Anda di halaman 1dari 36

RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

TRAUMA KAPITIS
Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Radiologi Di Rumah
Sakit Islam Sultan Agung Semarang

Disusun oleh :
Andre Prabowo 12095836
Annisa Nurul Khakimah 30101306876
Dian Islami 30101306914
Durrah Fararesa 30101306922

Pembimbing :
Dr. Bambang Satoto, Sp. Rad (K)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI


RUMAH SAKIT ILSMA SULTAN AGUNG SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2018

1
2

LEMBAR PENGESAHAN
RADIOGRAPH BASED DISCUSSION
Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu Radiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Yang disusun oleh:

Andre Prabowo 12095836


Annisa Nurul Khakimah 30101306876
Dian Islami 30101306914
Durrah Fararesa 30101306922

Judul : Trauma Kapitis


Bagian : Ilmu Radiologi
Fakultas : Kedokteran Unissula
Pembimbing : dr. Bambang Satoto, Sp. Rad (K)

Telah diajukan dan disahkan


Semarang, November 2018
Pembimbing,

Dr. Bambang Satoto, Sp. Rad (K)


3

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. 2

DAFTAR ISI .......................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang................................ Error! Bookmark not defined.

1.2. Batasan Masalah .............................................................................. 4

1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................. 4

1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................... 4

1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................................. 4

1.4. Metode Penulisan ............................................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................... Error! Bookmark not defined.

2.1 Kepala........................................................................................
.......6

2.1.1 Anatomi dan Histologi............................................................6

2.1.2 Fisiologi...................................................................................8

2.2 Trauma Kapitis..................................................................................8

2.2.1.Definisi Trauma Kapitis .............................................................. 9

2.2.2.Karakteristik penderita trauma kapitis ..................................... 10

2.2.6.Mekanisme trauma kapitis ........................................................ 10

2.1.7.Macam trauma kapitis ................................................................ 11

2.1.8.Pemeriksaan awal trauma kapitis..........................................17

2.1.9.Tingkat Keparahan................................................................18

BAB III LAPORAN KASUS ............................................................................ 29


4

3.1. Identitas Pasien .............................................................................. 29

3.2. Anamnesis (Alloanamnesa) ........................................................... 29

3.3. Pemeriksaan Fisik .......................................................................... 30

3.4. Status Generalis ............................................................................. 30

3.5. Pemeriksaan Penunjang ................................................................. 31

3.5.1.CT Scan ....................................................................................... 32

3.6. Diagnosis ....................................................................................... 33

BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................. 34

BAB V SIMPULAN.............................................................................................35

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................35
5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cedera kepala tertutup (Closed Head Injury) mempunyai insidensi yang
masih sangat tinggi, di Amerika pada tahun 2003 didapatkan 570.000 kasus cedera
kepala per tahun dan merupakan 40% dari seluruh kematian akibat cedera akut. Di
Eropa 91 dari 100.000 penduduk per tahun dirawat di Rumah Sakit (RS) dengan
cedera kepala. Di Spanyol pada tahun 1988 terdapat 313 dari 100.000 penduduk.
Di China melalui survey door to door tahun 1983 didapatkan angka 56 per 100.000
penduduk per tahun. Di Negara-negara berkembang berkisar antara 200-
300/100.000 populasi per tahun. Data dari Traumatic Coma Data Bank (TCDB)
didapatkan bahwa kematian akibat cedera kepala lebih kurang 17 per 100.000 orang
pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit, dan lebih kurang 6 per 100.000 orang
pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Cedera primer otak berupa Intracranial
Space Occupying Lession yaitu hematoma, baik hematoma epidural (EDH)
maupun hematoma subdural sekitar 20-40%
Adanya massa intrakranial menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan
intrakranial (TIK). Kenaikan TIK ini dapat mengakibatkan pengurangan suplai
darah ke otak yang akan mengakibatkan serangkaian iskemia sehingga akan terjadi
kerusakan otak.

1.2 Batasan Masalah


Referat ini akan membahas tentang trauma kapitis dari segi gambaran
radiologis.
1.3 Tujuan Masalah
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis dan
penegakkan diagnosis trauma kapitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
Mengetahui gambaran radiologi pada trauma kapitis
6

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan referat ini adalah tinjauan kepustakaan yang merujuk pada
berbagai literatur.
7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kepala

2.1.1 Kulit Kepala

Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit,
connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea
aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan
perikranium (Japardi, I., 2002).

2.1.2 Tulang Tengkorak

Tengkorak adalah tulang kerangka dari kepala yang disusun menjadi dua
bagian yaitu kranium (kalvaria) yang terdiri atas delapan tulang dan kerangka
wajah yang terdiri atas empat belas tulang. Rongga tengkorak mempunyai
permukaan atas yang dikenal sebagai kubah tengkorak, licin pada permukaan
luar dan pada permukaan dalam ditandai dengan gili-gili dan lekukan supaya
dapat sesuai dengan otak dan pembuluh darah. Permukaan bawah dari rongga
dikenal sebagai dasar tengkorak atau basis kranii. Dasar tengkorak ditembusi
oleh banyak lubang supaya dapat dilalui oleh saraf dan pembuluh darah (Pearce,
EC.,2008).

