Anda di halaman 1dari 11

Tidak satupun di antara kita, para pembaca yang mengatakan bahwa sekolah itu tidak penting.

Pasti, kita sependapat bahwa sekolah itu penting. Karena sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal dipercaya sebagai lembaga yang menyiapkan masa depan kita dan anak cucu kita untuk
meraih masa depan yang gemilang. Karena sekolah itu penting dan perlu bagi masa depan
anak-anak, maka kalau ada anak – anak yang putus sekolah, ya bisa berabe. Anak-anak akan
kehilangan masa depan.. Kalau tidak sekolah, maka masa depan pun suram. Kalau tidak
sekolah, maka anak-anak kita akan menjadi gelandangan (walau sekarang sarjana saja
menganggur). Barangkali, para pembaca masih ingat ketika Mandra mempromosikan sekolah
dalam pariwara “AYO SEKOLAH” yang disponsori oleh UNICEF beberapa tahun lalu. Ungkapan
Mandra itu masih segar terngiang. Katanya begini, “ Jangan sampai putus sekolah……….kalau
putus sekolah bisa berabe. Begitulah pentingnya posisi sekolah bagi anak-anak kita. Oleh sebab
itu, wajar kalau masyarakat kita sangat menggantungkan harapan masa depan anak terhadap
sekolah. Seakan sekolah adalah dewa penyelamat bagi sebuah kehidupan yang lebih baik bagi
masa depan anak-anak kita. Mungkin bukanlah hal yang keliru kalau Roem Topatimasang pada
tahun 1998 menyebutkan “Sekolah itu Candu”. Roem mengkritik eksistensi sekolah yang telah
menjadi tumpuan harapan kita itu. Kalau sekolah menjadi candu, kita bisa bayangkan bagaimana
kala kita kecanduan. Ini yang namanya berabe bukan?

Ya, mungkin berabe. Tetapi semakin berabe, tatkala sekolah yang selama ini kita harapkan
mampu membangun masa depan yang cerah dan gemilang bagi anak cucu kita, dalam
realitasnya sangat jauh berbeda. Agaknya, kita terlalu menggantungkan harapan besar terhadap
sekolah. Padahal sekolah kita saat ini sangatlah tidak berdaya. Sekolah kita sangat terseok-
seok. Sekolah kita sedang sakit, bahkan berada pada kondisi yang sekarat. Karena sekolah
dihimpit oleh berbagai persoalan yang mendasar, mulai dari persoalan kualitas dan kuantitas
guru, peralatan, kurikulum serta manajemen sekolah yang amburadul, yang bermuara pada
rendahnya kualitas intelektual anak-anak kita. Nah, kalau begini kondisi sekolah kita, bagaimana
sekolah mampu membangun masa depan anak cucu kita yang gemilang? Sangat tidak mungkin
bukan ?

Ironisnya, ketika kondisi sekolah kita kini banyak yang impotent, berkualitas rendah untuk
melahirkan lulusan-lulusan yang ideal, kebanyakan kepala sekolah, terutama sekolah-sekolah
yang sudah terlanjur dilabelkan dengan status favorit atau sejenisnya, sering kelihatan pongah
dan bangga,karena capaian angka UAN tinggi. Para pejabat pendidikan di dinas pendidikan dan
Depdiknas banyak pun ikut syur (birahinya naik) dengan hasil (baca angka) yang dicapai oleh
anak-anak usai Ujian Nasional (UN) digelar. Seakan-akan semua angka tinggi yang diraih anak
didik adalah hasil dari kerja keras sekolah. Padahal, capaian itu tidak semata-mata diraih oleh
keberhasilan sekolah. Kepala sekolah dan pejabat dinas pendidikan selayaknya tidak mengklaim
kalau hasil (angka yang belum tentu diperoleh dengan jujur itu) adalah sebuah keberhasilan
sekolah. Karena dalam realitas kontemporer, sekolah saja kini tidak cukup. Karena kebanyakan
sekolah di daerah kita maupun di Indonesia kini telah gagal memanusiakan peserta didik.
Jangankan untuk memanusiakan peserta didik, untuk memperoleh nilai UN saja banyak sekolah
yang tidak mampu.

