Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kontrasepsi

1. Definisi Kontrasepsi

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra

berarti “melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah

pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang

mengakibatkan kehamilan. Jadi kontrasepsi yaitu pencegahan

terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan

menempelnya sel telur yang telah dibuahi kedinding rahim (Mulyani,

2013).

Menurut (Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2010)

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi

untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai

makhluk seksual.

Kontrasepsi adalah pencegahan kehamilan atau pencegahan

konsepsi. Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara dilakukan,

antara lain penggunaan pil KB/kontrasepsi oral, suntikan KB/intravena,

penggunaan alat dalam saluran reproduksi (kondom, alat kontrasepsi

dalam rahim/IUD dan lain-lain), susuk/implant, kontrasepsi

mantap/operasi (tubektomi/vasektomi), atau dengan obat topikal

intravaginal yang bersifat spermisida (Anonymous, 2009).

6
7

2. Jenis-jenis Kontrasepsi

a. Kontrasepsi Berencana Alamiah

1. Kondom

Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang

terbuat dari berbagai bahan diantaranya karet (lateks), plastik

(vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada

penis untuk menampung sperma ketika seorang pria mencapai

ejakulasi saat berhubungan seksual. Kondom terbuat dari karet

sintetis yang tipis, berbentuk silinder dengan muaranya

berpinggir tebal yang digulung berbentuk rata. Standar kondom

dilihat dari ketebalannya yaitu 0,02 mm.

2. Metode kalender

3. Metode Amenore Laktasi (MAL)

4. Metode Suhu Basal

5. Koitus interuptus (senggama terputus)

b. Kontrasepsi Berencana yang mengandung Hormon

Menurut pendapat Mulyani (2013), ada beberapa jenis

Kontrasepsi yang mengandung Hormon yaitu :

1. Kontrasepsi Suntik

Kontrasepsi suntik bulanan adalah metode suntikan yang

pemberiannya tiap bulan dengan jalan penyuntikan secara

intramuscular sebagai usaha pencegahan kehamilan berupa

hormon progesteron dan esterogen pada wanita usia subur.


8

Penggunaan kontrasepsi suntik mempengaruhi hipotalamus dan

hipofisis yaitu menurunkan kadar FSH dan LH sehingga

perkembangan dan kematangan folikel de graaf tidak terjadi.

Kontrasepsi suntik tribulan adalah metode kontrasepsi yang

diberikan secara intramuscular setiap tiga bulan. KB suntik

merupakan metode kontrasepsi efektif yaitu metode yang dalam

penggunaannya mempunyai efektifitas atau tingkat

kelangsungan pemakaian relatif lebih tinggi serta angka

kegagalan relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan alat

kontrasepsi sederhana.

2. Kontrasepsi Pil

Pil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon

progesteron dalam dosis rendah. Mini pil atau pil progestin

disebut juga pil menyusui. Dosis progestin yang digunakan

0,03-0,05 mg per tablet.

3. Kontrasepsi Implant

Kontrasepsi implant adalah alat kontrasepsi yang dipasang

dibawah kulit (Hanafi, 2004). Implant adalah suatu kontrasepsi

yang mengandung levonorgetrel yang dibungkus dalam kapsul

silastic silicon (polydimethylsiloxane) dan dipasang dibawah

kulit. Kontrasepsi ini sangat efektif, dimana tingkat

kegagalannya hanya 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan.


9

4. Alat Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)

Kontrasepsi Intra Uterine Device adalah alat kontrasepsi

paling banyak digunakan, karena dianggap sangat efektif dalam

mencegah kehamilan dan memiliki manfaat yang relatif banyak

dibanding alat kontrasepsi lainnya. Diantaranya, tidak

mengganggu saat koitus, dapat digunakan sampai menopause

dan setelah IUD dikeluarkan dari rahim, bisa dengan mudah

subur.

c. Kontrasepsi Mantap

1. Tubektomi

Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur

wanita yang mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan

mendapatkan keturunan lagi.

2. Vasektomi

Vasektomi adalah istilah dalam ilmu bedah yang terbentuk

dari kedua kata yaitu vas dan ektomi. Vas atau vasa deferensia

artinya adalah saluran benih yaitu saluran yang menyalurkan sel

benih jantan (spermatozoa) keluar dari buah zakar (testis) yaitu

tempat sel benih itu diproduksi menuju kantung mani

(vesikulaseminalis) sebagai tempat penampungan sel benih

jantan sebelum dipancarkan keluar pada saat puncak senggama

(ejakulasi). Ektomi atau ektomia artinya pemotongan sebagian.

