Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Di Susun oleh :
Jihan Rizki Annisa
201601067

CI RUMAH SAKIT CI AKADEMIK

(.............................................) (..............................................)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIDYA NUSANTARA PALU
2019
LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN

A. DEFINISI

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan seseorang melakukan tindakan

yang dapat membahayakan secara fisik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

(Towsend, 1998).

Perilaku kekerasan adalah reaksi yang ditampakan/ditampilkan oleh individu

dalam menghadapi masalah dengan melakukan tindakan penyerangan terhadap

stessor, dapat juga merusak dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan dan

setiap bermusuhan (Rasmun, 2009, hal. 18).

Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap

kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. (Stuart dan Sundeen, 1998).

Dari ketiga teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku

kekerasan adalah seseorang melakukan tindakan yang berakibat tidak baik pada

dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan.

B. RENTANG RESPON

Respon adaptif Respon Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk


Gambar: Rentang Respon Marah (Stuart dan Sundeen, 1998)

1. Respon Adaptif
a. Asertif adalah mengemukakan pendapat atau mengekspresikan rasa

tidak senang atau tidak setuju tanpa menyakiti lawan bicara.

b. Frustasi adalah suatu proses yang menyebabkan terhambatnya

seseorang dalam mencapai keinginannya. Individu tersebut tidak

dapat menerima atau menunda sementara sambil menunggu

kesempatan yang memungkinkan. Selanjutnya individu merasa tidak

mampu dalam mengungkapkan perannya dan terlihat pasif.

2. Respon transisi

Pasif adalah suatu perilaku dimana seseorang merasa tidak mampu

untuk mengungkapkan perasaannya sebagai usaha mempertahankan hak-

haknya. Klien tampak pemalu, pendiam, sulit diajak bicara karena merasa

kurang mampu, rendah diri atau kurang menghargai dirinya.

3. Respon maladaptive

a. Agresif adalah suatu perilaku yang mengerti rasa marah, merupakan

dorongan mental untuk bertindak (dapat secara konstruksi/destruksi)

dan masih terkontrol. Perilaku agresif dapat dibedakan dalam 2

kelompok, yaitu pasif agresif dan aktif agresif.

1) Pasif agresif adalah perilaku yang tampak dapat berupa

pendendam, bermuka asam, keras kepala, suka menghambat dan

bermalas-malasan.

2) Aktif agresif adalah sikap menentang, suka membantah, bicara

keras, cenderung menu0ntut secara terus menerus, bertingkah

laku kasar disertai kekerasan.


b. Amuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat dan disertai

kehilangan ea lam diri. Individu dapat merusak diri sendiri, orang

lain atau lingkungan. (Stuart and Sudeen, 1998)

C. ETIOLOGI

1. Faktor Predisposisi

Menurut Kelliat (1999), ea la predisposisi didapat dari berbagai

pengalaman yang dialami tiap orang artinya mungkin terjadi (mungkin tidak

terjadi) perilaku kekerasan jika ea la berikut dialami oleh individu:

a. Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang

kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang

tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau

saksi penganiayaan.

b. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan

kekerasan sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar

rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku

kekerasan.

c. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif

agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku

kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima

(permisif).

d. Neurobiologis, banyak pendapat bahwa kekerasan system limbic,

lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmiter turut

berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.


2. Stressor Presipitasi

Menurut Stuart dan Sundeen (1998), menyatakan bahwa factor

presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan

orang lain,

a. Kondisi klien

Seperti kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan,

percaya diri kurang, dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan.

b. Situasi lingkungan

Lingkungan yang ribut, padat kritikan yang mengarah pada

penghinaan, kehilangan orang yang dicintai atau pekerjaan dapat pula

memicu perilaku kekerasan.

D. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Kelliat dan Sinaga (1996) menyatakan bahwa manifestasi klinik

dari perilaku kekerasan:

1. Aspek fisik, antara lain tekanan darah meningkat kulit muka merah,

pandangan mata tajam, otot tegang, denyut nadi meningkat, pupil dilatasi,

frekuensi BAK meningkat.

2. Aspek emosi, antara lain emosi labil, tak sabar, ekspresi muka tampak

tegang, bicara dengan nada suara tinggi, suka berdebat, klien memaksanakan

kehendak.

3. Aspek perubahan perilaku, antara lain agresif menarik diri, bermusuhan

sinis, curiga, psikomotor meningkat, nada bicara keras dan kasar.


