Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada tahun 2017 ini diprediksikan hampir 9 juta orang meninggal di
seluruh dunia akibat kanker dan akan terus meningkat hingga 13 juta orang
per tahun di 2030. Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup
tinggi. Menurut data Riskesdas 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah
1,4 per 100 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Sedangkan jika melihat
data BPJS Kesehatan, terdapat peningkatan jumlah kasus kanker yang
ditangani dan pembiayaannya pada periode 2014 2015. Diperkirakan sebesar
12,9% angka kematian tersebut diakibatkan kanker paru. Di Bali sendiri
diperkirakan sebesar 2% terjadi kejadian kanker paru.
Ternyata kanker tidak hanya bicara golongan usia tertentu, dari sejak
Balita hingga tua, kemungkinan terpapar kanker ini ada. Hal yang perlu
disadari adalah selama ini deteksi kanker yang sering terlambat karena
penyebabnya tidak jelas, sehingga begitu ketahuan sudah dalam stadium
lanjut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar penyakit kanker paru?
2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada
kanker paru?

C. Tujuan
1. Mengetahui konsep dasar penyakit kanker paru
2. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada
kanker paru

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1
1. Definisi
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran
napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan
pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel
jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului
oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa
prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan
bentuk epitel dan menghilangnya silia (Kumar, 2015).
Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak
terkendali dalm jaringan paru-paru dapat disebabkan oleh sejumlah
karsinogen, lingkungan, terutama asap rokok ( Suryo, 2010).

2. Etiologi
Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker
paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat
yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping
adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain.
(Amin, 2006).
a. Merokok
Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan
paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2012). Rokok
mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah
diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada
perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok
yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya
berhenti merokok (Stoppler, 2010).

b. Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara
perokok pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang
lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker paru.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang
yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko
mendapat kanker paru meningkat dua kali (Wilson, 2012).
c. Polusi udara

2
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara,
tetapi pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek.
Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih banyak di
daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti
statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan
pada masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang paling
rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih tinggi.
Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok
sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat
dengan tempat pekerjaan mereka, tempat udara kemungkinan besar
lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang ditemukan dalam
udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren
(Wilson, 2012).
d. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen,
kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat
menyebabkan kanker paru (Amin, 2006). Risiko kanker paru di
antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih
besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat
kontak dengan asbes maupun uranium meningkat kalau orang
tersebut juga merokok.

e. Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi
terhadap betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan
tingginya risiko terkena kanker paru (Amin, 2006).
f. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru
berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan
genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen
dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan
berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan
onkogen (termasuk juga gen-gen K-ras dan myc), dan menonaktifkan

3
gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb, p53, dan CDKN2)
(Wilson, 2012).
g. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif
kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan
penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai enam kali
lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok
dihilangkan (Stoppler, 2010).

3. Manifestasi Klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-
gejala klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam
stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat :
a. Lokal (tumor tumbuh setempat) :
1) Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
2) Hemoptisis
3) Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas
4) Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
5) Ateletaksis

b. Invasi lokal :
1) Nyeri dada
2) Dispnea karena efusi pleura
3) Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia
4) Sindrom vena cava superior
5) Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
6) Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
7) Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf
simpatis servikalis
c. Gejala Penyakit Metastasis :
1) Pada otak, tulang, hati, adrenal
2) Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai
metastasis)

4
d. Sindrom Paraneoplastik : terdapat 10% kanker paru dengan
gejala :
1) Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
2) Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
3) Hipertrofi osteoartropati
4) Neurologik : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
5) Neuromiopati
6) Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
7) Dermatologik : eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh
8) Renal : syndrome of inappropriate antidiuretic hormone
e. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
1) Sering terdapat pada perokok dengan COPD yang terdeteksi secara
radiologis.
2) Kelainan berupa nodul soliter (Amin, 2006).

