Anda di halaman 1dari 26

10

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lansia
2.1.1 Pengertian Lansia

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur

kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13

Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang

yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).

Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia

(lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun

merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan

penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan.

Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk

mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan

ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta

peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).

Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia (lansia)

dimulai pada abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun merupakan batas

minimal untuk kategori lansia. Namun, banyak lansia yang masih

menganggap dirinya berada pada masa usia pertengahan. Usia kronologis

biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan dengan kenyataan penuaan lansia.

Setiap orang menua dengan cara yang berbeda-beda, berdasarkan waktu dan

riwayat hidupnya.

Setiap lansia adalah unik, oleh karena itu perawat harus memberikan

pendekatan yang berbeda antara satu lansia dengan lansia lainnya (Potter &

Perry, 2009).
11

2.1.2 Klasifikasi Lansia


Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia berdasarkan

Depkes RI (2003) dalam Maryam dkk (2009) yang terdiri dari : pralansia

(prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun, lansia ialah

seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, lansia resiko tinggi ialah

seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun

atau lebih dengan masalah kesehatan, lansia potensial ialah lansia yang masih

mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan

barang/jasa, lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari

nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

2.1.3 Karakteristik Lansia

Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut: berusia lebih dari 60

tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan),

kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari

kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga

kondisi maladaptif, lingkungan tempat tinggal bervariasi (Maryam dkk,

2008).

2.1.4 Status Kesehatan Lansia

Kesehatan dan status fungsional seorang lansia ditentukan oleh

resultante dari faktor-faktor fisik, psikologik dan social ekonomi. Faktor-

faktor tersebut tidak selalu sama besar perananya sehingga selalu harus di

perbaiki bersamaan dengan perawatan pasien secara menyeluruh. Di Negara-

negara sedang berkembang faktor sosial ekonomi atau financial hampir selalu

merupakan kendala yang penting (Surayadi, 2003).

2.1.5 Tipe-tipe Lansia


12

Tipe lansia dibagi menjadi 5 tipe yaitu tipe arif bijaksana, tipe

mandiri, tipe tidak puas, tipe pasrah dan tipe bingung.

1. Tipe arif bijaksana, yaitu dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri

dengan perubahan jaman, mempunyai kesibukan ,bersikap ramah, rendah

hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan


2. Tipe mandiri, yaitu mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru,

selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi

undangan.
3. Tipe tidak puas, yaitu konflik lahir batin menentang proses penuaan

sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani,

pengkritik dan banyak menuntut.


4. Tipe pasrah, yaitu menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan

agama dan melakukan pekerjaan apa saja.


5. Tipe bingung, yaitu kaget kehilangan, kepribadian, mengasingkan diri,

minder, menyesal, pasif, dan acuh tak acuh (Nugroho 2008).

2.1.6 Proses Penuaan

Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang

dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai

usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan suatu fenomena

yang kompleks multidimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel

dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem. (Stanley, 2006).

Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan

yang maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya

jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan

mengalami penurunan fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan

proses penuaan (Maryam dkk, 2008).


13

Aging process atau proses penuaan merupakan suatu proses biologis

yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah

suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual) kemampuan

jaringan untuk penuaan sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai

dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan

saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh ‘mati’ sedikit demi sedikit .

Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas pada usia berapa kondisi

kesehatan seseorang mulai menurun. Setiap orang memiliki fungsi fisiologis

alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian fungsi tersebut

maupun saat menurunnya. Umumnya fungsi fisiologis tubuh mencapai

puncak pada usia 20-30 tahun. Setelah mencapai puncak fungsi alat tubuh

akan berada dalam kondisi tetapa utuh beberapa saat, kemudian menurun

sedikit demi sedikitsesuai dengan bertambahnya usia (Mubarak 2009).

Pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara

biologis,mental maupun ekonomi. Semakin lanjut usia seseorang maka

kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan

kemunduran pada peran-peran sosialnya (Tamher,2009). Oleh karena itu,

perlu membantu individu lansia untuk menjaga harkat dan otonomi maksimal

meskipun dalam keadaan kehilangan fisik,sosial dan psikologis (Smelthezer,

2009).

2.1.7 Perubahan proses menua

Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadinya

penurunan anatomik dan fungsional atas organ-organnya makin besar.

Penurunan anatomik dan fungsi organ tersebut tidak dikaitkan dengan umur
14

kronologik akan tetapi dengan umur biologiknya (Darmojo 2009). Perubahan

ini terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosioal dan psikologis

(Maryam 2008).

