Anda di halaman 1dari 12

Klarifikasi Istilah

Demam :
Suhu tubuh diatas normal (Ganong,2008)
Suhu tubuh diatas normal biasa dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri
atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu (Guyton,2012)
HeatStroke
Penyakit yang mengancam jiwa ditandai dengan suhu tubuh inti tinggi yang naik
diatas 40 ℃ dan disertai dengan panas, kulit kering, dan kelainan sistem saraf pusat
seperti delirium, kejang dan koma. (New England Journal Of Medicine)

Identifikasi masalah :

1. Mengapa andi pingsan?


2. Mengapa Andi bisa demam dan bagaimanakah mekanisme demam?
3. Apa sajakah tipe-tipe demam dan bagaimana cara untuk menurunkan demam?
4. Bagaimanakah mekanisme heatstroke?
5. Bagaimanakah efektifitas kompres dingin juga kompres hangat?
6. Apakah demam andi karena dehidrasi?

Analisi masalah

1. Ani pingsan karena andi mengalami gangguan Terkait Panas yaitu Heat exhaustion.
Heat exhaustion adalah keadaan kolaps, biasanya bermanifestasi sebagai pingsan,
akibat berkurangnya tekanan darah karena mekanisme pengeluaran panas yang
sangat berlebihan. Berkeringat berlebihan mengurangi curah jantung dengan
mengurangi volume plasma, dan vasodilatasi kulit yang mencolok menyebabkan
turunnya resistensi perifer total. Karena tekanan darah ditentukan oleh curah
jantung kali resistensi perifer total maka terjadi penurunan tekanan darah,
penurunan jumlah darah yang disalurkan ke otak, dan pingsan. Karena itu, heaf
exhaustion lebih merupakan konsekuensi dari aktivitas berlebihan
mekanisme-mekanisme pengeluaran panas dibandingkan gangguan pada
mekanisme-mekanisme tersebut. Karena mekanisme pengeluaran panas telah
sangat aktif maka pada heat exhaustion suhu tubuh hanya sedikit meningkat.
Dengan memaksa aktivitas berhenti ketika mekanisme pengeluaran panas tidak
lagi mampu menghadapi penambahan panas yang ditimbulkan oleh olahraga atau
lingkungan yang panas, heat exhaustion berfungsi sebagai katup pengaman yang
mencegah heatstroke yang memiliki konsekuensi lebih serius.
2. Demam merujuk kepada peningkatan suhu tubuh akibat infeksi atau peradangan.
Sebagai respons terhadap masuknya mikroba, sel-sel fagositik tertentu (makrofag)
mengeluarkan suatu bahan kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen yang,
selain efek-efeknya dalam melawan infeksi, bekerja pada pusat termoregulasi
hipotalamus untuk meningkatkan patokan termostat. Hipotalamus sekarang
mempertahankan suhu di tingkat yang baru dan tidak mempertahankannya di suhu
normal tubuh. Jika, sebagai contoh, pirogen endogen meningkatkan titik patokan
menjadi 102"F (38,9"C), maka hipotalamus mendeteksi bahwa suhu normal
prademam terlalu dingin sehingga bagian otak ini memicu mekanismemekanisme
respons dingin untuk meningkatkan suhu menjadi 102'F. Secara spesifik,
hipotalamus memicu menggigil agar produksi panas segera meningkat, dan
mendorong vasokonstriksi kulit untuk segera mengurangi pengeluaran panas.
Kedua tindakan ini mendorong suhu naik dan menyebabkan menggigil yang
sering terjadi pada permulaan demam. Karena merasa dingin maka yang
bersangkutan memakai selimut sebagai mekanisme volunter untuk membantu
meningkatkan suhu tubuh dengan menahan panas tubuh. Setelah suhu baru
tercapai maka suhu tubuh diatur sebagai normal dalam respons terhadap panas
dan dingin tetapi dengan patokan yang lebih tinggi. Karena itu, terjadinya
demam sebagai respons terhadap infeksi adalah tujuan yang disengaja dan
bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme termoregulasi. Meskipun makna
fisiologis demam belum jeias namun banyak pakar kedokteran percaya bahwa
peningkatan suhu tubuh bermanfaat dalam mengatasi infeksi. Demam
memperkuat respons peradangan dan mungkin menghambat perkembangbiakan
bakteri. Selama demam, pirogen endogen meningkatkan titik patokan hipotalamus
dengan memicu pelepasan lokal prostaglandin, yaitu mediator kimiawi lokal
yang bekerja langsung pada hipotalamus. Aspirin mengurangi demam dengan
menghambat sintesis prostaglandin. Aspirin tidak menurunkan suhu pada
orangyang tidak demam karena tanpa adanya pirogen endogen maka di
hipotalamus tidak terdapat prostaglandin dalam jumlah bermakna. Mekanisme
molekular yang pasri tentang hilangnya demam secara alami belum diketahui,
meskipun hal ini diperkirakan karena berkurangnya pengeluaran pirogen atau
sintesis prostaglandin. Ketika titik patokan hipotalamus kembali ke normal, suhu
pada 102'F (dalam contoh ini) menjadi terlalu tinggi. Mekanisme-mekanisme
respons panas diaktifkan untuk mendinginkan tubuh. Terjadi vasodilatasi kulit dan
pengeluaran keringat. Yang bersangkuran merasa panas dan membuka semua
penurup tambahan. Pengaktifan mekanisme pengeluaran panas oleh hipotalamus
ini menurunkan suhu ke normal. (Sherwood,2014)
Faktor yang menyebabkan demam

