Anda di halaman 1dari 4

1/24/2019 Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem monitoring demam berdarah, bagaimana caranya?

Disiplin ilmiah, gaya jurnalistik

Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem


monitoring demam berdarah, bagaimana caranya?
Januari 24, 2019 6.39pm WIB

Sampel darah yang positif terkena virus dengue. Jarun Ontakrai/Shutterstock

Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem monitoring


demam berdarah, bagaimana caranya?
Januari 24, 2019 6.39pm WIB

Dalam dua pekan Januari tahun ini, hampir 150 warga Depok Jawa Barat terkena Penulis
demam berdarah dengue (DBD). Di Jakarta, jumlah kasus DBD meningkat hampir
dua kali (370 kasus) pada bulan ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka
sebenarnya mungkin lebih tinggi karena belum semua kasus di fasilitas kesehatan
terlaporkan.
Atina Husnayain
Assistant Researcher at Department of
Kementerian Kesehatan telah menyatakan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) di Biostatistics, Epidemiology, and Population
Health, Faculty of Medicine, Public Health,
beberapa daerah, bahkan sejumlah kematian karena DBD terjadi di Semarang dan
and Nursing, Universitas Gadjah Mada
Labuan Bajo. Sejak awal Januari 2019 kasus demam berdarah dengue (DBD)
meningkat drastis di berbagai daerah.

Selain cara-cara konvensional (pendataan kasus lewat fasilitas kesehatan), kini


Anis Fuad
saatnya memanfaatkan data di internet untuk mendukung sistem monitoring DBD
Lecturer, Department of Biostatistics,
yang lebih efektif. Riset terbaru kami menunjukkan bahwa data di internet bisa Epidemology and Population Health,
Faculty of Medicine, Public Health and
dipakai untuk mendeteksi kenaikan kasus DBD lebih cepat dibanding cara
Nursing, Universitas Gadjah Mada
konvensional.

Kerugian akibat gigitan nyamuk

Indonesia adalah daerah endemis DBD terbesar di Asia Tenggara. Kasus DBD pertama dilaporkan
pada 1968 hanya terjadi di Surabaya dan Jakarta. Kini, tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang
aman dari DBD.

Estimasi kerugian akibat KLB DBD pada 2011 diperkirakan mencapai lebih dari US$6 juta dan
diperkirakan naik menjadi lebih dari US$380 juta pada 2015.

https://theconversation.com/menggunakan-google-trends-untuk-dukung-sistem-monitoring-demam-berdarah-bagaimana-caranya-110278 1/4
1/24/2019 Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem monitoring demam berdarah, bagaimana caranya?

Karena musim hujan diperkirakan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan risiko kesakitan dan
wabah DBD perlu diwaspadai dan diantisipasi.

Keterbatasan pengawasan saat ini

Mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue yang terbitkan
oleh Kementerian Kesehatan, setiap pasien kasus DBD yang dirawat di rumah sakit wajib dilaporkan
dalam 1x24 jam sejak diagnosis ditetapkan.

Namun sistem Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KD-RS) tidak selalu tepat waktu. Sebuah riset di
Bandung mengungkapkan bahwa hanya 45,7% kasus DBD yang dilaporkan ke dinas kesehatan kota,
itupun setelah beberapa minggu hingga bulan.

Lagi pula, pelaporan kasus DBD dari rumah sakit telah melewati sekian hari masa inkubasi sejak
pertama kali digigit oleh nyamuk Aedes aegypti. Korban umumnya memulai dengan minum obat
penurun panas, berkunjung ke Puskesmas atau klinik, baru kemudian dirawat di rumah sakit.
Dengan mudahnya mencari informasi, pasien diduga mulai googling di Internet tentang DBD sejak
awal masa inkubasi.

Karena itu, kegiatan fogging setelah laporan KD-RS kalah cepat dengan aktivitas penularan oleh
nyamuk pembawa virus dengue di lingkungan.

Pakai Google Trends

Platform Google Trends, bisa mengendus peningkatan penyakit termasuk demam berdarah.
Banyaknya orang yang googling tentang demam berdarah, berkorelasi dengan meningkatnya kasus
DBD. Penelitian kami yang membandingkan pencarian kata kunci di Google dengan data surveilans
demam berdarah dari Kementerian Kesehatan pada 2012-2016 membuktikan hal tersebut. Kata kunci
yang umum digunakan adalah “demam berdarah”, “gejala demam berdarah”, dan “dbd”.

Google Trends bahkan dapat mendeteksi kenaikan kasus lebih awal, satu hingga tiga bulan
sebelumnya. Selain itu, sebaran pencarian dapat dipetakan.

