Anda di halaman 1dari 15

REVISI

PERCOBAAN 8

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA II

PENENTUAN LUAS PERMUKAAN ZAT PADAT

Dosen Pengampu Mata Kuliah :


1. Dr. Nazriati, M.Si
2. Dr. Fauziatul Fajaroh, M.Si.

Oleh :
Kelompok 6
Offering H / Kimia 2016

1. Indi Ngazifatul Muna (169332605892) ***


2. Jannatul Firdaus (160332605835)
3. Mega ariyanti (160332605856)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OKTOBER 2018
PENENTUAN LUAS PERMUKAAN ZAT PADAT

A. TUJUAN PERCOBAAN

1. Menentukan luas permukaan spesifik zat padat dengan metode: adsorbsi zat
warna (metilen biru klorida).
2. Menentukan ukuran partikel rata-rata

B. DASAR TEORI
Adsorpsi secara umum adalah peristiwa menempelnya suatu zat pada permukaan
zat lain, karena ketidakseimbangan gaya-gaya pada permukaan. Zat padat teraktifkan
dapat mengadsopsi zat terlarut dari larutannya. Banyaknya zat yang teradsorpsi pada
temperatur tetap akan sebanding dengan :
 Luas permukaan adsorben,
 Konsentrasi adsorbat
 Lamanya proses adsorpsi

Jika sejumlah tertentu adsorben dicampurkan dengan berbagai konsentrasi adsorbat


pada temperatur yang sama dan dibiarkan mencapai keseimbangan adsorbsi, maka
suatu saat jumlah konsentrasi adsorbat bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa
seluruh permukaan adsorben telah jenuh (tertutup rapat) oleh molekul-molekul yang
teradsopsi. Bila anggapan keadaan diatas tepenuhi, maka aluran banyaknnya zat yang
teradsorpsi terhadap konsentrasi adsorbat pada kesetimbangan dapat digambarkan
seperti berikut :

Konsentrasi pada kesetimbangan adsorpsi


5
4
Banyaknya

teradsorpsi

3
zat

2
1
0
0 2 4 6 8

Konsentrasi pada kesetimbangan


adsorbsi
Pada percobaan ini digunakan bahan berupa arang aktif, dimana arang aktif
merupakan material mikropori yang digunakan secara luas dalam penggunaan
komersial sebagai adsorben untuk penghilangan polutan gas dan cairan, serta banyak
dalam aplikasi lainnya. Arang aktif dihasilkan dari beberapa material yang kaya akan
karbon seperti kayu, batubara, lignin, dan tempurung kelapa. Fenomena adsorpsi dari
arang aktif adalah luas pori pada permukaan yang besar.
Luas permukaan spesifik suatu padatan adalah luas permukaan 1 gram padatan
tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut dan dengan anggapan bahwa molekul
adsorpsi terorientasi seragam (tegak lurus permukaan adsorben) membentuk suatu
lapisan tunggal, luas permukaan spesifik dapat dihitung dengan rumus :

𝑋𝑚 𝑁. 𝑎
𝑆=
𝑀
Dengan :

S = luas permukaan spesifik

Xm = banyaknya (gram) zat teradsorpsi yang membentuk lapisan tunggal pada

seluruh permukaan 1 gram adsorben.

N = bilangan avogadro

a = ukuran 1 molekul

M = berat molekul adsorbat

Seandainya luas permukaan 1 mg adsorbat diketahui maka luas permukaan spesifik


dapat ditentukan dengan ungkapan :

S = 1000. Xm. A

Dengan A = luas permukaan 1 mg adsorbat


Dari data luas permukaan spesifik dapat ditentukan ukuran partikel rata-rata dengan
persamaan :
6
l=
pS

dengan anggapan bahwa partikel-partikel zat padat berupa kubus yang seragam
dengan rusuk l, sedangkan r rapat massa zat padat
C. ALAT DAN BAHAN
Alat : - Labu Erlenmeyer
- Pipet takar 5, 10, dan 25 mL
- Buret mikro
- Spektronik
- Sentrifuge
- Corong tangkai pendek
- Gelas ukur 10 mL

