Anda di halaman 1dari 28

Pemboikotan

Cara-cara halus dan kasar telah dilakukan kaum musyrikin Quraisy untuk menghambat
dakwah Islam; namun semuanya selalu kandas. Cahaya Islam terus memancar. Hal ini
membuat mereka semakin risau dan murka. Terlebih lagi, Bani Hasyim dan Bani ‘Abdul
Muththalib bersikeras untuk melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apapun resikonya.

Kaum Quraisy kemudian berkumpul di kampung Bani Kinanah yang terletak di lembah al-
Mahshib untuk membuat kesepakatan berisi tekanan kepada Bani Hasyim dan Bani al-
Muththalib. Mereka bersepakat untuk tidak menikahi Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib,
tidak berjual beli dengan mereka, tidak berkumpul, berbaur, memasuki rumah ataupun
berbicara dengan mereka hingga mereka menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam untuk dibunuh. Kesepakatan itu ditulis oleh Baghidl bin ‘Amir bin Hasyim di atas
sebuah shahifah yang kemudian digantungkan di dinding Ka’bah.

Mengetahui hal itu, Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib—baik yang masih kafir maupun
yang sudah beriman—selain Abu Lahab, tetap bersikukuh untuk melindungi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka akhirnya tertahan di kediaman Abu Thalib pada malam
bulan Muharram tahun ke-7 dari bi’tsah (diutusnya beliau sebagai Rasul) sedangkan riwayat
yang lain menyebutkan selain tanggal tersebut.

Sesuai kesepakatan pemboikotan itu, maka kaum musyrikin selalu berupaya menahan
makanan agar tidak sampai kepada Bani Hâsyim dan Bani al-Muththalib sehingga kondisi
mereka semakin payah. Mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit atau memakan
makanan yang didatangkan secara sembunyi-sembunyi. Merekapun tidak keluar rumah untuk
membeli keperluan keseharian kecuali pada al-Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang
diharamkan berperang). Mereka membelinya dari rombongan yang datang dari luar Mekkah
akan tetapi penduduk Mekkah menaikkan harga barang-barang kepada mereka beberapa kali
lipat agar mereka tidak mampu membelinya.

Selama masa pemboikotan, Abu Thalib merasa khawatir atas keselamatan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk itu, dia biasanya memerintahkan beliau untuk berbaring
di tempat tidurnya bila orang-orang beranjak ke tempat tidur mereka. Dan manakala orang-
orang sudah benar-benar tidur, dia memerintahkan salah satu dari putera-putera, saudara-
saudara atau keponakan-keponakannya untuk tidur di tempat tidur Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, sementara beliau diperintahkan untuk tidur di tempat tidur mereka.

Pada masa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin tetap keluar pada
musim haji, menjumpai manusia dan mengajak mereka kepada Islam.

Pemboikotan tersebut berlangsung selama dua atau tiga tahun penuh. Barulah pada bulan
Muharram tahun ke-10 dari kenabian terjadi pembatalan terhadap shahifah dan perobekan
perjanjian tersebut. Hal ini dilakukan karena tidak semua kaum Quraisy menyetujui
perjanjian tersebut. Diantara tokoh yang kontra terhadap kesepakatan itu adalah Hisyam bin
‘Amru dari suku Bani ‘Amir bin Lu-ay. Dialah yang secara sembunyi-sembunyi sering
menyuplai bahan makanan kepada Bani Hasyim.

Suatu saat Hisyam menemui Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzumiy yang merupakan anak
dari ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, untuk mengajaknya melakukan upaya pembatalan
pemboikotan. Ditemuinya pula Muth’im bin ‘Adiy yang menyepakati pula hal itu, namun ia
meminta tambahan orang, maka Hisyam menemui Abu al-Bukhturiy bin Hisyam. Ia pun
meminta tambahan orang, maka Hisyam menemui Zam’ah bin al-Aswad bin al-Muththalib
bin Asad dan mengajaknya pula untuk melakukan pembatalan pemboikotan. Mereka semua
kemudian bersepakat untuk berkumpul esok hari di pintu Hujun dan berjanji akan melakukan
pembatalan terhadap shahifah.

Ketika paginya, mereka pergi ke tempat perkumpulan. Zuhair datang dengan mengenakan
pakaian kebesaran lalu mengelilingi ka’bah tujuh kali kemudian menghadap ke khalayak
seraya berkata: “Wahai penduduk Mekkah! Apakah kita tega bisa menikmati makanan dan
memakai pakaian sementara Bani Hasyim binasa; tidak ada yang sudi menjual kepada
mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah! aku tidak akan duduk hingga
shahifah yang telah memutuskan rahim dan zhalim ini dirobek!”.

Abu Jahal yang berada di pojok masjid menyahut: “Demi Allah! engkau telah berbohong!
Jangan lakukan itu!”.

Lalu Zam’ah bin al-Aswad memotongnya: ”Demi Allah! justru engkaulah yang paling
pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya ketika ditulis waktu itu”.

Setelah itu, Abu al-Bukhturiy menimpali: “Benar apa yang dikatakan Zam’ah ini, kami tidak
pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya”.

Berikutnya, giliran al-Muth’im yang menambahkan: “Mereka berdua ini memang benar dan
sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang berbohong. Kami berlepas diri kepada
Allah dari shahifah tersebut dan apa yang ditulis didalamnya”.

Hal ini juga diikuti oleh Hisyam bin ‘Amru yang menimpali seperti itu pula.

Abu Jahal kemudian berkata dengan kesal: ”Urusan ini telah diputuskan di tempat selain ini
pada malam dimusyawarahkannya saat itu!”.

Saat itu Abu Thalib tengah duduk di sudut Masjidil Haram. Dia datang ke tempat itu atas
dasar pemberitahuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya bahwa Allah
Ta’ala telah mengirim rayap-rayap untuk memakan semua tulisan shahifah yang berisi
pemboikotan kecuali tulisan nama Allah Ta’ala di dalamnya. Abu Thâlib datang kepada
kaum Quraisy dan memberitahukan hal ini. Dia berkata: “Ini untuk membuktikan apakah dia
berbohong sehingga kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya,
demikian pula sebaliknya, jika dia benar maka kalian harus membatalkan pemutusan rahim
dan kezhaliman terhadap kami”.

Orang-orang Quraisy berkata kepadanya: “Kalau begitu, engkau telah berbuat benar”.

Setelah itu berdirilah al-Muth’im bin Adiy menuju shahifah untuk merobeknya. Ternyata dia
menemukan rayap-rayap telah memakannya kecuali tulisan “Bismikallah” (dengan namaMu
ya Allah) dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya dimana rayap-rayap tersebut tidak
memakannya.

Sungguh, kaum musyrikun telah melihat tanda yang agung sebagai bagian dari tanda-tanda
kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi mereka tetaplah sebagai yang
difirmankan oleh Allah: “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda
(mu’jizat), mereka berpaling dan berkata:”(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. (Q.S.
54/al-Qamar:2). Mereka telah berpaling dari tanda ini dan bertambahlah mereka dari
kekufuran ke kekufuran yang lebih lagi.

Ibrah:

1. Allah Ta’ala akan selalu menguji kesabaran dan daya tahan hamba-hamba-Nya di
medan perjuangan. Sehingga mereka semakin kuat dan lebih tangguh.
2. Diperbolehkannya memanfaatkan perlindungan non muslim yang tidak memusuhi
dakwah dan memanfaatkan semangat kesukuan mereka untuk menjauhkan rintangan
yang menghalangi jalan dakwah.
3. Setiap muslim harus selalu menanamkan tsiqah (kepercayaan) yang utuh kepada
Allah Ta’ala. Pertolongan-Nya pasti datang jika sifat-sifat kelayakan untuk
mendapatkan pertolongan itu telah terpenuhi. Allah Ta’ala berkuasa menggerakkan
hati siapapun untuk menjaga kaum muslimin. Dia pun memiliki junud (pasukan),
yang tidak diketahui dan disadari oleh siapa pun yang bekerja untuk membantu kaum
muslimin, seperti yang dilakukan rayap terhadap shahifah pemboikotan.
4. Secara tersirat, lintasan sirah ini menggambarkan bahwa ahlul batil harus dihadapi
dengan argumentasi dan bukti, tidak boleh menyikapi siksaan dengan siksaan, makian
dengan makian.

Wallahu A’lam.

https://tarbawiyah.com/2018/02/14/pemboikotan/

Setelah Umar masuk Islam, akhirnya kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam mengatakan sehari setelah hari Nahar (Idul Adha) ketika berada di Mina, kita besok
akan singgah di Khaif Bani Kinanah, tempat di mana mereka membuat permufakatan
kekafiran.” Khaif Bani Kinanah ini dikenal pula dengan sebutan Al-Muhasshab. Di tempat
ini, kaum Quraisy dan kaum Kinanah melakukan persengkongkolan untuk memboikot Bani
Hasyim dan Bani Al-Muththallib, untuk tidak saling melakukan akad nikah dan bertransaksi
jual beli dengan bangsa Quraisy sebelum mereka rela menyerahkan Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam kepada kaum Quraisy. (HR. Bukhari, no. 159 dan Muslim, no. 1314)

Di dalam hadits tersebut menunjukkan riwayat asli dari kisah ini, sementara riwayat-riwayat
yang disebutkan di dalam kitab-kitab sirah merupakan penjelasan atas sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam di atas, bahwa kaum Quraisy dan Kinanah telah melakukan pemufakatan
kekafiran. Artinya, bahwa ketika kaum Quraisy mengetahui pengaruh yang besar bagi masuk
Islamnya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhu sehingga Islam menyebar ke kabilah-kabilah
di Mekah, serta kesepakatan Bani Muththalib dan Bani Hasyim (keluarga besar Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik mereka yang sudah masuk Islam atas dasar keimanannya
maupun yang masih kafir atas dasar fanatisme keluarga, untuk membela dan menjaga Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika Quraisy mengetahui hal tersebut, mereka pun
melakukan pertemuan dan akhirnya bersepakat untuk tidak mengadakan hubungan tali
pernikahan atau bisnis dan tidak akan berbicara dengan mereka sebelum mereka rela
menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Untuk mengokohkan
kesepakatan tersebut, maka poin-poinnya mereka tulis dalam satu lembar papan lalu mereka
gantungkan di tembok Ka’bah.

