Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Proses berpikir merupakan proses yang
kompleks dan tidak dapat dilihat secara langsung bagaimana otak bekerja dan informasi diolah. Informasi yang
diterima melalui alat indera akan dipersepsikan oleh bagian-bagian yang berfungsi secara khusus. Berpikir juga
dapat dikatakan sebagai proses pengorganisasian informasi dalam ingatan. Berpikir mencakup banyak aktivitas mental.
Berpikir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan
dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Semua informasi yang kita peroleh terekam di dalam ingatan.
Akan tetapi, tidak semua informasi tersebut dapat bertahan lama dalam ingatan atau hilang karena ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya. Ketika individu memperoleh suatu informasi, secara tidak langsung otak akan memproses informasi
tersebut. Apabila dalam pemrosesan tersebut terdapat perhatian (
attention
) pada informasi yang diperoleh, maka akan menghasilkan suatu pemahaman. Teori pemrosesan informasi didasari oleh asumsi bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran terjadi adanya proses informasi kemudian diolah
sehingga menciptakan suasanya yang terencana, dan suasana pembelajaran yang mendukung (Ellen, 2016:225).
Teori pemrosesan informasi ini merupakan teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan
pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan
bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan
model pembelajara tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses dalam otak melalui beberapa indera.
B.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah: 1.

Bagaimana pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia? 2.

Bagaimana model pembelajaran pemrosesan informasi?


TUGAS AKHIR M3
RAHARDIAN ADI N
MAKALAH

PENGORGANISASIAN INFORMASI/PENGETAHUAN DALAM INGATAN MANUSIA

Oleh : MILLA WATI S.Pd

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pengolahan informasi mengandung pengertian tentang bagaimana


individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima
individu dari lingkungan. Pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah
psikologi kognitif. Psikologi kognitif sebagai upaya untuk memahami mekanisme dasar yang
mengatur cara berpikirnya orang (Anderson, 1980). Perbedaan antara teori belajar dan teori
pengolahan informasi adalah pada derajat penekanan pada soal belajar. Teori pengolahan
informasi tidak memperlukan belajar sebagai titik pusat penelitian yang utama. Belajar itu
hanyalah merupakan salah satu proses yang diselidiki dan antara kegiatan belajar dan sub-sub
ranah lain dari psikologi kognitif tetap tidak jelas (Anderson, 1980). Namun, demikian, penelitian
pengolahan informasi memberikan sumbangan atas pengertian proses belajar.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan rumusan masalah yang yang akan dibahas dibahas
penulis, sebagai sebagai berikut berikut : Bagaimana pengorganisasian informasi/pengetahuan
dalam ingatan manusia?

C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah adalah adalah sebagai berikut : 1. Sebagai
syarat tugas belajar daring PPG Dalam Jabatan Modul 3. 3. 2. Mengetahui pengorganisasian
informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sistem Memori Manusia Manusia Konsepsi lama tentang memori manusia adalah bahwa
memori itu sematamata hanya tempat penyimpan informasi dalam waktu yang lama. Jadi,
memori adalah koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas dan tidak saling
berkaitan. Mulai tahun 1960-an memori manusia dipandang sebagai suatu struktur yang rumit
untuk mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan (Naisser, 1967). Memori merupakan
suatu organisasi dan bukan merupakan gudang yang pasif, tetapi merupakan suatu yang aktif
memiliki data penginderaan mana yang akan diolahnya, mengubah data menjadi informasi yang
bermakna dan menyimpan informasi itu untuk digunakan di waktu kemudian. Memori
merupakan suatu system yang rumit degnan banyak tahapannya dan saling berinteraksi.
Sebagaian besar model-model yang dikembangkan tahun 1960 an
mengajukan tiga struktur memori yaitu sebagai berikut :

1. Pencatat penginderaan

2. Penyimpanan jangka pendek

3. Penyimpanan jangka panjang.

Dalam memori kerja atau memori jangka pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan
menjadi wujud yang bermakna dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan secara
tetap. Proses penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka panjang panjang
merupakan fase inti dari belajar. belajar. Asumsi pokok yang melandasi melandasi teoriteori
pengolahan informasi adalah bahwa informasi adalah organizer dan prosesor informasi yang
aktif, dan rumit.

