Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Penilaian pelaksanaan pekerjaan pegawai merupakan proses kegiatan
yang dilakukan untuk mengevaluasi tingkat pelaksanaan pekerjaan atau
unjuk kerja (performance appraisal) seorang pegawai. Dilingkungan
Pegawai Negeri Sipil dikenal dengan DP-3 (Daftar Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan) yang diatur dalam PP 10 tahun 1979.
Kenyataan empirik menunjukkan proses penilaian pelaksanaan pekerjaan
PNS cenderung terjebak ke dalam proses formalitas. DP-3 PNS dirasa telah
kehilangan arti dan makna substantif, tidak terkait langsung dengan apa
yang telah dikerjakan PNS. DP-3 PNS secara substantif tidak dapat
digunakan sebagai penilaian dan pengukuran seberapa besar produktivitas
dan kontribusi PNS terhadap organisasi. Seberapa besar keberhasilan dan
atau kegagalan PNS dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.
Penilaian DP-3 PNS lebih berorientasi pada penilaian kepribadian
(personality) dan perilaku (behavior) terfokus pada pembentukan karakter
individu dengan menggunakan kriteria behavioral, belum terfokus pada
kinerja, peningkatan hasil, produktivitas (end result) dan pengembangan
manfaat potensi.
Beberapa tinjauan terkait dengan implementasi DP-3 PNS selama ini,
proses penilaian lebih bersifat rahasia, sehingga kurang memiliki nilai
edukatif, karena hasil penilaian tidak dikomunikasikan secara terbuka.
Selain itu, pengukuran dan penilaian prestasi kerja tidak didasarkan pada
target goal (kinerja standar/harapan), sehingga proses penilaian cenderung
terjadi bias dan bersifat subyektif (terlalu pelit/murah), nilai jalan tengah
dengan rata-rata baik untuk menghindari nilai “amat baik” atau “kurang”,
apabila diyakini untuk promosi dinilai tinggi, bila tidak untuk promosi
cenderung mencari alasan untuk menilai “sedang” atau “kurang”. Dalam hal
atasan langsung sebagai pejabat penilai, ia hanya sekedar menilai,
belum/tidak memberi klarifikasi hasil penilaian dan tindak lanjut penilaian.

1
Atas dasar tersebut diatas dan setelah dilakukan proses kajian yang
panjang serta mendalam mengenai DP-3 PNS maka dirumuskanlah metode
baru dalam melihat kinerja PNS melalui pendekatan metode Sasaran
Kinerja Pegawai (SKP). Melalui metode ini, penilaian prestasi kerja PNS
secara sistemik menggabungkan antara penilaian Sasaran Kinerja Pegawai
Negeri Sipil dengan penilaian prilaku kerja.
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2011, mulai
tahun 2014 per tanggal 1 Januari seluruh pegawai negeri sipil (PNS) wajib
menyusun SKP.
SKP merupakan bagian dari Penilaian Prestasi Kerja. Bagian yang lainnya
yakni perilaku kerja. Tingkat kinerja pegawai negeri sipil akan diketahui
berdasarkan proses penilaian terhadap kedua unsur tersebut dengan bobot
masing-masing 60 persen SKP dan 40 persen perilaku kerja. Dijelaskan
pada PP tersebut, yang dimaksud sasaran kerja pegawai adalah rencana
kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS. Sasaran kerja ini
disusun oleh pegawai di awal tahun dengan mengacu kepada Rencana Kerja
Tahunan lembaga dimana pegawai tersebut bertugas. Sasaran kerja meliputi
4 target, yaitu kuantitas, kualitas, waktu, dan biaya.
Berdasarkan lampiran Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN)
nomor 1 tahun 2013, SKP ditetapkan setiap tahun pada awal Januari.
Dijelaskan juga bahwa PNS yang tidak menyusun SKP dijatuhi
hukuman sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan yang
mengatur mengenai disiplin PNS.
Dalam SKP akan diberikan beberapa rencana target yang harus dicapai
oleh PNS, diantaranya :
1. Kuantitas (Target Output), dalam menentukan Target Output (TO)
dapat berupa dokumen yang berkenaan dengan kegiatan pada Unsur
Utama.
2. Kualitas (Target Kualitas), dalam menetapkan Target Kualitas (TK)
harus memprediksi pada mutu hasil kerja yang terbaik, target kualitas
diberikan nilai paling tinggi 100 (seratus).
3. Waktu (Target Waktu), dalam menetapkan Target Waktu (TW) harus

2
memperhitungkan berapa target waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan, misalnya bulanan, triwulan, kwartal,
semester, dan tahunan.
4. Biaya (Target Biaya), dalam menetapkan Target Biaya (TB) harus
memperhitungkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan dalam satu tahun, misalnya jutaan, ratusan juta,
miliaran, dan lain-lain.