Bimbel Masuk Sekolah

Kepala sekolah, guru, pejabat atau birokrat pendidikan akan kebakaran jenggot atau marah,
apabila dikatakan bahwa sekolah telah gagal untuk menyiapkan masa depan anak didik yang
gemilang. Mereka pasti akan membantah. Tentu saja tidak jadi masalah. Kita bisa menggunakan
banyak alat ukur untuk membuktikan kegagalan tersebut. Salah satu indicator kegagalan sekolah
menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang cerdas dan berkualitas bisa diukur dengan
muncul lembaga-lembaga pendidikan non formal di dalam masyarakat. Ketika sekolah gagal
mengajarkan bahasa Inggris di sekolah, orang tua terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk
mengantarkan anak-anak mereka ke kursur bahasa Inggris. Ketika sekolah gagal membuat
peserta didik bisa terampil dengan matematika, fisika dan biologi, maka orang tua harus
mengantarkan anak-anak mereka ke kursus matematika, fisika, kimia dan biologi. Ketika sekolah
gagal mengajarkan pelajaran akuntansi dan lainhya, maka orang tua, sekali lagi harus
mengantarkan anak-anak mereka ke kursus-kursus. Kegagalan sekolah ini kemudian
dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan non formal. Walaupun kursus mahal dan waktu belajar
lebih pendek dibandingkan dengan waktu di sekolah, lembaga –lembaga ini dari waktu ke waktu
terus tumbuh menjamur. Biaya mahal tidak begitu dipersoalkan, asal nilai anak setelah ujian
nasional tetap tinggi. Yang penting nilai tiga mata pelajaran yang diuji dengan standard nilai yang
sudah ditetapkan bisa tercapai.

Nah ketika pemerintah terus menaikkan standard kelulusan ujian nasional (UN), sekolah-sekolah
menjadi kalangkabut. Sekolah-sekolah semakin kehilangan rasa percaya diri. Hal ini disebabkan
oleh rendahnya kulaitas sekolah dan juga semakin rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap
sekolah. Ujian nasional di satu sisi dapat dijadikan sebagai pemantik peningkatan kualitas
sekolah (peserta didik). Namun di sisi lain, ujian nasional (UN) menjadi sesuatu yang
menakutkan. Ujian nasional menjadi tujuan, bukan sesuatu yang dijadikan sebagai alat evaluasi
saja. Banyak sekolah yang tidak mampu menyiapkan anak didik untuk bisa mencapai angka atau
standar kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah. Akibatnya, peserta didik, orang tua, bahkan
guru di sekolah berpaling untuk mengirimkan anak-anak (peserta didik) ke lembaga Bimbingan
Belajar.

Kehadiran lembaga bimbingan belajar yang kini menjamur di seluruh Indonesia, bukan lagi
sebagai sebuah alternatif bagi anak-anak, tetapi sudah menjadi sekolah kedua dan bahkan
utama. Karena lembaga bimbingan belajar dipandang mampu menjawab persoalan peserta didik
dalam menghadapi ujian nasional. Celaka bukan ? Inilah realitas dunia pendidikan formal kita
saat ini, yang harus segera menjadi perhatian setiap orang, tertama mereka para pejabat yang
memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Kehadiran banyak lembaga bimbingan belajar (Bimbel) di dalam masyarakat kita akhir-akhir ini,
pada dasarnya dapat menjadi sebuah alternatif bagi peserta didik yang menghadapi kesulitan
belajar di sekolah. Namun, sangat disayangkan bahwa lembaga bimbingan belajar tersebut
bukan saja membuka praktek di luar sekolah. Akan tetapi sejak beberapa tahun yang lalu,
banyak sekolah yang mengundang dan menggunakan jasa lembaga bimbingan belajar untuk
mendongkrak kualitas lulusan sekolah. Untuk kota Banda Aceh, hal ini banyak dilakukan oleh
sekolah-sekolah yang sudah terlanjur difavoritkan yakni SMA-SMA yang dijuluki sebagai sekolah
favorit. Caranya adalah dengan membuka program belajar pada sore hari di sekolah. Fenomena
ini, terjadi di banyak kota, terutama kota besar. Majalah Tempo edisi 26 Maret-1 April 2007 di
halam 76 menuliskan “ banyak sekolah menggandeng lembaga bimbingan belajar untuk
membantu siswa menghadapi ujian nasional. Hasilnya tak selalu meyakinkan. Lembaga ini
semakin beken di kalangan siswa dan guru sekolah. Dulu lembaga semacam ini hanya
digunakan siswa SMA untuk membantu persiapan ujian masuk perguruan tinggi negeri.Kini,
bimbingan belajar juga menjadi semacam obat penangkal kecemasan menghadapi ujian
nasional. Tak cuma siswa SMA tetapi juga siswa SMP. Begitu popularnya lembaga bimbingan
belajar saat ini.