B. Komponen Belajar Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar ada tiga tahapan
yaitu sebagai berikut :

1. Perhatian ke Stimulus Pengolahan system informasi dalam memori manusia di awali ketika
isyarat fisik diterima pencatat sensor melalui indera (Visual, audio, maupun kenestetik). Isyarat
fisik ini, disimpan sebentar sebentar untuk diolah dalam system memori.

2. Mengkode Stimulus Apakah stimulus akan diolah diolah sebagai informasi aktif atau atau
akan akan lebih lebih lanjut lanjut atau tidak sampai memori jangka panjang sebagai memori
inaktif, maka diperlukan pengolahan lebih lanjut. Proses inilah yang disebut dengan
pengkodean yaitu mengubah stimulus sehingga dapat disimpan sehingga pada waktu lain
dapat di munculkan kembali dengan mudah.

3. Penyimpanan dan Retrival Pengkodean dimaksudkan untuk menyimpan informasi guna


disimpan dalam memori jangka panjang untuk dapat diingat sewaktu-waktu diperlukan. Untuk
proses ini, sangat bergantung pada bagaimana informasi itu disimpan dan bagaimana
hubungan informasi itu dengan informasi sebelumnya dari memori jangka panjang.

C. Pembelajaran Berdasarkan Berdasarkan Teori Pengolah Pengolah Informasi Informasi


Penerapan teori pengolah informasi dalam pembelajaran berasal dari asumsi bahwa memori
manusia itu suatu system yang aktif, yang menyeleksi, mengorganisasi dan mengubah menjadi
sandi informasi dan keterampilan bagi penyimpannya untuk dipelajari. Para ahli teori kognitif
berasumsi bahwa belajar yang berhasil sangat bergantung pada tindakan belajar daripada hal-
hal yang ada dilingkungan. Komponen belajar menurut teori pengolah informasi seperti
dipaparkan bada bagain awal bahwa komponen belajar adalah sebagai berikut :

 Perhatian ditujukan pada stimulus


 Pengkodean stimulus
 Penyimpanan dan mendapatkan kembali (retrival).

Atas dasar komponen komponen belajar tersebut selanjutnya selanjutnya hal yang esensial dari
pembelajaran yang dapat dilakukan adalah :

1. Membimbing peserta didik dalam penerimaan stimulus System memori manusia dapat
melakukan proses seleksi atas stimulusstimulus yang akan diperhatikannya. Kegiatan
pembelajaran yang dapat dilakukan berkaitan dengan memberikan bimbingan perhatian peserta
didik terhadap penerimaan stimulus antara lain:

a. Memusatkan perhatian ke stimulus-stimulus stimulus-stimulus tertentu tertentu yang dipilih

b. Mengenali Mengenali secara awal stimulus stimulus dengan dengan kode-kode kode-kode
tertentu.

2. Memperlancar Mengkode Selama belajar, fungsi pengkodean adalah untuk menyiapakn


informasi baru untuk disimpan ke dalam memori jangka panjang. Proses ini, menghendaki
transformasi informasi menjadi kode ringan untuk memudahkan mengingat kembali diwaktu
kemudian. Ada dua rancangan yang berbeda yang dapat memudahkan pengkodean yaitu
dengan memberkan pengisyarat, elaborasi, dan cara titian ingatan (mneumonik) sebagai
pembantu untuk menyusun sandi, rancangan ini disebut bantuan berbasis pembelajaran.

Rancangan yang lain adalah untuk memberikan kesempatan bagi terjadinya elaborasi yang
dihasilkan peserta didik, ancangan ini disebut bantuan berbasis peserta didik. Bantuan berbasis
pembelajaran misalnya penggunaan sinonim untuk kata-kata yang sulit, ihtisar bab, pertanyaan
ulangan, dan akronim untuk belajar asosiasi yang sembarang sifatnya. Teknik yang kurang
dikenal yang bisa memudahkan pengkodean dari buku pelajaran ialah memberikan tanda
petunjuk. Tanda-tanda petunjuk misalnya, judul paragraph, priview, kata-kata petunjuk seperti
“ayangnya, “yang penting” dan seterusnya. Bantuan yang berbasis peserta didik, pengisarat
baik visual maupun verbal yang berasal dari peserta didik itu sendiri dapat membantunya
memperoleh asosiasi yang sembarang saja sifatnyas misalnya sebuah daftar, metode loci dan
sebagainya. Penerapan khusus pengisarat dari peserta didik disebut metode kata penting atau
kata kunci untuk belajar bahasa asing. Metode katas-kata penting berguna untuk informasi yang
kurang inheren organisasi atau asosiasinya, tetapi elaborasi oleh peserta didik dapat juga
memudahkan pengkodean untuk materi-materi pembelajaran, misalnya menggaris bawahi
bacaan dan membuat catatan. 3. Memperlancar Memperlancar penyimpanan penyimpanan dan
retrival Siasat
pengkodean penting karena dapat meningkatkan kemampuan mengingat kembali kelak