1. Perubahan fisik

Perubahan fisik yang dapat ditemukan pada lansia bebagai macam yang

anatara lain:

a. Kardiovaskuler : kemampuan memompa darah menurun, elastis

pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh

darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.

b. Respirasi : elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat

sehingga menarik nafas lebih berat, dan terjadi penyempitan bronkus.

c. Persyarafan : saraf panca indra mengecil sehingga fungsinya menurun

serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang

berhubungan dengan stres.

d. Muskuloskeletal : cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh

(osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi

kaku.

e. Gastrointestinal : efosagus membesar,asam lambung menurun, lapar

menurun, dan peristaltik menurun.

f. Vesika urinaria : otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan

retensi urine.

g. Kulit : keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Elastisitas

menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih (uban), dan

kelenjar keringat menurun (Nugroho 2011)


15

2. Perubahan sosial
Perubahan fisik yang dialami lansia seperti berkurangnya fungsi

indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya menyebabkan

gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia, misalnya

badannya membungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur

sehingga sering menimbulkan keterasingan. Keterasingan ini akan

menyebabkan lansia semakin depresi, lansia akan menolak untuk

berkomunikasi dengan orang lain (Darmojo 2009).


3. Perubahan psikologis
Pada lansia pada umumnya juga kan mengalami penurunan fungsi

kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,

pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan

reaksi dan perilaku lansia semakin lambat. Sementara fungsi psikomotorik

meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti

gerakan, tindakan, koordinasi menurun, yang berakibat lansia menjadi

kurang cekatan ( Nugroho 2011).

2.1.8 Batasan Umur Lanjut Usia

Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-batasan

umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:

a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1 ayat

2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60

(enam puluh) tahun ke atas”.

b. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi

empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun,
16

lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah 75-90

tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.

c. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :

pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah 40-

55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase

senium) ialah 65 hingga tutup usia.

d. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric

age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric age) itu sendiri

dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-75 tahun), old (75-

80 tahun), dan very old ( > 80 tahun) (Efendi, 2009).

2.2 Demensia
2.2.1 Pengertian
Demensia (pikun) adalah kemunduran kognitif yang sedemikian

beratnya sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan aktivitas sosial.

Kemunduran kognitif pada demensia biasanya diawali dengan kemunduran

memori/atau daya ingat atau pelupa (Nugroho,2008). Demensia atau pikun

adalah penurunan fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan

akibat menurunnya fungsi bagian luar jaringan otak, sehingga mempengaruhi

aktivitas kehidupan sehari-hari seperti menurunnya kemampuan dalam

menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,

kemampuan dalam berkomunikasi dan berbahasa, serta dalam pengendalian

emosi (Atun 2010). Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan

demensia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan kognitif yang

diawali dengan kemunduran daya ingat sehingga memepengaruhi aktivitas

kehidupan sehari-hari.
2.2.2 Klasifikasi demensia
17

Demensia terbagi atas 2 dimensia menurut umur dan menurut level

kortikal. Demensia menurut umur terbagi atas, demensia senilis lansia yang

berumur > 65 tahun dan demensia menurut level kortikal terbagi atas,

demensia kortikal terjadi karena adanya gangguan fungsi luhur, afasia,

agnosia, apraksia sedangkan demensia subkortikal terjadi gangguan yaitu

patis, forgetful,lamban, adanya gangguan gerak (Sjahrir 2004).


2.2.3 Penyebab demensia
Beberapa penyebab demensia anatara lain adanya tumor pada jaringan

otak atau metastasis tumor dari luar jaringan otak, mengalami trauma atau

benturan yang mengakibatkan perdarahan dan terjadinya infeksi kronis

kelainan jantung dan pembuluh darah. Demensia juga disebabkan oleh

kelainan kongenital seperti penyakit huntington, dan penyakit Metschromatic

leukodystrophy (kelainan dari bagian putih jaringan otak) dan faktor menua

(Atun, 2010).
2.2.4 Stadium demensia
Stadium demensia dibagi menjadi 3 yaitu stadium awal, stadium menengah,

stadium akhir.
1. Stadium awal
Gejala stadium awal yang diawali lansia menunjukan gejala sebagai yaitu

kesulitan dalam berbahasa dan komunikasi mengalami kemunduran daya

ingat serta disorientasi waktu dan tempat.


2. Stadium menengah
Pada stadium menengah, demensia ditandai dengan mulai mengalami

kesulitan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dan menunjukan

gejala seperti mudah lupa, terutama untuk peristiwa yang baru dan nama

orang. Tanda lainnya adalah sangat bergantung dengan orang lain dalam

melakukan sesuatu misalnya ke toilet, mandi dan berpakaian.


3. Stadium lanjut
18

Pada stadium lanjut, lansia mengalami ketidak mandirian dan in aktif yang

total serta tidak mengenali lagi anggota keluarga (disorientasi personal).

