Anda di halaman 1dari 46

SKENARIO I

Ny. Amn (37 th) punya 6 anak, sering mengeluh nyeri pinggul. Keluhan
nyeri ini sering muncul sejak kehamilan anaknya terakhir. Keluhan nyeri pinggul
juga tidak berkurang meskipin sudah melahirkan. Selama kehamilan penderita
mengalami gangguan nafsu makan dan berkurang mengikuti anjuran dokternya
dalam mengkonsumsi kalsium. Kadar kalsium darah = 3.5 ml/dl, kadar fosfor
serum = 2.5 mg/dl, albumin = 2,7 mg/dl.

1. KATA KUNCI
a. Ny Amn
b. Usia 37 th
c. Punya 6 anak
d. Nyeri pinggul
e. Kadar kalsium menurun
f. Selama kehamilan penderita mengalami gangguan nafsu makan dan
berkurang mengikuti anjuran dokternya dalam mengkomsumsi kalsium
g. Kadar kalsium darah: 3.5 ml/dl
h. Kadar fosfor serum: 2.5 mg/dl
i. Albumin: 2.7 mg/dl

2. KLASIFIKASI ISTILAH – ISTILAH PENTING


1. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
2. Kalsium adalah sebuah elemen kimia dengan simbol Ca dan nomor atom 20.
Mempunyai massa atom 40.078 amu. Kalsium merupakan salah satu logam
alkali tanah, dan merupakan elemen terbaikan kelima terbanyak di bumi

1
3. Kadar kalsium darah adalah tes yang memeriksa kadar kalsium dalam darah
pada tubuh yang tidak tersimpan ditulang. Tbuh memerlukannya untuk
membangun dan memperbaiki tulang serta gigi, membantu kerja saraf,
membantu otot, membantu pembekuan darah, serta membantu kerja jantung.
Menurut sauberlich (1999), kalsium dalam darah manusia memiliki kisaran
normal yaitu sekitar 9.50 mg/dl- 10.4 mg/dl.
4. Kadar fosfor serum merupakan zat penting dari semua jaringan tubuh. Fosfor
penting untuk fungsi otot dan sel-sel darah merah, pembentukan (ATP)
adenosine trifosfat dan (DPG) disfosfoglis, pemeliharaan keseimbangan asam
dan basa juga untuk sistem saraf dan perantara metabolisme karbohidrat,
protein dan lemak.
5. Albumin adalah protein yang larut air, membentuk lebih dari 50% protein
plasma, ditemukan hampir disetiap jaringan tubuh. Albumin diproduksi di hati
yang berfungsi untuk mempertahankan tekanan koloid osmotik darah sehingga
tekanan cairan vaskuler (cairan di dalam pembuluh darah) dapat
dipertahankan. Nilai normal: 3.8-5.1 mg/dl.
6. MIND MAP/ Lembar Ceklis

NYERI PINGGUL

OSTEOPOROSIS OSTEOARTHRITIS OSTEOMIELITIS DISLOKASI

2
NO Manifestasi OSTEOPORO OSTEOARTH OSTEOMIELI DILOKASI
Klinis SIS RITIS TIS
1 Nyeri pinggul   - -
2 Kadar kalsium    
darah = 3.5
ml/dl
3 kadar fosfor   - -
serum = 2.5
mg/dl
4 albumin = 2,7  - - -
mg/dl
5 gangguan   - -
nafsu makan

3
7. PERTANYAAN – PERTANYAAN PENTING
1. Apa yang menyebabkan klien sering mengeluh nyeri pinggul?
2. Mengapa nyeri tersebut muncul pada saat kehamilan anak terakhir?
3. Apa yang menyebabkan klien kurang nafsu makan?
4. Mengapa kadar kalsium darah klien dibawah dari nilai normal?

5. JAWABAN PERTANYAAN PENTING


1. Peningkatan hormon-hormon yang dilepaskan selama kehamilan
memungkinkan ligamen di daerah panggul untuk melunak dan sendi
menjadi longgar untuk persiapan proses persalinan, pergeseran pada
sendi dan mengendurnya ligamen ini dapat mempengauhi beban kerja
dari tulang belakang, apabila hal ini tidak ditoleransi dengan baik maka
terjadinya sakit pinggang saat hamil.
2. Nyeri yang dirasakan bisa disebabkan oleh disfungsi simfisis pubis.
Simfisis pubis adalah pertemuan antara tulang panggul kiri dan kanan
yang letaknya tepat diatas kemaluan. Simfisis pubis ini terdiri dari
tulang rawan pada wanita hamil sering terjadi peregangan daerah ini
karena pengaruh hormon, dengan tujuan meregangkan rongga panggul
sebagai persiapan persalinan dan pertemuan janin. Ini juga dapat
dirasakan sejak awal kehamilan, tetapi bisa juga dirasakan pada akhir
setelah melahirkan. Ormon
3. Penyebab dari kurang nafsu makan disebabkan oleh pengaruh
hormonal. Perubahan hormon pasti terjadi saat kehamilan, hormon
wanita hamil berperan dalam mempersiapkan dan mendukung
pertumbuhan janin agar tumbuh optimal. Salah satu perubahan hormon
yang terjadi adalah peningkatan hormon progesteron yang berfungsi

