Anda di halaman 1dari 51

TEORI BELAJAR EDWARD LEE THORNDIKE

Definisi Teori Belajar Menurut Thordike

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbantuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-


peristiwa yang disebut stimulus (S) dan respon (R).

Teori Thorndike disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.

Teori belajar Thorndike dikenal dengan “Connectionism” (Slavin, 2000). Hal ini terjadi karena
menurut pandangan Thorndike bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan
respon. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang
dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Teori dari Thorndike dikenal
pula dengan sebutan “Trial and error” dalam menilai respon-respon yang terdapat bagi stimulus
tertentu.

Eksperimen Thorndike

Pada mulanya, model eksperimen Thorndike yaitu dengan mempergunakan kucing sebagai
subjek dalam eksperimennya Dengan konstruksi pintu kurungan yang dibuat sedemikian rupa,
sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu, maka pintu kurungan akan terbuka dan
akhirnya kucing dapat keluar dan mancapai makanan ( daging ) yang ditempatkan di luar
kurungan sebagai hadiah atau daya penarik bagi kucing yang lapar tersebut.
Thordike menafsirkan bahwa “kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari
kurungan itu, tetapi dia belajar mencamkan ( mempertahankan ) respon – respon yang benar dan
menghilangkan atau meninggalkan respon – respon yang salah.”

Eksperimen Thorndike tersebut mempengaruhi pikirannya mengenai belajar pada taraf insansi (
human ).

Ciri – Ciri Belajar Menurut Thorndike

Adapun beberapa ciri – ciri belajar menurut Thorndike, antara lain:

1. Ada motif pendorong aktivitas


2. Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
3. Ada aliminasi respon - respon yang gagal atau salah
4. Ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.

Hukum –Hukum Teori Belajar Thorndike

Thorndike mengemukakan bahwa asosiasi antara stimulus dan respons mengikuti hukum-hukum
berikut:

Hukum kesiapan

Yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh perubahan tingkah laku maka pelaksanaan
tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung
diperkuat.

Hukum latihan
Yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih(digunakan) maka asosiasi tersebut akan
semakin kuat.

Hukum Akibat

Yaitu hubungan stimulus respons cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan
cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.

Penerapan Teori Belajar Thorndike

1. Guru harus tahu apa yang akan diajarkan, materi apa yang harus diberikan, respon apa
yang diharapkan, kapan harus memberi hadiah atau membetulkan respon. Oleh karena itu
tujuan pedidikan harus dirumuskan dengan jelas.
2. Tujuan pendidikan harus masih dalam batas kemampuan belajar peserta didik. Dan
terbagi dalam unit-unit sedemikian rupa sehingga guru dapat menerapkan menurut
bermacaam-macam situasi.
3. Agar peserta didik dapat mengikuti pelajaran, proses belajar harus bertahap dari yang
sederhana sampai yang kompleks.
4. Dalam belajar motivasi tidak begitu penting karena yang terpenting adalah adanya respon
yang benar terhadap stimulus.
5. Peserta didik yang telah belajar dengan baik harus diberi hadiah dan bila belum baik
harus segera diperbaiki.
6. Situasi belajar harus dibuat menyenangkan dan mirip dengan kehidupan dalam
masyarakat.
7. Materi pelajaran harus bermanfaat bagi peserta didik untuk kehidupan anak kelak setelah
keluar dari sekolah.
8. Pelajaran yang sulit, yang melebihi kemampuan anak tidak akan meningkatkan
kemampuan penalarannya.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandang psikologi belajar tertentu. Dengan
perkembangannya psikologi dalam pendidikan, maka dengan itu bermunculan berbagai teori
tentang belajar, justeru dapat dikatakan bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar.
Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Didalam masa
perkembangan psikologi pendidikan dijaman mutakkhir ini muncullah secara beruntun beberapa
aliran psikologi pendidikan,
B. Rumusan masalah
Dari beberapa aliran psikologi, behavioristik adalah merupakan salah satu aliran yang dimiliki
oleh Edward Lee Thorndike sehingga dalam makalah ini akan mengangkat tentang :
1. Biografi Edward Lee Thorndike
2. Bagaimana teori-teori Edward L.T. ?
3. Apa saja hukum-hukum yang digunakan Edward L.T. ?
D. Tujuan
Adapun tujuannya yaitu untuk menambah wawasan pengetahuan mahasiswa/mahasiswi terhadap
psikologi pendidikan terutama tentang pemikiran dan teori-teori Edward Lee Thorndike sesuai
dengan makalah yang tersusun ini.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Biografi singkat Adward Lee Thorndike (1874-1949)


Adward lee thorndike lahir tnggal 31 Agustus 1874 di Williamsburg, dan Meninggal tanggal 10
Agustus 1949 di Montrose, New York.
Ia adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers
College, Columbia University. Masa kanak-kanak dan Pendidikannya adalah sebagai anak
seorang pendeta Metodis di Lowell, Massachusetts. Thorndike lulus dari The Roxbury Sekolah
Latin (1891), di West Roxbury, Massachusetts, Wesleyan University (BS 1895), Harvard
University (MA 1897), dan Columbia University (PhD. 1898).
Beberapa buku yang pernah ditulis, antara lain :
• Animal Intelligence : An Experimental Study of Asociation Process in Animal – 1898 (saat
Thorndike berusia 24 tahun)
Buku ini berisi penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan, yang
mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang ia anut yaitu asosiasi
• Educational Psychology (1903)
Buku ini merupakan penerapan prinsip transfer of training di bidang pendidikan. Berkat buku ini
dan prestasinya yang lain, Thorndike diangkat menjadi guru besar di “Teacher’s College of
Columbia”.
• Animal Intelligence – 1911
Sebenarnya buku ini merupakan disertasi doktornya (1898) yang dikembangkan bersama dengan
penelitian-penelitiannya yang lain.
Thorndike dianggap sebagai pelopor di beberapa bidang, antara lain:
• learning theory
• educational practice
• verbal behavior
• comparative psychology
• intelligence testing
• nature-nurture problem
• transfer of learning
• application of quantitatives measures to sociopsychological problems

1. Pandangan Adward lee thorndike terhadap teori belajar.


Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-
peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari
lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau
berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya
perangsang. Eksperimen thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk
mengetahui fenomena belajar. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar
(puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu
adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-
percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari
belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung
menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike
ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-
pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut
maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan
diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila
kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori
“trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara
mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut
cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap respons
menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi,
demikian selanjutnya, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
S R S1 R1 dst
Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha
untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing
telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke
tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai
dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh kenop tersebut apabila di luar
diletakkan makanan.
2. Teori belajar Edward lee Thordhike.
Psikologi aliran behaviristik mulai mengalami perkembangan dengan lahirnya teori-teori tentang
belajar yang dipelopori oleh Edward lee thorndike dll. Mereka masing-masing telah mengadakan
penelitian yang menghasilkan penemuan yang berharga mengenai hal belajar.
Pada mulanya, pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari
Thorndike (1874-1949), ia mengemukakan teorinya yang disebut sebagai teori belajar “
Connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus
dan respon. Teori ini sering juga disebut “Trial and error” dlam rangkan menilai respon yang
terdapat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya
terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak-anak dan
orang dewasa. Ia mengatakan, bahwa belajar dengan “Trial and error” itu dmulai dengan adanya
beberapa motif yang mendorong keaktivan. Dengan demikian, untuk mengaktifkan anak dalam
belajar dibutuhkan motivasi.
Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek
melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba
berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu
reaksi dengan stimulasinya.
Ciri-ciri belajar dengan trial and error :
1. Ada motif pendorong aktivitas
2. ada berbagai respon terhadap situasi
3. ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah
4. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.
Teori belajar koneksionisme ini ada juga keberatan-keberatannya antara lain:
a. belajar menurut teori ini bersifat mekanistis. Bila diberikan S dengan sendirinya atau secara
mekanis/otomatis timbul R. latihan-latihan ujian banyak berdasarkan pendirian ini.
b. Pelajaran bersifat teacher-centered. Yang terutama aktif adalah guru. Dialah yang melatih
anak-anak dan yang menentukan apa yang harus diketahui oleh anak-anak.
c. Anak-anak pasif artinya kurang didorong untuk aktif berfikir, tak turut menentukan bahan
pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
d. Teori ini membutuhkan pembentukan meteriil, yaknimenumpuk pengetahuan, dank arena itu
sering menjadi intelektualis. Knowledge is power. Pengetahuan dianggap berkuasa.

3. Hokum-hukum belajar Adward lee thorndike


Adward lee thorndike dengan = S-R. bond theory = tersebeut menyusun hukum-hukum belajar
sebagai berikut:
1. Hukum – hukum primair, ditemukan sekitar tahun 1930-an yang terdiri dari:
a. “law of readiness:, artinya bahwa kesiapan untuk bertindak itu timbul, karena penyesuaian diri
dengan alam sekitarnya, yang akan member kepuasan. Apabila tidak memenuhi kesiapan
bertindak, maka tidak akan member kepuasan.
b. “law of exercise”, artinya pengaruh-pengaruh dari latihan. Maksudx, bahwa suatu hubungan
menjadi kuat apabila sering berlatih dan hubungan menjadi lemah atau hilang, apabila kurang
atau tidak ada latihan.
c. ‘law of effect” artinya: bahwa kelakuhan yang dilakukan dengan pengalaman yang
memuaskan, cenderung ingin diulangi lagi, sedangkan yang tidak mendatangkan kepuasan
cenderung dilupakan.
2. Hukum-hukum secundair, terdiri dari:
a. “law of multiple response”, artinya: bermacam-macam usaha coba-coba dalam menghadapi
situasi yang kompleks (problematis), maka salah satu dari percobaan itu akan berhasil juga.
Maka, hukum ini disebut pula “trial and error”.
b. “law of assimilation”, artinya orang dapat menyesuaikan diri pada situasi baru, asal situasi
tersebut ada unsure-unsur yang bersamaan.
c. “law of partial activity”, artinya seorang dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan
yang ada dalam situasi tertentu.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
Dari uraian d iatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Teori belajar yang dikemukakan Edward Lee Thorndike disebut dengan Teori Connectionism
atau dapat juga di sebut Trial and Error Learning.
2. Ciri-ciri Belajar dengan Trial and Error adalah :

a. Ada motif pendorong aktivitas


b. Ada berbagai respon terhadap situasi
c. Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah
d. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan
3. Hukum-hukum yang digunakan Edward Lee Thorndike adalah hukum primeir dan hukum
skunder.
Menurut teori ini belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-
peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari
lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau
berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya
perangsang. Jadi teori ini mengajarkan supaya bersikap aktif.

DAFTAR PUSTAKA

http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2010/03/tokoh-psikologi-edward-lee-thorndike.html
Tokoh Psikologi Pendidikan Edward Lee Thorndike « a home of knowledge.htm

Mudzakir ahmad dan sutrisno joko, psikologi pendidikan, pustaka setia, Jakarta: 1997.

Tadjab, ilmu jiwa pendidikan, karya abditama. malang: 1992.

Soemanto wasty, psikologi pendidikan, rineka cipta. Jakarta :1998 .


Abror ranchman, psikologi pendidikan, tiara wacana. jogja: 1993.

