Anda di halaman 1dari 10

Satuan Acara Penyuluhan

TB Paru pada Anak

Disusun Oleh :
Mahasiswa Praktik Kelompok 3
NERS FKEP Universitas Jember

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

I. JUDUL PENYULUHAN : TB Paru Pada Anak


SASARAN UMUM : Pasien dan Keluarga
TEMPAT : Poli Anak RSD dr. Haryoto, Lumajang
HARI/ TANGGAL : Jumat, 1 Februari 2019
WAKTU : 09.00 s/d 09.30

II. ANALISIS SITUASI


Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penyakit TB
Paru pada anak.

III. TUJUAN UMUM


Setelah dilakukan penyuluhan mengenai penyakit TB Paru pada anak selama
± 30 menit, diharapkan para orang tua dapat memahami mengenai penyakit
TB paru pada anak, sehingga akan terjadi perubahan prilaku kesehatan di
masyarakat kearah yang lebih positif guna mencegah TB Paru pada anak.

IV. TUJUAN KHUSUS


Setelah dilakukan penyuluhan tentang Penyakit TB Paru pada anak selama 30
menit, diharapkan Ibu Post Partum mampu:
a. Orangtua mengerti Pengertian penyakit TB
b. Orangtua mengerti Penyebab dan penularan Bakteri TB Pada Anak
c. Orangtua mengerti Gejala Klinis Penyakit TB Pada Anak
d. Orangtua mengerti Penanganan dan pencegahan Penyakit TB Pada Anak

V. METODE
Ceramah dan diskusi

VI. MEDIA
Leaflet
VII. LANGKAH KEGIATAN
Waktu Kegiatan Keterangan
09.00 Pendahuluan : 1. Pasien menjawab salam
WIB 1. Mengucapkan salam 2. Pasien mendengarkan dan
2. Perkenalan diri memperhatikan
3. Menjelaskan maksud dan 3. Pasien mengerti maksud dan
tujuan tujuan
4. Menyebutkan topik-topik yang
akan disampaikan.
09.05 1 Kegiatan inti :
WIB 1. Menjelaskan pengertian dari Pasien menyimak mengajukan
Penyakit TB Paru pada anak. pertanyaan mendengarkan
2. Menjelaskan bagaimana
Penularan dan Penyebaran
Bakteri TB Pada Anak
3. Menjelaskan mengenai Gejala
Klinis Penyakit TB Pada Anak
4. Menjelaskan penanganan dan
pencegahan Penyakit TB Pada
Anak

09.20 Penutup :
WIB 1. Memberikan pertanyaan kepada 1. Pasien menjawab pertanyaan
sasaran tentang materi yang yang diajukan penyuluh
sudah disampaikan penyuluh
2. Menyimpulkan materi
penyuluhan yang telah 2. Pasien mendengankan
disampaikan sasaran penyampaian kesimpulan
3. Memberikan kesempatan
kepada salah satu klien untuk 3. Pasien mampu memaparkan
Memaparkan kembali tentang kembali tentang Penyakit TB
penyakit TB Paru pada anak Paru pada anak
4. Menutup acara dan 4. Mendengarkan penyuluh
mengucapkan salam menutup acara dan
menjawab salam

VIII. MATERI
KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.
(Mansjoer, 1999). Namun pada anak, Tuberculosis paru adalah penyakit
tidak menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang
biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang ke
orang dan mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus. (Corwin, 2001)
Tuberculosis paru adalah : penyakit yang menginfeksi parenchim
paru dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lain, termasuk meningen,
ginjal, tulang, dan nodus limfe (Brunner & Suddart, 2002)

