksigen
tersebut harus digunakan
atau tidak dan juga untuk
melihat kondisi dari klien
apakah masih mengalami
sesak nafas
11. Konsultasi dengan tenaga
kesehatan lain mengenai
penggunaan oksigen
tambahan selama kegiatan
dan/atau tidur
3. Resiko Cedera (0035) 1. keseimbangan Manajemen lingkungan Manajemen lingkungan
Definisi :rentan mengalami 2. Cara berjalan 1. Monitor lingkungan 1. Lingkungan sangat

37
cedera fisik akibat kondisi 3. pengetahuan: pecegahan terhadap terjadinya berpengaruh terhadap
lingkungan yang berinteraksi jatuh perubahan status keadaan klien ketika
dengan sumber adaptif dan Tujuan & Kriteria Hasil: lingkungan tidak baik
sumber defensive individu, yang Setelah dilakukan tindakan maka kondisi klien
dapat mengganggu kesehatan keperawatan selama …x 24 jam akan tidak baik pula.
Domain 11 pasien menunjukkan
:keamaan/perlindungan 1. keseimbangan 2. Mengidentifikasi
Kelas 2 : cedera fisik 1) mempertahankan kebutuhan kemanan
Faktor resiko : keseimbangan saat 2. Identifikasi kebutuhan klien sangat
1) gangguan fungsi kognitif duduk tanpa sokongan keamanan klien dibutuhkan karena
2) gangguan fungsi psikomotor pada punggung (4) berdasarkan fungsi fisik jika klien tidak aman
3) disfungsi imun 2) mempertahankan maka klien tidak
keseimbangan dari dapat beristrahat
posisi duduk ke posisi dengan baik yang
berdiri (4) berpengaruh terhadap
3) mempertahankan nyeri yang akan di
keseimbangan ketika rasakan klien.
berdiri (4) 3. hal-hal yang dapat
4) mempertahankan membahayakan klien
keseimbangan ketika seperti benda-benda
berjalan(4) 3. Identifikasi hal-hal yang yang berat atau tajam

38
dapat membahayakan di yang apabila klien
catatan lingkungan. jatuh akan beresiko
1= Sangat terganggu cedero dengan benda-
2= banyak terganggu benda tersebut maka
3= cukup teganggu kita harus
4= sedikit terganggu menjauhkan benda
5= tidak terganggu itu dari jangkauan
2. Cara berjalan klien.
1) keseimbangan tubuh saat 4. Peralatan
berjalan (4) perlindunagn klien
2) postur tubuh saat berjalan dapat digunakan agar
(4) 4. Gunakan peralatan apabila terjadi
3. pengetahuan : pencegahan perlindungan sesuatu maka tidak
jatuh akan menimbulkan
1) penggunaan alat bantu resiko yang tinggi
yang benar (4) untuk keadaan klien.
2) penggunaan pencahayaan Pencegahan Jatuh
lingkungan yang benar (4) 1. Pada osteoporosis
3) latihan untuk mengurangi terjadi penurunan
resiko jatuh(4) Pencegahan jatuh masa tulang total
1. Identifikasi kekurangan yang menyebabkan

39
baik kognitif atau fisik klien memiliki resiko
dari pasien yang mungkin cedera yang tinggi
meningkatkan potensi untuk itu kita harus
jatuh. mengidentifikasi
kekurangan fisik
klien untuk
meminimalisir
keadaan klien.
2. Lansia memiliki
perilaku yang lain
dari perilaku orang
dewasa oleh karena
2. Identifikasi perilaku dan itu kita harus
faktor yang mengindetifikasi
mempengaruhi resiko terlebih dahulu faktor
jatuh yang dapat muncul
apabila klien
melakukan aktivitas.
3. Alat bantu sangat
penting untuk
penderita

40
osteoporosis terutama
utuk lansia, karena
3. Sediakan alat bantu seperti kemungkinan jatuh
tongkat sangat tinggi, untuk
itu penggunaan
tongkat sangat
diperlukan.
4. Berberapa lansia
tidak akan mau jika
di instruksikan agar
menggunakan
tongkat, untuk itu
4. Dukung pasien untuk kita perlu
menggunakan tongkat memberikan
dukungan agar dia
mau melakukan hal
tersebut.
5. Benda-benda yang
berbahaya dapat di
pindahkan dari
jangkauan klien,