Untuk pelaksanaan penilaian tersebut maka setiap pegawai negeri sipil telah
di tetapkan SKP nya masing-masing, dan salah satunya adalah SKP bagian
Arsiparis. Arsiparis adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas,
tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang
untuk melakukan kegiatan Arsiparis pada unit Arsiparis tertentu. Arsiparis adalah
kegiatan-kegiatan pengambilan keputusan dari sejumlah pilihan mengenai sasaran
dan cara yang akan dilaksanakan dimasa depan guna mencapai tujuan yang
diinginkan, serta pemantauan dan penilaian atas perkembangan hasil
pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.

1. 2. Dasar Hukum
1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok Pokok
Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor
55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 3041)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang
Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian PNS sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2009;
3. Peraturan Pemerintah nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai
Negeri Sipil;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi
Kerja Pegawai Negeri Sipil;

3
5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional
PNS;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat
PNS;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang
Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian PNS;
8. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013
tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun
2011 Tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil.
9. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan
Fungsional PNS;
10. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
16/Kep/M.pan/2/2003 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka
Kreditnya;
11. Keputusan Bersama Kepala Bappenas dan Kepala Badan Kepegawaian
Negara Nomor KEP.1106/Ka/08/2001 dan Nomor 34A Tahun 2001 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka Kreditnya;
12. Keputusan Menteri PPN/Ka Bappenas Nomor KEP.019/M.PPN/12/2001
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyesuaian/Inpassing ke dalam
Jabatan dan Angka Kredit Arsiparis;
13. Keputusan Menteri PPN/Ka Bappenas Nomor KEP.020/M.PPN/12/2001
tentang Pedoman Penentuan Formasi Arsiparis;
14. Keputusan Menteri PPN/Ka Bappenas Nomor KEP.234/M.PPN/04/2002
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengangkatan, Kenaikan Pangkat,
Jabatan, Pembebasan Sementara, Pengangkatan Kembali dan
Pemberhentian dalam dan dari Jabatan Fungsional Arsiparis;
15. Keputusan Menteri PPN/Ka Bappenas Nomor KEP.235/M.PPN/04/2002
tentang Petunjuk Teknis Penilaian Angka Kredit Arsiparis;
16. Keputusan Menteri PPN/Ka Bappenas Nomor KEP.266/M.PPN/06/2002
tentang Petunjuk Teknis Organisasi dan Tata Kerja Tim Penilai Angka
Kredit Arsiparis;

4
1. 3. Tujuan
a. Tujuan umum :
Sebagai salah satu acuan bagi Pejabat Penilai untuk melakukan
penilaian terhadap Pegawai Negeri Sipil yang menjadi tanggungjawabnya.

b. Tujuan Khusus :
1. Terlaksananya mekanisme sebagai Pegawai Negeri Sipil yang lebih
disiplin, dan bertanggungjawab sesuai dengan aturan.
2. Tercapainya rencana kerja yang telah dituangkan dalam Sasaran
Kinerja Pegawai sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.

5
BAB II
PROGRAM DAN KEGIATAN ARSIPARIS

Arsiparis adalah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta,


imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi
dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan
perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam
penyelesaian. Arsiparis dalam pengertian ini menitikberatkan kepada usaha untuk
menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan
datang serta usaha untuk mencapainya.
Definisi lain menyatakan bahwa Arsiparis adalah hubungan antara apa yang ada
sekarang dengan bagaimana seharusnya yang berkaitan dengan kebutuhan,
penentuan tujuan, prioritas, program,dan alokasi sumber.
Arsiparis mempunyai makna yang komplek, Arsiparis didefinisikan dalam
berbagai bentuk tergantung dari sudut pandang, latar belakang yang
mempengaruhinya dalam mendefinisikan pengertian Arsiparis.
Arsiparis terjadi pada semua kegiatan. Arsiparis merupakan proses awal
dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara pencapaiannya. Arsiparis adalah
hal yang sangat esensial karena dalam kenyataanya Arsiparis memegang peranan
lebih bila dibanding dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, yaitu
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Dimana fungsi-fungsi
manajemen tersebut sebenarnya hanya merupakan pelaksanaan dari hasil sebuah
Arsiparis

2.1. Program
Program Arsiparis adalah kumpulan Surat-surat yang diterima dan dibuat
baik dari segi metode pelaksanaan sampai dengan Pengiriman Surat. Arsip adalah
produk kegiatan persuratan berupa surat masuk, surat keluar dan baik yang dari
elektronik dan pos yang dari daerah ataupun luar daerah;

2.2. Kegiatan
Kegiatan Arsiparis adalah suatu proses yang dilakukan secara teratur,
sistematis, berdasarkan pengetahuan, metoda ataupun teknik tertentu yang