4. Klasifikasi
Kanker paru dibagi menjadi kanker paru sel kecil (small cell lung
cancer, SCLC) dan kanker paru sel tidak kecil (non-small lung cancer,
NSCLC). Klasifikasi ini digunakan untuk menentukan terapi. Termasuk
didalam golongan kanker paru sel tidak kecil adalah epidermoid,
adenokarsinoma, tipe-tipe sel besar, atau campuran dari ketiganya.
a. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) merupakan tipe histologik
kanker paru yang paling sering ditemukan, berasal dari permukaan
epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia
akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya
tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar
hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang
melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara
langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan

5
mediastinum. Karsinoma ini lebih sering pada laki-laki daripada
perempuan (Wilson, 2012).
b. Adenokarsinoma, memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar
bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini
timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat
dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis
interstisial kronik. Lesi sering kali meluas ke pembuluh darah dan
limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh sebelum lesi
primer menyebabkan gejala-gejala.
c. Karsinoma bronkoalveolus dimasukkan sebagai subtipe
adenokarsinoma dalam klasifikasi terbaru tumor paru dari WHO.
Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi
sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti
bermacam-bermacam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru
perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke
tempat-tempat jauh.
d. Karsinoma sel kecil umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat
yang terletak di sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru
dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum.
Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong,
sedikit sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran mitotik sering
ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis dan mungkin luas. Sel
tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan
“crush artifact” pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma
sel kecil, yang paling jelas pada pemeriksaan sitologik, adalah
berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit sitoplasma
yang saling berdekatan (Kumar, 2015).
e. Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan
berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan
ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada
jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan
cepat ke tempat-tempat yang jauh (Wilson, 2012).

6
f. Bentuk lain dari kanker paru primer adalah adenoma, sarkoma, dan
mesotelioma bronkus. Walaupun jarang, tumor-tumor ini penting
karena dapat menyerupai karsinoma bronkogenik dan mengancam
jiwa (Wilson, 2012).

5. Patofisiologi

Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/sub bronkus


menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan
metaplasia, hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan
oleh metaplasia, hyperplasia dan diplasia menembus ruang pleura, biasa
timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus
vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus
yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstruksi dan ilseri bronkus dengan
diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala-gejala yang timbul dapat
berupa batuk, demam, dan dingin. Wheezing inulateral dapat terdengar
pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya
menujukan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat
bermetastase ke struktur-struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding
esofagus, perikardium, otak, dan tulang rangka ( Taqiyyah & Mohammad,
2013). Jika sudah berada pada tahap lanjut, sering meluas ke dalam rongga
perikardium atau pleura menyebabkan peradangan dan efusi. Tumor akan
dapat menekan atau menginfiltrasi vena kava superior dan menyebabkan
bendungan vena kava superior. Neoplasma di apeks mungkin menginvasi
pleksus simpstikus servikalis atau brakialis dan menyebabkan nyeri hebat
dalam distribusi saraf ulnari atau menyebakan sindrom horner (Kumar,
Cotran, Robins, 2007).

7
6. Pathway

8
Massa tumor
mendesak nodus
limfe regional

Nyeri Akut

7. Pemeriksaan Diagnostik Kanker Paru

9
Menurut Arif Muttaqin (2008: 202) pemeriksaan diagnostik pada kanker
paru meliputi :
a. Pemeriksaan radiologi
Nodula soliter terbatas yang disebut coin lesion pada radiogram
dada sangat penting dan mungkin merupakan petunjuk awal untuk
mendeteksi adanya karsinoma bronkogenik meskipun dapat juga
ditemukan pada banyak keadaan lainnya. Penggunaan CT scan mungkin
dapat memberikan bantuan lebih lanjut dalam membedakan lesi-lesi yang
dicurigai.
b. Laboratorium.
1. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe) : Dilakukan untuk
mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan
ventilasi
3. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada
kanker paru).
c. Histopatologi.
1. Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi
lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2. Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan
ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
3. Torakoskopi
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik
dengan cara torakoskopi.
4. Mediastinosopi
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang
terlibat.
5. Torakotomi
Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam –
macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal
mendapatkan sel tumor.
d. Pencitraan
1. CT-Scanning
Untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
2. MRI
Untuk menunjukkan keadaan mediastinum