Nah, ketika sekolah semakin loyo dan tidak mampu menyiapkan peserta didik menghadapi ujian
nasional yang setiap tahun semakin meningkat standardnya. Saat sekolah sudah tidak berdaya
menyiapkan peserta didik menjadi manusia Indonesia yang cerdas. Kini telah hadir bimbingan
belajar yang menjawab persoalan dan kebutuhan peserta didik dan keinginan orang tua yang
mengejar angka. Kehadiran lembaga ini kian menjamur dan bahkan langsung mengintervensi
sekolah. Bertumbuh kembangnya lembaga bimbingan belajar di satu sisi memang sangat
baik,karena bisa dijadikan sebagai alternatif bagi para peserta didik. Namun, kala bimbingan
belajar kini menjadi “pelipur lara”bagi peserta didik dan orang tua, maka pertanyaan kita, apakah
kita masih membutuhkan sekolah ?

Selayaknya, para praktisi pendidikan di sekolah seperti guru dan kepala sekolah, para birokrat
pendidikan yang bersinggsana di Dinas pendidikan kota dan provinsi, secepatnya melakukan
introspeksi. Secepatnya memperbaiki citra sekolah dengan meningkatkan kualitas pendidikan.
Hal ini perlu, agar masyarakat tidak dibebani oleh kegagalan sekolah dalam menyiapkan peserta
didik. Secepatnya para ahli pendidikan yang ada di Dinas Pendidikan kota dan Dinas Propinsi
turun tangan menangani pendidikan secara sungguh-sungguh dan selalu committed terhadap
pencapaian visi pendidikan yang sudah disusun dalam strategic planning yang sudah disusun
oleh Dinas pendidikan. Apabila hal ini tidak diperbaiki, sebaiknya sekolah kita tutup. Kita pun
merasa kasihan terhadap peserta didik dan orang tua yang tidak mampu mengantarkan anak ke
lembaga bimbingan belajar karena tidak mampu membayar biaya bimbingan belajar yang cukup
besar. Kondisi ini akan berbahaya bagi dunia pendidikan kita. Semoga saja, para birokrat
pendidikan kita mau membuka mata.

1. Belajar matematika dapat memecahkan suatu permasalahan


Belajar matematika itu sebenarnya diharuskan, karena kalau tidak bisa maka akan rugi diri
kita sendiri. Kita tidak bisa memecahkan suatu permasalahan.

Maka dari itu, belajarlah matematika dengan sungguh-sungguh.

Dengan belajar matematika dapat memecahkan suatu permasalahan. Baik pemecahan dalam
pengerjaan soal-soal maupun pemecahan permasalahan lainnya. Seperti, mengukur jarak
jalan, pemecahan masalah dalam membangun rumah atau lainnya.

2. Belajar matematika dapat membantu untuk berdagang


Dasar belajar matematika adalah berhitung. Berhitung juga dapat bermanfaat untuk
berdagang.

Jika anda berdagang, harus pintar berhitung. Jika tidak pintar dalam berhitung akan kesulitan
dalam berdagang. Anda juga tidak akan keliru ketika menerima dan membayar kembalian
dari pembeli sehingga tidak rugi dalam berdagang.

3. Belajar matematika dapat menjadi dasar pokok ilmu


Matematika menjadi dasar pokok ilmu maksudnya matematika itu adalah suatu pelajaran
pokok tentang ilmu berhitung sehingga ketika belajar ekonomi, akuntansi, kimia, fisika dan
lainnya sudah lebih paham dan tidak terlalu mengalami kesulitan.

Jika tidak bisa pokoknya saja maka akan kesulitan dalam pelajaran hitungan lainnya.

