Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes Melitus adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan
intoleren glukosa. Penyakit ini dapat dikelola dengan menyesuaikan
perencanaan makanan , kegiatan jasmani dan pengobatan yang sesuai dengan
konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia dan perlunya diadakan
pendekatan individual bagi edukasi diabetes, yang dikenal dengan Pentalogi
Terapi DM meliputi :
1. Terapi Primer, yang terdiri dari : Penyuluhan Kesehatan, Diet Diabetes,
Latihan Fisik.
2. Terapi Sekunder, yang terdiri dari : Obat Hipoglikemi

Diabetes Militus berhubungan dengan meningkatnya kadar glukosa darah


dan bertambahnya risiko komplikasi gawat darurat bila tidak dikelola dengan
baik (Soegondo,1999). Komplikasi dapat timbul oleh karena ketidak patuhan
pasien dalam menjalankan program terapi sebagai berikut : pengaturan diet,
olah raga dan penggunaan obat-obatan (Putra,1995). Berbagai penelitian telah
menunjukan ketidak patuhan pasien DM terhadap perawatan diri sendiri.

Disamping peningkatan prevalensi DM, penderita memerlukan perawatan


yang komplek dan perawatan yang lama. Kepatuhan berobat merupakan
harapan dari setiap penderita DM. Berarti setiap penderita DM sanggup
melaksanakan instruksi–instruksi ataupun anjuran dokternya agar penyakit
DM nya dapat dikontrol dengan baik. Pada umumnya penderita DM patuh
berobat kepada dokter selama ia masih menderita gejala / yang subyektif dan
mengganggu hidup rutinnya sehari-hari. Begitu ia bebas dari keluhan –
keluhan tersebut maka kepatuhannya untuk berobat berkurang.

Ketidakpatuhan ini sebagai masalah medis yang sangat berat. La Greca &
Stone [ 1985] menyatakan bahwa mentaati rekomendasi pengobatan yang
dianjurkan dokter merupakan masalah yang sangat penting . Tingkat
ketidakpatuhan terbukti cukup tinggi dalam populasi medis yang kronis.

1
B. Rumusan masalah
1. Apa itu penyakit diabetes meletus?
2. Apa etiologi dari penyakit diabetes meletus?
3. Apa saja tanda dan gejala penyakit diabetes meletus?
4. Bagaimana asuhan keperawatan komunitas pada penderida DM?
5. Bagaimana masalah-masalah dan diagnosa keperawatan komunitas pada
pasien DM?
6. Bagaimana cara mengidentifikasi pengaruh tingkat pendidikan terhadap
kepatuha pasien DM dalam menjalani prokram terapi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui defenisi penyakit diabetes meletus
2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit diabetes meletus
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit diabetes meletus
4. Untuk Mengetahui asuhan keperawatan komunitas pada penderita DM
5. Untuk Mengetahui masalah-masalah dan diagnosa keperawatan komunitas
pada pasien DM
6. Untuk Mengidentifikasi pengaruh tingkat pendidikan terhadap kepatuhan
pasien DM dalam menjalankan program terap

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Defenisi DM
Diabetes militus adalam penyakit metabolik yang kebanyakan herediter
dengan tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya
gejala klinik akut maupun kronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin
efektif maupun insulin absolut dalam tubuh. Gangguan primer terletak pada
metabolisme karbohidrat, yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme
protein dan lemak.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah
akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relative.
B. Klasifikasi
1. Diabetes tipe 1
kerusakan sel β mengarah kepada defisiensi insulin absolut
a. Imun
b. Idiopatik
2. Diabetes tipe 2 (80%)
defisiensi insulin relatif sampai defek sekresi (tidak tergantung
insulinNIIDM)
3. DM kehamilan (Gestational DM)
C. Etiologi
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat
menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya
memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap
sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai
kegagalan sel beta melepas insulin.
2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain
agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat
dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas
yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan
mengakibatkan kerusakan sel – sel penyekresi insulin, kemudian
peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.

