Anda di halaman 1dari 25

TEKNOLOGI SEDIAAN SOLID

PEMBUATAN TABLET VITAMIN C 50 mg


TEKNIK KEMPA LANGSUNG

Disusun oleh :

1. Erly Merela (PO.71.39.0.16.052)


2. Feby Anggita (PO.71.39.0.16.053)
3. Harbiyah (PO.71.39.0.16.054)
4. Kirana Aling P (PO.71.39.0.16.056)
5. Linda Ardillah (PO.71.39.0.16.057)
6. M. Hady Pratama (PO.71.39.0.16.058)
7. Meiditha Ovytia A (PO.71.39.0.16.059)

Kelas / Kelompok : Reguler II B / 3


Dosen pembimbing : Drs. Sadakata Sinulingga, Apt.
Nilai Paraf

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


JURUSAN FARMASI
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
TEKNOLOGI SEDIAAN SOLID
PEMBUATAN TABLET VITAMIN C 50 mg
TEKNIK KEMPA LANGSUNG

I. Tujuan
Membuat sediaan Tablet Vitamin C 50 mg yang baik menggunakan
teknik kempa langsung.

II. Dasar Teori


A. Pengertian Tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempacetak,
dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau
cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan. (Farmakope Indonesia Edisi ke-3)
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk
rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat
atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. (Moh. Anief)

B. Bentuk dan Penggolongan Tablet


1. Berdasarkan Prinsip Pembuatan
a. Tablet Kempa
Tablet ini dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan
tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan pons atau
cetakan baja.
b. Tablet Cetak
Tablet ini dibuat dengan cara menekan masa serbuk lembab
dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet
tergantung pada pembentukan kristal yang terbentuk selama
pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan.
2. Berdasarkan Tujuan Penggunaan
a. Tablet Triturate
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silindris, dibuat
dengan cetakan MTT atau dibuat dengan kompresi CTT dan
biasanya sejumlah kecil obat keras di industri tablet ini dibuat
secara kompresi dengan skala kecil dengan cara mencetak
karena lebih mudah dan lebih murah di banding tablet yang
dibuat secara kompresi.
b. Tablet Hipodermik
Tablet hipodermik, tablet yang penggunaanya dengan
menyuntikkan kedalam jaringan, cara penggunaannya dengan
cara melarutkan tablet kemudian baru disuntikkan kepada
pasien.
c. Tablet Bukal dan Sublingual
Tablet bukal dan sublingual, yaitu tablet yang disisipkan
dibawah lidah biasanya berbentuk datar
d. Tablet Effervesescent
Tablet effervesescent, yaitu tablet yang melarut sempurna
dalam air, dibuat dengan menggempa atau mencetak
mengandung zat tambahan berupa campuran asam dan basa
yang apabila dicelupkan dalam air akan mengeluarkan gas
karbondioksida
e. Tablet Kunyah
Tablet kunyah, yaitu mudah hancur ketika dikunyah biasanya
mengandung mannitol yang berasa dan berwarna khusus
f. Tablet Vaginal
Tablet vaginal, tablet yang dimasukkan kedalam vagina untuk
pengobatan lokal.
g. Tablet Implantasi
Tablet implantasi, yaitu tablet steril yang diberikan atau
diletakkan dibaawah kulit.

C. Kriteria Tablet
 Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi
persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu
tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

 Syarat-syarat Tablet
1) Memenuhi keseragaman ukuran
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 11/3
tebal tablet.
2) Memenuhi keseragaman bobot
Keseragaman bobot ditetapkan sebagai berikut :
ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika
ditimbang satu-persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang
ditetapkan dalam kolom A dan tidak boleh satu tablet pun yang
bobotnya menyimpangdari bobot rata-rata lebih dari harga dalam
kolom B.
Jika perlu, dapat digunakan 10 tablet dan tidak satu tablet yang
bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang
ditetapkan dalam kolom A dan B.
Penyimpangan bobot rata-
Bobot Rata-rata rata dalam %
A B
25 mg atau kurang 15 30
26 mg sampai dengan 150 mg 10 20
151 mg sampai dengan 300 mg 7,5 15
lebih dari 300 mg 5 10