4. Belajar matematika dapat membuat kita lebih teliti, cermat dan tidak ceroboh
Masih ingatkah anda, ketika gurumu memberikan soal-soal untuk dikerjakan? Menyelesaikan
soal-soal tersebut haruslah dengan hati-hati, harus dengan teliti perhatikan benar apa
pertanyaannya, berapa angkanya atau lainnya.

Lakukan dengan cermat jangan putus asa dan jangan ceroboh. Agar jawaban yang anda
jawab benar. Jadi dalam penyelesaian dalam mengerjakan soal dapat melatih anda menjadi
orang yang teliti, cermat dan tidak ceroboh.

5. Belajar matematika dapat melatih cara berpikir


Belajar matematika sangatlah menuntut anda untuk berpikir. Setiap orang memiliki
kemampuan yang berbeda-beda dalam berpikir. Ada kemampuan berpikirnya cepat ada juga
yang lambat.

Dengan mengerjakan penyelesaian soal dapat melatih cara berpikir anda untuk lebih keras
lagi. Ketika jawaban anda salah, harus diperbaiki sampai jawabannya benar. Sehingga tujuan
anda untuk menyelesaikan soal tersebut mendapat hasil yang memuaskan.

6. Belajar matematika dapat melatih kesabaran


Benarkah, belajar matematika dapat melatih kesabaran?

Humm, tentu saja iya. Penyelesaian permasalahan dalam matematika itu rumit dan panjang
sehingga dapat melatih anda untuk menjadi orang yang sabar dalam mengerjakannya.

Dua puluh tahun lalu, NRC (National Research Council, 1989:1) dari
Amerika Serikat telah menyatakan pentingnya Matematika dengan
pernyataan berikut: “Mathematics is the key to opportunity.” Matematika
adalah kunci ke arah peluang-peluang. Bagi seorang siswa keberhasilan
mempelajarinya akan membuka pintu karir yang cemerlang. Bagi para
warganegara, matematika akan menunjang pengambilan keputusan yang
tepat. Bagi suatu negara, matematika akan menyiapkan warganya untuk
bersaing dan berkompetisi di bidang ekonomi dan teknologi.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik
mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan
berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan
bekerja sama
Karena dengan belajar matematika, kita akan belajar bernalar secara kritis,
kreatif dan aktif.

berdasarkan asal katanya maka matematika berarti ilmu pengetahuan yang


didapat dengan berpikir.
· James and James (1976). Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai
bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu
dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak dan terbagi kedalam tiga
bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.
· Johnson dan Rising (1972). Matematika adalah pola fikir, pola
mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa
yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan
akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa
simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
· Reys, dkk (1984). Matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan,
suatu jalan atau pola fikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.
· Ruseffendi E. T (1988:23). Matematika terorganisasikan dari unsur-unsur
yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil
dimana dalil yang telah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum,
karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif.
· Kline (1973). Matematika itu bukan ilmu pengetahuan menyendiri yang
dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu
terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai
permasalahan ekonomi, sosial dan alam.
· Paling (1982) dalam Abdurrahman (1999:252). Mengemukakan ide
manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman
dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika
hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali dan bagi; tetapi
ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri dan
trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup
segala sesuatu yang berkaitan dengan berpikir logis. Ilmu Matematika
diantaranya meliputi aritmatika, geometri, aljabar dll. sehingga
kalau mau sok idealis tentu saja banyak manfaat Matematika untuk ilmu
pengetahuan lain dan juga untuk kehidupan, misalnya:
 Kombinasi (Statistika) bisa digunakan untuk mengetahui banyaknya
formasi tim
bola voli yang bisa dibentuk.
 Aritmatika hampir digunakan setiap hari, yaitu untuk hitung-
menghitung.
 Geometri bisa digunakan para ahli sipil karena geometri salah satunya
adalah
membahas tentang bangun dan keruangan.
 Aljabar bisa digunakan untuk memecahkan masalah bagaimana
memperoleh laba
sebanyak mungkin dengan biaya sesedikit mungkin.
Mungkin dengan logika Matematika juga bisa membantu untuk berpikir
logis, tapi
tentu saja bukan hanya Matematika saja yang bisa membantu dalam
berpikir logis.