Uman cholil, ikhtisar psikologi pendidikan, duta arkasa. Surabaya: 1995.

Share this:

 1Click to share on Facebook(Membuka di jendela yang baru)1


 Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
 Klik untuk berbagi via Google+(Membuka di jendela yang baru)

TEORI JOHN BROADES WATSON DAN CARL ROGERS

1. 1. TEORI JOHN BROADES WATSON DAN CARL ROGERS ADE INTAN N AULIA
AZQIYAH DINA NADIFAH ILMA URRUTYANA SAFINA OKTARINA
2. 2. A. TEORI BEHAVIORISME WATSON Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam
psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa
perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal psikologi. Penganut aliran ini
mempunyai pendirian bahwa : Organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau
psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi
oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi
bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku, menyiratkan
betapa elastisnya manusia. la mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan
lingkungan yang relevan.
3. 3. PRINSIP TEORI WATSON Menekankan respon terkondisi sebagai elemen atau
pembangun pelaku. Kondisi adalah lingkungan external yang hadir di kehidupan.
Perilaku muncul sebagai respon dari kondisi yang mengelilingi manusia dan hewan.
Perilaku adalah dipelajari sebagai konsekuensi dari pengaruh lingkungan maka
sesungguhnya perilaku terbentuk karena dipelajari. Lingkungan terdiri dari pengalaman
baik masa lalu dan yang baru saja, materi fisik dan sosial. Lingkungan yang akan
memberikan contoh dan individu akan belajar dari semua itu.
4. 4. PANDANGAN UTAMA JOHN B. WATSON a) Psikologi mempelajari stimulus dan
respons (S-R Psychology). b) Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai
penentu perilaku c) Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. d)
Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus
menggunakan metode empiris. e) Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai
dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak yang
tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti
bersin, merangkak, dan lain-lain. f) Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital
dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. g) Pandangannya
tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. h) Proses
thinking and speech terkait erat. i) Sumbangan utama Watson adalah ketegasan
pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya
5. 5. KONSEP BEHAVIORISME DARI JOHN B. WATSON Pada umumnya teori belajar
yang termasuk ke dalam keluarga besar behaviorisme memandang manusia sebagai
organisme yang netral-pasif- reaktif terhadap stimuli di sekitar lingkungannya. Orang
akan bereaksi jika diberi rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika
stimulus dilakukan secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan
berakibat berubahnya perilaku individu. Syarat terjadinya proses belajar dalam pola
hubungan S-R ini adalah adanya unsur: dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respons,
dan penguatan (reinforcement).
6. 6. PERCOBAAN WATSON Hasil penelitian Watson yang terkenal (1920) adalah
mengenai bayi yang berusia 11 bulan bernama Albert. Di perlihatkan pada bayi itu seekor
tikus putih yang tidak ditakutinya. Di belakangnya diperdengarkan suara keras dengan
cara memukul batang baja dengan palu. Rasa takut yang ditimbulkan oleh suara keras
menyebabkan rasa takut terkondisikan pada tikus. Albert menggeneralisasikan rasa takut
ini dengan rangsangan lain yang mirip, termasuk dengan kelinci, mantel bulu, dan
jenggot sinterklas. Watson berpendapat bahwa rasa takut dan cemas pada manusia biasa
berasal dari pengalaman masa kanak-kanak yang mirip.
7. 7. EVALUASI TERHADAP TEORI WATSON Watson berpendapat bahwa introspeksi
merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya. Alasannya adalah jika psikologi
dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan diukur. Watson
mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari apa yang dilakukan
manusia (perilaku mereka) memungkinkan psikologi menjadi ilmu yang objektif. Watson
menolak pikiran sebagai subjek dalam psikologi dan mempertahankan pelaku sebagai
subjek psikologi. Khususnya perilaku yang observabel atau yang berpotensi untuk dapat
diamati dengan berbagai cara baik pada aktivitas manusia dan hewan.
8. 8. B. TEORI CARL ROGERS 1. Konsep Teori Rogers Menurut Syamsu Yusuf (2008)
Rogers adalah salah satu dari banyak ahli yang mengembangkan teori humanistic dan
menentang teori-teori sebelumnya yaitu psikoanalisis dan behavioristik, orang-orang
humanis memandang kedua teori sebelumnya bersifat “dehumanizing” (melecehkan
nilai-nilai manusia). Teori humanistic dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga)
dalam psikologi, kekuatan humanistic ini memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah
laku manusia.
9. 9. 2. Aspek-Aspek Kepribadian Karena perhatian utama Rogers kepada perkembangan
kepribadian, maka dia tidak menekankan kepada struktur kepribadian. Meskipun begitu,
dia mengajukan dua konstruk pokok dalam teorinya, yaitu : a)Organisme b)Self
10. 10. 3. Dinamika kepribadian Menurut Sumadi (1982) Rogers meyakini bahwa manusia
dimotivasi oleh kecenderungan atau kebutuhan untuk mengaktualisasi, memelihara dan
meningkatkan dirinya. Kebutuhan ini bersifat bawaan sebagai kebutuhan dasar jiwa
manusia, yang meliputi kebutuhan fisik dan psikis. Sebenarnya manusia memiliki
kebutuhan kebutuhan lainnya namun itu semua tunduk kepada kebutuhan yang satu ini.
Kebutuhan lainnya itu adalah ‘’positif regard of others’’ dan self regars’’.
11. 11. 4. Perkembangan Kepribadian Struktur self menjadi bagian terpisah dari medan
fenomena dan semakin kompleks. Self berkembang secara utuh keseluruhan, menyentuh
semua bagian-bagiannya. a) Pribadi yang Berfungsi Utuh b) Perkembangan Psikopatologi
c) Kecemasan dan Ancaman d) Tingkah Laku Bertahan e) Disorganisasi
12. 12. 5. Kritik Terhadap Teori Rogers Kekuranagan pandangan Rogers terletak pada
perhatiannya yang semata– mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan
untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang
yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang
partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya. Selain itu gagasan
bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia
sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas
dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif. Rogers
juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih
melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau
yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang
mengalami suatu penyakit psikologis.
EORI BELAJAR BEHAVIORISME CLARK LEONARD HULL

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME

CLARK LEONARD HULL

Belajar merupakan sebuah kewajiban bagi manusia. Belajar telah dimulai dari dalam kandungan
hingga akhir hayat. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan
kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan aspek yang ada pada individu. Belajar adalah
proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman (Sudjana, 2000).
Menurut Parwira (2012) belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman. Jadi, belajar merupakan sebuah proses perubahan pada diri manusia
yang dapat dapat dilihat dari tingkah lakunya yang merupakan hasil dari pengalaman.

Kegiatan pembelajaran memiliki berbagai masalah-masalah yang memerlukan solusi.


Permasalahan belajar ini dapat diselesaikan dengan pendekatan secara psikologi. Psikologi merupakan
analisis ilmiah mengenai proses mental dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia
(Ahmad & Supriyono, 2008). Menurut Iskandar (2012), psikologi adalah “ilmu mengenai perilaku”, tetapi
hal yang menarik pengertian “perilaku” yang telah mengalami perkembangan sehingga sekarang ikut
menangani hal yang pada masa lampau disebut pengalaman. Jadi, psikologi merupakan ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia yang nampak.

Cabang psikologi yang memgkaji belajar adalah psikologi pendidikan. psikologi pendidikan
memiliki beberapa pendekatan behaviorisme, kognitifisme, dan humanisme. Kajian pada makalah ini
hanya berfokus pada pendekatan behaviorisme. Pendekatan behavior menitik-beratkan pandangannya
pada aspek tingkah laku lahiriah manusia dan hewan, pendekatan ini melahirkan beberapa teori–teori
belajar. Salah satu teori belajar behaviorisme adalah Systematic behavior theory yang diperkenalkan
oleh Clark Leonard Hull.
Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah apa saja teori behaviorisme menurut Hull
dan bagaimana aplikasinya dalam pendidikan? Tujuannya adalah untuk mengetahui teori behaviorisme
menurut Hull dan aplikasinya dalam pendidikan.

Biografi Clark Leonard Hull

Clark Leonard Hull dilahirkan di Akron, New York pada 24 Mei 1884. Ia dibesarkan di Michigan,
dan mendiami satu kelas selama bertahun-tahun. Hull mempunyai masalah kesehatan di mata,
mempunyai orang tua yang miskin, dan pernah menderita polio. Pendidikan yang ditempuhnya
beberapa kali terputus karena sakit dan masalah keuangan. Tetapi setelah lulus, dia memenuhi syarat
sebagai guru dan menghabiskan banyak waktunya untuk mengajar di sekolah yang kecil (Cherry, 2011).

Setelah memperoleh bachelor dan gelar master di Universitas Michigan, ia beralih ke psikologi,
dan menerima Ph.D. psikologi di tahun 1918 dari University of Wisconsin, dimana dia tinggal selama
sepuluh tahun sebagai instruktur. Penelitian doktornya pada "Aspek kuantitatif dari Evolution of
Concepts" telah diterbitkan dalam Psychological Monographs (Cherry, 2011).

Teori Behavioristik Menurut Hull

Sepanjang karirnya, Hull mengembangkan ide di berbagai bidang psikologi, terutama psikologi
belajar, hipnotis, teknik sugesti. Metode yang paling sering digunakan adalah eksperimental
laboratorium.

Teori belajar Hull berpusat pada perlunya memperkuat suatu pengetahuan yang sudah ada. Inti
tingkat analisis psikologis adalah gagasan mengenai "variabel intervensi," yang dijelaskan sebagai
"unobservable perilaku." Hull sangat berkeras dan taat pada metode ilmiah, yaitu dengan rancangan
percobaan yang dikontrol dan analisis data yang diperoleh. Perumusan deduktif dari teori belajar
melibatkan serangkaian postulat yang akhirnya harus diuji oleh eksperimen (Parwira, 2012).

Salah satu aspek dari pekerjaan Hull adalah pada tes bakat yang akan membuktikan
instrumental dalam perkembangan behaviorismenya. Untuk memfasilitasi penghitungan dari
correlations antara berbagai tes, ia membangun sebuah mesin untuk melakukan perhitungan,
menyelesaikan proyek pada tahun 1925 dengan dukungan dari National Research Council. Selain dari
mesin praktis manfaat, keberhasilan proyek Hull yang bersifat fisik dengan perangkat yang tepat,
susunan komponen yang mampu melakukan operasi karakteristik dari proses mental tingkat tinggi
(Parwira, 2012).

Prinsip-prinsip utama teorinya (Parwira, 2012):

1. Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi
Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.

2. Dalam mempelajari hubungan S - R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau
yang juga dikenal sebagai unsur O (organisma). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang
disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output.

3. Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Darwin
yang mementingkan adaptasi biologis organisma.

Hypothetico- deductive theory adalah teori belajar yang dikembangkan Hull dengan
menggunakan metode deduktif. Hull percaya bahwa pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan
pada teori dan tidak semata-mata berdasarkan fenomena individual (induktif). Teori ini terdiri dari
beberapa postulat yang menjelaskan pemikirannya tentang aktivitas otak, reinforcement, habit, reaksi
potensial, dan lain sebagainya (Iskandar, 2012).

