Anda di halaman 1dari 3

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)

PRAKTIKUM MENGAFANI JENAZAH

Visi Program Sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu keperawatan yang
Studi menghasilkan perawat professional yang Islami, Unggul, dan Kompetitif di
tingkat Nasional tahun 2020 dan Internasional tahun 2030
Misi Program 1. Melaksanakan program pendidikan Ners yang berbasis KKNI ditunjang
Studi dengan peningkatan sarana dan prasarana serta pengembangan SDM
yang memadai.
2. Melaksanakan proses asuhan keperawatan yang terintegrasi dengan
keperawatan spiritual yang islami.
3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dosen dalam proses
pembelajaran berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.
4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dosen khusus di bidang
kegawatdaruratan dan disaster melalui pelatihan, seminar, dan
workshop.
5. Memotivasi dosen dalam mengembangkan kemampuan untuk
melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat.
6. Mengembangkan penelitian dan pengembangan kepada masyarakat
yang terintegrasi dengan kajian Al-Qur’an dan hadist
Definisi Mengkafankan mayat hukumnya fardhu kifayah bagi mayat. Minimal
mengkafani mayit cukup dengan menutup auratnya dengan selembar kain.
Sempurnanya mengkafani mayat pada laki-laki adalah dengan
menggunakan tiga helai kain, setiap helai kain bisa menutup seluruh
tubuhnya tanpa baju atau kupian atau sorban (tutup kepala). Sedangkan
mayat perempuan yaitu dengan 5 helai kain
Tujuan 1. Mahasiswa mampu mendemonstrasikan proses mengafani jenazah
Intruksional
Referensi Rahman, Arif. (2009). Pelatihan Pemulasaraan Jenasah.

NO TINDAKAN/ KETERAMPILAN DILAKUKAN BOBOT BOBOT


MAHASISWA MHSW
1. Kontrak waktu dengan keluarga mayit 10
2. Menyiapkan alat dan Bahan:
a. Alat
1. Kain kafan (3 lembar untuk pria dan 5
lembar untuk wanita)
2. Kapas
3. Tali
b. Bahan: 30
1. Kapur barus
2. Wangi-wangian
3. Prosedur tindakan:
1. Sebelum mayit diangkat dari tempat
pemandian, kain-kain kafan yang telah
dibubuhi wewangian (diukup) disiapkan.
2. Setelah itu kafan yang terbaik digelar dan
disebar diatasnya kayu cendana dan kapur
barus. Kemudian digelar lagi kafan yang
50
kedua dan ketiga dengan disebarkan kayu
cendana dan kapur barus.
3. Lalu mayat setelah dimandikan dan
dikeringkan dengan handuk diletakan dalam
keadaan terlentang, kedua tangannya
diletakan di atas pusarnya seperti dalam
posisi shalat yaitu tangan yang kanan diatas
yang kiri.
4. Kemudian lubang lubang hidungnya,
mulutnya, telinganya, matanya, jidat dan
ketiaknya, serta kedua aurat depan dan
belakang, begitu pula sela-sela jari baik kaki
atau pun tangan, dan luka yang berlubang
ditutup dengan kapas yang telah diberi kayu
cendana dan kapur barus.
5. Setelah hal-hal tersebut selesai dilakukan
dengan sempurna, kain kafan mulai ditutup
dengan urutan sebagai berikut: pertama kain
kafan sebelah kiri, kemudian kain kafan
sebelah kanan. Sebelah kiri lagi, kemudian
sebelah kanan. Demikian seterusnya.
6. Selanjutnya, ujung masing-masing kain kafan
yang berada pada sisi kepala dan kaki mayit
disatukan, kemudian diikat erat-erat dengan
tali, agar tidak sampai lepas pada saat di
bawa ke pemakaman..
4. Mencatat waktu, tanggal dan perawat yang 10
mengafani jenazah
TOTAL PENILAIAN 100

Tanggal Praktikum
Waktu Praktikum
Penanggung Jawab Praktikum
Tanda Tangan Penanggung Jawab