Demam dapat disebabkan oleh faktor infeksi ataupun faktor non infeksi. Demam akibat
infeksi bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, ataupun parasit. Infeksi bakteri
yang pada umumnya menimbulkan demam pada anak-anak antara lain pneumonia, bronkitis,
osteomyelitis, appendisitis, tuberculosis, bakteremia, sepsis, bakterial gastroenteritis,
meningitis, ensefalitis, selulitis, otitis media, infeksi saluran kemih, dan lain-lain (Graneto,
2010). Infeksi virus yang pada umumnya menimbulkan demam antara lain viral pneumonia,
influenza, demam berdarah dengue, demam chikungunya, dan virus-virus umum seperti
H1N1 (Davis, 2011). Infeksi jamur yang pada umumnya menimbulkan demam antara lain
coccidioides imitis, criptococcosis, dan lain-lain (Davis, 2011). Infeksi parasit yang pada
umumnya menimbulkan demam antara lain malaria, toksoplasmosis, dan helmintiasis (Jenson
& Baltimore, 2007). Demam akibat faktor non infeksi dapat disebabkan oleh beberapa hal
antara lain faktor lingkungan (suhu lingkungan yang eksternal yang terlalu tinggi, keadaan
tumbuh gigi, dll), penyakit autoimun (arthritis, systemic lupus erythematosus, vaskulitis, dll),
keganasan (Penyakit Hodgkin, Limfoma nonhodgkin, leukemia, dll), dan pemakaian
obat-obatan (antibiotik, difenilhidantoin, dan antihistamin) (Kaneshiro & Zieve, 2010). Selain
itu anak-anak juga dapat mengalami demam sebagai akibat efek samping dari pemberian
imunisasi selama ±1-10 hari (Graneto, 2010). Hal lain yang juga berperan sebagai faktor non
infeksi penyebab demam adalah gangguan sistem saraf pusat seperti perdarahan otak, status
epileptikus, koma, cedera hipotalamus, atau gangguan lainnya (Nelwan, 2009).

Fase-Fase Demam
Demam memiliki tiga fase yaitu: fase kedinginan, fase demam, dan fase kemerahan. Fase
pertama yaitu fase kedinginan merupakan fase peningkatan suhu tubuh yang ditandai dengan
vasokonstriksi pembuluh darah dan peningkatan aktivitas otot yang berusaha untuk
memproduksi panas sehingga tubuh akan merasa kedinginan dan menggigil. Fase kedua
yaitu fase demam merupakan fase keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas
di titik patokan suhu yang sudah meningkat. Fase ketiga yaitu fase kemerahan merupakan
fase penurunan suhu yang ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah dan berkeringat
yang berusaha untuk menghilangkan panas sehingga tubuh akan berwarna kemerahan (Dalal
& Zhukovsky, 2006).