2.1.3 Meningia

Meningia merupakan selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang


belakang. Fungsi meningia yaitu melindungi struktur saraf halus yang membawa
pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan serebrospinal), dan memperkecil
benturan atau getaran terdiri atas 3 lapisan, yaitu:

2.1.3.1 Durameter (Lapisan sebelah luar)

Durameter ialah selaput keras pembungkus otak yang berasal dari


jaringan ikat tebal dan kuat, dibagian tengkorak terdiri dari selaput tulang
tengkorak dan dura meter propia di bagian dalam. Di dalam kanalis
vertebralis kedua lapisan ini terpisah. Durameter pada tempat tertentu
8

mengandung rongga yang mengalirkan darah vena dari otak, rongga ini
dinamakan sinus longitudinal superior yang terletak diantara kedua
hemisfer otak
2.1.3.2 Selaput Arakhnoid (Lapisan tengah)

Selaput arakhnoid merupakan selaput halus yang memisahkan


durameter dengan piameter yang membentuk sebuah kantong atau balon
berisi cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf sentral.
2.1.3.3 Piameter (Lapisan sebelah dalam)

Piameter merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan


jaringan otak, piameter berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-
struktur jaringan ikat yang disebut trebekel. Tepi falks serebri
membentuk sinus longitudinal inferior dan sinus sagitalis inferior yang
mengeluarkan darah dari flaks serebri. Tentorium memisahkan cerebrum
dengan serebellum (Pearce, EC.,2008).

2.2 Fisologis Cairan Otak (Tekanan Intrakranial)

2.2.1 Pengertian Tekanan Intra Kranial (TIK)

Tekanan intrakrania (TIK) adalah tekanan realtif di dalam rongga kepala


yang dihasilkan poleh keberadaan jaringan otak, cairan serebrospinal (CSS), dan
volume darah yang bersirkulasi di otak (Satyanegara, 2014:225).

Menurut hipotesa Monro-Kellie, adanya peningkatan volume pada satu


komponen haruslah dikompensasikan dengan penurunan volume salah satu
dari komponen lainnya. Dengan kata lain, terjadinya peningkatan tekanan
intrakrainial selalu diakibatkan oleh adanya ketidakseimbangan antara volume
intracranial dengan isi cranium (Krisanty, Paula dkk, 2009:71).
9

Tabel 2.1 Perbandingan Volume komponen penyusun rongga


intrakranial.

Isi Volume Volume Total


Otak 1400 ml 80%
Darah 150 ml 10%
Cairan serebro spinal 150 ml 10%
Total 1700 ml 100%
Adanya suatu penambahan massa intrakranial, maka sebagai kompenasasi
awal adalah penurunan volume darah vena dan cairan serebro spinal secara
resprokal. Keadaan ini dikenal sebagai doktrin Monro-Kellie Burrows, yang
telah dibuktikkan melalui berbagai penelitian eksperimental maupun klinis
(kecuali pada anak-anak dimana sutura tulang tengkoraknya masih belum
menutp, sehingga masih mampu mengakomodasi penambahan volume
intrakranial). System vena akan menyempit bahkan kolaps dan darah akan
diperas ke luar melalui vena jigularis atau mellaui vena-vena emisaria dan kullit
kepala. Kompensasi selanjunya adalah CSS juga akan terdesak melalui foramen
magnum kea rah rongga subarachnoid spinalis. Mekanisme kompenasi ini hanya
berlangsung sampai batastertentu yang disebut sebagai titik batas kompensasi
dan kemudian akan terjadi peningkatan tekanan intrakranial yang hebat secara
tiba-tiba. Parenkin otak dan darah tidak ikut serta dalam mekanisme
kompenasi tersebut di atas (Satyanegara, 2014:225).

Kenaikan TIK lebih dari 10 mmHg dikategorikan sebagai keadaan yang


patologis (hipertensi intrakranial), keadaan ini berpotensi merusak otak serta
berakibat fatal. Secara garis besar kerusakan otak akibat tekanan tinggi
intrakranial (TTIK) terjadi melalui dua mekanisme, yaitu pertama adalah sebagai
akibat gangguan aliran darah serebral dan kedua adalah sebaga akibat proses
mekanisme pergeseran otak yang kemudian menimbulkan pergeseran dan
herniasi jaingan otak (Satyanegara, 2014:226).

2.3 Definisi Trauma Kepala

Trauma kepala adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung
ataupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi neurologi yaitu
gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer maupun permanen.
Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala adalah suatu
10

kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi


disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan
fungsi fisik.

2.4 Kareteristik Penderita Trauma Kepala

2.4.1 Jenis Kelamin

Pada populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih banyak
mengalami trauma kepala dari perempuan. Namun, pada usia lebih tua
perbandingan hampir sama. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih tua
disebabkan karena terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap trauma
kepala adalah 3,4:1. Menurut Brain Injury Association of America, laki-laki
cenderung mengalami trauma kepala 1,5 kali lebih banyak daripada perempuan.

2.4.2 Umur

Resiko trauma kepala adalah dari umur 15-30 tahun, hal ini disebabkan
karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan alkohol, narkoba
dan kehidupan sosial yang tidak bertanggungjawab. Menurut Brain Injury
Association of America, dua kelompok umur mengalami risiko yang tertinggi
adalah dari umur 0 sampai 4 tahun dan 15 sampai 19 tahun.

2.5 Mekanisme Trauma Kepala

Beberapa mekanisme yang timbul terjadi trauma kepala adalah seperti translasi
yang terdiri dari akselerasi dan deselerasi. Akselerasi apabila kepala bergerak ke
suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba-tiba suatu gaya yang kuat searah dengan
gerakan kepala, maka kepala akan mendapat percepatan (akselerasi) pada arah
tersebut. Deselerasi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah secara tiba-
tiba dan dihentikan oleh suatu benda misalnya kepala menabrak tembok.
Mekanisme fisiologis yang berperan pada cidera kepala antara lain :

2.5.1 Tekanan Intra Kranial

Biasanya ruang intrakranial ditempati oleh jaringan otak, darah, dan cairan
serebrospinal. Setiap bagian menempati suatu volume tertentu yang
menghasilkan suatu tekanan intra kranial normal sebesar 50 sampai 200 mmH2O
11

atau 4 sampai 15 mmHg. Dalam keadaan normal, tekanan intra kranial (TIK)
dipengaruhi oleh aktivitas sehari-hari dan dapat meningkat sementara waktu
sampai tingkat yang jauh lebih tinggi dari normal. Ruang intra kranial adalah
suatu ruangan kaku yang terisi penuh sesuai kapasitasnya dengan unsur yang
tidak dapat ditekan, yaitu : otak ( 1400 g), cairan serebrospinal ( sekitar 75 ml),
dan darah (sekitar 75 ml). Peningkatan volume pada salah satu dari ketiga unsur
utama ini mengakibatkan desakan ruang yang ditempati oleh unsur lainnya dan
menaikkan tekanan intra kranial.