Lansia juga sukar memahami dan menilai peristiwa yang telah dialami

(Nugroho 2008).
2.2.5 Pemeriksaan demensia
Untuk pemeriksaan pada lansia yang mengalami demensia dibagi atas

pemeriksaan elektrofisiologis, neuro imaging, beberapa langkah praktis

yang dapat dilakukan anatara lain :

1. Riwayat medik umum


Perlu ditanyakan apakah penyandang mengalami gangguan medik yang

dapat menyebabkan demensia seperti hipotiroidims, neoplasma, infeksi

kronik, penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, hipertensi,

hiperlipidemia, diabetes dan arteriosklerosis perifer mengarah ke demensia

vaskuler. Pada saat wawancara biasanya pada lansia demensia sering

menoleh yang disebut head turning sign.


2. Riwayat neurologi umum
Gejala penyerta seperti gangguan motorik, sensorik, gangguan berjalan,

nyeri kepala saat awitan demensia lebih mengindikasikan kelainan

struktural dari pada sebab degeneratif.


3. Riwayat neurobehavioral
Amnesia kelainan neuorobehavioral penting untung diagnosis demensia

atau tidaknya seseorang. Hal ini meliputi komponen memori. (memori

jangka pendek dan memori jangka panjang) orientasi ruang dan waktu,

kesulitan berbahasa, fungsi eksekutif, kemampuan mengenal wajah orang,

bepergian,mengurus uang dan membuat keputusan. (Asosiasi Alzheimer

Indonesia 2003).
2.3 Kognitif
2.3.1 Pengertian kognitif
19

Kognitif adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang

didapatkan dari proses berfikir. Proses yang dilakukan adalah memperoleh

pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat,

menganalisa, memahami, menilai, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas

atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagaikecerdasan atau intelegensi

(Ramdhani.2008).
2.3.2 Fungsi kognitif pada usia lanjut
Fungsi kognitif merupakan suatu proses mental manusia yang meliputi

perhatian persepsi, proses berpikir, pengetahuan dan memori. Sebanyak 75%

dari bagian otak besar merupakan area kognitif (Saladin, 2007). Kemampuan

kognitif seseorang berbeda dengan orang lain, dari hasil penelitian diketahuai

bahwa kemunduran sub sistem yang membangun proses memori dan belajar

mengalami tingkat kemunduran yang tidak sama. Memori merupakan proses

yang rumit karena menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang

(Lumbantobing, 2006).
Prevalensi gangguan kognitif termasuk demensia meningkat sejalan

bertambahnya usia, kurang dari 3% terjadi pada kelompok usia 65-75tahun

dan lebih dari 25% terjadi pada kelompok usia 85 tahun ke atas (WHO,

1998). Proses penerimaan informasi diawali dengan diterimanya informasi

melalui penglihatan (visual input) atau pendengarannya (auditory input)

kemudian diteruskan oleh sensory register yang dipengaruhi oleh perhatian

(attention), ini merupakan bagian dari proses input. Setelah itu informasi akan

diterima dan masuk dalam ingatan jangka pendek (short term memory), bila

menarik perhatian dan minat maka akan disimpan dalam ingatan jangka

panjang (long term memory). Bila sewaktu-waktu diperlukan memori ini akan

dipanggil kembali (Ellis, 1993).


20

Diantara fungsi otak yang menurun secara linier (seiring) dengan

bertambahnya usia adalah fungsi memori (daya ingat) berupa kemunduran

dalam kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali

informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information

retrieval frommemory). Penurunan fungsi memori secara linier itu terjadi

pada kemampuan kognitif dan tidak mempengaruhi rentang hidup yang

normal (Strub, Black,1992).


Perubahan atau gangguan memori pada penuaan otak hanya terjadi

pada aspek tertentu, sebagai contoh, memori primer (memori jangka

pendek/Short term memory) relatif tidak mengalami perubahan pada

penambahan usia, sedangkan pada memori sekunder (memori jangka

panjang/long term memory) mengalami perubahan bermakna. Artinya

kemampuan untuk mengirimkan informasi dari memori jangka pendek ke

jangka panjang mengalami kemunduran dengan penambahan usia.


Dari sebuah penelitian pada orang dengan kondisi normal berusia 62-

100 tahun, disimpulkan bahwa kemampuan proses belajar (learning) atau

perolehan (acquisition) mengalami penurunan yang sama secara bermakna

pada penambahan usia, tetapi tidak berhubungan dengan pendidikan,

sedangkan kemampuan ingatan tertunda (delayed recall atau forgetting)

sedikit menurun tetapi lazimnya tetap, terutama kalau faktor pembelajaran

awal dipertimbangkan (Petersen et al.1992).


Petersen juga telah berhasil melakukan penelitian longitudinal

membandingkan kemampuan kognitif pada usia lanjut normal, gangguan

kognitif ringan (mild cognitive impairment/MCI) dan demensia Alzheimer

ringan, telah disimpulkan bahwa MCI merupakan keadaan transisi antara

kognitif normal dan demensia (terutama Alzheimer). Latar belakang


21

penelitian Petersen adalah bahwa subjek MCI mempunyai gangguan memori

sesuai usia dan pendidikan tetapi tidak ada demensia, sehingga diagnosis MCI

dibuat pada pasien dengan kriteria berikut: (a) ada keluhan memori, (b)

aktifitas hidup sehari-hari normal, (c) fungsi kognisi umum normal, (d)

memori abnormal untuk usia, (e) tidak ada demensia.