. Irama bunyi, akronim, sajak, kata-kata pokok, citra visual, semuanya memberikan
pengisaratan untuk maksud retrival bagi peserta didik dalam belajar. Elaborasi berbasis
pembelajaran dan elaborasi basis peserta didik kedua memberikan sumbangan dalam
mengingat kembali. Proses pemunculan kembali apa yang telah disimpan dalam ingatan
dianalogikan dengan mekanisme penelusuran. Norman dan Bobrow (dalam Degeng 1989)
Mengemukakan dau tahap dalam melaksanakan penelusuran. Tahapan pertama adalah untuk
menetapkan informasi yang diinginkan (yang ingin dimunculkan dari dalam ingatan). Tahapan
kedua adalah untuk penelusuran yang sebenarnya, yaitu mencakup tindakan peninjauan
kembali struktur ingatan sebenarnya, yaitu yang mencakup tindakan peninjauan kembali
struktur ingatan dan informasi-informasi yang terkati di dalamnya, sampai informasi yang
diinginkan didapatkan. Asumsi yang dipakai dalam penelusuran penelusuran informasi dalam
ingatan adalah bahwa ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses
penelusurannya bergerak secra hirarkis, dari informasi yang paling umum dan inklusif ke
informasi yang umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.

BAB III SIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa Pengolahan informasi
mengandung pengertian tentang bagaimana individu mempersepsi, mengorganisasi, dan
mengingat

mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu dari
lingkungan yang bersangkutan karena itulah teori ini akan membantu kita untuk memahami
proses belajar yang terjadi dalam diri peserta didik mengerti kondisi dan faktor yang
mempengaruhinya dan megetahui hal-hal yang dapat menghambat serta memperlancar belajar
peserta didik,sehingga dengan pengetahuan itu seorang guru akan lebih bijaksana dan tepat.
Pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah psikologi kognitif.
Psikologi kognitif sebagai upaya untuk memahami mekanisme dasar yang mengatur cara
berpikirnya orang (Anderson, 1980). Perbedaan antara teori belajar dan teori pengolahan
informasi adalah pada derajat penekanan pada soal belajar .

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, 1980. 1980. Cognitive Psychology Psychology and Its Implication. Implication. San
Francisco: Francisco: W.H. Freeman. Freeman. Ausubel, D.P. 1968, 1968, Education
Psychology: Psychology: A Cognitive Cognitive View. New York: Holt, Holt, Renehart and
Winston. Karwono, Heni Mularsih,2010. Belajar dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber
Belajar.Jakarta: Belajar.Jakarta: Cerdas Jaya. Sumber : Slavin, Robert E. (2011). Psikologi
Pendidikan (Teori dan Praktik). Jakarta : PT.Indeks
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pengolahan informasi mengandung pengertian tentang bagaimana individu mempersepsi,
mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu dari
lingkungan. Pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah psikologi
kognitif. Psikologi kognitif sebagai upaya untuk memahami mekanisme dasar yang mengatur
cara berpikirnya orang (Anderson, 1980). Perbedaan antara teori belajar dan teori pengolahan
informasi adalah pada derajat penekanan pada soal belajar.
Teori pengolahan informasi tidak memperlukan belajar sebagai titik pusat penelitian yang utama.
Belajar itu hanyalah merupakan salah satu proses yang diselidiki dan

