Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Fahriza Helmy – Bedah Saraf

NPM 1806263496

Seiring dengan berkembangnya teknologi kedokteran, teknik operasi dengan minimal invasive
approach sangat berkembang dan diminati oleh banyak pasien maupun operator karena
dikatakan memiliki banyak keuntungan seperti berkurangnya volume perdarahan, luka insisi
minimal, perawatan yang lebih singkat. Namun masih ada juga kekurangan dari prosedur minimal
invasive surgery.
Tabel berikut memberikan gambaran mengenai beberapa perbandingan antara tehnik minimal
invasive dengan cara konvensional yang telah dipublikasikan di jurnal internasional.

Judul Jurnal Hasil


The Advantages of Minimally Pembedahan invasif minimal sangat menguntungkan untuk
invasive Surgery (John prosedur di mana Anda tidak harus menghilangkan sesuatu
Mecenas, 2017) yang besar atau di mana pembedahan melibatkan organ kecil
jauh di dalam tubuh, seperti usus buntu atau kantong
empedu. Organ-organ kecil ini sulit dijangkau dan
dioperasikan pada mereka yang membutuhkan sayatan
besar; operasi laparoskopi telah berubah secara dramatis.

Teknik laparoskopi juga menguntungkan dalam operasi di


mana masalahnya adalah anatomi abnormal yang perlu
diperbaiki, seperti dengan perbaikan hernia. Pembedahan
untuk mengobati penyakit gastroesophageal reflux (GERD)
melibatkan modifikasi anatomi sistem pencernaan bagian
atas dan ini dilakukan dengan sangat efektif menggunakan
pembedahan invasif minimal. Mayoritas operasi pada
saluran pencernaan dapat dilakukan secara laparoskopi,
bahkan dalam banyak situasi darurat seperti radang usus
buntu atau perbaikan ulkus yang berlubang.
Comparison between Perawatan invasif minimal harus lebih disukai daripada
minimally invasive and open nekrosektomi terbuka untuk manajemen awal pankreatitis
surgical treatment in nekrotikans karena teknik-teknik ini dikaitkan dengan tingkat
necrotizing pancreatitis ( penurunan beberapa komplikasi pasca operasi, seperti
Marek Wronski, 2016) komplikasi kegagalan organ pasca operasi, penurunan
kebutuhan perawatan intensif pasca operasi yang
dibandingkan dengan analisa statistik. Meskipun mortalitas
tetap sebanding. Mortalitas necrosectomy terbuka setelah
gagal perawatan invasif minimal tidak meningkat,
dibandingkan dengan primary open necrosectomy

Comparison between TLIF invasif minimal memiliki hasil klinis yang sama dan
minimally invasive and open tingkat fusi dibandingkan dengan TLIF terbuka dengan
transforaminal lumbar manfaat tambahan dari kehilangan darah intraoperatif yang
kurang. Namun bidang operasi teknik ini terbatas sehingga
interbody fusion
pengetahuan menyeluruh tentang anatomi di wilayah ini
(Saetia K, 2013)
diperlukan
Minimally Invasive Reduction Penanganan fraktur calcaneal pada kelompok pasien “sehat”
and Fixation of Displaced memberikan hasil yang cukup baik dengan prosedur open
Calcaneal Fractures: Surgical surgery ORIF. Namun, pada pasien yang menolak dilakukan
Technique and Radiographic pembedahan terbuka dan berisiko untuk terjadinya
Analysis (mateen Arastu, 2013) komplikasi maka dapat dilakukan prosedur Minimally
Invasive Reduction and Fixation (MIRF). Komplikasi yang
didapatkan minimal dan hanya terdapat satu kasus dengan
infeksi luka superficial, prosedur ini juga dapat dilakukan
pada kondisi dimana jaringan lunak dalam keadaan edema
akibat trauma yang bersangkutan. Tehnik ini sesuai untuk
pasien dengan penyakit komorbid (perokok, DM, penyakit
vascular perifer).

Dari beberapa jurnal diatas dapat disimpulkan bahwa minimally invasive surgery memiliki
beberapa keuntungan dalam hal komplikasi pasca operasi dan jangka waktu perawatan. Namun
masih juga terdapat kekurangan seperti biaya, dan juga keterbatasan lapangan operasi. Namun
secara umum dalam beberapa kasus minimal invasive surgery masih dijadikan pilihan utama
karena keuntungannya tersebut.