2.5.2 Hipotesa Monro-Kellie

Teori ini menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak dapat meluas sehingga
bila salah satu dari ketiga komponennya membesar, dua komponen lainnya harus
mengkompensasi dengan mengurangi volumenya ( bila TIK masih konstan ).
Mekanisme kompensasi intra kranial ini terbatas, tetapi terhentinya fungsi neural
dapat menjadi parah bila mekanisme ini gagal. Kompensasi terdiri dari
meningkatnya aliran cairan serebrospinal ke dalam kanalis spinalis dan adaptasi
otak terhadap peningkatan tekanan tanpa meningkatkan TIK. Mekanisme
kompensasi yang berpotensi mengakibatkan kematian adalah penurunan aliran
darah ke otak dan pergeseran otak ke arah bawah ( herniasi ) bila TIK makin
meningkat. Dua mekanisme terakhir dapat berakibat langsung pada fungsi saraf.
Apabila peningkatan TIK berat dan menetap, mekanisme kompensasi tidak
efektif dan peningkatan tekanan dapat menyebabkan kematian neuronal.

2.6 Macam Trauma Kepala

2.6.1 Jenis Trauma Luka Pada Kulit dan Tulang

Jenis Trauma Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area)
dimana terjadi trauma. Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari
dua, yaitu secara garis besar adalah trauma kepala tertutup dan terbuka. Trauma
kepala tertutup merupakan fragmenfragmen tengkorak yang masih intak atau
utuh pada kepala setelah luka. The Brain and Spinal Cord Organization 2009,
mengatakan trauma kepala tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada
kepala secara tiba-tiba sehingga menyebabkan jaringan otak menekan
tengkorak. Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah
12

menembus sampai kepada dura mater. Kemungkinan kecederaan atau trauma


adalah seperti berikut;

2.6.1.1 Fraktur

Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat


4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depressed
fracture, compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai
berikut:

 Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit


 Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus
tanpa depresi, distorsi dan ‘splintering’.
 Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
 Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada
tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural.

Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya


retak atau kelainan pada bagian kranium. Fraktur basis kranii retak pada
basis kranium. Hal ini memerlukan gaya yang lebih kuat dari fraktur
linear pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada
4% pasien yang mengalami trauma kepala. Terdapat tanda-tanda yang
menunjukkan fraktur basis kranii yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal
keluar dari rongga hidung) dan gejala raccoon’s eye (penumpukan darah
pada orbital mata). Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga
menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Fraktur basis kranii
bisa terjadi pada fossa anterior, media dan posterior . Fraktur
maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang
merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur
pada bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilari.

2.6.1.2 Luka memar (kontosio)

Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan


dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke
jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna
13

merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan
tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal,
temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan
atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar. Pada
kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan
yang di sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah
tingkat kesadaran.

2.6.1.3 Laserasi (luka robek atau koyak)

Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul
atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda
bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek
adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah
kulit. Luka ini biasanya terjadi pada kulit yang ada tulang dibawahnya
pada proses penyembuhan dan biasanya pada penyembuhan dapat
menimbulkan jaringan parut. d) Abrasi Luka abrasi yaitu luka yang tidak
begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini bisa mengenai sebagian atau
seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan subkutis tetapi akan
terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang rusak. e)
Avulsi Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit
terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial.
Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan.

2.6.2 Perdarahan Intrakranial

2.6.2.1 Perdarahan Epidural

Epidural hematoma terjadi pada 1% trauma kepala, Insiden tertinggi


terjadi pada usia 20-30 tahun, jarang terjadi pada usia dibawah 2 tahun
atau lebih dari 60 tahun, (disebabkan dura yang melekat erat pada tabula
interna skull). Fraktur terjadi pada 85% pasien dewasa. Kecelakaan
lalulintas merupakan penyebab terbanyak (30-70%), penyebab lain
akibat terjatuh dan korban kekerasan. Lokasi tersering pada daerah
temporal, kemudian frontal, occipital dan fossa posterior. 2-5% terjadi
bilateral. Perdarahan epidural terletak antara tulang kranial dan dura
14

mater. Gejala perdarahan epidural yang klasik atau temporal berupa


kesadaran yang semakin menurun, disertai oleh anisokoria pada mata ke
sisi dan mungkin terjadi hemiparese kontralateral. Epidural hematoma
terjadi akibat robekan arteri meningea media atau cabang-cabangnya
akibat fraktur pada daerah temporoparietal. Akumulasi darah
melepaskan perlekatan duramater dari dinding tabula interna yang
kemudian terisi hematoma.Kemungkinan lain pada awal duramater
terlepas dari dinding tabula interna kemudian ruang yang terbentuk terisi
oleh hematoma. Sumber perdarahan terbanyak bersumber dari
perdarahan arteri: arteri meningea media (85%), dapat juga berasal dari
vena meningea media, sinus duramater atau dari vena diploe. Perdarahan
epidural di daerah frontal dan parietal atas tidak memberikan gejala khas
selain penurunan kesadaran (biasanya somnolen) yang membaik setelah
beberapa hari. Gambarannya berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa
cembung.