3
4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan
terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada
membran sel yang responsir terhadap insulin.
D. Patofisiologi
Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan
salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:
1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang
mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200
mg/dl.
2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang
menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai
dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat


mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi
sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal
normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul
glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali
semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang
menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan
pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat
glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami
keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi
polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga
pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya
atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat
untuk energi.

Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan


membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan
terjadinya gangren.

E. Tanda dan gejala


Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :
1. Poliuria (banyak dan sering kencing)
2. Polipagia (banyak makan)
3. Polidipsi (banyak minum)

4
kemudian diringi dengan keluhan-keluhan :

a. Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.


b. Berat badan menurun
c. Rasa kesemutan, karena iritasi (perangsangan) pada serabut-serabut
saraf
d. Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul
e. Infeksi saluran kencing
f. Kelainan ginjal kalogi: keputihan
g. Infeksi yang sukar sembuh

Pada pemeriksaan laboratorium:

1) Kadar gula darah meningkat


2) Peningkatan plasma proinsulin dan plasma C polipeptida
3) Glukosuria
F. Test diagnosa
1. Test Glukosa darah
2. Gula dalam urine
3. Glukosa toleran test
4. Plasma proinsulin
G. Pengobatan
1. Diit rendah kalori
2. Exercise untuk meningkatkan jumlah dan fungsi reseptor site
3. Insulin diberikan bila dengan oral tidak efektif
4. Khusus untuk ganggren :
a. Ringan atau lokasi bukan daerah ekstremitas dilakukan nekrotomi luas
di OK
b. Berat dan lokasinya pada ektremitas pertimbangan amputasi

5
BAB III
PEMBAHASAN
A. Kasus
Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun terdapat penduduk yang menderita
diabetes melitus berjumlah 300 orang, 55 % wanita yaitu sebanyak 180 orang
dan 45 % laki-laki sebanyak 120 orang. Dari jumlah penduduk yang menderita
diabetes melitus tersebut sebanyak 150 orang (50 %) usia dewasa dan 30%
usia lansia sebanyak 90 orang, serta 20% ibu hamil sebanyak 60 orang. Dari
data tersebut diketahui Diabetes Melitus dengan tipe IDDM 25% sebanyak 75
orang, NIDDM 35% sebanyak 105 orang, dan DM dengan gangren 30%
sebanyak 90 orang, serta DM gestasional sebanyak 30 orang (10 %). Dari
penduduk yang menderita DM sangat sedikit sekali penderita DM yang rutin
memeriksakan kadar gula darahnya. Asuhan keperawatan ini menggunakan
pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian status kesehatan
masyarakat, perumusan diagnosa keperawatan, dan perencanaan keperawatan.
Pemberian asuhan keperawatan melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat
dan pimpinan wilayah tersebut.

B. Pengkajian
Pengkajian menggunakan pendekatan community as partner meliputi : data
inti dan data sub sistem.
1. Data Inti komunitas meliputi ;
a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
1) Lokasi
a) Propinsi : Jawa Timur
b) Kabupaten/ kotamadya : Pacitan
c) Kecamatan : Sumber Asri
d) Kelurahan : Margorukun
e) Rw : 05
f) Rt : 03
g) Luas wilayah : 5.220 m2
2) Batas wilayah/wilayah
a) Utara : Jalan raya melati
b) Selatan : RT 06 /RW 04
c) Barat : RT 07
d) Timur : RT 18/ RW 03

6
b. Keadaan tanah menurut pemanfaatannya
1) Pemukiman : 4550 m2
c. Data demografi
1) Jumlah penderita hipertensi : 250 orang
2) Jumlah penderita TB Paru : 65 orang
3) Jumlah penderita asma : 20 orang
4) Jumlah penderita DM : 300 orang
d. Berdasarkan kelompok penderita DM
1) Anak-anak :-
2) Remaja :-
3) Dewasa : 150 orang (50 %)
4) Lansia : 90 orang (30 %)
5) Ibu hamil : 60 orang (20%)
e. Berdasarkan agama
1) Islam : 20 orang (80%)
2) Kristen : 30 orang (10%)
3) Hindu : 15 orang (5%)
4) Budha : 15 orang (5%)
5) Konghucu :-
6) Katolik :-
f. Berdasarakan suku bangsa
1) Jawa : 210 orang (70%)
2) Madura : 75 orang (25%)
3) Sunda : 9 orang (3%)
4) WNI keturunan : 6 orang (2%)
5) Jumlah penderita DM gangrene : 90 orang
g. Status perkawinan
1) Kawin : 195 orang (65%)
2) Tidak kawin : 60 orang (20%)
3) Duda : 30 orang (10%)
4) Janda : 15 orang (5%)
2. Data sub system
a. Data lingkungan fisik
1) Sumber air dan air minum
a) Penyediaan Air bersih
 PAM : 180 orang (60%)
 Sumur : 120 orang (40%)
 Sungai :-