Ibnu Ishaq mengatakan, “Maka Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib ikut bergabung
seluruhnya dengan Abu Thalib, kecuali Abu Lahab karena ia bergabung dengan orang
Quraisy. Permulaan pemboikotan ini terjadi pada hari pertama bulan Muharram tahun ketujuh
kenabian.” Lihat Fath Al-Bari, 7:192.

Boikot, Tidak Ajak Bicara Menurut Aturan Islam

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda,

، ‫ض َهذَا‬
ُ ‫ض َهذَا َويُ ْع ِر‬
ُ ‫ان فَيُ ْع ِر‬ ِ َ‫ يَ ْلت َ ِقي‬، ‫ث لَيَا ٍل‬
ِ َ‫الَ يَ ِح ُّل ِل َر ُج ٍل أ َ ْن يَ ْه ُج َر أَخَاهُ فَ ْوقَ ثَال‬
‫سالَ ِم‬َّ ‫َو َخي ُْر ُه َما الَّذِى يَ ْبدَأ ُ بِال‬
“Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim
melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain.
Yang terbaik antara keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.”
(HR. Bukhari, no. 6077 dan Muslim, no. 2560)

Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Para ulama bersepakat bahwasannya tidak diperkenankan bagi
seorang muslim memutuskan hubungannya dengan sesama muslim yang lain melebihi tiga
hari. Hal ini dikecualikan jika memang ia khawatir apabila berhubungan dan mengajak bicara
dengannya akan mengakibatkan kerancuan dalam beragama atau akan menimbulkan dalam
dirinya apa yang bisa membahayakan urusan agama dan dunianya. Jika memang itu yang
dikhawatirkan akan terjadi apabila berhubungan dengan pelaku maksiat maka dibolehkan
menjauhinya. Boleh jadi orang yang kelihatannya keras tapi memiliki hati yang mulia, itu
lebih baik daripada orang yang sering bercengkerama dan bergaul dengan kita tetapi
seringkali pula dia menyakiti kita.” Diambil dari kitab Tharhu At-Tatsrieb, 8:99.

Makalah UAS Sirah Nabawiyah -


PENINDASAN KAUM QURAISY
A. Reaksi Kaum Quraisy terhadap Dakwah Nabi SAW
Reaksi kaum kafir Quraisy menolak dakwah Nabi SAW yang berlangsung sejak adanya
dakwah yang dilakukan secara terang-terangan oleh Rasulullah SAW pada periode Makkah.
Dan penolakan tersebut dipicu karena adanya beberapa sebab], diantaranya:
1. Rasulullah SAW mengajarkan tentang adanya persamaan hak dan kedudukan antara semua
orang. Mulia tidaknya seseorang tergantung ketakwaannya terhadap Allah SWT. Seperti yang
terkandung dalam ayat Qur’an : “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Kaum Quraisy terutama para bangsawan sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak ini.
Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka ingin
mempertahankan perbudakan. Sedangkan ajaran Nabi SAW melarangnya.
2.. Islam mengajarkan adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam
akhirat. Manusia yang ketika di dunianya bertakwa maka di alam kuburnya akan memperoleh
kenikmatan dan di alam akhirat akan masuk surga. Sedangkan manusia yang ketika
didunianya durhaka dan banyak berbuat jahat, maka dialam kuburnya akan disiksa dan di
alam akhiratnya akan dimasukkan kedalam neraka.
Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam tersebut, karena mereka merasa ngeri
dengan siksa kubur dan adzab neraka.
3. Reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Nabi SAW yang menolak dakwah tersebut juga
disebabkan karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup
bermasyarakat warisan leluhur mereka. Seperti yang terkandung dalam ayat Qur’an:
“Apabila dikatakan pada mereka “marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan
mengikuti Rasul.” Mereka menjawab “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-
bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang
mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula)
mendapat petunjuk?”
4. Islam melarang menyembah berhala, memperjualbelikan berhala-berhala, dan melarang
penduduk Makkah dan luar Makkah berziarah memuja berhala. Padahal itu semua
mendatangkan keuntungan dibidang ekonomi terhadap kaum Quraisy.
Reaksi kaum Quraisy terhadap Nabi SAW juga ditunjukkan dalam berbagai usaha
penolakan dan penghentian yang mereka lakukan seperti berikut :
1. Para budak yang telah masuk Islam, seperti Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-
Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan az-Zanirah disiksa oleh para pemiliknya diluar batas
perikemanusiaan.
2. Setiap keluarga dari kalangan Quraisy diharuskan menyiksa anggota keluarganya yang telah
masuk Islam sehingga ia kembali menganut agama keluarganya (agama watsani).
3. Nabi Muhammad SAW sendiri dilempari kotoran oleh Ummu Jamil (istri Abu Jahal) dan
dilempari isi perut kambing oleh Abu Jahal.
4. Kaum Quraisy meminta Abu Thalib (paman dan pelindung Nabi SAW) agar Nabi SAW
menghentikan dakwahnya. Namun tatkala Abu Thalib menyampaikan keinginan kaum
Quraisy tersebut Nabi SAW bersabda, “Wahai pamanku! Demi Allah, biarkan mereka
meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, aku tidak akan
menghetikan dakwah agama Allah ini hingga menang atau aku binasa karenanya.”
5. Kaum Quraisy mengusulkan pada Nabi SAW agar permusuhan diantara mereka dihentikan.
Caranya suatu saat kaum Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Dan saat lain
umat Islam menganut agama kaum Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.
Usulan tersebut ditolak oleh Nabi SAW karena menurut ajaran Islam mencampuradukkan
akidah dan ibadah Islam dengan akidah bukan Islam termasuk perbuatan haram dan
merupakan dosa besar. Seperti yang terkandung dalam ayat Qur’an : “Katakanlah Hai orang-
orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan
penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang
kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