Teori Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip seperti geometri Euclid.
Postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung,
meskipun teorema yang secara logis berasal dari postulat itu dapat diuji. Hull mengajukan enam belas
postulat dalam cakupan enam hal yakni sebagai berikut:

1. Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan representasi neuralnya atau
saraf
 Postulat 1Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya
Jika suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent dengan cepat mencapai
puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi
impuls dan diteruskan kepada saraf sentral dalam beberapa detik dan seterusnya timbul respon. S-R
diubah menjadi S-s-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris, dan
simbol r adalah impuls respon yang masih dalam saraf afferent.
 Postulat 2: Interaksi saraf afferent
Impuls dalam suatu saraf afferent dapat diteruskan ke satu atau lebih saraf afferent lainnya. R timbul
tidak hanya karena satu stimulus, tetapi lebih dari satu S yang lalu terjadi kombinasi berbagai stimulus.
Rumusnya akan berubah menjadi S-r-R.

2. Respon terhadap kebutuhan, hadiah, dan kekuatan kebiasaan


 Postulat 3: Respon-respon bawaan terhadap kebutuhan (tingkah laku yang tidak dipelajari)
Sejak lahir organisme mempunyai hierarki respon penentu kebutuhannya yang timbul karena ada
rangsangan-rangsangan dan dorongan. Respon terhadap kebutuhan tertentu bukan merupakan respon
pilihan secara random, tetapi respon yang memang ditentukan oleh kebutuhannya, misalnya mata kena
debu maka secara otomatis mata berkedip dan keluar air mata. Jika pola respons bawaan pertama tidak
memenuhi kebutuhan, maka akan muncul pola lainnya. Jika tidak ada satupun pola-pola perilaku
bawaan itu yang efektif dalam memenuhi kebutuhan, maka organisme harus mempelajari pola respons
baru.

 Postulat 4: Hadiah dan kekuatan kebiasaan; kontiguitas dan reduksi dorongan sebagai kondisi-kondisi
untuk belajar
Kekuatan kebiasaan akan bertambah jika kegiatan-kegiatan reseptor dan efektor terjadi dalam
persamaan waktu yang menyebabkan hubungan kontiguitif dengan hadiah pertama dan hadiah kedua.
Jika satu stimulus diikuti dengan satu respons yang kemudian diikuti dengan penguatan, maka asosiasi
antara stimulus dan respons itu akan semakin kuat yang disebut dengan habit strength (kekuatan
kebiasaan) [SHR]. Rumusan matematis yang mendeskripsikan hubungan antara SHR dan jumlah pasangan
S dan R yang diperkuat adalah :

SHR = 1 – 10 -0.0305N

N adalah jumlah pemasangan antara S dan R yag diperkuat. Rumusan ini menghasilkan kurva belajar
yang terakselerasi secara negatif, yang berarti bahwa pasangan yang lebih dahulu diperkuat memiliki
lebih banyak efek terhadap belajar ketimbang pasangan selanjutnya.

3. Stimulus pengganti (ekuaivalen)


 Postulat 5: Generalisasi (penyamarataan)
Kekuatan kebiasaan yang efektif timbul karena stimulus lain daripada stimulus pertama yang menjadi
persyaratan bergantung kepada penindakan stimulus kedua dari yang pertama dalam kesatuan yang
terus menerus dari ambang perbedaan, dengan kata lain yang ingin dibentuk merupakan hasil rata-rata
persyaratan stimulus berikutnya. Generalisasi stimulus ini juga mengindikasikan bahwa pengalaman
sebelumnya akan mempengaruhi proses belajar yang sekarang. Hull menyebutnya sebagai generalized
habit strength (kekuatan kebiasaan yang digeneralisasikan).

4. Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon


 Postulat 6: Stimulus dorongan
Hubungan dengan tiap-tiap dorongan adalah stimulus dorongan karakteristik yang intensitasnya
meningkat dengan kekuatan dorongan. Contohnya bibir dan tenggorokan kering yang mengiringi
dorongan haus.

 Postulat 7: Potensi reaksi yang ditimbulkan oleh dorongan


Kekuatan kebiasaan disintesiskan kedalam potensi reaksi dengan dorongan-dorongan primer yang
timbul pada saat tertentu. Rumusannya adalah :

Potensi reaksi = SER = SHR x D

Jadi, potensi reaksi adalah fungsi dari seberapa sering respons diperkuat dalam situasi itu dan sejauh
mana dorongannya ada.

5. Faktor-faktor yang melawan respon-respon


 Postulat 8: Pengekangan reaksi
Respon memerlukan kerja, dan kerja menyebabkan keletihan yang pada akhirnya akan menghambat
respons. Reactive inhibiton (hambatan reaktif) [IR] disebabkan kelelahan, tetapi secara otomatis akan
hilang jika organisme berhenti beraktivitas. Timbulnya suatu reaksi menyebabkan pengekangan reaksi
yang lain. Suatu kejemuan untuk mengulangi respon. Pengekangan reaksi adalah penghamburan waktu
yang spontan.

 Postulat 9: Pengekangan yang dikondisikan (diisyaratkan)


Stimuli yang dihubungkan dengan penghentian respon menjadi pengekangan yang dikondisikan. Respon
untuk tidak merespon dinamakan conditioned inhibition (SIR) (hambatan yang dikondisikan). Baik itu IR
maupun SIR beroperasi melawan munculnya respons yang telah dipelajari dan karenanya merupakan
pengurangan dari potensi reaksi (SER). Ketika IR dan SIR dikurangkan dari SER, hasilnya adalah potensi
reaksi efektif (SER).

Potensi reaksi efektif = SER = SHR x D – (IR+ SIR)

 Postulat 10: Osilasi pengekangan


Potensial pengekangan dihubungkan dengan potensial reaksi yang bergoyang terus menerus pada
waktu itu. Potensi penghambat itu dinamakan efek guncangan (SOR) yang membahas sifat probabilistik
dan prediksi perilaku.

Potensi reaksi efektif sementara = SER = (SHR x D – [IR + SIR]) - SOR

6. Bangkitnya respon
 Postulat 11: Reaksi ambang perangsang
Potensi reaksi efektif yang momentum harus melampaui reaksi ambang perangsang sebelum stimulus
membangkitkan reaksi.

 Postulat 12: Kemungkinan reaksi diatas ambang perangsang


Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang
perangsang.

 Postulat 13: Latensi (keadaan diam atau berhenti)


Latensi [STR] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respon yang dipelajarinya.
Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang makin pendek latensi respon, artinya
respon makin cepat timbul.

 Postulat 14: Hambatan berhenti (ekstingsi)


Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa perkuatan, sebelum berhenti
atau ekstingsi.

 Postulat 15: Amplitudo respon (besarnya respon)


Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi efektif reaksi dalam
sistem saraf otonom.

 Postulat 16: Respon-respon yang bertentangan


Jika potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang bertentangan terjadi dalam
organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi yang mempunyai potensi reaksi yang lebih besar
akan terjadi responnya (Parwira, 2012).

Aplikasi Teori Behavioristik Menurut Hull dalam Pendidikan


Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti:
tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran
yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa
pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi,
sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan
pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar (Jarvis, 2012).

Teori belajar Hull adalah teori reduksi dorongan atau reduksi stimulus dorngan. Mengenai soal
spesiafibilitas tujuan, keterlibatan kelas, dan proses belajar dari yang sederhana ke yang kompleks, Hull
sepakat dengan Thorndike. Menurutnya belajar melibatkan dorongan yang dapat direduksi. Sulit
membayangkan bagaimana reduksi dorongan primer dapat berperan dalam belajar di kelas, tetapi,
beberapa pangikut Hull (misalnya, Janet Taylor Spence) menekankan kecemasan sebagai sebentuk
dorongan dalam proses belajar manusia. Berdasarkan penalaran ini, maka mereduksi kecemasan murid
adalah syarat yang diperlukan untuk belajar di kelas. Tetapi, terlalu sedikit kecemasan tidak akan
menimbulkan proses (karena tidak ada dorongan yang akan direduksi), dan terlalu banyak kecemasan
akan mengganggu. Karenanya, siswa yang merasakan kecemasan ringan ada dalam posisi terbaik untuk
belajar dan karenanya lebih mudah untuk diajari.

Latihan harus didistribusikan dengan cermat agar hambatan tidak muncul. Guru Hullian akan
membagi topik–topik yang diajarkan sehingga pembelajaran (siswa) tidak akan kelelahan yang bisa
mengganggu proses belajar. Topik – topik itu juga diaturkan sedemikian rupa sehingga topik yang
berbeda – beda akan saling berurutan. Misalnya, urutan pelajaran yang baik adalah matematika,
pendidikan olahraga, bahasa Inggris, seni, dan sejarah (Jarvis, 2012).

Miller dan Dollard (1941) meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan sebagai berikut:
Driver: Pembelajaran harus menginginkan sesuatu. Cue: Pembelajaran harus memerhatikan
sesuatu.Response: Pembelajaran harus melakukan sesuatu. Reinforcement: Respons pembelajaran harus
membuatnya mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Menurut teori Hull, kondisi yang disusun secara optimal akan mempermudah siswa untuk
belajar. Belajar di kelas dapat diklasifikasikan dalam tiga tipe yaitu: stimulus discrimination, respon
differentions, dan reward/punishment konsequences. Proses belajar dibedakan menjadi belajar tentang
kebiasaan dan belajar tentang incentiv (Parwira, 2012).
Terdapat dua motivasi terhadap belajar siswa yaitu dorongan atau kebutuhan siswa terhadap
situasi belajar dan harapan murid terhadap konsekuensi belajar. Adanya dorongan belajar, maka belajar
merupakan penguatan. Makin banyak belajar, makin banyak reinforcement (penguatan) menjuadi
makin besar motivasi untuk menggunakan respon yang menuju keberhasilan belajar. Oleh karena itu
guru atau kepala sekolah harus merencanakan kegiatan belajar berdasarkan pengamatan yang dilakukan
terhadap dorongan yang mendasari siswa.

Belajar dipandang sangat erat dengan adaptasi survival. Beberapa pertanyaan dasar yang
menurut teori Hull sangat berperan dalam proses pembelajaran di kelas adalah:

 Bagaimana menyediakan stimuli di kelas dalam usaha membantu kegiatan belajar siswa ke arah
pencapaian tujuan pendidikan dan tujuan-tujuan pengajaran?
 Apa kebutuhan yang paling penting dari setiap siswa?
 Penghargaan apa yang harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa?
 Bagaimana cara untuk meningkatkan dorongan belajar pada siswa?
 Bagaimana merencanakan kegiatan belajar dengan memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan siswa dan
penghargaan-penghargaan yang diperlukan?
 Bagaimana cara meningkatkan kebutuhan membuat kegiatan di kelas agar lebih sesuai dan lebih tepat
dengan kebutuhan siswa? (Ahmad & Supriyono, 2008)
Pertanyaan-pertanyaan tersebut apabila dikaji secara seksama akan memberikan arah dan
rambu-rambu bagaimana pengajaran di kelas harus dilakukan. Arah dan rambu-rambu tersebut adalah :

 Pentingnya tujuan bagi siswa, yang dirumuskan melalui tujuan-tujuan pembelajaran


 Pemberian stimulus oleh guru ditujukan pada pencapaian tujuan pengajaran
 Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh ada tidaknya kebutuhan belajar pada diri siswa
 Motivasi sangat penting dalam pengajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.
 Program belajar-mengajar harus dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan siswa.
 Prinsip-prinsip tersebut hendaknya dijadikan dasar dalam menyusun teori pengajaran.