2.6.2.2 Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan


epidural. Perdarahan ini terjadi akibat robeknya vena-vena kecil di
permukaan korteks serebri. Perdarahan subdural biasanya menutupi
seluruh permukaan hemisfer otak. Biasanya kerusakan otak lebih berat
dan prognosisnya jauh lebih buruk dibandingkan perdarahan epidural.
Perdarahan subdural adalah perdarahan antara dura mater dan araknoid,
yang biasanya meliputi perdarahan vena. Terbagi atas 3 bagian yaitu:

a) Perdarahan subdural akut

Gejala klinis berupa sakit kepala, perasaan mengantuk, dan


kebingungan, respon yang lambat, serta gelisah. Keadaan kritis
terlihat dengan adanya perlambatan reaksi ipsilateral pupil.
Perdarahan subdural akut sering dihubungkan dengan cedera otak
besar dan cedera batang otak.
15

b) Perdarahan subdural subakut

Perdarahan subdural subakut, biasanya terjadi 7 sampai 10


hari setelah cedera dan dihubungkan dengan kontusio serebri yang
agak berat. Tekanan serebral yang terus-menerus menyebabkan
penurunan tingkat kesadaran.

c) Perdarahan subdural kronis

Terjadi karena luka ringan. Mulanya perdarahan kecil


memasuki ruang subdural. Beberapa minggu kemudian menumpuk
di sekitar membran vaskuler dan secara pelan-pelan ia meluas.
Gejala mungkin tidak terjadi dalam beberapa minggu atau
beberapa bulan. Pada proses yang lama akan terjadi penurunan
reaksi pupil dan motorik.

2.6.2.3 Perdarahan Subaraknoid

Pendarahan subarakhnoid ialah suatu kejadian saat adanya darah


pada rongga subarakhnoid yang disebabkan oleh proses patologis.
Perdarahan subarakhnoid ditandai dengan adanya ekstravasasi darah ke
rongga subarakhnoid yaitu rongga antara lapisan dalam (piamater) dan
lapisan tengah (arakhnoid matter) yang merupakan bagian selaput yang
membungkus otak (meninges). Penyebab tersering disebabkan trauma
kepala, dapat juga disebabkan perdarahan spontan akibat rupture
aneurisma serebri atau rupture arteriovenous malformation (AVM).
Sumber perdarahan subarachnoid berasal dari: trauma langsung pada
vena-vena pial, perdarahan dari kontusio daerah kortikal dan ekstensi
dari perdarahan intraventrikel ke ruang subaracnoid Pada pasien dengan
cidera kepala berat yang dilakukan pemeriksaan CT Scan, 50-60%
menunjukkan perdarahan subarachnoid

2.6.2.4 Perdarahan Intraventrikular

Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada


ventrikel otak. Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila terjadi
perdarahan intraserebral. Perdarahan intraventrikuler dibagi menjadi 2,
16

perdarahan primer intraventrikel dan perdarahan sekunder intraventrikel.


Perdarahan primer intraventrikel yaitu darah hanya dalam sistem
ventriuler, tanpa adanya rupture atau laserasi dinding ventrikel.
Disebutkan pula bahwa PIVH merupakan perdarahan intreserebral
nontraumatik yang terbatas pada sistem ventrikel. Sedangkan perdarahan
sekunder intreventrikuler muncul akibat pecahnya pembuluh darah
intraserebral dalam dan jauh dari periventrikular, yang meluas ke sistem
ventrikel. “Primary” menandakan tampilan patologik dan bukan
menandakan etiologi yang tidak diketahui.

2.6.2.5 Perdarahan Intraserebral

Perdarahan intraserebral merupakan penumpukan darah pada


jaringan otak. Di mana terjadi penumpukan darah pada sebelah otak yang
sejajar dengan hentaman, ini dikenali sebagai counter coup phenomenon.
Perdarahan intraserebral traumatik terjadi pada 8% pasien dengan trauma
kepala dan 13-35% pada trauma kepala berat. Sering terjadi multiple
dengan lokasi terbanyak pada lobus frontal and temporal, namun dapat
pula terjadi pada kedua hemisfer. Jarang terjadi pada daerah cerebellum,
kadang-kadang perdarahan intracerebral terjadi beberapa hari setelah
trauma. Jika bentuk hematoma berbatas tegas, single, pada pasien dengan
riwayat trauma, kemungkinan penyebab lain akibat nontrauma seperti
hipertensi serta rupture aneurisma dapat terjadi. Kontusio serebri
merupakan perdarahan dengan diameter < 1 cm. Mekanisme terjadinya
akibat proses akselerasi deselerasi pada kepala saat terjadi trauma,
menyebabkan terjadi pergeseran cerebra pada tulang yang prominen
(temporal, frontal, dan occipital) pada bagian koup dan kontrakoup.

2.7 Pemeriksaan Awal pada Trauma kepala

Pemeriksaan pada trauma kepala menurut antara lain:

2.7.1 Pemeriksaan kesadaran

Pemeriksaan kesadaran paling baik dicapai dengan menggunakan Glasgow


Coma Scale (GCS). GCS merupakan sistem skoring yang didasari pada tiga
pengukuran, yaitu : pembukaan mata, respon motorik, dan respon verbal. Skor
17

dari masing-masing komponen dijumlahkan dan memberikan total nilai GCS.


Nilai terendah adalah 3 sedangkan nilai tertinggi adalah 15. GCS bisa digunakan
untuk mengkategorikan pasien menjadi

 GCS < 9 : pasien koma dan cedera kepala berat


 GCS 9 – 13 : cedera kepala sedang
 GCS > 13 : cedera kepala ringan

Fungsi utama dari GCS bukan sekedar merupakan interpretasi pada satu kali
pengukuran, tetapi skala ini menyediakan penilaian objektif terhadap tingkat
kesadaran dan dengan melakukan pengulangan dalam penilaian dapat dinilai
apakah terjadi perkembangan ke arah yang lebih baik atau lebih buruk.