3) Memenuhi waktu hancur


Penyimpanan tablet dilakukan dalam wadah tertutup rapat, di tempat
yang sejuk dan terlindung cahaya. Wadah yang digunakan harus diberi
etiket. Dalam etikket wadah atau kemasan tablet harus disebutkan :
a) Nama tablet atau nama zat berkhasiat
b) Jumlah zat atau zat-zat yang berkhasiat dalam tiap tablet
D. Keuntungan dan Kerugian Tablet
1. Keuntungan Sediaan Tablet
Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa
keuntungan, yaitu:
a) Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih.
b) Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis.
c) Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil
sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan,
pengangkutan, dan penyimpanan
d) Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan
bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak),
memudahkan pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.
e) Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih
stabil.
f) Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
g) Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam
tablet.
h) Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan
tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang
memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi.
2. Kerugian Sediaan Tablet
Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya
beberapa kerugian, antara lain :
a) Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan
tidak sadar/pingsan);
b) Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
i. Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena
sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis.
i. Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut,
dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi
melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan
sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa).
ii. Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak
disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer,
dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum
dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik
daripada tablet.
Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian
sediaan tablet jauh lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan
sediaan yang paling banyak dijumpai di perdagangan.

E. Metode Pembuatan Tablet


1. Granulasi Basah
Syarat bahan obat yang dibuat dengan granulasi basah, yaitu :
a) Tahan pemanasan
b) Stabil dengan adanya air
c) Sifat alir kurang baik
d) Kompresibilitas kurang baik
Cara pembuatannya :
zat berkhasiat, zat pengisi dan zat penghancur dicampur baik-baik,
lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambahan
bahan pewarna. Setelah itu diayak menjadi granul dan dikeringkan
dalam lemari pengering pada suhu 400-500. Setelah kering, diayak lagi
untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan
ditambahkan bahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin
tablet.
2. Granulasi Kering
Syarat bahan obat yang dibuat dengan granulasi kering, yaitu :
a) Bahan obat tidak tahan epmanasan
b) Bahan obat rusak oleh air atau uap air
c) Sifat alir bahan kurang baik
d) Kompresibilitas kurang baik

Cara pembuatannya :
zat berkhasiat, zat pengisi, zat penghancur, bila perlu zat pengikat dan
zat pelican dicampur dan dibuat dengan cara kempacetak menjadi
tablet yang besar (slugging), setelah itu tablet yang jadi dipecah
menjadi granul lalu diayak, akhirnya dikempacetak menjadi tablet
yang dikehendaki dengan mesin tablet.
e) Kempa Langsung
Syarat bahan obat yang dibuat dengan granulasi kering, yaitu :
a) Mempunyai sifat alir baik
b) Kompresibilitas baik
c) Tidak tahan pemanasan
d) Rusak oleh adanya air
e) Dapat ditambahkan pengisi yang mempunyai sifat alir dan
kompresibilitas baik

F. Masalah/Hambatan Dalam Pembuatan Tablet


1. Capping
Yaitu terlepasnya bagian atas tablet atau keretakan tablet.
2. Laminating
Yaitu pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih.
3. Sticking
Yaitu keadaan dimana granul menempel pada dinding die bagian
bawah (ada adhesi).
4. Chipping
Yaitu keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong.
5. Cracking
Yaitu keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di bagian atas tengah.
6. Picking
Yaitu perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada
permukaan punch.
7. Mottling
Yaitu tidak meratanya zat warna sehingga menunjukkan warna yang
bertotolan.