2.3.3 Gangguan fungsi kognitif
Pengelompokkan tingkat gangguan fungsi kognitif dapat dibagi

menjadi beberapa kategori. Menurut Kurlowiez (1999), berdasarkan tingkat

keparahan (severity), gangguan fungsi dapat dibagi 3 yaitu : a) tidak ada

gangguan fungsi kognitif, b) gangguan kognitif ringan, dan c) gangguan

kognitif berat.
2.3.4 Struktur dan Fungsi Otak
Didalam otak manusia, diperkirakan terdapat 1 trilyun sel otak.

Sepersepuluh atau sebanyak 100 miliar sel otak tersebut adalah sel otak aktif

sementara sisanya adalah sel pendukung. Didalam setiap sel otak (neuron)

memiliki cabang-cabang yang disebut dendrit. Setiap cabang besar dan

panjang yang dinamakan akson yang berfungsi sebagai jalan keluar utama

dalam menyebarkan informasi yang diterima oleh neuron. Sebenarnya, selain

ditentukan oleh jumlah sel otak yang dimiliki, kecerdasan seseorang juga

ditentukan oleh seberapa banyak koneksi yang biasanya terjadi diantara

masing-masing sel otak (neuron) kemungkinan koneksi yang dapat terjadi

antara setiap sel otak mulai dari 1 hingga 20.000 koneksi inilah yang

sebenarnya menentukan kecerdasan seseorang, bagaimana cara kita untuk

menambah jumlah koneksi antar sel otak dengan cara menggunakan dan

melatih otak sesering mungkin. Semakin sering otak digunakan dan dilatih,

semakin banyak koneksi yang terjadi.


22

Seiring dengan penambahan usia, manusia akan mengalami

kemunduran intelektual secara fisiologis, kemunduran dapat berupa mudah

lupa sampai pada kemunduran berupa kepikunan (Demensia). Kenyataan

menunjukkan bahwa otak menua mengalami kemunduran dalam kemampuan

daya ingat dan kemunduran dalam fungsi belahan otak kanan yang terutama

memantau kewaspadaan, konsentrasi dan perhatian.


Otak manusia bukan terdiri dari gumpalan protein utuh, tetapi terdiri

dari berbagai bagian yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu, otak

terdiri dari otak besar (serebrum) dengan dua belahan (hemisfer) otak kanan

dan kiri yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda bahkan

bertentangan satu dengan yang lain, batang otak (brain stem) dan otak kecil

(serebelum). Otak besar diliputi pada permukaannya oleh kulit otak (kortek

serebri) yang dikenal sebagai “ thinking cup“ atau “ kopiah pintar “ karena

memang di tempat itulah tersimpan kemampuan intelektual manusia.


Otak terbagi dalam bagian-bagian yang disebut lobus dan mempunyai

fungsi-fungsi tertentu. Fungsi pancaindra seperti pusat penglihatan terletak di

lobus oksipitalis (belakang otak), pusat pendengaran di lobus temporalis

(pelipis otak ), pusat perabaan di lobus postsentral (atas otak), pusat penghidu

di bagian lobus temporalis, pusat pergerakan berada di lobus presentral (atas

otak). Pusat-pusat pancaindra tersebut dinamakan pusat sensoris dan masing-

masing pusat sensoris mempunyai area asosiasi untuk memahami rangsangan

sensoris yang masuk.


Sumber daya otak akan meningkat atau dengan kata lain kemampuan

kognitif akan bertambah secara optimal apabila bagian-bagian sensoris dan

area asosiasi tersebut bekerja secara integratif. Sebuah aksi (praksis) yang

menggunakan intergrasi antara sensori auditoris (pendengaran), visual


23

(penglihatan), perabaan, keseimbangan dan gerak akan menghasilkan

peningkatan fungsi kognitif seperti konsentrasi, percaya diri, kontrol diri,

kemampuan organisasi, kemampuan belajar akademis, kemampuan berpikir

secara abstrak dan memberi alasan serta penghayatan tentang kedua sisi otak

dan tubuh (Ayres, 1979).