B. Penganiayaan dan Penyiksaan Kaum Quraisy terhadap Kaum Muslimin yang Lemah
Yang menjadi bulan-bulanan dan sasaran penganiayaan serta penyiksaan kaum Quraisy
ialah kaum Muslimin yang lemah. Mereka itu orang yang dini masuk Islam, tidak
mempunyai kerabat yang sanggup memberi perlindungan dan tidak mempunyai kekuatan
apapun untuk melawan kekejaman kaum Quraisy. Para pemeluk Islam yang lemah itu mereka
siksa dan mereka pukuli. Bahkan ada pula yang tidak diberi makan dan minum, dijemur
diterik matahari sahara, disunduti api, dan segala macam penyiksaan lainnya.
Diantara mereka yang menjadi korban penyiksaan itu ada yang secara lahir
memperlihatkan kekufuran kembali, sedang hatinya tetap beriman terhadap Allah SWT dan
Rasul-Nya. Ada pula dinantara mereka yang teguh berpegang pada keimanan dan
keislamannya hingga Allah SWT menyelamatkannya dari kekejaman kaum Quraisy.
Diantara mereka yang menjadi korban kekejaman kaum Quraisy antara lain adalah:
1. Bilal bin Rabbah al-Habsyi
Bekas budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar as-Siddiq RA. Ayahnya seorang
tawanan perang dari negeri Habasyah. Ibunya pun demikian, ia termasuk wanita rampasan
perang, bernama Hamamah. Sebagai budak ia berpindah dari tangan ke tangan hingga
menjadi milik Umayyah bin Khalaf al-Jumahiy. Tiap hari bila panas matahari mulai terik ia
diseret oleh tuannya ke tanah sahara lalu ditelentangkan diatas pasir yang sedang membara,
dan dadanya ditindih sebuah batu besar. Kepadanya Umayyah bin Khalaf berkata, “Engkau
akan tetap seperti ini hingga mati kecuali engkau mau mengingkari kenabian Muhammad dan
mau menyembah berhala al-Lata dan al-Uzza.”
Akan tetapi Bilal tetap teguh mempertahankan keimanan dan keislamannya. Ancaman
Umayyah itu hanya dijawab, “Ahad… Ahad…” Pada akhirnya perbuatan Umayyah bin
Khalaf itu diketahui oleh Abu Bakar as-Siddiq. Kepada Umayyah bin Khalaf ia berkata
menegur, “Apakah engkau tidak malu menyiksa orang yang lemah itu?” Umayyah
menjawab, “ Engkaulah yang merusak kepercayaannya dan engkau juga yang menjauhkanya
dariku!” Abu Bakar lalu menawarkan penggantinya, “Aku mempunyai seorang budak negro
lebih kuat dari ia. Ia akan kuserahkan kepadamu sebagai gantinya.” Umayyah dapat
menerima tawaran Abu Bakar. Ia mengambil Bilal dari tangan Umayyah bin Khalaf,
kemudian dimerdekakan seketika itu juga.
Pada masa berikutnya Bilal bin Rabbah turut berhjrah ke Madinah dan tidak pernah absen
dalam semua peperangan bersama Rasulullah SAW.
2. ‘Amr bin Yasir Abul Yaqdzan al-‘Ansiy
Ia berasal dari anak kabilah Bani Murad. Ia termasuk orang yang dini memeluk Islam
bersama ayah dan ibunya, yaitu ketika Nabi SAW masih melakukan dakwah secara diam-
diam di rumah al-Arqam bin al-Arqam.
Yasir (ayah ‘Ammar) mendapat penyiksaan yang berat dan kejam hingga mati ditempat.
Istrinya (ibu ‘Ammar) dengan hamburan kata-kata yang menusuk kaum Quraisy, oleh Abu
Jahal ia ditusuk farjinya dengan sebuah tombak pendek hingga mati seketika. Kadang Yasir
dijemur diterik padang sahara, ditindih batu besar diatas dadanya, dibenamkan dalam air.
Untuk melepaskan diri dari siksaan yang berat itu, ‘Ammar melakukan apa yang diminta oleh
kaum Quraisy, kemudian mereka melepaskannya.
‘Ammar bin Yasir tidak pernah absen dalam semua peperangan bersama Nabi SAW. ia
gugur dalam perang Siffin membela Ali bin Abi Thalib dalam usia 90 tahun.
3. Khabbab bin al-Art
Ayahnya seorang dari Kaskar. Dalam suatu peperangan ia tertawan kemudian dijadikan
budak oleh seorang dari Bani Rabi’ah, lalu dibawa ke Makkah dan dijual kepada Siba’ bin
Abdul ‘Uzza al-Khuzza’iy, seorang yang bersekutu dengan Bani Zuhrah. Khabbab bin al-Art
seorang dari Bani Tamim, ia memeluk Islam sebelum Nabi SAW melakukan dakwah rahasia
di rumah al-Arqam bin al-Arqam.
Khabbab diculik oleh kaum Quraisy kemudian dianiaya yaitu ditelanjangi kemudian
dibaringkan telentang diatas pasir sahara yang sedang dibakar panas matahari, dadanya
ditindih dengan batu besar, dan kepalanya dipuntir.
4. Shuhaib bin Sinan ar-Rumi
Adalah seorang Arab dari Bani Namir bin Qasith. Ia termasuk para pemeluk Islam yang
dianiaya dan disiksa berat oleh kaum Quraisy. Ketika ia hendak hijrah, kaum Quraisy
menghalanginya dengan berbagai cara. Untuk menerobos rintangan itu ia rela memberikan
seluruh harta bendanya pada mereka.
5. ‘Amar bin Fuhairah
Budak milik Thufail bin Abdullah al- Azdiy. Thufail adalah saudara seibu dengan Aisyah
yang bernama Ummu Ruman. Ia termasuk para pemeluk Islam yang mengalami
penganiayaan dan penyiksaan berat dari kaum Quraisy. Kemudian ia dibeli oleh Abu Bakar
as-Siddiq dan dimerdekakan.
Ia kemudian turut hijrah ke Madinah bersama Nabi SAW dan Abu Bakar, serta turut
dalam perang badar dan perang uhud bersama Nabi SAW. Gugur dalam perang Bir Ma’unah
dalam usia 40 tahun. Ketika tubuhnya dihujam tombak musuh ia berucap, “Demi Allah
penguasa Ka’bah, aku beruntung!”
6. Abu Fukaihah
Nama aslinya Aflah. Ia seorag budak milik Shafwan bin Umayyah bin Khalaf al Jumahiy.
Memeluk Islam bersama Bilal.
Abu Fukaihah segera diikat kainya, diseret-seret, lalu dibaringkan telentang ditengah
sahara yang pasirnya sedang membara dibakar terik matahari. Beberapa saat kemudian Abu
Bakar as-Siddiq lewat ditempat itu dan melihat Fukaihah masih hidup. Lalu ia dibeli dari
Shafwan dan dimerdekakan. Fukaihah turut hijrah ke Madinah, tak lama kemudian ia wafat
sebelum terjadinya perang Badar.
7. Labibah
Seorang wanita hamba sahaya Bani Muammal bin Habib bin ‘Adiy bin Ka’ab. Ia memeluk
Islam sebelum keislaman Umar bin Khattab, bahkan Umar sendiri pernah menyiksanya,
tetapi kemudian Labibah ditinggalkan sambil berkata, “Engkau ku tinggalkan karena aku
sudah muak melihat mukamu!” Labibah menjawab, “Kalau engkau tidak memeluk Islam,
Allah akan menimpakan bencana atas dirimu!” Wanita hamba sahaya itu akhirnya dibeli oleh
Abu Bakar as-Siddiq kemudian dimerdekakan.
8. Zinnirah
Seorang wanita hamba sahaya Bani ‘Adiy. ‘Umar bin Khattab juga pernah menyiksanya.
Bahkan Abu Jahal menganiayanya hingga matanya buta.
9. An-Nahdiyah
Wanita hamba sahaya Bani Nahd, tetapi kemudian berpindah tangan menjadi milik
seorang wanita dari Bani Abdud Dar. Setelah wanita yang memilikinya itu mengethui
Nahdiyah memeluk Islam, ia menganiaya dan menyiksa dengan cara-cara yang sama
kejamnya dengan penyiksaan yang dilakukan oleh kaum musyrikin lelaki.
C. Tokoh - Tokoh Kaum Quraisy yang Paling Keras Mengolok – Olok dan Mengganggu
Nabi SAW
1. PamanNabi SAW yang bernama Abu Lahab Abdul ’Uzza bin Abdul Muttalib.
Ia tidak hanya memusuhi Nabi SAW saja tetapi juga menganiaya dan menyiksa kaum
muslimin. Ia seorang kepala batu dan sangat keras mendustakan kenabian Muhammad SAW.
Terdorong oleh kebenciannya terhadap Nabi SAW, Abu Lahab memerintahkan dua
orang anak laki-laki, ‘Utbah dan ‘Utaib, supaya mencerai istrinya masing-masing yaitu
Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Abu Lahab meninggal dunia di Makkah ketika mendengar kekalahan kaum Quraisy
dalam perang Badar. Al-Aswad bin Abdi Yaghuts dari Bani Zuhrah paman Nabi SAW dari
pihak ibunya. Akibat perbuatan yang melampaui batas itu, Allah SWT menimpakan azab di
dunia dan akhirat. Pada suatu hari ia keluar dari rumahnya untuk suatu keperluan. Di tengah
perjalanan ia diserang tiupan angin panas luar biasa hingga kulit mukanya gosong dan
berubah warnanya menjadi hitam.
Ketika pulang ke rumah semua anggota keluarganya tidak mengenali mukanya yang
sudah berubah sama sekali, malah karena ketakutan melihatnya mereka cepat – cepat
menutup pintu. Pada akhirnya ia hidup gelandangan kebingungan dan mati kehausan di
tengah sahara.
2. Al-Harits bin Qois bin Adiy dari bani Sahm
Mengenai kenabian Muhammad SAW ia mengatakan, “Muhammad membujuk sahabat –
sahabatnya dengan mengatakan ada kehidupan lagi setelah mati! Demi Allah tidak ada yang
membinasakan kita selain masa!”
Ia meninggal dunia pada saat sedang minum sehabis kekenyangan makan ikan bergaram.
3. Umayyah danUbay
Kakak beradik anak Khalaf, pada suatu hari Ubay datang kepadaNabi SAW membawa
sepotong tulang kering, kemudian diremas – remas dengan tangannya hingga hancur. Setelah
itu ia berkata, “Hai Muhammad! Engkau mengatakan Tuhanmu dapat menghidupkan kembali
tulang belulang yang sudah hancur seperti ini. Cobalah minta kepada Tuhanmu supaya
menghidupkan tulang yang sudah hancur ini!”
Umayyah mati dalam perang Badr dibunuh oleh Khubaib dan Bilal bin Rabbah. Sedang
Ubay mati dalam perang Uhud terkena tombak Rasulullah SAW.
4. Al-‘Ash bin Wa’il as-Sahmiy
Ayah Amr bin al-‘Ash. Pada suatu hari ketika ia menunggang keledai melewati sebuah
syi’ib di dataran tinggi Makkah, tiba-tiba keledainya jatuh dan ia terpelanting, kakinya
disengat serangga berbisa dan tak lama kemudian membengkak besar sekali. Akibat
kecelakaan itu ia meninggal dalam usia 85 tahun.
5. An-Nadhr bin al-Harits bin al-Qamah bin Kaladah bin Abdi Manaf bin Abdi Dar
Ia menghasut orang-orang Quraisy dengan mengatakan, “Yang dibawa oleh Muhammad
pada kalian bukan lain hanya dongeng-dongeng kuno belaka.” Dalam perang Badar ia jatuh
sebagai tawanan ditangan al-Miqdad. Mengingat kejahatannya terhadap kaum muslimin Nabi
SAW memerintahkan supaya ia dihukum mati.
6. Abu Jahal bin Hisyam al-Makhzumiy
Nama aslinya Amr dan nama panggilannya Abul Hakam. Nama “Abu Jahal” (si dungu)
diberikan kaum muslimin sebagai ejekan karena ia sama sekali tidak dapat membedakan yang
baik dari yang buruk dan yang benar dari yang batil. Dialah yang menyiksa ibu Ammar bin
Yasir. Dalam perang Badar ia dibekuk dalam keadaan setengah mati oleh dua orang kakak
beradik anak ‘Afra, kemudian dipercepat kematiannya oleh Abdullah bin Mas’ud.
7. Nubaih dan Munabbih
Dua orang kakak beradik anak al-Hajjaj dari Bani Sahm. Pada suatu hari ketika mereka
berdua bertemu dengan beliau SAW dengan lancang mereka bertanya, “Hai Muhammad
kenapa tuhanmu tidak mengutus selain engkau? Bukankah masih banyak orang lain yang
lebih tua usianya dan lebih berkecukupan hidupnya daripada dirimu?”
Munabbih mati terbunuh dalam perang Badar ditangan Ali bin Abi Thalib.
8. Zuhair bin Abi Umayyah
Saudara seayah dengan Ummu Salamah. Ia termasuk orang yang terang-terangan
menyatakan permusuhan terhadap Nabi SAW dan dengan keras mengingkari serta
mendustakan kenabian beliau. Akan tetapi ketika kaum Quraisy melancarkan pemboikotan
total selama kurang lebih 3 tahun terhadap Nabi SAW dan semua orang Bani Hasyim, dialah
orang pertama yang bergerak mengusahakan dihentikannya pemboikotan.
Dalam perang Badar ia jatuh sebagai tawanan kaum muslimin, kemudian dibebaskan
tanpa syarat oleh Nabi SAW.
9. ‘Uqbah bin Abi Mu’aith
Ayahnya yang bernama panggilan Abi Mu’aith nama aslinya adalah Aban bin Abi Amr
bin Umayyah bin Abdus Syam, dan dikenal pula dengan nama panggilan Abdul Walid. Ia
jatuh sebagai tawanan ditangan kaum muslimin dalam perang Badar, kemudian dijatuhi
hukuman mati yang pelaksanaannya dilakukan oleh ‘Ashim bin Tsabit al-Anshariy.
10. Al-Aswad bin al-Muttalib bi Asad bin Abdul Uzza bin Qushaiy
Nama panggilannya Abu Zama’ah. Atas perbuatannya yang selalu menyakiti hati itu, Nabi
SAW memohon kepada Allah SWT agar membuatnya buta dan tertumpas keturunannya.
Pada suatu hari ketika Aswad sedang duduk berteduh di bawah pohon rindang berduri
sekonyong-konyong dahan diatasnya patah menjatuhi mukanya dan sebuah duri menancap
pada matanya, kemudian ia menjadi buta. Anak lelakinya mati terbunuh dalam perang Badar
ditangan Abu Dujanah. Demikian pula cucu lelakinya yang bernama Utaib, ia mati ditangan
Hamzah dan Ali bin Abi Talib. Cucu lelakinya yang lain lagi al-Harits bin Zama’ah bin
Aswad mati ditangan Ali sendiri.
11. Thu’aimah bin ‘Adiy bin Naufal bin Abdi Manaf
Nama panggilannya Abu Rayyan. Dalam perang Badar ia tertawan oleh kaum muslimin,
kemudian dijatuhi hukuman mati yang pelaksanaannya dilakuka oleh Hamzah bin Abdul
Muttalib.
12. Rukanah bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muttalib
Pada suatu hari ketika bertemu dengan Nabi SAW ia berkata, “Hai saudaraku! Aku
banyak mendengar tentangmu dan aku tahu bahwa engkau bukan pendusta. Kalau benar
engkau tidak berdusta marilah bergulat denganku.” Rukanah terkenal kekuatan tenaganya
hingga belum pernah ada seorang yang dapat menjatuhkannya. Tantangan Rukanah itu
dilayani oleh Nabi SAW dan beliau membantingnya 3 kali berturut-turut hingga tidak dapat
berkutik.