41
untuk meminimalisir
5. Letakan benda-benda terjadinya cedera
dalam jangkauan yang untuk kien yang
mudah bagi klien. menderita
osteoporosis.
6. Pencahayaan
dibutuhkan apalagi
pada lansia yang
mengalami
osteoporosis karena
6. Sediakan pencahayaan jika klien berjalan di
yang cukup dalam tempat gelap maka
meningkatkan pandangan kemungkinan
terjadinya cedera
lebih besar.
7. Apabila di tempat
atau di rumah memili
tangga, maka
instruksikan klien
untuk memegang
7. Sediakan pegangan pada pegangan yang ada di

42
tangga untuk sekitar tangga yang
meminimalisir resiko dapat meminimalisir
cedera resiko jatuh dan
cedera klien.
8. Faktor resiko seperti
kondisi yang gelap
yang dapat memicu
terjadinya kejadian
jatuh perlu di ajarkan
kepada anggota
8. Ajrakan anggota keluarga keluarga klien untuk
mengenai faktor resiko dapatv meminimalisr
yang berkontribusi faktor resiko
terhadap adanya kejadian sehingga klien tetap
jatuh dan bagaimana aman dalam
keluarga bisa menurunkan melakukan aktivtas.
resiko
4. Hambatan mobilitas fisik 1. Ambulasi Peningkatan mekanika tubuh Peningkatan mekanika
(00085) 2. Koordinasi prgerakan tubuh
Definisi : ketebartasan dalam Tujuan & Kriteria Hasil: 1. Kaji komitmen klien untuk 1. Klien harus memiliki
gerak fisik atau satu atau lebih Setelah dilakukan tindakan belajar dan menggunakan komitmen untuk

43
ekstremitas secara mandiri dan keperawatan selama …x 24 jam postur yang tubuh yang menggunakan postur
terarah pasien menunjukkan benar tbuh yang baik untuk
Domain 4 : aktivitas/istirahat 1. Ambulasi meminimalisir
Kelas 2 : aktivitas/olahraga 1) menopang berat badan (4) terjadinya jatuh.
Batasan karakteristik : 2) berjalan dengan langkah 2. Informasikan pada klien 2. Struktur tulang yang
1) gangguan sikap berjalan yang efektif (4) tentang struktur dan fungsi mudah dan akan
2) gangguan tidak terkoordinasi 3) berjalan dengan pelan (4) tulang belakang dan postur mengalami
3) instabilitas postur 4) berjalan dengan kecepatan yang optimal untul keroposan harus di
4) kesulitan membolak balik sedang (4) bergerak. ketahui klien agar
posisi catatan klien tidak membuat
5) keterbatasan rentang gerak 1= Sangat terganggu aktivitas-aktivitas
Faktor yang berhubungan : 2= banyak terganggu yang dapat memicu
1) gangguan musculoskeletal 3= cukup teganggu keadaan itu terjadi.
2) kaku sendi 4= sedikit terganggu 3. Edukasi klien tentang 3. Postur yang benar
3) keengganan memulai 5= tidak terganggu pentingnya postur yang dapat meringankan
pergerakan 2. Koordinasi prgerakan benar untuk mencegah keadaan klien, dan
4) penurunan kekuatan otot 1) kontraksi kekuatan otot kelelahan,ketegangan atau untuk mencegah
5) penurunan masa otot (4) injuri. terjadinya kelelahan
2) kecepatan gerakan (4) untuk itu kita harus
3) kehalusan gerakan (4) mengedukasikan
4) control gerakan (4) kepada klien tentang

44
5) kemantapan gerakan (4) pentingnya postur
6) keseimbangan gerakan (4) yang baik untuk
7) tegangan otot (4) mengurangi resiko
catatan terjadi kelelahan.
1= Sangat terganggu 4. Kaji kesadaran pasien 4. Mengkaji kesadaran
2= banyak terganggu tentang abnormalitas klien tentang
3= cukup teganggu muskuloskeletalnya dan abnormalnya sitem
4= sedikit terganggu efek yang mungkin timbul muskulonya sangat
5= tidak terganggu pada jaringan otot dan penting agar kita
postur. dapat menegetahui
sejauh mana
pengetahuannya dan
apa yang harus kita
lakuakan untuk
menjelaskan tentang
abnormlnya penyakit
klien tersebut.
5. Instruksikan untuk 5. Tidur dengan posisi
menghindari tidur dengan tengkurap dapat
posisi telungkap. memperparah
keadaan klien, untuk

45
itu kita harus
mengintruksikan agar
menghindari keadaan
atau posisi tersebut
untuk menjaga
kenyamananan klien
itu sendiri.
Manajemen lingkungan
Manajemen lingkungan 1. Lingkungan yang
1. Ciptakan lingkungan yang aman dapat
aman untuk klien membantu klien,
terutama saat istrahat
apabila lingkungan
tidak aman maka
kualitas tidur klien
tidak akan baik dang
nyeri atau sakit yang
di rasakan akan
berkepanjangan.
2. Benda-benda yang
2. Singkirkan benda-benda berbahaya untuk