10
8. Penatalaksanaan Medis Kanker Paru
1. Penatalaksanaan Non-bedah (Nonsurgical Management)
a. Terapi Oksigen
Jika terjadi hipoksemia, perawat dapat memberikan oksigenvia
masker atau nasal kanula sesuai dengan permintaan. Bahkan jika klien
tidak terlalu jelas hipoksemianya, dokter dapat memberikan oksigen
sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki dispnea dan kecemasan.
b. Terapi Obat
Jika klien mengalami bronkospasme, dokter dapat memberikan
obat golongan bronkodilator (seperti pada klien asma) dan
kortikosteroid untuk mengurangi bronkospasme, inflamasi, dan
edema.
c. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pilihan pengobatan pada klien dengan
kanker, terutama pada small-cell lung cancer karena metastasis.
Kemoterapi dapat juga digunakan bersamaan dengan terapi bedah.
Obat-obat kemoterapi yang biasanya diberikan untuk menangani
kanker, termasuk kombinasi dari obat berikut : Cyclophosphamide,
Deoxorubicin, Methotrexate, dan Procarbazine, Etoposide dan
Cisplatin Mitomycin, Vinblastine dan Cisplatin.

d. Imunoterapi
Banyak klien kanker paru yang mengalami gangguan imun. Obat
imunoterapi (Cytokin) biasa diberikan.
e. Terapi Radiasi
Terapi radiasi dilakukan dengan indikasi sebagai berikut ini:
- Klien tumor paru yang operable tetapi resiko jika dilakukan
pembedahan.
- Klien adenokarsinoma atau sel skuamosa inoperable yang
mengalami pembesaran kelenjar getah bening pada hilus ipsilateral
dan mediastinal.
- Klien kanker bronkhus dengan oat cell.
- Klien kambuhan sesudah lobektomi atau pneumoektomi.
- Dosis umum 5.000-6.000 rad dalam jangka waktu 5-6 minggu.
- Pengobatan dilakukan dalam 5 kali seminggu dengan dosis 180-
200 rad/hari.

Komplikasi yang mungkin timbul adalah sebagai berikut :

11
- Esofagitis, hilang 1 minggu sampai dengan 10 hari sesudah
pengobatan.
- Pneumonitis, pada rontgent terlihat bayangan eksudat di daerah
penyinaran.
f. Terapi Laser
g. Torakosentesis dan Pleurodesis

2. Pembedahan (Surgical Management)


a. Dilakukan pada tumor stadium I, stadium II jenis karsinoma,
adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar undifferentiated.
b. Dilakukan khusus pada stadium III secara individual yang mencakup
tiga criteria berikut:
1. Karakteristik biologis tumor :
a. Hasil baik : tumor dari sel skoamosa dan epidermoid.
b. Hasil cukup baik : Aenokarsinoma dan karsinoma sel
besar undifferentiated.
c. Hasil buruk : oat cell.
2. Letak tumor dan pembagian stadium klinik
a. Untuk menentukan reseksi terbaik.
3. Keadaan fungsional penderita.

(Somantri, 2012: 119-120)

9. Komplikasi
Komplikasi adalah kondisi gejala sekunder atau gangguan lain yang
disebabkan oleh penyakit. Dalam banyak kasus perbedaan antara gejala dan
komplikasi dari penyakit ini tidak jelas. Komplikasi mungkin karena penyakit
itu sendiri atau efek samping dari salah satu perawatan. Menurut Novit Widya
Rahayu (2012) kanker paru-paaru dapat menyebabkan beberapa komplikasi,
misalnya:
1. Sesak napas
Orang dengan kanker paru-paru dapat mengalami sesak napas jika kanker
berkembang untuk menutup saluran udara yang utama.
2. Batuk darah
Penyakit ini dapat menyebabkan perdarahan di saluran napas, yang dapat
membuat Anda batuk darah (hemoptisis).
3. Nyeri
Kanker paru-paru yg hebat meluas ke lapisan paru-paru atau bagian lain
dari tubuh dapat menyebabkan rasa sakit.
4. Cairan di dada (efusi pleura)

12
Hal ini dapat menyebabkan cairan menumpuk di ruang yang mengelilingi
paru-paru di rongga dada (ruang pleura).
5. Kanker yang menyebar ke bagian lain dari tubuh (metastasis)
Ini sering menyebar (bermetastasis) ke area lain dari tubuh, biasanya
berlawanan dengan paru paru, seperti tulang, otak, hati dan kelenjar
adrenal. Kanker yang meluas dapat menyebabkan rasa sakit, sakit kepala,
mual, `tau tanda-tanda dan gejala lain bergantung pada organ yang terkena.
6. Kematian
Tingkat ketahanan hidup untuk orang didiagnosis dengan penyakit ini
sangat rendah. Dalam kasus mayoritas, penyakit ini mematikan.

