Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH),turbine


air merupakan salah satu alat yang di gunakan untuk penerangan. Turbin air di
kembangkan pada abad 19 dan di gunakan secara luas untuk pembangkit listrik
yang berdasarkan prinsip kerjanya . Dalam kemajuan teknologi pada saat sekarang
ini ada banyak peralatan yang inofatif ,tepat dan serba guna salah satu contohya
dalam bidang ke tehnikan ialah turbin air ,dalam bidang konversi energi dan
pemanfaatan alam sebagai salah satu dari sumber energi.
Pemanfaatan alam sebagai sumber energi dianaranya adalah
pemanfaatan air yang dapat di gunakan untuk menghasilkan tenaga kistrik . Salah
satu alat tersebut yaitu turbine yang di gerakkan oleh adanya momentum aliran air
di hubungkan dengan saluran dan hasil putaran tersebut di hubungkan ke
generator sehingga menghasilkan listrik.
Dalam konvensional nya pada zaman dahulu air juga telah di
manfaatkan untuk pembangkit listrik, akan tetapi mereka masih menggunakan
sistem kincir air yang di gunakan unttuk menggerakkan generator.Dan seiring
perkembangan zaman maka tercipta sebuah terbine dengan modifikasi bermacam
ragam type dan spesifikasi sesuai dengan lokasi dan kebutuhan air yang akan di
gunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro(PLTMH).
Turbine air adalah suatu alat yang di gunakan untuk merubah
energi energi potensial (energi yang di dapat dari air) menjadi energi mekanik
(energi yang telah di dapat setelah turbine terkena tendangan air) energi puntir
,dan energi puntir(putaran) di hubungkan ke generator kemudian menghasilkan
arus listrik.
Berdasarkan perumusan masalah tersebut,penulis ingin mengurai
kembali tentang “Perancangan dan desain turbin propeller untuk head 2 m dan
debit 0,8m/s3.”

[Type text] Page 1


1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam desain dan perancangan Turbine Propeller untuk
debit 0.8 m/s dengan head 2 meter adalah sebagai brikut:
1. Bagaimana merancang dan desain turbin dengan type turbin
propeller?
2. Bagaimana cara mengetahui sistem kerja turbine propeller ?
3. Bagaimana cara meng optimalkan daya ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan perencanaan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Desain dan perancangan turbine propeller untuk debit 0,8 m/s dengan
head 2 meter.
2. Mengetahui tingkat sistem kerja pada turbine propeller sesuai dengan
rancangan.
3. Meng optimalkan daya hasil dari putaran turbine propeller sesuai
dengan perencanaan.
1.4 Manfaat
Berdasarkan perencanaan dan analisis yang dilakukan maka diharapkan
dapat dimanfaatkan sebagai berikut :
1. Terbine Propeller dapat berfungsi dengan baik sesuai perencanaan.
2. Dapat menerangi sekeliling pemumkiman penduduk sesuai dengan
daya yang akan di hasilkan oleh terbine propeller tersebut.
3. Memanfaat kan energi potensial yang ada di sekeliling daerah.
4. Mempunyai konstruksi yang sederhana sehingga akan terjangkau bagi
usaha kecil menengah nantinya.

[Type text] Page 2


1.5 Batasan Masalah
Agar pembahasan masalah tidak terlalu luas, maka batasan masalah yang
diambil adalah :
1. Perancangan dan desain hanya dengan turbine type propeller dengan
debit 0,8 m/s dan head 2 meter
2. Sistem kerja dari turbine dengan type turbine propeller yang dapat
memiliki efesiensi yang tinggi
3. Perancangan dan desain Turbine Propeller memiliki efesiensi yang
sangat tinggi, sehingga tidak boleh memiliki kesalahan yang dapat
menyebabkan daya hilang