Berbagai kemampuan kognitif juga berada di berbagai lobus secara

khusus seperti perhatian atau konsentrasi berada di lobus frontalis (di bagian

dahi) terutama bagian otak sisi kanan, pusat berbahasa di lobus frontalis dan

temporalis terutama bagian otak sisi kiri, pusat visuospasial (persepsi dan

orientasi) di lobus parietal (di bagian atas otak) terutama bagian otak sisi

kanan, pusat daya ingat di lobus temporalis (di bagian pelipis otak),

untukdaya ingat visual (apa yang dilihat) di belahan otak sisi kanan.
Lobus yang paling besar dan paling akhir berkembang adalah lobus

frontalis yang berada di daerah dahi, lobus ini merupakan pusat integrasi dari

semua fungsi lobus yang ada. Bersama dengan bagian lobus yang ada di

depannya, lobus prefrontal dan struktur lain mempunyai peran yang sangat

penting dalam kehidupan manusia yaitu kemampuan memori kerja (working

memory) dan kemampuan seseorang dalam pengorganisasian, perencanaan

dan pelaksanaan (executive function). Bagian-bagian otak tersebut

berhubungan dengan struktur yang berada di dalam otak yang disebut system

limbic dan berpengaruh terhadap kemampuan emosional.


Kedua belahan otak (hemisfer kanan dan kiri) disekat oleh sebuah

struktur yang disebut korpus kalosum dan komisura hipokampus yang

merupakan jembatan lintas yang menghubungkan kedua belahan otak

tersebut. Khususnya sel-sel otak di kulit permukaan kedua belahan otak

(korteks serebri) saling dihubungkan langsung oleh serabut saraf melalui


24

korpus kalosum ini. Struktur ini merupakan sarana untuk kerjasama kedua

belah hemisfer dengan cara peralihan, pergeseran dan integrasi fungsi kedua

belahan otak dan struktur ini begitu pentingnya sehingga disebut sebagai

“jembatan emas“(golden bridge) struktur ini mempunyai peranan yang amat

penting bagi keberhasilan peningkatan sumber daya otak, fungsinya

menyalurkan stimulus dari belahan otak kanan ke kiri dan sebaliknya.


Sagan (dalam Springer/Deutsch,1981 ) menyatakan: “ We might say

thatthe human culture is the function of the corpus callosum “(bahwa

kebudayaan manusia merupakan fungsi dari korpus kalosum), hal ini

dibenarkan karena korpus kalosum mengintegrasikan pola pikir analitis

(belahan otak kiri) dengan pola pikir intuitif (belahan otak kanan) dan

mengintegrasikan setiap struktur bagian otak sehingga mempunyai peranan

dalam perilaku manusia (human behavior) dan kebudayaan manusia (human

culture) yang merupakan fungsi dari perilaku manusia.


Hemisfer kanan mempunyai makna sangat penting bagi manusia

karena hemisfer ini merupakan pusat kecakapan hidup (life skills) yang

berarti keterampilan sosial, individual, proses berpikir dan akademik disebut

sebagai fluid intelligence, hemisfer ini juga berperan dalam kemampuan

komunikasi pragmatik, imajinasi, sosialisasi, spiritual, kesenian dan emosi.


2.3.5 Instrumen pengukuran fungsi kognitif Mini Mental Status Examination

(MMSE)
Mini Mental Status Examination merupakan pemeriksaan status

mental singkat dan mudah diaplikasikan yang telah dibuktikan sebagai

instrumen yang dapat dipercaya serta valid untuk mendeteksi dan mengikuti

perkembangan gangguan kognitif yang berkaitan dengan penyakit

neurodegeneratif. Mini mental status examination menjadi suatu metode


25

pemeriksaan status mental yang digunakan paling banyak di dunia. Tes ini

telah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan telah digunakan sebagai

instrumen skrining kognitif primer pada beberapa studi epidemiologi skala

besar demensia (Zulsita 2010).


MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai pertanyaan.

Daftar pertanyaan terdapat pada gambar 1. Cara penggunaannya adalah

sebagai berikut (Folstein, 1975; Setiati,2007):

Nama
Nama Responden : Pewawancara :
Tanggal
Umur Responden : Wawancara :
Jam
Pendidikan : mulai :
MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE)
Nilai Nilai
Maksimum Responden
ORIENTASI
5 Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) berapa dan musim apa?
5 Sekarang kita berada di mana?
(Nama rumah sakit atau instansi)
(Instansi, jalan, nomor rumah, kota, kabupaten, propinsi)

REGISTRASI
3 Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda, misalnya:
(bola, kursi, sepatu). Satu detik untuk tiap benda. Kemudian
mintalah responden mengulang ketiga nama benda tersebut.
Berilah nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar, bila masih salah
ulangi penyebutan ketiga nama tersebut sampai responden
dapat mengatakannya dengan benar:
Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah : ______ kali
ATENSI DAN KALKULASI
5 Hitunglah berturut-turut selang 7 angka mulai dari 100 ke
bawah. Berhenti setelah 5 kali hitungan (93-86-79-72-65).
Kemungkinan lain ejaan kata dengan lima huruf, misalnya
'DUNIA' dari akhir ke awal/ dari kanan ke kiri :'AINUD'
Satu (1) nilai untuk setiap jawaban benar.
MENGINGAT
3 Tanyakan kembali nama ketiga benda yang telah disebut di
atas.
Berikan nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar
BAHASA
9 a. Apakah nama benda ini? Perlihatkan
pensil dan arloji (2 nilai)
b. Ulangi kalimat berikut :"JIKA TIDAK,
DAN ATAU TAPI" (1 nilai)
c. Laksanakan 3 perintah ini :
26