Kesimpulan

Teori behaviorisme menurut Hull dikelompokkan dalam enam kategori dan 16 postulat. (1)
Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan representasi neuralnya atau
saraf, (2) Respon terhadap kebutuhan, hadiah, dan kekuatan kebiasaan, (3) Stimulus pengganti
(ekuaivalen), (4) Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon, (5) Faktor-faktor yang melawan respon-
respon, (6) Bangkitnya respon. Aplikasi teori Hull dalam pendidikan yaitu: Driver: Pembelajaran harus
menginginkan sesuatu. Cue: Pembelajaran harus memerhatikan sesuatu.Response: Pembelajaran harus
melakukan sesuatu. Reinforcement: Respons pembelajaran harus membuatnya mendapatkan sesuatu
yang diinginkannya.

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya
interaksi antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan). Dengan kata lain, belajar
merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah
laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan pada tingkah lakunya.

Menurut teori ini hal yang paling penting adalah input (masukan) yang berupa stimulus dan
output (keluaran) yang berupa respon. Menurut toeri ini, apa yang tejadi diantara stimulus dan
respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respon. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru
(stimulus) dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus dapat diamati dan diukur.
Teori ini lebih mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting
untuk melihat terjadinya perubahan tungkah laku tersebut. Faktor lain yang juga dianggap
penting adalah faktor penguatan. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya
respon. Bila penguatan diitambahkan maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila
penguatan dikurangi maka responpun akan dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan suatu bentuk
stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk
memungkinkan terjadinya respon.

Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya:

1. Thorndike
Menurut thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Dan
perubahan tingkah laku merupakan akibat dari kegiatan belajar yang berwujud konkrit yaitu
dapat diamati atau berwujud tidak konkrit yaitu tidak dapat diamati. Teori ini juga disebut
sebagai aliran koneksionisme (connectinism).

2. Watson
Menurut Watson, belajar merpakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan
dapat diukur. Dengan kata lain, meskipun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental
dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai
faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental
dalam bentuk benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah
seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.

3. Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variable hubangan antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi
Charles Darwin. Baginya, seperti teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat
terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori ini mengatakan
bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati
posisi sentral dalam seluruh bagian manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir
selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis,walaupun respon yang akan muncul mungkin
dapat bermacam-macam bentuknya.

4. Edwin Guthrie
Demikian juga Edwin, ia juga menggunakan variabel stimulus dan respon. Namun ia
mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan
biologis sebagaimana Clark Hull. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya
lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan
dengan respon tersebut.

5. Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-
konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih
komprehensif. Menurutnya, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui
interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku,
tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme
tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.
Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi
kebiasaan yang dikuasai individu.

Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya:
1. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya,
semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula
hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
2. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan
organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana
unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau
tidak berbuat sesuatu.
3. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan
semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang
atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov


Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya :
1. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua
macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai
reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks
yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa
menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner


Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung
merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

3. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

4. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku
tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah
sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam
operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang
ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang
meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja
diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4. Social Learning menurut Albert Bandura


Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar
yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan
penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata
refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai
hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar
belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan
moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini
juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik
ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie
dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the
treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak
serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan
dorongan.

Dari beberapa tokoh teori behavioristik Skinner merupaka tokoh yang paling besar
pengaruhnya terhadap perkembangan teori behavioristik.

Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi pengembangan teori dan praktik
pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Karena aliran ini
menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik
dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu
yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu
dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin
kuat bila diberikan faktor-faktor penguat (reinforcement), dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.

Teori ini hingga sekarang masih merajai praktik pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak
dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok
Belajar, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di Perguruan
Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau
hukuman masih sering dilakukan. Teori ini memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia
nyata telah terstruktur rapi dan teratur, sehingga siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan
pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin dan
disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan
dengan penegakan disiplin.

Berdasarkan uraian di atas, Inti dari teori belajar behavioristik, adalah


a) Belajar adalah perubahan tingkah laku.
b) Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan
tingkah laku.
c) Pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran yang berupa respon .
d) sesuatu yang terjadi diantara stimulus dan respon tidak dianggap penting sebab tidak
bisa diukur dan diamati.
e) Yang bisa di amati dan diukur hanya stimulus dan respon.
f) Penguatan adalah faktor penting dalam belajar.
g) Bila penguatan ditambah maka respon akan semakin kuat , demikian juga jika respon
dikurangi maka respon juga menguat.

Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas
“mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian keseluruhan.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban yang
benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

ENDEKATAN TEORISASI HULL


Sebagai langkah pertama dalam menyusun teorinya, Hull menyelesaikan
ulasan mendalam terhadap riset-riset belajar yang sudah ada. Lalu dia berusaha
mendeduksi konsekuensi yang dapat diuji berdasarkan ringkasan yang sudah
dibuatnya. Pendekatan Hull dalam membangun suatu teori dinamakan
hypothetical deductive (deduksi hipoteris) atau logical deductive. Teori belajar ini
dikembangkan Hull dengan menggunakan metode deduktif. Hull percaya bahwa
pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan pada teori dan tidak semata-
mata berdasarkan fenomena individual atau secara induktif.
Tipe teorisasi ini menghasilkan sistem yang dinamis dan terbuka (open-
ended). Hipotesis selalu dibuat, beberapa diantaranya dikuatkan oleh hasil
eksperimen dan beberapa lainnya ditolak. Ketika eksperimen mengarah ke arah
yang diprediksikan, maka seluruh teori, termasuk postulat dan teorema menjadi
kuat. Ketika eksperimen menghasilkan hal-hal yang sudah diprediksikan, maka
teori dianggap lemah dan harus direvisi.

Sebuah teori harus terus menerus diperbarui sesuai dengan hasil dari
penelitian ilmiah. Nilai dasar teori ditentukan oleh seberapa kuatkah ia sesuai
dengan fakta yang teramati. Seberapapun abstraknya teori, pada akhirnya mesti
menghasilkan proposisi yang dapat diverifikasi secara empiris, itulah yang terjadi
dalam teori Hull.

KONSEP TEORETIS UTAMA HULL


Teori Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip
seperti geometri Euclid. Postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku
yang tidak dapat diverifikasi secara langsung, meskipun teorema yang secara
logis berasal dari postulat itu dapat diuji. Hull mengajukan enam belas postulat
dalam cakupan enam hal yakni sebagai berikut:
1. Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan
representasi neuralnya atau saraf.
Postulat 1: Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya. Jika suatu perangsang
mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent dengan cepat mencapai
puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara berangsur-angsur. Sesaat
saraf afferent berisi impuls dan diteruskan kepada saraf sentral dalam beberapa
detik dan seterusnya timbul respon. S-R diubah menjadi S-s-R atau S-s-r-R.
Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris, dan simbol r
adalah impuls respon yang masih dalam saraf afferent.
Postulat 2: Interaksi saraf afferent.
Impuls dalam suatu saraf afferent dapat diteruskan ke satu atau lebih saraf
afferent lainnya. R timbul tidak hanya karena satu stimulus, tetapi lebih dari satu
S yang lalu terjadi kombinasi berbagai stimulus. Rumusnya akan berubah
menjadi S-r-R.

2. Respon terhadap kebutuhan, hadiah dan kekuatan kebiasaan.


Postulat 3: Respon-respon bawaan terhadap kebutuhan (tingkah laku yang tidak
dipelajari).
Sejak lahir organisme mempunyai hierarki respon penentu kebutuhannya yang
timbul karena ada rangsangan-rangsangan dan dorongan. Respon terhadap
kebutuhan tertentu bukan merupakan respon pilihan secara random, tetapi
respon yang memang ditentukan oleh kebutuhannya, misalnya mata kena debu
maka secara otomatis mata berkedip dan keluar air mata. Jika pola respons
bawaan pertama tidak memenuhi kebutuhan, maka akan muncul pola lainnya.
Jika tidak ada satupun pola-pola perilaku bawaan itu yang efektif dalam
memenuhi kebutuhan, maka organisme harus mempelajari pola respons baru.
Postulat 4: Hadiah dan kekuatan kebiasaan; kontiguitas dan reduksi dorongan
sebagai kondisi-kondisi untuk belajar.
Kekuatan kebiasaan akan bertambah jika kegiatan-kegiatan reseptor dan efektor
terjadi dalam persamaan waktu yang menyebabkan hubungan kontiguitif dengan
hadiah pertama dan hadiah kedua. Jika satu stimulus diikuti dengan satu respons
yang kemudian diikuti dengan penguatan, maka asosiasi antara stimulus dan
respons itu akan semakin kuat yang disebut dengan habit strength (kekuatan
kebiasaan) [SHR]. Rumusan matematis yang mendeskripsikan hubungan antara
SHR dan jumlah pasangan S dan R yang diperkuat adalah :
SHR = 1 – 10 -0.0305N

N adalah jumlah pemasangan antara S dan R yag diperkuat. Rumusan ini


menghasilkan kurva belajar yang terakselerasi secara negatif, yang berarti bahwa
pasangan yang lebih dahulu diperkuat memiliki lebih banyak efek terhadap
belajar ketimbang pasangan selanjutnya.

3. Stimulus pengganti (ekuaivalen)


Postulat 5: Generalisasi (penyamarataan).
Kekuatan kebiasaan yang efektif timbul karena stimulus lain daripada stimulus
pertama yang menjadi persyaratan bergantung kepada penindakan stimulus
kedua dari yang pertama dalam kesatuan yang terus menerus dari ambang
perbedaan, dengan kata lain yang ingin dibentuk merupakan hasil rata-rata
persyaratan stimulus berikutnya. Generalisasi stimulus ini juga mengindikasikan
bahwa pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi proses belajar yang
sekarang. Hull menyebutnya sebagai generalized habit strength (kekuatan
kebiasaan yang digeneralisasikan).

4. Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon.


Postulat 6: Stimulus dorongan.
Hubungan dengan tiap-tiap dorongan adalah stimulus dorongan karakteristik
yang intensitasnya meningkat dengan kekuatan dorongan. Contohnya bibir dan
tenggorokan kering yang mengiringi dorongan haus.
Postulat 7: Potensi reaksi yang ditimbulkan oleh dorongan.
Kekuatan kebiasaan disintesiskan kedalam potensi reaksi dengan dorongan-
dorongan primer yang timbul pada saat tertentu. Rumusannya adalah :
Potensi reaksi = SER = SHR x D
Jadi, potensi reaksi adalah fungsi dari seberapa sering respons diperkuat dalam
situasi itu dan sejauh mana dorongannya ada.