1.6 Sistematika Penulisan


Agar lebih mudah untuk dipahami dan ditelusuri maka sistematika
penulisan skripsi ini disusun dalam lima bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan,
, manfaat, batasan masalah dan sistematika penulisan.
BAB II : TEORI DASAR
Bab ini berisikan teori yang diambil dari beberapa referensi, yang berupa
definisi dan ulasan yang mendukung penelitian.
BAB III : METODOLOGI
Bab ini berisikan implementasi dari bab ii yang didasarkan atas teori yang
telah dipelajari dari sumber-sumber referensi baik dari buku-buku atau pun jurnal-
jurnal penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

[Type text] Page 3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan umum PLTMH


Pembangkit Listrik Tenaga MikroHydro(PLTMH) merupakan
sebuah alat yang di proses dengan menggunakan media air sebagai sumber energi
nya yang juga memiliki kelebihan dalam hal biaya operasi yang rendah jika
membandingkan dengan pembangkit listrik lainya seperti Pembangkit listrik
Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dan pembangkit
listrik lainya, di karenakan mikro hydro memanfaatkan energi sumber daya alam
yang dapat di perbaharui , yaitu sumber daya air . Dengan ukurannya yang kecil
penerapan Mikro Hydro relatif dan rentan mudah serta kecil kemungkinan
menggangu dan merusak alam . Penggunaan dan fungsi dari Mikro Hydro sangat
luas, terutama untuk menggerakkan peralatan atau mesin-mesin yangtidak begitu
memerlukan persyaratan stabilitas tegangan akurat .
Pembangkit Listrik Tenaga MikroHydro termasuk dalam sebuah kategori
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA),dikarenakan memiliki prinsip dan sistem
kerja yang sama hanya saja perbedaan kapasitas daya yang di hasilkan membuat
nama tersebut menjadi berbeda. Akhir-akhir ini dunia termasuk negara-negara
maju ,banyak terdapat pembangunan PLTA berkapasitas kecil .Pembagian PLTA
kapasitas kecil pada umum nya adalah sebagai briku:
1. PLTA Mikro < 1000 KW
2. PLTA Mini 100watt Sampai dengan 99 watt.
Turbin adalah sebuah alat berputar yang mendapatkan energi dari aliran
fluida. Turbin sederhana memiliki satu bagian yang bergerak, fluida yang
bergerak menjadikan sudu-sudu berputar dan menghasilkan energi untuk
menggerakkan generator.
Turbin air dirancang pada suatu kondisi kerja tertentu. Pada kondisi
perancangan tersebut diharapkan prestasi turbin optimal. Kondisi perancangan
menentukan jenis turbin air yang sesuai berdasarkan kecepatan putaran
spesifiknya. Namun perancangan turbin air dihadapkan pada persoalan aliran
fluida.Penelitian ini adalah suatu pengujian model turbin yang bertujuan untuk

[Type text] Page 4


mengatasi kekurangan pada perancangan turbin yaitu menentukan spesifik
performansi dari model turbin. Dari hasil pengujian bermacam-macam model
yang diuji pada berbagai kondisi operasi dapat dilihat pengaruh beberapa faktor
yang tidak dapat diterangkan melalui perhitungan dalam perancangan.
Berdasarkan data hasil pengujian model dapat dilakukan penyempurnaan dari
hasil perancangan dengan demikian kesalahan dan kekurangan pada perencanaan
turbin dapat dikurangi.