2.7.2 Pemeriksaan Pupil

Pupil harus diperiksa untuk mengetahui ukuran dan reaksi terhadap cahaya.
Perbedaan diameter antara dua pupil yang lebih besar dari 1 mm adalah
abnormal. Pupil yang terfiksir untuk dilatasi menunjukkan adanya penekanan
terhadap saraf okulomotor ipsilateral. Respon yang terganggu terhadap cahaya
bisa merupakan akibat dari cedera kepala.

2.7.3 Pemeriksaan Neurologis

Pemeriksaan neurologis dilaksanakan terhadap saraf kranial dan saraf


perifer. Tonus, kekuatan, koordinasi, sensasi dan refleks harus diperiksa dan
semua hasilnya harus dicatat.

2.7.4 Pemeriksaan Scalp dan Tengkorak

Scalp harus diperiksa untuk laserasi, pembengkakan, dan memar.


Kedalaman leaserasi dan ditemukannya benda asing harus dicatat. Pemeriksaan
tengkorak dilakukan untuk menemukan fraktur yang bisa diduga dengan nyeri,
pembengkakan, dan memar.

2.8 Tingkat Keparahan

Trauma Kepala dengan Skor Koma Glasgow (SKG) Skala koma Glasgow
adalah nilai (skor) yang diberikan pada pasien trauma kepala, gangguan kesadaran
18

dinilai secara kwantitatif pada setiap tingkat kesadaran. Bagian-bagian yang dinilai
adalah;

1. Proses membuka mata (Eye Opening)

2. Reaksi gerak motorik ekstrimitas (Best Motor Response)

3. Reaksi bicara (Best Verbal Response)

Pemeriksaan Tingkat Keparahan Trauma kepala disimpulkan dalam suatu tabel


Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale).

Table 2.1 Skala Koma Glasgow

Eye Opening

Mata terbuka dengan spontan 4

Mata membuka setelah diperintah 3

Mata membuka setelah diberi rangsang nyeri 2

Tidak membuka mata 1

Motor Response

Menurut perintah 6

Dapat melokalisir nyeri 5

Menghindari nyeri 4

Fleksi (dekortikasi) 3

Ekstensi (decerebrasi) 2

Tidak ada gerakan 1

Verbal Response

Menjawab pertanyaan dengan benar 5

Salah menjawab pertanyaan 4

Mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai 3

Mengeluarkan suara yang tidak ada artinya 2


19

Tidak ada jawaban 1

Berdasarkan Skala Koma Glasgow, berat ringan trauma kepala dibagi atas;

1. Trauma kepala Ringan, Skor Skala Koma Glasgow 14 – 15

2. Trauma kepala Sedang, Skor Skala Koma Glasgow 9 – 13

3. Trauma kepala Berat, Skor Skala Koma Glasgow 3 – 8

a) Trauma Kepala Ringan

Dengan Skala Koma Glasgow >12, tidak ada kelainan dalam CTscan, tiada
lesi operatif dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit. Trauma kepala ringan atau
cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurologi atau menurunnya kesadaran
tanpa menyebabkan kerusakan lainnya. Cedera kepala ringan adalah trauma kepala
dengan GCS: 15 (sadar penuh) tidak kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan
nyeri kepala, hematoma, laserasi dan abrasi. Cedera kepala ringan adalah cedara
otak karena tekanan atau terkena benda tumpul. Cedera kepala ringan adalah cedera
kepala tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara. Pada
penelitian ini didapat kadar laktat rata-rata pada penderita cedera kepala ringan 1,59
mmol/L.
20

b) Trauma Kepala Sedang

Dengan Skala Koma Glasgow 9 - 12, lesi operatif dan abnormalitas dalam
CT-scan dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit. Pasien mungkin bingung atau
somnolen namun tetap mampu untuk mengikuti perintah sederhana (GCS 9-13).
Pada suatu penelitian penderita cedera kepala sedang mencatat bahwa kadar asam
laktat rata-rata 3,15 mmol/L.

c) Trauma Kepala Berat

Dengan Skala Koma Glasgow < 9 dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit.
Hampir 100% cedera kepala berat dan 66% cedera kepala sedang menyebabkan
cacat yang permanen. Pada cedera kepala berat terjadinya cedera otak primer
seringkali disertai cedera otak sekunder apabila proses patofisiologi sekunder yang
menyertai tidak segera dicegah dan dihentikan. Penelitian pada penderita cedera
kepala secara klinis dan eksperimental menunjukkan bahwa pada cedera kepala
berat dapat disertai dengan peningkatan titer asam laktat dalam jaringan otak dan
cairan serebrospinalis (CSS) ini mencerminkan kondisi asidosis otak. Penderita
cedera kepala berat, penelitian menunjukkan kadar rata-rata asam laktat 3,25
mmol/L.

2.9 Gejala Klinis

Gejala klinis trauma kepala adalah seperti berikut:

2.9.1 Tanda Peningkatan TIK

Tanda paling dini peningkatan TIK adalah letargi, lambatnya bicara dan
espon verbal. Perubahan secara tiba-tiba seperti pasien menjadi tampak gelisah
(tanpa penyebab yang nyata). Pada peningkatan TIK yang sangat tinggi pasien
hanya bereaksi pada suara keras dan stimulasi nyeri. Respon motoric abnormal,
ditandai posisi dekortikasi, seserbasi, dan flaksid. Gejala yang muncul pada
peningkatan TIK (Rosjidi, 2014):

2.9.1.1 Perburukan derajat kesadaran

Peringkat sensitive dan dapat dipercaya untuk mengenali


kemungkinan adanya perburukan kondisi neurologis, penurunan derajat
kesadaran dikareakan fluktasi TIK akibat perubahan fisik pembuluh
21

darah terminal. Oleh karena itu, gejala awal penurunan derajat kesadaran
adalah samnolen, delirium, dan letargi.