Bahan : - Adsorben : karbon


- larutan metilen biru klorida dengan konsentrasi 4, 3, 2, 1, dan 0,5 ppm

D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Penentuan Waktu Setimbang Adsorbsi
a. Adsorbsi zat warna
1) Ke dalam 5 buah labu erlemeyer 100 mL, masing-masing diisi 1 gram zat
padat (arang aktif) yang telah dikeringkan selama 4 jam pada 110-115 0C.
2) Pada tiap labu, ditambahkan 25 mL larutan metilen biru klorida 3 ppm.
Kocok selama 15 menit dan diamkan selama 30,60,90,120 dan 150 menit.
3) Buat kurva kalibrasi standar metilen biru dengan cara mengukur
absorbansi larutan metilen biru 4; 3; 2; 1 dan 0,05 ppm pada panjang
gelombang 660 nm.
4) Sentrifuge / saring larutan pada langkah (2)
5) Ukur absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm, kemudian tentukan
jumlah mg zat warna yang teradsorbsi.

2. Penentuan Luas Permukaan Zat Padat


a. Metode Adsoprsi Zat Warna
1) Ke dalam 5 buah labu erlenmeyer 100 mL, masing-masing diisi 1 gram
zat padat (arang aktif) yang telah dikeringkan selama 4 jam pada 110-115
0
C.
2) Pada tiap labu, ditambahkan 25 mL metilen biru klorida dengan
konsentrasi berbeda yaitu berturut-turut 0,5; 1; 2; 3; 4 ppm. Kocok selama
15 m3nit dan diamkan hingga tercapai kesetimbangan.
3) Sentrifuge / saring larutan tiap labu. Tentukan jumlah mg zat warna yang
teradsorpsi dengan mengukur adsorbansi larutan hasil dekantasi pada 660
nm.

E. DATA PENGAMATAN
1. Penentuan Waktu Setimbang Adsorbsi
A. Adsorpsi Zat Warna (Metilen Biru 3 Ppm)
Lar.
Absorbansi
Adsorben Metilen Waktu Waktu
No. %T pada 660
(karbon) Biru Pengocokan Mendiamkan
nm
Klorida
1 1,0001 gram 25 mL 15 menit 30 menit 72% 0,1423
2 1,0000 gram 25 mL 15 menit 60 menit 70% 0,1549
3 1,0054 gram 25 mL 15 menit 90 menit 72% 0,1423
4 1,0046 gram 25 mL 15 menit 120 menit 76% 0,1191
5 1 gram 25 mL 15 menit 150 menit - -

B. Kalibrasi Standar Metilen Biru


Larutan Metilen Absorbansi
No. %T
biru klrida pada 660 nm
1 0,5 ppm 97 0,0132
2 1 ppm 75 0,1249
3 2 ppm 68 0,1674
4 3 ppm 62 0,2076
5 4 ppm 32 0,4948

2. Penentuan Luas Permukaan Zat Padat


A. Metode Adsorbsi Zat Warna
25 mL
Lar. Absorbansi
Adsorben Waktu Waktu
No Metilen %T pada 660
(karbon) Pengocokan Membiarkan
Biru nm
Klorida
1 1,0029 gram 0,5 ppm 15 menit 120 menit 87 % 0,0604
2 1,0022 gram 1 ppm 15 menit 120 menit 85,5% 0,0680
3 1,0019 gram 2 ppm 15 menit 120 menit 74% 0,1307
4 0,9997 gram 3 ppm 15 menit 120 menit 70% 0,1549
5 1,0055 gram 4 ppm 15 menit 120 menit 76% 0,1191
F. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan penentuan luas permukaan zat padat, dilakukan 2 tahap
percobaan yaitu : penentuan waktu setimbang adsorpsi dan penentuan luas permukaan
zat padat. Tahapan tersebut dilakukan untuk memperoleh tujuan percobaan yaitu
menentukan luas permukaan spesifik zat padat dengan metode adsorbsi zat
warna(metilen biru klorida) dan menentukan ukuran partikel rata-rata.
Pada percobaan ini, adsorbat yang digunakan adalah larutan metilen biru
klorida dengan berbagai konsentrasi dan adsorben yang digunakan adalah karbon
yang telah diaktifkan sebelumnya dan telah dikeringkan selama 4 jam dalam oven
pada suhu 110-1150C. Proses pengaktifan adsorben(karbon) bertujuan agar ketika
proses adsorpsi berlangsung karbon dapat menyerap metilen biru klorida secara
maksimal. Tahap selanjutnya yaitu karbon ditimbang dengan massa kurang lebih 1
gram dan kemudian dimasukan ke dalam 9 buah labu erlenmeyer tertutup 100 mL.
Empat buah labu erlenmeyer pertama digunakan untuk tahapan penentuan waktu
setimbang adsorpsi dan lima buah labu erlenmeyer selanjutnya digunakan untuk
tahapan penentuan luas permukaan zat padat.