4
dalam meningkatkan ketebalan pada dinding rahim. Perubahan hormon
inilah yang memicu ketika sulit makan.
4. Hal tersebut di akibatkan oleh kurangnya mengkonsumsi kalsium
sesuai dengan anjuran dokter. Sehingga kalsium dalam tubuh klien
tidak terpenuhi secara menyeluruh, yang mengakibatkan kadar kalsium
klien jauh dari nilai normal
6. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA
Pada tujuan pembelajaran selanjutnya kami akan membahas mengenai
pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan pada klien osteoporosis serta
manajemen nyeri pada osteoporosis
7. INFORMASI TAMBAHAN
Jurnal Rasio Risiko Osteoporosis Menurut Indeks Massa Tubuh, Paritas,Dan
Konsumsi Kafein
8. KLARIFIKASI INFORMASI
Jumlah kasus osteoporosis cenderung mengalami peningkatan di Indonesia.
Jawa Timur merupakan satu dari lima propinsi dengan risiko osteoporosis
tertinggi di Indonesia. Penelitian bertujuan menganalisis perbandingan risiko
osteoporosis menurut IMT, paritas, dan konsumsi kafein. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kasus kontrol.
Sampel kasus adalah wanita penderita osteoporosis berdomisili di Surabaya
serta melakukan pemeriksaan osteoporosis di RSUD Dr. Soewandhie
Surabaya tahun 2013–2014. Sampel kontrol adalah wanita bukan penderita
osteoporosis berdomisili di Surabaya serta melakukan pemeriksaan
osteoporosis di RSUD Dr. Soewandhie Surabaya tahun 2013–2014.
Responden terdiri dari 45 kasus dan 45 kontrol diperoleh menggunakan
metode simple random sampling. Data diperoleh melalui data primer dan
sekunder. Variabel bebas adalah indeks massa tubuh, paritas, dan konsumsi
kafein. Analisis dilakukan menggunakan perhitungan OR pada Epi info
dengan tingkat kemaknaan 95% CI. Besar risiko tiap variabel adalah IMT (OR
= 2,99; 95% CI = 1,16 < OR < 7,74), paritas (OR = 2,72; 95% CI = 1,07 < OR
< 7,01), dan konsumsi kafein (OR = 2,41; 95% CI = 0,91 < OR < 6,42).

5
Kesimpulan adalah wanita yang memiliki IMT < 18,5 berisiko terkena
osteoporosis 2,99 kali lebih besar dibandingkan wanita yang memiliki IMT ≥
18,5. Wanita yang memiliki paritas ≥ 3 kali berisiko terkena osteoporosis 2,72
kali lebih besar dibandingkan wanita memiliki paritas < 3 kali. Wanita yang
mengonsumsi kafein ≥ 2 gelas/hari berisiko terkena osteoporosis 2,41 kali
lebih besar dibandingkan wanita mengonsumsi kafein < 2 gelas/hari tetapi
tidak signifi kan. Peneliti menyarankan agar wanita memiliki IMT normal dan
membatasi jumlah kelahiran untuk mencegah terjadinya osteoporosis
9. ANALISA DAN SINTESIS
Berdasarkan teori penykit ini merupakan salah satu penyakit yang di
golongkan sebagai silent disease karena tak menunjukan gejala-gejala yang
spesifik. Gejala dapat berupa nyeri pada tulang dan oto, terutama sering terjadi
nyeri pada punggung. Sementara pada kasus di atas, kali ini penderita
mengalami osteoarhtritsi karena terjadi pelebaran pada panggul akibat sudah 6
kali melakukan persalinan. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan
penekanan pada sendi hingga akhirnya menimbulkan rasa nyeri panggul.

10. LAPORAN DISKUSI: lampiran

6
BAB I

KONSEP MEDIK

A. Definisi
Osteoporosis berasal dari kata Oste dan porous osteo artinya
tulang, dan porous berarti berlubang lubang atau keropos. Jadi,
osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang
mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang,
disertai gangguan mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas
jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra,
2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development
Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan
sifat sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan
mikroars itektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang
pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang
dengan risiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health(NIH), 2001 Osteoporosis
adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang yang
mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah
tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua
faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007)
Osteoporosis adalah kelainan metabolic tulang dimana terdapat
penurunan masa tulang tanpa disertai pada matriks
tulang.(Nurarif,Kusuma, 2015).
Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan menurunnya
massa tulang (kepadatan tulang) secara keseluruhan akibat
ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam
tulang dan disertai dengan rusaknya arsitektur tulang yang akan
mengakibatkan penurunan kekuatan tulang yang dalam hal ini adalah
pengeroposan tulang, sehingga mengandung risiko mudah terjadi patah

7
tulang. Osteoporosis merukan salah satu penyakit yang digolongkan
sebagai silent disease karena tidak menunjukan gejala-gejala yang
spesifik. Gejala dapat berupa nyeri pada tulang dan otot, terutama
sering pada punggung. Beberapa gejala umum osteoporosis, mulai dari
patah tulang, tulang punggung yang semakin membungkuk,
menurunnya tinggi badan dan nyeri punggung.
B. Klasifikasi
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer terbagi atas 2 tipe yaitu :
 Tipe 1 : tipe yang timbul pada wanita pasca monopouse
 Tipe 2 : terjadi pada orang lanjut usia baik pria dan wanita

1) Osteoporosis sekunder
Disebabkan oleh penyakit-penyakit tulang erosif(misalnya
myeloma multiple, hipertiriodisme,hiperparatiriodisme) dan
akibat obat-obatan yang toksik untuk tulang(misalnya
glukokortikoid).
2) Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan ditemukan
pada :
 Usia kanak kanak (juvenil)
 Usia remaja (adolesen)
 Wanita pra - monopouse
 Pria usia pertengahan
(Nurarif,Kusuma, 2015)

C. Etiologi
Osteoporosis disebabkan oleh glukokortikoid yang mengganggu
absors kalsium di usus dan peningkatan ekstraksi kalsium lewat ginjal
sehingga akan menyebabkan hipokalsemia,hiperparatiroidisme sekunder

8
dan peningkatan kerja osteoklas. Terhadap osteoblas glukokortikoid akan
menghambat kerjanya, sehingga formasi tulang menurun. Dengan adanya
peningkatan resorpsi tulang oleh osteoklas dan penurunan formasi tulang
oleh osteoblas, maka akan terjadi osteporosis yang progresif.
Factor-factor resiko terjadinya osteoporosis adalah:
1. Umur ; sering terjadi pada usia lanjut
2. Ras ; kulit putih menjadi resiko paling tinggi
3. Faktor keturunan ; ditemukan riwayat keluarga dengan keropos tulang
4. Adanya kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vetebra. Terutama
terjadi pada wanita umur 50-60 tahun dengan densitas tulang yang
rendah dan diatas umur 70 tahun dengan BMI yang rendah. ( BMI =
mody mass index yaitu berat badan di bagi kuadrat tinggi badan)
5. Aktifitas fisik yang kurang
6. Tidak pernah melahirkan
7. Monopause dini ( monopause yang terjadi pada umur 46 tahun)
8. Gizi ( kekurangan protein dan kalsium dalam masa kanak-kanak dan
remaja)
9. Hormonal yaitu kadar esterogen plasma yang kurang
10. Obat misalnya kortikosteroid
11. Kerusakan tulang akibat kelelahan fisik
12. Jenis kelamin: 3 kali lebih sering terjadi pada wanita
(Nurarif,Kusuma, 2015)

D. Patofisiologi
Osteoporosis merupakan kelainan metabolik tulang yang ditandai
dengan berkurangnya massa tulang dan adanya kerusakan dari
arsitektur tulang sehingga terjadi peningkatan kerapuhan tulang yang
dapat menyebabkan mudah terjadi fraktur. Massa tulang yang
berkurang akan membuat tulang semakin tipis dan rapuh sehingga
mudah patah pada trauma yang ringan.