Peganglah selembar kertas dengan tangan


kananmu, lipatlah kertas itu pada
pertengahan dan letakkan di lantai (3 nilai)
d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut
"PEJAMKAN MATA ANDA" (1 nilai)
e. Tulislah sebuah kalimat ! (1 nilai)
f. Tirulah gambar ini ! (1 nilai)

Jam selesai :
Tempat wawancara :

1. Penilaian Orientasi (10 poin)

Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan dapat lebih

spesifik jika ada bagian yang lupa (misalnya :”Dapatkah anda juga

memberitahukan sekarang musim apa?”). Tiap pertanyaan yang benar

mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian diganti

dengan ,”Dapatkah anda menyebutkan nama rumah sakit ini (kota,

kabupaten, dll) ?”. Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin).

2. Penilaian Registrasi (3 poin).

Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan

dengan jelas dan lambat. Setelah itu pasien diperintahkan untuk

mengulanginya. Jumlah benda yang dapat disebutkan pasien pada

kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien tidak

dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama,

lanjutkan dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang

semuanya, sampai 6 kali percobaan. Catat jumlah percobaan yang


27

digunakan pasien untuk mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap

tidak dapat mengulangi ketiga kata tersebut, berarti pemeriksa harus

menguji ingatan pasien tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut,

pemeriksa memberitahukan kepada pasien agar mengingat ketiga kata

tersebut, karena akan ditanyakan sebentar lagi.

3. Perhatian dan kalkulasi (5 poin)

Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan

selisih 7. hentikan setelah 5 angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang

benar. Jika pasien tidak dapat atau tidak dapat mengerjakan tugas tersebut,

maka dapat digantikan dengan mengeja kata ”DUNIA” dari belakang. Cara

menilainya adalah menghitung kata yang benar. Contohnya jika menjawab

“AINUD” maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab “AINDU” diberi nilai

3.

4. Ingatan (3poin)

Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan

sebelumnya kepada pasien dan disuruh mengingatnya. Pemberian skor

dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang benar.

5. Bahasa dan praktek (9 poin)

a. Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya.

Ulangi dengan menggunakan pensil. Skor 1 poin setiap nama benda

yang benar (0-2).

b. Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta untuk mengulangi sebuah

kalimat yang diucapkan oleh penguji pada hanya sekali kesempatan.

Skor 0 atau 1.
28

c. Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan

diperintahkan, ” Taruh kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi

2 bagian, dan taruh di lantai”. Skor 1 poin diberikan pada setiap

perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3).

d. Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda”

(hurufnya harus cukup besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien

diminta untuk membaca dan melakukan apa yang tertulis. Skor 1

diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan. Tes ini

bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien

dengan mengatakan ”silakan melakukan apa yang tertulis” setelah

pasien membaca kalimat tersebut.

e. Menulis : Pasien diberikan kertas kosong dan diminta menuliskan

suatu kalimat. Jangan mendikte kalimat tersebut, biarkan pasien

menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus mengandung subjek, kata

kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan tanda baca dapat

diabaikan.

f. Menirukan : pasien ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan,

dan diminta untuk menggambarnya semirip mungkin. Kesepuluh sudut

harus ada dan ada 2 sudut yang berpotongan unruk mendapatkan skor 1

poin. Tremor dan rotasi dapat diabaikan.

Interpretasi MMSE (Folstein, 1975).

Metode Skor Interpretasi


Keparahan 24-30 Tidak ada kelainan kognitif
18-23 Kelainan kognitif ringan
0-17 Kelainan kognitif berat

2.4 Brain Gym


29

2.4.1 pengertian
Brain Gym dikenal di amerika, dengan tokoh yang menemukannya

yaitu Paul E. Dennison seorang ahli pelopor dalam penerapan penelitian otak,

bersama istrinya gail E. Denisson seorang mantan penari. Senam otak atau

Brain Gym adalah serangkaian latihan berbasis gerakan tubuh sederhana.

Gerakan itu dibuat untuk merangsang otak kiri dan kanan (Demensia

lateralis), meringankan atau merelaksasi belakang otak dan bagian depan otak

(Demensia pemfokusan), merangsang sistem yang terkait dengan perasaan

aatau emosional, yakni otak tengah (limbik) serta otak besar (Demensia

pemutusan (Dennison 2009).