5. Faktor-faktor yang melawan respon-respon.


Postulat 8: Pengekangan reaksi
Respon memerlukan kerja, dan kerja menyebabkan keletihan yang pada akhirnya
akan menghambat respons. Reactive inhibiton (hambatan reaktif) [IR] disebabkan
kelelahan, tetapi secara otomatis akan hilang jika organisme berhenti
beraktivitas.
Timbulnya suatu reaksi menyebabkan pengekangan reaksi yang lain. Suatu
kejemuan untuk mengulangi respon. Pengekangan reaksi adalah penghamburan
waktu yang spontan.
Postulat 9: Pengekangan yang dikondisikan (diisyaratkan).
Stimuli yang dihubungkan dengan penghentian respon menjadi pengekangan
yang dikondisikan. Respon untuk tidak merespon dinamakan conditioned
inhibition (SIR) (hambatan yang dikondisikan). Baik itu IR maupun SIR beroperasi
melawan munculnya respons yang telah dipelajari dan karenanya merupakan
pengurangan dari potensi reaksi (SER). Ketika IR dan SIR dikurangkan dari SER,
hasilnya adalah potensi reaksi efektif (SER).
Potensi reaksi efektif = SER = SHR x D – (IR+ SIR)
Postulat 10: Osilasi pengekangan.
Potensial pengekangan dihubungkan dengan potensial reaksi yang bergoyang
terus menerus pada waktu itu. Potensi penghambat itu dinamakan efek
guncangan (SOR) yang membahas sifat probabilistik dan prediksi perilaku.
Potensi reaksi efektif sementara = SER = (SHR x D – [IR + SIR]) - SOR

6. Bangkitnya respon.
Postulat 11: Reaksi ambang perangsang.
Potensi reaksi efektif yang momentum harus melampaui reaksi ambang
perangsang sebelum stimulus membangkitkan reaksi.
Postulat 12: Kemungkinan reaksi diatas ambang perangsang.
Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui
reaksi ambang perangsang.
Postulat 13: Latensi (keadaan diam atau berhenti).
Latensi [STR] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respon
yang dipelajarinya. Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang
perangsang makin pendek latensi respon, artinya respon makin cepat timbul.
Postulat 14: Hambatan berhenti (ekstingsi).
Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa
perkuatan, sebelum berhenti atau ekstingsi.
Postulat 15: Amplitudo respon (besarnya respon).
Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi
efektif reaksi dalam sistem saraf otonom.
Postulat 16: Respon-respon yang bertentangan.
Jika potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang
bertentangan terjadi dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi
yang mempunyai potensi reaksi yang lebih besar akan terjadi responnya.

PERBEDAAN UTAMA ANTARA TEORI HULL TAHUN 1943 DENGAN


1952

Motivasi Insentif (K)

Tahun 1943, hull membahas besaran penguatan sebagai variable belajar.


Semakin besar jumlah penguatan, semakin besar jumlah reduksi dorongan. Dan
karenanya semakin besar peningkatan dalam sHr. Eksperimen
mengidentifikasikan bahwa kinerja berubah secara dramatis saat besarnya
penguatan divariasikan setelah belajar selesai. Perubahan kinerja setelah
perubahan besaran penguatan tidak dapat dijelaskan dalam term perubahan sHr
karena perubahan itu terlampau cepat. Kecuali satu atau lebih faktor beroperasi
melawan sHr, nilainya tidak akan turun. Hull mengambil kesimpulan bahwa
organisme belajar sama cepatnya untuk insentif kecil dan insentif besar, namun
binatang melakukannya secara berbeda sesuai dengan variasi besarnya insentif
(K). Perubahan kinerja yang cepat setelah adanya perubahan ukuran penguatan
ini disebut sebagai Crespi Effect .

Dinamisme Intensitas-Stimulus
Menurut hull, stimulus-itensity dynamism adalah variable pengintervensi
yang bervariasi menurut intensitas stimulus eksternal (S). Secara sederhana
dinamisme intensitas-stimulus menunjukkan bahwa semakin besar intensitas
dari suatu stimulus, semakin besar kemungkinan munculnya respons yang telah
dipelajari.

Perubahan dari Reduksi Dorongan ke Reduksi Stimulus Dorongan


Mulanya hull mengikuti teori reduksi belajar, namun kemudian dia
merevisinya menjadi teori drive stimulus reduction dalam belajar. Salah satu
alasan perubahan ini adalah kesadaran jika hewan yang haus diberi air sebagai
penguat agar melakukan beberapa tindakan, akan dibutuhkan banyak waktu
untuk memuaskan dorongan haus ini. Hull menyimpulkan bahwa reduksi
dorongan tidak memadai untuk menjelaskan proses belajar. Yang dibutuhkan
untuk menjelaskan belajar adalah sesuatu yang terjadi setelah penyajian penguat,
dan sesuatu itu adalah reduksi drive stimuli. Seperti telah dikemukakan diatas,
stimuli dorongan untuk dorongan haus mencakup rasa kering di mulut dan bibir
yang pecah. Air dengan segera mereduksi stimulus ini, dan karenanya kini
mendapatkan mekanisme yang dibutuhkannya untuk menjelaskan belajar.
Alasan kedua perubahan dari teori reduksi dorongan ke reduksi stimulus
dorongan diberikan oleh Sheffeld dan Roby (1950), yang menemukan bahwa tikus
yang lapar diperkuat oleh sakarin yang tak mengandung nutrisi, yang tidak
mungkin mereduksi dorongan lapar.

Respon Tujuan Pendahulu Fraksional


Ingatkah, ketika stimulus neural secara konsisten dipasangkan dengan
penguatan primer, ia akan memiliki property penguatan sendiri. Yakni ia menjadi
penguat sekunder. Konsep penguatan sekunder ini sangat penting untuk
memahami operasi fractional antedating goal respon, yang merupakan salah satu
konsep terpenting dari hull. Misalnya kita melatih tikus untuk mencari suatu
makanan lewat jalan yang ruwet. Kita meletakkan si tikus ini di kotak awal dan
akhirnya ia mencapai kotak tujuan yang berisi makanan, penguat primer. Respon
tujuan pendahulu fraksional adalah respon terkondisikan terhadap stimuli, yang
dialami sebelum pencernaan makanan. Contoh dari respon terkondisikan adalah
dimana melibatkan keluarnya air liur, pengunyahan dan penjilatan, akan
dimunculkan oleh berbagi stimuli dalam kotak tujuan saat tikus itu mendekati
makanan.

Hierarki Rumpun Kebiasaan


Karena ada banyak kemungkinan respon nyata terhadap sG tertentu, maka
ada banyak cara untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, rute yang paling mungkin
adalah rute yang paling cepat membawa hewan mendekati penguatan. Menurut
hull pada tahun 1952 “semakin lama penundaan dalam penguatan hubungan di
dalam rantai perilaku tertentu, semakin lemah potensi reaksi dari hubungan itu
terhadap jejak stimulus yang ada pada saat itu”. Ada hubungan erat antara
hierarki rumpun kebiasaan dengan bagaimana respon tujuan pendahuluan
fraksional dan stimulus yang menimbulkannya beroperasi dalam proses berantai
ini. Respons yang paling cepat membawa hewan berjumpa dengan penguat
sekunder akan menjadi respons sekunder karena respons itu memiliki nilai sEr
tertinggi. Semakin lama penundaan penguatan semakin rendah nilai sEr. Jadi ada
hierarki respons yang diasosiasikan dengan setiap sG dan karenanya ada
sejumlah besar rute disepanjang jalur yang ruwet. Jika satu rute yang berisi
respons-respons dengan nilai sEg tertinggi tertutup, jalur selanjutnya dalam
hierarki itu akan dipilih, dan begitu seterusnya.

Ringkasan Sistem Terakhir Hull


Ada tiga macam variable dalam teori hull :

1. Variabel Bebas (independent), yang merupakan kejadian stimulus yang


secara sistematis dimanipulasi oleh eksperimenter.
2. Variabel Pengintervensi (intervening), yakni proses yang dianggap terjadi
di dalam organisme tetapi tidak dapat diamati secara langsung. Semua
variable pengintervensi dalam sistem hull didefinisikan secara operasional.
3. Variabel Terikat(dependen), yakni beberapa aspek dari perilaku yang diukur
oleh eksperimenter dalam rangka menentukan apakah variable bebas
punya efek atau tidak.

PANDANGAN HULL TENTANG PENDIDIKAN


Teori belajar hull adalah teori reduksi dorongan atau reduksi stimulus
dorongan. Mengenai soal spesifiabilitas tujuan, ketertiban kelas, dan proses
belajar dari yang sederhana ke yang kompleks. Namun menurutnya, belajar
melibatkan dorongan yang dapat direduksi. Sulit membayangkan bagaimana
dorongan primer dapat berperan dalam belajar di kelas, tetapi beberapa pengikut
hull menekankan kecemasan sebagai sebentuk dorongan dalam proses belajar
manusia. Latihan harus didistribusikan dengan cermat agar hambatan tidak
muncul. Guru hullian akan membagi topik-topik yang diajarkannya sehingga
pembelajar (siswa) tidak akan kelelahan yang bisa mengganggu proses belajar.
Miller dan Dollard (1941) meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan
sebagai berikut :
Ø Drive : Pembelajar harus menginginkan sesuatu
Ø Cue : Pembelajar harus memerhatikan sesuatu
Ø Response : Pembelajar harus melakukan sesuatu
Ø Reinforcement :Respon pembelajar harus membuatnya mendapatkansesuatu
yang diinginkannya.
Evaluasi Teori Hull
Kontribusi
Teori Belajar Hull berpengaruh besar terhadap psikologi. Marx dan Cronan
Hilix (1987), berkata :
“Kontribusi terpenting dari Hull untuk psikologi adalah dia menunjukkan manfaat
dari mengarahkan pandangan seseorang terhadap tujuan utama dari teori
perilaku yang sistematis dan Ilmiah”. Dia mempopulerkan pendekatan
behafioristik yang amat obyektif.
Cakupan teori Hull ini adalah perpaduan antara definisi variabel yang
detail, mengundang banyak penelitian empiris. Teori Hull adalah teori pertama
yang memenuhi kriteria Popper. Penegasan Hull pada definisi yang tepat dan
pernyataan matematika yang menghubungkan konsep – konsepnya dengan
perilaku telah memberi arah yang jelas untuk pengujian teorinya. Menurut Hull,
penguatan bergantung pada reduksi dorongan atau stimuli dorongan yang
dihasilkan oleh kondisi kebutuhan psikologis. Hipotesis reduksi dorongan adalah
usaha pertama untuk membedakan diri definisi pemuas atau penguat yang
kurang tegas yang menjadi ciri teori Thorndike dan Skinner. Hull juga merupakan
orang pertama yang membuat prediksi yang persis tentang efek gabungan dari
belajar dan dorongan terhadap perilaku dan tentang efek keletihan (via hambatan
reaktif dan terkondisikan).
Kritik
Hull dikritik karena kurang teorinya kecil sekali manfaatnya untuk
menjelaskan perilaku diluar laboratorium karena terlalu menekankan pada
konsep yang di definisikan secara operasional dan karena memberikan definisi
yang tidak konsisten.
Koch (1954) menunjukkan bahwa Hull tidak merevisi teorinya saat data
problematik dan mungkin ia mengabaikan hasil – hasik yang bertentangan.
Malone (1991) menggambarkan Hull sebagai periset yang menggunankan
kekuatan fasilitas risetnya dan mahasiswanya yang berbakat serta pengaruhnya
terhadap editor – editor jurnal ilmiah untuk menyerang setiap lawannya dan
karenanya dia mengubah “sistem yang mengoreksi dirinya sendiri menjadi
sistem yang mengekalkan dirinya sendiri.
Teori Hull termasuk dari slah satu teori paling heuristik dalam sejarah
psikologi selain pemicu banyak eksperimen, penjelasan Hull mengenai
penguatan, dorongan, pelenyapan dan generalisasi menjadi kerangka standar
acuan dalam diskusi konsep – konsep tersebut sampai saat ini.

