Anda di halaman 1dari 24

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

SAP 12 & 13
AKUNTANSI PARTAI POLITIK, LSM, DAN YAYASAN

Oleh Kelompok 1:
1) A.A Ngurah Bagus Dwiprayuda (1315351008)
2) Komang Wahyu Surya Saputra (1315351019)
3) Putu Nadya Kardevi Rakatitha (1315351088)
4) Ni Kadek Putri Sartika (1515351163)

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
A. AKUNTANSI UNTUK PARTAI POLITIK
A.1 Pengertian Partai Politik
Disebutkan secara khusus dalam UU Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, Partai
Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga Negara
Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita – cita untuk
memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan Negara
serta memelihara kebutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan
UUD Tahun 1945.
Tujuan Umum Partai Politik
Tujuan umum partai politik adalah sebagai berikut ( Bastian, 2007;Hafild,2008).
1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
pembukaan UUD Tahun 1945.
2. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung
tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Fungsi dan Peran Partai Politik
1. Partai Politik berfungsi untuk mengembangkan kesadaran atas hak dan kewajiban
politik rakyat. Partai Politik berperan sebagai sarana sosialisasi politik masyarakat
dalam rangka melakukan pendidikan politik bagi sakyat.
2. Partai Politik berfungsi menyalurkan kepentingan masyarakat dalam pembuatan
kebijakan Negara. Berperan sebagai sarana komunikasi yang mana partai politik
menyalurkan aneka ragam pendapat, aspirasi, dan kepentingan masyarakat dalam
pembuatan kebijakan Negara.
3. Partai Poliitik berfungsi untuk membina dan mempersiapkan anggota masyarakat untuk
mengisi jabatan-jabatan politik sesuai dengan mekanisme demokrasi. Partai Politik
merupakan juga sebagai sarana untuk melakukan rekruitmen politik dengan mencari
dan mengajak orang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik dalam rangka
memperluas partisipasi politik masyarakat.
Keuangan Partai Politik
Kegiatan manajemen keuangan adalah terkait dengan cara memperoleh dan menggunakan
dana. Sumber pendanaan partai politik berasal dari :
1. Iuran anggota
2. Sumbangan dari pihak lain yang sah menurut hokum dan
3. Bantuan keuangan dari anggaran Negara atau daerah.
Aktivitas Pencarian dana yang dilarang, antara lain :
1. Menerima sumbangan dari pihak asing dalam bentuk apapun, yang bertentangan dengan
hokum dan aturan perundang-undangan.
2. Menerima sumbangan, berupa barang maupun uang, dari pihak manapun tanpa
mencantumkan identitas yang jelas.
3. Menerima sumbangan dari perseorangan dan atau perusahaan/ badan usaha melebihi batas
yang ditetapkan.
4. Meminta atau menerima dana dari BUMN, BUMD, BUMDes atau dengan sebutan
lainnya, Koperasi, Yayasan, LSM, Ormas dan organisasi lainnya.
5. Memperoleh hasil dari aktivitas bisnis, misalnya mendirikan badan usaha yang dapat
menghasilkan laba, atau menanamkan modal berupa saham pada suatu badan usaha.
A.2 Peran dan Fungsi Akuntansi dalam Lingkungan Partai Politik
Peran dan fungsi akuntansi dalam lingkungan partai politik dibagi menjadi dua kelompok
yaitu peranan dan fungsi akuntansi bagi pihak internal maupun pihak eksternal partai politik.
Pihak Internal:
1. Ketua partai politik untuk menyusun perencanaan, memgevaluasi kemajuan yang
dicapai dalam usaha memenuhi tujuan, dan melakukan tindakan-tindakan koreksi
yang diperlukan.
2. Staf berkepentingan dengan informasi mengenai transparansi pelaporan kegiatan dan
pelaporan keuangan partai politik.
3. Anggota adalah orang yang menjadi bagian dan pendukung partai politik, tetapi
belum tentu menjadi pengurus partai politik.
Pihak Eksternal:
1. Donatur berkepentingan dengan informasi mengenai keseriusandan kredibilitas partai
politik untuk menjalankan program-program pencerdasan masyarakat secara politik.
2. Supplier/Pemasok/Kreditur untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dapat
dibayar oleh partai politik pada saat jatuh tempo.
3. Konstituen/Basi Massa adanya laporan keuangan partai politik yang transparan dan
akuntabel akan mengundang simpati masyarakat.
4. Badan pemeriksan keuangan (BPK) berkepentingan untuk memeriksa (mengaudit)
laporan pertanggungjawaban partai politik atas penggunaan dana bantuan keuangan dari
pemerintah ( Pusat dan Daerah ) sebagaimana amanat dari PP Nomor 05 Tahun 2009
Pasal 14 ayat (2).
5. Pemerintah (Pusat dan Daerah) berkepentingan untuk menerima laporan
pertanggungjawaban partai politik yang telah diaudit oleh BPK atas penggunaan dana
bantuan keuangan dari APBN atau APBD.
A.3 Tinjauan terhadap PSAK Nomor 45 dan Kebutuhan Standar Akuntansi untuk
Partai Politik
Organisasi partai politik merupakan organisasi yang tidak bermotif untuk mencari laba
dan bertujuan untuk memperjuangkan cita-cita para anggotanya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diwujudkan secara konstitusional, maka partai
politik termasuk dalam kategori organisasi nirlaba. Organisasi nirlaba menggunakan beberapa
parameter tunggal sebagai ukuran keberhasilan seperti jumlah dana sumbangan yang
diperoleh, pertumbuhan jumlah anggota jumlah pengunjung, jumlah orang yang dilayani, dan
biaya overhead.
Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PSAK Nomor 45 antara lain sebagai berikut:
1. Laporan Posisi Keuangan
2. Laporan Aktivitas
3. Laporan Perubahan dalam Aset Neto/Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Ada tiga pendapat terkait penerapan PSAK Nomor 45 sebagai standar akuntansi keuangan
partai politik (Hafild, 2008):
1. PSAK Nomor 45 masih bias dipakai sebagai standar Akuntansi Keuangan Partai politik
Karena Karakter partai politik mirip dengan karakter organisasi nirlaba.
2. Standar akuntansi keuangan khusus partai politik tidak perlu dibuat tetapi dapat melakukan
modifikasi PSAK Nomor 45.
3. Standar akuntansi keuangan khusus partai politik perlu dibuat. Karena karakter partai
politik yang tidak sama dengan karakter organisasi nirlaba.