2.4.2 Manfaat Brain Gym


Brain gym dapat memberikan manfaat yaitu stres emosional berkurang

dan pikiran lebih jernih, hubungan antar manusia dan suasana belajar atau

kerja lebih rileks dan senang (Hocking 2007). Manfaat lain dari senam otak

yaitu kemampuan dan berbahasa dan daya ingat meningkat, orang menjadi

lebih bersemangat, lebih kreatif dan efisien, orang merasa lebih sehat karena

stres berkurang dan prestasi belajar dan kerja meningkat (Dennison 2009).
Otak sebagai pusat kegiatan tubuh akan mengaktifkan seluruh organ

dan sistem tubuh melalui pesan-pesan yang disampaikan melewati serabut

saraf secara sadar maupun tidak sadar. Pada umunya otak bagian kiri

bertanggung jawab untuk pergerakan bagian kanan tubuh dan sebaliknya.

Akan tetapi, otak manusia juga spesifik tugasnya, untuk aplikasi gerakan

senam otak dipakai istilah dimensi lateralis untuk belahan otak kiri dan

kanan, dimensi pemfokusan untuk bagian belakang otak (batang otak dan

brain stem),dan bagian otak depan (Frontal lobus), serta dimensi pemusatan
30

untuk sistem limbik (midbrain) dan otak besar (cerebral cortex) (Denisson

2009).
2.4.3 Pelaksaaan gerakan Brain Gym
Pelaksanaan brain gym juga sangat praktis, karena bisa dilakukan

dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Porsi latihan yang tepat adalah

sekitar 10-15 menit, sebanyak 2-3 kali dalam sehari (Andri 2013 ). Brain gym

ini melatih otak bekerja dengan melakukan gerakan pembaruan (repatteing)

dan aktifitas brain gym. Latihan ini membuka bagian-bagian otak yang

sebelumnya tertutup atau terhambat. Disamping itu, senam otak tidak hanya

memperlancar aliran darah dan oksigen keotak juga merangsang kedua belah

otak untuk bekerja sehingga didapat keseimbangan aktivitas kedua belahan

otak secara bersamaan (Denisson 2009).


2.4.4 Gambar Brain Gym
1. Lateralitas ( sisi )

Cara melakukan gerakan


Menggambar dengan kedua tangan

pada saat yang sama, kedalam, keluar,

keatas dan kebawah. Coretan ganda

dalam bentuk nyata seperti : lingkaran,

segitiga, bintang, hati, dsb. Lakukan

dengan kedua tangan.


Fungsi :
a. Kesadaran akan kiri dan kanan
b. Memperbaiki penglihatan

perifer
c. Kesadaran akan tubuh, serta

ketrampilan khusus tangan dan

mata.
d. Memperbaiki kemampuan
31

olahraga dan ketrampilan

gerak.

Gambar 2.1 coretan ganda ( double dooble ) (Denisson 2009).


Otak kiri terdiri dari dua bagian, masing – masing belahan otak

mempunyai tugas tertentu. Secara garis besar, otak bagian kiri berfikir logis

dan rasional. Menganalisa, bicara, berorientasi pada waktu dan hal – hal

terinci. Otak bagian kanan intuitif, meraskan, musik, menari, kreatif, melihat

keseluruhan dan ekspresi badan. Otak belahan kiri mengatur badan bagian

kanan, mata dan telinga kanan. Otak belahan kanan mengontrol badan bagian

kiri, mata dan telinga kiri,. Dua belahan otak disambung dengan corpus

collosum yaitu simpul saraf kompleks dimana terjadi transmisi anatara kedua

belahan otak (Denisson 2009).


2. Fokus

Cara melakukan gerakan:


Urutlah otot bahu kiri dan kanan. Tarik

nafas saat kepala berada di posisi tengah,

kemudian hembuskan nafas kesamping

atau ke otot yang tegang sambil relaks.

Ulangi gerakan dengan tangan kiri.


Fungsi:
a. Melepaskan ketegangan tengkuk

dan bahu yang timbul karena

stress.
b. Menyeimbangkan otot leher dan

tengkuk (mengurangi sikap tubuh

yang terlalu condong ke depan)


c. Menegakkan kepala (membantu
32

mengurangi kebiasaan

memiringkan kepala atau bersandar

pada siku)
Gambar 2.2 burung hantu (the owl) (Denisson 2009).
Fokus adalah kemampuan menyebrangi garis tengah partisipasi yang

memisahkan bagian belakang dan depan tubuh, dan juga bagian belakang

(occipital) dan depan otak (frontal lobus). Perkembangan reflek antara otak

bagian belakang dan bagian depan yang mengalami fokus kurang

(underfocused) disebut kurang perhatian, kurang mengerti, terlambat bicara,

atau hiperaktif. Pada perkembanagn reflek antara otak bagian depan dan

belakang mengalami fokus lebih (overfocused) dan berusaha terlalu keras

(Denisson 2009
3. Pemusatan

Cara melakukan gerakan:


Pijit daun telinga pelan – pelan, dari

atas sampai kebawah 3x samapai

dengan 5x.
Fungsi:
a. Energi dan nafas lebih baik
b. Otot wajah, lidah dan

rahang relaks.
c. Fokus perhatian meningkat
d. Keseimbangan lebih baik.