D. Pemboikotan Kaum Quraisy


Setelah kaum Quraisy melihat kenyataan agama Islam makin hari makin meluas, mereka
yakin bahwa berbagai macam gangguan, penganiayaan, dan penyiksaan yang mereka lakukan
terhadap kaum muslimin tidak dapat membendung dakwah Nabi SAW.
Setelah lama berpikir, para pemimpin Quraisy sepakat hendak menempuh cara baru yaitu
melakukan pemboikotan ekonomi dan sosial dengan harapan akan mendatangkan salah satu
dari dua akibat: Muhammad SAW akan menghentikan kegiatan dakwahnya atau Muhammad
SAW dan orang-orang Bani Hasyim yang membela serta melindunginya akan mati kelaparan
dan kehausan. Kaum musyrikin mengadakan pertemuan di Dar al-Nadwah dan menulis surat
perjanjian yang ditulis oleh Mansur bin Akramah. Kesepakatan mereka itu kemudian
dituangkan dalam bentuk sebuah piagam yang berisi :
1. Mereka tidak menikah dengan wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
2. Mereka tidak menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang Bani Hasyim dan Bani
Abdul Muthalib.
3. Mereka tidak menjual sesuatu apapun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
4. Mereka tidak membeli apapun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
Sebagai bukti akan kesetiaan mereka kepada janji masing-masing, mereka sepakat
menggantungkan piagam pemboikotan tersebut didalam Ka’bah setelah ditandatangani
bersama oleh 40 orang pemuka masyarakat Quraisy kecuali Muth’am bin ‘Adi. Mereka
sepakat tidak akan menghentikan pemboikotan sebelum Muhammad menyerah atau ia binasa
bersama kaumnya.
Pemboikotan tersebut dilaksanakan tanggal 1 Muharram tahun ke 7 sesudah bi’tsah.1[11]
Dengan terjadinya pemboikotan total itu semua orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib
berkumpul didalam syi’ib tempat permukiman Abu Thalib.
Selama 2 atau 3 tahun kaum muslimin berada dalam syi’ib menderita kelaparan dan
kesengsaraan. Mereka tidak keluar dari tempat pengucilannya kecuali pada hari-hari musim
haji bulan Dzulhijjah atau pada hari-hari musim umrah bulan Rajab. Tidak ada orang
mendekati mereka atau masuk kedalam syi’ib kecuali yang berani menyelundup secara diam-
diam, seperti Hisyam bin Amr, seorang dari Bani Amir. Pada waktu malam ia menuntun unta
bermuatan berbagai bahan makanan mendekati mulut syi’ib.
Ketika pemboikotan memasuki permulaan tahun ketiga, beberapa orang tokoh Bani
Qushaiy merasa tidak tega membiarkan kaum kerabatnya dari Bani Hasyim terus menerus
menderita kesengsaraan. Pada akhirnya mereka bersepakat hendak membatalkan perjanjian
yang pernah dituangkan dalam piagam. Bersamaan dengan itu, Allah SWT menggerakkan

1[11] H.M.H Al-Hamid Al-Husaini, RIWAYAT KEHIDUPAN NABI BESAR MUHAMMAD S.A.W.,
Yayasan Al-Hamid, Jakarta, 1991, hlm. 369.
beribu-ribu rayap menggerogoti piagam yang tergantung didalam Ka’bah hingga tak ada lagi
yang tinggal selain kalimat yang menyebutkan keagungan asma-Nya.
Sebagaimana diketahui kaum musyirik dikalangan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib,
kecuali Abu Lahab dan Abu Sufyan al-Harits, berpihak kepada Nabi SAW dan kaum
muslimin. Sikap mereka itu mempunyai dua latar belakang2[13] :
1. Mereka tetap hendak mempertahankan kemusyrikan masing-masing, bahkan kalau dapat
mereka hendak menggoyahkan pendirian Nabi SAW selama di syi’ib, agar beliau bersedia
menghentikan dakwah agama Islam.
2. Mereka berpegang teguh pada semangat kekerabatan tradisional yang mengharuskan
bertindak melindungi kerabat terdekat dari kekerasan orang lain yang bukan kerabat, tidak
peduli apakah tindakan itu untuk membela kebenaran atau tidak.

E. Peristiwa Ayat-Ayat Syetan


Pada suatu ketika Nabi SAW membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang memperkenankan
menjadikan berhala-berhala menjadi perantara. Ayat-ayat itu ialah3[14] :
Apakah kalian memperhatikan Latta dan Uzza?
Serta Manat, yang ketiga, yang lain lagi?
Mereka adalah burung undan yang dihormati.
Perantara mereka diharapkan.
Kesukaan mereka4[15] tak diabaikan.
Tak lama kemudian Nabi SAW menerima wahyu yang lain, yang menghapus tiga ayat
terakhir diatas dan menggantikannya dengan ayat lain (53:19-23)5[16] :
Apakah kalian memperhatikan Latta dan Uzza?
Serta Manat, yang ketiga, yang lain lagi?
Apakah untuk kalian pria dan untuk-nya wanita?

2[13] H.M.H Al-Hamid Al-Husaini, RIWAYAT KEHIDUPAN NABI BESAR MUHAMMAD S.A.W.,
Yayasan Al-Hamid, Jakarta, 1991, hlm. 373.

3[14]Djohan Effendi, MUHAMMAD NABI dan NEGARAWAN, CV. Kuning Mas, Jakarta, 1982, hlm.
63.

4[15]Kata yang diterjemahkan“burung undan yang dihormati” meragukan.Mungkin ini berarti


malaikat.

5[16]Djohan Effendi, MUHAMMAD NABI dan NEGARAWAN, CV. Kuning Mas, Jakarta, 1982, hlm.
63.
Kalau begitu gerangan, hal itu bukanlah pembagian yang adil,
Itu hanyalah nama-nama yang kalian berikan kepadanya,
buat kalian dan leluhur kalian,
Allah tiada menurunkan kekuasaan semacam itu,
Mereka6[17] cuma mengikuti sangkaan nafsu belaka,
Dan kepada mereka telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.
Dua-duanya, versi yang pertama dan yang kedua diucapkan secara umum, dan keterangan
yang diberikan untuk perubahan adalah bahwa setan telah menyisipkan ayat-ayat palsu pada
versi pertama tanpa disadari Nabi SAW.
Ini adalah cerita yang aneh dan mengherankan. Nabi pembawa agama tauhid yang tak
kenal kompromi agaknya membolehkan kemusyrikan. Tak masuk akal bahwa seseorang
mengada-ada cerita semacam itu dan menarik-narik sebagian kaum muslmin untuk
menerimanya. Lebih-lebih terdapat ayat al-Qur’an yang menguraikan hal semacam itu.
Tiadalah kami utus seorang Rasul,
juga tak seorang Nabi sebelum engkau
melainkan bila ia membaca,
setan berusaha mengelirukan bacaannya.
Tapi Allah menghapuskan apa-apa yang dimasukkan setan,
kemudian Allah kokohkan ayat-ayat-Nya.
Dan Allah Maha Tahu Maha Bijaksana.7[18]
Ayat ini telah ditafsirkan bermacam-macam, tetapi terjemahan diatas sesuai dengan salah
satu penafsiran tradisional.
Salah satu segi yang sangat menarik dari kejadian itu adalah cahaya yang dilemparkan
pada pandangan Nabi SAW ketika itu. Walaupun ia dengan polos percaya bahwa ayat-ayat
itu sampai kepadanya dari luar dirinya sendiri, namun pada saat pertama ia belum dapat
menemukan sesuatu yang dianggapnya bertentangan dengan agama yang ia ajarkan.
Bagi Nabi SAW nampaknya hal ini juga menjadi suatu masalah yang terbaik untuk ikut
dalam pergulatan. Barangkali karena waktu berlalu, ia belajar lebih banyak dari sikap orang-
orang Yahudi dan Kristen terhadap berhala, dan melihat bahwa ia akan berada dalam garis
mereka untuk tidak memperdagangkan pemujaan berhala. Ayat-ayat yang dikutip tersebut
menekankan ciri yang berbeda dari agamanya dan perbedaannya dari penyembahan berhala.