7
b) Penyediaan air minum
 PAM : 150 orang (50%)
 Sumur : 90 orang (30%)
 Sungai :-
 Lain-lain/air mineral : 60 orang (20%)
c) Pengolahan air minum
 Masak : 300 orang (100%)
 Tidak dimasak :-
d) Pengelolaan air minum
 Selalu dimasak : 300 orang (100%)
 Air mentah :-
2) Saluran pembuangan air/sampah
a) Kebiasaan membuang sampah
b. Diangkut petugas : 30%
c. Dibuang sembarangan : 70%
b) Pembuangan air limbah
 Got/parit : 100%
 Sungai :-
c) Keadaan pembuangan air limbah
 Baik/lancar : 25%
 Kotor : 75%
3) Jamban
a) Kepemilikan jamban
 Memiliki jamban : 80%
 Tidak memiliki jamban : 20%
b) Macam jamban yang dimiliki
 Septitank : 75%
 Disungai : 25%
c) Keadaan jamban
 Bersih : 45%
 Kotor : 55%
4) Keadaan rumah
a) Tipe rumah
 Tipe A/permanen : 210 orang (70%)
 Tipe B/semipermanen : 75 orang (25%)
 tipe C/tidak permanen : 15 orang (5%)

b) Status rumah

8
 Milik rumah sendiri : 180 orang (60%)
 Kontrak : 120 orang (40%)
c) Lantai rumah
 Tanah : 30 orang (10%)
 Papan : 90 orang (30%)
 Tegel/keramik : 180 orang (60%)
d) Ventilasi
 Ada : 240 orang (80%)
 Tidak ada : 60 orang (20%)
e) Luas kamar tidur
 Memenuhi syarat : 180 orang (60%)
 Tidak memenuhi syarat : 120 orang (40%)
f) Penerangan rumah oleh matahari
 Baik : 120 orang (40%)
 Cukup : 150 orang (50%)
 Kurang : 30 orang (10%)
g) Halaman rumah / Kepemilikan pekarangan
 Memiliki : 240 orang (80%)
 Tidak memiliki : 60 orang (20%)
 Pemanfaatan pekarangan
 Ya : 270 orang (90%)
 Tidak : 30 orang (10%)
5) Fasilitas umum dan kesehatan
a) Fasilitas umum
 Sarana kegiatan kelompok
 Karang taruna : 1 kelompok
 Pengajian : 2 kelompok
 Ceramah agama : 1 kelompok
 PKK : 1 kali per bulan
 Tempat perkumpulan umum
 Balai desa : ada (1 buah)
 Dukuh : ada (1 buah)
 RW : ada (1 buah)
 RT : ada (1 buah)
 Masjid/Mushola : ada (2 buah)

b) Fasilitas kesehatan

9
 Pemanfaatan fasilitas kesehatan
 Puskesmas : 150 orang (50%)
 Rumah sakit : 50 orang (16,6%)
 Para dokter swasta : 25 orang (8,3%)
 Praktek kesehatan lain : 75 orang (25%)
 Kebiasaan check up kesehatan
 Rutin tiap bulan : 90 orang (30%)
 Jarang : 210 orang (70%)
6) Ekonomi
a) Karekteristik pekerjaan
 PNS/ABRI : 60 orang (20%)
 Pegawai swasta : 60 orang (20%)
 Wiraswasta : 30 orang (10%)
 Buruh tani/pabrik :150 orang (50%)
b) Penghasilan rata-rata perbulan
 <dari UMR : 150 orang (50%)
 UMR – 1.000.000,00 : 90 orang (30%)
 >dari UMR : 60 orang (20%)
c) Pengeluaran rata-rata perbulan
 <dari UMR : 165 orang (55%)
 UMR – 1.000.000,00 : 105 orang (35%)
 >dari UMR : 30 orang (10%)