Jadi vasektomi artinya adalah pemotongan sebagian (0,5 cm -


10

1cm) pada vasa deferensia atau tindakan operasi ringan dengan

cara mengikat dan memotong saluran sperma sehingga sperma

tidak lewat dan air mani tidak mengandung spermatozoa,

dengan demikian tidak terjadi pembuahan, operasi berlangsung

kurang lebih 15 menit.

3. Jenis-Jenis Kontrasepsi Suntik

b. Kontrasepsi suntik satu bulan

1. Keuntungan

Keuntungan dalam menggunakan kontrasepsi suntik satu

bulan yaitu resiko terhadap kesehatan kecil, tidak berpengaruh

pada hubungan suami istri, tidak diperlukan pemeriksaan dalam,

jangka panjang, efek samping sangat kecil, pasien tidak perlu

menyimpan obat suntik, pemberian aman, efektif dan relatif

mudah (Mulyani, 2013).

2. Kelemahan

Kelemahan dalam menggunakan kontrasepsi suntik yaitu

dapat terjadi perubahan pola haid, seperti tidak teratur,

perdarahan bercak atau spooting, perdarahan sampai sepuluh

hari. Dapat juga terjadi seperti mual, sakit kepala, nyeri

payudara ringan dan keluhan seperti ini akan hilang setelah

suntikan kedua atau ketiga. Ketergantungan pasien terhadap

pelayanan kesehatan, karena pasien harus kembali setiap 30 hari

untuk kunjungan ulang. Efektifitas suntik 1 bulan berkurang bila


11

digunakan bersamaan dengan obat-obatan epilepsy (fenitoin dan

barbiturat) atau obat tuberklosis (rifampisin). Pada pengguna

kontrasepsi suntik juga dapat terjadi perubahan berat badan,

dapat terjadi efek samping yang serius seperti serangan jantung,

stroke, bekuan darah pada paru atau otak dan kemungkinan

timbulnya tumor hati. Tidak menjamin perlindungan terhadap

penularan infeksi menular seksual (IMS), hepatitis B virus atau

infeksi virus HIV. Pemulihan kesuburan kemungkinan terlambat

setelah penghentian pemakaian kontrasepsi suntik 1 bulan

(Mulyani, 2013).

3. Cara kerja

1) Menekan Ovulasi

2) Lendir Servik menjadi kental dan sedikit, sehingga sulit

ditembus spermatozoa

3) Membuat endometrium menjadi kurang baik untuk

implantasi

4) Menghambat transport ovum dalam tuba falopi (Mulyani,

2013).

4. Efektifitas

KB suntik satu bulan sangat efektifitas (0,1-0,4 kehamilan

per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan

(Mulyani, 2013).
12

5. Indikasi pemakaian

Ibu yang bisa menggunakan kontrasepsi ini yaitu usia

reproduksi, telah memiliki anak ataupun belum memiliki anak,

ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi,

menyusui ASI pascapersalinan > 6 bulan, pascapersalinan dan

tidak menyusui, haid teratur, riwayat kehamilan ektopik, sering

lupa menggunakan pil kontrasepsi (Mulyani, 2013).

6. Kontraindikasi

Yang tidak bisa menggunakan kontraspsi suntik ini yaitu

hamil atau diduga hamil, menyusui dibawah 6 minggu

pascapersalinan, pendarahan pervaginam yang belum jelas

penyebabnya, penyakit hati akut (virus hepatitis), umur > 35

tahun yang merokok, mempunyai riwayat penyakit jantung,

stroke atau dengan tekanan darah tinggi (> 180/110 mmHg),

mempunyai riwayat kelainan tromboemboli atau dengan

kencing manis >20 tahun, kelainan pembuluh darah yang

menyebabkan sakit kepala ringan atau migran, keganasan pada

payudara (Mulyani, 2013).