beberapa manfaat yang kamu dapet jika belajar matematika


1. 1. cara berpikir matematika itu sistematis, melalui urutan-urutan yang
teratur dan tertentu. dengan belajar matematika, otak kita terbiasa
untuk memecahkan masalah secara sistematis. Sehingga bila diterapkan
dalam kehidupan nyata, kita bisa menyelesaikan setiap masalah dengan
lebih mudah
2. 2. cara berpikir matematika itu secara deduktif. Kesimpulan di tarik
dari hal-hal yang bersifat umum. bukan dari hal-hal yang bersifat
khusus. sehingga kita menjadi terhindar dengan cara berpikir menarik
kesimpulan secara “kebetulan”. Misalnya kita tidak bisa menyatakan
kalo “kita tidak boleh lewat jalan A pada hari sabtu, karena jalan
tersebut meminta tumbal tiap hari sabtu” hanya karena ada beberapa
orang yang kebetulan kecelakaan dan meninggal di jalan tersebut pada
hari sabtu. Kita seharusnya berpikit bahwa orang yang meninggal di
jalan tersebut pada hari sabtu bukan karena tumbal. tapi harus dianalisa
lagi apakah karena orang tersebut tidak hati-hati, ataukah jalan yang
sudaha agak rusak, atau sebab lain yang lebih rasional.
3. 3. belajar matematika melatih kita menjadi manusia yang lebih teliti,
cermat, dan tidak ceroboh dalam bertindak. Bukankah begitu? coba saja.
masih ingatkah teman-teman saat mengerjakan soal-soal matematika?
kita harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit
nol dibelakang koma, bagaimana grafiknya, bagaimana dengan titik
potongnya dan lain sebaganya. jika kita tidak cermat dalam
memasukkan angka, melihat grafik atau melakukan perhitungan,
tentunya bisa menyebabkan akibat yang fatal. jawaban soal yang kita
peroleh menjadi salah dan kadang berbeda jauh dengan jawaban yang
sebenarnya.
4. 4. belajar matematika juga mengajarkan kita menjadi orang yang sabar
dalam menghadapi semua hal dalam hidup ini. saat kita mengerjakan
soal dalam matematika yang penyelesaiannya sangat panjang dan rumit,
tentu kita harus bersabar dan tidak cepat putus asa. jika ada lamgkah
yang salah, coba untuk diteliti lagi dari awal. jangan-jangan ada angka
yang salah, jangan-jangan ada perhitungan yang salah. namun, jika
kemudian kita bisa mengerjakan soal tersebut, ingatkah bagaimana
rasanya? rasa puas dan bangga.( tentunya jika dikerjakan sendiri, buakn
hasil contekan,. he.he.he). begitulah hidup. kesabaran akan berbuah
hasil yang teramat manis.
5. 5. yang tidak kalah pentingnya, sebenarnya banyak koq penerapan
matematika dalam kehidupan nyata. tentunya dalam dunia ini,
menghitung uang, laba dan rugi, masalah pemasaran barang, dalam
teknik, bahkan hampir semua ilmu di dunia ini pasti menyentuh yang
namanya matematika.

Logis

Logika seperti apa yang perlu kita asah? berpikir logis yang bagaimana yang di

kehidupan kita?

Logika sendiri berasal dari kata Yunani kuno logos yang artinya hasil pertimbangan

akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika juga

sering disebut dengan logike episteme atau ilmu logika yang mempelajari

kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Dalam hidup, logika memiliki peran penting. Karena logika berkaitan dengan akal

pikir. Banyak kegunaan logika antara lain:

1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir

secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren


2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif

3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam

dan mandiri

4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan

asas-asas sistematis

5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan

berpikir, kekeliruan serta kesesatan

6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian

buat yang penasaran, intip nih beberapa manfaat yang kamu dapet kalo belajar matematika

1. cara berpikir matematika itu sistematis, melalui urutan-urutan yang teratur dan tertentu. dengan
belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis. Sehingga bila
diterapkan dalam kehidupan nyata, kita bisa menyelesaikan setiap masalah dengan lebih mudah