2.1.1 Turbin Kaplan

Tidak berbeda dengan turbin francis, turbin kaplan cara kerjanya


menggunakan prinsip reaksi. Turbin ini mempunyai roda jalan yang mirip dengan
baling-baling pesawat terbang. Bila baling-baling pesawat terbang berfungsi
untuk menghasilkan gaya dorong, roda jalan pada kaplan berfungsi untuk
mendapatkan gaya F yaitu gaya putar yang dapat menghasilkan torsi pada poros
turbin. Berbeda dengan roda jalan pada francis, sudu-sudu pada roda jalan kaplan
dapat diputar posisinya untuk menyesuaikan kondisi beban turbin. Turbin kaplan
banyak dipakai pada instalasi pembangkit listrk tenaga air sungai, karena turbin
ini mempunyai kelebihan dapat menyesuaikan head yang berubah-ubah sepanjang
tahun. Turbin kaplan dapat beroperasi pada kecepatan tinggi sehingga ukuran roda
turbin lebih kecil dan dapat dikopel langsung dengan generator. Pada kondisi pada
beban tidak penuh turbin kaplan mempunyai efisiensi paling tinggi, hal ini
dikarenakan sudu-sudu turbin kaplan dapat diatur menyesuaikan dengan beban
yang ada.

Gambar 2.1 turbin kaplan dengan sudu jalan yang dapat diatur

[Type text] Page 5


2.2 Model Aliran Air Runner
Berdasaran model aliran air masuk runner, maka turbin air dapat dibagi
menjadi tiga tipe yaitu:
1. Turbin Aliran Aksial
Pada turbin ini air masuk runner dan keluar runner sejajar dengan poros
runner, Turbin Kaplan atau Propeller adalah salah satu contoh dari tipe turbin ini.

Gambar 2.2 model turbin aksial [ 9 ]


2. Turbin Aliran Aksial – Radial
Pada turbin ini air masuk ke dalam runner secara radial dan keluar runner
secara aksial sejajar dengan poros. Turbin Francis adalah termasuk dari jenis
turbin ini.

Gambar 2.3 model turbin aksial-radial


2.3 Debit

Debit adalah banyaknya fluida yang mengalir tiap satuan waktu


melalui setiap insan pipa atau saluran.
Q = A . V ……………………..……….……...2.1
Dimana :
Q = debit saluran (m3/s)

[Type text] Page 6


V = kecepatan merata di saluran (m/s)
A = luas penampang aliran (m2)
2.4 Rapat Massa dan Berat Jenis
Rapat massa ( 𝜌) adalah ukuran konsentrasi massa zat cair dan
dinyatakandalam bentuk massa (m) persatuan volume (V).
𝜌=
𝑀
………………………………………..........2.2
𝑉

Dimana:
M = massa (kg)
V = volume (m3)
Rapat massa air ( air) pada suhu 4oC dan pada tekanan atmosfer
(atm)adalah 1000 kg/m3. Berat jenis (g) adalah berat benda persatuan volume
padatemperatur dan tekanan tertentu, dan berat suatu benda adalah hasil kali
antara rapatmassa (𝜌) dan percepatan gravitasi (g).
𝛾 = 𝜌 ∙ 𝑔………………………………………. 2.3
Dimana :
𝛾 = berat jenis ( N/m3)
𝜌 = rapat massa (kg/dt2)
𝑔 = percepatan gravitasi (m/dt2)

Karena pengaruh temperatur dan tekanan pada rapat massa zat cair
sangatkecil, maka dapat diabaikan sehingga rapat massa zat cair dapat dianggap
tetap.

2.5 Kekentalan (viscocity)

Kekentalan adalah sifat dari zat cair untuk melawan tegangan geser (
𝜏)pada waktu bergerak atau mengalir. Kekentalan disebabkan adanya kohesi
antarapartikel zat cair sehingga menyebabkan adanya tegangan geser antara
molekul molekul yang bergerak. Zat cair ideal tidak memiliki kekentalan.
Kekentalan zat cair dapat dibedakan menjadi dua yaitu kekentalan dinamik (𝜇 )
atau kekentalan absolute dan kekentalan kinematis (v ).Dalam beberapa masalah

[Type text] Page 7


mengenai gerak zat cair, kekentalan dinamikdihubungkan dengan kekentalan
kinematik sebagai berikut:
𝜇
V = 𝜌…………………………………… 2.4

dengan 𝜌 adalah rapat massa zat cair (kg/m3).