G. Bahan-bahan Dalam Tablet


1. Pengisi
Zat inert secara farmakologi yang dapat ditambahkan dalam sebuah
formulasi tablet untuk penyesuian bobot dan ukuran tablet sesuai
dengan yang ditetapkan, jika jumlah bahan aktif kecil, juga untuk
mempermudah pembuatan tablet walaupun pengisi adalah zat yang
inert. Secara farmakologi, zat tersebut masih dapat mempengaruhi
sifat fisika, kimia dan biofarmasi dari sedian tablet.
Contoh, interaksi basa atau garam-garam amin dengan laktosa dan
alkali basa yang menyebabkan terjadinya perubahan warna coklat
sampai hitam. Laktosa tidak bercampur dengan asam askorbat dan
salisilamide.
Penggunaan dari pengisi tergantung dari volume atau berat tablet
yang diingankan. Bahan pengisi yang sering digunakan antara lain;
laktosa USP, lactose anhydrous, spray dried lactose. Amylum;
maydis, oryzae, meranthae, solany, mannitol, sukrosa dan lain- lain.
2. Pengikat
Zat inert secara farmakologi yang ditambahkan kedalam formulasi
tablet untuk meningkatkan kohesifitas antara partikel–partikel serbuk
dalam masa tablet yang diperlukan untuk pembentukkan granul dan
kemudian untuk pembentukan massa menjadi kompak dan padat
yang disebut tablet, pengikat dapat dibagi dua :
a. Pengikat kering (binder), pengikat kering ditambahkan kedalam
massa kering. Contoh, bahan kering yang sering digunakan:
1) Acasia 2-5 %
2) Derivat selulosa 1-5 %
3) Sukrosa 2-25 %
b. Pengikat Basah ( Adhesive), ditambahkan dalam bentuk larutan
atau suspensi, contoh pengikat basah yang sering digunakan:
1) Derivat selulosa 1-5 %
2) Gelatin 1-5 %
3) Pasta amylum 1-5 %
4) Natrium Alginat 2-5 %
3. Penghancur
Zat inert secar farmakologi yang ditambahkan pada massa untuk
membantu mempercepat waktu hancur tablet dalam saluran cerna,
zat disintegran dapat ditambahkan sebagai fasa dalam yang disebut
sebagai fasa dalam yang disebut sebagai bahan internal dan sebagai
fasa luar yang disebut bahan eksternal.
a. Amylum/Kanji
b. Mikrokristalin Selulosa
c. Explotab
d. Kombinasi Asam (Tablet Effervesescent)
4. Pelincir
Zat yang memungkinkan aliran bahkan memasuki cetakan tablet
dan mencegah melekat nya bahan pada punch dan die membuat
tablet menjadi bagus dan mengkilap.
a. Talcum
b. PEG
c. Asam Stearat
d. Mg Stearat
5. Pewarna
Pemberi rasa dan pemanis, penggunaan zat warna dan pemanis
digunakan untuk menutupi warna obat yang kurang baik, (dentifikasi
hasil produksi dan membuat suatu produk menjadi lebih menarik).
Dibentuknya rasa, agar dapat mengurangi rasa pahit, khusus yang
sulit menelan tablet dan member rasa untuk tablet kunyah. (Lachman
hal 679-704)

H. Kontrol Kualitas
Untuk memperoleh tablet yang baik dan bermutu maka sebelum,
selama dan setelah proses pentablettan harus dilakukan pemeriksaan
(in process control/IPC), meliputi antara lain :
1. Pemeriksaan Sediaan Sebelum Tabletting
a. Kualitas formulasi bahan yang dipakai
b. Homogenitas campuran obat dengan bahan tambahan setelah
proses pencampuran
c. Kualitas granul : fluiditas, moisture content (MC), distribusi
ukuran partikel dan kompressibilitas
2. Pemeriksaan Selama/Setelah Tabletting
a. Penampilan Umum (Organoleptis)
Pengukuran sejumlah data teknis tablet, seperti ukuran
(panjang, lebar, diameter), bentuk, warna, bentuk permukaan,
konsistensi dan cacat fisik, dan tanda-tanda pengenal lainnya
(logo, break line, dsb), bau, ciri-ciri khas lainnya.
b. Keseragaman Kadar
Dilakukan pemeriksaan kadar zat aktif sesuai dengan
monografi masing-masing bahan.
c. Keseragaman Bobot
Dilakukan pemeriksaan 20 tablet, dihitung rata-rata dan
standard deviasi relatif (RSD).
Syarat :
1) Tablet dengan bobot < 130 mg, max RSD 10 %
2) Tablet dengan bobot 130 – 324 mg, max RSD 7,5 %
3) Tablet dengan bobot > 324 mg, max RSD 5%