antara kegiatan belajar dan sub-sub ranah lain dari psikologi kognitif tetap tidak jelas (Anderson,
1980). Namun, demikian, penelitian pengolahan informasi memberikan sumbangan atas
pengertian proses belajar.
1.2 Rumusa Masalah :
a. Bagaimana konsep model pengolahan informasi ?
b. Jelaskan riset tentang otak !
c. Apa penyebab orang ingat dan lupa ?
d. Bagaimana cara mengajarkan strategi memori ?
e. Apa saja faktor-faktor yang membuat informasi bermakna !
f. Bagaimana Strategi Studi untuk Membantu Siswa Belajar ?
g. Bagaimana Cara Strategi Pengajaran Kognitif Membantu Siswa Belajar

h.Bagaimana konsep mengenai teori pengolahan informasi ?


i. Sebutkan dan jelaskan komponen belajar !
j. Teori pengolahan informasi dan aplikasinya dalam pembelajaran !

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Pengolahan Informasi


Informasi terus memasuki pikiran kita melalui indera kita. Sebagian ada yang di simpan dalam
ingatan kita dalam waktu yang singkat dan kemudian di lupakan. Riset tentang memori manusia
(lihat, misalnya, Anderson, 2005; Ashcraft, 2006; Bransford, Brown & Cocking, 1999; Byrnes,
2001; Elias & Saucier, 2006; Solso, 2001; Tulving & Craik, 2000) telah membantu pakar teori
pembelajaran menjelaskan proses yang menyebabkan informasi diingat (atau dilupakan). Proses ini,
yang biasanya disebut model pengolahan informasi Atkinson & Shiffrin. Ada tiga komponen utama
memori ialah : Rekaman indera, memori kerja atau jangka pendek, dan memori jangka panjang.
Rekaman indera adalah memori yang sangat pendek yang terkait dengan indera. Informasi yang
diterima indera tetapi tidak diberi perhatian akan terlupakan dengan cepat. Begitu diterima, informasi
diolah oleh pikiran sesuai dengan pengalaman dan keadaan mental kita. Kegiatan ini disebut persepsi.
Rekaman indera menerima informasi dalam jumlah besar dan masing-masingindera (penglihatan,
pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa) dan menahannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak
lebih dari beberapa detik. Jika tidak ada yang terjadi pada informasi yang di tahan dalam rekaman indera
,informasi tersebut hilang dengan cepat. Informasi yang diterima indera tetapi tidak diberi perhatian
akan terlupakan dengan cepat.
Begitu diterima, informasi diolah oleh pikiran sesuai dengan pengalaman dan keadaan mental kita.
Kegiatan ini disebut persepsi. Persepsi menegenai rangsangan bukanlah sesederhana penerimaan
rangsangan, sebaliknya hal itu melibatkan penafsiran pikiran dan di pengaruhi oleh keadaan pikiran kita,
pengalaman masa lalu, pengetahuan,

. Faktor yang Membuat Informasi Bermakna


Ada beberapa factor yang membuat sebuah informasi bermakna. Terutama kita sebagai guru, harus
melakukan tugas terpenting, diantaranya; membuat informasi bermakna bagi siswa dengan menyajikan
secara jelas dan terorganisir; dengan menghubungkannya ke informasi yang sudah ada dalam pikiran
siswa; dan dengan memastikan siswa sudah benar-benar memahami konsep yang diajarkan dan dapat
menerapkan ke situasi baru.
Pembelajaran hafalan versus bermakna, pembelajaran hafalan (rote learning) merujuk pada
pengingatan fakta atau hubungan yang pada dasarnya adalah sembarangan. Sedangkan, pembelajaran
bermakna merupakan pengelolaan informasi baru ke dalam pikiran yang terkait dengan pengetahuan
yang dipelajari sebelumnya.
Teori skema, teori yang menyatakan bahwa informasi disimpan kedalam memori jangka panjang
didalam skemata (jaringan fakta-fakta dan konsep-konsep yang saling terkait), yang memberikan
struktur untuk memahami informasi baru.
F. Strategi Studi untuk Membantu Siswa Belajar
Riset tentang strategi studi atau strategi belajar yang efektif paling hanya

membingungkan. Hanya segelintir bentuk bentuk belajar terbukti senantiasa efektif dan lebih
sedikit masih belum pernah efektif. Riset tentang strategi studi yang paling umum diringkaskan
kedalam bagian-bagian berikut :
Membuat catatan, menggarisbawahi dengan terarah dan selektif, merangkum, menulis untuk
belajar, membuat garis besar, dan memetakan dapat dengan efektif meningkatkan pembelajaran.
Metode PQ4R adalah contoh strategi yang terfokus pada pengorganisasian informasi yang
bermakna.