2. Penyebab dan penularan


a. Merokok pasif : Merokok pasif bisa berdampak pada sistem kekebalan
anak, sehingga meningkatkan risiko tertular. Pajanan pada asap rokok
mengubah fungsi sel, misalnya dengan menurunkan tingkat kejernihan
zat yang dihirup dan kerusakan kemampuan penyerapan sel dan
pembuluh darah (Reuters Health, 2007).
b. Faktor Risiko TBC anak (admin., 2007)
1. Resiko infeksi TBC : Anak yang memiliki kontak dengan orang
dewasa dengan TBC aktif, daerah endemis, penggunaan obat-obat
intravena, kemiskinan serta lingkungan yang tidak sehat. Pajanan
terhadap orang dewasa yang infeksius. Resiko timbulnya transmisi
kuman dari orang dewasa ke anak akan lebih tinggi jika pasien
dewasa tersebut mempunyai BTA sputum yang positif, terdapat
infiltrat luas pada lobus atas atau kavitas produksi sputum banyak
dan encer, batuk produktif dan kuat serta terdapat faktor
lingkungan yang kurang sehat, terutama sirkulasi udara yang tidak
baik. Pasien TBC anak jarang menularkan kuman pada anak lain
atau orang dewasa disekitarnya, karena TBC pada anak jarang
infeksius, hal ini disebabkan karena kuman TBC sangat jarang
ditemukan pada sekret endotracheal, dan jarang terdapat batuk5.
Walaupun terdapat batuk tetapi jarang menghasilkan sputum.
Bahkan jika ada sputum pun, kuman TBC jarang sebab hanya
terdapat dalam konsentrasi yang rendah pada sektret endobrokial
anak.
2. Resiko Penyakit TBC : Anak ≤ 5 tahun mempunyai resiko lebih
besar mengalami progresi infeksi menjadi sakit TBC, mungkin
karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna (imatur).
Namun, resiko sakit TBC ini akan berkurang secara bertahap
seiring pertambahan usia. Pada bayi < 1 tahun yang terinfeksi
TBC, 43% nya akan menjadi sakit TBC, sedangkan pada anak usia
1-5 tahun, yang menjadi sakit hanya 24%, pada usia remaja 15%
dan pada dewasa 5-10%. Anak < 5 tahun memiliki resiko lebih
tinggi mengalami TBC diseminata dengan angka kesakitan dan
kematian yang tinggi . Konversi tes tuberkulin dalam 1- 2 tahun
terakhir, malnutrisi, keadaan imunokompromis, diabetes melitus,
gagal ginjal kronik dan silikosis. Status sosial ekonomi yang
rendah, penghasilan yang kurang, kepadatan hunian,
pengangguran, dan pendidikan yang rendah.
3. Tanda dan Gejala
Gejala utama TB paru menurut Mansjoer (1999) adalah :
a. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza, tapi kadang-
kadang panas badan dapat mencapai 40 – 41oC,
b. Batuk
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini
diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar, sifat batuk
dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah muncul
peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang
lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang
pecah.
c. Sesak nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak
nafas. Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut,
dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
d. Nyeri dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura
sehingga menimbulkan pleuritis.
e. Malaise
Gejala maleise sering ditemukan berupa anoreksia, tidak ada nafsu
makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan
keringat malam.
Pasien TB paru menampakkan gejala klinis yaitu :
a. Tahap asimtomatis
b. Gejala TB paru yang khas, kemudian stagnansi dan regresi
c. Eksaserbasi yang memburuk.
d. Gejala berulang dan menjadi kronik.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda :
a. Tanda-tanda infiltrat (redup, bronchial, ronchi basah, dan lain-lain).
b. Tanda-tanda penarikan paru diafragma, dan mediastrium.
c. Sekret di saluran nafas dan ronchi.
d. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung
dengan bronkus.

4. Penatalaksanaan
Farmakologi
Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
1. Jangka pendek. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka
waktu 1 – 3 bulan.
a. Streptomisin inj 750 mg.
b. Pas 10 mg.
c. Ethambutol 1000 mg.
d. Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara pengobatannya
adalah setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah
perkembangan pengobatan ditemukan terapi. Therapi TB paru dapat
dilakukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan jenis :
a. INH.
b. Rifampicin.
c. Ethambutol
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan
menjadi 6-9 bulan.
2. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan
dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :
a. Rifampicin.
b. Isoniazid (INH).
c. Ethambutol.
d. Pyridoxin (B6).
Non Farmakologi
Menurut Hidayat (2008) perawatan anak dengan tuberculosis dapat
dilakukan dengan melakukan :
a. Pemantauan tanda-tanda infeksi sekunder
b. Pemberian oksigen yang adekuat
c. Latihan batuk efektif
d. Fisioterapi dada
e. Pemberian nutrisi yang adekuat
f. Kolaburasi pemberian obat antutuberkulosis (seperti: isoniazid,
streptomisin, etambutol, rifamfisin, pirazinamid dan lain-lain)
g. Intervensi yang dapat dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan
perkembangan anak yang tenderita tuberculosis dengan membantu
memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas
perkembangan, yaitu (Suriadi dan Yuliani, 2001) :
1) Memberikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak
(permainan, ketrampilan tangan, vidio game, televisi)
2) Memberikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulus
yang bervariasi bagi anak
3) Melibatkan anak dalam mengatur jadual harian dan memilih
aktivitas yang diinginkan
4) Mengijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di
rumah sakit, menganjurkan anak untuk berhubungan dengan teman
melalui telepon jika memungkinkan

5. Pencegahan
1. Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak
anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
2. Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati
sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi
penularan.
3. Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak.
4. Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
5. Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak
melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan
dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi
udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
6. Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak
meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan
tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan
untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta , 2000.


Laban, Yoannes Y. 2007. TBC: Penyakit & Cara Pencegahan. Yogyakarta:
Kanisius
Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta 1999.
Misnadiarly. 2007. Mengenal, Mencegah, Menanggulangi TBC. Semarang:
Yayasan Obor Indonesia
Tucker dkk, Standart Perawatan Pasien , EGC, Jakarta , 1998.
Soedarto. 2009. Penyakit Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto
Widiyanto, Sentot. 2009. Mengenal 10 Penyakit Mematikan. Yogyakarta: PT
Pustaka Insan Madani