9
Bone remodelling terjadi seumur hidup dan mencapai puncaknya saat
dewasa (sekitar umur 30 tahun) kemudian menurun sesuai
pertambahan umur, kemudian terjadi keseimbangan antara aktivitas
osteblastik dan osteoklastik (pembentukan dan resorpsi tulang).
Keseimbangan tersebut dipengaruhi oleh hormon estrogen, paratiroid
dan kalsitriol. Pada pasca menopause, terjadi penurunan estrogen yang
dapat menyebabkan meningkatnya resorpsi tulang, dan diduga
berhubungan dengan peningkatan sitokin. Resorpsi tulang tersebut
akan meningkatkan kadar kalsium dalam darah dan menyebabkan
penekanan terhadap hormon paratiroid. Kadar hormon paratiroid yang
rendah sering dijumpai pada penderita osteoporosis, yang juga akan
menurunkan kadar 1,25 dehydroxy vitamin D (kalsitriol), sehingga
penyerapan kalsium jadi menurun.
Kondisi osteoporosis merupakan suatu hasil interaksi yang kompleks
menahun antara factor genetic dan factor lingkungan. berbagai factor
terlibat dalam interaksi ini dengan menghasilkan suatu kondisi
penyerapan tulang lebih banyak dibandingkan dengan pembentukan
yang baru. kondisi ini memberikan manifestasi penurunan masa tulang
total. kondisi osteoporosis yang tidak mendapatkan intervensi akan
memberikan dua manifestasi penting, dimana tulang menjadi rapuh,
dan terjadinya kolabs tulang (terutama area vertebra yang mendapat
tekanan tinggi pada saat berdiri). Hal ini akan berlanjut pada berbagai
kondisi bermasalah pada pasien dengan osteoporosis. (Zairin Noor
Helmi, 2014)

E. Manifestasi klinis
Manifestasi umum: penurunan tinggi badan,lordosis,nyeri pada tulang atau
fraktur, biasanya pada vertebra, pinggul atau lengan bagian bawah.
1. Nyeri tulang terutama pada tulang belakang yang intensitas
serangannya timbul pada malam hari.

10
2. Deformitas tulang: dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis anguler yang dapat menyebabkan medulla
spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
3. Nyeri fraktur akut dapat di atasi dalam 2 hingga 3 bulan. Nyeri fraktur
kronis di manifestasikan sebagai rasa nyeri yang dalam dan dekat
dengan tempat patahan.
4. Tanda McConkey) di dapatkan protuberansia abdomen, spasme otot
paravertebral dan kulit yang tipis.

F. Pemeriksaan lab
1. Foto rontgen polos
2. CT-Scan : dapat mengukur dnsitas tulang secara kuantitatif yang
mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up.
3. Pemeriksaan DEXA: di gunakan untuk mengukur densitas tulang
dan menghitung derajat osteopenia (kehilangan tulang ringan
sedang ) atau osteoporosis (kehilangan tulang berat)
4. Pemeriksaan laboratorim
 Kadar Ca,P, fosfatase alkali tidak menunjukan kelainan
yang nyata
 Kadar HPT (pada pasca monopouse kadar HPT meningkat
dan CT(Terapi estrogen merangsang pembentukan ct)
 Kadar 1,25-(OH) 2-D3 absorbsi Ca menurun
 Ekstresi fosfat dan hidrokspolin terganggu sehingga
meningkat kadarnya

G. Penatalaksanaan medis
The National Osteoporosis Guideline Group (TNOGG) telah
memperbaharui guideline 2009 pada hal penegakan diagnosis dan
tatalaksana osteoporosis wanita postmonopause dan pria usia sekurang-
kurangnya 50 tahun di inggris.
Beberapa hal yang di sorot dalam guideline 2013 :

11
1) Terapi farmakologi yang dapat menurunkan resiko terjadinya
fraktur vertebra (dan beberapa kasus fraktur tulang panggul) seperti
bisphosphonate, denosumab, dekombinan hormon parathyroid,
raloxifene, dan strontium ranelate. Terapi yang di akui untuk kasus
vertebra, non vertebra dan fraktur tulang panggul hanya
alendronate, risedronate, zoledronate, dan terapi sulih hormon.
2) Wanita postmonopause dapat mendapatkan manfaat dari calcitriol,
etidronate dan terapi hormon pengganti
3) Suplemen kalsium dan vitamin D secara luas di rekomendasikan
untuk para lansia dan sebagai terapi osteoporosis
4) Alendronate generic di rekomendasikan sebagai terpi lini pertama
karena kerja spektrum luasnya sebagai agen antifraktur dengan
harga terjangkau
5) Karena harga yang mahal, maka rekombinan hormon paratiroid
hanya di berikan pada pasien dengan resiko sangat tinggi fraktur
terutama pada vertebra
6) Efek potensial pada kardiovaskuler akibat pemberian suplemen
kalsium masih kontroversial, namun sangat bijaksana jika asupan
kalsium melalui makanan di tingkatkan dan menggunakan
suplemen vitamin D saja dari pada mengkonsumsi suplemen
kalsium dan vitamin D bersamaan
7) Terapi bisphosphonate di lanjutkan meskipun tanpa evaluasi lebih
lanjut terutama pada pasien dengan resiko sangat tinggi terjadi
fraktur, dimana review terapi dan evaluasi fungsi ginjal cukup di
lakukan 5 tahun sekali
8) Jika bisphosphonate di hentikan, resiko fraktur di evaluasi ulang
tiap kali setelah terjadinya fraktur baru, atau setelah 2 tahun setelah
terjadi fraktur baru
9) Pasien dengan fraktur veterbra sebelumnya atau terapi awal
osteoporosis tulang panggul dengan skor T BMD lebih dari 2,5 SD

12
dapat mengalami peningkatan resiko fraktur vetebra jika
zoledronate di hentikan
10) Terapi untuk pria dengan resiko tinggi terjadi fraktur harus di
mulai dengan aledronate, rissetdronate, zoledronate atau
teriparatide.