Komplikasi komplikasi kanker paru-paru bergantung pada posisi,


ukuran, jenis, dalam paru-paru, dan penyebaran kanker. Suatu tumor dapat
menyebabkan penyumbatan salah satu tabung pernapasan utama,
menyebabkan runtuhnya daerah paru-paru, atau peningkatan cairan di
rongga paru-paru mungkin akan berkembang.

Penyebaran kanker ke tulang atau tekanan pada saraf dari tumor


dapat menyebabkan rasa sakit, dan beberapa jenis kanker paru-paru
menghasilkan hormon yang dapat menyebabkan gejala seperti memerah
dan diare.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan
a. Pengkajian Primer
1. Airway : mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas
disertai control servikal jika dicurigai adanya fraktur servical atau basis
cranii. Adanya iritasi akibat masa tumor pada paru merangsang sistem
imun untuk mengeluarkan sputum, jika sputum melewati ulserasi
massa tumor maka sputum akan bersemu darah.dan sputum ini akan
menggangu jalan nafas. Hal ini menyebabkan penyumbatan jalan
napas sehingga memperlihatkan kondisi pasien yang sesak karena
kebutuhan akan O2 semakin sedikit yang dapat diperoleh. Pada kasus
ca paru biasanya menunjukkan tanda pada airway yaitu dipsnea dan
wheezing, gurgling serta suara serak saat pasien berbicara.
2. Breathing : mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan
agar oksigenasi adekuat. Pada kasus ca paru, pasien mengalami

13
penyempitan bronkus akibat didesak oleh massa tumor sehingga terjadi
hiperventilasi dan pasien sesak dan memungkinkan juga terjadinya
henti napas atau terdengar suara nafas tambahan seperti ronchi. Selain
itu, adapun hal-hal yang perlu dikaji yaitu :
a. Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, dengan
tujuan mempertahankan saturasi oksigen >92%
b. Ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk
mengkaji PaO2 dan PaCO2
c. Kaji respiratory rate
d. Periksa system pernapasan – cari tanda:
i. Diaforesis dan cyanosis
ii. Deviasi trachea
iii. Kesimetrisan pergerakan dada
iv. Retraksi dinding dada
v. Pernapasan cuping hidung
vi. Takipneu/bradipneu
vii. Penggunaan otot aksesoris pernafasan
e. Dengarkan adanya:
1. Ronchi
2. Pengurangan aliran udara masuk
3. Silent chest
f. Lakukan thorak photo untuk mengetahui adanya pneumothorak
3. Circulation : mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol perdarahan.
Adanya usaha yang kuat untuk memperoleh oksigen maka jantung
berkontraksi kuat untuk memenuhi kebutuhan tersebut hal ini ditandai
dengan adanya peningkatan denyut nadi lebih dari 120 x/menit. Terjadi
pula penurunan tekanan darah sistolik pada waktu inspirasi. Adanya
kekurangan oksigen ini dapat menyebabkan sianosis yang dikaji pada
tahap circulation ini. Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu dikaji
pada circulation adalah:
a. Sakit kepala.
b. Kaji denyut jantung dan rhytme
c. Catat tekanan darah
d. Kaji hasil EKG
e. Kaji pemeriksaan darah lengkap
f. Kaji intake output.
g. Kaji adanya sindrom vena cava superior
h. Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia
4. Dissability : mengecek status neurologis.

14
a. Kaji status umum dan neurologi dengan memeriksa atau cek
kesadaran dengan metode AVPU (Alert, Verbal, Pain, ketahui tanda
Unresponse),
b. Reaksi pupil.
c. Penurunan tingkat kesadaran merupakan tanda ekstrim pertama dan
pasien membutuhkan pertolongan di ruang Intesnsive
d. Curigai adanya Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis),
Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf
simpatis servikalis
5. Exposure : environmental control, buka baju penderita tapi cegah
hiportermia. Pada saat pasien stabil dapat di tanyakan riwayat dan
pemeriksaan lainnya.
b. Pengkajian Sekunder
1. Anamnesis
a) Keluhan utama
Keluhan utama klien dengan kanker paru biasanya bervariasi
seperti keluhan batuk, batuk produktif, batuk darah, dan sesak
napas.
b) Riwayat penyakit saat ini
Biasanya keluhan hampir sama dengan jenis penyakit paru lainnya
dan tidak mempunyai awitan (onset) yang khas. Seringkali
karsinoma ini menyerupai pneumonitis yang tidak ditanggulangi.
Batuk merupakan gejala umum yang sering kali diabaikan oleh
klien dengan bronkhitis kronis, batuk akan timbul lebih sering dan
volume sputum bertambah.