Tabel 25.1.Perbedaan Karakteristik antara Organisasi Nirlaba dan Partai Politik.


Organisasi Nirlaba Partai Politik
Undang-undang yayasan Undang-undang partai politik dan
undang-undang pemilu
Tidak ada batasan penyumbang Ada batasan penyumbang
Tidak ada batasan maksimal jumlah sumbangan Ada batasan maksimum jumlah
sumbangan
Tidak ada kewajiban melaporkan daftar Daftar penyumbang wajib
penyumbang (terutama individu) dilaporkan
Hasil kegiatan berupa jasa pelayanan untuk Hasil kegiatan berupa kekuasaan
kepentingan umum politik
Akuntabilitas berupa kegiatan sesuai dengan Akuntabilitas berupa bersih dari
tujuan organisasi dana manajemen yang baik politik uang, kepatuhan pada
hokum dan posisi politik sesuai
dengan janji kepada rakyat

A.4 LAPORAN KEUANGAN PARTAI POLITIK


Pihak-pihak yang berkepentingan atas informasi dalam laporan keuangan partai politik:
1) pengurus;
2) anggota;
3) pemerintah, termasuk Mahkamah Agung dan lembaga pengawas partai politik;
4) penyumbang;
5) kreditur; dan
6) publik atau masyarakat luas, terutama konstituen partai politik
Jenis Laporan Keuangan Partai Politik
1) Laporan Keuangan Tahunan
Laporan Keuangan Tahunan partai politik merupakan laporan pertanggung jawaban
keuangan secara periodik. Laporan ini terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan
aktifitas, dan laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan.