H. Komplikasi
1. Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi
panas, rapuh dan menjadi patah. osteoporosis sering
mengakibatkan fraktur. bisa terjadi fraktur kompresi vertebra
thorakalis dan lumbalis, fraktur daerah kalum femoris dan
daerah trokhanter dan fraktur colles pada pergelangan tangan.
2. Syok, perdarahan, atau emboli lemak (komplikasi fraktur yang
fatal) (Indah, 2015)

13
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. DENGAN

DIAGNOSA OSTEOPOROSIS

A. Pengkajian

1. Identitas

a. Identitas Pasien
Nama : Ny. amn

Umur : 37 Tahun

Agama : Tidak terkaji

Jenis Kelamin : Perempuan

Status : Tidak terkaji

Pendidikan : Tidak terkaji

Pekerjaan : Tidak terkaji

Suku Bangsa : Tidak terkaji

Alamat : Tidak terkaji

Tanggal Masuk : Tidak terkaji

Tanggal Pengkajian : Tidak terkaji

No. Register : Tidak terkaji

Diagnosa Medis : Hipotiroidisme

b. Identitas Penanggung Jawab

14
Nama : Tidak terkaji

Umur : Tidak terkaji

Hub. Dengan Pasien : Tidak terkaji

Pekerjaan : Tidak terkaji

Alamat : Tidak terkaji

2. Status Kesehatan
a. Status Kesehatan Saat Ini
1) Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini)
Tangan dan kaki kana terasa lemas
2) Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini
Tangan dan kaki kanan terasa lemas, serta sulit untuk berbicara, mual
dan muntah dan tidak ada nafsu makan.

3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya

b. Satus Kesehatan Masa lalu


1) Penyakit yang pernah dialami : gangguan penglihatan jarak jauh
(miopi)
2) Pernah dirawat : Tidak terkaji
3) Alergi : Tidak terkaji
4) Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll) : Tidak terkaji
c. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak terkaji
d. Diagnosa Medis dan therapy : Stroke
3. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)

a. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan : Tidak terkaji


b. Pola Nutrisi-Metabolik
1) Sebelum sakit :Tidak terkaji
2) Saat sakit : Tidak terkaji
c. Pola Eliminasi

15
1) BAB
a) Sebelum sakit :Tidak terkaji
b) Saat sakit :Sembelit
2) BAK
a) Sebelum sakit :Tidak terkaji
b) Saat sakit :Tidak terkaji
d. Pola aktivitas dan latihan :
1. Aktivitas
Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan
diri
Makan dan
minum
Mandi
Toileting

Berpakaian
Berpindah

0: mandi, 1: alat bantu, 2: di bantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan
alat, 4: tergantung total.
2. Latihan
 Sebelum sakit :
 Saat sakit: Tidak terkaji

e. Pola kognitif dan Persepsi : Tidak terkaji


f. Pola Persepsi-Konsep diri : Tidak terkaji
g. Pola Tidur dan Istirahat
1) Sebelum sakit :Tidak terkaji
2) Saat sakit :Tidak terkaji
h. Pola Peran-Hubungan : Tidak terkaji
i. Pola Seksual-Reproduksi
1) Sebelum sakit :Tidak terkaji

16
2) Saat sakit :Tidak terkaji
j. Pola Toleransi Stress-Koping : Tidak terkaji
k. Pola Nilai-Kepercayaan : Tidak terkaji
4. Pengkajian Fisik
a. Keadaan umum :
Kurang konsentrasi, oedem pada sekeliling mata.
b. Tanda-tanda Vital :
TD : 140/89 mmHg, HR : 88x/menit, SB : 36,7ᵒC, RR: 18x/menit

c. Keadaan fisik
1) Kepala dan leher : tidak terkaji
2) Dada :
a) Paru :Tidak terkaji
b) Jantung :Tidak terkaji
3) Payudara dan ketiak :Tidak terkaji
4) abdomen :Tidak terkaji
5) Genetalia :Tidak terkaji
6) Integumen :Tidak terkaji
7) Ekstremitas :Tidak terkaji
a) Atas :Tidak terkaji
b) Bawah : Tidak terkaji
8) Neurologis :
a) Status mental da emosi : Tidak terkaji
b) Pengkajian saraf kranial : Tidak terkaji
c) Pemeriksaan refleks : Tidak terkaji
d. Pemeriksaan Penunjang

1) Data laboratorium yang berhubungan : Tidak terkaji


2) Pemeriksaan radiologi : Tidak terkaji
3) Hasil konsultasi : Tidak terkaji
4) Pemeriksaan penunjang diagnostic lain : Tidak terkaji

17
5. Analisa data

NO. Analisa Data Etiologi Masalah Keperawatan


1. DS : Bertambahnya usia Dx. Nyeri Kronis
1. Klien mengeluh nyeri
pinggul sejak Pembentukan tulang
menurun
kehamilan anaknya
terakhir
terjadi penurunan pada
2. Klien mengeluh nyeri
usia 30 tahun
pinggul juga tidak
berkurang meskipun
osteoklas terjadi
sudah melahirkan
DO :
pembentukan osteoblas
1. Kadar kalsium darah = melambat
3,5 mg/dl (Normal 9.50
mg/dl – 10.4 mg/dl) tulang kerposo/rapuh
2. Kadar fosfor serum = 2,5
mg/dl osteoporosis
3. Albumin = 2,7 mg/dl
(normal 3.8 – 5.1 mg/dl) tidak mampu menahan
beban berat

tulang mulai patah

nyeri mulai terjadi

di kirim ke SSP

korteks serebri

18
Nyeri di persepsikan

Nyeri berlangsung lama

Dx. Nyeri Kronis

19
2. DS : Bertambahnya usia Dx. Ketidakpatuhan
1. Klien kurang bisa
mengikuti anjuran Pembentukan tulang
menurun
dokter dalam
mengumsumsi kalsium
terjadi penurunan pada
DO :
usia 30 tahun
1. Kadar kalsium darah =
3,5 mg/dl (Normal 9.50
osteoklas terjadi
mg/dl – 10.4 mg/dl)
2. Kadar fosfor serum =
pembentukan osteoblas
2,5 mg/dl melambat
Albumin = 2,7 mg/dl
(normal 3.8 – 5.1 mg/dl) tulang kerposo/rapuh

osteoporosis

nafsu makan terganggu

asupan nutrisi menurun

albumin, kalsium, fosfor


menurun

albumin tidak cukup


menyerap kalsium pada
organ pencernaan

kalsium yang di ikat


hanya sedikit

20
.