6[17]Para penyembahberhala.

7[18] Q.S Al-Hajj: 52


Ayat-ayat lain menggunakan ungkapan putri Tuhan dalam suatu argumantum ad
huminem8[19]

F. Propaganda Kaum Quraisy Melawan Nabi SAW


Setelah menebarkan berbagai ancaman, bujukan, teror, dan penyiksaan, mereka merasa tak
perlu lagi melakukan tindakan seperti itu pada kaum muslim Makkah. Namun, cara-cara itu
masih diperlukan untuk ribuan orang yang setiap musim haji datang ke Makkah, yakni
mereka yang datang untuk berdagang dan berziarah. Mereka berkumpul di pasar-pasar Ukaz,
Majannah, dan Dzul Majaz. Para peziarah dan kafilah dagang itu datang ke Makkah untuk
keperluannya masing-masing, kemudian mereka berziarah dan menyembelih korban untuk
mendapat berkah dan ampunan. Mereka itulah yang menjadi sasaran propaganda kaum
Quraisy, dengan tujuan agar mereka tidak dapat dipengaruhi Nabi SAW dan ajarannya.
Karena itu sejak memuncaknya permusuhan antara kaum Quraisy dan Nabi SAW, para
pemuka Quraisy ingin menjalankan suatu propaganda anti-Muhammad.9[20]
Setelah Nabi SAW mengajak orang yang datang berziarah dari berbagai macam kabilah
Arab untuk beribadah hanya kepada Allah SWT, beberapa pemuka Quraisy berkumpul untuk
berunding. Mereka bertemu dirumah Walid bin al-Mughirah untuk membicarakan strategi
menghadapi gerakan Muhammad sehingga langkah mereka tidak bertentangan satu sama
lain. Bahasan dalam pertemuan itu adalah materi propaganda untuk menjatuhkan Muhammad
sehingga orang-orang dari luar Makkah yang datang untuk berziarah tidak mau berbicara
dengan Muhammad, atau lebih baik lagi, hingga mereka membenci Muhammad.
Setelah melewati proses diskusi yang pelik, akhirnya al Walid mengusulkan agar kepada
orang-orang Arab dari luar Makkah itu dikatakan bahwa Muhammad adalah juru penerang
yang pandai bicara dan mempesona sehingga apapun yang dikatakannya akan memikat dan
akhirnya memecah belah antara suami dari istrinya, anak dari orang tuanya, juga antara dua
orang yang bersaudara, bahkan memecah belah suatu komunitas.
Ketika musim haji tiba, kaum Quraisy segera mendatangi orang-orang yang datang
berziarah. Mereka diperingatkan agar tidak mendengarkan Muhammad bahkan jangan
mendekatinya, apalagi mendengarkan pembicaraannya. Jangan sampai mereka mengalami

8[19]Alasan yang ada kaitannya dengan pribadi seseorang, baik pandangan, kecenderungan, maupun
prasangkanya.

9[20] Muhammad Husain Haekal, SEJARAH HIDUP MUHAMMAD BIOGRAFI RASULULLAH yang
LEGENDARIS dan TERPERCAYA, PustakaAkhlak, Jakarta, 2015, hlm. 232.
bencana seperti yang dialami penduduk Makkah. Jika mereka mendekati, bebicara, dan
bergaul dengannya, niscaya ia akan menyebarkan bencana besar yang membakar seluruh
Jazirah Arab.
Namun propaganda kaum Quraisy tidak selamanya berhasil. Tidak banyak yang
mendengarkan dan mengikutinya. Sebab, berbagai tuduhan yang mereka lancarkan itu tidak
dapat melawan penjelasan Muhammad yang lebih mudah dipahami dan dipercaya banyak
orang. Jika memang benar ia seorang juru penerang yang mempesona dan yang ia terangkan
adalah kebenaran, apa salahnya bagi mereka untuk mengikuti dan mempercayainya?
Kaum Quraisy juga melontarkan tuduhan lain dengan tujuan untuk merendahkan
Rasulullah dan ajaran Islam. Mereka bilang bahwa berbagai kisah dan ajaran yang
disampaikan Muhammad kepada manusia sesungguhnya merupakan hasil belajar dan
pergaulannya dengan Jabr al-Nashrani. Memang Rasulullah SAW kerap terlihat duduk dan
ngobrol dengan Marwah bersama seorang budak Kristen yang bernama Jabr. Menurut kaum
Quraisy, jika ada orang yang mampu meninggalkan kepercayaan terhadap berhala maka
Kristen menjadi pilihan yang lebih utama dibanding Islam. Sebab, Muhammad pun belajar
kepada orang kristen. Tuduhan seperti inilah disebarluaskan kaum Quraisy. Karena tuduhan
inilah turun firman Allah :
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an
itu diajarkan seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang
mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang al-Qur’an
dalam bahasa Arab yang terang.10[21]

G. Al-Thufail bin Amr al-Dausi


Dengan berbagai propaganda itulah kaum Quraisy berusaha memerangi Nabi SAW dan
memadamkan gerakan dakwahnya. Mereka berharap propaganda itu lebih efektif dan
memberi hasil yang lebih baik dari pada teknik kekerasan dan siksaan yang selama ini
mereka lakukan kepada Nabi SAW dan para pengikutnya. Namun, kebenaran dalam bentuk
yang jelas dan sederhana yang terlukis pada ucapan dan perilaku Nabi SAW itu lebih efektif
dan lebih berpengaruh dibanding propaganda yang mereka sebarkan.
Perkembangan yang terjadi di Makkah itu semakin lama tersebar ke berbagai wilayah lain
di Jazirah Arab. Banyak diantara mereka yang ingin mengetahui lebih jelas perkembangan
seperti apa yang terjadi di Makkah sehingga beritanya tersebar ke berbagai daerah. Suatu

10[21] Q.S An-Nahl: 103


ketika, seorang penyair dari kalangan bangsawan bernama Thufail bin Amr ad-Dausi
berkunjung ke Makkah. Mendengar kabar kedatangannya, kaum Quraisy segera menemui
dan memperingatkannya agar tidak mendekati Nabi SAW dan menolak apapun yang
diucapkannya karena akan memecah belah seseorang dengan keluarganya. Mereka tidak mau
perpecahan dan kekacauan yang dialami Makkah juga dialami kota-kota lainnya di tanah
Arab. Karena itulah mereka menjaga Thufail agar jangan terbujuk kata-kata Nabi SAW.
Suatu hari Thufail berjalan menuju Ka’bah, dan pada saat yang sama Nabi SAW juga ada
ditempat itu. Namun, selewatan ia mendengar apa yang dikatakan Nabi SAW, dan ia merasa
bahwa perkataannya itu adalah perkataan yang baik, tidak seperti yang dituduhkan kaum
Quraisy. Ia berkata dalam hatinya, “Demi Allah, aku adalah seorang cendekiawan dan
penyair. Aku dapat mengenal mana yang baik dan mana yang buruk. Apa salahnya jika aku
mendengar sendiri apa yang dikatakan orang itu! Jika ternyata baik, aku akan menerimanya.
Jika buruk, aku akan meninggalkannya.”
Maka, ia mengikuti Nabi SAW yang berjalan pulang ke rumahnya. Saat Thufail tiba
disana, ia segera menyampaikan keinginan untuk mendengar langsung pembicaraan Nabi
SAW. Maka, Nabi SAW menyampaikan penjelasan tentang Islam kepadanya dan kemudian
membacakan ayat-ayat al-Qur’an. Seketika laki-laki itu menyatakan diri masuk Islam dan
mengakui kebenaran Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat. Kelak ia kembali ada
kaumnya dan mendakwahkan Islam kepada mereka. Diantara mereka ada yang segera
menerima, tetapi ada juga yang masih ragu-ragu. Dan sungguh, beberapa tahun berikutnya,
sebagian besar mereka telah memeluk Islam. Setelah peristiwa Fathul Makkah dan kaum
muslim telah membangun sistem politik yang cukup stabil, mereka menggabungkan diri
dibawah perlindungan Nabi SAW.
Peristiwa Thufail ad-Dausi ini hanya sebuah contoh dari sekian banyak peristiwa serupa.
Bahkan, orang yang telah menerima ajakan Nabi SAW itu bukan hanya penyembah berhala.
Sebagai contoh ketika Nabi SAW di Makkah, ada 20 orang Kristen yang datang
menjumpainya. Mereka mendengar kabar tentang Nabi SAW dan ajaran-ajarannya dari para
peziarah dan kafilah dagang. Mereka datang untuk menjumpai dan berbicara langsung
dengan Nabi SAW.
Mereka mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai Islam dan Kristen. Dan Nabi SAW
menjawabnya. Mereka puas dengan jawaban dan penjelasan Rasulullah SAW sehingga
kemudian menyatakan keimanan mereka.
Hal-hal seperti itulah yang membuat kaum Quraisy semakin murka dan kalut sehingga
orang-orang yang baru masuk Islam itupun mereka hina. Mereka bilang, “Kalian adalah
utusan yang gagal. Kalian disuruh kaum seagama kalian untuk mencari berita tentang orang
itu (Muhammad). Namun, sebelum kalian mengenal siapa sebenarnya dia, kalian malah
meninggalkan agama kalian. Begitu saja kalian mempercayai apa yang dikatakannya!”
Tetapi perkataan kaum Quraisy itu tidak membuat para utusan Kristen itu mundur menjadi
pengikut Nabi SAW dan tidak juga membuat mereka meninggalkan Islam. Bahkan keimanan
mereka pada Allah makin kuat daripada ketika mereka masih memeluk agama Kristen.
Karena sesungguhnya mereka telah menyerahkan diri kepada Allah SWT sebelum mereka
mendengar penjelasannya dari Nabi SAW.