d. Kekerasan Tablet
Diperiksa dengan alat Hardness Tester, yang prinsipnya
mengatur tekanan yang dibutuhkan untuk memecah satu
tablet yang diletakkan dalam alat tersebut. Gunanya untuk
mengetahui ketahanan tablet bila mengalami benturan selama
proses pengemasan dan transportasi. Tablet yang baik
kekerasan : min 4 kg
e. Kerapuhan Tablet
Diperiksa dengan alat Friabilator Tester, prinsipnya dengan
mengukur prosentase susut berat tablet setelah diputar dalam
alat tersebut selama 4 menit (rpm 25) atau 100 putaran.
f. Waktu Hancur
Ditentukan dengan alat Desintegrating tester, prinsipnya
sejumlah tablet (6 tablet) dimasukkan dalam air atau medium
lain dengan suhu 37o C, dinaik-turunkan, diukur waktunya
sampai semua tablet hancur. Syarat : jika tidak disebutkan
lain, tidak boleh lebih dari 15 menit.

III. Formulasi
A. Formulasi Acuan
Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations
Compressed Solid Products Volume One:Second Sarfaraz K. Niazi
Pharmaceutical Scientist, Inc. Deerfield, Illinois, US Edition page 521

B. Formulasi Usulan

R/ Asam Askorbat 50 mg

Aerosil 200 2,4

Avicel pH 102 60
Mg. Sterarat 1

Asam Stearat 2,4

GMS 3,2

Pewarna Kuning 0,5%

IV. Preformulasi

A. Farmakologi Zat Berkhasiat (Vitamin C/ Asam Askorbat)


Asam askorbat berwarna putih ada juga yang berwarna kuning
muda. Asam askorbat tidak bersifat higroskopik dan tidak berbau.
Asam askorbat berbentuk bubuk kristal atau kristal tak berwarna
dengan aroma tajam dan berasa asam. Secara bertahap warna akan
berubah menjadi gelap saat terpapar cahaya. Tingkat keasaman /
alkalinitas pH = 2,1-2,6 (5% b / v larutan berair). Asam askorbat
digunakan sebagai antioksidan dalam sediaan farmasi cair pada
konsentrasi 0,01-0,1% b / v. Asam askorbat juga digunakan untuk
mengatur pH larutan pada sediaan injeksi dan sebagai zat tambahan
untuk cairan oral. Asam askorbat ini juga banyak digunakan pada
makanan sebagai antioksidan, asam askorbat juga terbukti bermanfaat
sebagai agen stabilisasi dalam campuran misel yang mengandung
tetrazepam.
Vitamin C tidak tahan pemanasan, stabil diudara kering, kurang
cocok dalam bentuk larutan karena cepat teroksidasi sehingga tidak
digunakan dengan metode granulasi basah, dan karena dosisnya kecil
ditambah dengan eksipien yang kompresibel dan mudah mengalir
maka dapat dibuat dengan metode kempa langsung.
Reasorpsinya dari usus cepat dan praktis sempurna (90%)
tetapi menurunn pada dosis diatas 1 gr. Distribusinya kesemua jaringan
terdapat dalam cortex anak ginjal. Dalam darah sangat mudah
dioksidasi secara reversibel menjadi dehidroaskorbat yang hampir
sama zat aktifnya. Sebagian kecil dirombak menjadi asam oksalat
dengan jalan pemutusan ikatan antara C2 dan C3. Ekskresi berlangsung
terutama sebagai asa, oksalat.
Vitamin C bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu
merupakan reduktor dan antioksidan. Vitamin ini dapat secara langsung atau
tidak langsung memberikan elektron ke enzim yang membutuhkan ion-ion
logam tereduksi, dan bekerja sebagai kofaktor untuk profil dan lisil
hidroksilase dalam biosintesis kolagen . Zat ini berbentuk kristal dan bubuk
putih kekuningan, stabil pada keadaan kering. Dalam bentuk larutan
diwadah terbuka, zat ini cepat rusak.