46
yang berbahaya bagi klien klien harus di
singkirkan atau di
jauhkan dari klien
karena apabila tidak
makan resiko jatuh
dan kemudian cedera
akan semakin tinggi.
3. Tempat tidur yang
3. Sediakan tempat tidur tinggi akan membuat
dengan ketinggian yang klien kesusahan dan
rendah, yang sesuai. akan memicu nyeri
untuk itu kita harus
membantu atau
menginstruksikan
keluarga klien untuk
dapat membuat
tempat tidur klien
pada ketinggian yang
sesuai dan tidak
menyusahkan klilen.
4. Osteoporosis akan

47
merasakan nyeri
4. Letakan benda-benda yang apabila beraktivitas
sering digunkan dalam untuk itu kita harus
jangkauan yang mudah meletakan benda-
benda yang sering
digunakan untuk
meminimalisir nyeri
yang akan muncul.
5. Dengan melindungui
klien maka resioko
5. Lindungi klien dengan cederanya akan
pegangan pada berkurang.
sisi/bantalan di sisi 6. Suhu lingkungan
ruangan. sangat perlu di
6. Sesuaikan suhu esuaikan dengan
lingkungan dengan keadaan klien, karena
kebutuhan pasien. apabila suhu terlalu
7. Kurangi aktivitas klien. tinggi maka akan
membuat klien tidak
nyaman dan
memungkinkan klien

48
dapat bergerak kesa-
kemari yang dapat
memicu terjadinya
nyeri.
7. Mengurangi aktivitas
klien sama halnya
dengan mengurangi
atau meminimalisir
terjadinya nyeri yang
akan di rasakan oleh
klien.

5. Defisiensi pengetahuan (00126) 1. Pengetahuan : manajemen Pendidikan kesehatan Pendidikan Kesehatan


Definisi : ketiadaan atau penyakit akut 1. Mengidentifikasi
1. Identifikasi factor internal
defisiensi informasi kognitif yang 2. Pengetahuan : manajemen faktor dai dalam atau
atau eksternal yang dapat
berkaitan dengan topic tertentu osteoporosis dari luar sangat perlu
meningkatkan atau
Domain 5 : persepsi kognisi 3. Pengetahuan : manajemen agar kita dapat
mengurangi motivasi untuk
Kelas 4 : kognisi nyeri engetahui apa yang
berperilaku sehat
Batasan karakteristik : Tujuan & Kriteria Hasil: menyebabkan klien
1) ketidakakuratan mengikuti Setelah dilakukan tindakan tidak memiliki
perintah keperawatan selama …x 24 jam motivasi dan selain

49
2) kerang pengetahuan pasien menunjukkan itu kita dapat
3) perilaku tidak tepat 1. Pengetahuan : manajemen mendoong lagi agar
Faktor yang berhubungan : penyakit akut klien mau dan paham
1) gangguan fungsi kognitif 1) perjalanan penyakit tentang penyakitnya.
2) gangguan memori biasanya (4) 2. Pendidikan kesehatan
3) kurang informasi 2) tanda dan gejala penyakit 2. Targetkan sasaran pada sangat di prioritaskan
4) kurang sumber pengetahuan (4) kelompok berisiko tinggi dan pada orang yang
3) tanda dan gejala rentang usia yang akan berusia lanjut, karena
komplikasi (4) mendapat manfaat besar dari untuk pemberian
4) strategi untuk mencegah pendidikan kesehatan pengetahuan pada
komplikasi (4) usia lanjut memiliki
catatan : tingkat kesuliatn
1 = tidak ada pengetahuan tersendiri.
2 = pengetahuan terbatas 3. Papabila klien atau
3 = pengetahuan sedang keluarga tidak
4 = pengetahuan banyak memahami tentang
3. Tentukan pengetahuan
5 = pengetahuan sangat banyak pengertahuannya
kesehatan dan gaya hidup
2. Pengetahuan : manajemen maka kita harus
perilaku pada saat ini pada
osteoporosis memberikan
individu , kelompok, keluarga
1) tanda dan gejala pengetahuan dengan
atau kelompok sasaran.
osteoporosis (4) menentukan