c) Riwayat penyakit sebelumnya


Walaupun tidak terlalu spesifik, biasanya akan didapatkan adanya
keluhan batuk jangka panjang dan penurunan berat badan secara
signifikan.
d) Riwayat penyakit keluarga
Terdapat juga bukti bahawa anggota keluarga dari kliaen dengan
kanker paru beresiko lebih besar mengalami penyakit ini,
walaupun masih belum dapat dipastikan apakah hal ini benar-benar
karena faktor herediter atau karena faktor-faktor familial.
2. Pengkajian Pola Fungsional Gordon
a. Pola persepsi dan penanganan kesehatan

15
Klien mengeluh batuk yang berkepanjangan,dengan /tidak disertai
sekret,nyeri pada dada ,malaise dan keletihan fisik.
b. Pola aktivitas dan latihan
Klien memiliki kesulitan pada aktifitasnya karena klien merasa
lemah dan keletihan fisik.
c. Pola nutrisi dan metabolic
Pemenuhan nutrisi pada klien kanker paru-paru menurun dikarena
biasanya nafsu makan buruk dan intake nutrisi yang tidak adekuat.
d. Pola eliminasi
Eleminasi alvi: sukar BAB ,dikarnakan gerak peristaltik usus
menurun.
Eliminasi urin: pengukuran volume output urin dilakukan dalam
hubungan intake cairan
e. Pola tidur dan istirahat
Kesukaran untuk istirahat karena batuk , penumpukan sputum serta
nyeri dada yang menyebabkan gangguan kenyamanan pada klien.
f. Pola kognitif dan perseptual
Klien dan keluarganya biasanya tidak terlalu mengerti tentang
penyakit yang diderita (kanker paru-paru) ini.
g. Pola konsep diri
Adanya perasaan takut dan cemas terhadap penyakit yang diderita.
h. Pola koping
Mekanisme koping biasanya mal adaptif yang diikuti perubahan
mekanisme peran dalam keluarga, kemampuan ekonomi untuk
pengobatan, serta prognosis yang tidak jelas merupakan faktor-
faktor pemicu kecemasan dan ketidakefektifan koping individu dan
keluarga.
i. Pola seksual dan reproduksi
Pola seksualnya kurang terpenuhi karena kondisinya tersebut.
j. Pola peran hubungan
Hubungan klien dengan keluarganya terganggu karena klien tidak
dapat menjalankan aktifitasnya seperti biasa.
k. Pola nilai kepercayaan
Pemenuhan aspek spiritual seperti ibadah biasanya tidak dapat
terpenuhi secara lengkap karena nyeri dada, batuk dan kelemahan
fisik yang dirasakan.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang paling menonjol pada penyakit kanker paru yaitu :
1. Keadaan umum: kesadaran pasien tergantung keadaan pasien.
Nyeri pada pasien kanker paru biasanya dari nyeri akut sampai

16
kronik. Tanda-tanda vital biasanya mrningkat dan frekuensi nafas
juga meningkat.
Tekanan darah : biasanya diatas normal > 120/80
Pernafasan : biasanya diatas normal > 12-16x/menit
Nadi : biasanya diatas normal > 100x/menit
Suhu : diatas normal > 37° celcius
2. Muka: wajah tampak menahan nyeri, tidak ada perubahan fungsi
maupun bentuk wajah, simetris, dan tidak ada edema.
3. Mata: biasanya terjadi anemis .
4. Hidung: terkadang ada pernafasan cuping hidung.
5. Mulut dan faring: pada mulut tidak masalah, faring biasanya ada
penumpukan sputum.