B. Farmakodinamik
Vitamin C berperan sebagai suatu kofaktor dalam sejumlah
reaksi hidroksilasi dan amidasi dengan memindahkan elektron ke
enzim yang ion metalnya harus berada dalam keadaan tereduksi ;
dan dalam kondisi tertentu bersifat sebagai antioksidan. Dengan
demikian vitamin C dibutuhkan untuk mempercepat perubahan
residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan
hidroksilisin pada sintesis kolagen. Selain itu juga diperlukan untuk
perubahan asam folat menjadi asam folinat, metabolisme obat oleh
mikrosom dan hidroksilasi dopamin menjadi norepinefrin. Asam
askorbat meningkatkan aktivitas enzim amidase yang berperan
dalam pembentukan hormone oksitosin, hormone
antidiuretik. Dengan mereduksi ion feri menjadi fero dalam
lambung, vitamin C meningkatkan absorpsi besi. Selain itu vitamin
C juga berperan pada pembentukan steroid adrenal. Pada jaringan
fungsi utama vitamin C ialah dalam sintesis kolagen, proteoglikan
dan lain zat organik matriks antarsel misalnya pada tulang, gigi,
dan endotel kapiler. Dalam sintesis kolagen selain berperan
dalam hidroksilasi prolin, vitamin C juga nampaknya
berperan untuk menstimulasi langsung sintesis peptide
kolagen. Pada penderita skorbut gangguan sintesis kolagen
terlihat sebagai kesulitan penyembuhan luka, gangguan
pembentukan gigvdan pecahnya kapiler yang menyebabkan
perdarahan seperti petekie dan ekimosis. Perdarahan tersebut
disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel
endotel yang kurang baik dan mungkin juga karena gangguan pada
jaringan ikat perikapiler sehingga kapiler mudah pecah oleh
penekanan.

C. Alasan Pemilihan Bahan


1. Vitamin C
Dikenal sebagai salah satu vitamin yang memiliki banyak manfaat.
Selain bersifat antioksidan yang mampu melawan radikal bebas,
vitamin C juga berperan dalam meningkatkan sistem kekebalan
tubuh.

2. Avicel pH 102 sebagai pengikat


Selulosa mikrokristalin adalah sinonim dari avicel, sebagian dari
depolimerisasi selulosa itu berbentuk kristal putih, tidak berbau,
hambar atau tidak berasa. Serbuknya terdiri dari partikel berpori.
Selulosa ini tersedia secara komersial dalam ukuran partikel yang
berbeda dan kadar kelembaban yang berbeda. Selulosa mikrokristal
banyak digunakan pada obat-obatan, terutama sebagai pengikat /
pengencer dalam formulasi tablet dan kapsul oral yang digunakan
dalam granulasi basah dan kompresi langsung Proses. Selain
penggunaannya sebagai pengikat / pengencer, mikrokristalin
selulosa juga memiliki beberapa pelumas dan disintesis sifat yang
membuatnya berguna dalam pembuatan tablet. Selulosa
mikrokristalin tidak kompatibel dengan oksidasi agen yang kuat.
Pemilihan Avicel pH 102 sebagai pengikat dikarenakan Avicel pH
102 merupakan pengikat yang kuat pada konsentrasi 1-5%.
Pengikat yang baik akan mengasilkan daya tarik-menarik antara
partikel dengan baik. Selain itu alasan pemilihan amylum sebagai
pengikat adalah karena Avicel pH 102 mudah didapatkan.

3. Lactosa
Pemilihan laktosa sebagai pengisi agar tablet yang dihasikan berasa
manis karena bahan aktif (Furosemid) yang hampir tidak berasa
dengan demikian akan lebih mudah untuk diterima oleh pasien.
Konsentrasi laktosa sebagai pengisi adalah 65-85 %. Lactosa
digunakan sebagai pengisi yang paling umum.