E. POHON MASALAH

Risiko Menciderai Diri, Orang Lain dan Lingkungan Akibat

Perilaku Kekerasan :Core problem

Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Penyebab

F. MEKANISME KOPING

Kemarahan merupakan ekspresi diri dari rasa cemas yang timbul karena

adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk

melindungi diri antara lain:

1. Sublimasi

Menerima suatu sasarna pengganti yang mulia artinya dimata

masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya

secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan

kemarahannya pada suatu objek lain seperti meremas adonan kue, meninju

tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan

akibat marah.
2. Proyeksi

Menyalahkan orang lain mengenai kesukaanya dan keinginannya

yang tidak baik. Misalnya seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia

mempunyai perasaan seksual terhadap rekan kerjanya, berbalik menuduh

bahwa temannya yang mencoba merayu, mencumbunya.

3. Represi

Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ea

lam sadar. Misalnya seorang anak yang sangat benci pada orangtuanya yang

tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya

sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan

dikutuk Tuhan, sehingga perasaan benci ditekannya dan akhirnya ia dapat

melupakannya.

4. Reaksi Formasi

Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan

melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakan

sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya,

akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.

5. Displacement

Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada

objek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang

membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 5 tahun marah karena ia

baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding

kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.


KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Resiko menciderai diri sendiri , orang lain dan lingkungan.


a. Data subjektif: Klien mengatakan akan memukul orang lain atau

dirinya sendiri dan mengancam orang lain.


b. Data objektif: Mengepalkan tangan, merusak benda di sekitar,

peningkatan aktifitas motorik, mondar-mandir dan mudah marah.

2. Perilaku kekerasan
a. Data subjektif: Klien mengatakan kesal dengan orang lain.
b. Data objektif: Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara

tinggi, memukul.

3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah


a. Data subjektif: Klien mengatakan malu terhadap diri sendiri, merasa

bersalah terhadap diri sendiri.


b. Data objektif: Menarik diri, percaya diri kurang, kontak mata kurang

dan mencederai diri.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Menurut kelliat (2005) mengatakan bahwa masalah keperawatan perilaku

kekerasan adalah:

1. Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan

2. Perilaku kekerasan

3. Gangguan Harga Diri: Harga Diri Rendah


C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Perencanaan
No
Keperawata
Tujuan Krtieria Evaluasi Intervensi Rasional
.
n
1. Resiko Klien mampu : Setelah…….pertemuan SP 1 (tgl ………. )

Perilaku - Mengidentifikasi klien mampu : - Identifikasi penyebab, tanda gejala - Dengan mengenal perilaku

Kekerasan penyebab tanda - Menyebutkan serta akibat perilaku kekerasan kekerasan, pasien dapat

perilaku kekerasan penyebab, tanda, gejala - Latih cara fisik 1; tarik nafas dalam mengetahui tentang penyakitnya

- Menyebutkan jenis dan akibat perilaku dan mengetahui cara


- Masukan dalam jadwal harian
perilaku kekerasan kekerasan mengatasinya.
pasien
yang perilaku - Memperagakan cara - Agar pasien dapat

kekerasan fisik untuk mengontrol mengendalikan rasa marahnya

- Menyebutkan akibat perilaku kekerasan - Agar pasien mengingat jadwal

dari perilaku kegiatannya

kekerasan yang

dilakukan
- Menyebutkan cara

mengontrol perilaku

kekerasan

- Mengontrol perilaku

kekerasan secara;

fisik, sosial/verbal,

spiritual, terapi

psikofarmaka
Setelah……pertemuan SP.2 (tgl……….)

klien mampu : - Evaluasi kegiatan yang lalu - Mengingatkan kegiatan

- Menyebutkan (SP.1) yang sudah dilakukan

kegiatan yang - Latih cara fisik 2; pukul - Mengekspresikan rasa

sudah dilakukan kasur/bantal marahnya pada objek yang


- Memperagakan
- Masukan dalam jadwal harian tidak berbahaya
cara fisik untuk
pasien - Agar klien mengingat
mengontrol
jadwal kegiatannya
perilaku

kekerasan
Setelah………pertemuan SP.3 (tgl………..)
- Mengingatkan tindakan
klien mampu : - Evaluasi kegiatan yang lalu
yang sudah dilakukan
- Menyebutkan (SP.1 dan SP.2) - Melatih klien berbicara
- Latih secara sosial/verbal
kegiatan yang  Menolak dengan baik dengan baik
 Meminta dengan baik
sudah dilakukan  Mengungkapkan dengan
- Memperagakan
baik
cara soail/verbal - Masukan dalam jadwal harian