6
menghasilkan Arsip kebijakan, Arsip program dan serta pemantauan dan penilaian
atas perkembangan hasil pengarsipan.
Kegiatan Arsiparis secara umum meliputi :
1. Identifikasi Arsip
2. Perumusan alternatif kebijaksanaan pengarsipan
3. Pengkajian alternatif pengarsipan
4. Penentuan alternatif Persuratan
5. Pengendalian Persuratan
6. Penilaian hasil Persuratan

Dalam pelaksanaan kegiatan pengarsipan tersebut diperlukan sarana penunjang


diantaranya :
1. Pengajaran/pelatihan/mendapatkan bimbingan dibidang pengarsipan
2. Mengikuti seminar/lokakarya di bidang pengarsipan
3. Menjadi anggota delegasi dalam pertemuan internasional
4. Menjadi anggota tim penilai jabatan Arsiparis

Untuk kegiatan pokok jabatan pengarsipan di lingkungan Poltekkes Kemenkes


Tanjungpinang meliputi :
1. Mengumpulkan data dan informasi melalui pengumpulan data sekunder
Semua data-data pendukung yang akan dijadikan referensi dalam penyusunan
program-program di Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang baik tertulis berupa
laporan maupun yang tertuang dalam bentuk foto-foto kegiatan (1 dokumen).
2. Melakukan inventaris sumber daya yang potensial dalam identifikasi
permasalah.
Kegiatan ini berupa penelitian mengenai keadaan sumber daya yang ada di
Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang baik SDM maupun barang-barang yang
bergerak. Hal ini dapat dilaksanakan bekerjasama dengan petugas
kepegawaian, SIMAK BMN. Tujuannya agar dapat direncanakan kebutuhan
yang akan dikerjakan kedepannya (1 dokumen)

7
3. Menyusun laporan pelaksanaan tugas. Membuat laporan tertulis dalam
pelaksanaan semua kegiatan Pengarsipan, sebagai keluaran (output) dari
fungsional pengarsipan
4. Melaksanakan tugas kedinasan yang lain diperintahkan pimpinan
Seluruh kegiatan tambahan, dan kegiatan diluar Pengarsipan. Untuk saat ini
sesuai dengan surat tugas yang dibebankan sebagai koordinator Wilayah
Kerja Poltekkes.

8
BAB III
PELAKSANAAN FUNGSIONAL ARSIP

Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dalam hal ini sebagai UPT


Kementerian Kesehatan di bawah Badan PPSDM sesuai dengan Tupoksi yang di
amanahkan bertanggungjawab dalam upaya pengelolaan Pengarsipan.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Bab 1 Pasal 2,
Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang menyelenggarakan fungsi :
1. Pelaksanaan Pengarsipan;
2. Pelaksanaan pelayanan Kearsipan;
3. Pelaksanaan Pelayanan Kearsipan pada semua Jurusan yang ada di
lingkungan Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang
4. Pelaksanaan Kearsipan Surat Masuk dan Surat Keluar

Dalam rangka mendukung pelaksanaan program dan kegiatan di Poltekkes


Kemenkes Tanjungpinang tersebut akan dilaksanakan oleh pegawai sesuai dengan
fungsional yang dibebankan. Pegawai Negeri Sipil khususnya Poltekkes
Kemenkes Tanjungpinang telah ditetapkan SKP masing-masing dan salah satunya
adalah Arsiparis.
Perangkat yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Arsiparis,
meliputi : peraturan perundang-undangan terkait, pedoman dan petunjuk
Pengarsipan dari Badan PPSDM Kesehatan RI. Hasil kerja/Output yang
dihasilkan adalah Tersampaikannya Informasi dari persuratan.

9
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Dalam penyusunan pengarsipan diperlukan perangkat-perangkat
pendukung seperti, peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
pedoman /petunjuk pengarsipan dari Badan PPSDM Kesehatan RI
2. Hasil kerja keluaran/output berupa Penomoran Surat, serta laporan-
laporan terkait pengarsipan.

4.2. Saran
1. Untuk fungsional Arsiparis agar dapat difasilitasi seperti fungsional
lainnya yang ada di Kementerian Kesehatan, sehingga pegawai yang
mendapat tanggungjawab sebagai Arsiparis dapat memberikan kontribusi
yang maksimal untuk kemajuan pemerintah yang bersih dan akuntabel.
2. Arsiparis yang ada di Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang mohon agar
lebih diperjelas status fungsionalnya, supaya tidak hanya terkesan
sekedar pemenuhan kuota fungsional pegawai tanpa tujuan yang jelas.

10
SKP
Uraian Pekerjaan
. Kuantitas
Kualitas
.Waktu
.Biaya

Pegawai Penyusunan SKP Persetujuan


Atasan

Pelaksana
Rencana Kerja
Organisasi Kinerja

Pemantauan
Bimbingan
Perilaku Kerja Nasehat

. Orientasi Pelayanan
. Integritas
. Komitmen
. Disiplin
. Kerjasama
.Kepemimpinan

Mekanisme Penilaian Kinerja

11