6. Thoraks :
1. Dada dan Paru:
a. inspeksi: dari depan klavikula dan sternum tulang rusuk
anatara kiri dan kanan tidak simetris. Dari belakang bentuk
tulang belakang, scapula tidak simetris dan adanya retraksi
interkostalis selama bernafas, pernapasan meningkat
b. palpasi: pergerakan dada tidak simetris
c. perkusi: redup
d. auskultasi: wheezing
Untuk penyakit Kanker paru kita focus pengkajian pada system
pernafasan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-
kelainan berupa perubahan bentuk dinding toraks dan trakea,
pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi
parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura.
- Data Subyektif : nyeri didada pada saat bernafas, batuk
- Data Obyektif :sputum kadang berwarna merah karena
melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi,
penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan
perut meningkat, dispnea, terdengar stridor, wheezing,
clubbing finger

2. Jantung:
a. inspeksi: tidak ada iktus cordis
b. palpasi: nadi meningkat, iktus tidak teraba
c. auskultasi: bunyi jantung normal
3. Ekstermitas: pada lengan pasien kanker paru biasanya
terkadang mengalami nyeri.

17
2. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d adanya eksudat di alveolus,
obstruksi bronkial sekunder karena invasi tumor
2. Ketidakefektifan pola nafas b/d Hiperventilasi
3. Gangguan pertukaran gas b/d hipoventilasi
4. Nyeri akut b/d agen cidera (karsinoma), penekanan saraf oleh tumor
paru

3. Rencana Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI (NIC)


KEPERAWATAN HASIL (NOC)
1. Ketidakefektifan NOC NIC
bersihan jalan nafas a. Respiratory Airway management
1. Posisikan pasien untuk
b/d adanya eksudat status :
memaksimalkan ventilasi
di alveolus, Ventilation
2. Identifikasi pasien
obstruksi bronkial b. Respiratory
perlunya pemasangan alat
sekunder karena status : Airway
jalan nafas buatan
invasi tumor patency 3. Keluarkan sekret dengan
Setelah dilakukan batuk atau suction
4. Ajarkan cara melakukan
tindakan keperawatan
batuk efektif
3x24 jam diharapkan
5. Mengelola kelembaban
mampu mempertahankan
udara atau oksigen
kebersihan jalan nafas 6. Auskultasi suara nafas,
dengan kriteria : catat adanya suara
a.Mendemonstrasikan tambahan
7. Mengatur asupan cairan
batuk efektif dan suara
untuk mengoptimalkan
nafas yang bersih, tidak
keseimbangan cairan
ada sianosis dan
8. Memonitor status
dyspneu (mampu
pernapasan dan
mengeluarkan sputum,
oksigenasi
mampu bernapas

18
dengan mudah) Airway suctioning
b.Menunjukkan jalan 1. Ajarkan cara menjaga
nafas yang paten kebersihan tangan
2. Auskultasi suara nafas
(frekuensi pernafasan
sebulum dan sesudah
rentang normal, tidak
suctioning
ada suara nafas
3. Informasikan pada klien
abnormal)
dan keluarga tentang
c.Mampu
suctioning
mengidentifikasi dan 4. Minta klien nafas dalam
mencegah faktor yang sebelum suction
dapat menghambat dilakukan
5. Berikan O2 dengan
jalan nafas
menggunakan nasal untuk
memfasilitasi
suktionnasotrakeal
6. Anjurkan pasien untuk
istirahat dan napas dalam
setelah kateter
dikeluarkan dari
nasatrakeal
7. Ajarkan keluarga
bagaimana cara
melakukan suksion
8. Hentikan sucsion dan
berikan oksigen apabila
pasien menunjukan
bradikardi, peningkatan
saturasi O2,dll.
9. Teknik suction berbeda,
berdasarkan respon klinis
pasien
10. Pantau dan catat sekresi
warna, jumlah dan
konsistensi
11. kirim sekresi untuk tes

19
kultur dan sensitivitas
Respiratory Monitoring
1. Monitor tingkat,
kedalaman irama dan
usaha respirasi
2. Pantau dyspnea dan
peristiwa yang
meningkatkan dan
memperburuk kondisi
pasien
3. Monitor hasil ront-gen
dada