H. Abu Sufyan, Abu Jahal, dan al-Akhnas


Pada suatu malam Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal bin Hisyam, dan al-Akhnas bin Syariq
pergi untuk mencuri dengar Muhammad yang sedang membaca al-Qur’an dirumahnya.
Mereka datang sendiri-sendiri lalu mengambil tempat masing-masing untuk mendengarkan
bacaan Muhammad. Satu sama lain tidak bersepakat dan tidak saling mengetahui. Rasulullah
SAW semakin terbiasa bangun ditengah malam untuk membaca al-Qur’an dengan tenang dan
damai. Dengan suaranya yang lembut, ayat-ayat suci bergema kedalam setiap telinga dan hati
yang mendengar. Setelah fajar menjelang, ketiga orang yang mencuri dengar itu berpencar
pulang ke rumah masing-masing. Ditengah perjalanan pulang ketiganya berpapasan dan
mereka saling menyalahkan. Seseorang berkata kepada yang lain, “Jangan kalian ulangi lagi!
Apabila orang-orang yang masih bodoh melihat perbuatan kalian, tentu hal ini akan
melemahkan kedudukan kalian. Bahkan mungkin akan membuat mereka berpihak pada
Muhammad.”
Tetapi dimalam kedua, mereka masih membawa perasaan yang sama seperti yang dialami
sebelumnya. Mereka tidak dapat menahan keinginan untuk mendengarkan lagi bacaan Nabi
SAW. Kendati demikian, peristiwa yang terjadi dalam dua malam berturut-turut itu tidak
menghalangi untuk kembali lagi pada besok harinya.

I. Quraisy Mengancam Abu Thalib


Para pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib dan mereka berkata kepadanya, “Wahai
Abu Thalib, engkau adalah orang yang paling tua, terhormat, dan berkedudukan ditengah
kami. Kami sudah pernah memintamu untuk menghentikan anak saudaramu, namun engkau
tidak melakukannya. Demi Allah kami sudah tidak sabar lagi menghadapi masalah ini. Siapa
yang mengumpat bapak-bapak kami, membodohkan harapan-harapan kami, dan mencela
sesembahan kami, maka hentikanlah dia, atau kami menganggapmu dalam pihak dia, hingga
salah satu dari kedua belah pihak diantara kita binasa.”
Ancaman ini cukup menggetarkan Abu Thalib. Maka ia mengirim utusan untuk menemui
Rasulullah SAW yang berkata pada beliau, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu
telah mendatangiku, lalu mereka berkata begini begitu padaku. Maka hentikanlah demi diriku
dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebaniku sesuatu diluar kesanggupanku.”

J. Ide untuk Menghabisi Nabi


Setelah orang-orang Quraisy mengalami kegagalan dalam dua kali kedatangan mereka
untuk mempengaruhi Abu Thalib, maka mereka kembali bersikap keras dan bengis bahkan
jauh lebih keras dari sebelumnya. Pada hari-hari itu, tiba-tiba muncul ide dikepala para thagut
mereka untuk menghabisi Nabi SAW dengan cara lain. Tetapi justru kebengisan dan
munculnya ide semacam itu semakin mengokohkan posisi Islam, dengan masuknya dua
pahlawan Makkah yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab.
Diantara bentuk kebengisan itu, suatu hari Uthbah bin Abu Lahab menemui Nabi SAW
seraya berkata “Aku mengingkari ayat. Demi bintang ketika terbenam” dan yang mendekati
lalu bertambah dekat lagi (Jibril). Kemudian dia mulai mengganggu beliau, merobek baju
beliau dan meludah kemuka beliau. Untungnya ludah itu tidak mengenai sasaran. Saat itu
beliau berdoa, “Ya Allah, buatlah ia dilahap seekor anjing dari ciptaan-Mu.”
Doa beliau benar-benar dikabulkan. Suatu hari Uthbah pergi ke Syam bersama rombongan
Quraisy. Suatu malam, tatkala mereka sedang singgah disuatu tempat di Syam, tepatnya di
Az-Zarqa’, tiba-tiba ada seekor singa yang mengelilingi mereka. Saat itulah Uthbah berkata,
“Sungguh celaka saudaraku. Demi Allah singa itu akan mencaplokku seperti doa yang dibaca
Muhammad atas diriku. Singa itu akan membunuhku selagi Muhammad ada di Makkah dan
aku di Syam.” Singa itu menyibak kerumunan orang lalu menerkam kepala Uthbah hingga
meninggal11[22].

11[22]Tafhimul Qur’an 6/622 MukhtasharSiraturRasul, Syaikh Abdullah An-Najdi, hal. 135.


BAB III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Reaksi kaum kafir Quraisy menolak dakwah Nabi SAW yang berlangsung sejak adanya
dakwah yang dilakukan secara terang-terangan oleh Rasulullah SAW pada periode Makkah.
Dan penolakan tersebut dipicu karena adanya beberapa sebab, diantaranya:
1. Rasulullah SAW mengajarkan tentang adanya persamaan hak dan kedudukan antara semua
orang.
2. Islam mengajarkan adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam
akhirat. Islam mengajarkan adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan
alam akhirat.
3. Reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Nabi SAW yang menolak dakwah tersebut juga
disebabkan karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup
bermasyarakat warisan leluhur mereka.
4. Islam melarang menyembah berhala, memperjualbelikan berhala-berhala, dan melarang
penduduk Makkah dan luar Makkah berziarah memuja berhala. Padahal itu semua
mendatangkan keuntungan dibidang ekonomi terhadap kaum Quraisy.
Bentuk-bentuk penindasan kaum Quraisy terhadap ketidaksenangan denganagama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW :
1. Penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin yang lemah.
2. Tokoh-tokoh kaum Quraisy mengganggu dan mengolo-olok Nabi SAW dengan keras.
3. Pemboikotan kaum Quraisy.
4. Menuduh Nabi SAW menyebarkan ayat-ayat syetan.
5. Kaum Quraisy membuat propaganda melawan Nabi SAW.
6. Melakukan perundingan/rapat untuk menghabisi Nabi SAW.
2.2 Usul dan Saran
Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan, kelemahan, dan kekhilafan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan usul dan saran dari
para pembaca demi tersajinya makalah yang lebih baik di edisi berikutnya.
Saran dari kami, kita seharusnya bisa mengambil pelajaran dari kepemimpian Nabi
Muhammad SAW dalam bersabar menghadapi kaum Quraisy yang menentang ajarannya.
Kaum muslimin rela mengorbankan harta, jiwa, dan raganya untuk bisa melindungi agama
Allah dan Nabi-Nya. Jadikanlah sikap dan sifat Rasulullah SAW dan para pejuang dalam kita
beraaktifitas sehari-hari.
http://retriarti.blogspot.com/2016/12/makalah-uas-sirah-nabawiyah-penindasan_6.html

Menyibak Rahasia Dibalik Alqur'an


Search...

alqur'anmulia

 Fiqih
o Fiqih Prioritas
o Fiqih Sunnah
 Fiqih Sunnah 1
 Fiqih Sunnah 2
o Fiqih 4 Madzab
o Fiqih Dakwah
o Fiqih dan Syari’ah
o Ukhuwah Islamiyah
o Madzhab Fiqih
o Fiqih Kontemporer
 Hadits
o Hadits Arba’in
o Ilmu Hadits
o Dlaif & Maudlu’
o Shahih Bukhari
 Akhlak
o Akhlak Islam
o Riyadhush Shalihin
o Kumpulan Doa-Doa
o Doa Sehari-hari
o Wanita Dalam Islam
 Sejarah
o Sirah Nabawiyah
o Fakta Sejarah Islam
o Peradaban Islam
 Aqidah
o Aqidah Islam
o Tauhid Uluhiah
o Akhirat
o Akhirat 1
o Akhirat 2
o Surga
o Neraka
o Kristology
o Tasawuf
o Worship
o Prophet Jesus
 Tarbiyah
o Tarbiyah Islamiyah
o Pendidikan Islami
o Mendidik Anak
o Opini & Dakwah
o Psikologi Belajar
o Mewarnai Gambar
o Motivasi: Laa Tahzan
 Al-Qur’an
o Asbabunnuzul
o Tafsir Ibnu Katsir
 Al-Baqarah
 Ali ‘Imraan
 An-Nisaa’
o Tafsir Jalalayn
o Tajwid
o ‘Ulumul Qur’an
 Ulumul Qur’an 2
o Surah Al-Qur’an
o Indeks Al-Qur’an
 B. Arab
o Belajar Bahasa Arab
o Percakapan (Hiwar)
o Belajar Hiwar
o Ilmu Nahwu
o Ilmu Sharaf
o Kamus B.Arab
 DLL
o Download 1
o Download 2
o Download 3
o Download 4
o Download 5
o Download 6

Pemboikotan Ekonomi
18 Feb
DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah
Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Disebutkan dalam beberapa sanad dari Musa bin Uqbah dan dari Ibnu Ishaq, juga dari yang
lainnya, bahwa orang-orang Quraisy telah sepakat untuk membunuh Rasulullah saw.
Kesepakatan dan keputusan ini disampaikan kepada bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib.
Akan tetapi bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib tidak mau menyerahkan Rasulullah saw.
kepada mereka.