2) Laporan Keuangan Pemilu


Laporan keuangan Pemilu merupakan laporan pertanggungjawaban keuangan pada
kegiatan Pemilu, terutama pertanggungjawaban dana kampanye.
Entitas Laporan Keuangan
1) Tujuan dari entitas pelaporan keuangan untuk menunjukkan entitas akuntansi yang
menjadi pusat-pusat pertanggungjawaban keuangan partai politik.
2) Entitas pelaporan keuangan partai politik terdiri dari: (a) pengurus tingkat pusat, (b)
pengurus daerah tingkat I, (c) pengurus daerah tingkat II, (d) pengurus tingkat kecamatan,
dan (e) pengurus tingkat desa/kelurahan.
Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan keuangan partai politik merupakan laporan keuangan konsolidasi dari seluruh
struktur organisasi partai politik.
Tujuan laporan keuangan partai politik adalah memberikan informasi keuangan untuk:
1) Akuntabilitas
Mempertanggung jawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang
dipercayakan kepada partai politik dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
melalui laporan keuangan partai politik.
2) Manajerial
Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan dan pengelolaan
keuangan partai politik serta memudahkan pengendalian yang efektif atas seluruh aset,
hutang, dan aktiva bersih.
3) Compliance
Menyediakan informasi bagi kepatuhan terhadap undangundang dan bebas dari konflik
kepentingan dan politik uang.
Ruang Lingkup akuntansi partai politik, termasuk catatan atas laporan keuangan,
adalah sebagai berikut:
1) Jumlah, sifat, likuiditas, dan fleksibilitas aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih suatu partai
politik, serta hubungan antara aktiva dan kewajiban.
2) Pengaruh transaksi, peristiwa dan situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat aktiva
bersih.
3) Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam satu periode dan
hubungan antara keduanya.
4) Cara partai politik mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh pinjaman dan
melunasi pinjaman, dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditasnya.
5) Pertanggungjawaban keuangan partai politik dalam kegiatan Pemilu.
6) Laporan aktivitas partai politik secara rutin, misalnya kegiatan kongres, munas, rapim,
malam dana, pendidikan politik, kegiatan think tank, ulangtahun partai, dan sebagainya.
7) Analisis mengenai kepatuhan terhadap undang-undang, terutama mengenai batasan
jumlah sumbangan, sumber sumbangan, dan identitas penyumbang, pengelolaan
keuangan.
8) Catatan mengenai pencatatan akuntansi partai politik, jangka waktu catatan, apakah ada
data yang dimusnahkan, atau tidak lengkap, penyimpanan data, dan sebagainya.
9) Catatan mengenai hibah dan sumbangan yang berbentuk barang dan jasa yang dinilai
berdasarkan harga pasar. Sumbangan- sumbangan yang bersifat spontan dari masyarakat
harus dicatat, tetapi yang menonjol dalam segi jumlah dari satu kelompok harus diberikan
perhatian dan catatan khusus.
Setiap laporan keuangan menyediakan informasi yang berbeda, dan informasi dalam
suatu laporan keuangan biasanya melengkapi informasi dalam laporan keuangan yang
berbeda.
Laporan Posisi Keuangan
1) Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva,
kewajiban, dan aktiva bersih, serta informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur
terscbut pada waktu tertentu.
2) Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama pengungkapan dan
informasi dalam laporan keuangan lainnya dapat membantu anggota partai politik, para
penyumbang, kreditur, masyarakat dan pihak-pihak lain untuk menilai: (a) Kemampuan
partai politik untuk memperjuangkan kepentingan anggota, bangsa dan negara secara
berkelanjutan; (b) Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi
kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal.
Penyajian Aktiva dan Kewajiban
1) Laporan posisi keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, menyediakan
informasi yang relevan mengenai sifat, likuiditas, fleksibilitas keuangan, dan hubungan
antara aktiva dan kewajiban. Informasi tersebut umumnya disajikan dengan pengumpulan
aktiva dan kewajiban yang memiliki karakteristik serupa dalam suatu kelompok yang
relatif homogen.
2) Kas atau aktiva lain yang dibatasi penggunaannya oleh penyumbang harus disajikan
terpisah dari kas atau aktiva lain yang tidakterikat penggunaannya. Pembatasan
penggunaan aktiva tersebut bisa bersifat permanen maupun temporer,baik pembatasan
waktu maupun tujuan penggunaan aktiva dimaksud.
Pengukuan dan Pengukuran Aktiva dan Kewajiban
1) Aktiva diakui dalam laporan posisi keuangan kalau besar kemungkinan bahwa manfaat
ekonominya di masa depan diperoleh oleh partai politik dan aktiva tersebut mempunyai
nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
2) Kewajiban diakui dalam laporan posisi keuangan kalau besar kemungkinan bahwa
pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk
menyelesaikan kewajiban sekarang.
3) Jumlah yang harus diperlakukan sebagai pendapatan sumbangan.
4) Pada prinsipnya, aktiva diakui pada saat diterima atau pada saat hak kepemilikan
berpindah. Sedangkan kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat
kewajiban timbul.
5) Pengukuran pos-pos dalam laporan posisi keuangan menggunakan nilai historis. Aktiva
yang berasal dari sumbangan berupa barang atau jasa harus dinilai menurut nilai pasar
yang berlaku pada saat itu. Sedangkan pinjaman yang bebas bunga atau mempunyai
tingkat suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai pasar harus dinilai
berdasarkan nilai pasar yang wajar.
Klasifikasi Aktiva Bersih Terikat atau Tidak Terikat
1) Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masing-masing kelompok aktiva bersih
berdasarkan ada atau tidaknya pembatasan oleh penyumbang, yaitu terikat secara
permanen, terikat secara temporer, dan tidak terikat.
2) Informasi mengenai sifat dan jumlah pembatasan permanen atau temporer diungkapkan
dengan cara menyajikan jumlah tersebut dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas
laporan keuangan.
Catatan: Alternatif Pengelompokan Aktiva Bersih
a) Aktiva bersih lancar: selisih antara aktiva lancar dan hutang lancar.
b) Aktiva bersih diinvestasikan (aktiva yang diinvestasikan secara permanen, aktiva tetap,
dan aktiva lainnya).
c) Aktiva bersih dicadangkan (aktiva bersih yang dicadangkan).
Laporan Aktivitas
1) Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai: (a) Pengaruh
transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih; (b) Hubungan
antar transaksi dan peristiwa lain.(3) Bagaimana penggunaan sumber daya dalam
pelaksanaan berbagai program atau kegiatan.
2) Aktivitas yang dilaporkan ada dua macam: kegiatan di luar kampanye (untuk laporan
keuangan tahunan) dan kegiatan kampanye (laporan dana kampanye). Biaya-biaya dan
sumbangan kampanye harus menjelaskan secara rinci kegiatankegiatan antara lain: iklan
(radio, televisi, majalah/koran), rapat raksasa, perjalanan (biaya transportasi), biaya
pawai, pertunjukan musik, dan sebagainya. Semua sumbangan baik dalam bentuk uang
tunai maupun barang/jasa harus dilaporkan dengan nilai pasar yang berlaku saat itu.
Kegiatan di luar kampanye harus memasukkan seluruh kegiatan partai politik termasuk
kegiatan organisasi onderbouw maupun yayasan atau think tank yang dibentuknya,
kegiatan pencarian dana, kongres, malam dana, munas, ulang tahun, dan sebagainya.
3) Informasi dalam laporan aktivitas dapat membantu pengguna laporan keuangan untuk: (a)
Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode; (b) Menilai upaya, kemampuan, dan
kesinambungan partai politik dalam memperjuangkan kepentingan politiknya; (c) Menilai
pelaksanaan tanggungjawab dan kinerja pengurus.
Perubahan Kelompok Aktiva Bersih
1) Laporan aktivitas menyajikan perubahan aktiva bersih terikat permanen, terikat temporer,
dan tidak terikat dalam suatu periode.
2) Pendapat dan keuntungan yang menambah aktiva bersih, serta beban dan kerugian yang
mengurangi aktiva bersih dikelompokkan berdasarkan klasifikasi pendapatan, beban
keuntungan dan kerugian.
Klasifikasi Pendapatan, Beban, Keuntungan dan Kerugian:
1) Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aktiva bersih tidak terikat
kecuali jika penggunaannya dibatasi oleh penyumbang dan menyajikan beban sebagai
pengurang aktiva bersih tidak terikat.
2) Sumbangan disajikan sebagai aktiva bersih tidak terikat, terikat permanen, atau terikat
temporer, tergantung pada ada tidaknya pembatasan.
3) Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui dari investasi dan
aktiva lain (atau kewajiban) sebagai penambah atau pengurang aktiva bersih tidak terikat,
kecuali jika penggunaannya dibatasi.
4) Klasifikasi pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian dalam kelompok aktiva bersih
tidak menutup peluang adanya klasifikasi tambahan dalam laporan aktivitas.
Informasi Pendapatan dan Beban
1) Laporan aktivitas menyajikan jumlah pendapatan dan beban secara bruto. Namun
demikian pendapatan investasi dapat disajikan secara neto dengan syarat beban-beban
terkait, seperti beban penitipan dan beban penasihat investasi, diungkapkan dalam catatan
atas laporan keuangan.
2) Sebagai perwujudan kewajiban partai politik untuk memelihara daftar penyumbang dan
jumlah sumbangannya, serta terbuka untuk diaudit oleh akuntan publik, dalam catatan
atas laporan keuangan harus diungkapkan daftar penyumbang dan jumlah sumbangannya,
serta informasi lain yang dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan.
3) Laporan aktivitas menyajikan jumlah neto keuntungan dan kerugian yang berasal dari
transaksi insidental atau peristiwa lain yang berada di luar pengendalian organisasi
manajemen. Misalnya keuntungan atau kerugian penjualan tanah dan gedung yang tidak
digunakan lagi.
Informasi Program atau Kegiatan
1) Laporan aktivitas atau catatan atas laporan keuangan harus menyajikan informasi
mengenai beban menurut klasifikasi fungsional seperti menurut kelompok program
kegiatan utama dan aktivitas pendukung.
2) Klasifikasi secara fungsional bermanfaat untuk membantu para penyumbang, kreditur,
dan pihak lain dalam menilai program dan kegiatan partai politik, serta penggunaan
sumber daya.
3) Di samping penyajian klasifikasi beban secara fungsional, partai politik dianjurkan untuk
menyajikan informasi tambahan mengenai beban menurut sifatnya, misalnya berdasarkan
gaji, sewa, listrik, bunga, dan penyusutan.