untuk mengontrol pasien


- Agar klien mengingat
perilaku
jadwal kegiatannya
kekerasan
Setelah………pertemuan SP.4 (tgl…………)

klien mampu : - Evaluasi kegiatan yang lalu - Mengingatkan tindakan

- Menyebutkan (SP.1, SP.2 dan SP.3) yang sudah dilakukan


- Latih secara spiritual - Melatih menenangkan rasa
kegiatan yang  Berdoa
 Shalat marah klien dengan
sudah dilakukan - Masukan dalam jadwal harian
- Memperagakan keyakinan spiritualnya
pasien - Agar klien mengingat
cara spiritual
jadwal kegiatannya
Setelah………pertemuan SP.5 (tgl…………)

klien mampu : - Evaluasi kegiatan yang lalu - Mengingatkan tindakan

- Menyebutkan (SP.1, SP.2, SP.3 dan SP.4) yang sudah dilakukan


- Latih patuh obat
kegiatan yang  Minum obat secara - Dengan dijelaskan

sudah dilakukan teratur dengan prinsip 5B pentingnya program


- Memperagakan  Susun jadwal minum
pengobatan, dapat
cara patuh obat obat secara teratur
- Masukan dalam jadwal harian memotivasi pasien untuk

pasien patuh berobat

- Agar klien mengingat

jadwal kegiatannya
Keluarga mampu: Setelah………pertemuan SP.1 ( Tgl……….)

Merawat pasien keluarga mampu: - Identifikasi masalah yang dihadapi - Dengan mengetahui

dirumah - Menjelaskan penyebab keluarga dalam merawat klien masalah yang dihadapi

tanda, gejala, akibat keluarga, keluarga mampu

serta mampu mengantisipasi masalah

memperagakan cara - Jelaskan tentang resiko perilaku yang muncul


- Dapat membuat keluarga
merawat kekerasan
pasien lebih memahami
 Pengertian perilaku
perilaku kekerasan
kekerasan
 Penyebab perilaku kekerasan
 Akibat perilaku kekerasan
 Cara merawat pasien

dirumah (cara

berkomunikasi dan

memberikan obat)

- Latih cara merawat


- Dapat mengetahui sejauh

- RTL keluarga / jadwal keluarga mana keluarga dapat

untuk merawat klien merawat pasien


- Agar jadwal perawatan

terorganisir dengan baik


Setelah…pertemuan SP.2 (Tgl………….)

keluarga mampu: - Evaluasi SP.1 - Mengingatkan kegiatan

- Menyebutkan yang sudah dilakukan


- Melatih kelurga merawat
kegiatan yang - Latih (simulasi) cara untuk merawat
klien
sudah dilakukan pasien - Keluarga mampu merawat

dan mampu pasien dengan benar


- Latih langsung ke pasien - Agar jadwal perawatan
merawat serta
terorganisir dengan baik
dapat membuat

RTL - RTL keluarga / jadwal keluarga untuk

merawat klien
Setelah…pertemuan SP.3 (Tgl……………)

keluarga mampu: - Evaluasi SP.1 dan SP.2 - Mengingatkan kegiatan

- Menyebutkan yang sudah dilakukan


- Keluarga mampu merawat
kegiatan yang - Latih langsung ke pasien pasien dengan benar
- Agar jadwal perawatan
sudah dilakukan
terorganisir dengan baik
dan mampu
- RTL keluarga / jadwal keluarga untuk
merawat serta
merawat klien
dapat membuat

RTL
Setelah….pertemuan SP.3 (Tgl……………)

keluarga mampu: - Evaluasi SP.1, SP.2 dan SP.3 - Mengingatkan kegiatan

- Menyebutkan yang sudah dilakukan


- Dapat mengetahui sejauh
kembali kegiatan - Latih langsung ke pasien
mana kemampuan
yang sudah
keluarga
dilakukan - Agar jadwal perawatan
- Melaksanakan - RTL keluarga:
terorganisir dengan baik
follow up rujukan
 Follow up
 Rujukan
DAFTAR PUSTAKA

Rasmun. 2009. Stres, Koping dan Adaptasi : Teori dan Pohon Masalah Keperawatan.

Jakarta : CV Sagung Seto.

Stuart, G.W. 2006. Alih bahasa : Kapoh, R.P., Yudha, E.K. Buku Saku Keperawatan Jiwa.

Ed. 5. Jakarta: EGC.