Tidak mengikuti anjuran


dokter

Dx. Ketidakpatuhan

3. DS : Bertambahnya usia Dx.


1. Klien kurang bisa Ketidakseimbangan
mengikuti anjuran Pembentukan tulang Nutrisi Kurang Dari
menurun
dokter dalam Kebutuhan Tubuh
mengumsumsi
terjadi penurunan pada
kalsium
usia 30 tahun
DO :
1. Kadar kalsium darah
osteoklas terjadi
= 3,5 mg/dl (Normal
9.50 mg/dl – 10.4
pembentukan osteoblas
mg/dl) melambat
2. Kadar fosfor serum
= 2,5 mg/dl tulang kerposo/rapuh
3. Albumin = 2,7
mg/dl (normal 3.8 – osteoporosis
5.1 mg/dl)
nafsu makan terganggu

21
Asupan nutrisi menurun

Albumin, fosfor, kalsium


menurun

Dx. Ketidakefektifan
Nutrisi Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh

B. Diagnosa keperawatan

1. Dx. Nyeri Kronis


2. Dx. Defisiensi Pengetahuan
3. Dx. Ketidakfektifan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tub

22
C. Intervensi

NO DX. KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL


1. Dx. Nyeri Kronis (00133) NOC NIC
Domain: 12. Kenyamanan 1. Kontrol nyeri Manajemen pengobatan Manajemen Pengobatan
Kelas: 1. Kenyamanan Fisik 2. Tingkat nyeri 1. Monitor respon terhadap 1. Saat pengobatan akan
Definisi: pengalaman sensori 3. Nafsu makan pengobatan dengan cara yang muncul beberapa efek
dan emosional yang tidak 4. Kepuasan klien: Manajemen tepat samping/ respon tubuh
menyenangkan dan muncul nyeri yang lain untuk itu kita
akibat kerusakan jaringan 5. Status kenyamanan: fisik harus memonitor sesering
yang aktual atau potensial mungkin agar tidak
atau di gambaran dalam hal Tujuan: membuat klien merasa
kerusakan sedemikian rupa Setelah dilkukan tindakan cemas, berhubung
(International Association for keperawatan selama ….x24 jam, osteoporis ini lebih banyak
the study of Pain): awitan diharapkan masalah nyeri teratai menyerang lansia maka
yang tiba-tiba atau lambat dengan tingkat kecemasan mereka
dari intensits ringan hingga Kriteria hasil : lebih tinggi.
berat dengan akhir yang dapat 1. Kontrol nyeri 2. Monitor efek samping obat 2. Semua jenis obat-obatan

23
di antisipasi atau di prediksi a. Mengenali kapan nyeri memiliki efek samping
dan berlangsung >6 bulan terjadi (4) yang berbeda-beda apalagi
DS : b. Menggunakan tindakan obat penghilang nyeri,
1. Klien mengeluh nyeri pencegahan (4) untuk itu kita harus
pinggul sejak c. Melaporkan perubahan memantau atau memonitor
kehamilan anaknya terhadap nyeri pada keadan klien agar kita dapat
terakhir profesional kesehetan (4) mengetahui obat yang
2. Klien mengeluh nyeri d. Mengenali apa yang terjadi diminum klien bekerja
pinggul juga tidak dengan gejala nyeri (4) dengan baik atauu tidak.
berkurang meskipun e. Melaporkan nyeri yang 3. Monitor efektivitas cara 3. Pemberian obat harus
sudah melahirkan terkontrol (4) pemberian obat yang sesuai sesuai prosedur, untuk itu
DO : Keterangan: kita harus memonitor
1. Kadar kalsium darah (1) tidak pernah sesring mungkin bagaimana
= 3,5 mg/dl (Normal menunjukan cara pemberian obat kepada
9.50 mg/dl – 10.4 (2) jarang menunjukan klien, sudah sesuai
mg/dl) (3)kadang-kadang prosedur atauy melenceng
2. Kadar fosfor serum = menunjukan dari prosedur pemberian
2,5 mg/dl (4)sering menunjukan obat, karena jika pemberian
3. Albumin = 2,7 mg/dl (5)secara konsisten obat tidak sesuai maka efek

24
(normal 3.8 – 5.1 menunjukan negatinya akan di rasakan
mg/dl) 2. Tingkat nyeri klien terutama untuk lansia.
a. Panjangnya episode 4. Kaji ulang pasien dan 4. Ada beberapa jenis obat
nyeri (4) keluarga secara berkala yang dapat menghilangkan
b. Ekspresi nyeri wajah mengenai jenis dan jumlah nyeri, kadar obatnya juga
(4) obat yang dikonsumsi berbeda-beda dari tingkat
c. Kehilangan nafsu (4) sedang sampai untuk nyeri
makan yang berat untuk itu kita
Keterangan: harus mengkaji terlebih
(1) tidak pernah dahulu bagaimana cara
menunjukan keluarga memberikan obat
(2) jarang menunjukan dan dengan dosis yang
(3)kadang-kadang bagaimana agar apabila ada
menunjukan kesalahan yang di lakukan
(4)sering menunjukan keluarga kita dapat
(5)secara konsisten memberi tahu bagaimana
menunjukan cara pemberian obat.
3. Nafsu makan 5. Tentukan obat apa yang 5. Obat memnpunyai tingkat
a. Hasrat/keinginan untuk diperlukan dan kelola dosis yang berbeda-beda