2. cara berpikir matematika itu secara deduktif. Kesimpulan di tarik dari hal-hal yang bersifat umum.
bukan dari hal-hal yang bersifat khusus. sehingga kita menjadi terhindar dengan cara berpikir
menarik kesimpulan secara “kebetulan”. Misalnya kita tidak bisa menyatakan kalo “kita tidak boleh
lewat jalan A pada hari sabtu, karena jalan tersebut meminta tumbal tiap hari sabtu” hanya karena
ada beberapa orang yang kebetulan kecelakaan dan meninggal di jalan tersebut pada hari sabtu.
Kita seharusnya berpikit bahwa orang yang meninggal di jalan tersebut pada hari sabtu bukan karena
tumbal. tapi harus dianalisa lagi apakah karena orang tersebut tidak hati-hati, ataukah jalan yang
sudaha agak rusak, atau sebab lain yang lebih rasional.

3. belajar matematika melatih kita menjadi manusia yang lebih teliti, cermat, dan tidak ceroboh dalam
bertindak. Bukankah begitu? coba saja. masih ingatkah teman-teman saat mengerjakan soal-soal
matematika? kita harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol dibelakang
koma, bagaimana grafiknya, bagaimana dengan titik potongnya dan lain sebaganya. jika kita tidak
cermat dalam memasukkan angka, melihat grafik atau melakukan perhitungan, tentunya bisa
menyebabkan akibat yang fatal. jawaban soal yang kita peroleh menjadi salah dan kadang berbeda
jauh dengan jawaban yang sebenarnya.

4. belajar matematika juga mengajarkan kita menjadi orang yang sabar dalam menghadapi semua hal
dalam hidup ini. saat kita mengerjakan soal dalam matematika yang penyelesaiannya sangat panjang
dan rumit, tentu kita harus bersabar dan tidak cepat putus asa. jika ada lamgkah yang salah, coba
untuk diteliti lagi dari awal. jangan-jangan ada angka yang salah, jangan-jangan ada perhitungan
yang salah. namun, jika kemudian kita bisa mengerjakan soal tersebut, ingatkah bagaimana rasanya?
rasa puas dan bangga.( tentunya jika dikerjakan sendiri, buakn hasil contekan,. he.he.he). begitulah
hidup. kesabaran akan berbuah hasil yang teramat manis.

5. yang tidak kalah pentingnya, sebenarnya banyak koq penerapan matematika dalam kehidupan
nyata. tentunya dalam dunia ini, menghitung uang, laba dan rugi, masalah pemasaran barang, dalam
teknik, bahkan hampir semua ilmu di dunia ini pasti menyentuh yang namanya matematika.

Maka sering kali kita mendengar bahwa matematika itu sulit, padahal kesulitan itu bisa diatasi apabila
didukung dengan banyaknya latihan dirumah, mungkin bukan hanya matematika saja yang perlu latihan
di rumah pada pelajaran lain pun sama. Menurut Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, membuat satu
konsep bahwa “Kecerdasan emosional” dianggap akan dapat membantu siswa dalam mengatasi
hambatan-hambatan psikologis yang ditemuinya dalam belajar. Menurutnya kecerdasan emosional
adalah “Kemampuan merasakan, memahami dan secara eefktif menerapkan daya dan kepekaan emosi
sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusiawi”.

Kecerdasan emosional yang dimiliki siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar, karena emosi
memancing tindakan seorang terhadap apa yang dihadapinya.

Pembelajaran matematika merupakan pengembangan pikiran yang rasional bagaimana kita dapat
mereflesikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari alasan tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang
pengaruh kecerdasan emosional siswa terhadap prestasi hasil belajar matematik.

Matematika dalam pengembangan SDM.