4. Mg stearat sebagai lubrikan


Magnesium stearat bebentuk sangat halus, putih muda, diendapkan
atau bubuk giling yang tidak diolah dengan kerapatan curah
rendah, memiliki bau samar asam stearat dan rasa yang khas.
Serbuknya berminyak jika disebtuh dan mudah melekat pada kulit.
Magnesium stearat banyak digunakan pada kosmetik, makanan,
dan formulasi farmasi terutama digunakan sebagai pelumas pada
kapsul dan pembuatan tablet pada konsentrasi antara 0,25% dan
5.0% b / b. Magnesium stearate juga digunakan dalam krim
penghalang. Magnesium stearate tidak kompatibel dengan asam
kuat, alkali, dan garam besi. Hindari pencampuran dengan bahan
pengoksidasi kuat. Magnesium stearat tidak bisa digunakan dalam
produk yang mengandung aspirin, beberapa vitamin, dan
kebanyakan garam alkaloid.

5. Koloid silikon dioksida (Aerosil)


Koloid silikon dioksida berukuran submikroskopik dengan Ukuran
partikel sekitar 15 nm. Warnanya ringan, longgar, berwarna
kebiruan-putih, tidak berbau, hambar, bubuk amorf. Koloid silikon
dioksida banyak digunakan pada obat-obatan, Kosmetik, dan
produk makanan Koloid Silikon dioksida juga digunakan sebagai
tablet yang disintegrasi dan sebagai zat pendispersi adsorben untuk
cairan dalam serbuk.

6. Pewarna kuning digunakan sebagai penambah penampilan


warna pada tablet dan biasanya tablet sediaan vitamin C bewarna
kuning.
D. Perhitungan Bahan
Dibuat 100 tablet, dilebihkan 20%, jadi dibuat 120 tablet
Bobot tablet = 200 mg x 120 = 24.000 mg
1. Asam Askorbat = 50 mg x 120 = 6.000 mg

2. Aerosil 200 = 2,4 mg x 120 = 288 mg

3. Avicel PH 101 = 60 mg x 120 = 7200 mg

4. Magnesium Stearat = 1 mg x 120 = 120 mg

5. Asam Stearat = 2,4 mg x 120 = 288 mg

6. Gliseril monostearat = 3,2 mg x 120 = 400 mg

7. Laktosa = 24.000 –
(6.000+300+7200+400+300+100)

= 24.000 – 14300

= 9700 mg

8. Pewarna Orange qs

E. Penimbangan Bahan
1. Asam Askorbat = 6.000 mg
2. Aerosil 200 = 288 mg = 300 mg
3. Avicel PH101 = 7200 mg
4. Gliseril monostearat = 400 mg
5. Laktosa = 9700 mg
6. Mg stearat = 100 mg
7. Asam Stearat = 288mg = 300 mg
8. Pewarna orange qs
F. Bahan dan Fungsinya di Dalam Tablet
Bahan Fungsi
Asam Askorbat Zat Aktif
Laktosa Pengisi dan Pemanis
Aerosil 200 Penghancur, pelincir
Avicel pH 101 Pengikat
Mg Stearat Lubrikan
Pewarna Kuning Pemberi Warna

V. Bahan dan Alat

Alat Bahan
Mortir dan Stamper Asam Askorbat
Gelas ukur Lactosum
Erlenmeyer Asam Stearat
Baker glass Gliseril monostearat
Corong gelas Mg Stearat
Neraca analitik gram Aerosil
Neraca analitik Pewarna Kuning
miligram
Anak timbangan
Sendok spatula
Perkamen

VI. Prosedur Pembuatan


1. Timbang semua bahan yang diperlukan.
2. Gerus Asam Askorbat ke dalam mortir, gerus halus
3. Tambahkan Aerosil dan Avicel gerus homogen (massa 1).
4. Gerus laktosum dan campurkan dengan pewarna orange (massa 2).
5. Tambahkan massa 1 kedalam massa 2, gerus homogen (massa 3).
6. Evaluasi serbuk campur
7. Gerus halus magnesium stearat (massa 4).
8. Masukkan massa 3 dan massa 4 kedalam botol, kocok homogen.
9. Cetak serbuk dengan alat pencetak tablet
10. Evaluasi Tablet

VII.Prosedur Evaluasi Sediaan


1. Bobot Jenis
 Bobot jenis nyata
Kedalam gelas takar masukkan 100 gram granul. Baca volume.
Bobot jenis nyata = Bobot/Volume
 Bobot jenis nyata setelah pemampatan
Kedalam gelas takar masukkan 100 gram granul.Mampatkan 500
kali dengan alat volumeter.Lihat volume setelah pemampatan.