O. Hobart Mowder
O. Hobart Mowder (1970-1982) yang lahir di Unionville, pada saat di Yale
sangat dipengaruhi oleh Hull.

Problem Pengkondisian Penghindaran


Karier Mowrer sebagai teoritis belajar dimulai dengan usahanya untuk
memecahkan problem belajar penghindaran( avoidance learning ) yang di hadapi
oleh teori Hull. Jika aparatus ditata sedemikian rupa sehingga organisme itu akan
dengan cepat belajar melakukan respons saat distrum. Prosedur ini dinamakan
escape conditioning (pengkondisian untuk melarikan diri)
Gambar diagram :

Ari dari rasa sakit


( penguatan )

Sakit
( Setrum Listrik)

Sinyal
( Cahaya )

Sakit
( Setrum Listrik)

Selain adanya sinyal yang mendahului setrum, prosedurnya sama dengan


pengkondisian melarikan diri. Prosedur yang digunakan ialah :
Lari dari rasa sakit
( penguatan )

R
Teori Belajar dua Faktor

Mowrer mencatat bahwa tahap – tahap awal dari pengkondisian


penghindaran ditata sedemikian rupa sehingga menjadi pengkondisian klasik
atau pavlovian. Faktor pertama dalam teori ini adalah pengkondisian klasik atau
pavlovian. Mowrer menyebut pengkondisian ini sebagai sign learning ( belajar
tanda atau isyarat ) sebab ia menjelaskan bagaimana stimuli yang sebelumnya
netral, melalui asosiasi dengan US-US tertentu, menjadi tanda atau isyarat akan
bahaya dan karenanya menimbulkan rasa takut. Faktor ke dua dalam teori dua
faktor adalah sebagai solution learning ( belajar solusi ), dan ini oleh Hull dan
Thorndike dinamakan pengkondisian instrumental atau oleh skinner dinamakan
pengkondisian operan. Belajar solusi adalah belajar untuk melakukan aktifitas –
aktifitas yang akan menghentikan stimuli aversif ( buruk ) atau emosi negatif,
seperti rasa takut, yang ditimbulkan oleh stimuli yang menjadi tanda bahaya
melalui pengkondisian klasik.

Penguatan Dekremental dan Inkremental


Dalam analisisnya, Mowrer pertama – tama membedakan antara US yang
menghasilkan penambahan (increment) dorongan, misalnya kejutan setrum, dan
US yang menghasilkan pengurangan dorongan, misalnya makanan. Yang disebut
belakangan ini dinamakan decremental reinforcers ( penguat dekremental )
karena mengurangi suatu dorongan, yang dalam contoh ini adalah rasa lapar.
Yang disebut pertama dinamakan incremental reinforcers ( penguat incremental )
karena menghasilkan atau menambah dorongan. Untuk dua jenis US itu, adalah
mungkin untuk menghadirkan CS diawal atau pada saat penghentiannya.

Semua Bentuk Belajar adalah Belajar Tanda


Dalam versi terakhir teori Mowrer ( 1960 ), semua bentuk belajar dianggap
sebagai bentuk belajar tanda. Mowrer telah menunjukkan bahwa stimuli eksternal
yang diasosiasikan dengan US positif, seperti terminasi rasa sakit atau penyajian
makanan, akan menimbulkan emosi kelegaan dan harapan. Demikian pula, stimuli
eksternal yang diasosiasikan dengan US negatif, seperti datangnya rasa sakit
atau penarikan makanan, akan menimbulkan rasa takut dan kecewa. Dan dalam
teori terakhir ini, emosi adalah penting menurutnya. Emosi yang ditimbulkan oleh
stimuli internal dan eksternal akan menyediakan sistem pedoman prilaku primer.
Dengan penekanan pada emosi ini.

KENNETH W. SPENCE
teori Kenneth merupakan pengikut Hull yang setia ,dia menjadi juru bicara
utama bagi teori Hullian setelah Hull meninggal.Selama bertahun-tahun Hull dan
Spence saling mempengaruhi dalam mengembangkan teorinya.Keduanya bekerja
sama dengan erat sehingga tak jarang kerja mereka di sebut sebagai belajar Hull-
Spence.tetapi pada akhirnya Spence membuat perubahan radikal dalam teori
Hullian tradisional dan dengan demikian ia menciptakan teori belajar sendiri.

Spence memberikan konstribusi penting bagi teori belajar . Salah satunya


belajar Diskriminasi , dalam belajar diskriminasi hewan di beri dua stimuli dan di
perkuat untuk merespons satu stimuli dan tidak di perkuat untuk merespons
stimuli satunya lagi.

Berikut ini merupakan Asumsi bahwa Spence membuat belajar dalam situasi
di mana organisme harus memilih satu di antara dua objek (Spence ,1936 ,1937):

1. Kekuatan Kebiasaan (SHR) menuju stimulus yang di perkuat akan meningkat


seiring dengan penguatan.

2. Hambatan (IR dan SIR) ke stimulus yang tidak di perkuat terbentuk melalui
percobaan non-pengetahuan.

3. Kekuatan kebiasaan dan hambatan menghasilkan stimuli yang sama dengan


stimuli yang di perkuat dan yang tak di perkuat.

4. Besarnya kekuatan kebiasaan yang di generalisasikan adalah lebih besar


ketimbang besarnya hambatan yang di generalisasikan .
5. Kekuatan kebiasaan yang di generalisasikan dan hambatan yang di
generalisasikan berkombinasi menurut deret hitung.

6. Stimulus mana yang akan di dekati akan tergantung pada penjumlahan deret
hitung dari pendekatan (kekuatan kebiasaan) dan tendensi penghindaran
(hambatan).

7. Ketika dua stimuli di hadirkan stimulus dengan kekuatan kebiasaan terbesarlah


yang akan di dekati dan di respons.

Dengan asumsi-asumsi ini ,spence bias menggunakan teori Hullian untuk


menjelaskan fenomena yang di sebut oleh teoretisi kognitif sebagai bukti yang
menentang teori Hullian. Asumsi dan riset Spence tidak hanya menahan
serangan argument teoretisi kognitif, tetapi juga menjadi pijakan riset tentang
belajar Diskriminasi selama bertahun-tahun.

Penyangkalan bahwa pengetahuan adalah kondisi yang di butuhkan untuk


pengkondisian instrument.Hullian kesulitan untuk menjelaskan hasil dari
eksperimen latent learning (belajar latent),yang tampaknya mengindikasikan
bahwa hewan dapat belajar tanpa di perkuat. Jadi istilah belajar latent mengacu
pada belajar yang terjadi tanpa penguatan.Tolman dan pengikutnya berpendapat
bahwa hasil ini menunjukkan bahwa belajar terjadi tanpa bergantung pada
penguatan. Hull percaya bahwa belajar terjadi pada tingkat yang sama entah itu
penguatnya (k) besar atau kecil. Jadi, menurut Hull meskipun penguat dalam
situasi ini kecil ,ia sudah cukup untuk menyebabkan hewan belajar di mana
penguat itu berada.

Spence tidak puas dengan interprestasi Hull terhadap eksperimen belajar


laten ini dan kemudian ia mengemukakan pendapatnya sendiri, Spence
menyimpulkan bahwa pengkondisian instrumental terjadi tanpa bergantung pada
penguatan.Spence bukan teoritisi penguatan (seperti Hull) tapi sebaliknya dia
adalah teoritisi kontiguitas (seperti Guthrie).

Spence (1960) berpendapat tentang pengkondisian instrumental yakni


sebagai berikut: “kekuatan kebiasaan (H) dari respons instrumental di asumsikan
sebagai fungsi dari sejumlah kejadian respons (NR) dalam situasi tertentu dan
tidak bergantung pada ada tidaknya penguat.jadi ,jika respons terjadi aka nada
peningkatan H terlepas dari apakah ada penguat atau tidak. Asumsi ini
tampaknya menjadikan rumusan ini sebagai teori kontiguitas,bukan teori
penguatan.
Menurut Spence penguatan hanya mempengaruhi lewat incentive
motivation (motivasi insentive [K] ) , Spence menghubungkan K langsung dengan
mekanisme rG-sG yang bekerja mundur dengan suatu teka-teki dan akhirnya
membimbing prilaku hewan dari kotak awal ke kotak tujuan . Spence
menambahkan konsep insentif ini ke proses pembimbing otomatis. Menurut
Spence ,kekuatan dari rG-sG di tentukan oleh K ,dan semakin kuat rG-sG semakin
besar intensitas untuk melihat jalur itu .secara sederhana dapat dikatakan
mekanisme rG-sG menimbulkan ekspektasi penguatan dalam diri hewan ,yang
memotivasinya untuk lari ,dan semakin besar ekspektasinya ,semakin kencang
larinya. Dengan mendiskusikan mekanisme rG-sG sebagai alat untuk menimbulkan
ekspektasi , Spence menggerakkan teori behavioristic Hull mendekati teori
kognitif tolman.spence percaya bahwa hukum yang sama yang berlaku untuk
asosiasi S-R juga berlaku untuk mekanisme rG-sG.

Menurut Spence ,K adalah pemberi energy bagi prilaku yang di


pelajari,akan tetapi mekanisme rG-sG membutuhkan penguatan agar bisa
berkembang ,dan mekanisme inilah yang menentukan apakah suatu organisme
akan melakukan respons yang telah di pelajari atau tidak dan,jika ia
melakukannya ,seberapa besarkah semangatnya.

Perubahan dalam persamaan dasar Hull, ia mengombinasikan komponen-


komponen teori utamanya sebagai berikut:

sER = D x K x sHR- (IR+SIR)

persamaan ini berarti jika D atau K sama dengan nol, respons yang telah di
pelajari tidak akan muncul betapapun tingginya nilai sHR. menurut Hull ,berapa
kali pun hewan di perkuat untuk melakukan suatu respons dalam satu situasi ,ia
tidak akan menampilkan respons itu jika hewan itu tidak memiliki dorongan.sekali
lagi Spence mengatakan bahwa asumsi Hull ini tak bisa di pertahankan dan dia
merevisi persamaan Hull menjadi,

sER = (D + K) x SHR - IN

Spence menambahkan D dan K, bukan mengalikannya seperti yang di


lakukan Hull. Impllikasi utama dari revisi Spence adalah bahwa respons yang
telah di pelajari akan muncul meski tidak ada dorongan . implikasi lain dari revisi
persamaan oleh Spence ini adalah selama D dan SHR nilainya di atas nol
,organisme akan memberikan respons yang telah di pelajari walaupun K nilainya
nol.