Secara umum, matematika juga berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Secara lebih
umum, untuk mengoptimalkan SDM perlu adanya manajemen sumber daya manusia. Setelah disadari
bahwa sumber daya manusia perlu dikaji faktor apa saja dari sumber daya manusia tersebut yang perlu
ditingkatkan. Dalam model awal pada kajian di tersebut, karakter yang memegang peran pada SDM
diprioritaskan antara lain: cerdas (c), tenggap/responsif (r), cermat/teliti (l) dan taat SOP/disiplin (d).
Nampak bahwa karakter sumber daya manusia, misalnya teliti, akan berhubungan dengan cerdas, taat
melakukan prosedur perhitungan, dengan diulang-ulang sebanyak iterasi tertentu, tergantung dari
proses penyelesaian permasalahan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa di antara factor-faktor
yang ada pada sumber daya manusia masih saling berpengaruh antar yang satu dengan yang lain. Jika
pengaruh ini signifikan maka ada kemungkinan model yang dipakai bukan lagi linier. Jadi, bisa
disimpulkan bahwa model pengembangan sumber daya manusia dapat berbentuk regresi linier berganda
yang akan ditentukan oleh koefisien dari masing-masing faktor yang berupa karakter yang bersangkutan.
Makin banyak jenis data yang terkumpul akan diperoleh model yang semakin halus, iterasi yang lebih
tinggi.

Dari sisi pelajar, pemahaman tentang manfaat matematika dalam kehidupan sangat berperan penting.
Ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Artinya dalam proses belajar
khususnya belajar matematika, siswa harus mengenal dulu apa itu matematika ? bagaimana proses
matematika ? untuk apa itu matematika ?. Motivasi tersebut harus diberikan sehingga minat atau
kemauan siswa untuk mempelajari matematika muncul, sehingga pada proses belajarnya mereka akan
fokus dan dapat menerima dengan baik materi yang dipelajari.

Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai proses perubahan baik kognitif, afektif, dan kognitif
kearah kedewasaan sesuai dengan kebenaran logika.

Ada beberapa karakteristik matematika, antara lain :

1. Objek yang dipelajari abstrak.

Sebagian besar yang dipelajari dalam matematika adalah angka atau bilangan yang secara nyata tidak
ada atau merupakan hasil pemikiran otak manusia.

1. 2. Kebenaranya berdasarkan logika.

Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran secara logika bukan empiris. Artinya kebenarannya tidak
dapat dibuktikan melalui ekserimen seperti dalam ilmu fisika atau biologi. Contohnya nilai √-2 tidak
dapat dibuktikan dengan kalkulator, tetapi secara logika ada jawabannya sehingga bilangan tersebut
dinamakan bilangan imajiner (khayal).

1. Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinu.


Pemberian atau penyajian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan dilakukan
secara terus-menerus. Artinya dalam mempelajari matematika harus secara berulang melalui latihan-
latihan soal.

1. 4. Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya.

Materi yang akan dipelajari harus memenuhi atau menguasai materi sebelumnya. Contohnya ketika akan
mempelajari tentang volume atau isi suatu bangun ruang maka harus menguasai tentang materi luas dan
keliling bidang datar.

1. Menggunakan bahasa simbol.

Dalam matematika penyampaian materi menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati dan
dipahami secara umum. Misalnya penjumlahan menggunakan simbol “+” sehingga tidak terjadi dualisme
jawaban.

1. 6. Diaplikasikan dibidang ilmu lain.

Materi matematika banyak digunakan atau diaplikasikan dalam bidang ilmu lain. Misalnya materi fungsi
digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mempelajari fungsi permintan dan fungsi penawaran.

Berdasarkan karakteristik tersebut maka matematika merupakan suatu ilmu yang penting dalam
kehidupan bahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini yang harus ditekankan kepada siswa
sebelum mempelajari matematika dan dipahami oleh guru.

Logika sebagai matematika murni

Logika termasuk matematika murni karna matematika adalah logika yang tersistematika. Matematika
adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol
matematik (logika simbolik).

Selain materi himpunan, ada Pembelajaran Matematika realistik yang membantu biar matematika jadi
lebih akrab dengan kehidupan.

Materi matematika tentang Himpunan misalnya. Dengan mempelajari Himpunan, diharapkan kemampuan
logika akan semakin terasah. Sebaliknya, untuk mempelajari Himpunan secara tidak langsung akan
memacu kita agar kita mampu berpikir secara logis.

Logis

Logika seperti apa yang perlu kita asah? berpikir logis yang bagaimana yang di kehidupan kita?