2. Ketidakefektifan NOC: NIC


pola nafas b/d Respiratory status : Oxygen Therapy
hiperventilasi Ventilation 1. Bersihkan mulut, hidung
a. Respirasi dalam dan secret trakea
2. Pertahankan jalan nafas
batas normal
yang paten
(dewasa: 16-
3. Siapkan peralatan
20x/menit)
oksigenasi
b. Irama pernafasan
4. Monitor aliran oksigen
teratur 5. Monitor respirasi dan
c. Kedalaman
status O2
pernafasan normal 6. Pertahankan posisi pasien
d. Suara perkusi dada 7. Monitor volume aliran
normal (sonor) oksigen dan jenis canul
e. Retraksi otot dada
yang digunakan.
f. Tidak terdapat
8. Monitor keefektifan
orthopnea
terapi oksigen yang telah
g. Taktil fremitus
diberikan
normal antara dada
9. Observasi adanya tanda
kiri dan dada kanan
tanda hipoventilasi
h. Ekspansi dada
10. Monitor tingkat

20
simetris kecemasan pasien yang
i. Tidak terdapat
kemungkinan diberikan
akumulasi sputum
terapi O2
j. Tidak terdapat
penggunaan otot
bantu napas

3. Gangguan pertukaran NOC NIC


Management asam basa
3. gas b/d hipoventilasi a. Respiratory Status :
1. Posisikan pasien untuk
Gas
memaksimalkan
exchange
ventilasi
b.Keseimbangan asam 2. Dapatkan atau
basa, Elektrolit pertahankan jalur
c. Respiratory Status : intravena
3. Pertahankan kepatenan
ventilation
jalan nafas
a. Vital Sign Status
4. Monitor tanda gagal
Setelahdilakukan tindakan
nafas
keperawatan selama 3x24 5. Monitor kepatenan
jam gangguan pertukaran respirasi
6. Lakukan fisioterapi
pasien teratasi dengan
dada jika perlu
kriteria hasil:
7. Keluarkan sekret
a. Mendemonstrasikan
dengan batuk
peningkatan ventilasi
atausuction
dan oksigenasi yang 8. Auskultasi suara nafas,
adekuat catat adanyasuara
b. Memelihara
tambahan
kebersihan paru paru 9. Berikan bronkodilator
10. Barikan pelembab
dan bebas dari tanda-
udara
tanda distress
11. Atur intake untuk cairan
pernafasan
mengoptimalkan
c. Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan
nafas yang bersih,
status O2
tidak ada sianosis dan
13. Catat pergerakan

21
dyspneu dada,amati kesimetrisan,
(mampumengeluarkan penggunaan otot
sputum,mampu tambahan,retraksi otot
bernafas dengan supraclavicular
mudah, tidak ada danntercostal
14. Monitor suara nafas,
pursedlips)
d. Tanda-tanda vital seperti dengkur
15. Monitor pola nafas :
dalam rentang normal
bradipena,
takipenia,kussmaul,
hiperventilasi, cheyne
stokes,biot
16. Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi
dansuara tambahan
17. Monitor TTV, AGD,
elektrolit dan
ststusmental
18. Observasi sianosis
khususnya membrane
mukosa
19. Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
persiapan tindakan dan
tujuan penggunaan alat
tambahan (O2,
Suction,Inhalasi)
20. Auskultasi bunyi
jantung, jumlah, irama
dan denyut jantung
. 4. Nyeri akut b/d agen NOC : NIC :
a. Pain level Pain Management
cidera (karsinoma),
b. Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri
penekanan saraf oleh c. Comfort level
secara komprehensif
tumor paru Setelah dilakukan
termasuk lokasi,

22
tindakan keperawatan karakteristik, furasi,
selama 3 x 24 jam. Pasien frekuensi, kualitas dan
tidak mengalami nyeri, faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal
dengan :
dari ketidaknyamanan
Kriteria Hasil
3. Bantu pasien dan keluarga
a. Mampu mengontrol
untuk mencari dan
nyeri (tahu penyebab
menemukan dukungan
nyer, mampu 4. Kontrol lingkungan yang
menggunakan teknik dapat mempengaruhi nyeri
nonfarmakologi untuk seperti suhu rungan,
mengurangi nyeri, pencahayaan dan
mencari bantuan) kebisingan
b. Melaporkan bahwa 5. Kurangi faktor presipitasi
nyeri berkurang nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri
dnegan menggunakan
untuk menentukan
manajemen nyeri
c. Mampu mengenali intervensi
7. Ajarkan tentang teknik non
nyeri (skala,
farmakologi : napas dala,
intensitas, frekuensi
relaksasi, distraksi, kompres
dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa hangat/dingin
8. Berikan informasi tentang
nyaman setelah nyeri
nyeri seperti penyebab
berkurang
e. Tanda vital dalam nyeri, berapa lama nyeri
rentang normal akan berkurang dan
f. Tidak mengalami
antisipasi ketidaknyamanan
gangguan tidur
dari prosedur
9. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesic
Distraction
1. Dorong pasien untuk
memilih teknik distraksi
(musik, terlibat dalam
percakapan atau bercerita,