Kekentalan kinematik besarnya dipengaruhi oleh temperatur (T), pada
temperatur yang tinggi kekentalan kenematik zat cair akan relatif kecil dan dapat
diabaikan.
Zat cair Newtonian adalah zat cair yang memiliki tegangan geser
(t)sebanding dengan gradien kecepatan normal ( terhadap arah aliran.
Gradienkecepatan adalah perbandingan antara perubahan kecepatan dan
perubahan jarak tempuh aliran.
dapat ditentukan jenis turbin yang digunakan yang dapat dijelaskan
sebagai berikut :
ns = 4 ¸ 7 jenis turbin Pelton
ns = 80 ¸430 jenis turbin Perancis
ns = 300 ¸ 1000 jenis turbin Kaplan atau Propeler
Pemilihan putaran spesifik ini sangat berhubungan dengan dimensi
peralatannya, yang berarti juga mempengaruhi konstruksi dan harga. Pemilihan
turbin kebanyakan didasarkan juga pada head air yang didapatkan dan kurang
lebih pada rata-rata alirannya. Umumnya, turbin impuls digunakan untuk tempat
dengan head tinggi, dan turbin reaksi digunakan untuk tempat dengan head
rendah. Turbin Kaplan baik digunakan untuk semua jenis debit dan head,
efisiiensinya baik dalam segala kondisi aliran.
Turbin kecil (umumnya dibawah 10 MW) mempunyai poros
horisontal, dan kadang dipakai juga pada kapasitas turbin mencapai 100 MW.
Turbin Francis dan Kaplan besar biasanya mempunyai poros / sudu vertikal
karena ini menjadi penggunaan paling baik untuk head yang didapatkan, dan
membuat instalasi generator lebih ekonomis. Poros Pelton bisa vertikal maupun
horisontal karena ukuran turbin lebih kecil dari head yang di dapat atau tersedia.

[Type text] Page 8


2.6 Daya turbin
Daya yang dibangkitkan oleh turbin umumnya bervariasi sesuai dengan
permintaan daya. Dalam peraktek, turbin diharapkan bekerja pada daerah kerja
optimum. Besar keluaran kerja turbin diukur mengunakan dinamometer yang
dipasangkan pada porosnya dan harganya sebanding dengan perbedaan head air
masuk dan head air keluar turbin. Dengan mengukur besar torsi dan putaran
dinamometer, maka besar keluaran daya turbin dapat dihitung dengan persamaan
2𝜋𝑛
Np =T …………………………………….2.5
60

Dimana : Np = daya turbin


𝑛 = putaran
Head hidrostatik total diperoleh dengan mengukur beda level permukaan
air bagian atas dan bawah bila instalasi tidak beroperasi. Pengukuran head efektif
tergantung pada jenis instalasi pengujian. Untuk turbin yang saluran airnya
terbuka (water wheel), head efektifnya adalah beda level air bagian atas (sisi hulu)
dekat pusat turbin dan level air pada draft tube. Pada beberapa head kecepataan air
diabaikan. Untuk turbin tertutup head efektifnya adalah head tekanan dan
kecepatan pada sisi masuk turbin dan beda level permukaan air antara seksi masuk
turbin dan ujung draft tube. Untuk turbin impluse (tanpa draft tube), head
efektifnya adalah jumlah head tekanan dan head ,kecepatan pada nosel dan
ditambah beda level antara nosel dan bagian bawah air.
Energi potensial air pada sistem instalasi adalah yang dikandung
dalam aliran air karena adanya beda level permukaan bagian atas dan bagian
bawah. Daya itu disebut daya teoritik yang dinyatakan oleh persamaan berikut

𝛾 = 𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑔…………...……………………………..2.6
Daya air, (Na )
Na =
𝛾 𝑄 𝐻𝑒 …………………………………..
……2.7