4
G. Cara Strategi Pengajaran Kognitif Membantu Siswa Belajar
Membuat pembelajaran relevan dan mengaktifkan pengetahuan terdahulu, Organisator awal
membantu siswa mengolah informasi baru dengan mengaktifkan pengetahuan latar belakang.
Analogi, elaborasi informasi, skema organisasi, teknik bertanya, dan model konseptual adalah
contoh lain strategi pengajaran yang didasarkan pada teori pembelajaran kognitif.
Mengorganisasi Informasi, ada banyak cara pengorganisasian informasi dimana guru juga dapat
bertindak langsung dalam hal tersebut. Guru juga dapat membantu siswa memahami topic yang
rumit dengan menggunakan beberapa tekhnik atau model

diantaranya; Menggunakan teknik bertanya dan menggunakan model konseptual (diagram yang
memperihatkan bagaimana unsur-unsur proses berkaitan satu sama lain).

TEORI PENGOLAHAN INFORMASI


Penelitian pengolahan informasi menitik beratkan usahanya pada pelacakan dan pemberian
urutan operasi pikiran dan hasilnya, yang berupa informasi dalam pelaksanaan tugas kognitif
tertentu ( Anderson, 1980, hlm.13). Bidang lain yang termasuk dalam psikologi kognitif ialah
sub ranah bahasa perumpamaan, memori, persepsi, intelegensi buatan, dan perkembangan
kognitif.
Istilah “pengolahan Informasi” mengandung pengertian adanya pandangan tertentu kearah studi
individu. Pusat perhatiannya adalah cara bagaimana orang mempersepsi

eori pengolahan informasi berbeda dengan teori belajar yang khas dalam tiga hal :
1. Tidak bercirikan karya satu orang teoritikus saja atau suatu rancangan penelitian tertentu.
2. Adanya perpecahan pandangan filosofis dalam bidang kognitif.
3. Derajat penekanannya pada soal belajar.
5
Prinsip Belajar
Dalam rancangan pengolahan informasi ada dua bidang yang penting secara khusus bagi belajar.
Yang pertama, penyelidikan mengenai proses orang memperoleh dan mengingat informasi. Yang
kedua, penelitian mengenai siasat yang dipakai orang

dalam memecahkan masalah.

Asumsi Dasar
Asumsi yang mendasari teori pengolahan informasi:
Hakikat system memori manusia.

Sifat memori manusia


Dalam tahun 1960-an memori manusia mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit dalam
mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan kita. Memori bukanlah sebuah gudang yang
pasif, tetapi suatu system yang ada organisasinya dan aktif. Cara bagaimana pengetahuan
digambarkan dan disimpan dalam memori.

Konsep multitahap
Ada tiga struktur memori dalam konsep ini :
• Pencatat pengindraan
• Penyimpanan jangka pendek
• Penyimpanan jangka panjang

MAKALAH TENTANG INGATAN


BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang Masalah

Pada umumnya para ahli memandang ingatan sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa
lampau. Apa yang telah diingat adalah hal yang pernah dialami, pernah dipersepsinya, dan hal
tersebut pernah dimasukkan kedalam jiwanya dan disimpan kemudian pada suatu waktu kejadian
itu ditimbulkan kembali dalam kesadaran. Ingatan merupakan kemampuan untuk menerima dan
memasukkan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali apa yang pernah
dialami (remembering).

Otak merupakan perangkat yang paling kompleks di dunia. Trilyunan sel otak memiliki fungsi
spesifik tetapi saling berhubungan. Mengendalikan seluruh aspek fisik dan psikis manusia. Baik
secara sadar maupun tak sadar Kapasitas penyimpanan memori di dalam otak jauh melebihi
kapasitas hardisk komputer terbesar sekalipun. Otak memiliki kemampuan menangani algoritma
rumit secara bersamaan dalam jumlah tak terbatas, jauh melebihi kemampuan prosesor komputer
tercanggih sekalipun. Tapi sayangnya manusia tidak mampu mengoptimalkan seluruh potensi
otak tersebut, sehingga otak tidak memungkinkan semua jejak ingatan itu tersimpan terus dengan
sempurna, melainkan berangsur-angsur akan menghilang. Tetapi ketika orang yang bersangkutan
diminta untuk mengingat kembali hal yang sudah mulai terlupakan sebagian itu.