Setelah kaum Quraisy tidak berhasil membunuh Rasulullah saw., mereka sepakat untuk
mengucilkan Rasulullah saw. dan kaum muslimin yang mengikutinya serta bani Hasyim dan
bani Muthalib yang melindunginya. Untuk tujuan ini, mereka telah menulis suatu perjanjian
bahwa mereka tidak akan mengawini dan berjual beli dengan mereka yang dikucilkan.
Mereka tidak akan menerima perdamaian dan berbelas kasihan kepada mereka sampai bani
Muthalib menyerahkan Rasulullah saw. kepada mereka untuk dibunuh. Naskah perjanjian itu
mereka gantung di dalam Ka’bah.

Kaum kafir Quraisy berpegang teguh dengan perjanjian ini selama tiga tahun, sejak bulan
Muharram tahun ketujuh kenabian hingga tahun kesepuluh. Akan tetapi ada pendapat lain
yang mengatakan bahwa pemboikotan tersebut berlangsung selama dua tahun saja.

Riwayat Musa bin Uqbah menunjukkan bahwa pemboikotan ini terjadi sebelum Rasulullah
saw. memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habasyah. Perintah hijrah itu diinstruksikan
Rasulullah pada saat pemboikotan ini. Akan tetapi riwayat Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa
penulisan perjanjian permboikotan dilakukan setelah para shahabat Rasulullah saw. berhijrah
ke Habasyah dan sesudah Umar masuk Islam.

Bani Hasyim, bani Muthalib, dan kaum Muslimin, termasuk di dalamnya Rasulullah saw.
dikepung dan dikucilkan di Syi’ib (pemukiman) bani Muthalib (di Makkah terdapat beberapa
Syi’ib).
Di pemukiman inilah kaum mukminin dan kaum kafir dari bani Hasyim dan bani Muthalib
berkumpul kecuali Abu Lahab (Abdul Izzi bin Abdul Muththalib) karena dia telah bergabung
dengan Quraisy dan menentang Nabi saw. serta para shahabatnya. Kaum Muslimin
menghadapi pemboikotan ini dengan dorongan agama (Islam), sedangkan kaum kafir
menghadapinya karena dorongan fanatisme kabilah (hamiyyah).

Rasulullah saw. bersama kaum Muslimin berjuang menghadapi pemboikotan yang amat ketat
ini selama tiga tahun. Di dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa mereka menderita
kekurangan bahan pangan sehingga mereka terpaksa makan daun-daunan.

As-Suhaili menceritakan: Setiap ada kafilah datang ke Makkah dari luar daerah, para
shahabat Rasulullah saw. yang berada di luar kepungan datang ke pasar untuk membeli bahan
makanan bagi keluarganya. Akan tetapi mereka tidak bisa membeli apapun juga karena
dirintangi oleh Abu Lahab yang selalu berteriak menghasut. “Hai para pedagang! Naikkanlah
harga setinggi-tingginya agar para pengikut Muhammad tidak mampu membeli apa-apa.
Kalian mengetahui betapa banyak harta kekayaanku dan aku sanggup menjamin kalian tidak
akan rugi.” Teriakan Abu Lahab itu dipatuhi para pedagang dan mereka menaikkan harga
barangnya berlipat ganda sehingga kaum Muslimin terpaksa pulang ke rumah dengan tangan
kosong, tidak membawa apa-apa untuk makan anak-anaknya yang kelaparan.
Pada awal tahun ketiga dari pemboikotan dan pengepungan ini, Bani Qushayyi mengecap
pemboikotan tersebut. Mereka memutuskan bersama untuk membatalkan perjanjian. Dalam
pada itu, Allah mengirimkan anai-anai (rayap) untuk menghancurkan lembaran perjanjian
tersebut kecuali berberapa kalimat yang menyebutkan nama Allah.

Kejadian ini oleh Rasulullah saw. diceritakan kepada pamannya, Abu Thalib, sehingga
pamannya itu bertanya kepada beliau: “Apakah Tuhanmu yang memberitahukan hal itu
kepadamu?” Nabi saw. menjawab: “Ya.” Abu Thalib kemudian bersama sejumlah orang dari
kaumnya berangkat mendatangi kaum Quraisy dan meminta kepada mereka seolah-olah ia
telah menerima persyaratan yang pernah mereka ajukan. Akhirnya mereka mengambil naskah
perjanjian dalam keadaan masih terlihat rapi.

Abu Thalib kemudian berkata, “Sesungguhnya, putra saudaraku ini telah memberitahukan
kepadaku dan dia belum pernah berdusta kepadaku sama sekali bahwa Allah telah
mengirimkan anai-anai (sejenis rayap) kepada lembaran yang kamu tulis. Anai-anai itu telah
memakan setiap teks perjanjian yang aniaya dan yang memutuskan hubungan kerabat. Jika
perkataan itu benar, sadarlah kamu dan cabut pemikiranmu yang buruk itu. Demi Allah, kami
tidak akan menyerahkan hingga orang terakhir dari kami mati. Jika apa yang dikatakannya itu
tidak benar, kami serahkan anak kami kepadamu untuk kamu perlakukan sesuka hatimu.”
Mereka berkata, “Kami setuju dengan apa yang kamu katakan.” Mereka kemudian membuka
naskah dan didapatinya sebagaimana diberitakan oleh orang jujur lagi terpercaya (Nabi
Muhammad saw.) Akan tetapi mereka menjawab, “Ini adalah sihir anak saudaramu!” mereka
pun kemudian semakin bertambah sesat dan memusuhi Nabi saw.

Setelah peristiwa ini, lima orang tokoh Quraisy keluar membatalkan perjanjian dan
mengakhiri pemboikotan. Mereka adalah Hisyam bin Umar ibnul Harits, Zuhair bin
Umayyah, Muth’am bin Adi, Abul Bukhturi bin Hisyam, dan Zama’ah ibnul Aswad.

Orang pertama yang bergerak membatalkan perjanjian itu secara terang terangan adalah
Zuhair bin Umayyah. Dia datang kepada orang-orang yang berkerumun di samping Ka’bah
dan berkata kepada mereka, “Wahai penduduk Makkah, apakah kita bersenang-senang makan
dan minum, sedangkan orang-orang bani Hasyim dan bani Muththalib kita biarkan binasa,
tidak bisa menjual dan membeli apa-apa? Demi Allah, aku tidak akan tinggal diam sebelum
merobek-robek naskah yang dhalim itu.”

Empat orang lainnya kemudian mengucapkan perkataan yang sama. Muth’am bin Adi lalu
bangkit menuju naskah perjanjian dan merobek-robeknya. Setelah itu,kelima orang itu
bersama sejumlah orang datang kepada bani Hasyim dan Bani Muththalib serta kaum
Muslimin lalu memerintahkan agar mereka agar mereka kembali ke tempat masing-masing
sebagaimana biasa.

BEBERAPA IBRAH

Pemboikotan yang dhalim ini menggambarkan puncak penderitaan dan penganiayaan yang
dialami oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya selama tiga tahun. Dalam pemboikotan ini
anda lihat kaum musyrikin dari bani Hasyim dan bani Muththalib ikut serta mengalaminya
dan tidak rela membiarkan Rasulullah saw.

Kita tidak dapat berbicara panjang mengenai kaum musyrik tersebut berikut motivasi sikap
dan pendirian mereka. sesuatu yang mendorong mereka untuk mengambil sikap tersebut ialah
semangat membela (hamiyyah) keluarga dan kerabat, disamping keengganan mereka
menerima dan merasakan kehinaan seandainya mereka membiarkan Muhammad saw.
dibunuh dan disiksa oleh kaum musyrik Quraisy dari luar bani Hasyim dan bani Muththalib,
tanpa mempertimbangkan lagi masalah aqidah dan agama.

Dengan demikian mereka telah memadukan antara dua keinginan yang tertanam di dalam
jiwa mereka:
1. Berpegang teguh kepada kemusyrikan dan menolak kebenaran yang disampaikan oleh
Muhammad saw. kepada mereka.
2. Kepatuhan pada fanatisme yang menimbulkan dorongan untuk membela kerabat dari
penganiayaan “orang luar” tanpa mempedulikan kebenaran atau kebatilan.

Sebagaimana halnya kaum muslimin, terutama Rasulullah saw. mereka bersabar menghadapi
penganiayaan tersebut karena mengikuti perintah Allah, mengutamakan kehidupan akhirat
ketimbang kehidupan dunia, dan karena rendahnya nilai dunia dalam pandangan mereka
dibandingkan ridla Allah. Inilah yang menarik untuk dibahas.

Mungkin anda akan mendengar tuduhan dari musuh-musuh Islam bahwa ‘ashabiyah
(fanatisme kesukuan) bani Hasyim dan bani Muththalib memiliki peranan penting dalam bagi
dakwah Muhammad saw. semangat inilah yang mengawal, menjaga, dan melindungi dakwah
Muhammad saw.. Bukti yang paling nyata adalah sikap mereka terhadap kaum musyrik
Quraisy dalam pemboikotan ini.

Tuduhan seperti ini tidak berasas sama sekali. Sangatlah wajar jika fanatisme jahiliyah bani
Hasyim dan bani Muththalib mendorong mereka untuk membela kehidupan anak paman
mereka yang sedang menghadapi ancaman dari “orang luar”.