[Type text] Page 9


2.7 Weir Meter
Sebuah weir meter v digunakan untuk laju aliran di saluran terbuka.
weir meter v sangat baik untuk mengukur tingkat aliran rendah dari aliran saluran
terbuka. di atas takik v diukur dan berkorelasi dengan laju aliran melalui saluran
terbuka. Sebuah takik weir meter akan memberikan laju aliran saluran terbuka.
Nama untuk weir meter v sangat deskriptif, seperti yang terlihat dalam gambar
dan diagram dalam beberapa bagian berikutnya. Sebuah weir meter v hanyalah
sebuah 'v takik' yang dipasang pada dinding sehingga menghalangi aliran saluran
terbuka, menyebabkan air mengalir melalui takik v. Hal ini digunakan untuk laju
aliran air di saluran, dengan mengukur kepala air di atas v kedudukan puncak.
Weir meter v sangat baik untuk mengukur laju aliran rendah, karena daerah aliran
berkurang secara cepat karena kepala lebih takik v mendapat kecil. Weir meter v
adalah salah satu jenis weir meter yang digunakan dalam Aliran Saluran Terbuka.
Pengukuran 1. Penambahan berlaku yang tajam bendung dalam bagian ini
dan kemudian Weir meter v , Gambar persamaan ini dibahas dalam dua bagian
berikutnya. Diagram di sebelah kiri menunjukkan beberapa parameter dan
terminologi yang digunakan dengan weir meteruntuk aliran saluran pengukuran
tingkat terbuka

Gambar 2.7 : weir meter v


Puncak weir meter adalah bagian atas bendungan. Untuk takik v adalah
titik takik, yang merupakan titik terendah dari pembukaan bendungan. Lembar
tutupan yang digunakan untuk air yang mengalir selama melewati bendungan.
untuk flow meter memerlukan arus bebas yang terjadi ketika ada udara di bawah
tutupan tersebut. penurunan tingkat air akan lebih dari percepatan air. Kepala di
atas bendung ditampilkan dengan H dalam diagram; ketinggian puncak bendung

[Type text] Page 10


ditampilkan sebagai P, dan laju aliran saluran terbuka atau debit ditampilkan
sebagai Q.
8 𝜃
Q = (15) Cd tan (2)

(𝐻𝑤 )2,5……………………………..…..…2.8
Dimana : Q = debit (m3/s)
Cd = Koefisien Discharge
𝜃 = Sudut notch (derajat)
𝑯𝒆 = (𝐡𝟏 + 0,86) m

2.8 Efisiensi turbin


Ada dua efisiensi yang digunakan dalam pengujian turbin hidraulik, yaitu
efisiensi instalasi dan efisiensi turbin. Efisiensi instalasi adalah perbandingan
antara keluaran daya turbin dan daya teoritik. Sedangkan efisiensi turbin adalah
perbandingan antara keluaran daya turbin dan daya air.
𝑁𝑃
𝜂𝑡 = ………………………………………2.9
𝑁𝑎

Laju aliran air masuk turbin dapat diukur dengan metode keluaran
langsung, yaitu dengan mengukur berat atau volume air dalam periode tertentu
dalam tangki yang dikalibrasi atau dengan metode kecepatan-luas, yaitu dengan
cara menentukan penampang aliran dan kecepatan rata-rata aliran. Dalam
pengujian laboratorium biasanya head dipertahankan konstan sedangkan katup
pengaturan aliran, putaran poros dan daya turbin dapat diubah-ubah.

[Type text] Page 11


BAB III
METODE PENELITIAN

Merupakan suatau proses awal dalam rangka merealiasasikan suatu produk


yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana mempermudah pekerjaannya.
Proses perancangan terdiri dari serangkaian kegiatan yang berturutan. Oleh kerena
itu proses perancangan harus mencakup seluruh kegiatan.

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan selama proses kelangsungan perancangan dan desain
alat tersbut berlangsung. Tempat tersebut berada di desa suban kec: batang asam
kabu:tanjung jabung barat provinsi jambi.