d) Kepemilikan usaha
 Toko : 30 orang (10%)
 Warung makanan : 15 orang (5%)
 UKM : 9 orang (3%)
 Tidak punya : 246 orang (82%)
7) Keamanan dan transportasi
a) Keamanan
 Diet makan
 Kebiasaan makan makanan manis :70% (210org)
 Kebiasaan makan makanan berlemak : 20% (60 org)
 Lain-lain :10% (30 org)
 Kepatuhan terhadap diet
 Patuh : 25% ( 75 org )
 Kadang-kadang : 30% ( 90 org )
 Tidak patuh : 45% (135 org )
 Kebiasaan berolah raga

10
 Sering : 15% (45 org )
 Kadang-kadang : 40% (120 org )
 Tidak pernah : 45% (135 org )
 Kebiasaan sehari-hari
Memakai alas kaki
 Setiap saat : 60% ( 180 org )
 Saat di luar rumah : 30% ( 90 org)
 Jarang memakai : 10% ( 30 org )
 Kebiasaan mencuci kaki sebelum tidur
 Sering : 10% ( 30 org )
 Kadang-kadang : 15% ( 40 org )
 Tidak pernah : 75% ( 225 org )
b) Transportasi
 Fasilitas transportasi : Jalan raya, angkutan
umum, ambulan
 Alat transportasi yang dimiliki
 Sepeda : 90 orang (30%)
 Motor : 120 orang (40%)
 Mobil : 6 orang (2%)
 Lain-lain/ becak : 84 orang (28%)
 Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat
 Angkutan umum : 165 orang (55%)
 Kendaraan pribadi : 135 orang (45%)
8) Politik dan pemerintahan
a) Struktur organisasi : ada
b) Terdapat kepala desa dan perangkatnya
c) Ada organisasi karang taruna
d) Kelompok layanan kepada masyarakat (pkk, karang taruna,
panti, posyandu)
e) Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan : ada yaitu
puskesmas
f) Kebijakan pemerintah khusus untuk penyakit DM : belum ada
g) Peran serta partai dalam pelayanan kesehatan : belum
ada
9) Sistem komunikasi
a) Fasilitas komunikasi yang ada
 Radio : 225 orang (75 %)
 TV : 165 orang (55 %)
 Telepon/handphone : 120 orang (40 %)

11
 Majalah/Koran : 135 orang (45%)
b) Fasilitas komunikasi yang menunjang untuk kelompok DM
 Poster tentang diit DM : ada
 Pamflet tentang penanganan DM : ada
 Leaflet tentang penanganan DM : ada
10) Kegiatan yang menunjang kegiatan DM
a) Penyuluhan oleh kader dari masyarakat dan oleh petugas
kesehatan dari Puskesmas : ada tapi jarang
b) Pendidikan

Distribusi pendudukan berdasarkan tingkat pendidikan formal


 SD : 135 orang (45%)
 SLTP : 90 orang (30%)
 SLTA : 60 orang (20%)
 Perguruan tinggi : 15 orang (5%)
11) Rekreasi
a) Tempat wisata yang biasanya dikunjungi taman kota dan alun –
alun.

b) Ada program setahun sekali diadakan program wisata bersama


kader kesehatan RT 05 RW 03 Kelurahan Margo Rukun.
C. Analisa Data

No
Pengelompokan Data Etiologi Masalah

Ds :
1. Dari hasil wawancara di Pengetahuan Ketidakpatuhan terhadap
dapat tingkat pendidikan yang kurang diet Di RT 3 RW 5
ada 50% warga yang kelurahan Margo Rukun
tidak patuh menjalankan
diet
Do :
- data menyebutkan
bahwa tingkat
pendidikan SD sebanyak
135 orang (45%)
- penyuluhan kader dari
masyarakat dan petugas
kesehatan dari
puskesmas jarang ada