Laporan Arus Kas


Tujuan laporan arus kas: Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi
mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode. Klasifikasi penerimaan dan
pengeluaran kas: Laporan arus kas disajikan sesuai PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas.
Laporan Keuangan Pemilu
Tujuan laporan keuangan Pemilu: Laporan keuangan Pemilu yang merupakan
pertanggungjawaban keuangan pada kegiatan Pemilu, terutama pertanggungjawaban dana
kampanye. Tujuan utama dari laporan keuangan Pemilu adalah untuk meyajikan informasi
mengenai penerimaan dan penggunaan dana untuk kegiatan kampanye Pemilu.
Klasifikasi pendapatan dan beban Pemilu: Pendapatan Pemilu yang merupakan
penerimaan dana dalam kegiatan Pemilu diklasifikasikan berdasarkan sifat dan sumber dana.
Pengklasifikasian sumber dana tersebut dapat dilakukan antara lain: (1) Penerimaan kas dari
pinjaman, baik pinjaman dari kas partai politik maupun pihak ketiga; (2) Penerimaan kas dari
sumbangan, yang dipisahkan dari sumber penyumbang, antara lain perorangan, perusahaan,
dan pemerintah; (3) Penerimaan kas dari iuran anggota (4) Penerimaan kas dari bunga dan
hasil investasi yang diperkenankan lainnya.
B. AKUNTANSI UNTUK LSM
B.1 PSAK NO. 45 TENTANG STANDAR AKUNTANSI UNTUK ENTITAS NIRLABA
Dasar tuntutan akuntabilitas, yang dalam hal ini pertanggungjawaban keuangan terhadap
segala aktivitas pada semua organisasi LSM adalah PSAK No. 45 mengenai pelaporan
keuangan organisasi nirlaba. Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis.
Dimana perbedaan utama yang mendasar adalah cara organisasi itu memperoleh sumber dana
yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasionalnya. Organisasi itu
memperoleh sumber daya dari lembaga donor dan para penyumbang lainnya. Jadi dalam
organisasi nirlaba, transaksi yang jarang atau tidak akan pernah terjadi dalam organisasi bisnis
manapun akan muncul. Namun, dalam praktek orgabisasi nirlaba, berbagai bentuk sulit
dibedakan dengan organisasi bisnis pada umumnya.
Pada beberapa bentuk organisasi nirlaba, meskipun tidak ada kepemilikan, organisasi
tersebut mendanai kebutuhan modalnya dari utang dan kebutuhan operasinya dari pendapatan
atau jasa yang diberikan kepada publik. Akibatnya, pengkuran jumlah, saat kepastian arus kas
masuk menjadi ukuran kinerja penting bagi para pengguna laporan keuangan organisasi
tersebut.
Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba, dalam hal ini LSM, memiliki
kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan organisasi bisnis, yakni untuk menilai:
1. Jasa yang diberikan oleh LSM dan kemampuannya untuk terus memberikan jasa tersebut.
2. Cara pengelolah pelaksaan dan pertanggungjawabannya.
3. Aspek kinerja pengelolah.
Kemampuan organisasi untuk terus memberikan jasa dikomunikasinya melalui laporan
keuangan yang menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, aktiva bersih, dan
informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur tersebut. Laporan ini harus menyajikan
secara terpisah aktiva bersih baik yang terikat maupun yang tidak terikat penggunanya.
Pertanggungjawaban pengelolah mengenai kemampuannya mengelolah sumber daya
organisasi yang diterima dari para penyumbang disajikan melalui laporan aktivitas dan
laporan arus kas. Laporan aktivitas harus menyajikan informasi melalui perubahan yang
terjadi dalam kelompok aktiva bersih. Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pelaporan
keuangan organisasi nirlaba, yang dalam ini adalah organisasi LSM. Denga adanya standar
pelaporan, laporan keuangan organisasi tersebut diharapkan dapat lebih muda dipahami,
memiliki relevansi dan memiliki daya banding yang tinggi.
Metode pencatatan akrual
Tujuan dari pelaporan keuangan LSM adalah menyediakan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan, disamping untuk menunjukan akuntabilitas suatu organisasi terhadap
sumber daya terpecaya dengan:
1. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
keuangan.
2. Menyediakan informasi mengenai bagaimana organisasi LSM menadai aktivitasnya dan
memenuhi persyratan kasnya.
3. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi kemampuan organisasi LSM
untuk menandai aktivitasnya dana untuk memenuhi kewajiban secara komitmennya.
4. Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan suatu organisasi LSM dan
perubahan di dalamnya.
5. Menyediakan informasi menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja organisasi
LSM dari segi biaya jasa, efisiensi dan pencapaian tujuan.
Laporan keuangan LSM juga memainkan peranan preduktif dan prospektif yang
menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi banyaknya sumber daya yang
disyaratkan untuk operasi berkelanjutan, sumber daya yang dapat dihasilkan oleh operasi
berkelanjutan, dan resiko berasosiasi serta ketidakpastian.
Laporan keuangan dapat juga menyediakan informasi kepada pemakainya , seperti:
1. Menidentifikasikan apakah sumber daya telah didapatkan dan digunakan sesuai dengan
anggaran yang ditetapkan.
2. Mengidentifikasi apakah sumber daya telah didapatkan dana digunakan sesuai dengan
persyaratan, termasuk data keuangan yang ditetapkan oleh pengambil kebijakan di masing-
masing LSM.
Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan LSM harus disusunatas dasar akrual.
Dengan dasar ini pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat terjadinya (dan bukan
pada saat kas atau secara kas diterima atau dibayar) serta dicatat dalam catatan akuntansi serta
dilaporkan dalam laporan keuangan periode bersangkutan. Laporan keuangan LSM yang disusun
atas dasar akrual akan memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu
yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang
mempresentasikan kas yang akan diterima di masa depan. Oleh karena itu, laporan keuangan
LSM menyediakan jenis transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi
pemakai dalam pengambilan keputusan.
Laporan Keuangan LSM biasanya disusun atas dasar kelangsungan usaha organisasi
LSM dan dalam melanjutkan usahanya di masa depan. Oleh karena itu, organisasi ini diasusikan
tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala
pelayanannya.
Laporan keuangan yang dihasilkan
Laporan keuangan organisasi nirlaba meliputi laporan posisi keuangan pada akhir periode