7. Waktu mulai menggunakan

1) Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus

haid. Tidak diperlukan kontrasepsi tambahan


13

2) Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7 siklus

haid, ibu tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7

hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari

3) Bila ibu tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap

saat, asal saja dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil. Ibu

tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari,

atau menggunakan kondom selama 7 hari dari suntikan

pertama

4) Bila ibu pascapersalinan 6 bulan, menyusui, serta telah

mendapat haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal

dipastikan tidak hamil

5) Bila pascapersalinan > 6 bulan, menyusui, serta telah

mendapat haid, maka suntikan pertama diberikan pada

siklus haid hari 1 dan 7

6) Bila pascapersalinan < 6 bulan dan menyusui, ibu tidak

boleh diberikan suntik 1 bulan

7) Ibu pascakeguguran, suntikan 1 bulan dapat diberikan

dalam waktu 7 hari

8) Ibu yang sedang menggunakan metode kontrasepsi

hormonal yang lain dan ingin menggantinya dengan

kontrasepsi hormonal suntik 1 bulan boleh diberikan tanpa

menunggu haid, asalkan kontrasepsi yang sebelumnya

digunakan secara benar dan tepat. Suntikan 1 bulan tersebut


14

dapat diberikan sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya. Bila

ragu ibu harus diuji kehamilan terlebih dahulu (Mulyani,

2013).

c. Kontrasepsi suntik tiga bulan

1. Keuntungan

Keuntungan dalam menggunakan kontrasepsi suntik ini

yaitu efektifitas tinggi, sederhana pemakaiannya, cukup

menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4 kali dalam

setahun), cocok untuk ibu-ibu yang menyusui anak, tidak

berdampak serius terhadap penyakit gangguan pembekuan darah

dan jantung karena tidak mengandung hormon esterogen, dapat

mencegah kanker endometrium, kehamilan ektopik, serta

beberapa penyebab penyakit akibat radang panggul,

menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell) (Mulyani,

2013).

2. Kelemahan

Kelemahan dalam menggunakan kontrasepsi suntik ini

yaitu berat badan yang bertambah 2,3 kilogram pada tahun

pertama dan meningkat 7,5 kilogram selama enam tahun,

terdapat gangguan haid seperti amenore yaitu tidak datang haid

pada setiap bulan selama menjadi akseptor KB suntik tiga bulan

berturut-turut. Spoting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar

haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik.


15

Metroragia yaitu perdarahan yang berlebihan diluar masa haid.

Menoragia yaitu datangnya darah haid yang berlebihan

jumlahnya. Timbulnya jerawat dibadan atau diwajah dapat

disertai infeksi atau tidak bila digunakan dalam jangka panjang,

pusing dan sakit kepala, bisa menyebabkan warna biru dan rasa

nyeri pada daerah suntikan akibat perdarahan bawah kulit

(Mulyani, 2013).

3. Cara kerja

Mekanisme metode suntik KB tribulan yaitu :

1) Menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan

pembentukan releasing faktor dan hipotalamus

2) Leher serviks bertambah kental, sehingga menghambat

penetrasi sperma melalui serviks uteri

3) Menghambat implantasi ovum dalam endometrium

(Mulyani, 2013).

4. Efektifitas

Efektifitas KB suntik tribulan sangat tinggi, angka

kegagalan kurang dari 1 %. World Health Organization (WHO)

telah melakukan penelitian pada DMPA dengan dosis standar

dengan angka kegagalan 0,7 %, asal penyuntikannya dilakukan

secara teratur sesuai jadwal yang ditentukan (Mulyani, 2013).


16

5. Indikasi Pemakaian

Ibu yang bisa menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan

yaitu : usia reproduksi (20-35 tahun), pascapersalinan, pasca

keguguran, yang tidak dapat menggunakan kontrasepsi yang

mengandung esterogen, nulipara dan yang telah mempunyai

anak banyak serta belum bersedia untuk KB tubektomi, yang

sering lupa menggunakan KB pil, anemia defisiensi besi, yang

tidak memiliki riwayat darah tinggi dan yang sedang menyusui

(Mulyani, 2013).

6. Kontra indikasi

Ibu yang tidak bisa menggunakan kontrasepsi suntik tiga

bulan yaitu hamil atau dicurigai hamil, yang menderita kanker

payudara atau riwayat kanker payudara, diabetes melitus yang

disertai komplikasi dan perdarahan pervaginam yang belum

jelas penyebabnya (Mulyani, 2013).

7. Waktu yang dibolehkan untuk penggunaan suntik 3 bulan

1) Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid

2) Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7siklus haid

dan pasien tidak hamil. Pasien tidak boleh melakukan

hubungan seksual untuk 7 hari lamanya atau metode

penggunaan metode kontrasepsi yang lain selama masa

waktu 7 hari
17

3) Jika pasien pascapersalinan > 6 bulan, menyusui, serta

belum haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal saja

dapat dipastikan ibu tidak hamil.

4) Bila pasca persalinan 3 minggu dan tidak menyusui,

suntikan 3 bulan dapat diberikan.