1. Penentuan Waktu Setimbang Adsorpsi

Pada tahap ini, empat buah labu erlenmeyer yang telah terisi karbon aktif
masing-masing ditambahkan ke dalamnya 25 mL larutan metilen biru klorida 3 ppm.
Kemudian larutan dikocok selama 15 menit dan didiamkan selama 30, 60, 90, dan 120
menit agar proses adsorpsi berlangsung maksimal. Kemudian larutan hasil adsorpsi
disaring dan diukur absorbansi larutan metilen biru klorida 3 ppm pada panjang
gelombang 660 nm. Dari data yang telah diperoleh, didapatkan grafik absorbansi vs
waktu sebagai berikut :

Absorbansi Metilen Biru 3 ppm terhadap Waktu


pada Panjang Gelombang 660 nm
0.2
0.1549
0.15 0.1423
Absorbansi

0.1423 0.1191
0.1 y = -0.0003x + 0.1602
R² = 0.5051
0.05

0
0 20 40 60 80 100 120 140
waktu (menit)
Dari grafik tersebut, dapat di analisis bahwa mula-mula adsorpsi yang
terjadi sebesar 0,1423 kemudian naik menjadi 0,1549 dan kembali turun sebesar
0,1423 dimana nilai adsorpsi ini sama dengan nilai adsorpsi pada menit ke-30
hingga pada menit ke-120 nilai adsorpsinya turun kembali sebesar 0,1308.
Ketidakstabilan nilai adsorpsi yang didapatkan menyebabkan tidak diperolehnya
waktu setimbang adsorpsi pada percobaan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa
hal. Pertama : diduga waktu setimbang adsorpsi pada percobaan ini lebih dari 120
menit dan praktikan hanya melakukan percobaan dengan waktu pengamatan
sampai 120 menit (karena minimnya waktu yang diberikan untuk percobaan).
Sehingga tidak diperoleh waktu setimbang adsorpsi pada percobaan. Kedua:
dimungkinkan hal tersebut dapat terjadi karena kesalahan praktikan yang kurang
teliti saat pengukuran adsorpsi mengggunakan spektronik .dimana nilai absorpsi
pada menit ke 30,60, dan 90 seharusnya sama dan dapat diperoleh waktu
setimbang adsorpsi namun karena kurangnya ketelitian praktikan pada saat
pengukuran menyebabkan diperolehnya nilai absorpsi yang berbeda, Sehingga
tidak diperoleh waktu setimbang adsorpsi pada percobaan.

(Waktu setimbang adalah keaadan dimana seluruh permukaan karbon telah


tertutup rapat oleh molekul-molekul metilen biru klorida)

Percobaan selanjutnya yaitu mengukur absorbansi larutan standar metilen


biru klorida yang belum di adsorbsi pada panjang gelombang 660 nm.
Konsentrasi larutan metilen biru dibuat bervarias, yaitu 0,5;1;2;3; dan 4 ppm.
Grafik absorbansi vs konsentrasi metilen biru yaitu sebagai berikut :

Absorbansi Metilen Biru terhadap Konsentrasi


pada Panjang Gelombang 660 nm
(sebelum Adsorbsi oleh Karbon Aktif)
0.6
0.4948
0.5
y = 0.1161x - 0.0422
0.4
Absorbansi