laporan, laporan aktivitas, serta laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan.
Laporan Posisi Keuangan
Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva,
kewajiban dan aktiva bersih, serta informasi mengenai hubungan diantara unsur-unsur tersebut
pada waktu tertentu. Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama
pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para
penyumbang, anggota organisasi, kreditor, dan pihak-pihak lain yang menilai:
1. Kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan,
2. Likuiditas, Fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya, dan
kebutuhan pendanaan eksternal
Laporan posisi keuangan mencakup organisasi secara keseluruhan dan menyajikan toyal
aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih.
Laporan posisi keuangan menyediakan informasi yang relevan mengenai likuiditas,
fleksibitas keuangan, dan hubungan antara aktiva serta kewajiban. Informasi tersebut, pada
umumnya disajikan dengan mencatumkan aktiva yang memiliki karakteristik yang serupa dalam
suatu kelompok yang relative homogen. Sebagai contoh, organisasi biasanya melaporkan masing
unsur aktiva dalam kelompok yang homogen; misalnya:
1. Kas dan setara kas
2. Piutang anggota atau oenerima jasa lainnya
3. Persediaan
4. Sewa, asuransi dan jasa lainnya yang dibayar dimuka.
5. Surat bergharga/efek dan investasi jangka panjang
6. Tanah, gedung, peralatan, serta aktiva tetap lainnya yang digunakan untuk menghasilkan
barang dan jasa.
Informasi tentang likuiditas diberikan dengan cara:
1. Menyajikan aktiva berdasarjan urutan likuiditas dan kewajiban berdasarkan jatuh tempo.
2. Mengelompokan aktiva ke dalam lancer dan tidak lancer serta kewajiban ke dalam jangka
pendek dan jangka panjang.
3. Mengungkapkan informasi mengenai likuiditas aktiva atau saat jatuh tempo kewajiban
termasuk pembatasan penggunaan aktiva, pada catatan atas laporan keuangan.
Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masing-masing kelompok aktiva bersih
berdasarkan ada atau tidaknya pembatasan oleh penyumbang, yaitu terikat secara permanen,
terikat secara temporer, dan tidak terikat. Informasi mengenai sifat dan jumlah dari pembatasan
permanen atau temporer diungkapkan dengan cara menyajikan jumlah tersebut dalam laporan
keuangan, atau dalam catatan dalam laporan keuangan.
Pembatasan permanen terhadap : (1) aktiva, seperti tanah atau karya seni yang
disumbangkan untuk tujuan tertentu, untuk dirawat dan tidak untuk dijual, atau (2) aktiva yang
disumbangkan untuk investasi yang mendatangkan pendapatan secara permanen dapat disajikan
sebagai unsure terpisah dalam kelompok aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi secara
permanen, atau disajikan dalam catatan atas laporan keuangan. Pembatasan permanen atas
kelompok ke dua tersebut berasal dari Hibah atau wakaf dan warisan yang menjadi dana abadi.
Pembatasan temporer terhadap: (1) sumbangan berupa aktivitas operasi tertentu, (2) investasi
untuk jangka waktu tertentu, (3) penggunaan selama periode tertentu di masa depan, atau (4)
perolehan aktiva tetap, dsapat disajikan sebagai unsur terpisah dalam kelompok aktiva bersih
yang penggunaannya dibatasi secara temporer, atau disajikan dalam catatan atas laporan
keuangan. Pembatasan temporer oleh penyumbang dapat berbentuk pembatasan waktu atau
pembatasan penggunaan atau keduanya.
Aktiva bersih tidak terikat umumnya meliputi pendapatan jasa, penjualan barang,
sumbangan, dan dividen, atau hasil investasi, dikurangi beban untuk memperoleh pendapatan
tersebut. Batasan terhadap penggunaan aktiva bersih tidak terikat dapat berasal dari sifat
organisasi, lingkungan operasi, dan tujuan organisasi yang tercantum dalam akte pendirian, dan
dari perjanjian kontraktual dengan pemasok, kreditor, serta pihak lain yang berhubungan dengan
organisasi. Informasi mengenai batasan-batasan tersebut umumnya disajikan dalam catatan atas
laporan keuangan.
Laporan aktivitas
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai:
1. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah serta sifat aktiva bersih.
2. Hubungan antara transaksi dan peristiwa lain.
3. Bagaimana sumber daya digunakan dalam pelaksanaan berbagai program atau jasa.
Perubahan kelompok aktiva bersih
1. Laporan aktivitas menyajikan jumlah perubahan aktiva bersih terikat permanen, terikat
temporer dan tidak terikat selama satu periode.
2. Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aktiva bersih tidak terikat,
kecuali penggunaannya dibatasi oleh penyumbang dan menyajikan beban sebagai
pengurang aktiva bersih tidak terikat.
3. Sumbangan disajikan sebagai penambah aktiva bersih tidak terikat, terikat permanen,
atau terikat temporer, tergantung pada ada tidaknya pembatasan.
4. Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerrugian yang diakui dari investasi dan
aktiva lain (kewajiban) sebagai penambah atau pengurang aktiva bersih tidak terikat,
kecuali jika penggunaannya dibatasi.
5. Klasifikasi pendapatanm, beban, keuntungan, dan kerugian dalam kelompok aktiva bersih
tidak mengatur peluang adanya klasifikasi tambahan dalam laporan aktivitas.
Laporan arus kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan dan
pengeluaran kas selama suatu priode.
Klasifikasi penerimaan dan pengeluaran kas.
Laporan arus kas disajikan sesuai PSAK 2 tentang laporan arus kas dengan tambahan berikut ini:
1. Aktivitas pendanaan.
A. Penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi untuk jangka
panjang.
B. Penerimaan kas dari sumbangan dan pengembalian investasi yang penggunaannya
dibatasi untuk perolehan, pembangunan, dan pemeliharaan aktiva tetap, atau
peningkatan dana abadi.
C. Bunga dan deviden yang dibartasi oleh pengguna untuk jangka panajang.
2. Aktifitas investasi.
Meliputi pemberian dan penagiahan pinjaman, pembelian atau pewakafan tanah, gedung,
dan peralatanny, yakni aktiva yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan bagi
masyarakat.
3. Aktivitas pembiayaan atau pendanaan.
Aktivitas ini meliputi perolehan sumber daya, pemeberian layanan kepada masyarakat,
peminjaman uang atau membantu masyarakat yang memerlukan dan membayar kembali jumlah
yang dipinjam, perolehan dan pembayaran sumber –sumber lainnya.
4. Aktivitas operasi
Aktivitas ini meliputi seluruh transaksi dan peristiwa lain yang tidak termasuk dalam
aktivitas investasi dan pemebelnjaan.