23
mengingat kejadian yang
menyenangkan, berfokus
pada foto, humor, atau
latihan pernapasan dalam)
2. Identifikasi dengan pasien
daftar kegiatan yang
menyenangkan
3. Dorong partisipasi keluarga
dalam memberikan teknik
distraksi yang diperlukan
4. Evaluasi respon pasien
terhadap kegiatan distraksi
5. Anjurkan pasien tentang
manfaat merangsang
berbagai rasa melalui musik,
membaca,dll.
Relaxation Therapy
1. Jelaskan manfaat
relaksasi, batasan, dan
jenis relaksasi yang
tersedia
2. Pertimbangkan kesediaan
individu untuk
berpartisipasi,
kemampuan untuk
berpartisipasi, sebelum
memilih strategi relaksasi
tertentu
3. Gunakan nada lembut
suara dengan lambat, bila
perlu
4. Evaluasi hasil relaksasi
dicapai, dan secara
berkala memantau
ketegangan otot, denyut

24
jantung, tekanan darah

BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Kanker merupakan masalah paling utama dalam bidang kedokteran dan
merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia serta
merupakan penyakit keganasan yang bisa mengakibatkan kematian pada
penderitanya karena sel kanker merusak sel lain. Sel kanker adalah sel
normal yang mengalami mutasi/perubahan genetik dan tumbuh tanpa
terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain. Proses pembentukan kanker
(karsinogenesis) merupakan kejadian somatik dan sejak lama diduga
disebabkan karena akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang
menyebabkan perubahan pengaturan normal kontrol molekuler perkembang
biakan sel. Ternyata kanker tidak hanya bicara golongan usia tertentu, dari
sejak Balita hingga tua, kemungkinan terpapar kanker ini ada. Hal yang perlu
disadari adalah selama ini deteksi kanker yang sering terlambat karena
penyebabnya tidak jelas, sehingga begitu ketahuan sudah dalam stadium
lanjut.

3.2. Saran
Dengan adanya makalah sederhana ini, penyusun mengharapkan agar para
pembaca dapat memahami materi tentang CA Paru. Saran dari penyusun
agar para pembaca dapat menguasai materi singkat dalam makalah ini
dengan baik, kemudian pembaca dapat mengetahui cara pencegahan dari
penyakit Ca Paru dan mengetahui cara mengobatinya.

25
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Z . 2006 . Kanker Paru, Dalam: Sudoyo, AW, Setryohadi, B, Alwi, I,


Simadibrata, MK, Setiati, S. Ilmu Penyakit Dalam, Ed 4, Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Bararah Taqiyyah, Jauhar Mohammad. 2013. Asuhan Keperawatan

Panduan Lengkap menjadi perawat profesional, jilid 2. Jakarta : Penerbit

Prestasi pustakaraya

Depkes.2017.http://www.depkes.go.id/article/print/17020200002/kementerian-
kesehatan-ajak-masyarakat-cegah-dan-kendalikan-kanker.html.
Diakses tanggal 1 September 2018
Kumar, V. 2015. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi 9. Singapura: Elsevier
Saunders.

Muttaqin Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan

Sistem Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika.

Nurarif & Kusuma.2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosis

medis dan NANDA NIC-NOC edisi revisi jilid 1. Yogyakarta: Mediaction

Somantri Irman. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan

Sistem Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika.

Stoppler, M.C. 2010. Kamus Kedokteran. Jakarta : PT Indeks

Suryo. 2010. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernafasan. Yogyakarta:


Ariesta.

26
Wilson, L. M. 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
EGC.

27