BJ nyata setelah pemampatan =

2. Kadar Pemampatan
% T = V0 – V500
V0
Ket :
% T = Kadar pemampatan
V0 = Volume sebelum pemampatan
V500= Volume setelah pemampatan 500 kali
% T < 20 atau V < 20 ml granul memiliki aliran yang baik.Kadar
pemampatan dan berat jenis dapat untuk menilai aliran.
3. Kompresibilitas
% K = Dapt – Davc x 100 %
Davc
Ket :
Dapt : Berat jenis nyata setelah pemampatan 500 x
Davc : Berat jenis nyata sebelum pemampatan
Jika % K:
5 – 10 % : Aliran sangat baik
11 – 20 % : Aliran cukup baik
21– 25 % : Aliran cukup
> 26 % : Aliran buruk
4. Aliran
 Metode corong
Mengukur kecepatan aliran 100 gram granul menggunakan corong
kaca dengan dimensi sesuai. Dengan 2 cara yaitu, cara bebas dan
cara tidak bebas ( paksa ) digetarkan. Biasanya jika 100 gram
granul mengalir dalam 10 detik maka lairan baik.
 Metode sudut istirahat
Masukkan 100 gram granul (tutup bagian bawah corong).Tampung
granul diatas kertas grafik.
Hitung x (sudut yang dibentuk tumpukan granul dengan kertas).
Jika x :
25 – 30 derajat : Sangat mudah mengalir
30 – 40 derajat : Mudah mengalir
40 – 45 derajat : Mengalir
> 45 derajat : Kurang mengalir

5. Evaluasi Tablet Jadi


a. Keseragaman Ukuran
Ukuran tablet meliputi diameter dan ketebalan. Ketebalan
inilah yang berhubungan dengan proses pembuatan tablet, karena
harus terkontrol sampai perbedaan 5 % dari nilai rata-rata.
Pengontrolan ketebalan tablet diperlukan agar dapat diterima oleh
konsumen dan dapat mempermudah pengemasan.

b. Keseragaman Bobot
Ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika
ditimbang satu per satu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang
ditetapkan dalam kolom A dan tidak boleh 1 tablet pun yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam
kolom B. Jika perlu dapat digunakan 10 tablet dan tidak 1 tablet
yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang
ditetapkan dalam kolom A maupun kolom B :
Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata dalam %
A B
25 mg atau kurang 15 % 30 %
26 mg – 150 mg 10 % 20 %
151 mg – 300 mg 7,5 % 15 %
> 300 mg 5% 10 %

c. Kekerasan Tablet
Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu
serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat
pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat yang biasa
digunakan adalah hardness tester (Banker and Anderson, 1984).
Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan
tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan
dan terjadi keretakan talet selama pembungkusan, pengangkutan
dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan
pengempaan (Parrott, 1971).Keseragaman minimum 4 kg diukur
dengan alat Hardness tester.
Caranya :
Ambil masing-masing 6 tablet dari tiap batch , yang kemudian
diukur kekerasanya dengan alat pengukur kekerasan tablet.
Letakkan sebuah tablet dengan posisi tegak diantara anvit dan
punch, lalu tablet dijepit dengan cara memutar sampai tablet pecah
dan retak. Pada saat tersebut angka yang ditunjukkan oleh jarum
adalah kekerasan tablet tersebut.
d. Kerenyahan Tablet
Friabilitas dinyatakan dengan presentase selisih bobot
sebelum dan sesudah pengujian dibagi dengan bobot mula-mula .
Alat yang digunakan : Friabilator
Cara pengukuran :
Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu
dibersihkan dari sebunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet
tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator dan diputar
sebanyak 100 kali putaran selama 4 menit , jadi kecepatan
putaranya 25 putaran per menit. Setelah selesai, keluarkan tablet
dari alat, bersihkan dari debu dan timbang kembali seluruh tablet
dengan seksama. Kemudian hitung persentase kehilangan bobot
sebelum dan sesudah perlakuan. Tablet yang baik memiliki
keregasan kurang dari 1 %
e. Waktu Hancur Tablet
Masukkan tablet ke dalam keranjang alat, turun naikkan
keranjang secara teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan
hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa,
kecuali fragmen dari zat penyalut. Bila tidak dinyatakan waktu
untuk menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit
untuk tablet biasa dan 60 menit untuk tablet bersalut gula atau
selaput.
Jika tidak memenuhi syarat, pengujian diulang dengan
menggunakan tablet satu per sat, kemudian diulangi lagi
menggunakan 5 tablet dengan cakram tertentu, dan tablet harus
memenuhi syarat diatas.