2.9.1.2 Nyeri kepala

Nyeri kepala terjadi akibat perengangan struktur intrakranial yang


peka nyeri (durameter, sinus nervus, dan bridge veins). Nyeri terjadi
akibat penekanan langsung akibat pelebaran pembuluh darah saat
kompensasi.

2.9.1.3 Perubahan tekanan darah dan denyut nadi

Pada awal tekanan darah dan denyut nadi relative stabil, ada tahap
selanjutnya karena penekanan ke batang otak terjadi perubahan tekanan
darah. Penekanan ke batang otak menjadi siskemik di pusat vasomotorik
di batang otak, dengan meningginya tekanan darah, curah jantung pun
bertambah dengan meningkatnya kegiatan pompa jantung.

2.9.1.4 Perubahan pola pernafasan

Perubahan pola pernafasan merupakan pencerminan sampai tingkat


mana TIK, bila terjadi peningkatan TIK akut akan sering terjadi edema
pulmoner akut tanpa distress syndrome atau desusminate intravascular
coagulopati (DIC).

2.9.1.5 Disfungsi pupil

Akibat peningkatan tekanan intrakranial supatentorial atau edema


otak, perubahan ukuran pupil yang berubahan, tetapi dapat juga bentuk
dan reaksi terhadap cahaya. Pada tahap awal ukuran pupil menjadi
berdiameter 3,5 mm atau disebut sebagaiukuran tengah. Lalu makin
melebar (dilatasi) secara bertahap. Bentuknya dapat berubah menjadi
melonjong dan rekasi terhadap cahaya menjadi bentuk dan rekasi
terhadap cahaya menjadi lamban.

2.9.1.6 Muntah
22

Muntah akibat tekanan intrakranial tidak selalu sering dijumpa pada


orang dewasa. Muntah disebabkan adanya elainan di intrakranial atau
akibat penekanan langsung pada pusat muntah.

2.9.1.7 Perubahan MAP

Pada tekanan intrakranial biasanya terjadi perubahan pada Mean


Arteial Pressure (MAP) atau perubahan tekanan pada pembuluh darah
arteri, normal MAP yaitu kurang dari 140. Menggunkan rumus manual

Cara menghitung MAP yaitu: 𝑥 = sistol+2(diastol)


2𝑎

2.9.2 Tanda-tanda klinis yang dapat membantu mendiagnosa trauma kepala


adalah:

a. Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os


mastoid)
b. Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)
c. Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
d. Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
e. Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)
2.9.3 Tanda-tanda atau gejala klinis trauma kepala ringan;

a. Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat


kemudian sembuh.
b. Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
c. Mual atau dan muntah.
d. Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.
e. Perubahan keperibadian diri.
f. Letargik.
2.9.4 Tanda-tanda atau gejala klinis trauma kepala berat;

a. Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan


di otak menurun atau meningkat.
b. Perubahan ukuran pupil (anisokoria).
c. Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi
pernafasan)
23

d. Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan


atau posisi abnormal ekstrimitas.
2.10 Prosedur Imaging dalam Diagnosa Trauma kepala

2.10.1 X-ray Tengkorak

Peralatan diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi fraktur dari dasar


tengkorak atau rongga tengkorak. CT scan lebih dipilih bila dicurigai terjadi
fraktur karena CT scan bisa mengidentifikasi fraktur dan adanya kontusio atau
perdarahan. X-Ray tengkorak dapat digunakan bila CT scan tidak ada.

2.10.2 CT-Scan

CT-Scan adalah suatu alat foto yang membuat foto suatu objek dalam sudut
360 derajat melalui bidang datar dalam jumlah yang tidak terbatas. Bayangan
foto akan direkonstruksi oleh komputer sehingga objek foto akan tampak secara
menyeluruh (luar dan dalam). Foto CT-Scan akan tampak sebagai penampang-
penampang melintang dari objeknya. Dengan CT-Scan isi kepala secara
anatomis akan tampak dengan jelas. Pada trauma kepala, fraktur, perdarahan dan
edema akan tampak dengan jelas baik bentuk maupun ukurannya.

Penemuan awal computed tomography scanner ( CT Scan ) penting dalam


memperkirakan prognosa cedera kepala berat. Suatu CT scan yang normal pada
waktu masuk dirawat pada penderita-penderita cedera kepala berat berhubungan
dengan mortalitas yang lebih rendah dan penyembuhan fungsional yang lebih
baik bila dibandingkan dengan penderita-penderita yang mempunyai CT scan
abnormal. Hal di atas tidaklah berarti bahwa semua penderita dengan CT scan
yang relatif normal akan menjadi lebih baik, selanjutnya mungkin terjadi
peningkata TIK dan dapat berkembang lesi baru pada 40% dari penderita. Di
samping itu pemeriksaan CT scan tidak sensitif untuk lesi di batang otak karena
kecilnya struktur area yang cedera dan dekatnya struktur tersebut dengan tulang
di sekitarnya. Lesi seperti ini sering berhubungan dengan outcome yang buruk.

Indikasi pemeriksaan CT-scan pada kasus trauma kepala adalah seperti


berikut:
24

a. Bila secara klinis (penilaian GCS) didapatkan klasifikasi trauma kepala


sedang dan berat.
b. Trauma kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak.
c. Adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis kranii.
d. Adanya defisit neurologi, seperti kejang dan penurunan gangguan
kesadaran.
e. Sakit kepala yang hebat.
f. Adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau herniasi
jaringan otak.
g. Kesulitan dalam mengeliminasi kemungkinan perdarahan intraserebral.
2.10.2.1 Epidural Hematoma (EDH)

Gambaran klasik EDH: lesi hiperdens berbentuk biconvex

 Fraktur tengkorak 85%-90%


 2/3 hyperdens ; 1/3 mixed hyper/hypo
Low density “swirl sign” = active bleeding
 Secondary effects common
Perfusion alterations
Herniations (subfalcine, descending transtentorial)

2.10.2.2 Subdural Hematoma (SDH)

CT Scan Lesi berbentuk bulan sabit (crescent), disertai edema serebri.