Logika sendiri berasal dari kata Yunani kuno logos yang artinya hasil pertimbangan akal pikiran yang
diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika juga sering disebut dengan logike episteme
atau ilmu logika yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Dalam hidup, logika memiliki peran penting. Karena logika berkaitan dengan akal pikir. Banyak kegunaan
logika antara lain:

1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap,
tertib, metodis dan koheren

2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif

3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis

5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan


serta kesesatan

6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian

Jadi logika matematika membantu agar matematika jadi lebih akrab dengan kehidupan.

Mau tahu apa saja manfaat pelajaran


matematika? Simak ulasan berikut, ya.
1. Pola Pikir Sistematis
Matematika adalah salah satu pelajaran yang membantu kamu berpikir secara
sistematis. Hal yang sangat penting dalam menjalani kehidupan, baik dalam
pekerjaan maupun keseharian.
Melalui kebiasaan berhitung, berlatih deret, dan sejenisnya, secara tidak sadar kamu
telah memaksa otak untuk terbiasa berpikir secara runut. Hal ini akan membuatmu
mudah dalam mengorganisasi segala sesuatu. Kemampuan ini yang juga sangat
mendukung untuk menjadi seorang pemimpin kelak ketika kamu dewasa.

2. Logika Berpikir Lebih Berkembang


Seluruh aspek dalam pelajaran matematika berbicara mengenai kemampuan berpikir
logis. Tidak ada asumsi, praduga, atau tebak-tebakan. Semua harus dihasilkan
melalui penghitungan yang tepat.
Bahkan berdasarkan literasi yang ditulis oleh Johnson dan Rising (1972), matematika
dibentuk atas dasar kebutuhan pembuktian yang logis. Pernyataan ini tentu semakin
menguatkan posisi matematika sebagai media pembelajaran efektif agar kamu
tumbuh menjadi orang yang anti-galau. Logika akan membantu menajamkan pola
pikir, yang tentu membuat kamu mampu mengambil keputusan secara matang.
Tentu kamu cukup peka melihat kondisi masyarakat sekarang yang mudah terbius
informasi hoax, kan? Itu adalah satu dari contoh kemampuan berpikir logis yang
rendah. Melakukan latihan soal matematika akan secara paralel melatih otak
menggunakan logika berpikir secara optimal. Setidaknya, kamu akan menjadi
generasi yang lebih banyak berpikir dengan logika sebelum bertindak.

3. Terlatih Berhitung
Siapa yang tidak membutuhkan kemampuan berhitung? Tidak ada, bukan? Semua
orang butuh keterampilan berhitung. Bahkan dalam skala yang sangat sederhana
seperti menghitung uang kembalian.
Sayangnya, hal ini kurang disadari oleh sebagian siswa. Penggunaan angka yang
sejatinya simbol untuk mengukur hasil, malah menjadi hal yang dihindari. Perlu
dicamkan, kebutuhan berhitung memang tidak perlu ahli, namun setidaknya mampu
melakukannya dengan tepat dan cepat. Apalagi, jika kelak kamu adalah seorang
pebisnis. Tentu kamu tidak ingin salah menghitung keuntungan.

4. Mampu Menarik Kesimpulan Secara Deduktif


Matematika sering disebut juga sebagai ilmu yang bersifat deduktif. Artinya,
matematika membantu seseorang dalam menarik kesimpulan berdasarkan pola yang
umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif.
Kemampuan berpikir objektif lagi-lagi adalah satu dari sekian banyak soft skill yang
dicari oleh seluruh bidang kerja. Bukan cuma itu, dengan sering menyelesaikan
latihan matematika berupa kasus logika, kamu pun akan terbiasa berpikir secara
rasional.

5. Menjadi Teliti, Cermat, dan Sabar


Pelajaran matematika sarat akan soal-soal yang rumit dan panjang. Hal yang tentu
membutuhkan kesabaran dalam menyelesaikannya. Terlebih jika salah satu langkah
saja, maka bisa jadi kamu harus mengulang kembali proses menghitung dari awal.
Tahukah kamu, seorang yang terbiasa menyelesaikan persoalan matematika yang
rumit dapat berkembang menjadi seorang yang lebih teliti, cermat, serta sabar?
Kondisi ini bisa lahir melalui pembiasaan dengan soal-soal matematika. Buktinya,
profesi semacam analis, ilmuwan, atau akuntan, biasa dijalani oleh orang-orang yang
teliti dalam menelaah data.