VIII. HASIL EVALUASI


1. Evaluasi Tablet
a. Uji Keseragaman Bobot
Berat 20 tablet = 3,7667 mg

Tablet Berat (g) Penyimpangan


1 0,2099 11,47%
2 0,2207 17,20%
3 0,2193 16,46%
4 0,1633 13,27%
5 0,1831 2,76%
6 0,1975 4,88%
7 0,1752 6,9%
8 0,1803 4,24%
9 0,2011 6,7%
10 0,1911 1,48%
11 0,1874 1,91%
12 0,1463 22,3%
13 0,1660 11,84%
14 0,1728 8,23%
15 0,1906 1,22%
16 0,2068 9,82%
17 0,1679 1,.83%
18 0,1786 5,15%
19 0,1799 4,46%
20 0,1822 3,23%
Jumlah 3,7200
Rata-rata 0,186

Jadi dapat ditunjukan pada keseragaman bobot tablet Vitamin C


ada tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari
15% yaitu tablet ke 2,3 dan 12 dan tidak ada satu tablet pun yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata tablet 30%.

b. Keseragaman Ukuran
Diukur 6 tablet menggunakan jangka sorong
Tablet Diameter Ketebalan
1 0,66 0,52
2 0,65 0,57
3 0,65 0,59
4 0,65 0,57
5 0,64 0,58
6 0,64 0,59
Jumlah 3,89 3,42
Rata-rata 0,648 0,57

c. Friabilitas
Berat awal = 3,7667 gram
Berat akhir = 0,7864 gram
1 - 0,7864 gram x 100%= 19% (syarat ideal kurang dari 1% )
3,7667 gram
Tablet Vitamin C tidak memiliki keregasan yang baik karena tablet
yang baik memiliki keregasan kurang dari 1%.

d. Waktu Hancur Tablet


Setelah tablet dimasukkan kedalam keranjang alat dan alat dinaik
turunkan secara teratur , tablet tersebut hancur dalam waktu menit
detik, dimana masih dalam batas waktu hancur yang baik bagi tablet
biasa ( tidak lebih dari 15 menit).

b. Kekerasan Tablet
Diukur kekerasan 6 tablet dengan menggunakan alat hardness tester.
Tablet Kekerasan
1 0
2 1
3 1
4 0
5 1
6 0

Kekerasan yang didapatkan tidak dalam range karena kekekarasan


minimum 4 kg.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat.


Jakarta : UI-Press.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Ed III.Jakarta: Depkes RI.

Martindale The Extra Pharmacopoeia, twenty-eight edition. 1982. London : The


Pharmaceutical Press.

Wade, Ainley and Paul J Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical


excipients, Ed II. London: The Pharmaceutical Press Department of
Pharmaceutical Sciences.

Niazi, K. Sarfaraz. 1994. Handbook of Pharmaceutical Manaufacturing


Formulations, Ed II. London: The Pharmaceutical Press Department of
Pharmaceutical Sciences.
Handbook of Pharmaceutical Granulation Technology Second Edition edited by
Dilip M. Parikh Synthon Pharmaceuticals Inc.Research Triangle Park, North
Carolina, U.S.A

https://andayana.wordpress.com/bisnis/pembuatan-tablet/ (diakses pada tanggal 2


Mei 2016)

Lampiran – lampiran
Kotak

Etiket
Brosur