3. Tipe –tipe Demam


● Demam septik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang
tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal
pada pagi hari.
● Demam hektik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang
tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat yang normal pada
pagi hari
● Demam remiten Pada demam ini, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi
tidak pernah mencapai suhu normal
● Demam intermiten Pada demam ini, suhu badan turun ke tingkat yang normal
selama beberapa jam dalam satu hari.
● Demam Kontinyu Pada demam ini, terdapat variasi suhu sepanjang hari yang
tidak berbeda lebih dari satu derajat.
● Demam Siklik Pada demam ini, kenaikan suhu badan selama beberapa hari
yang diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian
diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. (Nelwan, 2009)

Terapi Demam

Terapi non-farmakologi

Adapun yang termasuk dalam terapi non-farmakologi dari penatalaksanaan

demam:
➢ Pemberian cairan dalam jumlah banyak untuk mencegah dehidrasi dan
beristirahat yang cukup.
➢ Tidak memberikan penderita pakaian panas yang berlebihan pada saat
menggigil. Kita lepaskan pakaian dan selimut yang terlalu berlebihan.
Memakai satu lapis pakaian dan satu lapis selimut sudah dapat
memberikan rasa nyaman kepada penderita.
➢ Memberikan kompres hangat pada penderita. Pemberian kompres hangat
efektif terutama setelah pemberian obat. Jangan berikan kompres dingin
karena akan menyebabkan keadaan menggigil dan meningkatkan kembali
suhu inti (Kaneshiro & Zieve, 2010).
4. Mekanisme Heat stroke
Heatstroke adalah situasi yang amat berbahaya yang terjadi karena
kegagalan total sistem termoregulasi hipotalamus. Heat exhaustion dapat
berkembang menjadi heatstroke jika mekanisme-mekanisme pengeluaran
panas terus mendapat beban berlebihan. Heatstroke lebih besar kemungkinannya
terjadi saat olahragberlebihan pada lingkungan yang panas dan lembab. Orang
berusia lanjut, yang respons termoregulasinya umumnya lebih lambat dan kurang
efisien, sangat rentan mengalami heatstroke saat gelombang panas yang
Iama dan pengap. Demikian juga
dengan orang yang sedang menggunakan obat penenang tertentu, misalnya
Valium, karena obat-obat ini mengganggu aktivitas neurotransmiter
pusat termoregulasl hipotalamus. Gambaran paling mencolok pada
heatstroke adalah tidak adanya tindakan-tindakan pengeluaran panas
kompensatorik, misalnya berkeringat, sementara suhu tubuh terus meningkat.
Tidak terjadi pengeluaran keringat meskipun suhu tubuh sangat meningkat,
karena pusat kontrol termoregulasi hipotalamus tidak berfungsi dengan benar
dan tidak dapat mengaktifkan mekanisme pengeluaran panas. Selama terjadinya
heatstroke, suhu tubuh mulai naik karena mekanisme pengeluaran panas
akhirnya dikalahkan oleh peningkatan panas yang berlebihan dan terusmenerus.
Setelah suhu inti mencapai titik di mana pusat kontrol suhu
hipotalamus rusak.oleh panas, suhu tubuh cepat meningkat lebih tinggi karena
terhentinya secara total mekanisme pengeluaran panas. Selain itu, dengan
bertambahnya suhu tubuh, laju metabolisme juga meningkat, karena suhu yang
lebih tinggi mempercepat laju semua reaksi kimia; akibatnya adalah produksi
panas yang semakin besar. Keadaan umpan balik positif ini menyebabkan suhu
melonjak tak terkendali. Heatstroke adalah situasi yang sangat berbahaya dan
cepat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Bahkan dengan
pengobatan untuk menghentikan dan membalikkan peningkatan tak terkendali suhu
tubuh, angka kematian tetap tinggi. Tingkat kecacatan permanen pada mereka
yang selamat juga tinggi ka'rena denaturasi protein ireversibel akibat panas
internal yang tinggi. (Sherwood,2014)
Heat stroke terjadi apabila suhu meningkat melebihi suhu krisis dalam rentang 105 ℉
hingga 108 ℉ . Gejalanya meliputi pusing, rasa tidak enak pada perut, dan kadang