Unsur-unsur laporan keuangan:


1. Posisi keuangan
2. Aktiva
3. Kewajiban
4. Ekuitas
5. Kinerja
6. Penghasilan
7. Beban
Karakteristik kualitatif laporan keuangan LSM :
1. Dapat dipahami
2. Relevan
3. Materialitas
4. Keandalan atau realibilitas
5. Penyajian judul
6. Substansi mengungguli bentuk
7. Netralitas
8. Pertimbangan sehat
9. Kelengkapan
10. Dapat dibandingkan
B.2 SIKLUS AKUNTANSI KEUANGAN LSM
Pada hakikatnya, orang belum dapat dikatakan paham dalam menyusun laporan keuangan
jika belum memahami siklus akuntansi. Mengapa demikian? Akuntansi, pada dasarnya,
merupakan suatu proses pengelolahan informasi yang akan menghasilkan keluaran berupa
informasi akuntansi yang salah satunya adalah laporan keuangan.
Pengertian siklus akuntansi
Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses akuntansi, yaitu aktivitas
pengumpulan dan pengelolahan data keuangan untuk disajikan dalam bentuk laporan keuangan,
atau ikhtisar-ikhtisar lainnya yang dapat digunakan untuk membantu para pemakainya dalam
membuata atau mengambil keputusan. Untuk menyusun laporan keuangan yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dapat diterima secara umum, prinsip-prinsip akuntansi, prosedur,
metode, serta teknik-teknik dari segala sesuatu yang dicakup dalam ruang lingkup akuntansi
telah dikenal. Terlepas dari aturan itu semua, dalam menyusun laporan keuangan ada satu
laporan keuangan yang merupakan siklus akuntansi.
Siklus akuntansi adalah suatu proses penyedia laporan keuangan organisasi selama suatu
periode tertentu. Siklus akuntansi dapat dibagi menjadi pekerjaan yang dilakukan selama periode
tersebut, yaitu penjurnalan akuntansi dan pemindahbukuan kedalam buku besar, serta penyiapan
laporan keuangan pada akhir peride. Pekerjaan yang dilakukan pada akhir periode adalah
mempersiapkan akun untuk mencatat transaksi-transaksi pada periode selanjutnya. Banyaknya
langkah yang harus dilakukan pada akhir periode secara tidak langsung menunjukan bahwa
sebagian besar pekerjaan dilakukan pada bagian akhir. Walaupun demikian, pencatatan dan
pemindahbukuan selama periode tersebut membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan
dengan pekerjaan di akhir periode.
B.3 ALUR PROSES SIKLUS AKUNTANSI
Proses akuntansi
1. Pencatatan dan penggolongan (dalam jurnal)
2. Peringkasan (dalam akun-akun buku besar)
3. Penyajian dalam bentuk laporan keuanga, yaitu laporan posisi keuanga/ neraca, laporan
atus kas, dan laporan aktivitas LSM
B.4 TRANSAKSI DAN BUKTI TRANSAKSI
Transaksi adalah suatu pertemuan antara kedua belah pihak (penjual dan pemebeli) yang
saling menguntungkan dengan adanya data/ bukti/ dokumen pendukung yang dimasukkan ke
dalam jurnal, setelah melalui pencatatan. Kejadian yang dapat dicatat sebagai suatu transaksi
adalah: Pembelian barang, penjualan barang, pembayaran sewa, dan penerimaan uang kas.
B.5 JURNAL
Jurnal adalah sarana untuk mencatat transaski organisasi LSM yang dilakukan secara
kronologis atau berdasarkan urut waktu terjadinya, dengan menunjukan akun yang harus di debet
atau di kredit beserta jumlah nilai uangnya masing-masing.
Setiap transaksi yang terjadi dalam organisasi LSM, sebelum dibukukan ke dalam buku besar,
harus di catat dahulu dalam jurnal. Oleh karena itu jurnal didefinisikan seperti di atas, sering juga
disebut sebagai buku harian.
Manfaat pemakaian jurnal adalah:
1. Jurnal merupakan sarana pencatatan yang dapat menggambarkan pos-pos yang
terpengaruh dari suatu transaksi.
2. Jurnal merupakan sarana pencatatan yang memeberi gambaran secara kronologis,
sehingga gambaran lengkap tentangseluruh transaksi organisasi berdasarkan urutan-urutan
kejadiannya yang dapat diberikan.
3. Jurnal dapat dipecah-pecah menjkadi beberapa jurnal yang dapat dikerjakan oleh
beberapa orang secara bersamaan.
4. Jurnal menyediakan ruang yang cukup untuk keterangan transaski bila dibandingkan
dengan ruang yang ada pada buku besar.
5. Apabila transaski langsung dicatat ke dalam buku besar dan terjadi kesalahan dalam
mencatatnya,
B.6 KERTAS KERJA
Pengertian kertas kerja sebelum membuat laporan keuangan, jurnal dan membukukan
ayat jurnal penyesuaian, terlebih dulu perlu ditentukan dan dikumpulkan data yang relevan
misalnya, perlu ditentukan nilai pertlengkapan yang masih ada dan gaji yang terhutang pada
akhir periode itu.
Kertas kerja merupakan kolom yang digunakan dalam proses akuntansi keuangan
manual. Di dalam format kertas kerja, neraca saldo merupakan daftar akun-akun beserta saldo
yang menyertai selama suatu periode tertentu.
B.7 LAPORAN KEUANGAN DAN KOMPONENNYA
Laporan keuangan adalah hasil akhirnya dari proses akuntansi, yang menyajikan
informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan.
Laporan keuangan mengabarkan tentang pencapaian kinerja program dan kegiatan, kemajuan
realisasi pencapaian target pencatatan, realisasi penyerapan belanja, dan realisasi pembiayaan.
Beberapa komponen laporan keuangan yang sering tampil di surat kabar, yaitu neraca, laporan
laba rugi, laporan perubahan modal, dan laportan arus kas yang dilengkapi oleh catatan atas
laporan keuangan, seperti pada laporan tahunan dan prospectus.