12
- kebiasaan masyarakat
makan makanan yang
manis sebanyak 210
orang (70%)
Ds:
2 Dari hasil wawancara Faktor Ketidakpatuhan
didapat ketidak patuhan penghasilan masyarakat/penderita
masyarakat untuk yang rendah DM melaksanakan check
melaksanakan check up up kesehatan Di RT 3
kesehatan sebanyak 219 RW 5 kelurahan Margo
orang (70%) Rukun
Do:
- sebanyak 210 orang
jarang check up/bulan
- lulusan SD sebanyak
135 orang
- lulusan SLTP sebanyak
90 orang
- penghasilan < UMR
sebanyak 150 orang
- penghasilan UMR-
1.000.000 sebanyak 90
orang
- penghasilan > UMR 60
orang

Ds:
3 Dari hasil wawancara Kurangnya Resiko peningkatan
didapat jumlah penderita pengetahuan penderita ganggren Di
DM 300 orang penderita DM RT 3 RW 5 kelurahan
tentang Margo Rukun
Do: pencegahan
-jumlah penderita DM terjadinya luka
dengan ganggren ganggren
sebanyak 30% (90
orang)
- distribusi penderita DM
berdasarkan tingkat

13
pendidikan formal
SD :45%
(135 orang)
SLTP :30% (90
orang)
SLTA :20% (60
orang)
Perguruan tinggi:5%(15
orang)
-sebanyak 210 orang
(70%) penderita DM
tidak check up secara
rutin
- kebiasaan sehari hari
penderita DM yang
setiap saat memakai alas
kaki sebanyak 45 orang
(15%),saat dilauar rumah
75 orang (25%) dan
jarang memakai 180
orang (60%)

D. Prioritas Masalah

Diagnosa keperawatan Pentingnya Perubahan Penelesaian scor


penyelesaia positif untuk e
n masalah untuk peningkata
1 : rendah penyelesaia n kwalitas
2 : sedang n di hidup
3 : tinggi komunitas 0 : tidak
0 : tidak ada
ada 1 : rendah
1 : rendah 2 : sedang
2 : sedang 3 : tinggi
3 : tinggi
Ketidakpatuhan
terhadap diit di RT 5
RW 3 kelurahan Margo 3 3 3 9
Rukun berhubungan
dengan Pengetahuan

14
yang kurang

Ketidakpatuhan
masyarakat/penderita
DM melaksanakan
check up kesehatan di
RT 5 RW 3 kelurahan 3 2 1 6
Margo Rukun
berhubungan dengan
faktor penghasilan yang
rendah
Resiko peningkatan
penderita ganggren di
RT 5 RW 3 kelurahan
Margo Rukun
berhubungan dengan 3 2 2 7
Kurangnya pengetahuan
penderita DM tenytang
pencegahan terjadinya
luka ganggren

E. Perencanaan

Diagnosa Tujuan Intervens Sasaran Metode


keperawatan i

1) Ketidakpatuhan o Tujuan 1. Bina 1. Kader 1. KIE


terhadap diet di RT 5 jangka hubungan kesehatan 1. Ceramah,
RW 3 kelurahan pendek: saling masyarakat tanya
Margo Rukun percaya dan jawab,
berhubungan dengan Setelah dengan masyarakat diskusi,
Pengetahuan yang dilakukan masyarak yang demonstra
kurang ditandai asuhan at menderita si.
dengan : keperawatan1. Lakukan DM
o data menyebutkan selama 1 pendidika1. Semua
bahwa tingkat minggu n penderita
pendidikan SD diharapkan kesehatan DM di RT
sebanyak 135 orang penderita tentang 5 RW 3
(45%) DM patuh diit untuk kelurahan

15
o penyuluhan kader dari tyerhadap penderita margoruku
masyarakat dan pengobatan DM n
petugas kesehatan dari terhadap diit
Puskesmas jarang ada Berikan Semua
o Tujuan penyuluha penderita
kebiasaan masyarakat jangka n tentang DM di RT
makan makanan yang panjang: pentingny 5 RW 3
manis sebanyak 210 a kelurahan
orang (70%) - kepatuhan margoruku
Masyarakat pengobata n
mengetahui n terhadap
tentang diit diit bagi
untuk penderita
penderita DM
DM