disertai muntah, kadang delirium,dan akhirnya hilang kesadaran bila suhu tidak segera
turun. Penanganan segera terhadap heat stroke yaitu dengan membanringkan pasien
dalam bak mandi yang berisi air dingin selain itu dapat dilakukan dengan cara
pendinginan menggunakan spons atau menyemprotkan pada kulit lebih efektif untuk
menurunkan suhu inti tubuh dengan cepat karena dapat menjadikan mengigil dan
meningkatkan produksi panas.
5. Efektifitas kompres dingin dan hangat
Telah lama dikenal pemakaian metode fisik dalam menurunkan demam. Metode
fisik ini ditujukan untuk meningkatkan pengeluaran panas baik secara konduksi,
konveksi, maupun evaporasi. Metode yang umum dipakai adalah kompres dingin.
Akan tetapi, keuntungannya dalam terapi demam belum sepenuhnya dipahami.
Kompres dingin adalah terapi pilihan untuk hipertermia yang ditandai oleh
temperatur inti tubuh melampaui set poin termoregulasi. Berbeda dengan
demam, shivering, vasokonstriksi kulit dan respon yang berhubungan dengan
perilaku meningkatkan temperatur inti untuk menjangkau peningkatan set poin
suhu yang diakibatkan oleh kerja pirogen di pusat termoregulasi. Selama
hipertermia, penurunan produksi panas, vasodilatasi, berkeringat dan respon
perilaku bekerja untuk menurunkan temperatur tubuh. Jadi, pemakaian kompres
dingin pada terapi hipertermia tidak bertentangan dengan proses yang ditimbulkan
oleh pemakaian terapi yang lain. Kompres dingin menurunkan temperatur kulit
lebih cepat dari pada temperatur inti tubuh, sehingga merangsang vasokonstriksi
dan shivering. Shivering mengakibatkan gangguan metabolisme karena
meningkatkan konsumsi oksigen dan volume respirasi, meningkatkan persentase
karbon dioksida dalam udara ekspirasi dan meningkatkan aktifitas sistem saraf
simpatis. Oleh karena itu, kompres dingin kurang efektif dalam tatalaksana
demam karena selain kurang nyaman juga merangsang produksi panas dan
menghalangi pengeluaran panas tubuh. Selain kompres dingin, dikenal pemakaian
kompres hangat dalam tatalaksana demam. Kompres hangat adalah melapisi
permukaan kulit dengan handuk yang telah dibasahi air hangat dengan temperatur
maksimal 43 ℃ . Lokasi kulit tempat mengompres biasanya di wajah, leher, dan
tangan. Kompres hangat pada kulit dapat menghambat shivering dan dampak
metabolik yang ditimbulkannya. Selain itu, kompres hangat juga menginduksi
vasodilatasi perifer, sehingga meningkatkan pengeluaran panas tubuh. Penelitian
menunjukkan bahwa pemberian terapi demam kombinasi antara antipiretik dan
kompres hangat lebih efektif dibandingkan antipiretik saja, selain itu juga
mengurangi rasa tidak nyaman akibat gejala demam yang dirasakan. Pemakaian
antipiretik dan kompres hangat memiliki proses yang tidak berlawanan dalam
menurunkan temperatur tubuh. Oleh karena itu, pemakaian kombinasi keduanya
dianjurkan pada tatalaksana demam.
6. Tubuh harus mendapat cukup air untuk menjalankan fungsinya dengan tepat untuk
menyaring racun-racun keluarmelalui ginjal, dan untuk memelihara jumlah mineral
(elektrolit) secara normal. Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan cairan lebih
cepatdaripada ketika akan digantikan. Seseorang harus meminum cairan dengan
cukup untuk menggantikan cairan yang keluar dari tubuhnya (Elsevier, 2007).
Dehidrasi dihasilkan dari kehilangan air dan elektrolit penting dalam tubuh termasuk
kalium, natrium, klorida dan banyak mineral lainnya. Organ-organ esensial yang
sangat berperan seperti otak, ginjal, jantung dan sistem saraf tidak dapat berfungsi
tanpa air atau mineral yang cukup. Menurut Elete 1990 Penyebab dehidrasi
didasarkan pada 4 dasar, yaitu :
➢ Berkeringat : demam, latihan (gerakan), pembuangan panas berlebihan
➢ Muntah : ulser, keracunan makanan, flu
➢ Diare : flu, keracunan makanan, gastroenteritis
➢ Pemasukan kalori yang tidak cukup, dapat terjadi karena tidak mengkonsumsi
mineral dan air yang cukup