50
2) hubungan metabolisme pengetahuan
tulang dan osteoporosis kesehatan yag mana
(4) yang harus kita
3) suplemen vitamin D berikan.
harian yang di 4. Penekanan manfaat
rekomendasikan (4) kesehatan untuk klien
4) resiko fraktur (4) sangat baik agar klien
4. Tekankan manfaat kesehatan
5) manfaat latihan tau dan dapat
positif yang langsung atau
menguatkan otot (4) mecegah hal-hal yang
manfaat jangka pendek yang
catatan : mungkin dapat
bisaditerima oleh perilaku
1 = tidak ada pengetahuan timbul pada keadaan
gaya hidup positif dari pada
2 = pengetahuan terbatas klien.
menekankan pada manfaat
3 = pengetahuan sedang 5. Dukungan keluarga
jangka panjang atauefek
4 = pengetahuan banyak sangat diperlukan
negetif dari ketidakpatuhan
5 = pengetahuan sangat banyak untuk proses
5. Manfaatkan system dukungan
3. Pengetahuan : manajemen penyembuhan .
social dan keluarga untuk
nyeri
meningkatkan efektivitas gaya
1) strategi untuk mengontrol Pengajaran Proses
hidup atau modifikasi
nyeri (4) Penyakit
perilaku kesehatan
2) teknik posisi yang efektif 1. Saat mengakji
(4) Pengajaran Proses Penyakit
kita dapat

51
3) teknik relaksasi yang 1. Kaji tingkat pengetahuan mengetahui
efektif (4) klien tentang proses sampai di mana
catatan : penyakit yang spesifik pengetahuan
1 = tidak ada pengetahuan klien tentang
2 = pengetahuan terbatas penyakitnya
3 = pengetahuan sedang dengan begitu
4 = pengetahuan banyak kita dapat
5 = pengetahuan sangat banyak merencanakan
apa yang akan
kita berikan pada
klien.
2. Dengan
menjelaskan
patofisiologi dan
2. Jelaksan patoisiologi
apa yang
penyakit dan bagaimana
menyebabkan
hubungannya dengan
penyakit tersebut
anatomi dan fisiologi
dapat membantu
sesuai kebutuhan.
klien mengenali
kondisinya.
3. Dengan

52
mereview
pengetahuan
3. Review pengetahuan
klien kita dapat
pasien mengenai
tahu jika klien
kondisinya.
sudah paham
betul tentang
keadaannya atau
tidak.
4. Penjelasan
tentang tanda dan
gejala yang akan
4. Jelaskan tanda dan gejala muncul ketika
yang umum dari penyakit klien menderita
penyakit
osteoporosis
sangat perlu
untukmengurangi
tingkat
kecemasan klien.

53
5. Berikan informasi pada 5. Pemberian
klien tentang kondisinya, informasi tentang
sesuai kebutuhan. kondisii klien
sangat perlu akan
tetapi harus ada
batas-batas
tertentu untuk
pemberian
informasi
tersebut.
6. Hindari memberikan 6. Pemberian
harapan yang kosong. harapan yang
kosong tidak
perlu dilakukan
karena hanya
dapat
memperparah
keadaan klien.
7. Kuatkan klien
7. Perkuat informasi yang
dengan
diberikan dengan anggota
berkolaborasi
tim kesehatan lain sesuai

54
kebutuhan. dengan tenaga
kesehatan lain
yang dapat
menjelaskan
tentang
penyakitnya.

55
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Osteoporosis merupakan kondisi terjadinya penurunan
densitas/ matriks/massa tulang, peningkatan prositas tulang, dan
penurunan proses mineralisasi deisertai dengan kerusakakn
arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan
kekokohan tulang sehingga tulang menjadi mudah patah.
Beberapa faktor resiko Osteoporosis antara lain yaitu : usia,
genetik, defisiensi kalsium, aktivitas fisik kurang, obat-obatan
(kortikosteroid, anti konvulsan, heparin, siklosporin), merokok,
alcohol serta sifat fisik tulang (densitas atau massa tulang) dan lain
sebagainya.. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur kompresi.
Fraktur kompresi ganda vertebra mengakibatkan deformitas skelet.
B. Saran
Harus lebih memperhatikan kesehatan dengan menghindari
faktor-faktor resiko osteoporosis serta memenuhi asupan gizi yang
lengkap terutama untuk tulang

56
DAFTAR PUSTAKA

Indah, P. d. (2015). Asuhan Keperawatan Osteoporosis. Retrieved 2017, from


https://www.academia.edu/9249133/Asuhan_keperawatan_Osteoporosis?auto=do
wnload

Nurarif,Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis & Nanda. Jogjakarta: MediAction.

Zairin Noor Helmi. (2014). buku ajar GANGGUAN MUSKULOSKELETAL.


Jakarta: Salemba Medika.

57