Istilah Transfer belajar berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari matapelajaran yang
satu ke mata pelajaran yang lain atau dari kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah.
Adanya pemindahan atau pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar
yang diperoleh dan dapat dipindahkan tersebut dapat berupa pengetahuan,kemahiran intelektual,
keterampilan motorik atau afektif dll..

1.1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian dari memori, lupa dan transfer belajar itu?


2. Apa saja pandangan-pandangan tentang memori, lupa dan transfer belajar?
3. Apa saja faktor-faktor yang berperan dalam memori, lupa dan transfer belajar?

1.1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk menjelaskan pengertian dari memori, lupa, dan transfer belajar


2. Untuk menjelaskan pengaruh memori, lupa, dan ingatan dalam belajar
3. Untuk menjelaskan cara mengingat, mengatasi lupa, dan menerima pelajaran (transfer
belajar)
PPG DALJAB (1801610271004
2
C.

Tujuan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui dan memahami: 1.

Pengorganisasian informasi dalam ingatan manusia 2.


Model pembelajaran pemrosesan informasi
D.

Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang B.

Rumusan Masalah C.

Batasan Masalah D.

Tujuan Penulisan E.

Sistematika Penulisan BAB II PEMBAHASAN A.

Pengorganisasian Informasi Dalam Ingatan Manusia B.

Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi BAB III SIMPULAN A.

Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

3
BAB II PEMBAHASAN A.

Pengorganisasian Informasi dalam Ingatan Manusia


Ingatan manusia dibagi menjadi dua, yaitu; memori Jangka Pendek (
Short Term Memory
atau STM): Memori yang memiliki kapasitas terbatas dan hanya berlangsung selama 20-30 detik dalam keberadaannya; dan
Memori Jangka Panjang (
Long Term Memory
atau LTM): Memori yang tidak memiliki batasan kapasitas dan berlangsung mulai dari hitungan menit hingga selamanya (Rehalat, 2014).
Ingatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai alat (daya batin) untuk mengingat atau menyimpan sesuatu yang
pernah diketahui (dipahami, dipelajari, dan sebagainya). Informasi yang kita peroleh terekam di dalam ingatan
melalui proses berpikir. Informasi yang masuk kemudian diproses dan tersimpan berkaitan erat dengan kemampuan kognisi seseorang
(Frishammar, 2002). Dengan kata lain, pemrosesan informasi dipengaruhi oleh faktor memori dan kognisi termasuk
kecerdasan seseorang (Frishammar, 2002). Resnick (1981) berpendapat bahwa dalam psikologi pemrosesan informasi memfokuskan
pada struktur pengetahuan dan pada mekanisme dimana pengetahuan dimanipulasi, ditransformasi dan dihasilkan dari proses
beberapa pemecahan masalah. Pemrosesan informasi didalam pikiran berlangsung terus-menerus selama adanya
informasi baru yang masuk dalam pikiran. Komponen pemrosesan informasi dipilah berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk
informasi, serta proses terjadinya. Komponen tersebut adalah: 1.

Sensory Memory
(SM)
Sensory Memory
(SM) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SM informasi ditangkap dalam bentuk aslinya,
bertahan dalam waktu sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu atau berganti. 2.

Working Memory
(WM)
Working Memory
(WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu. Karakteristik WM adalah memiliki
kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik tanpa pengulangan) dan informasi dapat
disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. 3.
Short Term Memory
(STM) Short Term Memory (STM) atau memori jangka pendek memiliki kapasitas yang kecil sekali, namun sangat besar peranannya dalam
proses memori, yang

4
merupakan tempat dimana kita memproses stimulus yang berasal dari lingkungan kita. 4.