R² = 0.8593
0.3 0.2076
0.1674
0.2 0.1249
0.1 0.0132
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
konsentrasi (ppm)
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi
metilen biru klorida, semakin besar absorbansinya. Berdasarkan grafik tersebut
diperoleh persamaan garis y = 0,1161x - 0,0422. Sehingga dapat dhitung
konsentrasi larutan metilen biru (banyaknya zat teradsorbsi) sebagai berikut :

 Metilen biru 0,5 ppm


y = 0,1161x - 0,0422  Metilen biru 3 ppm
0,0132 = 0,1161x - 0,0422 y = 0,1161x - 0,0422
0,0132 + 0,0422 0,2076 = 0,1161x - 0,0422
x =
0,1161
0,2076 + 0,0422
x = 0,4771 ppm x =
0,1161
𝑚𝑔
x = 0,4771 x 0,025 L x = 2,1515 ppm
𝐿
𝑚𝑔
x = 0,0119 mg x = 2,1515 x 0,025 L
𝐿

x = 0,0538 mg
 Metilen biru 1 ppm
y = 0,1161x - 0,0422  Metilen biru 4 ppm
0,1249 = 0,1161x - 0,0422 y = 0,1161x - 0,0422
0,1249 + 0,0422 0,4948 = 0,1161x - 0,0422
x =
0,1161
0,4948 + 0,0422
x = 1,4392 ppm x =
0,1161
𝑚𝑔
x = 1,4392 x 0,025 L x = 4,6253 ppm
𝐿
𝑚𝑔
x = 0,0359 mg x = 4,6253 x 0,025 L
𝐿

x = 0,1156 mg

 Metilen biru 2 ppm


y = 0,1161x - 0,0422
0,1674 = 0,1161x - 0,0422
0,1674 + 0,0422
x =
0,1161

x = 1,8053 ppm
𝑚𝑔
x = 1,8053 x 0,025 L
𝐿

x = 0,0451 mg
2. Luas Permukaan Zat Padat

Pada tahap ini, 5 buah labu erlenmeyer yang telah terisi karbon aktif masing-
masing ditambahkan kedalamnya 25 mL larutan metilen biru klorida dengan
konsentrasi 0,05; 1; 2; 3; dan 4 ppm. Kemudian larutan dikocok selama 15 menit dan
didiamkan selama 120 menit (karena tidak diperoleh waktu kesetimbangann adsorpsi
pada tahap pertama dan diduga waktu kesetimbangan adalah lebih dari 120 menit
maka pada percobaan ini dianggap waktu kesetimbangan adsorbsinya adalah 120
menit). Kemudian dibuat grafik absorbansi vs konsentrasi metilen biru dan diperoleh
grafik sebagai berikut :

Absorbansi Metilen Biru terhadap Konsentrasi


pada Panjang Gelombang 660 nm
(Setelah Adsorbsi oleh Karbon Aktif)
0.2

0.15 0.1549
Absorbansi

0.1307
0.1191
0.1
0.068
0.05 y = 0.0206x + 0.0652
0.0604
R² = 0.6218
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Konsentrasi (ppm)

Secara teoritis, semakin tinggi konsentrasi metilen biru klorida yang digunakan maka
akan semakin tinggi pula absorbansi larutan yang diukur. Tetapi data percobaan yang
didapatkan pada konsentrasi 4 ppm, absorbansi larutan menurun. Hal ini tidak sesuai
dengan teori. Kemungkinan didapatkannya data yang menyimpang adalah karena
larutan metilen biru klorida yang digunakan tidak tepat sesuai dengan konsentrasi
seharusnya. Karena pada saat pengambilan larutan metilen biru klorida 4 ppm dan 3
ppm, warna larutan metilen biru klorida dengan konsentrasi 3 ppm lebih pekat warna
birunya daripada larutan metilen biru klorida dengan konsentrasi 4 ppm. Sehingga
menyebabkan pengukuran absorbansi larutan metilen biru klorida tidak tepat.
Konsentrasi Waktu membiarkan Absorbansi Jumlah zat yang teradsorpsi (mg)