25
makan (4) menurut resep. dari yang rendah sampai
b. Intake makanan (4) pada tingkat berat, apalagi
c. Intake nutrisi (4) untuk penghilang nyeri,
d. Intake cairan (4) obatnya ada beberapa
e. Rangsangan untuk macam untuk itu kita
makan (4) sebaiknya menentukan obat
Keterangan: apa yang diperlukan oleh
(1) tidak pernah klien dengan tetap
menunjukan mendiskusikan pada dokter.
(2) jarang menunjukan 6. Tentukan kemampuan pasien 6. Pengobatan tidak hanya
(3)kadang-kadang untuk mengobati diri sendiri dapat diberikan oleh
menunjukan perawat dan kelurga akan
(4)sering menunjukan tetapi klien juga harus
(5)secara konsisten mengerti dan tahu
menunjukan bagaimana cara pengobatan
4. Kepuasan klien: Manajemen penyakitnya sesuai
Nyeri prosedure, karena apabila
a. Nyeri terkontrol (4) nyerinya muncul saat tak
b. Mengambil tindakan ada keluarga maupun

26
untuk mengurangi perawat di dekatmya dia
nyeri (4) bisa meminimalisir sendiri
c. Memberikan informasi nyeri yang muncul dengan
tentang pembatasan cara seperti yang sudah di
aktifitas (4) jelaskan di atas dengan
d. Informasi di sediakan catatan dilakukan sendiri
untuk mengurangi oleh klien.
nyeri (4) 7. Tentukan dampak pengunaan 7. Salah satu efek dari
Keterangan: obat untuk gaya hidup klien pemberian obat analgesik
Keterangan: adalah ngantuk, umtuk itu
(1) tidak pernah sebaiknya kita haruis
menunjukan mendiskusikan terlebih
(2) jarang menunjukan dahulu kepada klien dan
(3)kadang-kadang keluarga tentang efek dari
menunjukan penggunaan obat itu
(4)sering menunjukan senndiri agar tidak
(5)secara konsisten membuat klien cemas.
menunjukan
5. Status kenyamanan: Fisik

27
a. Kontrol terhadap Manajemen Nyeri Manajemen Nyeri
gejala (4) 1. Kaji nyeri meliputi 1. Mengkaji nyeri dapat kita
b. Posisi yang nyaman lokasi,karakteristik,kualitas lakukan dari mulai lokasi
(4) atau faktor pencetus nyeri sampai faktor apa
c. Intake makanan (4) munculnya nyeri. yang bisa menyebabkan
d. Intake cairan (4) nyeri itu muncul lagi, untuk
Keterangan: itu kita harus kaji lebih
(1) tidak pernah dahalu untuk persiapan
menunjukan diagnosa yang lain.
(2) jarang menunjukan 2. Pastikan perawatan analgesik 2. Obat analgesik sangat
(3)kadang-kadang bagi pasien dilakukan dengan membantu untuk klien,
menunjukan pemantauan yang ketat. akan tetapi efek yang di
(4)sering menunjukan timbulkan kadang kala
(5)secara konsisten berbeda dari satu orang ke
menunjukan orang lainnya dan untuk
pemberiannya tidak
dianjurkan sembarangan
untuk itu kita harus
mengontrol dengan ketat

28
proses pemberian analgesik
pada klien.
3. Gunakan strategi teraupetik 3. Mengetahui pengalaman
untuk mengetahui nyeri seseorang tidak
pengalaman nyeri semudah seperti bertanya
hal yang sepele, terutama
untuk lansia, terkadang
mereka tidak dapat
mengetahui sampai di mana
dan bagaiman tingkat nyeri
yang sering meraka
keluhkan, untuk itu kita
harus menggunakan strategi
teraupetik untuk
berkomunikasi dengan
klien agar kita dapat
mendapatkan informasi
yang sesuai.
4. Kendalikan faktor lingkungan 4. Beberapa faktor dari luar

29
yang dapat mempengaruhi dapat mempengaruhi proses
respon pasien terhadap pengobtan, terutama faktor
ketidaknyamanan. lingkungan, apalagi untuk
lansia kenyamanan sangat
dibutukan untuk proses
penyembuhan penyakit
untuk itu kita harus
mengendalikan lingkungan
klien dengan tetap menjaga
kenyamanan klien itu
sendiri.
5. Kurangi faktor pencetus nyeri 5. Pada penyakit ini salah satu
pencetus terjadinya nyeri
adalah aktivitas, ketika
seseorang melakukan
aktivitas apalagi aktivitas
yang berat maka nyeri akan
dirasakan oleh klien untuk
itu kita harus

30
meminimalisir aktivitas
yang di lakukan oleh klien.

6. Dukung istrahat yang adekuat 6. Nyeri dapat berkurang


untuk membantu penurunan apabila seseorang istrahat
nyeri atau tidur untuk itu kita
harus mendukung istrahat
yang adekuat agar dapat
membantu mengurangi
nyeri tersebut.
Peningkatan Tidur Peningkatan Tidur
1. Tentukan pola tidur pasien 1. Kita harus menentukan
pola tidur pasien dengan
tetap mendiskusikan
dnegan keluarga
bagaiamana kualitas tiodur
klien, berhubung tidut atau
istrahat dapat
meminimalisir adanya

31
nyeri, akan tetapi tepak
memperboleh klien
melakukan aktivitas.
2. Jelaskan pentingnya tidur 2. Tidur yang cukup dapat
yang cukup. membantu pengurangan
nyeri untuk itu kita harus
menejlaskan pada klien
bagaimana pentingnya tidur
yang cukup.
3. Tentukan efek dari obat 3. Penjelasan tentang efek
terhadap pola tidur. samping obat sangan perlu
berahubung obat yang akan
diberikan dapat membuat
seseorang mengantuk,
untuk itu kita harus
menjelaskan terlebih
dahulu pada klien agar
klien tidak akan merasa
cemas.

32
4. Anjurkan pasien untuk 4. Klien harus mampu
memantau pola tidurnya mengontrol pola tidurnya
sendiri karena apabila pola
tidurnya berlebih maka
akan dapat menimbulkan
penyakit yang lain seperti
dekubitus yang di sebabkan
karena terlalu lama bad
tress.
5. Anjurkan pasien untuk 5. Makan dan minum sebelum
menghindari makan dan tidur dapat mengganggu
minum sebelum tidur. kualitas tidur seseorang,
untuk penderita
osteoporosis sangat tidak di
anjurkan makan sebelum
tidur karena ketika tidur
akan terbangun untuk
buang air yang dapat
membuat klein merasakan

33
nyeri yang di sebabkan oleh
aktivitas yang dilakukan
klien.
6. Diskusikan dengan keluarga 6. Tekhnik untuk
mengenai teknik untuk meningkatkan kualitas tidur
meningkatkan kualitas tidur. ada beberapa, salah satunya
dengan mamatikan lampu
ketika mau istrahat, akan
tetapi klita harus
mendiskusikan terlebih
dahulu pada keluarga klien
tentang peningkatan tidur
klien sesuai dengan
kebiasaan yang sudah di
ketahui oleh keluarga klien.