Pada awal 2019, pencarian tentang demam berdarah terjadi di hampir seluruh wilayah. Hanya di 4
provinsi, yaitu Riau, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Barat dan Papua Barat yang tidak terdeteksi.
Intensitas pencarian tertinggi di provinsi Sulawesi Utara. Provinsi dengan volume pencarian di atas
rerata adalah Jawa Timur, Gorontalo, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi
Tenggara dan Sulawesi Utara. Tiga di antaranya merupakan provinsi yang ditetapkan sebagai KLB
DBD yaitu Sulawesi Utara, NTT dan Kalimantan Tengah.

https://theconversation.com/menggunakan-google-trends-untuk-dukung-sistem-monitoring-demam-berdarah-bagaimana-caranya-110278 2/4
1/24/2019 Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem monitoring demam berdarah, bagaimana caranya?

Peta sebaran pencarian informasi tentang demam berdarah dengue di Internet pada Januari 2019. Author provided

Penelitian kami senada dengan riset Althouse dan Cummings serta Chan. yang memprediksi demam
berdarah di Bolivia, Brazil, India dan Singapura dengan Google Trends.

Oleh karenanya, Google Trends berpotensi sebagai sumber data komplementer untuk surveilans
demam berdarah. Selain gratis, data Google Trends bersifat real time.

Google Trends: DBD pada Januari

Kenaikan kasus DBD sudah terekam jejaknya di Google Trends sejak pekan terakhir November 2018.
Pada periode tersebut, volume pencarian demam berdarah sudah menyamai puncak googling tentang
DBD sebelumnya, yaitu pada Januari 2017.

Pencarian informasi tentang demam berdarah dengue di Google Trends, Januari 2017-Januari 2019. Author provided

https://theconversation.com/menggunakan-google-trends-untuk-dukung-sistem-monitoring-demam-berdarah-bagaimana-caranya-110278 3/4
1/24/2019 Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem monitoring demam berdarah, bagaimana caranya?

Pada pekan pertama Januari 2019, volume pencarian demam berdarah mencapai 90 poin. Angka ini
hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya.

Artinya, Google Trends bisa mengendus status waspada KLB demam berdarah lebih cepat dari status
yang ditetapkan oleh pemerintah DKI berdasarkan data resmi.

Untuk diadopsi memperkuat kebijakan, misalnya deteksi dini atau penentuan KLB dan Waspada,
data Google Trends perlu dikonfirmasi dengan data resmi, baik di tingkat pusat dan daerah.

Soalnya, akurasi data di Google Trends juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya,
penetrasi internet di wilayah, literasi digital, literasi kesehatan serta persepsi masyarakat terhadap
penyakit akibat paparan media. Di samping itu, Google Trends baru menyediakan data frekuensi
pencarian berdasarkan waktu dan tempat. Pada sistem surveilans penyakit, variabel yang penting
lainnya adalah karakteristik orang, seperti kelompok umur, jenis pekerjaan, jenis kelamin, dan faktor
demografis lain.

Potensi data digital

Berbagai hasil penelitian mengenai penyakit menular lain seperti Zika, influenza, chikungunya, dan
penyakit tidak menular seperti kanker menunjukkan potensi Google Trends untuk pemantauan
penyakit. Kami berharap penelitian-penelitian ini menjadi referensi pembuatan kebijakan surveilans
penyakit di era digital.

Tidak tersedianya data karakteristik orang bisa diatasi melalui pemanfaatan mahadata BPJS
Kesehatan. Sistem elektroniknya yang menghimpun 215 juta peserta dan transaksi kesehatan di lebih
dari 23 ribu fasilitas kesehatan dapat dipadukan untuk surveilans DBD. Saat ini, sekitar 3 juta orang
yang telah mengunduh aplikasi mobile JKN dari BPJS Kesehatan. Jika di app tersebut tersedia fitur
pencarian informasi kesehatan berbasis Google, kesenjangan data individu dalam Google Trends
dapat teratasi.

Dalam konteks kebijakan berbasis bukti, salah satu tugas pemegang kebijakan adalah menerima bukti
ilmiah, kemudian meneliti dan mengonfirmasi dengan bukti di lapangan. Memadukan Google Trends
dengan sistem surveilans DBD diharapkan dapat memperkuat kebijakan sistem kewaspadaan dini
dan program pencegahan DBD.

Pepatah bilang, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Apalagi di musim hujan yang kondusif untuk
perkembangbiakan nyamuk Aedes pembawa virus dengue.

Demam berdarah penyakit menular


https://theconversation.com/menggunakan-google-trends-untuk-dukung-sistem-monitoring-demam-berdarah-bagaimana-caranya-110278 4/4