-
Masyarakat
mengetahui
tentang
pentingnya
kepatuahan
pengobatan

2) Resiko Setelah 1.
Berikan 1. Seluruh 1. KIE,
peningkatan penderita dilakukan health penderita demonstra
ganggren di RT 5 RW asuhan education DM di RT5 si, dan
3 kelurahan Margo keperawatan pada RW 3 demonstra
Rukun berhubungan dalam waktu penderita Kelurahan si
dengan Kurangnya 1 minggu DM Margo 1. Ceramah,
pengetahuan penderita tidak terjadi
tentang Rukun tanya
DM tenytang peningkatan cara 1. Seluruh jawab,
pencegahan terjadinya penderita pencegaha penderita diskusi
luka ganggren di DM dengan n DM dan
1. Tindakan
tandai dengan: ganggren terjadinya keluarga di langsung
o jumlah penderita DM o Tujuan luka RT5 RW 31. Ceramah,
dengan ganggren jangka gangren, tanya
sebanyak 30% (90 pendek : dan jawab,
orang) penyebab diskusi
o distribusi penderita - Penderita terjadinya
DM Laptop,

16
DM berdasarkan mengetahui luka LCD,
tingkat pendidikan cara gangrene materi,
formal pencegahan2. Ajarkan screen, dan
terjadinya kepada leaflet
 SD :45% luka penderita
(135 orang) ganggren DM
 SLTP maupun
:30% (90 - Penderita keluargan
orang) DM ya tentang
 SLTA mengerti perawatan
:20% (60 cara luka
orang) perawatan gangrene
 Perguruan luka 1. Berikan
tinggi:5%(15 ganggren penyuluha
orang) n tentang
- Penderita pentingny
o sebanyak 210 orang DM a check
(70%) penderita DM mengetahui up gula
tidak check up secara penyebab darah bagi
rutin terjadinya penderita
luka DM
kebiasaan sehari hari ganggren
1. Lakukan
penderita DM yang
Check up
setiap saat memakai o Tujuan
gula darah
alas kaki sebanyak 45 jangka
gratis
orang (15%),saat panjang:
pada
dilauar rumah 75
penderita
orang (25%) dan Setelah
DM
jarang memakai 180 dilakukan
orang (60%) asuhan
keperawatan
selama 1
minggu
diharapkan
semua
masyarakat
penderita
DM dapat
patuh dalam
melaksanaka
n check up

17
gula darah

2. Berikan 2. Kelurahan
3) Ketidakpatuhan- penyuluha Margo Laptop,
masyarakat/penderita Masyarakat n tentang Rukun LCD,
DM melaksanakan penderita faktor 1. Seluruh materi,
check up kesehatan di DM resiko penderita screen, dan
RT 5 RW 3 kelurahan mengetahui tentang DM di RT leafle
Margo Rukun tentang ketidakpat 5 RW 3
berhubungan dengan resiko uhan kelurahan
faktor penghasilanketidakpetuh penderita margo
yang rendah ditandai an untuk DM Rukun
dengan: melaksanaka tentang 1. Seluruh
n check up check up penderita
o sebanyak 210 orang gula darah gula darah DM di RT
jarang check up/bulan 5 RW 3
o lulusan SD sebanyak kelurahan
135 orang margo
o lulusan SLTP Rukun
sebanyak 90 orang
o penghasilan < UMR
sebanyak 150 orang
o penghasilan UMR-
1.000.000 sebanyak
90 orang
o penghasilan > UMR
60 orang

18
IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diabetes militus adalam penyakit metabolik yang kebanyakan herediter
dengan tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya
gejala klinik akut maupun kronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin
efektif maupun insulin absolut dalam tubuh. Gangguan primer terletak pada
metabolisme karbohidrat, yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme
protein dan lemak.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula
(glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relative.

B. Saran

19
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan


dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa.
(1999). Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih
bahasa YasminAsih. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal


Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry
Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta : EGC.

20