Gambar 2.3 pasang telinga (the thingking cap) (Denisson 2009)


Pemusatan adalah kemampuan untuk menyebrangi garis pisah antara

bagian atas dan bawah tubuh dan mengaitkan fungsi dari bagian atas dan

bawah otak. Ketidakmampuan untuk mempertahankan pemusatan ditandai

dengan ketakutan yang tak beralasan dan ketidak mampuan untuk

menyatakan emosi (Denisson 2009).


2.5 Pengaruh Brain gym dengan fungsi kognitif lansia demensia
33

Diantara fungsi otak yang menurun secara linier ( seiring ) dengan

bertambahnya usia adalah fungsi memori (daya ingat) berupa kemunduran

dalam kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali

informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information

retrieval frommemory). Penurunan fungsi memori secara linier itu terjadi

pada kemampuan kognitif dan tidak mempengaruhi rentang hidup yang

normal (Strub, Black,1992).


Perubahan atau gangguan memori pada penuaan otak hanya terjadi

pada aspek tertentu, sebagai contoh, memori primer (memori jangka

pendek/Short term memory) relatif tidak mengalami perubahan pada

penambahan usia, sedangkan pada memori sekunder (memori jangka

panjang/long term memory) mengalami perubahan bermakna. Artinya

kemampuan untuk mengirimkan informasi dari memori jangka pendek ke

jangka panjang mengalami kemunduran dengan penambahan usia.


Dari sebuah penelitian pada orang dengan kognisi normal berusia 62-

100 tahun, disimpulkan bahwa kemampuan proses belajar (learning) atau

perolehan (acquisition) mengalami penurunan yang sama secara bermakna

pada penambahan usia, tetapi tidak berhubungan dengan pendidikan,

sedangkan kemampuan ingatan tertunda (delayed recall atau forgetting)

sedikit menurun tetapi lazimnya tetap, terutama kalau faktor pembelajaran

awal dipertimbangkan (Petersen et al.1992).


Petersen juga telah berhasil melakukan penelitian longitudinal

membandingkan kemampuan kognitif pada usia lanjut normal, gangguan

kognitif ringan (mild cognitive impairment/MCI) dan Demensia Alzheimer

ringan, telah disimpulkan bahwa MCI merupakan keadaan transisi antara

kognitif normal dan demensia (terutama Alzheimer). Latar belakang


34

penelitian Petersen adalah bahwa subjek MCI mempunyai gangguan memori

sesuai usia dan pendidikan tetapi tidak ada demensia, sehingga diagnosis MCI

dibuat pada pasien dengan kriteria berikut: (a) ada keluhan memori, (b)

aktifitas hidup sehari-hari normal, (c) fungsi kognisi umum normal, (d)

memori abnormal untuk usia, (e) tidak ada demensia.


Demensia (pikun) adalah kemunduran kognitif yang sedemikian

beratnya sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan aktivitas sosial.

Kemunduran kognitif pada demensia biasanya diawali dengan kemunduran

memori/atau daya ingat atau pelupa (Nugroho,2008). Demensia atau pikun

adalah penurunan fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan

akibat menurunnya fungsi bagian luar jaringan otak, sehingga mempengaruhi

aktivitas kehidupan sehari-hari seperti menurunnya kemampuan dalam

menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,

kemampuan dalam berkomunikasi dan berbahasa, serta dalam pengendalian

emosi (Atun 2010). Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan

demensia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan kognitif yang

diawali dengan kemunduran daya ingat sehingga memepengaruhi aktivitas

kehidupan sehari-hari.
Dengan melakukan senam otak stress emosional berkurang dan

pikiran lebih jernih,manfaat lain dari senam otak yaitu kemampuan berbahasa

dan daya ingat meningkat,orang menjadi lebih bersemangat,lebih kreatif dan

efisien, orang merasa lebih sehat karena stress bekurang dan daya ingat

membaik.
Otak sebagai pusat kegiatan tubuh akan mengaktifkan seluruh organ

dan sistem tubuh melalui pesan-pesan yang disampaikan melewati serabut

saraf secara sadar maupun tidak sadar. Pada umunya otak bagian kiri
35

bertanggung jawab untuk pergerakan bagian kanan tubuh dan sebaliknya.

Akan tetapi, otak manusia juga spesifik tugasnya, untuk aplikasi gerakan

senam otak dipakai istilah demensia lateralis untuk belahan otak kiri dan

kanan, demensia pemfokusan untuk bagian belakang otak (batang otak dan

brain stem),dan bagian otak depan (Frontal lobus), serta demensia pemusatan

untuk sistem limbik (midbrain) dan otak besar (cerebral cortex) ( Denisson

2009 ).