Pada Teori Frustasi Kompetisi Penyelapan, Hull menjelaskan bahwa ketika


penguatan di hilangkan dari situasi (K=0) , IR dan SIR menjadi prilaku dominan dari
prilaku, dan hewan berhenti melakukan respons yang telah di pelajari. Spence
tidak setuju dengan penjelasan Hull tersebut ,dan mengusulkan competition
theory of extinction (teori frustasi kompetisi penyelapan).karena menurut Spence
jika hewan tidak di beri penguatan primary frustation (RF) atau frustasi
primer.dengan meneruskan percobaan non-penguatan hewan akan belajar
mengantisipasi frustasi ,fractional anticipatory frustration reaction (reaksi
antisipatoris fraksional) [rF] ,sebagaimana ia belajar mengantisipasi penguatan
selama akuisi (rC).

Jadi, Hull menjelaskan penyelapan dalam term keletihan yang berasaldari


tindakan merespons saat tidak ada penguatan ,sedangkan Spence menjelaskan
penyelapan sebagai akibat dari intervensi aktif terhadap prilaku yang telah di
pelajari oleh respons yang di sebabkan oleh frustasi.teori Spence dapat di
anggap teori behavioristic , tetapi di bandingkan teory Hull, teori Spence adalah
teory behavioristic yang lebih cocok dengan teory kognitif.

ABRAHAM AMSEL
Karya Amsel mengombinasikan ide Hull dengan Ivan Pavlov untuk
mengembangkan pendapat Spence bahwa pelenyapan terjadi karena adanya
respons-respons yang saling bersaing yang menyebabkan frustasi. Teori frustasi
memiliki empat properti-properti yang berasal dari frustasi tujuan :

a. Frustasi Primer (RF) adalah efek seperti efek dorongan yang muncul setelah tidak
ada imbalan. Amsel mengasumsikan bahwa setelah satu organisme di perkuat
beberapa kali dalam satu situasi ,ia akan belajar mengharapkan penguatan dalam
situasi itu.

b. Stimulasi internal yang berasal dari RF. Amsel mengasumsikan bahwa reaksi
yang tak di pelajari terhadap nonimbalan menimbulkan efek menimbulkan
dorongan ,dan dalam trdisi Hullian , di asumsikan menghasilkan RF menghasilkan
stimulus dorongan sendiri yang di namakan frustration drive stimulus (stimulus
dorongan frustasi) [SF].

c. Properti Frustasi ketiga dan keempat ialah respons yang dikondisikan oleh
stimuli environmental yang terjadi di hadapan RF dan di hadapan stimuli
tanggapan internal yang di produksi oleh respons yang di kondisikan. properti ini
berkombinasi melahirkan conditioned anticipatory frustration (frustasi
antisipatoris yang di kondisikan).
Sekarang kita telah sampai pada aspek yang paling penting dalam teori
Amsel ,penjelasan tentang partial reinforcement effect (efek penguatan parsial
[PRE] ) , terkadang di sebut efek pelenyapan penguatan parsial (PREE). PRE
merujuk pada fakta bahwa di butuhkan waktu lebih lama untuk melenyapkan
suatu respons jika ia sesekali di perkuat selama training ketimbang ia di perkuat
secara terus menerus. Dari penjelasan Amsel tentang PRE kita dapat
menyimpulkan bahwa ada banyak variasi dalam prilaku yang mengiringi tahap
training penguatan parsial.yakni ketika stimuli yang sama dalam apparatus
percobaan itu menimbulkan tendensi mendekati atau menghindari,kecepatan lari
hewan akan bervariasi dari satu percobaan ke percobaan lainnya.

Teori Amsel tentang non-penguatan (nonreinforcement) yang bersifat


frustratif ini hanyalah salah satu dari banyak perluasan mekanisme r G-sG dari Hull
– Spence.dalam kenyataannya ,ulasan terhadap berbagai penggunaan
mekanisme rG-sG untuk menjelaskan berbagai macam fenomena psikologi akan
menjadi inspirasi untuk melakukan studi tersendiri.

NEAL E. MILLER : VISCERAL CONDITIONING DAN BIOFEDDBACK

Di antara mahasiswa Doktoral Hull di Yale adalah NIEL E. MILLER (1909-


2002), seorang periset yang memperluas pengaruh Hullian ke berbagai macam
area teori dan terapan. Miller menulis Social Learning and imitation , sebuah teori
penguatan behavioristic yang mengkaji belajar observasional dan imitasi . Dollar
dan Miller juga menulis Personality and Psicoteraphy, sebuah sintesis
behaviorisme Hullian dan Psikodinamika Freudian. Di antara berbagai konstribusi
Miller adalah dia menunjukkan bahwa respons internal yang otonom dapat di
kondisikan dengan menggunakan procedure training operan.temuan ini menjadi
basis bagi teknik terapi yang di pakai sekarang dan tetap menjadi kontroversi
riset sampai sekarang.

Kini ada banyak eksperimen sebagaian di antaranya juga di lakukan oleh


Miller tentang manusia maupun nonmanusia dapat mengontrol lingkungan
internalnya sendiri. Misalnya ,di temukan bahwa individu dapat mengontrol detak
jantungnya ,tekanan darahnya, dan suhu tubuhnya. Suatu perangkat mungkin di
pakai untuk menunjukkan kepada si pasien perubahan kejadian internal yang
ingin mereka control , misalnya tekanan darah atau detak jantung . display
semacam ini di namakan biofeedback karena ia memberi informasi kejadian
biologis di dalam dirinya. Feedback itulah yang di butuhkan untuk mempelajari
kejadian internal. dalam satu pengertian, informasi itu sendiri berperan sebagai
penguat. Biasanya setelah monitoring biofeedback selama beberapa waktu
,pasien akan menyadari keadaan internal mereka dan dapat merespons sesuai
dengan keadaan.

Akan tetapi Periset menemukan bahwa dalam dua puluh enam studi yang
di control dengan ketat, teknik biofeedback tidak lebih efektif ketimbang dua
teknik palacebo ,termasuk kondisi biofeedback phoney. Biofeedback sering di
pakai untuk merawat sakit kepala kronis meskipun hasil terapinya dalam
beberapa kasus di kaitkan dengan efek nonspesifik dari ekspektasi positif di
pihak pasien dan praktisinya.

Teknik biofeedback kini di pakai secara luas ,tetapi harus memastikan


gangguan mana yang paling mudah di atasi dengan teknik biofeedback,terutama
jika di pakai untuk melakukan terapi untuk kondisi yang serius ,mulai dari
kecanduan alcohol hingga disfungsi neurologis.

Menurut teori belajar behaviorisme, belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang yang
tampak dan dipengaruhi oleh adanya stimulus dan respons. Nah dipihak ahli teori belajar
Kognitif lain lagi, mereka memandang bahwa belajar bukan semata-mata proses perubahan
tingkah laku yang, melainkan sesuatu yang kompleks yang sangat dipengaruhi oleh kondisi
mental siswa yang tidak tampak.

Pengertian Teori Belajar Kognitif

Kognitif berasal dari bahasa Inggris “Cognitive” yang bermakna mengerti atau pengertian.
Diartikan secara luas bahwa Cognition (Kognisi) adalah perolehan pengetahuan, penataan dan
penggunaannya. Kalau arti secara umumnya adalah kemampuan intelektual yang terdiri dari
beberapa tahap mulai dari Knowledge (Pengetahuan), Comprehention (Pemahaman), Aplication
(Penerapan), Analysis (Analisis), Sinthesis (Sintesa), sampai Evaluation (Evaluasi). Ada juga
yang mengartikan kognitif sebagai kemampuan untuk mengembangkan rasional (akal).

Pembelajaran bagi aliran kognitif dipandang bukan hanya sekedar mendapat stimulus dan
menghasilkan respons yang mekanistik, tetapi pembelajaran juga melibatkan kondisi mental
didalam individu pembelajar yang berhubungan dengan persepsi, perhatian, motivasi dan lain-
lain. Sehingga belajar dipahami sebagai suatu proses mental yang aktif dalam memperoleh,
mengingat dan menunjukkan kedalam perilaku. Perilaku yang nampak tidak dapat diamati dan
diukur apabila tidak melibatkan proses mental seperti kesadaran, motivasi, keyakinan dan proses
mental lainnya.
Teori belajar kognitif adalah teori yang menjelaskan proses pemikiran dan perbedaan kondisi
mental serta pengaruh faktor internal dan eksternal dalam menghasilkan belajarnya seorang
individu. Apabila proses kognitif bekerja normal, maka perolehan informasi dan penyimpanan
pengetahuan akan bekerja dengan baik pula. Namun apabila proses kognitif bekerja tidak
sebagaimana mestinya, maka terjadilah masalah dalam belajar.

Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif

Teori Belajar Kognitif menyiratkan bahwa proses yang berbeda mengenai pembelajaran dapat
dijelaskan dengan menganalisis proses mental terlebih dahulu. Ini mengemukakan bahwa dengan
proses kognitif yang efektif, pembelajaran menjadi lebih mudah dan informasi baru dapat
disimpan dalam memori untuk waktu yang lama. Di sisi lain, proses kognitif yang tidak efektif
mengakibatkan kesulitan belajar yang dapat dilihat kapan saja selama masa hidup seseorang.

Pada umumnya Prinsip teori Belajar Kognitif antara lain sebagai berikut;

1. Proses lebih penting daripada hasil


2. Disebut juga sebagai model perseptual
3. Persepsi menentukan tingkah laku seseorang serta pemahaman terhadap situasi berhubungan
dengan tujuan belajar.
4. Perubahan persepsi merupakan proses pembelajaran yang kadang tidak namak dalam bentuk
tingkah laku.
5. Situasi belajar atau materi pelajaran yang dipisah-pisah menjadi komponen-komponen kecil
atau dipisah-pisah akan menghilangkan makna.
6. Belajar adalah merupakan proses internal yang terdiri dari perolehan informasi, ingatan,
pengolahan informasi dan aspek kejiwaan lainnya.
7. Belajar juga merupakan aktivitas berpikir yang kompleks.
8. Dalam penerapannya dalam pembelajaran teori belajar ini tampak pada tahap-tahap
perkembangan (J. Piaget), Advance Organizer (Ausubel), Pemahaman Konsep (Bruner), Hierarki
Belajar (Gagne), dan Webteaching (Norman).
9. Keterlibatan dan keaktifan Peserta Didik sangat penting dalam pembelajaran.
10. Materi pelajaran dan proses pembelajaran disusun dengan pola mulai dari yang sederhana
sampai ke yang kompleks.
11. Keberagaman individu peserta didik perlu diperhatikan, karena sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan belajarnya.

Para Tokoh Teori Belajar Kognitif

Beberapa tokoh teori belajar Kognitif yang teorinya banyak diterapkan dalam pendidikan antara
lain:

1. Max Wertheimer (1880-1943), Kurt Koffka (1886-1941), Wolfgang Kohler (1887-1967),


Mereka bertiga merupakan pelopor teori Gestalt. Mereka berpendapat bahwa keseluruhan lehih
bermakna daripada bagian-bagian bagi kognisi manusia. Sehingga proses pembelajaran baiknya
dimulai dari keseluruhan (Gestalt) lalu menganalisir unsur-unsurnya atau bagian-bagiannya.

2. Kurt Levin (1890-1947)

Kurt Levin merupakan pengembang teori motivasi disekitar medan. Inti teorinya dalam
kaitannya dengan pembelajaran ialah bahwa semakin peserta didik dekat dengan medan belajar,
motivasi belajar semakin kuat dibanding dengan peserta didik yang lebih jauh dari medan
belajar. Medan yang dimaksud ialah medan psikologis arena belajar peserta didik.