3.2 Diagram Alir Penelitian


Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan yang berurutan seperti
pada gambar 3.1 .
Mulai

Survey lapangan

Study literatur

Perumusan masalah dan tujuan penelitian

Pemilihan Model Rumah Turbin 1 Model Turbin Propeller


(Metode AHP) Head Rendah

[Type text] Page 12


Perancangan sudu: Dimensi Rumah
- Tinggi jatuh air(head):2 m turbin, sudu,
- Debit air: 0,8 ms danModel Turbin
Propeller Head rendah

Perencanan pembuatan gambar Desain rumah turbin, sudu


tehnik draft tube

Lama Pengerjan dan Biaya


Perencanaan PembuatanY Turbin
produksi Turbin Propeller
a Head Rendah

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Perencanaan (flowchart)

3.3 Tahapan Pelaksanaan Penelitian


Tahapan penelitian dan pelaksanaan desain dan perencanaan turbine adalah
sebagai brikut:
3.3.1 Study literatur

Study literatur adalah tahapan awal mencari permasalahan melaluhi jurnal-


jurnal maupun buku-buku sebagai referensi. Tahap berikutnya observasi tentang
bentuk bentuk turbin propeller yang ada di pasaran, serta survey lokasi untuk
untuk mendapat kan head dan debit yang di inginkan yang di lakukan dengan
mengukur tinggi air tersebut dan lebar aliran pada sungai yang ada di lokasi
tersebut.
3.3.2. observasi.
Survey dilakukan terhadap turbin rendah yang ada di pasaran yang
berjenis propeller head rendah seperti tabel di bawah ini.

[Type text] Page 13


Tabel.3.1. Spesificationsi Vertikal Tabular Turbine Type

Main Specifications
Turbine Remarks
Type GD-LZ-12- Vertical Tubular Turbine
3KW
Rated Head 11m
Rated Flow 45 l/s
Power 3 KW
Efficiency 60%
Generator Remarks
Conforms to the IEC international electrician
Type SF3-4 committee standard & CE standard
Rated Power 3KW
Rated Voltage 230V
Rated Current 13.04 A
FQCY 50Hz
Rated Rotational 1500r/min
Phase 1
P.F. 0.9

Pemilihan observasi dilakukan menurut tabel yang berada di bawah ini


dengan spesificasionsi vertikal tabular turbin type
Tabel.3.2. Spesificationsi Vertikal Tabular Turbine Type[16]
Water
Flow Output Speed Pipe
Head
(cb.m/s) (w) (rpm) (mm)
(m)
4 0.136 3000 1000 250
6 0.151 5000 1500 300
7 0.156 6000 1500 300
9 0.161 8000 1500 300
11 0.165 10000 1500 300

[Type text] Page 14


3.4 Perumusan masalah dan tujuan penelitian
Adapun perumusan masalah dan tujuan penelitian ialah bagaimana
merancang dan desain turbin dengan type propeller dengan lokasi yang ada di
jalan lintas timur desa suban kecematan batang asam kabupaten tanjung jabung
barat provinsi jambi seta bagaimana cara mengetahui sistem kerja dari alat
tersebut agar dapat berjalan secara optimal.
Serta dalam tujuan penelitian tersebut adalah dengan memanfaatkan
sumber energi potensial yang ada di lokasi tersebut guna dapat di jadikan sebagai
salah satu manfaat penerangan bagi sekitar lokasi tersebut.
3.5 Pemilihan model rumah Turbin
Pemilihan model rumah turbin dengan menilai dari segi keadaan lokasi
yang akan di gunakan sebagai penelitian alat sesuai dengan kebutuhan tempat dan
perhitungan melalui head yang di dapat di lokasi jalan lintas timur desa suban
kecamatan batang asam kabupaten tanjung jabung barat provinsi jambi dengan
tinggi jatuh nya air ( head 2m) dan untuk debit /laju aliran yaitu(0,8 m/s) dapt di
simpulkan dengan munggunakan rumah turbin type vertikal dengan model turbin
propeller head rendah.