Biasanya terlokasi konveksitas, interhemisfer, tentorium atau fossa
25

posterior. Gambaran CT scan SDH dapat bervariasi sesuai waktu trauma.


Perbedaan antara EDH dan SDH: SDH lebih difus, biasanya berbentuk
konkav mengikuti permukaan hemisfer.

Gambaran SDH sering menyebabkan efek penekanan/pergeseran yang lebih


besar pada struktur midline, dibandingkan dengan ketebalan SDH, hal ini
disebabkan SDH akut sering berhubungan dengan perdarahan intracerebral,
kontusio serebri serta edema serebri. Berdasarkan gambaran radiologis,
SDH dibagi menjadi: - SDH akut, hematoma terdiri dari bekuan darah serta
perdarahan (terjadi dalam 48 jam setelah trauma), lesi tampak hiperdens -
subakut terdapat campuran antara darah membeku serta darah yang mulai
mencair ( 2 hari-14 hari setelah trauma), terdapat gambaran hiperdens,
isodens dan hipodens - kronik jika hematoma telah mencair (lebih dari14
hari), gambaran lesi isodens dan hipodens.

2.10.2.3 Perdarahan Intraserebral

CT Scan kepala nonkontras merupakan modalitas terbaik untuk diagnosis


pertadarahan intraserebral. Pada gambaran CT Scan tampak sebagai lesi
hiperdens dengan edema minimal atau tanpa edema di sekeliling lesi. Pada
subakut batas perifer hematoma membentuk ring-like enhancement pada
CT Scan dan MRI akibat proliferasi kapiler pada kapsul hematoma.
26

Delayed intracerebral hematomas dapat terjadi pada area yang tampak


normal pada CT Scan awal atau terdapat kontusio serebri pada CT Scan
awal, paling sering terjadi pada hari 1-4 setelah trauma, namun dapat pula
terjadi sampai 2 minggu setelah trauma kepala. Sepertiga lesi perdarahan
intraserebral mengalami perkembanagan perifokal edema yang
menyebabkan efek massa lebih besar disbanding lesi perdarahannya.

2.10.2.4 Perdarahan Subarachnoid

Pada CT Scan, perdarahan subarachnoid tampak sebagai lesi hiperdens pada


daerah sulkus serebri serta sisterna subarachnoid. Lesi hiperdens pada fossa
interpeduncular merupakan tanda perdarahan subarachnoid. Perdarahan
subarahnoid dapat menyebabkan gangguan absorpsi liquor serebrospinal
menyebabkan hidrocefalus kommunikan.

2.10.3 Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Magnetic Resonance Imaging (MRI) juga sangat berguna di dalam menilai


prognosa. MRI mampu menunjukkan lesi di substantia alba dan batang otak
27

yang sering luput pada pemeriksaan CT Scan. Ditemukan bahwa penderita


dengan lesi yang luas pada hemisfer, atau terdapat lesi batang otak pada
pemeriksaan MRI, mempunyai prognosa yang buruk untuk pemulihan
kesadaran, walaupun hasil pemeriksaan CT Scan awal normal dan tekanan
intrakranial terkontrol baik. Pemeriksaan Proton Magnetic Resonance
Spectroscopy (MRS) menambah dimensi baru pada MRI dan telah terbukti
merupakan metode yang sensitif untuk mendeteksi Cedera Akson Difus
(CAD). Mayoritas penderita dengan cedera kepala ringan sebagaimana
halnya dengan penderita cedera kepala yang lebih berat, pada pemeriksaan
MRS ditemukan adanya CAD di korpus kalosum dan substantia alba.
Kepentingan yang nyata dari MRS di dalam menjajaki prognosa cedera
kepala berat masih harus ditentukan, tetapi hasilnya sampai saat ini dapat
menolong menjelaskan berlangsungnya defisit neurologik dan gangguan
kognitif pada penderita cedera kepala ringan.

2.11 Penatalaksanaan

Peningkatan TIK merupakan kedaruratan yang harus segera diatasi.


Pada saat terjadi eningkatan TIK, jaringan otak akan tertekan dan terjadi
pengeseran jaringan otak yang sangat berbahaya. Target intervensi adalah
pengendalian volume darah serebral dan sirkulasi cairan serebrospinalis
(CSS) dan terus mempertahankan perfusi jaringan serebral. Beberpa
intervensi untuk menurunkan TIK seperti hiperfentilasi, drainage cairan
serebrospinalis, diuretic osmotic, sedative, dan dekompresi pembedahan.
Tujuan utama penanganan pasien dengan eningkatan TIK adalah:

a. Menurunkan TIK
b. Memperbaiki tekanan perfusi serebral
c. Menurunkan perubahan dan distorsi otak serta pengaruh
sistematk lainnya (Rosjidi, 2014)

Beberapa hal yang berperan besar dalam menjaga agar TIK


tidak meningkat, menurut Hisam (2013) adalah:

a. Mengatur posisi lebih tinggi sekitar 300-450, dengan tujuan


memperbaiki aliran balik jantung.
28

b. Mengusahakan tekanan darah yang optimal, tekanan darah yang


sangat tinggi dapat menyebabkan edema serebril, sebaiknya tekanan
darah terlalu rendah akan mengakibatkna iskemia otak dan akhirnya
juga akan meyebabkan edema dan peningkatan TIK.
c. Mencegah dan mengatasi kejang.
d. Mengilangkan rasa cemas, agitasi dan
nyeri.
e. Menjaga suhu tubuh normal 36-37,50C
f. Hindari kondisi hiperglikemia.
29

BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama pasien : Tn Jumiron
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Semarang
Status perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 07 Maret 2018
Tanggal pemeriksaan : 09 Maret 2018
Bangsal : ICU

II. ANAMNESIS
Anamnesis didapatkan secara alloanamnesis pada tanggal 07 Maret 2018, pukul
06.45 WIB

A. Keluhan utama
Pasien post KLL, tidak sadar

B. Riwayat penyakit sekarang


Kronologis :

5 hari SMRS, pasien kecelakaan sepeda motor tunggal, dibawa ke


RS, keluhaan saat tiba : kejang-kejang kurang lebih selama 2 menit, dan
sebelumnya muntah kurang lebih 3x, pada saat dibawa pasien dalam
keadaan tidak sadar

C. Riwayat Penyakit Dahulu


− Riwayat hipertensi : disangkal
− Riwayat DM : disangkal
30

− Riwayat alergi : disangkal


− Riwayat operasi : disangkal
− Riwayat trauma : disangkal

D. Riwayat Keluarga
− Riwayat hipertensi : disangkal
− Riwayat DM : disangkal
− Riwayat alergi : disangkal
− Riwayatasma : disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis
1. Keadaan umum : tampak sakit sedang
2. Kesadaran : koma GCS : E1M3V1
3. Vital sign
Tekanandarah :120/90 mmHg
Nadi : 64x/menit, isi cukup, reguler
Respirasi : 28 x/menit
Suhu : 37,7oC
4. Pemeriksaan Fisik
Kepala : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
Isokor 1mm/1mm
Leher : pembesaran kelenjar limfe (-), deviasi trakea (-)
Thoraks :jejas (-)
Paru
− Inspeksi : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi dada (-/-)
− Palpasi : pengembangan paru yang tertinggal (-), fremitus
raba (normal/normal)
− Perkusi : sonor
− Auskultasi : SDV (+/+), ronkhi (+/-+), wheezing (-/-)
31

Jantung
− Inspeksi : iktus cordis tampak
− Palpasi : iktus cordis kuat angkat
− Perkusi :tidak ada pelebaran batas jantung
− Auskultasi :bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
− Inspeksi : jejas (-), simetris,massa (-), sikatrik (-)
− Auskultasi : peristaltik (normal)
− Perkusi : timpani
− Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar, lien, dan ginjal tidak
teraba
Ekstremitas
Superior Inferior
Akral dingin (-/-) (-/-)
Akral sianosis (-/-) (-/-)
Oedem (-/-) (-/-)
Capillary Refill < 2” < 2”

IV. Assesment
CKB

V. Planning Diagnosis
 CT Scan
32

CT SCAN

Kesan :
- Tampak lesi hiperdens di region temporalis dextra
bentuk bikonvek
33

- Tampak lesi hiperdens di region temporofrontalis


sinistra
- Struktur mediana relative di tengah tak tampak jelas
garis fraktur

VI. Diagnosis Klinis


Epidural Hemorhage

VII. Planning Terapi


 InfusRL 20 tpm
 Manitol 125cc
 Inj.Ceftriaxone 1 gr 2x1
 Inj Ketorolac 3x1 amp
 Inj. Fenitoin 3x1 amp
 Balance cairan seimbang
 Rencana op

VIII. PROGNOSIS

• Quo ad vitam : dubia ad bonam


• Quo ad sanam : dubia ad bonam
• Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
34

BAB IV
PEMBAHASAN

Cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat


kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik
dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Penegakan
diagnosis diambil berdasarkan klinis yang ditunjang pemeriksaan penunjang
meliputi pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi.

Pemeriksaan radiologi merupakan salah satu pemeriksaan yang menunjang


diagnosis. Ada beberapa pemeriksaan radiologi meliputi: CT Scan dan MRI.
Pada kasus ini didapatkan pasien laki-laki usia 30 th dibawa ke IGD dengan
penurunan kesadaran post KLL.
Dari pemeriksaan CT Scan didapatkan hasil sebagai berikut:
CT Scan
- Tampak lesi hiperdens di region temporalis dextra bentuk bikonvek
- Tampak lesi hiperdens di region temporofrontalis sinistra
- Struktur mediana relative di tengah tak tampak jelas garis fraktur
Berdasarkan pemeriksaan CT Scan dapat ditegakkan diagnosa sebagai
epidural hemorhage akibat trauma capitis.
35

BAB V
SIMPULAN

Cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat


kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik
dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Cedera yang tampak
pada kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma
kepala tertutup dan terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmen-fragmen
tengkorak yang masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. Trauma kepala
tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada kepala secara tiba-tiba
sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak. Trauma kepala terbuka
adalah yaitu luka tampak telah menembus sampai kepada duramater.
Trauma kepala yang terjadi dapat mengakibat beberapa kondisi seperti
fraktur tengkorak, memar (kontusio), laserasi dan perdarahan intrakranial.
Penegakan diagnosa pada keadaan tersebut harus dilakukan dengan cara
pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang seperti X-ray foto tengkorak dan
CT Scan, dimana dapat memberikan gambaran khas pada masing-masing keadaan.
36

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dasar, edisi IV, cetakan kelima.


Jakarta : PT Dian Rakyat. 87-95. 1999

2. Sidharta, Priguna. Sakit Neuromuskuloskeletal Dalam Praktek Umum.


Jakarta : PT Dian Rakyat. 182-212.

3. Purwanto ET. Hernia Nukleus Pulposus. Jakarta: Perdossi

4. Nuarta, Bagus. Ilmu Penyakit Saraf. In: Kapita Selekta Kedokteran, edisi
III, jilid kedua, cetakan keenam. Jakarta : Media Aesculapius. 54-59. 2004