5) Ibu pasca keguguran, suntikan progestin dapat diberikan

6) Ibu dengan menggunakan metode kontrasespsi hormonal

yang lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi hormonal

progestin, selama ibu tersebut menggunakan kontrasepsi

sebelumnya secara benar, suntikan progestin dapat segera

diberikan tanpa menunggu haid. Bila ragu-ragu perlu

dilakukan uji kehamilan terlebih dahulu.

7) Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal,

dan ibu tersebut ingin mengganti dengan suntikan 3 bulan ,

maka suntikan 3 bulan tersebut dapat diberikan sesuai

jadwal kontrasepsi sebelumnya. Tidak diperlukan metode

kontrasepsi lain

8) Ibu yang menggunakan metode kontrasepsi non hormonal

dan ingin menggantinya dengan suntikan 3 bulan, maka

suntikan pertama dapat diberikan asal saja diyakini ibu

tersebut tidak hamil dan pemberian tanpa menunggu

datangnya haid. Bila diberikan pada hari 1-7 siklus haid

metode kontrasepsi lain tidak diperlukan. Bila sebelumnya


18

IUD dan ingin menggantikan dengan suntikan 3 bulan,

maka suntikan pertama diberikan hari 1-7 siklus haid. Cabut

segera IUD (Mulyani, 2013).

B. Akseptor KB

Akseptor KB adalah pasangan usia subur (PUS) yang telah memilih dan

menggunakan suatu metode kontrasepsi tertentu (Hartanto, 2004). Pasangan

Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang masih berpotensi untuk

mempunyai keturunan atau biasanya ditandai dengan belum datangnya waktu

menopouse (terhenti menstruasi bagi istri). Peserta KB (akseptor) adalah

pasangan usia subur (PUS) dimana salah seorang menggunakan salah satu

cara/alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui

program maupun non program (BKKBN, 2009).

C. Karakteristik Akseptor KB

Karakteristik adalah ciri khusus yang memiliki sifat lebih lekas sesuai

dengan penawaran tertentu. Karakteristik yang dimaksud adalah Pengetahuan,

pendidikan, pendapatan, umur dan pekerjaan. Karakteristik ini dapat

mempengaruhi gaya hidup pasien dalam menghadapi hal-hal baru atau asing

bagi dirinya termasuk juga kondisi psikologisnya. (Oacley, 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi Akseptor KB menggunakan

kontrasepsi adalah
19

1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu, penginderaan

terjadi melalui panca indera manusia yakni indra penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa dan raba sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan merupakan kemampuan seseorang yang

mempengaruhi terhadap tindakan yang dilakukan. Pengetahuan seseorang

tidak secara mutlak dipengaruhi oleh pendidikan karena pengetahuan

dapat juga diperoleh dari pengalaman masa lalu, namun tingkat pendidikan

turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan

memahami informasi yang diterima yang kemudian menjadi dipahami

(Notoatmodjo, 2007).

Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan yang diinginkan

didalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu :

1. Tahu (Know)

Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah diartikan

mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang sesuatu dengan menggunakan

kata kerja antara lain menyebutkan, mendefinisikan, menguraikan

dan sebagainya.
20

2. Memahami (Comprehension)

Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi

tersebut secara benar. Bila telah paham secara objek, maka kita harus

menjelaskan, menerangkan, menyebutkan contoh, menyimpulkan

dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Aplication)

Merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

4. Analisis (Analysis)

Merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

objek ke dalam komponen-komponen tertentu, tetapi dalam struktur

organisasi tersebut dan mempunyai hubungan satu sama lain.

5. Sintesis (Syntesis)

Menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru.

6. Evaluasi (Evaluating)

Merupakan kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap

suatu materi atau objek berdasarkan criteria yang telah ditentukan.

Setelah orang mendapatkan pengetahuan, selanjutnya menimbulkan

respon batin dalam bentuk sikap yang diketahuinya itu.


21

Pengetahuan adalah informasi yang didapatkan dari pembelajaran dan

pengalaman yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai

yang nyata, sehingga dapat dipakai sebagai dasar untuk mengambil

keputusan dan tindakan di masa yang akan datang (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan merupakan kemampuan seseorang yang memiliki

pengaruh terhadap tindakan yang dilakukan seseorang, pengetahuan atau

intelektual juga mempengaruhi pola pikir atau cara berpikir seseorang,

tinggi rendahnya tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi

tindakan seseorang dalam melakukan suatu tindakan khususnya dibidang

kesehatan terutama dalam hal mencari pelayanan kontrasepsi untuk

meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan cara mencegah dan

menjarangkan kehamilan. Notoatmodjo (2007).