0.5 ppm 120 menit 0.0604 0,0119


1 ppm 120 menit 0.0680 0,0359
2 ppm 120 menit 0,1307 0,0451
3 ppm 120 menit 0,1549 0,0538
4 ppm 120 menit 0,1191 0,1156

Berdasarkan data jumlah zat teradsorbsi dapat digunakan untuk mencari nilai Xm
(banyaknya (gram) zat terabsorbsi yang membentuk lapisan tunggal pada seluruh
permukaan 1 gram adsorben) melalui grafik kuantitas (q) vs konsentrasi, dengan
perhitungan kuantitas (q) sebagai berikut :

 Metilen biru klorida 0,5 ppm


Zat terabsorbsi = 0,0119 mg
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖
Kuantitas (q) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑒𝑛
0,0119 𝑚𝑔
=
1,0029 𝑔
𝑚𝑔
= 0,0118 𝑔

 Metilen biru klorida 1 ppm


Zat terabsorbsi = 0,0359 mg
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖
Kuantitas (q) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑒𝑛
0,0359 𝑚𝑔
= 1,0022 𝑔
𝑚𝑔
= 0,0358
𝑔

 Metilen biru klorida 2 ppm


Zat terabsorbsi = 0,0451 mg
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖
Kuantitas (q) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑒𝑛
0,0451 𝑚𝑔
= 1,0019 𝑔
𝑚𝑔
= 0,0451 𝑔
 Metilen biru klorida 3 ppm
Zat terabsorbsi = 0,0538 mg
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖
Kuantitas (q) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑒𝑛
0,0538 𝑚𝑔
= 0,9997 𝑔
𝑚𝑔
= 0,0538 𝑔

 Metilen biru klorida 4 ppm


Zat terabsorbsi = 0,1156 mg
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖
Kuantitas (q) = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑏𝑒𝑛
0,1156 𝑚𝑔
= 1,0055 𝑔
𝑚𝑔
= 0,1149 𝑔

𝑚𝑔
No. Konsentrasi Kuantitas (q) ( )
𝑔

1 0,5 ppm 0,0118


2 1 ppm 0,0358
3 2 ppm 0,0451
4 3 ppm 0,0538
5 4 ppm 0,1149

Grafik Kuantitas (q) vs Konsentrasi (C)


0.14
0.1149
0.12
y = 0.0249x + 5E-05
kuantitas (q) (mg/g)

0.1
R² = 0.862
0.08
0.0538
0.06 0.0451
Xm 0.0358
0.04

0.02 0.0118

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
konsentrasi (ppm)
Dari grafik tersebut diperoleh nilai Xm (banyaknya (gram) zat terabsorbsi
yang membentuk lapisan tunggal pada seluruh permukaan 1 gram adsorben) adalah
𝑚𝑔
0,0358 , sehingga dapat dihitung luas permukaan spesifik adsorben dan ukuran
𝑔

partikel rata-rata sebagai berikut:

Perhitungan luas permukaan adsorben :

S = 1000. Xm. A.

Dengan luas permukaan metilen biru (A) = 3,05 m2/mg

S = 1000. Xm. A

𝑚𝑔 𝑚2
= 1000𝑥 0,0358 𝑥 3,05
𝑔 𝑚𝑔

𝑚2
= 109,19 𝑔

Perhitungan ukuran partikel rata-rata :


6
𝑙=
𝜌. 𝑆
Diketahui :
Massa jenis karbon aktif = 2,267 g/cm³
𝑚2
S (luas permukaan spesifik) = 109,19 𝑔

Ukuran partikel rata-rata


6
𝑙= 𝑐𝑚2
2,267 𝑔/cm3 × 1091900
𝑔

𝑙 = 2,423 x 10−6 𝑐𝑚

G. KESIMPULAN
1. Luas permukaan spesifik rata-rata karbon aktif yang ditentukan dengan
𝑚2
metode adsorbsi metilen biru klorida sebesar 109,19 𝑔

2. Ukuran partikel rata-rata sebesar 2,423 x 10−6 𝑐𝑚


H. JAWABAN PERTANYAAN

1. Untuk proses / hal apa saja diperlukan data luas permukaan zat padat
(adsorben)? Jelaskan!
- Semua hal yang berhubungan degan adsorbsi
- Penentuan laju reaksi.
- Penggunaan instrumen Surface Area Analyzer (SAA). SAA merupakan salah
satu alat utama dalam karakterisasi material. Alat ini khususnya berfungsi
untuk menentukan luas permukaan material, distribusi pori dari material dan
isoterm adsorpsi suatu gas pada suatu bahan. Pengukuran luas permukaan zat
padat dengan alat Surface Area Analyser merupakan metode adsorpsi gas.