3. Jean Piaget

Jean Piaget mempunyai kontribusi besar dalam pemahaman terhadap perkembangan intelektual
anak. Dengan teori “perkembangan berpikir”nya Ia mengemukakan tahap perkembangan
kognitif anak, yaitu teori sensori-motor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional
formal.

4. David Ausubel

Inti dari teori belajar Ausubel adalah belajar bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan
suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat
dalam struktur kognitif seseorang. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau
fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk
menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik
dan tidak mudah dilupakan.

5. Jerome Bruner

Jarome Bruner mengusulkan teori yang disebutnya free discovery learning atau belajar
penemuan. Inti dari teorinya memandang bahwa manusia adalah sebagai pemproses, pemikir,
dan pencipta informasi. Oleh karenanya, dalam belajar yang terpenting adalah cara-cara
bagaimana seseorang secara aktif memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi
yang diterimanya.

6. Albert Bandura

Bandura menghasilkan sebuah teori dari turunan teori belajar kognitif yang disebut “Belajar
Sosial”. Bermula dari pendapatnya tentang teori kognitif sosial yang merupakan faktor kognitif,
sosial dan juga perilaku mempunyai peran penting dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa faktor
kognitif merupakan ekspektasi peserta didik untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial
mencakup pengamatan dan pengalaman pembelajar terhadap perilaku orang-orang disekitar
lingkungannya.

7. Robert Gagne (1977)


Berlandasarkan teori belajar kognitif, maka Gagne menghasilkan suatu model pembelajaran yang
disebut “Peristiwa Pembelajaran”. Dalam model peritiwa pembelajaran tidak memperhatikan
apakah proses belajar terjadi melalui proses penemuan (Discovery) atau proses penerimaan
(Reception) sebagaimana yang dikenalkan oleh Bruner dan Ausubel, menurutnya yang
terpenting adalah kualitas penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.

Penerapan Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran

Dalam penerapan Teori Belajar Kognitif secara khususnya akan ada model belajar Bruner,
Ausubel, Gagne, dan model perkembangan intelektual Piaget. Adapun secara umum penerapan
teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Belajar tidak harus berpusat pada guru tetapi peserta didik harus lebih aktif. Oleh karenanya
peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya.
Konsekwensinya materi yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta didik dan
menantangnya sehingga mereka asyik dan terlibat dalam proses pembelajaran.
2. Bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Peserta didik
akan sulit memahami bahan pelajaran Jika frekuensi belajar hitung loncat-loncat. Bagi anak SD
pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda terutama di kelas-kelas
awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret.
3. Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta
didik. Materi dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus
merangsang kemampuan berpikir mereka.
4. Belajar harus berpusat pada peserta didik karena peserta didik melihat sesuatu berdasarkan
dirinya sendiri. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat
egosentrisnya tidak terbunuh.

Demikianlah bahasan tentang teori belajar kognitif dan penerapannya dalam pendidikan. Semoga
bermanfaat bagi rekan guru sekalian.

Berbeda dengan teori behavioristik, teori kognitif lebih mementingkan proses belajar dari
pada hasil belajarnya. Teori ini mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan
antara stimulus dan respon, melainkan tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori kognitif juga
menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks
situasi tersebut. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar
merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Prinsip umum teori Belajar Kognitif sebagaimana dikutip dari


laman http://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-kognitif.html, antara lain:

a. Lebih mementingkan proses belajar daripada hasil

b. DIsebut model perseptual

c. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang
berhubungan dengan tujuan belajarnya

d. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat
sebagai tingkah laku yang nampak

e. Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponen-


komponen yang kecil-kecil dan memperlajarinya secara terpisah-pisah, akan kehilangan
makna.

f. Belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.

g. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

h. Dalam praktek pembelajaran teori ini tampak pada tahap-tahap perkembangan(J. Piaget),
Advance organizer (Ausubel), Pemahaman konsep (Bruner), Hierarki belajar (Gagne),
Webteaching (Norman)

i. Dalam kegiatan pembelajaran keterlibatan siswa aktif amat dipentingkan


j. Materi pelajaran disusun dengan pola dari sederhana ke kompleks

k. Perbedaan individu siswa perlu diperhatikan, karena sangat mempengaruhi keberhasilan


siswa belajar.

Beberapa pandangan tentang teori kognitif, diantaranya:

1. Teori perkembangan Piaget


Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran
konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai
rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan
perkembangan individu. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses
genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem
syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel
syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Piaget tidak melihat perkembangan
kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa
daya piker atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Menurut Piaget, proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi,
dan ekuilibrasi (penyeimbangan antara asimilasi dan akomodasi).

Piaget dikutip dari laman http://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-kognitif.html membagi


tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat, yaitu:
a. Tahap sensorimotorik (umur 0-2 tahun)
Ciri pokok perkembangan berdasarkan tindakan, dan dilakukan selangkah demi
selangkah.
b. Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah penggunanaan symbol atau tanda bahasa,
dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif.
c. Tahap operasional konkret (umur 7/8-11/12 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah sudah mulai menggunakan aturan-aturan
yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan.
d. Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan
logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”.
Adapun beberapa prinsip teori perkembangan Piaget, adalah sebagai berikut:
1) Perkembangan kognitif merupakan suatu proses gentik. Yaitu suatu perkembangan
yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf

2) Semakin bertambah umur maka semakin bertambah kompleks susunan syarafnya dan
akan meningkat pula kemampuannya. Daya pikir anak yangb berbeda usia akan berbeda
secara kualitatif

3) Proses adaptasi mmepunyai dua bentuk dan terjadi secara simultan yaitu akomidasi
dan asimilasi

4) Asimilasi adalah proses perubahan apa yang di pahami seseuai denganstruktur


kognitif. (apabila individu menerima infomasi atau pengalaman baru maka informasi
tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang dipunyai)

5) Akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif sehingga dapat dipahami


(apabila struktur kognitif yang sudah dimiliki harus disesuaikan dengan informasi yang
diterima).

6) Proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi dan
ekuilibrasi (penyeimbangan)

7) Asimilasi (proses penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah
dimiliki individu), Akomodasi (proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi
yang baru), Ekuilibrasi (penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi)

8) Seorang anak sudah mempunyai prinsip pengurangan, ketika mempelajri


pembagianmaka terjadi prses intrgtasi antara pengurangan (telah dikuasai)dan
pembagian (info baru) inilah asimilasi.

9) Jika anak diberi soal pembagian, maka situasi ini disebut akomodasi. Artinya anak
sudah dapat mengaplikasikan atau memakai prinsip pembagian dalam situasi baru
10) Proses penyesuaian antara ling luar dan struktur kognitif yang ada dlm dirinya
disebut ekuilibrasi

11) Proses belajar akan mengikuti tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya

12) Tahap sensorimotor (0-2 thn), preoperasional (2-8 thn), operasional konkret(8-11
thn), operasional formal (12-18 thn)

13) Hanya dengan mengaktifkan pengetahuan dan pengalaman secara optimal asimilasi
dan akomodasi pengatahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran sebagaimana dikutip


dari laman http://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-kognitif.html adalah :

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi
dengan teman-temanya.

2. Teori belajar menurut Bruner


Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan
terhadap tingkah laku seseorang. Dalam teorinya, “free discovery learning” ia mengatakan
bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-
contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Menurut Bruner perkembangan kognitif
seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya
sesuai dengan tahap perkembangan orang tersebut.
Model pemahaman dari konsep Bruner (dalam Degeng,1989) menjelaskan bahwa
pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang
berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Menurutnya, pembelajaran yang
selama ini diberikan di sekolah banyak menekankan pada perkembangan kemampuan analisis,
kurang mengembangkan kemampuan berpikir intuitif. Padahal berpikir intuitif sangat penting
untuk mempelajari bidang sains, sebab setiap disiplin mempunyai konsep-konsep, prinsip, dan
prosedur yang harus dipahami sebelum seseorang dapat belajar. Cara yang baik untuk belajar
adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif dan akhirnya sampai
pada suatu kesimpulan (discovery learning).
Beberapa prinsip teori Bruner adalah:

1) Perkembangan kognitif ditandai dengan adanya kemajuan menaggapi rangsang

2) Peningkatan pengatahun bergantung pada perkembangan sistem penyimpanan


informasi secara realistis

3) Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri


sendiri atau pada orang lain

4) Interaksi secara sistematis diperlukan antara pembimbing, guru dan anak untuk
perkembangan kognitifnya

5) Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif

6) Perkembangan kognitif ditandai denfgan kecakapan untuk mengemukakan bebrapa


alternatisf secara simultan, memilih tindakan yang tepat.

7) Perkembangan kognitif di bagi dalam tiga tahap yaitu enactive, iconic, symbolic.

8) Enaktif yaitu tahap jika seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk
emmahami lingkungan sekitaanya. (gigitan, sentuhan, pegangan)

9) Ikonik, yaitu tahap seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-
gambar dan visualisasi verbal (anak belajar melalui bentuk perumpamaan dan
perbandingan
10) Simbolik yaitu tahap seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan abstrak
yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan dalam berbahasa dan logika.( anak belajar
melalui simbol bahasa, logika, matematika)

11) Model pemahaman dan penemuan konsep

12) Cara yang baik untuk belajar adalah memahami konsep, arti, dan hubungan memlalui
proses intuitif untuk akhirnya sampai pada kesimpulan (discovery learning)

13) Siswa diberi kekebasan untuk belajar sendiri melalui aktivitas menemukan
(discovery)

3. Teori belajar bermakna Ausubel


Menurut Ausubel, belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Materi
yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengtahuan yang telah dimiliki siswa
dalam bentuk strukur kognitif. Teori ini banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi
bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang
telah dimiliki siswa.
Hakikat belajar menurut teori kognitif merupakan suatu aktivitas belajar yang berkaitan
dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Atau dengan kata
lain, belajar merupakan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku
yang dapat diamati atau diukur. Dengan asumsi bahwa setiap orang telah memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang
dimilkinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru
beradaptasi dengan struktur kognitif tang telah dimiliki seseorang.
Beberapa Prinsip Teori Ausubel adalah

1) Proses belajar akan terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan


yang tlah dimilikinya dengan pengetahuan baru
2) Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memamahi
makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami

3) Siswa lebih ditekankan unuk berpikir secara deduktif (konsep advance organizer)

Adapun aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran :

a. Keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan

b. Untuk meningkatkan minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan


pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.

c. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana
ke kompleks.

d. Perbedaan individu pada siswa perlu diperhatikan karena faktor ini sangat
mempengaruhi keberhasilan belajar.

Sumber: http://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-kognitif.

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan
dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran
yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik
sebagaimana dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa
secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa.
Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka
mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama
jika menggunakan benda-benda kongkrit.
3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena dengan hanya
mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman
dapat terjadi dengan baik.
4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman
atau informasi baru dengan setruktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan
menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
6. Belajar memahami akan lebih bermaknsa daripada belajar menghafal. Agar bermakna,
informasi baru harus disesuaikan dandihubungkan dengan pengetahuan yang
telahdimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang
dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat
mempengaruhi keberhasilan belajra siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi,
persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.