B.8 PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI BIAYA LSM
Definisi akuntansi biaya LSM
Akuntansi mendefinidsikan biaya sebagai sumber daya yang dikorbankan untuk
mencapai tujuan tertentu. Pengorbanan ini biasanya di ukur sebagai jumlah moneter yang harus
di bayarkan untuk mendapatkan bararang dan jasa. Sedangkan akuntansi biaya adalah proses
pencatatan, penggolonga, peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan produk atau jasa serta
penjualannya dengan cara-cara dan penafsiran terhadapnya. Proses akuntansi biaya ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam organisasi LSM
Siklus akuntansi biaya LSM
Siklus akuntansi biaya lsm sangat dipengaruhi oleh siklus kegiatan lsm tersebut. Siklus
kegiatan lsm dimulai dengan pemebelian barang atau peralatan dan jasa berdasarkan kegiatan
program yang telah ditentukan. Tujuan akuntansi biaya adalah untuk menyajikan informasi biaya
yang telah digunakan untuk membeli barang atau peralatan serta pelaksaan program LSM
tersebut.
Klasifikasi biaya LSM
Proses dan sistematika akuntansi biaya dapat dipecahkan melalui rincian tahap sebagai berikut:
1. Pemahaman mengenai pengertian biaya,
2. Klasifikasi dan identifikasi biaya yang terhjadi di LSM ke dalam katagori tertentu dengan
pendekatan ABC sistem.
3. Pembuatan konsep perhitungan biaya baru yang akurat dan informative.
4. Pensimulasian aplikasi model perhitungan biaya
B.9 ANALISIS BIAYA LSM
Anggaran LSM
Anggaran dapat diinterpretasikan sebagai paket pernyataan perkiraan penerimaan dan
pengeluaran yang diharapkan akan terjadi selama satu atau beberapa periode mendatang.
1. Prosedur rencana anggaran biaya (RAB)
Pertama buatlah daftar rincian biaya dengan akurat. Kemudian pisah-pisahkan menjadi
item-item yang berbeda, seperti: gaji, biaya sewa, material, transportasi, komunikasi, peralatan,
pelatihan, dan publikasi. Perhitungan lebih detail harus ada, jika donaturnya memintanya, dan
memasukan biaya operasional dalam proposal proyek
2. Biaya standar
Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yaitu jumlah biaya yang seharusnya
dikeluarkan untuk membiayai kegiatan tertentu dengan asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan
factor-faktor lainnya.
3. Manfaat biaya standar
Biaya standar akan membantu penyusunan anggaran belanja program atau kegiatan bagi
lembaga yang bersangkutan ini berarti biaya standar sangat berpengaruh terhadap proses
pengambilan kebijakan, pengelolah lembaga, khususnya dalam proses penganggaran.
4. Analisis biaya volume laba pada LSM
Sebagai lembaga non profit, LSM tidak mengenal istilah laba. Namun dalam hal ini
analisis biaya volume laba atau Cost Volume –Profit analisis (CVP analysis) digunakan untuk
membantu LSM agar tidak mengalami masalah biaya dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
program
B.10 LAPORAN BIAYA LSM
Dalam siklus pengendalian manajemen organisasi sector public, fase setelah
penganggaran adalah pelaksanaan dan penganggaran. Laporan buaya LSM dirancang untuk
melakukan apa yang sedang terjadi dengan biaya pelaksaan kegiatan LSM. Namun beberapa
laporan tidak selalu mengarah pada kegiatan. Informasi ini berisi laporan yang berasal dari
catatan akuntansi berupa penerimaan dan pembiayaan.
C. AKUNTANSI UNTUK YAYASAN
C.1 KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN YAYASAN
Pengertian Dan Ruang Lingkup Yayasan
Menurut UU No. 16 Tahun 2001, sebagai dasar hukum positif yayasan, pengertian
yayasan adalah badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.
Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuannya
dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha.
Yayasan berbeda dengan perkumpulan karena perkumpulan pengertian yang lebih luas,
yaitu meliputi suatu persekutuan, koperasi, dan perkumpulan saling menanggung. Selanjutnya,
perkumpulan terbagi atas 2 jenis, yaitu:
a) Perkumpulan yang berbentuk badan hukum, seperti PT, Koperasi, dan perkumpulan
saling menanggung.
b) Perkumpulan yang tidak berbentuk badan hukum, seperti persekutuan perdata, CV, dan
Firma.
Dilain pihak, yayasan merupakan bagian dari perkumpulan yang berbentuk badan hukum
dengan pengertian yang dinyatakan dalam pasal 1 Butir 1 UU No 16 Tahun 2001 tentang
yayasan, yaitu suatu badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang dipisahkan
untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan dengan tidak
mempunyai anggota.
Akuntanbilitas Yayasan
Pemakai laporan keuangan yayasan memiliki kepentingan bersama, yaitu untuk menilai :
a) Jasa yayasan dan kemampuan yayasan untuk memberikan jasa secara berkesinambungan.
b) Mekanisme pertanggungjawaban dan aspek kinerja pengelola.
Kemampuan yayasan dalam mengelola jasa dikomunikasikan melalui laporan posisi
keuangan, dimana informasi mengenai aktiva, kewajiban, aktiva bersih, dan informasi mengenai
hubungan diantara unsur-unsur tersebut, akan disampaikan. Laporan ini harus menyajikan secara
terpisah aktiva bersih baik yang terikat maupun yang tidak terikat penggunaannya.
Pertanggungjawaban pengelola yayasan tentang hasil pengelolaan sumber daya yayasan
disajikan melalui laporan aktifitas akan dan laporan arus kas. Laporan aktifitas akan menyajikan