34
35
2. Dx. Ketidakpatuhan NOC NIC Rasional
(00079) 1. Perilaku Patuh Pendidikan kesehatan Pendidikan Kesehatan
Domain: 1 Promosi 2. Perilaku Patuh: Pengobatan 1. Identifikasi factor internal atau 1. Mengidentifikasi faktor dai
Kesehatan yang di Sarankan eksternal yang dapat dalam atau dari luar sangat
Kelas : 2. Manajemen 3. Manajemen Diri: meningkatkan atau mengurangi perlu agar kita dapat
Kesehatan Osteoporosis motivasi untuk berperilaku sehat engetahui apa yang
Definisi : perilkau individu Tujuan: menyebabkan klien tidak
dan/atau pemberi asuhan Setelah dilkukan tindakan memiliki motivasi dan
yang tidak sesui dengan keperawatan selama ….x24 jam, selain itu kita dapat
rencana promosi kesehatan diharapkan masalah nyeri teratai mendoong lagi agar klien
atau terapeutik yang di dengan mau dan paham tentang
tetapkan oleh individu Kriteria hasil : penyakitnya.
(dan/atau keluarga dan/atau 1. Perilaku Patuh: 2. Pendidikan kesehatan
komunitas). Serta profesional a. Menepati janji dengan 2. Targetkan sasaran pada sangat di prioritaskan pada
pelayanan kesehatan. profesional kesehatan (4) kelompok berisiko tinggi dan orang yang berusia lanjut,
Perilaku pemberian asuhan b. Melaporkan perubahan rentang usia yang akan mendapat karena untuk pemberian
atau individu yang tidak gejala pada profesional manfaat besar dari pendidikan pengetahuan pada usia
mematuhi ketetapan, rencana kesehatan (4) kesehatan lanjut memiliki tingkat
promosi kesehatam atau c. Memodifikasi rejimen kesuliatn tersendiri.

36
terapeutik secara keseluruhan pengobatan seperti yang 3. Papabila klien atau
atau sebagian dapat diarahkan oleh kesehatan keluarga tidak memahami
3. Tentukan pengetahuan kesehatan
menyebabkan hasil akhir profesional (4) tentang pengertahuannya
dan gaya hidup perilaku pada
yang tidak efektif atau d. Memantau respon maka kita harus
saat ini pada individu ,
sebagian tidak efektif secara pengobatan (4) memberikan pengetahuan
kelompok, keluarga atau
klinis. dengan menentukan
kelompok sasaran.
DS : Keterangan: pengetahuan kesehatan yag
1. Klien kurang bisa (1) Tidak pernah mana yang harus kita
mengikuti anjuran menunjukkan berikan.
dokter dalam (2) Jarang menunjukkan 4. Tekankan manfaat kesehatan 4. Penekanan manfaat
mengumsumsi (3) Kadang-kadang positif yang langsung atau kesehatan untuk klien
kalsium menunjukkan manfaat jangka pendek yang sangat baik agar klien tau
DO : (4) Sering menunjukkan bisaditerima oleh perilaku gaya dan dapat mecegah hal-hal
1. Kadar kalsium darah (5) Secara konsisten hidup positif dari pada yang mungkin dapat timbul
= 3,5 mg/dl (Normal menunjukkan menekankan pada manfaat pada keadaan klien.
9.50 mg/dl – 10.4 2. Perilaku Patuh: Pengobatan jangka panjang atauefek negetif
mg/dl) yang Disarankan dari ketidakpatuhan
2. Kadar fosfor serum = a. Menginformasikan
2,5 mg/dl profesional kesehatan

37
3. Albumin = 2,7 mg/dl mengenai semua obat yang 5. Manfaatkan system dukungan 5. Dukungan keluarga sangat
(normal 3.8 – 5.1 sudah dikonsumsi (4) social dan keluarga untuk diperlukan untuk proses
mg/dl) b. Mengkonsumsi semua obat meningkatkan efektivitas gaya penyembuhan .
sesuai interval yang hidup atau modifikasi perilaku
ditentukan (4) kesehatan
c. Minum obat sesuai dosis (4) Konseling nutrisi Konseling nutrisi
d. Memodifikasi dosis sesuai 1. Kaji asupan makanan dan 1. Untuk mengetahui nutrisi
instruksi (4) kebiasaan makan pasien yang sering masuk ke
e. Menkonsumsi obat dengan dalam tubuh klien.
atau tanpa makanan seperti 2. Kaji ulang pengukuran intake dan 2. Untuk mengetahui status
yang ditentukan (4) output cairan pasien, nilai Hb, nutrisi klien.
Keterangan: tekanan darah, adanya penurunan
(1) Tidak pernah dan penambahan berat badan, sesuai
menunjukkan kebutuhan
(2) Jarang menunjukkan 3. Pasang materi penuntun makanan 3. Untuk membantu
(3) Kadang-kadang yang menarik dikamar pasien menaikan nafsu makan
menunjukkan (misalnya, piramid makanan) klien
(4) Sering menunjukkan 4. Bantu pasien untuk mencatat 4. Untuk mempermudah
(5) Secara konsisten makanan yang biasanya dimakan dalam menghitung input