Long Term Memory


(LTM)
Long Term Memory
(LTM) diasumsikan; (a) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki individu; (b) mempunyai kapasitas tidak terbatas; ( c)
sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Teori proses masuknya rangsangan ke
penyimpanan dan ingatan digambarkan sebagai berikut (Surgenor, 2010): Stimulus yang masuk melalui pancaindra
diterima oleh
Sensory Memory, sensory memory
menyimpan semua informasi sensorik (visual, pendengaran, penciuman, dan haptic) untuk periode yang sangat singkat dalam bentuk
sensoriknya yang mentah. Melalui perhatian yang selektif (
selective attention)
informasi dipindahkan ke dalam kesadaran dan memori jangka pendek (
short term memory),
sedangkan informasi yang tidak lolos
attention
dilupakan
.
Hubungan antara memori jangka pendek dan memori kerja (
working memory)
masih belum jelas namun diibaratkan jika memori jangka pendek adalah memori sadar maka maka memori kerja
adalah setara dengan catatan post-it.

Selanjutnya dengan
rehearsal and encoding
informasi yang telah dipelajari disimpan di memori jangka panjag (
Long Term Memory)
.
READ PAPER
nitif :
1. Siswa mampu menjelaskan dan mengembangkan pengertian gerak melalui suatu alat peraga
2. Siswa mampu menyebutkan macam-macam gerak
3. Siswa mampu menjelaskan dan mengembangkan pengertian perpindahan, kelajuan dan
kecepatan sesuai dengan konsep yang telah mereka pahami melalui suatu alat peraga
4. Siswa mampu memisahkan antara kelajuan dan kecepatan
5. Siswa mampu memperhitungkan soal-soal yang berkaitan dengan perpindahan, kelajuan dan
kecepatan
6. Siswa mampu mengubah atau mengkonversikan nilai kecepatan ke Satuan Internasional (SI)
7. Siswa mampu menjelaskan dan mengembangkan pengertian Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan
Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) melalaui suatu alat peraga
8. Siswa mampu membandingkan perbedaan antara Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus
Berubah Beraturan (GLBB)
9. Siswa mampu menghubungkan teori yang diberikan dengan soal-soal yang berkaitan dengan
Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)

Psikomotorik :
1. Siswa mampu menunjukan contoh gerak sesuai dengan konsep yang mereka pahami melalui
suatu alat peraga
2. Siswa mampu menujukan berbagai contoh gerk dalam kehidupan sehari-hari
3. Siswa mampu mempraktekan contoh perpindahan, kelajuan dan kecepatan
4. Siswa mampu menghubungkan konsep perpindahan, kelajuan dan kecepatan dengan gerak
5. Siswa mampu menanggapi hasil perhitungan dari soal-soal yang berhubungan dengan
perpindahan, kelajuan dan kecepatan
6. Siswa mampu menanggapi soal yang berkaitan dengan pengubahan atau pengkonversian
kecepatan ke Satuan Internasional
7. Siswa mampu menunjukan contohkan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah
Beraturan (GLBB)

Afektif :
1. Siswa mampu melaksanakan sebuah contoh gerak dari hasil pemikiran konsep melalui suatu
alat peraga.
2. Siswa mampu menyempurnakan penegertian gerak melalui contoh dalam kehidupan sehari-
hari.
3. Siswa mampu memperlihatkan hubungan antara perpindahan, kelajuan dan kecepatan serta
gerak.
4. Siswa mampu mengaitkan rumus dari perpindahan, kelajuan dan kecepatan dengan soal-soal
yang di berikan.
5. Siswa mampu menyelesaikan perhitungan pada satuan-satuan yang di gunakan dalam
perpindahan, kelajuan dan kecepatan termasuk dalam pengubahan satuan atau pengkonversian
ke Satuan Internasional
6. Siswa mampu memilih dan membedakan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah
Beraturan (GLBB) serta mencontohkan menurut kehidupan sehari-hari.