informasi mengenai perubahan yang terjadi dalam kelompok aktiva bersih.
Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dalam
memenuhi kepentingan para penyumbang, anggota pengelola, kreditur, dan pihak lain yang
menyediakan sumber daya bagi yayasan.
Pengelola yayasan perlu mengembangkan keahlian dasar tentang manajemen keuangan.
Dalam suatu yayasan, tugas lainnya adalah mengelola keuangan yang secara jelas merupakan
tugas yang sulit. Keahlian dasar dalam manajemen keuangan mulai dari bidang kritis manajemen
kas dan pembukuan, harus dilakuakan sesuai dengan kontrak keuangan tertentu untuk
memastikan keterpaduan proses pembukuan. Pengelola yayasan sebaiknya mempelajari
bagaimana menyusun laporan keuangan (dari jurnal pembukuan) dan menganalisis laporan
tersebut agar dapat memahami kondisi keuangan dari aktivitas yayasan tersebut dengan benar.
Analisis keuangan akan memperlihatkan “realitas” keadaan aktifitas yayasan – sebagaimana
yang terlihat dalam manajemen keuangan sebagai salah satu dari sebagian besar praktek penting
dalam manajemen.
Pengendalian Keuangan
Sistem pengendalian keuangan (akuntansi) adalah serangkaian prosedur yang melindungi
praktek manajemen secara umum maupun dari segi keuangan. Prosedur pengendalian akuntansi
bertujuan agar :
1. Informasi keuangan reliable (dapat dipercaya) sehingga pengelola dapat memperoleh
informasi yang akurat untuk perencanaan program dan keputusan lainnya.
2. Aktiva dan catatan-catatan organisasi tidak dicuri, disalahgunakan, atau dirusak dengan
sengaja.
3. Kebijakan-kebijakan yayasan diikuti.
4. Peraturan-peraturan pemerintah terpenuhi.
Langkah pertama dalam pengembangan sistem pengendalian akuntansi yang efektif
adalah mengidentifikasi bidang dimana penyalahgunaan atau kesalahan-kesalahan sangat
mungkin terjadi. Beberapa akuntan akan memberikan checklist (daftar pengecekan) menyangkut
bidang dan pertanyaan tentang waktu perencanaan sistem. “Price Waterhouse’s booklet, Effective
Internal Accounting Control for Nonprofit Organizations : A Guide for Directors and
Management”, memasukkan bidang dan tujuan pengembangan sistem pengendalian akuntansi
yang efektif.
Sistem pengendalian akuntansi diperlukan untuk memastikan pencatatan yang tepat atas
barang yang didermakan, sumbangan, dan penerimaan lainnya. Laporan keuangan dan
pengembalian informasi harus dicatat secara akurat dan tepat waktu, serta memenuhi peraturan
pemerintah lainnya.
Audit Yayasan
Audit adalah proses pengujian keakuratan dan kelengkapan informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan yayasan. Proses pengujian ini akan memungkinkan akuntan publik
independen yang bersertifikasi mengeluarkan suatu pendapat atau opini mengenai seberapa baik
laporan keuangan yayasan mewakili posisi keuangan yayasan, dan apakah laporan keuangan
tersebut memenuhi prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum atau Generally Accepted
Accounting Principles (GAAP). GAAP ditetapkan oleh the American Institute of Certified
Public Accountants (AICPA). Anggota dewan pengurus, staf, dan sanak kelurganya tidak dapat
melakukan audit, karena hubungan kekeluargaan dengan yayasan akan mempengaruhi
independensi auditor.
Diindonesia, permasalahan agen audit sektor publik merupakan hal yang serius. Ini
berarti kejelasan tentang peristilahan perlu dilakukan sebelum membahas audit dan pengawasan.
Dalam buku ini, istilah auditor merupakan sebutan bagi seseorang yang melakukan pemeriksaan
eksternal disektor publik, seperti Badan Pemeriksa Keuangan dan Kantor Akuntan Publik.
Disisi lain, peristilahan pegawas digunakan untuk sebutan auditor internal. Saat ini,
auditor internal yang ada dalam pemerintahan seperti Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan, Inspektur Jendral, dan Badan Pengawas Daerah, selalu dikaitkan dengan
peristilahan pengawas. Diyayasan, pengawas ditunjuk oleh dewan pengurus, yang bisa berasal
dari staf bagian keuangan atau bendahara dewan pengurus.
Dalam audit, penetapan tujuan perlu dimulai untuk menentukan jenis audit apa yang akan
dilaksanakan serta standar audit apa yang harus diikuti oleh auditor. Audit dapat mempunyai
gabungan tujuan dari audit keuangan dan audit kinerja, atau dapat juga mempunyai tujuan yang
terbatas pada beberapa aspek dari masing-masing jenis audit. Misalnya, dalam pelaksanaan audit
atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan Pemerintah kepada yayasan atau badan
hokum lainnya; tujuan audit yang demikian sering kali mencakup baik tujuan audit keuangan
maupun tujuan audit kinerja. Audit semacam ini umumnya disebut audit kontrak, yang
contohnya adalah audit atas pelaksanaan sistem pengendalian internal, atas masalah yang
berkaitan dengan ketaatan pada peraturan perundang-undangan, atau atas suatu sistem berbasis
computer.
DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra., 2007, Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik, Erkangga, Jakarta 21

http://shinraemun.blogspot.com/2013/01/akuntansi-yayasan-akuntansi-sektor.html

Azed, Abdul Bari & Makmur Amin. 2005. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. Jakarta Pusat.

Studi Hukum Tata Negara FHUI