38
menunjukkan dalam waktu 24 jam. nutrisi klien.
3. Manajemen Diri: 5. Sediakan konsultasi/ rujukan 5. Untuk mendapatkan
Osteoporosis dengan anggota kesehatan lain, penanganan yang lebih
a. Menggunakan obat-obatan sesuai kebutuhan. untuk menangani keluhan
sesuai resep (4) klien.
b. Mengikuti rekomendasi Pengajaran Proses Penyakit
Pengajaran Proses Penyakit
untuk suplemen kalsium (4) 1. Untuk mengetahui seberapa
1. Kaji tingkat pengetahuan
Keterangan: besar pengetahuan klien
klien tentang proses penyakit
(1) Tidak pernah terhadap penyakitnya
yang spesifik
menunjukkan
(2) Jarang menunjukkan
2. Review pengetahuan pasien 2. Untuk lebih memastikan
(3) Kadang-kadang apakah klien sudah
mengenai kondisinya.
menunjukkan mengerti dengan
(4) Sering menunjukkan penyakitnya atau belum
(5) Secara konsisten
menunjukkan
3. Jelaskan tanda dan gejala 3. Agar klien tahu tentang

yang umum dari penyakit. gejala gejala umum yang


ditimbulkan oleh penyakit

39
yang dirasakan.
4. Agar klien lebih tahu
4. Berikan informasi pada klien
tentang kondisinya saat ini.
tentang kondisinya, sesuai
kebutuhan.
5. Memberikan harapan yang
5. Hindari memberikan harapan
kosong dapat membuat
yang kosong.
klien lebih tidak percaya
lagi dengan apa yang kita
katakan.

6. Perkuat informasi yang 6. Agar klien lebih percaya

diberikan dengan anggota tim dengan apa yang kita


kesehatan lain sesuai berikan.

kebutuhan.

40
3. Dx. Ketidakseimbangan NOC NIC
Nutrisi Kurang Dari 1. Status Nutrisi Manajemen gangguan makan Manajemen gangguan makan
Kebutuhan Tubuh (00002) 2. Nafsu Makan 1. Monitor intake/asupan dan 1. untuk memonitor asupan
asupan cairan secara tepat nutrisi klien.
Domain: 2. Nutrisi 3. Status Nutrisi: Asupan
2. Monitor perilaku klien yang
Kelas: 1. Makan Makan & Cairan 2. Untuk mengetahui
berhubungan pola makan,
Definisi : Tujuan: adanya perilaku yang
penambahan dan kehilangan
Asupan nutrisis tidak cukup Setelah dilkukan tindakan mengubah pola makan
berat badan
untuk memenuhi kebutuhan keperawatan selama ….x24 jam, klien.
metabolik diharapkan masalah nyeri teratai 3. Monitor berat badan klien sesuai
3. Untuk mengetahui
DS : dengan secara rutin adanya perubahan berat
1. Klien kurang bisa Kriteria hasil : badan klien.
mengikuti anjuran 1. Status Nutrisi 4. Untuk mengetahui
dokter dalam a. Asupan gizi (4) 4. Monitor asupan kalori makanan jumlah kalori yang
mengumsumsi b. Asupan Makanan (4) harian masuk kedalam tubuh
kalsium c. Asupan Cairan (4) klien
5. Ajarkan dan dukung konsep
DO : Keterangan: 5. Agar klien mengerti
nutrisi yang baik dengan klien
1. Kadar kalsium darah (1) Sangat terganggu konsep dari nutrisi
(dan orang terdekat klien
= 3,5 mg/dl (Normal (2) Banyak terganggu
dengan tepat)
9.50 mg/dl – 10.4 (3) Cukup terganggu

41
mg/dl) (4) Sedikit terganggu 6. Dorong klien untuk memonitor 6. Untuk membantu
2. Kadar fosfor serum = (5) Tidak terganggu sendiri asupan makanan harian mengkontrol asupan
2,5 mg/dl 2. Nafsu Makan dan menimbang berat badan nutrisi klien.
secara tepat
3. Albumin = 2,7 mg/dl a. Hasrat/keinginan untuk
7. Berikan dukungan terhadap
(normal 3.8 – 5.1 makan (4) 7. agar klien mau
peningkatan berat badan dan
mg/dl) b. Mencari makanan (4) melakukan prilaku yang
perilaku yang meningkatkan
c. Merasakan makanan (4) dapat menambah berat
berat badan
d. Energi untuk makan (4) 8. bantu klien untuk mengevaluasi
badan
e. Intake makanan (4) kesesuaian/konsekensi pilihan 8. agar asupan nutrisi klien
f. Intake nutrisi (4) makanan dan aktivitas fisik lebih terkontrol
g. Intake cairan (4) 9. kolaborasi dengan tim kesehatan 9. untuk mendapatkan
h. Rangsangan untuk makan lain untuk mengembangkan intervensi yang tepat
(4) rencana perawatan dengan untuk menangani
Keterangan: melibatkan klien dengan orang- masalah klien
orang terdekatnya dengan tepat.
(1) Sangat terganggu
(2) Banyak terganggu Manajemen Nutrisi:
Manajemen Nutrisi:
(3) Cukup terganggu 1. untuk memantau asupan
1. monitor kalori dan asupan
(4) Sedikit terganggu kalori yang masuk ke
makanan
(5) Tidak terganggu dalam tubuh klien.

42
2. Untuk memastikan
2. monitor kecendurungan adanya penyebab dari
terjadinya penurunan dan penurunan dan kenaikan
kenaikan berat badan
berat badan.
3. Agar mendapatkan
3. tentukan status gizi pasien dan
intervensi yang tepat
kemampuan [pasien] untuk
dalam menangani status
memenuhi kebutuhan gizi
gizi dari klien.

4. identifikasi [adanya] alergi atau 4. Untuk memastikan


intoleransi makanan yang di adanya satus alergi
miliki pasien makanan yang diderita
klien.

5. tentukan jumlah kalori dan jenis 5. Untuk memenuhi jumlah


nutrisi yang di butuhkan untuk
nutrisi klien.
memenuhi persyaratan gizi
6. anjurkan keluarga untuk
6. Makanan favorit dapat
membawa makanan favorit
membangkitkan nafsu
pasien sementara [pasien]
makan klien.

43
berada di rumah sakit atau
fasilitas perawatan yang sesuai
7. anjurkan pasien terkait dengan 7. Untuk memenuhi nutrisi
kebutuhan makanan tertentu
yang di butuhkan oleh
berdasarkan pekembangan atau
klien.
usia (misalnya, peningkatan
kalsium, protein, cairan, dan
kalori untuk wanita menyususi,
peningkatan asupan serat untuk
mencegah konstipasi pada orang
dewasa yang lebih tua)
8. beri obat-obatan sebelum
makan, memotong makanan 8. Agar membangkitkan
yang (misalnya, penghilang rasa nafsu makan klien.
sakit, antimietik), jika di
perlukan

44
45
46