Langkah Kegiatan/Skenario Pembelajaran


Setelah mereviu hasil pencapaian kompetensi dasar (KD) sebelumnya, siswa mengikuti
peragaan gerak, perpindahan, kecepatan dan percepatan untuk menemukan perbedaannya
kemudian dari peragaan tersebut siswa dapat pula menentukan rumusan dari perpindahan,
kecepatan dan percepatan. Selanjutnya melalui diskusi, mendefinisikan Gerak Lurus Beraturan
(GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) untuk menentukan perbedaan di keduanya.
Siswa dari perwakilan dua kelompok prktik mempresentasikan hasil percobaan dan penerapan
Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) dalam kehidupan
sehari-hari. Selama proses pembelajaran, dilakukan penilaian
proses pada aktivitas di kelas dan tugas mandiri

 Reply

 View profile card for SUIN NURSIAH UPR

SUIN NURSIAH UPR


1 hour ago

Teori belajar humanistik pada dasarnya memiliki tujuan belajar untuk memanusiakan manusia. Oleh
karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri. Artinya peserta didik mengalami perubahan dan mampu memecahkan
permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Dengan kata lain, si pembelajar
dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan
sebaik-baiknya. (Sukardjo dan Komarudin, 2009: 56). Tujuan utama para pendidik adalah membantu
siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri
mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada
dalam diri mereka (Drs.M.Dalyono, 2012 : 43).

Senada dengan pendapat di atas, belajar adalah pentingnya isi dari proses belajar bersifat elektrik,
tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanistik
dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman,
dan membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui
kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan
pendapatnya masing-masing didepan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya
apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik
yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena
sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam
belajar dan terjadi pola perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri (Herpratiwi, 2009:
39). Mampu menerima dirinya sendiri, perasaan mereka dan lain-lain disekitarnya. Untuk menjadi
dewasa dengan aktualisasi dirinya, siswa perlu ruang kelas yang bebas yang memungkinkan mereka
menjadi kreatif (Sudarwan Danim dan H.Khairil,2011:23-26).

Para teoritikus humanistik, seperti Carls Rogers (1902-1987) dan Abraham Maslow (1908-1970)
menyakini bahwa tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik-konflik yang
tidak disadari maupun sebagai hasil pengkondisian (conditioning) yang sederhana.Teori ini menyiratkan
penolakan terhadap pendapat bahwa tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh faktor diluar
dirinya. Sebaliknya, teori ini melihat manusia sebagai aktor dalam drama kehidupan, bukan reaktor
terhadap instink atau tekanan lingkungan. Teori ini berfokus pada pentingnya pengalaman disadari yang
bersifat subjektif dan self-direction.[1]

Awal timbulnya psikologi humanistis terjadi pada akhir tahun 1940-an yaitu munculnya suatu perspektif
psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam
pengembangan ini. Misalnya; ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial, konselor, bukan
merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar. Gerakan ini berkembang dan kemudian
dikenalkan dengan psikologi humanistis, eksternal, perseptual atau fenomenologikal. Psikologi ini
berusaha memahami perilaku seseorang dari sudut perilaku (behavior), bukan dari pengamat observer.
Dalam dunia pendidikan aliran humanisme muncul pada tahun 1960 sampai dengan 1970-an dan
mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad ke-
20 ini pun juga akan menuju pada arah ini (Herpratiwi, 2009: 37).

1) Member perhatian pada penciptaan suasana awal pembelajaran,

2) Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga meningkatkan peserta didik untuk
mengikuti pembelajaran dengan cara menerapakan metode pembalajaran yang bervariasi,

3) Mengatur peserta didik agar bisa berkomunikasi secara langsung secara aktif dengan antar
teman selama proses pembelajaran,

4) Mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang palin luas dan
mudah dimanfaatkan para peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka,

5) Menempatkan diri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan peserta
didik baik secara individu maupun kelompok (guru dijadikan tempat untuk bertanya peserta
didik tanpa peserta didik merasa takut),

6) Menanggapi dengan baik ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas dan menerima baik isi
yang bersifat intelektual (tidak penuh dengan kritikan sehingga memotifasi peserta didik untuk
mengekspresikan diri),

7) Bersikap hangat dan berusaha memahami perasaan peserta didik ( berempati) dan meluruskan
dianggap kurang relevan dengan cara yang santun,

8) Dalam pembelajaran secara kelompok , dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam
kelompok dan mencoba mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan tidak menuntut dan
juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau
ditolak oleh peserta didik,

9) Sebagai seorang manusia yang tidak selalu sempurna , guru mau mengenali, mengakui dan
menerima keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang hati menerima pandangan
yang lebih baik dari peserta didik.