3.6 Data Perancangan Sudu Turbin Propeller Head Rendah.


Data ini merupakan data awal dalam mendesain turbin propeller head
rendah yang akan yang membantu untuk mendapatkan atau menghitung dimensi
yang terdiri dari diameter dalam sudu, diameter luar sudu, sudut kelengkungan
sudu, Jumlah sudu turbin, yang mana dimensi ini akan menentukan bentuk dan
besar dan kecilnya turbin propeller.

3.6.1 Menentukan Diameter Luar Sudu Turbin

Menentukan diameter sudu turbin dengan menggunakan persamaan


sebagai berikut:

Hn
De  84,5  (0,79  1,602  n QE ) 
60  n

[Type text] Page 15


3.6.2 Menentukan Diameter Dalam Turbin

Menentukan diameter sudu turbin dengan menggunakan persamaan


sebagai berikut:

 0,951 
Di   0, 25    De
 n
 QE 

3.6.3 Kavitasi

Kavitasi adalah fenomena perubahan fasa uap dari zat cair yang sedang
mengalir, karena tekanannya berkurang hingga di bawah tekanan uap jenuhnya,
pada turbin air kavitasi berupa gelembung air yang dapat menyebabkan kerusakan
pada sudu turbin. Kavitasi dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai
berikut:
patm  pv c24
Hs      Hn
 g 2g

3.6.4 Perancangan Sudu Turbin

Untuk perancangan sudu, sudu tidak hanya tergantung pada analisis


tegangan, beberapafaktor lainnya juga mempunyai peran penting, yang paling
utama adalah segitiga kecepatan. Selain itu sudu harus menjadi setipis mungkin
untuk meningkatkan karakteristik kavitasi, segitiga kecepatan juga merupakan
faktor penting dalam mendefinisikan bentuk profil dan distorsi sudu.
3.6.5 Segitiga Kecepatan

Segitiga kecepatan, yang terjadi pada sudumempunyai peran penting


dalam menentukan kelengkungan sudu, dalam Gambar (2.10) ditunjukkan segitiga
kecepatan

[Type text] Page 16


Gambar 2.10 Segitiga kecepatan

Gambar2.11 Sudut dan gaya-gaya pada profil sudu turbin propeller

Dimana:
U1 = kecepatan tengensial air masuk sudu (m/s)
W1 = kecepatan relatif air masuk sudu (m/s)
C1 = kecepatan mutlak air masuk sudu (m/s)
U2 = kecepatan tengensial air keluar sudu (m/s)
W2 = kecepatan relatif air keluar sudu (m/s)
C2 = kecepatan mutlak air keluar sudu (m/s)
u   n  d (5)
H1  g
c ul 
u
Wu1  Cu1 – u

Wu1  Wu 2
Wu  
2
Q
Wm 
A

W  Wu2  Wm2

Wu
  arccos
W

[Type text] Page 17


3.6.6 Langkah-Langkah Menentukan Dimensi Utama Sudu

Untuk pemahaman yang lebih baik, bagian ini membahas prosedur yang
tepat untuk menentukan dimensi utama dari sudu turbin.
Langkah 1:
Koefisien gayaangkat untuk setiap radius dapat ditentukan dengan
persamaan berikut:

 c2  c2 4 
w 2 2  w 2  2  g  (p /   Hs  p min /   s x  3 
a   2xg 
k  w 2
Dimana:
Patm = Tekanan atmosfer (m)
Hs = Tinggi hisapan (m)
Pmin = Tekanan minimal air (m)
ηs = Efesiensi energi (m)
c3 = Kecepatan keluaran sudu (m/s)
c4 = Kecepatan keluaran (m/s)
K = Nomor karateristik Profil
Hampir semua nilai diketahui baik perhitungan sebelumnya atau sebagian
diasumsikan. Nilai-nilai lain harus diasumsikan tetapi bisa ditemukan dalam
referensi dimana rentang untuk nilai-nilai yang diberikanini adalah sebagai
berikut:

Pmin = 2 - 2,5
ηs = 0,88 - 0,91
K = 2,6 – 3

Langkah 2:
Ketika koefisien angkat diketahui, rasio l/t dapat ditetapkan sebagai
berikut:
l   g  H cm cos  1
   
t w u sin(180     ) a

[Type text] Page 18


Dimana:
λ = angle of slip
(180-β∞) inflow angle
Dalam persamaan , sudut luncur (λ) harus diasumsikan, kisaran
untukasumsi sudut luncur adalah λ=2,5°÷3°.Dengan menggunakan asumsi ini,
perkiraan nilai rasio l/t dapat dibentuk.
Langkah 3:
Pada langkah 3, nilai timbal balik dari perbandingan l/t harus ditetapkan.
Melalui nilai timbal balik, rasio koefisien gaya angkat ζa/ζA dapat dibaca dalam
mengikuti Gambar (2.12). Menggunakan rasio ini maka koefisien ζA dapat
dibentuk

Gambar 2.12 Grafik perbandingan ζa/ζA dengan t/l


Langkah 4:
Grafik pada gambar berikut memberikan informasi tentang hambatan
koefisien ζW dari profil yang berbeda. Berdasarkan grafik maka kita dapat
menentukan profil sudu yang akan dibuat, profil sudu dapat dipilih berdasarkan
tingkat kesulitan dari bentuk sudu tersebut dan berdasarkan dimensi turbin yang
direncanakan.

[Type text] Page 19


Gambar 2.13 Grafik perbandingan ζA dengan ζW[9]
Setiap kurva diatas merupakan salah satu profil sudu yang tercantum di
samping grafik. Pertamakita harus menentukan profil yang akan digunakan untuk
pembuatan sudu, koefisien drag profil ini dapat ditentukan dengan menggunakan
grafik (2.13).

Langkah 5:
Dengan persamaan berikut, sudut slip dapat dihitung:
λ = arctan ζ W/ Ζa
Ini harus diperiksa apakah sudut slip yang diasumsikan dan sudut dihitung
tergelincir serupa atau tidak. Jika perbedaannya terlalu besar, prosedur
perhitungan harus dihitung ulang dengan menggunakan sudut slip yang lain
dengan persamaan (2.18). Langkah 2 sampai 5 harus diulang sampai sudut slip
tidak berubah lagi, sehingga menjadi pertimbangkan untuk memilih profil yang
sama pada langkah 4. Ketika λ sudut adalah tetap, dapat diasumsikan bahwa nilai
akhir pada langkah 2 sampai 5 cukup akurat. Dengan demikian rasio l/t dan profil
tersebut telah ditetapkan.
Langkah 6:
Sudut serang (δ) dari profil yang dipilih sekarang dapat dibentuk dengan
menggunakan hasil perhitungan t/l Pada diameter 0.14 m, nilai koefisien lift ζA
begitu tinggi sehingga tidak ditunjukkan dalam gambar (2.15). Dengan demikian,
perkembangan lebih lanjut dari kurva digrafik ini harus diasumsikan untuk
mendapatkan koefisien drag dan sudut slip.

Gambar 2.15Grafik untuk menentukan sudut serang[9]

[Type text] Page 20


Untuk mendapatkan sudut yang akurat dari penyimpangan, sudut serang
harus dikurangkan dari sudut luncur (180-β ∞). Hasil ini dapat dilihat pada grafik
di atas.
3.7 Pembuatan Gambar Teknik
Pada tahap ini adalah rancangan produk tersebut dapat dituangkan dalam
bentuk gambar tradisional diatas kertas (2 dimensi) atau gambar dalam bentuk
modern yaitu informasi digital berupa gambar semua elemen produk lengkap
dengan geometrinya, dimensinya, material, gambar susunan komponen
(assembly), gambar susunan produk yang sangat membantu proses manufaktur .

[Type text] Page 21