Ada beberapa hal untuk menghindari gejala dehidrasi :

➢ Minum cairan yang cukup, mengkonsumsi 8 gelas air sehari


➢ Membatasi atau menghindari minuman berkafein dan beralkohol karena kandungan
keduanya meningkatkan dehidrasi
➢ Menghindari minuman berkarbonat yang dapat membengkak dan memberi sensasi
penuh pada tubuh karena membatasi pemasukan cairan
➢ Menggunakan penangkal cahaya matahari, menjaga diri tetap dingin dan mencari
perlindungan/naungan dimanapun berada (Elete, 1990).

Skema.

Tujuan Pembelajaran

1. Mahasiwa mampu mengetahui dan menjelaskan tentang mekanisme kompres hangat


2. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan mekanisme terjadinya demam
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan etiologi demam
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan mekanisme pengaturan demam
5. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan cara mengetahui demam
6. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan demam karena suhu lingkunngan
yang tinggi

Berbagi informasi

1. Mekanisme kompres hangat


Kompres air hangat mempengaruhi suhu tubuh dengan cara memperlebar
pembuluh darah (vasodilatasi), member tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel
dan membuang sampah-sampah tubuh, meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh,
mempercepat penyembuhan dan dapat menyejukkan. Selain itu, pemberian
kompres hangat akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang
belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang,
system efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi
perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada
medulla oblongata pada tangkai otak, di bawah pengaruh hipotalamik bagian
anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan
pembuangan atau kehilangan energy atau panas melalui kulit meningkat
(berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai
keadaan normal kembali. (Hegner B.R, 2003)
2. Mekanisme terjadinya demam
Demam disebabkan oelh zat pirogen. Zat pirogen terdiri atas pirogen endogen dan
pirogen eksogen. Pirogen endogen yaitu toksik dan mikroorganisme, sedangkan
pirogen eksogen terdiri dari IL-1, IL-6, TNF-α, IFN yang diproduksi dari sel
imun(monosit, limfosit, neutrofil). (Dinarello dan gelfard, 2005)
Toksik, mediator inflamasi, reaksi imun menstimulasi sel darah putih
(monosit,leukosit, neutrofil ) untuk mengeluarkan pirogen endogen (IL-1,IL-6,
TNF-α, IFN) merangsang endotellium hipotalamus untuk mengeluarkan
prostaglandin. Prostaglandin akan meningkatkan set poin di pusat regulasi.
Hipotalamus akan menganggap bahwa suhu tubuh dibawah suhu inti oelh karena itu
hipotalamus akan merangsang untuk meningkatkan panas dengan cara shivering dan
vasokontriksi di perifer. Setelah suhu tubuh naik dan sejajar dengan suhu patokan
yang baru, merupakan demam. (guyton,2012)

Demam yang terjadi karena suhu lingkungan yang tinggi


Pertama yaitu heat rush yaitu disebabkan oelh suhu lingkungan yang sangat tinggi
yang menyebabkan keluarnya keringat. Kedua, heat cramps yaitu berkeringat berat
dari kegiatan fisik berat yang menguras cairan tubuh dan garam. Dimana untuk
menggantikan garam tidak bisa hanya dengan minum air saja. Heat cramps terjadi
dari ketidakseimbangan garam akibat kegagalan tubuh untuk mengganti garam yang
hilang karena berkeringat berlebih. Heat Exhaustion yaitu keadaan kolaps yang
menyebabkan pingsan karena berkurangnya tekanan darah yang disebabkan oleh
curah jantung yang rendah dan retensi perifer total yang diakibatkan oleh pengeluaran
panas yang sangat berlebih. Tekanan darah yaitu hasi kali dari curah jantung dan
perifer total karena curah jantung dan perifer total rendah maka tekanan darah pun
rendah, menjadikan darah yang mengalir ke otak pun sedikit dan akhirnya pingsan.
Keempat, heat stroke yang terjadi karena kegagalan total sistem termoregulasi akibat
dari mekanisme-mekanisme pengeluaran panas yang berlebihan. (sherwood,2014 dan
journal of specialize professional service occupational health ad safety branch,2014)

Daftar pustaka
Dinarello, C.A., and Gelfand, J.A., 2005. Fever and Hyperthermia. In: Kasper, D.L.,
et. al., ed. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16th ed.
Singapore: The McGraw-Hill Company, 104-108.

Graneto, J.W., 2010. Pediatric Fever. Chicago College of Osteopathic Medicine of


Midwestern University. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/801598-overview. [Updated
20 May 2010].

Jenson, H.B., and Baltimore, R.S., 2007. Infectious Disease: Fever without a

focus. In: Kliegman, R.M., Marcdante, K.J., Jenson, H.B., and Behrman, R.E., ed.
Nelson Essentials of Pediatrics. 5th ed. New York: Elsevier, 459-461.

Kaneshiro, N.K., and Zieve, D. 2010. Fever. University of Washington. Available


from:http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000980.htm.
[Updated 29 January 2010]

Nelwan, R.H., 2009. Demam: Tipe dan Pendekatan. Dalam: Sudoyo, A.W.,

Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S., ed. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi 5. Jakarta: Interna
Publishing, 2767-2768

Sherwood, L., 2014. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta:
EGC.

Guyton, Hall., 2012. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Hegner, B.R .2003,. Asisten Keperawatan Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Edisi 6.
Jakarta:EGC