Dalam membangkitkan fanatisme kekeluargaan, fanatisme jahiliyah tidak pernah memandang


kepada masalah prinsip dan tidak pernah terpengaruh oleh kebenaran dan kebathilan.
Permasalahannya hanyalah menyangkut ‘ashabiyah semata-mata.

Karena itu kedua keinginan yang saling bertentangan itu dapat berhimpun dalam diri keluarga
Rasulullah saw. yakni menolak dakwah Nabi saw. dan membela dirinya dari ancaman seluruh
kaum musyrikin Quraisy.

Sungguhpun demikian, manfaat apakah yang diperoleh Nabi saw. dari sikap “solidaritas”
yang ditunjukkan oleh kerabatnya itu? Mereka telah dianinaya sebagaimana Rasulullah saw.
dan para shahabatnya. Terhadap pemboikotan yang kejam dan biadab ini, bani Hasyim dan
bani Muththalib tidak bisa berbuat apa pun untuk meringankan penderitaan kaum Muslim.

Sesungguhnya, pembelaan kaum kerabat Rasulullah saw. kepadanya itu bukan pembelaan
terhadap risalah dakwah yang dibawanya, melainkan pembelaan terhadap diri Rasulullah
saw. dari ancaman “orang asing”. Jika kaum Muslimin dapat memanfaatkan pembelaan ini
sebagai salah satu sarana jihad melawan kaum kafir dan menghadapi tipu daya mereka, itu
merupakan upaya yang perlu disyukuri dan jalan yang perlu diperhatikan.

Seperti halnya Rasulullah saw. dan para shahabatnya, faktor apakah yang membuat mereka
mampu menghadapi kesulitan yang menyesakkan dada ini? Apakah yang mereka harapkan di
balik ketegaran terhadap pemboikotan yang aniaya ini?
Dengan apakah pertanyaan ini akan dijawab oleh orang-orang yang menuduh risalah
Muhammad dan keimanan para shahabatnya kepadanya sebagai revolusi kiri melawan kanan
atau revolusi kaum tertindas melawan kaum borjuis?

Coba anda renungkan kembali mata rantai penyiksaan dan penganiayaan yang pernah dialami
Rasulullah saw. dan para shahabatnya, kemudian jawablah pertanyaan berikut: Apakah benar,
dakwah Islamiyah itu merupakan suatu pemberontakan ekonomi yang didorong oleh rasa
lapar dan kedengkian terhadap kaum pedagang dan pemegang kendali perekonomian
Makkah?

Sebelumnya kaum musyrikin telah menawarkan kepada Rasulullah saw. kekuasaan,


kekayaan dan kepemimpinan dengan syarat beliau bersedia meninggalkan dakwah Islam.
Mengapa Rasulullah tidak mau menerima tawaran itu? Mengapa para shahabatnya tidak
memprotes dan menekan Rasulullah saw. –jika memang tujuan perjuangan mereka hanyalah
sekadar mengisi perut- agar menerima tawaran Quraisy? Adakah sesuatu yang dicari oleh
“orang-orang revolusioner kiri” selain dari kekuasaan dan harta kekayaan?

Rasulullah saw. bersama para shahabatnya telah dikucilkan dalam suatu perkampungan yang
terputus sama sekali. Segala bentuk kegiatan ekonomi dan sosial dengan mereka dihentikan
sampai mereka harus makan dedaunan, namun mereka tetap bersabar menghadapinya.
Mereka tetap setia mendampingi Rasulullah saw. Seperti inikah sikap yang akan ditunjukkan
oleh orang-orang yang berjuang hanya demi sesuap nasi?

Ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah saw. dan para shahabatnya telah meninggalkan harta
kekayaan, tanah dan segala harta benda menuju Madinah Munawwarah. Mereka telah
melepaskan segala harta kekayaan yang menjadi buruan orang-orang tamak dan rakus.
Mereka tidak mengharapkan imbalan dari keimanan mereka kepada Allah. Dunia dan
kekuasaan telah lenyap sama sekali dari pertimbangan mereka. adakah ini menjadi bukti
bahwa dakwah Islam merupakan revolusi kiri yang hanya bertujuan mencari sesuap nasi ?

Untuk memperkuat tuduhan ini mungkin mereka akan mengemukakan dua hal berikut:
1. Pertama, jamaah generasi pertama dari para shahabat Muhammad saw. di Makkah
mayoritas terdiri atas kaum kafir, budak, dan orang-orang tertindas. Ini menunjukkan bahwa
dengan mengikuti Muhammad saw. mereka akan bisa menyuarakan penindasan yang mereka
alami di samping mereka dapat berharap akan terjadinya perbaikan taraf ekonomi di bawah
naungan agama baru.
2. Kedua, para shahabat tersebut tidak lama kemudian berhasil menaklukkan dunia dan
menikmati kekayaannya. Ini merupakan bukti bahwa perjuangan Rasulullah saw. bertujuan
mencapai tujuan tersebut.

Jika anda perhatikan kedua dalil yang mereka kemukakan untuk memperkuat tuduhan
tersebut, dapat Anda ketahui betapa akal dan pola berfikir mereka telah sedemikiman rupa
dikuasai oleh khayal dan hawa nafsu.

Memang, mayoritas shahabat Rasulullah saw. terdiri atas kaum budak dan fakir. Akan tetapi
hal ini tidak memiliki kaitan sama sekali dengan khayalan tersebut. Sesungguhnya syariat
yang menegakkan timbangan keadilan di antara manusia dan menghancurkan setiap
kedhaliman pasti akan diperangi dan ditentang oleh orang-orang dhalim dan para tiran karena
syariat ini, bagi mereka, lebih banyak menimbulkan ancaman ketimbang kemaslahatan.
Sebaliknya akan diterima dengan mudah oleh setiap orang yang tidak terlibat dalam praktik
kedhaliman dan pemerasan karena syariat ini akan lebih banyak memberikan kemaslahatan
kepada mereka ketimbang kerugian. Mungkin juga karena mereka, sekurang-kurangnya,
tidak memiliki masalah dengan orang lain yang membuat mereka merasa berat untuk
menerimanya.

Semua orang yang berada di sekitar Rasulullah saw. meyakini bahwa beliau berada dalam
kebenaran dan bahwa beliau seorang Nabi dan Rasul. Akan tetapi para pemimpin dan orang-
orang yang haus kekuasaan tidak mau menerima dan berinteraksi dengan kebenaran karena
dihalangi oleh tabiat dan suasana mereka sendiri. Sementara itu, orang-orang selain mereka
tidak mempunyai hambatan yang menghalangi mereka untuk menerima sesuatu yang diimani
dan diyakininya. Dengan demikian, apakah hubungan antara hakikat yang dapat dipahami
oleh setiap pengkaji sirah ini dan apa yang mereka tuduhkan?

Mengenai tuduhan bahwa perjuangan dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
bertujuan untuk menguasai sumber-sumber pemerintahan, dengan dalih bahwa kaum
Muslimin telah berhasil memperoleh semua itu, ini tidak ubahnya seperti orang yang
berusaha mempertemukan antara timur dan barat.

Jika kaum Muslimin dalam waktu singkat telah berhasil menaklukkan negeri-negeri Romawi
dan Persia setelah mereka secara baik melaksanakan Islam, apakah ini kemudian dapat
dijadikan bukti bahwa mereka masuk Islam karena ambisi ingin merebut takhta Romawi dan
Persia?

Seandainya kau Muslimin memeluk dan mengikuti Islam karena ingin memperoleh
kenikmatan dunia, niscaya mereka tidak akan pernah berhasil sedikitpun memperoleh
mukjizat penaklukan tersebut.

Seandainya Umar ibnul Khaththab , ketika mempersiapkan tentara al-Qadisiyah dan melepas
keberangkatan komandan pasukan Sa’ad bin Abi Waqqash, bertujuan merebut harta
kekayaan Kisra dan menduduki takhta kerajaannya, niscaya Sa’ad bin Abi Waqqash akan
kembali kepada Umar dengan membawa kegagalan dan kekecewaan. Akan tetapi, karena
mereka benar-benar berjihad semata-mata ingin membela agama Allah, mereka pun berhasil
menaklukkannya.

Seandainya mimpi yang menggoda kaum Muslimin pada peperangan al-Qadisiyah adalah
keingingan mendapatkan harta kekayaan dan meregukk kenikmatan hidup dunia, niscaya
Rib’i bin Amir tidak akan pernah memasuki istana Rustum yang berhamparkan permadani
merah seraya menikamkan tombaknya ke atas permadani dan berkata kepada Rustum, “Jika
kamu masuk Islam, kami akan tinggalkan kamu, tanahmu dan harta kekayaaanmu.”
Beginikah ucapan orang yang datang untuk merebut kekuasaan, tanah dan harta kekayaan?

Allah mengaruniakan segenap kemudahan dunia kepada mereka karena mereka tidak pernah
berfikir tentang kemegahan dunia. Pemikiran mereka sepenuhnya hanya tercurah pada upaya
mewujudkan ridla Allah.

Seandainya jihad mereka bertujuan memperoleh kemegahan dunia, niscaya mereka tidak
akan pernah mendapatkannya walaupun sedikit. Persoalannya tidak lain adalah terlaksananya
ketentuan Ilahi yang mengatakan: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang
yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang-orang yang mewarisi (bumi).” (al-Qashash: 5)
Ketentuan Ilahi ini akan mudah dipahami oleh akal siapa pun selama akal tersebut bebas dari
segala bentuk perbudakan kepada tujuan atau ambisi apapun (selain ridla Allah).

https://alquranmulia.wordpress.com/2014/02/18/pemboikotan-ekonomi/