2. Umur

Umur adalah Satuan waktu yang mengukur keberadaan suatu benda

atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Dalam usia reproduksi

sehat dikenal usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 sampai

30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia

dibawah 20 tahun ternyata 2 sampai 5 kali lebih tinggi daripada usia 20

sampai 29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30

sampai 35 tahun. (Wiknjosastro, 2005).

Mochtar (2004) menyatakan bahwa pemilihan metode kontrasepsi

yang akan digunakan menjadi hak penuh calon akseptor, tetapi harus

mengingat pola konsepsi rasional yakni mempertimbangkan tujuan


22

reproduksi dan umur akseptor. Dengan kata lain tujuan reproduksi harus

jelas, ingin menunda kehamilan, menjarangkan, atau tidak ingin

mempunyai anak lagi serta apakah ibu berumur reproduksi atau tidak.

Hartono (2004) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang

berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi adalah umur istri, makin

tua umur istri maka pemilihan alat kontrasepsi kearah alat yang

mempunyai keefetivitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka

panjang. Hal ini didukung oleh BKKBN, bahwa kontrasepsi rasional harus

mempertimbangkan umur akseptor, bila umur lebih dari 35 tahun, maka

lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN,

2004).

Menurut Suratun (2008) masa menunda kehamilan sebaiknya

dilakukan oleh pasangan belum mencapai usia 20 tahun, dengan

kontasepsi yang disarankan yaitu pil KB, AKDR dan cara sederhana.

Sedangakan umur terbaik ibu untuk melahirkan adalah usia 20-30 tahun

dengan kontrasepsi yang disarankan pada masa mengatur ini adalah

AKDR, suntik KB, pil KB, atau implant, dan bagi keluarga setelah

mempunyai 2 anak dan umur istri lebih 30 tahun dianjurkan tidak hamil

lagi, kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan kontrasepsi seperti

metoda kontap, AKDR, implant, suntik KB dan pil KB.

3. Pendidikan

Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar, dimana

dalam suatu proses belajar itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan


23

dan perubahan kearah yang lebih matang pada diri individu, kelompok dan

masyarakat (Notoatmodjo, 2007).

Dictionary Of Education menyebutkan bahwa pendidikan adalah

proses dimana seseorang mengembangkan sifat dan bentuk-bentuk tingkah

laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana

orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol,

sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan

sosial dan kemampuan individu yang optimal (Ihsan, 2003).

Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) 2003

mengklasifikasikan pendidikan menjadi pendidikan formal dan non-

formal, jenjang pendidikan formal terdiri pendidikan dasar (SD),

pendidikan menengah (SMP dan SMA), dan jenjang pendidikan non

formal (Akademi dan universitas).

Pendidikan mempunyai pengaruh dalam hal pemilihan kontrasepsi.

Disamping itu pendidikan mempunyai kaitan bermakna positif dengan

norma besarnya keluarga dalam penerimaan KB. Makin tinggi tingkat

pendidikan ibu makin tinggi pula perilaku penerimaannya terhadap KB,

dan sebaliknya atau makin tinggi tingkat pendidikan ibu makin sedikit

jumlah anak yang dimiliki dan sebaliknya.

4. Pekerjaan

Pekerjaan secara umum didefenisikan sebagai sebuah kegiatan aktif

yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit istilah pekerjaan

digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan sebuah karya
24

bernilai imbalan dalam bentuk uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan

sehari-hari istilah pekerjaan dianggap sama dengan profesi.

5. Pendapatan

Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik barang atau uang dari

pihak lain atau hasil sendiri dengan jumlah uang atau jumlah harga yang

berlaku saat ini (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Tingkat

penghasilan atau pendapatan adalah gambaran yang lebih jelas tentang

posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat yang merupakan jumlah

seluruh penghasilan dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu

penghasilan tinggi dan rendah sehubungan dengan tingkat penghasilan

(Upah Minimum Regional) 2015 di Sumatera Utara, mengelompokkan

sebagai berikut:

1) Tingkat penghasilan tinggi : Rp. > 1.505.850

2) Tingkat penghasilan rendah : Rp. < 1.505.850

Kondisi lemahnya ekonomi keluarga mempengaruhi daya beli

termasuk kemampuan membeli alat dan obat kontrasepsi. Keluarga miskin

pada umumnya mempunyai anggota keluarga yang cukup banyak,

kemiskinan menjadikan relative tidak memiliki akses dan bersifat pasif

dalam berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas diri dan keluarganya

(BKKBN,2004)
25