2. Sebutkan syarat-syarat molekul adsorbat yang dapat digunakan untuk


penentuan luas permukaan zat padat!
• Kelarutan Adsorbat
Agar adsorpsi dapat terjadi, suatu molekul harus terpisah dari larutan.
Senyawa yang mudah larut mempunyai afinitas yang kuat untuk larutannya
dan karenanya lebih sukar untuk teradsorpsi dibandingkan senyawa yang
sukar larut. Akan tetapi ada perkeculian untuk hal tersebut karena banyak
senyawa yang dengan kelarutan rendah sukar diadsorpsi, sedangkan beberapa
senyawa yang sangat mudah larut mudah diadsorpsi.
• Ukuran Molekul Adsorbat
Ukuran molekul adsorbat benar-benar penting dalam proses adsorpsi.
Adsorpsi paling kuat ketika ukuran pori-pori adsorben cukup besar sehingga
memungkinkan molekul adsorbat untuk masuk.

3. Bagaimana pengaruh/peranan pelarut dalam adsorbsi zat terlarut untuk


penentuan luas permukaan adsorben pada percobaan yang anda lakukan?
Interaksi antara pelarut dengan zat terlarut sangat mempengaruhi adsorpsi.
Apabila pearut berinteraksi sangat kuat dengan zat terlarut, maka zat terlarut sulit
diadsorpsi oleh adsorben, sehingga menambah nilai absorbansi.
4. Sebutkan cara-cara lain untuk menentukan luas permukaan zat padat selain
dengan cara adsorbsi asam lemak dan zat warna. Bandingkan cara
penentuan tersebut, terutama dalam hal ketelitian dan kemudahan
pengerjaannya!
• Menentukan luas permukaan zat padat berdasarkan bilangan iodin. Praktikan
menitrasi larutan yang berisi karbon aktif, HCl, dan larutan iodin dengan
larutan natrium tiosulfat. Dengan menggunakan volume peniter hasil titrasi
dapat menentukan bilangan iodinnya. Karbon aktif menyerap iodin ke
permukaannya membentuk lapisan monolayer sehingga dapat menentukan
luas permukaan spesifik karbon aktif. Jika dilihat dari segi kemudahannya,
lebih mudah dengan cara adsorpsi zat warna. Dari segi ketelitian,
menggunakan spektronik akan lebih teliti. Karena metode titrasi bisa saja
kurang teliti dalam menentukan titik akhir titrasi. Namun pada kenyataannya
menggunakan spektronik hasilnya juga kurang maksimal.
• Metode titrasi (titrasi asam-basa). Apabila konsentrasi asam lebih besar, maka
dalam larutan akan mengandung ion H+ lebih banyak daripada larutan dengan
konsentrasi asam yang rendah. Apabila sebagian diadsorbsi oleh adsorben,
tentu akan berkurang konsentrasinya terlihat dari volume basa yang
dibutuhkan untuk menetralkan larutan asam tersebut. Pada metode ini tentu
dibutuhkan waktu yang lebih singkat dan mudah. Namun ketelitiannya akan
kurang jika praktikan tidak berhati-hati dalam menitrasi (untuk menentukan
titik akhir titrasi).
I. DAFTAR PUSTAKA

Atkins PW. 2010. Physycal Chemistry 3rd Ed. Oxford : Oxford University

SlideShare. 2013. Laporan Praktikum Kimia Fisika I, (Online),


(http://www.slideshare.net/ thetheajah/laporan-praktikum-kimia-fisika-i-perc-
viii), diakses pada 20 Oktober 2016.

Sumari,dan nazriati.2018. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika II. Malang : Jurusan


Kimia UM